Maehara Hiroto menghembuskan napas perlahan malam itu. Bukan karena kondisi dadanya yang sesak, melainkan rasa lelah yang dirasakan setelah mengerjakan dua belas dari dua puluh soal. Hiroto belum pernah berpikir keras seperti sekarang ini, terlebih ia melakukannya untuk matematika. Suatu perkembangan yang bagus memang, hanya saja ia tidak mengerti maksud Koro-sensei memberikan soal penuh penyiksaan itu pada kelas 3-E.
"Maehara-san," Ritsu menginterupsi. Yang dipanggil menolehkan kepala, kemudian gadis itu berkata, "Ada pesan masuk dari Isogai-san."
Masih dengan rasa lelah yang cukup berlebih untuk seseorang yang sedang mengerjakan tugas, Hiroto segera membaca pesan masuk tersebut. Tak butuh waktu lama, ia kembali menyandarkan punggungnya ke kursi belajarnya. Ritsu menatap Hiroto dengan bingung.
"Ah, benar juga, ya. Aku masih kebingungan dengan materi IPS yang kemarin dijelaskan Koro-sensei," keluhnya. Tangannya mengacak rambutnya frustasi, meratapi otaknya yang kelewat bodoh sampai harus masuk kelas 3-E.
"Apa kalian sudah merencanakan sesuatu?" Ritsu bertanya saking penasarannya.
"Aku hanya memintanya menjelaskan ulang materi kemarin, kok. Aku memintanya meringkas kejadian Perang Dunia 1 agar aku mudah menghafalnya. Isogai pandai di IPS, kau tahu?"
Ritsu tahu itu, terlebih ia sudah merekam semua informasi mengenai teman sekelasnya, termasuk mata pelajaran yang disukai, dikuasai, maupun yang menjadi kelemahan masing-masing di dalamnya. Hanya saja ada satu data yang belum ia miliki, mengenai hubungan antar siswa di kelas 3-E. Maksudnya, siswa kelas 3-E berasal dari kelas yang berbeda-beda, bukan? Meskipun begitu, beberapa anak terlihat akrab seperti sudah mengenal sejak lama.
Salah satunya, hubungan antara lelaki surai oranye ini dengan ketua kelasnya yang ikemen itu.
Hal ini membuat dirinya penasaran, ingin menyimpan data sejenis itu di memorinya, kemudian ingin mencoba sesuatu yang disebut ngobrol. Kau tahu, ini pertama kalinya sebuah mesin berpikir otomatis ingin merasakan aktivitas yang biasa dilakukan manusia. Ini juga berguna untuk misi pembunuhan di kelas 3-E, bukan?
"Maehara-san, apa kau dan Isogai-san sudah berteman sejak lama?"
Hiroto menaikan alis, pertanyaan biasa namun aneh karena dilayangkan dari sebuah mesin. Meski begitu, lelaki itu tetap menjawabnya. Sepertinya ia ingin menghabiskan waktu terlebih dahulu sebelum lanjut mengerjakan soal. Kepalanya masih lelah untuk berpikir.
"Ya, kami sudah berteman sejak lama," jawab si surai oranye. Ada rasa bangga tersendiri dalam nada bicaranya saat menjawab.
"Bagaimana ceritanya kalian bisa berteman? Berhubung kepribadian kalian beda jauh, aku jadi penasaran."
"Eh, kau bisa penasaran juga ternyata." Hiroto tertawa. Ia tak menyangka mesin berpikir otomatis itu bisa menjadi teman mengobrol yang menyenangkan (entahlah, Hiroto merasa demikian). Jarang juga hubungannya dengan Isogai Yuuma dibicarakan. Bagaimana lelaki itu tidak senang?
Ritsu tersenyum seraya membalas, "Aku ingin mencoba sesuatu yang disebut mengobrol, dan sepertinya aku ingin menyimpan data sejenis itu di memoriku."
Hiroto kembali tertawa. "Menarik sekali. Baiklah, aku akan ceritakan. Aku yakin kau juga pasti akan terkejut dengan cerita ini, Ritsu."
Assassination Classroom (c) Matsui Yuusei
Grow Stronger (c) julycious
[Warning : typo(s), alternative canon, cerita ini mengambil waktu setelah Ritsu jadi Mobile Ritsu, hehe]
Pertemuan Maehara Hiroto dengan Isogai Yuuma bukanlah sebuah pertemuan istimewa. Kebetulan saja saat menginjak kelas 4 SD dirinya memasuki kelas yang sama dengan si surai hitam. Akibat teman kelasnya yang mulai rolling, sistem yang sengaja diterapkan mulai dari kelas 4 agar anak-anak bisa bergaul dengan siapa saja, sekaligus mengajarkan pentingnya bersosialisasi sejak dini. Hiroto memperhatikan setiap orang yang menjadi teman sekelasnya, hal yang sangat wajar dilakukan di awal semester. Entah kenapa, Hiroto memperhatikan Yuuma lebih intens dibanding teman kelasnya yang lain, padahal tak ada sesuatu yang menonjol darinya.
Sungguh, Hiroto gagal paham.
"Siapa yang akan mengumpulkan buku-buku ini ke ruang guru?"
Salah satu anak bertanya tepat setelah dirinya meletakkan buku tugasnya. Sifat alamiah anak-anak kebanyakan tidak ingin melakukan itu dan lebih memilih memakan bekalnya atau bermain di lapangan. Berbeda dengan anak surai hitam bernama Isogai Yuuma yang malah mengangkat tangan tinggi-tinggi agar si penanya melihat dirinya.
"Biar aku saja yang bawa," jawabnya lantang.
Sebenarnya kelas tersebut sudah ada jadwal piket, namun mayoritas mereka hanya melakukan kegiatan bersih-bersih setelah kelas selesai, atau menunggu instruksi guru baru akan bergerak, tidak lebih dari itu. Seperti yang tadi dijelaskan, ini diakibatkan oleh sifat alamiah anak-anak.
Berbeda dengan anak yang memiliki surai mencuat mirip daun teh itu. Bukan jadwal piket sekalipun, ia selalu memiliki inisiatif tinggi untuk melakukan tugas-tugas kelas, sekalipun petugas piket sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Namun kali ini, hanya ia sendiri yang membawa buku-buku tersebut. Untuk anak usia sembilan tahun, membawa setumpukan buku memiliki kesulitan sendiri. Hiroto sempat beranggapan bahwa Yuuma merupakan orang yang naif, namun ternyata pikirannya salah.
"Kamu Maehara Hiroto, kan? Bisakah kamu bantu aku bawa buku-buku ini? Hari ini kamu piket, bukan?"
Itu adalah kalimat pertama yang dilayangkannya pada Hiroto. Si surai oranye tidak marah, hanya bingung hendak membalas apa. Pasalnya anak yang dikiranya naif karena berusaha membawa buku sendiri, ternyata dengan tegas meminta bantuan kepada orang yang seharusnya bertugas. Karenanya Hiroto tidak melayangkan protes, malah dirinya mengambil sebagian buku yang disisakan Yuuma untuk ia bawa.
"Terima kasih, ya. Sepertinya aku masih belum kuat untuk membawa semuanya sekaligus, hehe," ucapnya sambil tertawa ringan.
"Mungkin seharusnya aku yang berterima kasih, karena kau membawanya dengan sukarela. Jadwal piketmu itu kemarin, loh."
Kemudian Hiroto mendengar anak itu kembali tertawa. "Kenapa, ya, aku hanya ingin membantu saja. Sudah jadi kebiasaan di rumah."
Mendengar kalimat tersebut, Hiroto yang sebelumnya menganggap Yuuma naif mengubah anggapannya itu menjadi baik dan rajin. Melihat teman sekelasnya yang seperti itu, sepertinya si surai hitam akan menjadi anak langka yang diidamkan guru-guru di sekolah.
Isogai Yuuma merupakan sosok anak baik yang rajin membantu teman-teman dan guru di sekolah. Ia juga merupakan sosok yang pandai di akademik maupun non-akademik, meski tidak bisa dikatakan jenius juga. Terlebih wajahnya juga tergolong tampan, sehingga Hiroto heran mengapa sosok surai hitam itu tidak memiliki teman akrab di kelasnya. Begitu juga dirinya yang entah kenapa tidak menjadikan Yuuma sebagai teman, padahal si surai oranye sudah memastikan kebaikan anak itu. Sekian lama dirinya menjadi teman sekelas Yuuma, hingga memasuki bangku kelas 5 SD, dirinya dan Yuuma hanya sebatas teman sekelas.
Namun Hiroto segera menemukan jawaban tersebut. Karakternya berbeda dengan Yuuma, sekitar 180 derajat. Jika Yuuma merupakan sosok anak baik dan rajin, maka Hiroto merupakan invers dari anak itu. Dirinya payah di akademik, terutama mata pelajaran yang penuh hafalan. Ia juga tidak rajin, lebih sering bermain dan berbuat ulah, tak jarang dirinya kerap dipanggil guru karena tingkahnya bersama teman-temannya. Satu-satunya sisi baik yang diunggulkan dari Hiroto hanyalah keahliannya dalam olahraga dan wajahnya.
Meski begitu, perhatiannya benar-benar tertuju pada Isogai Yuuma. Tidak bohong kalau hati kecilnya ingin berteman dengannya, terlebih Yuuma merupakan sosok baik yang mampu bergaul dengan siapa saja. Sayangnya orang-orang yang didekatinya tidak mendekati balik, entah karena apa. Hiroto masih gagal paham, mengapa karakternya ini benar-benar membuatnya enggan untuk berteman dengan Yuuma.
Sampai suatu hari, Hiroto benar-benar fokus memperhatikan Yuuma. Kalau tidak salah, sejak kelas 6 SD Hiroto merasa ada sesuatu yang berbeda dengan anak itu. Raut wajahnya masih ramah dan tampan, namun seperti ada hal yang disembunyikannya. Firasat si surai oranye mengatakan seperti itu. Terlebih baju yang dikenakan terlihat lusuh dan kusut, tidak rapih seperti sebelumnya meski hanya mengenakan kaus. Penampilannya memang sudah sederhana dari dulu, sih.
Kemudian Yuuma tidak lagi menjadi sukarelawan seperti dulu, yang tiba-tiba mengumpulkan buku ke ruang guru meski dirinya tidak piket. Setiap selesai kelas, ia segera pulang menuju rumah, namun selalu datang mendekati bel masuk saat pagi hari. Sebuah perubahan sikap yang tidak disadari orang lain namun Hiroto melihatnya. Hal ini menimbulkan kecurigaan dalam diri si surai oranye, hingga sebuah ide muncul dalam kepalanya.
Saat tidak sedang bermain bersama teman-temannya, Hiroto pergi membuntuti Yuuma, mencoba mengintip kegiatan sehari-harinya semenjak sikapnya berubah. Meski dirinya tidak tahu sikap anak itu sebelum berubah, Hiroto tetap membuntutinya. Anak seusianya mustahil dicurigai macam-macam, bukan?
Betapa terkejutnya si surai oranye ketika mengetahui rumah Isogai Yuuma. Sederhana, namun sedikit lusuh dan berukuran tidak terlalu besar, lalu terlihat sudah berumur lama. Apakah rumah ini tidak pernah direnovasi? Pikir Hiroto saat itu.
Tak lama sosok kecil yang diintipnya keluar, membawa sebuah dompet sambil berlari kecil. Hiroto ingin mengikutinya, namun ia khawatir kehilangan jejak teman sekelasnya itu. Akhirnya ia memutuskan untuk memperhatikan rumah tersebut beserta isinya, mencoba mencari jawaban dari perubahan sikap Yuuma melalui bangunan tersebut. Meski demikian, ia gagal paham bagaimana cara menyimpulkan hal tersebut. Apakah sosok wanita paruh baya dengan dua orang anak kecil itu membuat sikap Yuuma yang sukarelawan berubah? Sungguh, Hiroto gagal paham.
Secara bertahap, Hiroto melangkah mendekati tembok pembatas rumah Isogai. Sosok yang merupakan keluarga Yuuma terlihat lebih dekat dibanding sebelumnya. Sesekali ia melihat wanita paruh baya, yang merupakan ibu Yuuma, terbatuk-batuk. Tak tanggung-tanggung, suaranya terdengar hingga telinga Hiroto meski tak terlalu keras. Namun si surai oranye merasa batuk itu begitu menyiksa, dan ia semakin yakin ketika dua anak kecil didekatnya merasa khawatir. Saat itu Hiroto berpikir, apakah penyebab perubahan sikap Isogai Yuuma adalah kondisi ibunya yang sakit?
"Eh, Maehara? Sedang apa kau di sini?"
Seseorang menginterupsi, terlebih ia mengenal suara ini. Tentu saja Hiroto terkejut bukan main.
"I-Isogai?! Sedang apa kau di sini?" tanyanya yang begitu bodoh, hingga Yuuma memasang wajah bingung.
"Ini rumahku, dan aku baru pulang dari minimarket. Mengapa kau kaget begitu?"
Hiroto tahu dirinya bodoh bertanya seperti itu, namun tidak ada waktu untuk merutuk diri sendiri. Ia harus mencari alasan agar Yuuma tidak berpikiran aneh-aneh mengenai pengintaian Hiroto ini.
"A-Aku tidak sengaja lewat sini lalu mendengar suara aneh, jadi aku penasaran suara apa itu, hehe." Sip, Hiroto berhasil mengelabuinya.
Namun Yuuma memasang wajah sepanik-paniknya, tentu saja. "Benarkah? Suara apa itu?"
"Ah, tapi sepertinya tidak ada apa-apa, karena aku sudah memastikannya tadi," ucapnya sembari menahan tangan Yuuma agar tidak panik saat masuk rumah. Gawat jika Hiroto terlihat bohong saat ini. "Sungguh, tidak apa-apa, Isogai."
Beruntungnya Yuuma mempercayai Hiroto, sehingga anak itu tidak lagi mempermasalahkan hal aneh akal-akalan Hiroto. Bahkan kini, si surai hitam mempersilahkan Hiroto masuk ke dalam rumahnya. Tentu saja si surai oranye terkejut.
"Wah, onii-chan bawa teman!"
"Ibu, onii-chan sudah pulang."
Sambutan yang ramai, pikir Hiroto. Sehubungan dirinya tidak punya adik, ini adalah hal yang baru pertama kali dirasakan. Ramah sekali, mereka benar-benar mirip dengan Yuuma.
"Duduk senyamanmu saja, Maehara, tidak usah sungkan. Meskipun sepertinya rumahku terlihat tidak nyaman sih, hehe."
Hiroto hanya menuruti perintah Yuuma, tidak bertanya maupun menyatakan ketidaksetujuannya atas kalimat barusan. Dirinya mengambil posisi duduk, sesekali memperhatikan adik-adik Yuuma yang sedang bermain, kemudian berganti pandang menuju Yuuma yang sedang menyibukkan diri di dapur. Mungkin sedang menyiapkan minum untuknya.
"Tidak usah repot-repot, Isogai."
"Aku tidak repot, kok. Baru pertama kali ada teman kelasku yang berkunjung ke sini, jadi aku sangat antusias," jawabnya. Entah kenapa, Hiroto merasa iba. "Aku juga jarang bermain akhir-akhir ini, atau menghabiskan waktu di sekolah untuk menyelesaikan PR. Syukurlah ada Maehara yang datang kemari."
Bersyukur? Entahlah, Maehara Hiroto hanya merasakan perasaan bersalah saat ini. Meski hal yang dilakukannya bukan sesuatu yang buruk, namun seharusnya dirinya bisa lebih jujur jika ingin mengenal sosok Isogai Yuuma. Dengan begitu, kunjungannya kali ini bisa lebih berkesan, meski katanya rumah ini tidak nyaman karena bangunannya sudah tua dan berukuran kecil jika dibandingkan dengan rumahnya.
"Padahal kamu tidak perlu begini, Yuuma. Ibu baik-baik saja, kok. Seharusnya kamu pergi main bersama teman-teman."
"Tidak, tidak. Aku ingin membantu ibu di rumah. Kalau main, aku bisa main dengan adik-adikku, kok," jawab Yuuma seraya menyiapkan camilan. "Ibu harus banyak istirahat mulai sekarang."
"Istirahat? Apa ibu sedang sakit?" Hiroto bertanya dengan polosnya.
"Hanya sakit biasa, kok. Yuuma saja yang terlalu panik." Nyonya Isogai tersenyum tulus sambil mengusap surai oranye milik Hiroto. Begitu lembut, namun tangan itu terlihat lemah. Mungkin wanita itu tidak ingin Hiroto khawatir jika ia menjawab dengan jujur. "Biasanya Yuuma selalu berlama-lama di sekolah karena membantu guru, atau bermain di taman bersama teman-temannya sampai sore. Tapi sekarang dia malah membantu ibu mengerjakan pekerjaan rumah, padahal ibu baik-baik saja."
Yuuma meletakkan piring berisi camilan dengan mimik wajah yang cukup aneh bagi Hiroto. Seperti merasa sedih, namun ia berusaha menutupinya agar tidak ketahuan ibunya. Sayangnya Hiroto melihatnya, dan firasatnya mengatakan bahwa Yuuma membohongi ibunya soal teman-teman itu. Pasalnya Hiroto telah memperhatikan Yuuma sejak lama, dan tak jarang ia memergoki Yuuma yang tengah bermain pasir seorang diri, atau bermain ayunan, atau permainan lain yang ada di taman saat sebelum menginjak kelas enam. Dan si surai hitam melakukan semua itu seorang diri.
"Ibu," Yuuma menginterupsi. "Aku baik-baik saja, kok. Aku tidak ingin ibu kelelahan. Aku bisa bermain dengan teman-temanku saat jam istirahat, atau saat kerja kelompok. Jangan khawatirkan aku."
Saat Hiroto melihat senyuman tulus dari Nyonya Isogai, serta Yuuma yang masih memasang ekspresi wajah yang sama, ia mendapat suatu kesimpulan. Masalah kesehatan sang ibu dan kondisi keluarganyalah yang menyebabkan si surai hitam tidak lagi menjadi sukarelawan di kelas. Ia tak lagi membantu teman-teman di luar jadwal piket, tidak lagi membantu guru-guru di sekolah, tidak lagi bermain di taman, karena dirinya harus membantu ibunya mengurusi pekerjaan rumah.
Padahal Hiroto dan Yuuma memiliki usia yang sama, namun Yuuma terlihat lebih kuat, tegar, dan dewasa dibanding dirinya. Saat itu, si surai oranye belum mengetahui hal apa yang menyebabkan perbedaan tersebut. Namun hati kecilnya mulai bertekad, bahwa ia akan menjadi teman Isogai Yuuma mulai hari itu.
Tentu saja Isogai Yuuma senang dengan keputusan Hiroto tersebut. Kini ia tak harus pergi ke taman sendiri untuk bermain. Si surai hitam bisa mengajak Hiroto ke sana, atau menuju rumahnya untuk makan bersama. Yuuma tak peduli dengan sifat Hiroto yang sedikit liar dan pembuat onar, serta isi kepalanya yang tidak terdapat materi pelajaran di sekolah. Bersedia menjalin pertemanan dengannya saja sudah cukup. Begitu juga dengan Hiroto, seharusnya ia melakukan ini sejak lama. Si surai oranye sangat senang Yuuma mampu menerima dirinya apa adanya. Jika saja waktu itu ia tidak menguntit Yuuma, mungkin dirinya hanya menatap anak itu dari kejauhan.
Menjalin pertemanan saat kelas 6 SD benar-benar terlambat, karena tak lama kemudian mereka akan lulus dari sana dan pergi ke sekolah SMP pilihan masing-masing. Hiroto dan Yuuma tahu itu, dan karenanya mereka memutuskan masuk ke sekolah yang sama saat SMP.
Lingkungan sekolah baru tentunya akan menciptakan lingkaran pertemanan yang baru pula. Dengan Hiroto dan Yuuma yang terpisah kelas, meski memiliki teman serta kesibukan baru di sana, keduanya tetap berteman baik. Mereka masih sempat menghabiskan waktu untuk belajar bersama atau hanya sekedar bermain di rumah Yuuma.
Namun suatu insiden sukses memberikan tamparan kepada mereka berdua, terlebih Isogai Yuuma.
Tepat pada Kamis malam, setelah mengerjakan tugas matematika bersama, ayah Yuuma mengalami kecelakaan lalu lintas yang membuatnya kehilangan nyawa. Selama beberapa hari ia absen dari sekolah karena mengurusi pemakaman ayahnya. Dan sejak itu, Hiroto selalu mengunjunginya sepulang sekolah. Bermaksud ingin menenangkannya, namun pemuda itu bahkan tidak menitikkan air mata setetes pun. Berbeda dengan kedua adik dan ibunya yang terus menerus terisak.
Bagaimana bisa dirinya sekuat itu? Benarkah mereka seumuran? Entah untuk yang keberapa kali, Hiroto dibuat gagal paham oleh Yuuma.
"Terima kasih sudah menjengukku, Maehara. Hari ini, aku baik-baik saja, kok."
Hiroto merasa hatinya semakin perih ketika melihat senyum tulus milik Yuuma, yang saat itu sedang berusaha menenangkan adik perempuannya yang menangis paling kencang. Hidupnya semakin berat sekarang, namun si surai hitam masih bisa memancarkan aura ikemennya dengan sempurna. Alhasil Hiroto hanya menyentuh bahu sebelah kiri Yuuma, berusaha menenangkan si surai hitam meski anak itu tidak memerlukannya. Ini juga bertujuan agar Hiroto bisa menahan kesedihannya.
Namun hal itu tidak berlangsung lama, karena ketika tiga anggota keluarga Isogai yang lain memejamkan mata, Yuuma malah melangkahkan kaki menuju halaman belakang rumah. Hiroto mengekor dari jauh, kemudian tak kuasa menahan perih hati kala memergoki sahabatnya yang mulai menumpahkan air mata. Air mata itu semakin deras, sepertinya anak itu berniat menumpahkan semuanya, agar perasaannya menjadi lebih baik, agar ia bisa melepas kepergian sang ayah dengan ikhlas. Dan jika Hiroto tidak menahan mati-matian, mungkin air matanya sama banyaknya dengan yang dikeluarkan Yuuma. Daripada melakukan itu, si surai oranye lebih memilih menghampiri Yuuma, memberinya sebuah sapu tangan, lalu merangkulnya erat seperti enggan untuk melepasnya hingga esok.
Tentu saja Isogai Yuuma terkejut, bisa-bisanya Hiroto belum pulang dari rumahnya, terlebih anak itu membuntuti dirinya yang sedang ingin sendiri. Namun hatinya merasa sedikit hangat sekarang, karena akhirnya ada seseorang yang mau memeluk dirinya yang tengah bersedih, lalu menemaninya hingga kondisi lahir batinnya menjadi lebih baik.
"Isogai, jangan khawatir. Aku akan melakukan ini jika kau sedang sedih," ucap Hiroto tegas. Yang dipanggil hanya diam, berusaha menyimak Hiroto yang sedang berbicara serius padanya. "Aku sahabatmu, tidak akan menyebarkan berita bahwa kau sedang sedih sampai menangis. Jadi kalau kau masih seperti ini, silahkan, aku akan melakukan ini sampai kau merasa tenang."
Setelah mendengar kalimat terakhir Hiroto, Yuuma kembali menumpahkan air matanya. Kali ini perasaannya begitu campur aduk: sedih karena kehilangan sosok kepala keluarga, tertekan karena kondisi keluarganya yang semakin prihatin, serta senang karena sahabatnya ada di sampingnya saat si surai hitam merasa lelah dengan kehidupannya.
"Terima kasih, Maehara," ucap Yuuma sambil sesenggukan. Hiroto tak menjawab kalimat tersebut, karena si surai hitam mengucapkannya lebih dari satu.
Dengan mengabaikan ucapan terima kasih Yuuma, Maehara Hiroto membulatkan tekadnya sekali lagi. Ketika sahabatnya yang tegar, kuat, dan dewasa itu sedang rapuh seperti saat ini, maka ia harus menjadi lebih kuat agar bisa menenangkannya. Ketika sahabatnya itu tengah memikul beban yang berat, maka ia harus menjadi lebih kuat agar bisa membantu menopangnya. Mungkin Hiroto masih menjadi pribadi yang lembek, karena ia tak tahu bagaimana cara menghadapi kenyataan pahit seperti yang dirasakan Yuuma. Karenanya Hiroto hanya bisa merangkulnya, berharap anak itu bisa menjadi tenang dengan ini. Meskipun begitu, tekadnya tetap bulat, untuk berusaha menjadi lebih kuat agar bisa terus bersahabat dengan Isogai Yuuma.
SMP Kunugigaoka merupakan sekolah elit dengan sederet peraturan ketat di dalamnya, mulai dari disiplin waktu hingga pelarangan siswa melakukan kerja paruh waktu. Tak lama setelah kepergian sang ayah, Isogai Yuuma memutuskan untuk melanggar salah satu aturan tersebut agar kebutuhan sehari-hari keluarganya terpenuhi. Dengan sistem kelas 3-E yang merupakan tempat penampungan anak-anak bermasalah, maka sekali lagi, Hiroto bertemu Yuuma di kelas yang sama. Terlebih kelas ini diberikan sebuah misi rahasia dari pemerintah, khusus untuk kelas E, sehingga Hiroto dan Yuuma kembali menjalankan aktivitas yang sama, berjuang bersama, dan kembali lulus dari sekolah dan kelas yang sama.
Sehingga Maehara Hiroto bisa menjadi pribadi yang semakin kuat untuk bisa terus merangkul Isogai Yuuma, untuk bisa terus bersahabat dengan si surai hitam yang memiliki kepribadian tegar, kuat, dan dewasa.
"Akhirnya kita satu kelas lagi setelah dua tahun terpisah. Meskipun kita berada di kelas akhir target diskriminasi satu sekolah, tapi aku akan tetap melakukan ini padamu," ucap Hiroto seraya merangkul Yuuma. Tanpa memperdulikan tatapan bingung dari teman sekelas, Hiroto tetap asik merangkul sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya dengan, "Mohon bantuannya, Isogai."
Sedangkan seseorang yang Hiroto rangkul hanya memasang senyum kecil yang sedikit canggung namun tampak sedikit rasa senang di sana. Si surai oranye itu tidak berubah ternyata.
"Baiklah. Mohon bantuannya, Maehara."
Ceritanya sedikit panjang karena beberapa bagian diceritakan dengan lengkap, namun Maehara Hiroto sukses membuat Ritsu puas sekaligus menghilangkan lelah di kepalanya. Alhasil ia mendapatkan tepuk tangan dari gadis 2D tersebut. Benar saja, Ritsu ternyata sangat asik untuk menjadi teman mengobrol.
"Cerita yang sangat menyentuh, Maehara-san. Aku jadi mengerti kenapa hubungan kalian begitu dekat."
Entah kenapa, Hiroto merasa senang hingga cengiran sombong terpampang di wajah tampannya. "Menyentuh? Kau terlalu memujiku, Ritsu."
"Aku tidak memuji, namun aku tersentuh mendengar cerita Isogai-san. Sepertinya julukan ikemennya bukan hanya karena wajahnya, ya?"
"Benar sekali." Hiroto mengangguk setuju. "Anak itu benar-benar luar biasa. Cukup terkejut saat dia masuk kelas E karena ketahuan bekerja paruh waktu, namun rasanya aku senang dia satu kelas denganku, meskipun di kelas 3-E."
Ritsu tersenyum, kemudian menyimpan kisah Maehara Hiroto beserta sang sahabat di dalam memorinya. Selain tujuannya terpenuhi (ia ingin mengobrol), mesin berpikir otomatis itu juga mendapatkan sesuatu yang berharga dari sosok ketua kelasnya. Begitu juga dengan Hiroto, yang kembali merasa bersyukur tepat setelah selesai menceritakan kisahnya di masa lalu.
"Terima kasih, Maehara-san, karena kau bersedia menjadi teman mengobrolku yang pertama," ucap Ritsu. "Selain itu, aku mendapatkan sesuatu yang bisa kupelajari dari kisah Isogai-san."
"Sama-sama, Ritsu. Jika kau kesulitan dan butuh bantuan Isogai, kau bisa menggunakan aku sebagai perantara, loh," jelas Hiroto. "Kau tidak mungkin mengirimkannya pesan terus-menerus, kan?"
Mendengar itu, Ritsu hanya tertawa pelan merespon kalimat Hiroto. Tak lama, bibirnya membentuk kurva senyum, sebelum akhirnya membalas kalimat Hiroto dengan, "Siap, laksanakan."
END
A/N : Cerita pertama dari July yang dulu pakai nama 'shichigatsudesu' setelah hiatus sekian tahun di sini. Aku kembali (karena kangen sama Ansatsu Kyoushitsu) ()v
Terima kasih sudah membaca :)
