Koyo Cabe itu Panas, Anjir!
Rate K – T
Kimetsu No Yaiba milik Koyoharu Gotoge. Author hanya pinjam karakternya untuk ikut event bulanan (walau aku ikutnya bolong-bolong karena sibuk) di grup Fanfiction Addict.
WARNING! OOC parah. Humor gagal. Pendek. Tidak jelas. Typo. Dan banyak sekali kekurangan lainnya. #KusayangKoyo #KurinduKoyo #InginkanKoyo #KoyonyaEnggak
Happy Reading!
.
.
.
Satu sekolah di SMA Kimetsu sudah tahu kebiasaan absurd pasangan guru-murid ini.
Ya. Siapa lagi kalau bukan Tomioka Giyuu dan anak didiknya, Kamado Tanjiro.
Mereka berdua sudah sering terlihat kejar-kejaran saat jam istirahat. Pak Rengoku Kyojuro—selaku orang yang paling dekat dengan pak Tomioka Giyuu—pun hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan tidak normal murid dan temannya.
Kalau dilihat dari luar sih, pak Tomioka itu mau mendisiplinkan Tanjiro karena anak itu enggan melepas anting-anting hanafuda-nya. Pada adegan lari-lari mereka, pak Tomioka selalu saja bawa pedang kayu untuk latihan kendo pula!
Sungguh sangat membuang-buang tenaga. Toh mereka akan bertemu di kelas olahraga atau waktu wali kelas (pak Tomioka Giyuu adalah wali kelas 1-A, tempat dimana Kamado Tanjiro dan teman-temannya belajar).
Tidak hanya Kamado Tanjiro, bahkan Agatsuma Zenitsu juga ikut terkena imbasnya. Anak berambut pirang itu kerap dihukum dan dipaksa untuk mengembalikan warna rambutnya ke awal; warna hitam. Sedangkan untuk Hashibira Inosuke, pak Tomioka tidak mau ikut campur. Biarlah anak aneh itu diurus oleh pak Shinazugawa.
"Biar pak Shinazugawa bisa melampiaskan amarahnya. Jadi saya tidak kena semprot lagi." Kata pak Tomioka soal Hashibira Inosuke yang tidak ingin di urusnya. Dari kabar yang beredar sih, pak Shinazugawa pernah ngamuk dan nyaris menyeret pak Tomioka untuk dibuang ke sumur terdekat gara-gara pak Tomioka tidak sengaja menyenggolnya saat sedang emosi.
Untung kasus itu bisa diselesaikan dengan damai berkat bu Kocho Kanae yang berhasil menenangkan pak Shinazugawa Sanemi dan pak Rengoku Kyojuro yang kasihan melihat teman baiknya diseret-seret dengan wajah tidak berdosa.
Nah, balik ke adegan saat ini.
Entah sial atau memang selalu ketimpa sial, waktu Kamado Tanjiro berlari di taman pinggir sekolah untuk menghindari pak Tomioka, tidak sengaja pak Uzui Tengen ditabrak.
Tanjiro-nya tidak apa-apa. Tapi pisang yang dipegang pak Uzui terlempar dan terinjak oleh pak Tomioka hingga dia jatuh dengan bunyi GEDEBUK yang keras.
"Pak Tomioka!" Tanjiro langsung melepaskan diri dari pelukan pak Uzui—ehem. Lengan pak Uzui dan berlari menghampiri pak Tomioka yang tetap telungkup di atas tanah. "Pak Tomioka!"
"Tomioka?" pak Uzui ikut mendekat saat pak Tomioka sama sekali tidak bergerak. "Hei! Bangun! Apa kamu mati?"
"Giyuu!" Sabito, sepupu pak Tomioka yang kini berada di kelas 3-B ikut mendekat. Pasalnya dia sangat protektif terhadap pak Tomioka—alasannya karena pak Tomioka itu sering terkena bully karena kelumpuhan komunikasinya dan ketidak pekaannya terhadap sekitar. "Giyuu! Hei! Kamu tidak apa-apa kan?!"
Pak Tomioka bergerak, lalu beringsut duduk. Dahinya memerah dan pipinya kotor dengan tanah. Dia mengusap hidung dan kemudian—
"Ahhh! Pak Tomioka mimisan!"
"Giyuu! Ayo aku antar ke uks!"
"Tisu! Tisu! Pak Uzui punya tisu tidak?!"
"Jangan diusap begitu Giyuu! Aduh—JANGAN DIPENCET JUGA!"
Pak Uzui hanya bisa melongo melihat kehebohan di depannya.
Demi celana dalam Zenitsu yang warnanya pink! Pak Tomioka itu hanya mimisan! Bukan patah tulang!
Kehebohan dua anak itu baru mereda saat mimisan Giyuu sudah berhenti dan bel masuk berbunyi.
"Aku tidak apa-apa." Gumam pak Tomioka. Dua anak di depannya begitu heboh seolah-olah dunia retak. Mereka menghela nafas lega saat mengetahui bahwa pak Tomioka baik-baik saja. Hanya mimisan sedikit karena wajahnya menghantam tanah. Pak Uzui sendiri sudah lama ngacir. "Hanya mimisan dan sepertinya kakiku terkilir." Lanjutnya dengan wajah tidak bersalah.
"Oh begitu. Bagusla—APA?!" teriakan Tanjiro dan Sabito sampai menarik perhatian pak Rengoku dan pak Obanai yang bermaksud menuju kelas masing-masing untuk mengajar.
"GIYUU! KENAPA TIDAK BILANG DARI TADI?!"
"Pak Tomioka! Tolong katakanlah lebih cepat! Kenapa anda diam saja!?"
"Halo! Dek Sabito dan Nak Kamado! Ada apa dengan Tomioka?" pak Rengoku menyapa dengan suara lantangnya yang biasa. "Kenapa kamu duduk di tanah seperti itu?"
"Paling juga mendrama lagi, seperti biasanya." Pak Obanai memutar mata dengan tidak peduli, melirik sekilas tiga orang di depannya dan berbalik pergi tanpa mengucapkan satupun kata.
"Anu, pak Rengoku. Pak Tomioka tadi terpeleset pisang pak Uzui dan sepertinya sekarang kakinya terkilir."
"Oh begitu! Kalau begitu aku akan membawanya ke uks! Serahkan padaku!" pak Rengoku tanpa izin langsung membopong pak Tomioka seolah-olah berat pak Tomioka bukan masalah besar. Hanya saja cara menggendongnya benar-benar membuat orang lain salah paham. "Kalian segeralah masuk kelas! Bel sudah berbunyi!"
Sabito malah mengangguk-angguk, membiarkan saja pak Rengoku membuat gosip beredar. "Tolong urus Giyuu ya, bang Kyojuro! Aku akan menjemputnya saat pulang nanti!"
Tanjiro yang sama khawatirnya juga tidak mempermasalahkan dan membungkuk, "mohon bantuannya, Pak Rengoku!"
Pak Tomioka? Dia diam saja dengan wajah datar. Sudah biasa digendong pak Rengoku sejak mereka SMP. Toh kakinya sakit dan dia tidak bisa berjalan dengan satu kaki.
.
.
.
Sesampainya di uks, pak Rengoku menurunkan pak Tomioka di atas bangkar dan membongkar kotak p3k yang ada.
"Tomioka tadi sempat mimisan? Mana lagi yang sakit?" tanya pak Rengoku bak dokter handal. Padahal dia hanya meniru bu Kanae yang sekarang tidak berada di tempat. Tangannya dengan cekatan memijat pergelangan kaki pak Tomioka dan memberikan salep pereda nyeri.
"... dahiku terbentur. Sekarang rasanya panas."
"Apa perlu kuambilkan kantung es?" tanya pak Rengoku sambil mengacak-acak isi kotak p3k untuk mencari koyo. Kaki pak Tomioka benar-benar terkilir dan pasti rasanya akan sangat sakit. Dia berniat menempelkan koyo agar ototnya hangat dan tidak menambah rasa nyerinya.
"Tidak perlu. Aku berbaring saja setelah ini. Tolong izinkan aku pada anak-anak kelas 2-A dan kelas 1-B untuk jam selanjutnya."
"Serahkan padaku!"
Bungkus koyo berwarna oranye ditemukan. Hm, koyo ini terlihat berbeda. Namanya juga 'KOYO CABE. SUPER HOT DAN LENGKET! AWET ENAM JAM!'
Pak Rengoku berpikir, 'bukankah semakin hangat semakin baik? Sakitnya tidak akan terlalu terasa karena rasa hangat. Dan ini tahan lama.'
"Ada apa, Rengoku?"
"Tidak apa-apa! Aku menemukan koyonya! Akan aku pasang sekarang!" dengan cekatan tangannya membuka bungkus koyo itu dan menempelkannya pada punggung kaki, pergelangan kaki dan betis pak Tomioka. "Nah, sudah selesai!"
"Terima kasih. Maaf merepotkanmu lagi."
"Tidak sama sekali! Aku kembali dulu! Harus mengajar! Istirahatlah, Tomioka!" pak Rengoku menutup kotak p3k itu tanpa merapikan isinya dan mengembalikan ke tempat sebelumnya. "Sampai nanti!" Lambainya lalu pergi.
Dia tahu kebiasaan Pak Tomioka yang lebih suka ketenangan saat sakit dan dia tidak ingin mengganggunya.
Sungguh teman yang pengertian.
Hanya saja, dia tidak tahu bahwa 'bantuan'nya membuat pak Tomioka sengsara.
.
.
.
Saat bel pulang sekolah sudah berbunyi, Sabito menemukan pak Tomioka meringkuk seperti ulat dan mengerutkan dahi dalam-dalam. Tubuhnya juga berkeringat dingin.
"Giyuu? Apakah ada yang salah?!"
"..."
"Giyuu! Kamu tidak apa-apa kan?!"
"Ko-koyonya panas..."
Sabito mengerutkan kening, "bukankah itu bagus? Kenapa kamu terlihat kesakitan?"
"Rengoku... menggunakan koyo cabe..." pak Tomioka mencoba bersuara. Rasa nyut-nyutan di punggung kaki, pergelangan kaki dan betisnya begitu mengerikan. Malah rasanya lebih sakit dari pada pergelangannya yang terkilir. "Terlalu panas..."
"Koyo cabe? Kalau terlalu panas kenapa tidak dilepas saja?"
Pak Tomioka meneguk ludah, "itu lengket sekali..."
Sabito tidak dapat membantu tapi hanya bisa berdoa bahwa kaki sepupunya itu tidak melepuh karena kepanasan. Dalam hatinya dia akan memukul bang Kyojuro—panggilan pak Rengoku dari Sabito—saat mereka bertemu nanti.
Beraninya dia membuat sepupunya kepanasan seperti ini!
.
.
.
End.
