Aku membuka mataku.

Hanya untuk menyadari aku ada di sebuah ruangan aneh.

"Huh?"

"... Naruto-senpai?"

Suara seseorang disampingku membuatku ingat pada juniorku itu yang ingin kulindungi.

"Dimana ini? Kita diculik?"

"Mungkin."

Tidak. Jika memang kami diculik itu tidak akan menjelaskan tempat macam apa dimana kami berada saat ini.

Saat pertama kali tersadar aku sudah duduk dengan Hanabi memegang erat tanganku. Juga saat kami melihat kebawah, ke tempat dimana kedua kaki kami berpijak, saat itu juga aku merinding.

"Kita ... melayang?"

Ruang hampa, begitu yang kuperkirakan untuk menjelaskan keberadaanku sekarang. Dengan aneh kami berpijak pada sesuatu yang tidak terlihat, itu membuatku merinding bila kami kehilangan pijakan dan jatuh ke jurang tak berujung itu.

Tapi, masih terlalu awal untuk menyimpulkan seperti itu. Bisa saja ini hanya lantai yang di lukis oleh orang dengan skill tinggi kan?

"Selamat datang di afterlife."

"Huh?" 2x

Dengan suara itu, seseorang berjalan dari belakang kami. Sampai punggungnya terlihat dan membuatku berpikir bahwa dia bukanlah orang.

"Hidup kalian memang sangat singkat. Tapi, kenyataanya kalian sudah mati."

"Mati?" 2x

--

Mati.

Apa aku mati? Benar.

Aku ingat beberapa saat lalu aku tertabrak sebuah truk dan meninggal. Begitu ya, aku sudah mati.

Tapi seingatku aku mencoba menyelamatkan Hanabi, meskipun begitu dia ada di sampingku sekarang. Dia tetap mati ya.

Sepertinya dia dengan keras kepala kembali ingin menyelamatkanku di akhir.

Maafkan aku Hanabi.

"Aku sudah mati? Senpai, apakah kita sudah mati?"

Mungkin terkejut dengan kenyataan, suara Hanabi bergetar.

"Iya. Maafkan aku tidak bisa melindungimu. Membuat kau juga tertabrak truk itu aku.. "

Hanabi tersenyum.

"Tidak apa, senpai. Aku tidak menyesal menyelamatkanmu kok."

Begitu ya. Aku sudah memendam lama tentang ini tapi, sepertinya memang benar aku jatuh cinta padanya.

"Anu.. "

"Iya?"

Seseorang tadi yang sekarang terlihat duduk di tempat seperti bangku raja mengeluarkan suara canggung. Mungkin karena tidak ingin mengganggu suasana romantis kami.

Terima kasih atas perhatiannya.

Seseorang ini adalah wanita dengan sepasang sayap di punggungnya. Jika memang ini tempat yang bernama afterlife mungkin dia adalah malaikat.

"Sebenarnya.. Kalian bukan mati karena tertabrak truk."

"Hah?" 2x

Lalu? Apa sebenarnya yang terjadi?

Sebelum aku menanyakan itu Hanabi mendahuluiku.

"Lalu karena apa kami mati, kalau boleh tahu?"

"Em.. Kalian mati karena jatuh ke jurang."

"Jurang? Ah jadi begitu. Mungkin aku gagal menarikmu yang terjatuh karena terpeleset saat itu Hanabi. Maafkan aku.. "

Terjatuh ke jurang kah. Meskipun berbeda dari yang kuyakini sebelumnya bahwa aku tertabrak truk tetap saja aku yakin kalau aku mati karena berusaha menyelamatkan seseorang. Dan tidak ada orang lain selain Hanabi seingatku.

"Tidak senpai. Akulah yang gagal menyelamatkanmu terpleset jatuh saat itu dan tertarik olehmu. Maaf aku tidak punya tenaga yang cukup untuk menyelamatkanmu."

Apa yang dia bilang? Aku tidak mungkin bertindak konyol seperti terpeleset dan menggapai tangan seorang gadis untuk meminta bantuan. Tidak pernah dan tidak akan pernah.

Apa kenyataan dia yang terpeleset membuatnya malu? Sayang sekali aku pemuda yang tidak toleran terhadap sikap seperti itu walaupun itu dari seorang gadis yang memanggilku senpai dan mencintaiku.

"Tidak tidak. Sudah jelas aku yang ingin menyelamatkanmu, tidak usah malu Hana-.. Akh..! "

Dia malah meremas tanganku. Seberapa tinggi harga dirinya itu?

"Aku dengan JELAS mengingat bahwa senpailah yang terpeleset dan menangis meminta aku menolongmu. Jangan membual hanya karena kenyataan kau menangis sedikit."

"A-Aku..! Tidak akan pernah bertingkah konyol seperti itu! Dan aku tidak akan menangis walaupun di situasi mengancam nyawapun!"

"Y-yah... Cerita kalian semuanya salah."

Mbak malaikat itu mengatakan itu lagi.

Ayolah apalagi yang salah ?

"Lalu apa yang sebenarnya terjadi?" 2x

Dengan tidak sabar aku dan Hanabi bertanya lagi padanya.

Mbak malaikat itu tersenyum lalu mengambil buku yang ada di sampingnya. Dia membuka itu dan terlihat membacanya.

"A-ah.. Kalian terpleset secara bersamaan. Umm... sepertinya kalian terkejut karena ada lampu sorot cerah dari belakang kalian, lalu emm.. kalian terpleset ke jurang."

"Kematian yang tidak epic seperti itu terjadi padaku?"

Ah sial. Kupikir cara kematianku lebih epic seperti menyelamatkan seseorang.

"Aku terpleset bersama dia?"

Benar Hanabi itu kenyataanya, terima saja dan jangan memasang muka memerah ingin menangis seperti itu.

Ah meskipun fakta kalau kami memang mati itu membuat sedih sih. Seharusnya kami shock untuk pertama kali kan? Kenapa kami merasa tenang seperti ini?

"Dan untuk tambahannya saat terjatuh di jurang mas Naruto berteriak " INI SALAHMU! AKU TIDAK MAU MATI EMAK!" pada mbak Hanabi.. Ya seperti itulah ..emm.. hehe."

Hehe jidat lu! Tidak usah menambah hal memalukanku yang sangat tidak penting itu malaikat ampas!

"Sudah kuduga kau pria ampas."

Meski kau beilang begitu Hanabi. Y-ya.. Kau mungkin benar.

"Emm.. Untuk kalian berdua apakah tidak sedih untuk mati dan tidak bisa menikmati kehidupan lagi?"

Untuk waktu yang tiba-tiba ini suara malaikat itu mulai terdengar lebih gugup dari sebelumnya.

"Ya aku sih sedih."

"Aku juga yes." Kau pikir kau seorang juri pencari bakat Hanabi?

"A-ah.. kalau seperti aku mempunyai penawaran menarik untuk kalian berdua.. em.. itu... ada sebuah dunia yang sedang krisis karena tindakan raja iblis yang menyerang manusia.. jadi emm.. maukah kalian hidup lagi di dunia itu?"

"Apakah itu permintaan?"

"Eh.. i-itu penawaran! "

"Jadi singkatnnya kita bisa ke isekai kah?"

Sesaat aku bingung dengan penjelasan malaikat itu Hanabi berkata seperti itu.

"Oh iya aku tahu istilah itu. Lagian aku tidak menyangka kau juga seorang wibu Hanabi."

"Aku hanya menonton anime! Bukan wibu!"

dengan muka merah dia berteriak.

"Ya! Seperti itulah! Apakah kalian mau?"

"Ya aku sih yes."

"Udah garing yang itu woy."

Mendengar persetujuan kami mbak malaikat terlihat bahagia.

"Akhirnya aku bisa membujuk orang. Akhirnya... Hiks.. aku tidak jadi di pecat.. Hiks... "

"Kenapa kau menangis? Apa itu sesusah itu untuk bekerja di sini?"

Lagian memangnya di sini menerapkan sistem bekerja?

"Yah.. Sebenarnya aku tidak bekerja di tempat ini. Aku menggantikan seseorang yang pergi bermain ke dunia yang kusebutkan tadi. Tapi.. berbagai hal berjalan tidak lancar untuk distribusi manusia ke sana. Aku tidak bisa berbohong seperti Aqua-sama tentang harapan hidup kecil di dunia itu dan seberapa susahnya kehidupan di sana jadi banyak orang yang menolak dan memilih jalan lain. Tapi sekarang akhirnya... hiks... "

Ah sepertinya perjuangan seorang malaikat berat juga. Eh tapi.

"Apa kau baru saja mengatakan hal yang berbahaya tentang dunia itu?" 2x

"Seekali lagi terimakasih. Baiklah, selamat jalan dan semoga kalian aman sampai di sana."

Sebelum kami bisa bertanya lebih lanjut ada dua lingkaran bercahaya di masing masing tempat berdiri kami dan selanjutnya kami melayang tertarik ke langit.

Mungkin secara tidak sadar Hanabi dengan mata tertutupnya meraih tanganku.

"Dasar penakut."

Akupun juga menutup mataku dan memegang erat tangan Hanabi, dengan bergetar.

--

Saat tersadar kami sudah berdiri di depan sebuah gerbang. Sepertinya itu gerbang depan dari sebuah kota kerajaan kayak di film-film kebanyakan.

"Kita di isekai! Naruto-senpai kita di isekai!"

Dasar wibu.

"Oi tenanglah. Akan aneh terdengarnya untuk orang di sini kalau kau berteriak kita di isekai seperti itu."

"A-aku! Aku hanya! Ayolah senpai, lihat! Tidakah kau bersemangat melihat orang-orang berarmor aneh yang berdiri di samping gerbang itu? Kau hanya memendamnya dan malu kan?"

"Aku sudah biasa melihatnya di anime! Jadi aku tidak terkejut dan kampungan seperti kau!"

"Eh? Senpai. E-entah kenapa kau jadi kasar setelah kematian kita. Tapikan bukan salahku untukmu mati jadi maafkan aku ... Hiks.. "

"O-oi..! Jangan tiba-tiba berubah suasana dan menangis! Ah.. Aku tidak marah lah, untuk apa juga. Maafkan kata-kataku barusan. Sebenarnya aku merasa sangat senang karena meski aku mati dan ke dunia lain ada kau di sini yang menemaniku. Mungkin aku akan sangat sedih dan memilih untuk pergi ke surga jika tidak ada dirimu. Makanya kubilang, aku sangat senang."

"Kau yang bilang jangan tiba-tiba berubah suasana tapi kau melakukannya sendiri."

Oi, ayolah cewek ini. Aku sudah mengungkapkan perasaanku untuk menenangkanmu yang menangis. Aku menahan cringe demi kau hanya untuk mengatakan hal seperti itu dasar cewek ampas.

"Tapi sekarang apa yang harus kita lakukan?"

Sepertinya Hanabi lebih tahu soal seperti ini daripada aku jadi aku bertanya padanya.

"Untuk sekarang lepaskan tanganku dulu. Naruto-senpai."

Ah sialan padahal kupikir dia lupa dan menganggap alami tanganku yang memegangnya.

Setelah itu kami masuk ke kota itu.

Dua orang yang seperti penjaga berucap sesuatu seperi selamat datang di kota pahlawan Axel.

Hah isekai ya.

--

Tb

--

Ini absurd gak sih? :v Review kasih saran kritik di pervolehkan. Gw lagi mood banget bikin cerita konosuba. habis namatin novelnya soalnya, dan ini latarnya setelah si kazuma ngalahin raja iblis ya. Ga di jelasin kejadiannya secara jelas di LN(mungkin jelas cmn gw ga tahu) jadi nanti mungkin ceritanya akan melenceng dari cerita aslinya. Ya lagian inikan fanfiction.

Terimakasih.