Kalau ditanya, apa yang membuatku ada di tempat ini?
Jawabannya hanya satu.
Perjalanan bisnis.
Aku dan wakilku diundang dalam sebuah pembicaraan bisnis antar galaksi. Namun celakanya, kamar penginapan yang dipesan hanyalah satu, dengan double futon.
"Aku tidak masalah" katanya.
Namun disinilah aku, duduk bersandar pada kursi santai yang kepalanya rendah. Pandanganku merayap ke pekarangan luar penginapan ini, dengan secangkir sake sekali teguk yang ada di tanganku.
Cih, minuman ini tak enak sekali, mana bisa membuatku mabuk. Meski begitu tetap saja kusesap hingga entah sudah tegukan ke berapa.
"Kau belum tidur?"
"Belum, aku masih ingin minum"
"Biar ku tuangkan"
Dia berlutut dan melipat kakinya, duduk bersimpu dihadapanku sembari menuang penuh gelas sake kosong di tanganku.
"Kau tidak perlu melakukannya"
"Tak apa, sesekali aku ingin"
Bulan terlihat sangat terang malam ini. Berkilau, seperti rambutnya yang jarang ditampakkan dibalik topi jerami lebar kesayangannya.
Eh? Bukankah dia sedang tidak memakainya saat ini?
Tanganku perlahan bergerak meraih sedikit helaian rambutnya yang menjuntai. Halus, seperti kain sutra dari Tosa.
"Kurasa rambutmu semakin panjang"
"Aku memang tidak pernah memotongnya"
Dari jemari, kini seluruh telapak tanganku telah mengusap mahkota indah wanita ini. Aneh sekali, aku seperti tak bisa mengontrol pergerakanku. Sial, apa ini ulah sake tadi?
Perlahan tanganku menggiring kepalanya, untuk kusandarkan pada lutut kakiku. Dia mengalur, membiarkanku yang tengah terbuai wajah ayu nan manis yang tengah memejamkan matanya itu.
Ah...
Aku tak bisa..
Wanita ini terlalu indah.
Bibirku telah mendarat di keningnya saat kusadari apa yang baru saja kulakukan. Tak ada respon darinya selain senyum tipis yang terulas di sudut bibirnya.
Perlahan, wajahnya mendekat padaku. Lebih tepatnya, ke telinga kananku. Dengan sedikit berbisik, dia pun berkata..
"Kancho, lebih baik kita segera tidur, perjalanan esok masih panjang"
Kamisama
Ijinkanku untuk mencintainya.
