Berjalan seorang diri di dalam hutan yang bermandikan cahaya rembulan. Seorang anak laki-laki berambut hitam jabrik dengan busana haori biru tua dan celana hakama hitam yang mana bagian ujung dibalut pelindung tulang kering (suneate), serta sandal jepit anyaman jerami sebagai alas kakinya-- Menyusuri jalan setapak sembari menoleh ke sana kemari, memperhatikan keindahan alam di sekitarnya.
Langkahnya berhenti. Anak itu menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskan secara perlahan. Memberikan perasaan damai pada jiwa dan raga saat melakukannya.
Dia benar-benar menikmatinya dan ingin kondisi ini bertahan sedikit lama lagi.
Namun, itu tidak memungkinkan.
"Keluar lah. Aku tau kalian di sini."
Siluet hitam mulai bermunculan dari balik kegelapan malam... Cahaya rembulan menyinari sosok mereka menjadi lebih jelas...
Ninja.
Mereka berada di segala penjuru. Mengepung si anak berambut hitam dengan niat membunuh di setiap diri mereka.
Walau dalam kondisi demikian, si anak berambut hitam tak sedikitpun merasa gentar. Ekspresi dan gesture tubuhnya santai. Tidak ada pertanda kecil dirinya akan melakukan pergerakan.
"Madara... Kau akan mati sekarang juga di tempat ini!"
Berdiri di atas dahan pohon, seorang pria berbusana serba hitam yang diduga sebagai pemimpin para ninja, berseru demikian-- mengintrupsi empat orang Ninja yang kemudian menerjang Madara bagaikan angin, dengan masing-masing ninjato yang berkilat memantulkan cahaya rembulan.
Madara tak bergeming dari tempatnya. Bahkan menyentuh katana yang tersarung di pinggangnya pun tidak.
Lawan akan berpikir bahwa dia telah pasrah dengan ajalnya. Demikian semua akan berjalan dengan mudah dan cepat.
Itu salah...
Kurang dari seperkian detik setiap Ninjato dari keempat Ninja akan segera melukai Madara di empat titik yang berbeda. Yang pasti menimbulkan luka yang sangat fatal.
Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Bergerak jauh lebih cepat dari keempat Ninja. Madara menarik katananya lalu menebas mereka dengan ayunan yang sangat cepat dan tajam.
Tebasan yang akurat dan sempurna. Tanpa meninggalkan noda darah pada bilah katananya yang mengkilap memantulkan cahaya bulan purnama.
Empat orang Ninja berlipat ganda jumlah tubuhnya menjadi delapan dan berserakan di sekitar Madara dengan potongan diagonal ataupun horizontal.
Para ninja yang tersisa sedikitpun hati mereka tak tergelitik melihat rekan-rekan yang tewas di tangan Madara. Sebaliknya mereka malah terkesima dengan teknik pedang yang anak berambut hitam itu tunjukkan.
Itu agak sedikit mengganggu bagi Madara.
"Hei, apa kalian tidak merasa dendam atau bagaimana gitu ketika melihat teman kalian mati?" (Madara)
"Itu tidak penting."
"Kepalamu jauh lebih penting dan berharga dibandingkan mereka."
Ya ampun. Madara geleng-geleng kepala mendengarnya.
Ninja... Mereka tidak punya simpati. Tidak manusiawi. Tidak peduli ketika rekan mereka mati. Mereka hanya peduli uang dan akan melakukan apapun demi itu.
Hanya peduli uang, kah...
"Ngomong ngomong, siapa yang mengirim kalian?" (Madara)
Tak ada jawaban. Sebaliknya para ninja melesat ke arahnya dengan niat membunuh. Melesat bagaikan bayangan dari segala penjuru.
Madara menggenggam kuat katananya dengan kedua tangan ke depan secara diagonal. Kaki sedikit ditekuk dan dibuka seakan membentuk garis diagonal di tanah. Membentuk kuda-kuda bertahan sekaligus menyerang--
Pertempuran pun tak terelakan.
Di dalam hutan yang bermandikan cahaya rembulan, pertempuran satu lawan belasan terjadi.
Secara logika pertempuran tersebut berat sebelah.
Terlebih posisi yang diuntungkan dari segi jumlah adalah para ninja yang dikenal mampu bergerak secara cepat nan senyap dan memiliki teknik membunuh yang efektif juga mematikan.
Sedangkan lawan mereka hanyalah seorang anak laki-laki yang bersenjatakan sebuah katana.
Tapi yang terjadi adalah sebaliknya.
Pertempuran tersebut bukan masalah jumlah, akan tetapi kualitas.
Kualitas melawan kuantitas.
Madara dengan lihainya meladeni perlawan setiap ninja yang datang menyerang. Juga mengimbangi pergerakan mereka yang cepat dan gesit.
Setiap serangan ditepis atau dihindari dengan sempurna, kemudian memberikan serangan balasan yang cepat dan akurat dalam rentan waktu yang sangat tipis. Hampir tak ada pergerakan sia-sia yang dilakukan olehnya.
Menepis dan menyerang balik yang dilakukan oleh Madara seakan terjadi dalam waktu yang sama bila dilihat dari kacamata orang awam.
Madara menghadapi para ninja tanpa masalah yang berarti.
Itu semua terjadi dalam waktu singkat.
"Arggghhh!"
Seorang ninja berteriak tatkala salah satu kakinya ditebas oleh Madara. Jatuh meringkuk di atas tanah dengan darah menggenang di sekitar pahanya yang terpotong.
Madara bangkit berdiri dari posisi berlutut. Memandang ninja tersebut.
Satu-satunya ninja yang tersisa. Si pemimpin kelompok ninja yang sebelumnya menyebutkan nama Madara. Semua rekan-rekannya telah tewas di berbagai posisi dengan kondisi anggota badan yang tidak lagi utuh.
"Siapa yang mengirim kalian?" (Madara)
"Heh! Jangan harap aku akan mengatakannya! Ninja tidak akan membocorkan identitas klien mereka dengan mudah!"
Madara mengacungkan katananya tepat ke wajah si ninja.
"Jangan keras kepala. Kau tidak berada dalam kondisi yang bagus untuk bernegosiasi, mengerti?" (Madara)
Si ninja hanya diam dan menunjukkan seringai meremehkan. Tidak ada tanda akan membuka suara dan memberitahu semuanya.
Ini agak susah.
Ninja memang agak sulit dipaksa untuk membeberkan rahasia yang mereka simpan. Bahkan dengan metode penyiksaan sekalipun tetap sulit.
Mungkin ada satu cara untuk memaksa ninja bicara, yaitu menyuap dengan nominal yang jauh lebih besar dari klien mereka.
Kemungkinan besar itu akan berhasil. Karena mereka sangat peduli uang... Tapi sepertinya cara tersebut sudah tidak berlaku sekarang, karena--
"Ag..." (Ninja)
Si ninja baru saja menghembuskan nafas terakhirnya. Dia mati karena pendarahan hebat pada pahanya.
Jika sudah begini informasi tidak akan didapatkan. Bicara dengan mayat itu mustahil.
Madara menghela nafas, bersamaan menyarungkan kembali katananya. Mengalihkan pandang ke sekitar, melihat hasil perbuatannya.
Dia diam sejenak. Kemudian melenggang pergi meninggalkan tempat tersebut.
Langkah ketiga.
Langkah kelima.
Dan di langkah ke tujuh suatu keanehan terjadi--
Pegunungan dan savana hijau menjadi lantainya. Langit biru berhiaskan awan awan putih yang bergerak tenang sebagai atapnya.
Madara mengedipkan mata beberapa kali. Berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Tanpa sadar dirinya membuat ekspresi bodoh.
Menoleh ke kanan, ke kiri, dan ke segala arah. Terakhir mendongak ke atas. Memandang matahari yang bersinar terik dengan bola mata terbelalak dan mulut menganga.
"Di mana ini?" (Madara)
Ini tempat yang berbeda. Waktunya pun juga berbeda.
Beberapa detik yang lalu berada di tengah hutan pada malam hari. Yang seketika tempat dan suasananya berubah begitu saja.
Ini sulit diterima oleh akal sehat.
Ketika Madara sibuk mencerna keadaan. Sesuatu datang mendekatinya dari kejauhan.
"!" (Madara)
Segera menyadarinya. Menoleh dan melihatnya yang sedang mendekat.
Jarak semakin terpangkas dan sosoknya pun semaki terlihat jelas oleh Madara.
Sesuatu yang belum pernah dilihat sebelumnya.
"A-apa-- manusia berkepala sapi?!" (Madara)
Itu berlari menuju Madara dengan setiap langkah yang meremukan tanah.
"Groaaaarrrrrr!"
Itu meraung dengan ganasnya.
Bersambung...
