Dia hanyalah anak buangan. Mengais tempat sampah untuk mencari makan. Tubuhnya kurus kering hanya kulit yang membalut tulangnya. Wajahnya tirus kotor oleh debu jalanan dan asap kota yang beracun. Suaranya tidak bisa didengar, hanya ringikan kecil yang bisa dia keluarkan. Tenaga akan bangkit ketika dia melihat makanan, walau itu hanya sisa roti buangan yang mungkin sudah berjamur. Namun itu sanggup untuk mengisi perutnya yang selalu menjerit untuk minta diisi.
Dia yang ditinggalkan ibunya ke alam sana, dia yang ditinggalkan pergi entah ke mana oleh ayahnya, dia yang dibuang oleh pamannya sendiri, dia yang sendirian di hiruk pikuk kota yang mengerikan dengan gedung pencakar langit menjulang tinggi menyakiti lehernya.
Levi Ackerman, hari itu diselamatkan oleh seorang malaikat. Orang yang merangkulnya di hari hujan yang basah dan memberikan kehangatan. Membawanya pada hangatnya rumah yang selama ini dia anggap hanya mimpi belaka.
Orang yang menyelamatkannya, memberinya pendidikan, makan, tempat tinggal, dan apa itu kehidupan yang sesungguhnya. Dan orang itu adalah Erwin Smith.
Orang yang dicintainya setengah mati.
.
Simfoni Hitam
.
"Aku akan menikah." Ucap Erwin di sore hari yang sejuk. Duduk di balkon apartemen bernuansa Eropa dengan ukiran dari abad delapan puluh. Ditemani secangkir teh lemon yang sedikit asam dan manis juga kudapan biskuit yang tertata rapi. Duduk di depannya levi yang hampir menjatuhkan cankirnya.
"Mendadak, kau tak memberitahuku kalau kau dekat dengan seseorang." Ucapnya datar dengan suara bariton yang dibumbui getaran cempreng yang khas.
Sentum Erwin terukir. Dia mengambil satu biskuit coklat dan menatapnya lama, "Aku sengaja tak memberitahu."
"Kenapa?"
"Ya sengaja." Biskuit itu digigit, dikunyah lembut di antara deretan gigi yang rapi dan bersih.
"Kapan kau melamarnya?"
"Lima bulan lalu."
Cangkir itu diletakkan di atas tatakan gelas. Niatnya menikmati teh sore dengan Erwin mendadak hilang. Pangkal lidahnya mendadak merasakan pahit yang entah datang dari mana, padahal kudapan yang dia makan tidak ada rasa pahit sama sekali, teh yang dia minum juga cenderung asam. Lalu datang dari mana rasa pahit ini.
Ah, dari rasa cemburu dan marah.
"Lalu kenapa kau tak memberitahuku? Aku temanmu kan?" tanya Levi menyelidik, maniknya menajam meminta penjelasan.
Erwin diam. Rahangnya berhenti mengunyah, "Maaf, Levi. Aku hanya belum siap."
"Kau sudah menolongku. Kita hidup lama. Kau bahkan membiayaiku sekolah dan sekarang aku bisa memiliki pekerjaan yang layak. Kau tak memberitahuku karena menganggapku beban?" sebuah pertanyaan dan seruan protes yang kentara.
Namun Erwin tak gentar. Iris biru yang indah itu terfokus hanya pada sang Ackerman, "Bukan."
"Lalu kenapa?"
"Karena aku tahu kau menaruh hati padaku." Jawab Erwin yang ampun membungkam mulut Levi. Tidak membalas dan tidak bisa menyangkal. Manik hitam kelam Levi hanya mampu turun menelitik lututnya yang tak ada apa-apa di sana.
"Aku tak mau kau sakit hati, Levi. Makanya aku sengaja memberitahukanmu di hari mendekati pernikahanku. Mengejutkan memang, tapi aku tak tahu harus bicara apa padamu." Erwin diam sejenak, menoleh mendongak pada ufuk timur mengagumi indahnya sinar lembayung sore yang memabukkan.
"Lalu kenapa kau tak memilihku?"
"Karena aku memang tak bisa mencintaimu."
Satu menit, komunikasi mereka menjeda. Menunggu salah satu membuka suara.
"Tapi aku tidak akan mengabaikamu, Levi. Kau boleh tinggal bersama kami. Atau... Kau memilih jalanmu sendiri. Aku akan mendukung semua keputusanmu. Tapi aku tidak akan membiarkanmu bunuh diri. Kau berharga untukku, kau sudah kuanggap teman yang tak tergantikan."
Levi menggigit bibir bagian dalam mulutnya. Menahan rasa perih di hatinya. Dia terpaksa menerima realita yang mendadak dan menyayat hatinya sampai dadanya sesak. Terpaksa membiarkan pujaan hatinya bersama orang lain. Seperti apa kata sebuah buku roman yang dibaca beberapa tahun lalu.
Cinta tak harus memiliki. Asal dia bahagia, itu sudah cukup.
Dagu Levi terangkat. Dia tak tersenyum. Namun sorot matanya menandakan sebuah penerimaan, "Asal kau masih mau mengundangku setiap Minggu sore untuk teh dan kudapan ini. Aku ingin mendengar ceritamu."
Erwin balas tersenyum, "Dengan senang hati."
.
End
