Kata orang cinta itu misterius. Kalau kata Ed Sheeran, caranya lah yang misterius. Beda lagi dengan pendapat Sakura, katanya cinta itu buta. Sedangkan kata Hanabi—adik kesayanganku, cinta itu penuh pengorbanan.
Aku sama sekali tidak mengerti karena aku tidak pernah ada di posisi tersebut.
Aku bukan gadis culun nan kuper yang senang menyendiri di pojok ruangan dengan setumpuk buku lengkap dengan kacamata tebal. Meski kurang percaya diri yang membuatku tampak malu-malu, tetapi aku cukup mampu bersosialisasi dengan baik. Dalam artian aku memiliki banyak kenalan dengan lawan jenis.
Ino mengejekku tidak laku. Sedangkan Kiba berpendapat aku terlalu jual mahal. Apanya yang jual mahal, tidak ada pula yang mendekat.
Oke, yang terakhir, aku berbohong. Saat masih menduduki bangku sekolah menengah, ada yang memberi kabar padaku bahwa Gaara—si wakil ketua klub sepak bola—menaruh rasa. Dan itu dibuktikan ketika si pemuda secara mendadak mengajakku ke taman lalu menyatakan perasaan.
Responku? Menolaknya. Dengan sedikit tidak enak hati tentu saja.
Mau bagaimana. Aku tidak menyukainya. Aku hanya mengangguminya karena berhasil memenangkan olimpiade fisika tingkat nasional.
Apa aku salah? Ino bilang sih salah.
Semua itu berlalu sampai ketika aku bertemu dengannya.
Ia. Dia.
Kulit coklat, rambut pirang, belum lagi iris matanya yang lebih cocok tinggal di daratan Eropa ketimbang Asia. Jatuh cinta itu berbagai macam caranya, dari yang manis, sederhana, rumit, sampai yang paling aneh. Kini aku paham dengan pendapat mereka.
Tunggu.
Ah, l-lihat! Itu dia!
Diseberang jalan. Keluar dari mobilnya lalu memasuki butik. Meski hanya menggunakan celana jeans dan kaos hitam, kharismanya terasa sampai radius seratus meter dimana tempatku berdiri.
Lihat saja. Bagaimana dia menutup pintu, memasukan kunci kedalam sakunya, mengecek jam di pergelangannya, menyisir rambutnya ke belakang, memutar pandangan ke...
...Ya Tuhan! Arahku!?
Wajahku terasa memanas.
"Jangan dilihat terus. Dia sudah ada yang punya,"
Doeng!
Aku menoleh dengan cemberut. Sakura memang selalu merusak suasana.
A Story by Kardigan Tua
.
fall in love
.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
(Hope you like and enjoy it ^^)
Hinata menekuk wajahnya yang memerah sedangkan teman merah mudanya itu tertawa. "A-aku tidak melih—"
"Lalu apa? Melihat burung terbang dan menghitung kepakannya?" Sakura mengerling nakal. "Sudah sana, berdiri cantik dibalik mesin penghitung kesayanganmu. Toko akan segera dibuka," perintahnya kemudian berlalu kearah dapur.
Hinata memang bekerja di sebuah toko roti di pusat kota. Bukan pekerjaan tetap sebenarnya, hanya sambilan. Statusnya yang masih mahasiswa semester lima membuatnya mengharuskan diri untuk mencari uang tambahan. Ia tidak ingin membebankan keuangan hanya dari ayah dan kakak laki-lakinya saja. Maka ia memilih kerja part time dengan mengambil jadwal hanya sabtu dan minggu.
Diseberang tokonya terdapat sebuah butik yang besar dan cukup ramai dikunjungi. Tidak hanya menjual berbagai pakaian, namun juga tas, sepatu hingga aksesoris. Pemiliknya adalah seorang wanita paruh baya—yang masih teramat cantik diusianya—berambut merah dan memiliki senyum yang cerah.
Beberapa kali wanita itu menyapanya saat baru datang atau ketika ia akan pulang. Auranya yang keibuan dan hangat terkadang membuatnya teringat sosok mendiang ibunya yang sudah tiada sejak ia berusia lima tahun.
Mengenai laki-laki bermata sebiru samudera itu, Hinata akui ia cukup tertarik. Mari kita jabarkan secara singkat pertemuan mereka, yang pada akhirnya membuat gadis Hyuuga ini diam-diam selalu memperhatikan.
Hari itu, tepat seminggu setelah ia masuk kerja, ketika Hinata selesai mengunci pintu toko, beberapa orang menghadangnya. Tampangnya seperti preman. Meski ini dipusat kota, tak jarang orang-orang seperti ini memasuki wilayah jika jam operasional kerja sudah usai. Malam itu malam minggu dan Hinata memutuskan untuk mengambil lembur karena bayaran yang diiming-imingkan oleh atasannya cukup besar. Jadilah ia pulang terlambat.
Kedua orang dihadapannya ini memintanya menyerahkan barang-barang berharga. Namun karena Hinata menolak, ia hampir saja diserang sebelum klakson mobil menggema di jalanan yang sepi. Bunyinya berkali-kali hingga para preman ini pergi sambil mendecih karena merasa ketahuan.
Saat Hinata menoleh, wanita paruh baya berambut merah tengah berlari-lari kecil menghampirinya, diikuti oleh seorang laki-laki yang tampaknya jauh lebih muda dari wanita ini.
"Ya ampun, Nak. Kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan wajah khawatir. Kedua tangannya menggenggam bahu Hinata.
"Lain kali jangan pulang terlalu malam. Bahaya," dalam hati gadis itu merasa terpana atas kepedulian yang wanita ini berikan. Secara mereka belum kenal atau bahkan berbicara satu sama lain sebelumnya.
Hinata tersenyum canggung lalu menggangguk. Kemudian tatapannya tertuju pada sosok dibelakang si wanita. Berdiri dengan tangan berada di saku, sedangkan mata bak biru samudera itu memperhatikannya. Ia tertegun.
Mata yang indah.
Itulah kali pertama Hinata terpesona.
Keesokan harinya, Sakura memberitahu jika wanita itu adalah pemilik butik didepan sana, bernama Uzumaki Kushina. Lalu pemuda yang disebutkan Hinata adalah anaknya. Sayangnya Sakura tidak tahu siapa namanya karena pemuda itu jarang sekali mengunjungi sang ibu di butik. Setidaknya tidak sesering tiga minggu belakangan ini.
Hinata mengiyakan. Karena setelah pertemuan singkat malam itu, Hinata kerap kali menemukan eksistensinya di butik. Pada hari sabtu atau minggu, atau bahkan kedua hari itu. Itupun karena bertepatan dengan jadwal kerja Hinata.
"Kau menyukainya, ya?" sekali waktu saat toko sedang tidak terlalu ramai, Sakura mempertanyakan hal itu dengan alisnya yang naik turun.
"Bagaimana bisa? Kita tidak saling kenal,"
"Cinta tidak datang dari perkenalan, Hinata. Tapi dari mata turun ke hati," Hinata hanya memutar bola mata. Sakura itu senang sekali mendramatisir suatu kalimat.
Ia tidak mengiyakan, tapi juga tidak bisa menjelaskan perasaan yang selalu muncul setiap kali pemuda itu tertangkap indra penglihatnya. Meski terhalang kaca toko dan dibatasi oleh jalan raya, getarannya membuat Hinata nyaman memperhatikan pemuda itu dari jauh.
"Tidak heran, sih. Wajahnya memang tidak setampan Sasuke-kun, tapi ia cukup macho untuk bisa menarik gadis-gadis di sekitar bagaikan magnet meski hanya diam," Sakura melanjutkan sembari merapikan roti-roti di etalase. "Termasuk dirimu, 'kan?"
Hinata hanya diam. Membiarkan Sakura menyimpulkan hal yang sebenarnya tidak bisa pula ia terjemahkan.
.
Mengenai pernyataan Sakura tentang si pemuda yang sudah memiliki kekasih, itu Hinata menyaksikannya sendiri.
Hari itu hari sabtu. Hinata tengah mempersiapkan diri dengan mengunakan apron coklat dan mengikat rambut saat mobil hitam berhenti di depan butik. Wajahnya yang ayu berubah sumringah dengan semburat merah di pipi. Memperhatikan pemuda bermata biru itu dari jauh sudah menjadi suatu kegiatan rutin yang ia lakukan. Entah saat ia sedang membantu Ayame merapikan meja, atau bahkan ketika ia sedang melakukan transaksi bayar membayar dengan pelanggan.
Namun kali ini yang membuatnya langsung berlari ke depan pintu kaca bukan karena pemuda itu seorang, melainkan karena ia tidak keluar seorang diri. Ia berputar untuk membuka pintu penumpang lalu keluarlah seorang gadis berambut coklat.
Tatapan Hinata menjadi pias, dan semakin mencelos ketika pemuda itu merangkul bahu si gadis. Bersama-sama memasuki butik dengan senyum cerah di wajah keduanya.
Sudah punya kekasih ternyata, pikirnya lesu.
Jika Hinata tidak menyukainya, lalu kenapa tiba-tiba ia jadi hilang semangat? Ia seolah mendengar sesuatu yang patah, tapi bukan kayu.
Hinata berbalik menghampiri meja kasir dengan wajah murung.
"Kenapa wajahmu sedih begitu?" Kali ini Chouji berkesempatan berkomentar. Ia berhenti sejenak dari kegiatannya meletakan roti matang ke dalam etalase untuk melirik Sakura. Sedangkan yang ditanya—Hinata—hanya diam.
"Pupus ternyata," ujar Sakura
"Ha? Pupus apanya?"
Sakura menghampiri Chouji yang melongo tak mengerti, lalu menepuk bahunya. "Teman kita baru saja patah hati,"
fall in love
Saat ini cuaca sedang tidak mendukung. Ketika Hinata berangkat pun awan mendung sudah menggantung. Mungkin juga menjadi salah satu alasan gadis itu sedikit terlambat untuk datang ke toko. Semalam ia bergadang demi menyelesaikan tugas tiga mata kuliah sekaligus. Kurenai -sensei tidak pernah menerima alasan keterlambatan tugas dalam bentuk apapun.
Suka duka memiliki dosen disiplin dan tak kenal ampun.
Dengan langkah yang sedikit grasak-grusuk, Hinata memasuki toko dengan rambut kusut.
"O-ohayou,maaf aku terlambat."
Secepat kilat ia memasuki ruang ganti. Mengganti pakaiannya dengan seragam hitam berlogo roti berwarna coklat muda di bagian dada kiri, celana jeans hitam kemudian apron coklat.
Saat melewati dapur, ia melihat Sakura maupun Chouji menatapnya dengan sedikit khawatir. Hinata jadi ikut khawatir. Apa? Kenapa? Apa karena terlambat ia akan dipecat? Ia mendadak gelisah.
Setelah mematut diri dan menguncir rambutnya seperti biasa, ia menghampiri bilik kasir dan tiga detik setelahnya mematung bagai terkena serangan jantung.
Mimpi apa ia semalam? atau jangan-jangan ia sebenarnya belum bangun dan masih dalam mimpi? Tapi kenapa cubitan di penggelangannya terasa sakit? Jadi ini bukan mimpi.
Tepat di pojok ruangan, kedua insan yang seminggu lalu sudah membuatnya patah hati, kini duduk berhadapan sambil menyantap croissant dan secangkir kopi. Belum lagi kaca di samping mereka memperlihatkan hujan yang mulai turun diluar sana. Suasana saja mendukung, pikirnya.
Manis sekali, sih, mereka. Batin Hinata.
"Aku bisa menggantikanmu menjaga kasir jika perlu," Sakura menghampirinya. Hinata menoleh dan mendapati emerald itu menatapnya penuh pengertian.
Hinata menggeleng. "Tidak apa-apa," ia sedikit terkejut saat mendapati si pemuda tengah meliriknya. Ia buru-buru memutus kontak. "S-sejak kapan mereka disini?"
"Sejak toko ini belum dibuka."
Hinata melotot. Yang benar saja.
"Dan anehnya, perempuan itu mencari... dirimu,"
Hinata tidak bisa lebih melotot lagi. Untuk apa ia dicari oleh kekasih orang? Apa ia akan dilabrak? Ia tidak merasa merebut pemuda itu, hanya memandanginya saja dari jauh. Apa itu salah?
Si gadis Hyuuga tidak bisa berpikir jernih. Bahkan setelah melayani beberapa pelanggan yang hendak membayar pun, ia hampir saja salah memberikan kembalian. Mereka? Masih tampak nyaman di pojok ruangan. Meski sepertinya kudapan mereka sudah habis sejak beberapa menit yang lalu.
Tak ayal pula Hinata merasa pemuda itu berkali-kali melayangkan lirikan padanya. Diikuti si perempuan setelahnya. Ia jadi lebih mirip gadis lugu yang sedang dijadikan bahan omongan. Dadanya bergemuruh tidak nyaman. Antara nervous karena doi ada disini, juga sebal karena ia datang bersama orang lain.
Saat pelanggan sedikit lenggang, Hinata sengaja menyibukan diri agar tidak terfokus pada dua manusia di meja sana. Dua kali pergi ke kamar mandi, lalu mengambil minum di dapur, berbincang dengan Chouji dan Sakura, atau sekedar basa-basi dengan Ayame dan Shizune yang sedang membersihkan meja.
Apapun. Asal bukan ke meja di pojok sana.
Namun tampaknya kesabarannya diuji sedikit lebih banyak ketika si gadis berambut coklat berjalan menghampiri.
"Aku ingin dua croissant dan dua roti isi dagingnya untuk dibawa pulang, ya." Ujarnya kepada Sakura sembari menunjuk pesanan yang katanya hendak ia bawa pulang. Nada suaranya terdengar menyenangkan dan ceria.
"Silahkan ambil pesanan anda di kasir," sedangkan suara Sakura kali ini bagai petir yang membuat aliran darahnya mendadak berhenti.
Ini dia. Si gadis berdiri tepat di hadapan Hinata. Menatapnya dengan senyuman yang tidak luntur. Dengan mengerahkan segala fokus dan menyemangati diri sendiri sedemikian rupa, Hinata menghitung pesanan pada mesin kasir.
"Semua tiga puluh ribu,"
Sambil menyerahkan uang yang nilainya lebih besar dari seharusnya, gadis berambut coklat itu berujar. "Bibi Kushina benar, kau manis."
Hinata kikuk, tentu saja. Ia hanya mampu mengucapkan terima kasih lalu menyerahkan kembalian serta sekantung paper bag berisi pesanan si gadis. "Ini pesanan anda. Terima kasih banyak,"
Tanpa Hinata duga, setelah menerima paper bag yang Hinata sodorkan, gadis berambut coklat itu mengulurkan dihadapannya. Masih dengan senyum yang ceria. "Aku Saara. Salam kenal,"
Hinata menatap bingung tangan itu lalu menoleh pada Sakura. Gadis merah muda itu hanya mengangkat bahu. Benar-benar tidak membantu. Dengan canggung Hinata membalas uluran tangannya dan memperkenalkan diri, "Hyuuga Hinata."
Gadis bernama Saara itu tersenyum semakin lebar, hingga gigi-gigi putihnya terlihat. "Baiklah, kau sudah tahu 'kan, Naruto? Aku pamit, ya. Byee..."
Saara beranjak pergi dan berlalu setelah menutup pintu kaca.
Naruto?
Hinata lagi-lagi memandang Sakura. Bertanya dalam isyarat siapa itu Naruto. Sedangkan Sakura lagi-lagi hanya mengangkat bahu lalu berucap tanpa suara 'aku juga tidak tahu'. Hinata kini melirik Chouji dibalik jendela dapur. Si pemuda gempal juga mengangkat bahu sebelum memasang wajah meringis sambil menunjuk-nunjuk ke arah belakang Hinata. Gadis itu mengernyit bingung sebelum...
"Jadi namamu, Hyuuga Hinata?"
...suara bariton membuatnya menoleh lalu mematung ditempat dalam sekejap. Jika ada seseorang yang dengan iseng memotret dirinya saat ini, sudah dipastikan itu akan menjadi foto aib yang harus Hinata musnahkan.
Lihat saja bagaimana wajahnya memerah, matanya yang sudah besar menjadi semakin besar karena ia melotot, belum lagi bibirnya yang sedikit terbuka. Sungguh tidak aestetik.
Tapi sepertinya pemuda di hadapannya ini tidak merasa terganggu sedikitpun terhadap reaksi Hinata. Ia justru mengerling dengan sebuah senyum terpatri di bibirnya.
Tarik napas, buang. Tarik napas, buang.
Hinata melakukan itu berkali-kali demi menetralisir rasa terbakar yang menjalar di sekujur tubuhnya. Oke. Ia hanya tidak perlu menatap langsung pemuda itu, maka semua akan baik-baik saja. Ah, ya, ingat! Dia sudah ada yang punya. Hinata menggarisbawahi kalimat itu dalam hatinya.
"A-ada yang bisa saya bantu?"
Pemuda itu melirik etalase sejenak sambil mengelus dagu dengan jari telunjuk. "Dua croissant dan dua roti isi daging," lalu kembali menatap Hinata. "Kau suka moccacino?"
Hinata bingung. Kenapa bertanya padanya? "T-tidak,"
"Lalu apa?"
"Cappucino latte,"
"Baiklah, dua cappucino latte. Makan disini, ya."
Hinata kembali mengernyitkan alisnya. Pemuda ini baru saja usai menyantap sepiring croissant dan secangkir kopi. Sekarang kembali memesan dengan porsi untuk dua orang. Sedangkan kekasihnya baru saja pergi dengan membawa pesanan yang sama.
"Porsi makanmu besar juga, ya," mungkin terkesan tidak sopan dan terlalu berani, tapi Hinata spontanitas karena ia penasaran.
"Kata siapa aku akan menghabiskannya sendiri?"
Kalimat itu sontak membuat Hinata—dengan ragu-ragu—menatap pemuda di hadapannya dengan heran. "T-tapi baru saja pacarmu membawa pesanan yang sama untuk dibawa pulang. Sekarang kau memesan untuk dimakan ditempat,"
Pemuda itu sedikit tergelitik dengan pernyataan Hinata. Wajahnya kembali mengerling nakal. Ia mencondongkan badan lalu menopang dagu tepat diatas mesin kasir. Membuat Hinata menahan napas, Sakura terkejut ditempat, dan Chouji yang membawa loyang berisi roti baru matang berhenti sejenak.
"Pacarmu?" Pemuda itu terkekeh rendah. "Asal kau tahu saja, dia membawa pesanan itu untuk calon suaminya."
Hinata terkejut, kali ini refleks menutup mulut dengan tangannya. "K-kalian berselingkuh?"
Spontan pemuda bermata biru itu tertawa. Gadis ini tidak mengerti atau memang terlalu polos? "Mana mungkin aku berselingkuh dengan kakak sepupuku sendiri," kekehnya.
"Sepupu?"
"Omong-omong, mengenai pesananku, aku memang ingin mengajak seseorang untuk makan bersama," Tanpa memperdulikan Hinata yang hampir meledak oleh kebingungan, pemuda itu kembali melanjutkan. Tatapannya tak lepas dari Hinata. "Kau mau?"
Oke. Hinata setengah sekarat sekarang. "A-aku?"
"Sekaligus menuntut penjelasan mengenai seorang gadis yang sering memperhatikanku diam-diam, dari balik kaca toko roti atau dari balik mesin kasirnya. Oh, ya, aku Uzumaki Naruto, kalau-kalau dia penasaran dan tidak berani bertanya,"
Pemuda yang memperkenalkan dirinya sebagai Naruto itu tiba-tiba menoleh pada Sakura. "Kau. Kalau kau bertemu gadis itu, bilang padanya, dia sudah berhasil mencuri sesuatu dariku." Perkataan Naruto justru membuat Sakura tersenyum lebar lalu menoleh pada Hinata yang nyaris mati di tempat.
Hinata berbalas! Girangnya dalam hati.
Sementara itu Naruto kembali memandang gadis di hadapannya. "Hei, Hinata. Mengenai Saara..." ia menyisir rambutnya ke belakang sebelum lagi-lagi mencondongkan tubuhnya. Gerakan itu benar-benar membuat Hinata berkunang-kunang. Belum lagi mata sebiru samudera yang menatap tepat ke ametysnya dari jarak dekat.
"...aku suka caramu cemburu," lalu mengedipkan sebelah mata.
Brukk!
"Loh! Hinata!?"
Hal terakhir yang Hinata dengar adalah suara Sakura, lalu semua menjadi gelap.
.
.
.
.
.
END
.
.
Ocean blue eyes looking in mine
I feel like I might sink and drown and die
Notes :
Entah kenapa setiap liat matanya Naruto, yang terngiang-ngiang yaa lagu itu xD. Sempet kepikir buat bikin dari versinya Naruto, hmm... mungkin kalau ada banyak waktu senggang dan mood yg baik, bakalan ditulis.
Semoga suka cerita dan alurnya. Jangan sungkan untuk mengkoreksi dan meninggalkan review yaa.
Terakhir, tetap jaga kesehatan :)
