Seorang remaja berusia 18 tahun kini tengah berjalan pulang menuju rumahnya. Jika dilihat dari penampilannya, jelas terlihat kalau dia adalah seorang pelajar beserta dengan kacamata yang bertengger di hidungnya, sangat tidak cocok untuk seorang pirang yang memberikan kesan preman. Ia begitu asyik memainkan ponsel miliknya, sehingga tak sadar kalau tempatnya berpijak kini sudah jauh berbeda dengan sebelumnya.

Tempat yang tadinya hanya sebuah gang sempit dan sepi, kini telah berubah menjadi sebuah Padang luas yang terlihat menyeramkan. Geraman monster-monster aneh di sekelilingnya membuatnya tersadar dari kegiatannya, membuatnya tersadar dari kegiatannya, "Huft, kalian lagi rupanya. Tak ada bosan-bosannya," namun, bukan reaksi ketakutan atau panik yang dia berikan melainkan hanya sebuah helaan nafas saja. Menilai dari kata-katanya, sepertinya ini bukan pertama kali dirinya mengalami ini.

Kacamatanya langsung dilepas dan disimpan baik-baik di sakunya agar tak rusak, ia dengan santainya hanya berjalan lurus ke depan tanpa rasa takut terhadap mereka, para monster aneh itu juga tidak langsung menyerangnya. Mereka seolah-olah sedang mewaspadai pemuda pirang ini, akhirnya salah satu di antara mereka langsung melesat maju dengan tangan terangkat untuk menghancurkan kepala pemuda ini, tapi sayangnya dia tetap tenang seperti sebelumnya dan tangannya dengan cepat melakukan beberapa gerakan aneh.

Fuuton: Kaze no Taihō

Hal yang terjadi selanjutnya adalah, monster yang barusan menyerangnya itu ambruk ke tanah dengan kepala yang hancur, dan semua itu terjadi karena tiupan angin yang berasal dari mulutnya, " Jika kalian ingin maju, maka majulah secara bersamaan. Mood ku hari ini sangat jelek," ujarnya. Entah mengapa, seringai yang tercipta di bibirnya terlihat seperti seorang yang haus darah.

Poft

Dari ketiadaan, sebuah Blade muncul di tangan kanannya. Sedangkan tangannya yang lain telah kembali membuat sebuah gerakan aneh lagi, " Fuuton: Kazaha," tepat setelah mengatakan itu, Blade yang dia pegang tiba-tiba saja diselimuti dengan cahaya berpendar hijau.

4 monster yang tersisa langsung melesat ke arahnya secara bersamaan. Namun, ia masih mempertahankan keterangannya dan tak gentar sama sekali, malahan ia hanya memutar-mutar Blade di tangannya seolah tak lebih dari sebuah mainan. Cahaya hijau di senjatanya tiba-tiba saja saja memanjang sampai satu meter dengan sendirinya sehingga lebih panjang dari Blade itu sendiri.

Slash!

Slash!

Slash!

Slash!

Dalam tebasan yang sangat cepat, hanya dalam beberapa detik saja para monster itu telah terpotong rapi menjadi bagian-bagian kecil. Ia mendecih, "Huh, bukannya meredakan kekesalanku, ini hanya membuat mood ku buruk saja," sembari menghela nafas, ia kembali memakai kembali kacamata yang tadi dia lepas. Ia membalikkan badannya, ingin segera beranjak dari sana. Namun, baru beberapa langkah saja ia tiba-tiba berhenti, kepalanya menunduk dan ekspresinya sulit untuk dibaca.

Beberapa saat sebelumnya

Seorang gadis berambut hijau lemon kini tengah memperhatikan sesuatu yang unik di hadapannya. Ia tak menyangka, jika saat patroli rutinnya ia akan menemukan hal seperti ini. Dari atas tebing tinggi, dia menyaksikan seorang remaja sedang dikepung oleh 5 Shuuki. Ia awalnya berniat untuk menolongnya dan mengantarkannya kembali ke dunia manusia, tapi sayangnya niat itu berubah tatkala dia melihat pemuda itu santai-santai saja, instingnya mengatakan bahwa dia harus melihat ini.

Sembari menikmati minumannya, matanya terus memperhatikan ke bawah sana untuk menunggu apa yang akan terjadi. Yah, jika anak itu dalam bahaya maka dia akan bertindak segera. Namun, ia harus tersedak minumannya sendiri dan membuatnya batuk-batuk tatkala matanya menyaksikan kepala seekor Shuuki di sana tiba-tiba hancur, "Huh!? Apa-apaan itu? Apa yang bary saja dia lakukan?" ujarnya tak percaya. Tanpa melakukan apa-apa tiba-tiba saja kepala Shuuki itu hancur.

Namun, ia harus dibuat lebih terkejut lagi ketika orang itu dengan mudahnya mampu memutilasi 4 Shuuki seorang diri, "Mustahil, efek buah persik hanya bekerja pada perempuan," ujarnya tak percaya. Jelas sekali kalau orang di bawah itu adalah seorang laki-laki. Ia mengusap kedua matanya, tak percaya dengan apa yang dia lihat. Namun, ketika ia membuka matanya lagi, keberadaan orang itu telah menghilang dari sana meninggalkan bangkai Shuuki itu.

Baru saja dia akan beranjak untuk mencari keberadaan pemuda itu, niatnya terpaksa harus diurungkan ketika kulitnya merasakan sensasi tajam yang menekan lehernya dengan pelan, tapi sedikit saja bisa membuatnya tergores, "Kau mengawasi ku dari tadi, kan? Apa niatmu?" nada suara itu terdengar sangat mengancam. Dengan hanya lirikan mata, ia dapat melihat kalau orang yang tadi dia lihat telah berdiri di belakangnya dan menodongkan senjata padanya.

Gadis itu hanya tertawa garing dan mengangkat kedua tangannya sebagai isyarat, "Sama sekali tidak ada, kok. Bisakah kita berbicara baik? Aku bukan orang jahat," ujarnya berusaha meyakinkan kalau dirinya tidak ada maksud yang aneh-aneh. Si pemuda hanya terdiam sesaat sembari memandang gadis itu dengan intens, sebelum akhirnya dia menurunkan senjata miliknya walaupun masih tetap waspada.

Sebenarnya, Gadis itu merasa lebih terkejut sekarang ini karena ia sama sekali tidak menyangka pemuda ini bisa dengan sekejap mata telah berada di belakangnya tanpa dia sadari, padahal tempat ini sangat tinggi, loh. Sementara itu, si pria hanya memperhatikan seragam yang gadis itu kenakan, sekilas saja dia sudah mengetahui dari mana asal gadis ini.

"Pasukan anti iblis, kah?" gumamnya yang terdengar sama sekali tak tertarik, "Katakan, mengapa kau diam-diam mengawasiku? Bukankah tugas kalian menolong warga sipil?" tanyanya.

Namun, si wanita hanya merespon dengan sebutan seringai yang terkesan mengejek, "Maaf, Tuan. Tapi tak ada warga sipil yang bisa melakukan hal-hal aneh itu, terlebih lagi dia adalah laki-laki," ujarnya membuat si Pria menghela nafas. Jadi benar, dia melihat semuanya.

Si wanita itu tersenyum, setelah melihat kemampuan aneh dari pemuda ini, dia tiba-tiba memiliki sebuah ide gila di kepalanya sehingga tak bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum lebar.

Ia maju selangkah pada pemuda itu dengan senyuman percaya diri, "Pemuda-Kun, Namaku Izumo Tenka. Pemimpin dari unit keenam pasukan anti iblis. Aku memiliki sesuatu untuk dibicarakan denganmu," ujarnya seraya melihat nama yang tertulis pada seragamnya. "Naruto, kah?" batinnya.

Bersambung

Umm, hanya sebuah fic terlahir dari hasil gabut saya saja. Jangan terlalu dipusingkan.