Haikyuu! © Furudate Haruichi.
"Oh sayang," Sugawara mendekap badan itu lebih erat. Ada sesuatu yang kudus dari aroma tubuh yang menguar lembut, namun bukan berarti dirinya sudi untuk menyembahnya lagi. Mungkin sekali cukup, mungkin ia akan melakukannya lagi untuk kedua kali untuk memantapkan diri. Tapi ia tidak akan memeluk tubuh itu tiga kali malam ini. Baunya seperti kayu cendana dan mentol dengan sedikit sitrus- menenangkan, memabukan, memuakkan. Ia dapat merasakan tangan tangan kurus diantara pinggangnya. Sentuhannya ringan cenderung ragu, tapi toh pinggang itu tetap tersentuh juga akhirnya. Mereka menutup mata. Ada jeda tercipta diantara. Sugawara menutup mata, mempeta sidik jari pada badan yang berdekap. Dapur itu kecil jadi mereka coba untuk memperkecil jarak sebisa mungkin.
Sugawara melanjutkan; "aku tidak bisa menemukanmu. Tidak sekarang, tidak pula nanti. Aku mencari dirimu kemana-mana belakangan ini. Aku tidak bisa menemukanmu. Aku tidak bisa menemukanmu. Aku tidak bisa menemukanmu." Kalimat itu terapal berkali-kali bagai mantra, terayun seakan merayu. "Namun jikalau aku menemukanmu nanti, kamu pasti tidak akan kembali juga kan?"
Tidak ada jawaban tapi Sugawara sudah kepalang maklum, toh ia memang tidak pernah menuntut balasan. Tapi keheningan itu terlalu memekakan telinga hingga rasanya ia ingin muntah. Atau menjerit-jerit seperti orang gila. Atau menangis, meraung, memecah piring di kabinet. Manapun boleh, tapi hari ini Sugawara memilih sunyi. Mungkin ditemani helaan nafas pelan yang terdengar samar di kupingnya juga tidak masalah.
Saat itu Sugawara berharap waktu akan memburu mereka berdua. Akan lebih baik jika hari ini selesai lebih cepat karena memulai hari baru dengan berdekapan setidaknya dapat meyakinkan Sugawara bahwa mereka sudah melewati satu hari lagi dengan selamat. Lalu mereka tidur dan terbangun sebelum matahari terbit dan mencari kepingan dari pecahan diri sekali lagi. Atau mungkin biarkan saja waktu membusuk diantara mereka. Ide tentang mati bersama mungkin tidak buruk juga. Pun jika salah satu dari mereka mati, mereka bisa merapikan rumah dengan cepat. Sisa-sisa debu akan disapu ke bawah karpet, begitu pula dengan hantu mereka yang bergentayangan di sudut-sudut ruangan. Terjebak. Terlupakan. Stagnan di antara aliran arus waktu.
"Aku rasanya ingin kabur." Oikawa menggumam sambil merejang air pada suatu subuh di penghujung musim semi. Saat itu Sugawara belum dapat mengerti apa maksud dari kalimat tersebut. Ia baru saja terbangun untuk buang air dan bermaksud untuk lanjut tidur setidaknya sampai dua-tiga jam lagi.
"Aku benar-benar ingin kabur." Sekali lagi Oikawa memberita. Teko tempatnya merejang air mulai bersiul-siul dan air yang tumpah meruah berdesis di ujung kompor. Sugawara masih belum mengerti tapi ia berhenti untuk mengamati.
Lampu pijar di dapur mereka berpendar lembut cenderung redup namun cahayanya yang mengenai wajah Oikawa begitu subtil dan memikat. Sugawara sekali lagi lupa untuk mengganti bohlamnya. Ditatapnya kembali lekat-lekat sepasang netra tersebut sambil termenung. "Dari apa? Kepada apa?"
Dan Oikawa menjawab mantap: "Dari aku. Dari kamu. Dari kita."
Sugawara berharap itu satu lagi dari guyon pagi tidak lucu khas Oikawa. Tapi tidak. Baik mereka berdua tidak ada yang tertawa atau mendengus pura-pura sebal karena mereka mengerti bahwa tidak ada satu katapun yang mengucap dusta dari kalimat tersebut. Kalimat itu terdengar begitu mentah di telinganya —asing.
Mereka menarik kursi, berusaha susah payah untuk tidak suara gaduh. Ruangan kecil itu sudah cukup berisik dari degup jantung masing-masing dan mereka tidak butuh suara lainnya atau gendang telinga mereka akan terancam pecah. Degup jantung, hembusan napas, dan ketel yang bersiul-siul. Rasanya bisa gila. Mereka duduk. Menatap. Tidak bergerak.
"Baiklah," Sugawara pada akhirnya mengangguk. "Nah sekarang, bagaimana kalau aku buatkan roti untukmu?" Oikawa tersenyum, mengangguk, mengamini, dan jadilah hari itu dapur mereka dipenuhi wangi susu dan mentega.
(Lalu dua minggu setelahnya Sugawara menemukan dirinya mencari-cari Oikawa di sudut-sudut rumah. Di binatu, di balkon, di mana-mana. Dan setelahnya Oikawa akan muncul secara acak dan memasang wajah kebingungan ketika Sugawara bertanya dari mana saja dirinya seharian ini.
"Loh? Apa maksudmu? Aku selama ini ada di ruang tengah menonton tv. Nah, aku lihat kok dirimu seperti kebingungan mencari sesuatu, namun ketika ditanya 'sedang cari apa?' Kamu malah mengabaikanku."
Saat itu akhirnya Sugawara mengerti; bahwa ketika Oikawa berkata ia ingin melarikan diri dari mereka berdua bukanlah dusta semata).
Oikawa suka memunguti kertas-kertas memo yang tercecer di lantai. Kadang kertas itu terselip di dekat pintu atau dibawah rak sepatu, beberapa jatuh dari pintu kulkas, dan mungkin masih ada sisa kertas yang menempel di kaca di kamar mandi. Pesannya macam-macam: tanggal tenggat waktu, nomor telepon narasumber yang dicatat cepat-cepat dengan bolpoin setengah kering, atau bagian kecil artikel yang seharusnya ia revisi kemarin sore.
Potongan kertas itu akan Oikawa kumpulkan diatas meja makan dan ketika Sugawara pulang dan membacanya ia akan membuat reaksi yang berbeda-beda. Oikawa menganggap hal ini lucu, bagaimana sebuah kertas kecil tidak bernyawa bisa mengaduk-aduk perasaan manusia.
Kalau sudah selesai, alih-alih membuang catatannya ke keranjang sampah, Sugawara akan memasukkannya ke dalam kotak sepatu yang diletakan di ujung atas kabinet di dapur.
"Buat apa?" Oikawa bertanya suatu hari.
"Nanti jika aku mulai pikun," Sugawara menggeleng-geleng. "Eh, yah, aku memang agak pelupa sih. Tapi pokoknya begini, setiap kali aku menulis aku meninggalkan sedikit bagian dari diriku disana."
Sugawara mengangkat selembar catatan secara acak. "Macam ini. 23 Juni 2017. 'Oikawa pulang dari Ōsaki jam 3. Aku bisa ingat kalau hari itu hujan dan rasanya lengket sekali. Kalau begini kan aku tidak akan pernah lupa."
"Nah, cerdas juga."
"Apakah sebaiknya aku juga mulai menulis bagaimana aku mencintaimu setiap harinya?" Sugawara bertanya setengah menggoda.
Oikawa terbahak. "Aduh! Geli sekali! Tidak akan ada gunanya, kan kau tiap malam liat tubuh telanjangku!"
Apa daya pada akhirnya mereka tetap bertambah tua, dan di dalam apartment mereka yang sunyi dan ruangannya gelap, mereka bertanya-tanya apakah ada sesuatu yang mereka lupakan. Apakah itu tanggal hari jadi? Atau mungkin jangan-jangan mereka melupakan hari kematian seseorang?
Baik mereka berdua bahkan lupa apa yang jadi dan apa yang mati.
Bohlam dapur mereka berkedip-kedip.
"Ada kala aku melihatmu seperti pendar bohlam dapur kita."Hari itu Rabu, November akhir, dan diluar suhu sudah jatuh. Sambil merejang air Sugawara melipat tangan-tangan yang memerah dan menyembunyikannya di balik ketiak. "Memang sih sudah mau mati, hanya saja cahayanya sekarang terasa lebih lembut dan menenangkan."
Oikawa mengangkat alisnya sebelah. "Maksudmu aku terlihat sekarat begitu?"
Bohlam itu berkedip sesekali.
"Haha, tidak bukan begitu maksudku. Oh well, Aku ini sempat juga terbangun sekitar jam 2 malam tadi loh, mau ke kamar mandi." Sugawara mengambil jeda sebentar untuk mematikan kompor, ada suara mendesis datang dari ketel. "Saat sudah selesai aku sadar kalau dapur kita gelap jadi kupikir bohlam ini mati juga akhirnya."
Sugawara melanjutkan lagi. "Tapi ternyata tidak. Saat aku memutuskan untuk berdiam sebentar di dapur tiba tiba bohlam ini kembali menyala. Apa ya? Rasanya cahaya yang datang tiba-tiba dari bohlam itu menelan dapur kita yang gelap. Lalu tidak lama bohlam kita kembali redup, terang dapur kita hilang perlahan, dan akhirnya mati dan kembali gelap total."
Ia mendapati Oikawa sedang mencari-cari sesuatu dari kabinet ketika membalik badan. Setengah menit kemudian kabinet ditutup dan oikawa dengan jumawa mengangkat kantung kertas berisi bubuk kopi. Sambil menyendokan isinya ke cangkir, oikawa bertanya; "lalu apa yang terjadi?"
"Tidak ada." Sugawara menjawab cepat. "Hanya saja, sekali lagi, itu mengingatkanku padamu. Pada kita."
"Ya? Bagaimana?"
"Aku sudah bilang kan kalau kamu bagaikan bohlam kita, lembut dan menenangkan." Bau kopi yang diseduh menguar perlahan-lahan. Sugawara memperhatikan bagaimana Oikawa menuang air dengan gerakan searah jarum jam ke cangkirnya. Sugawara lalu melanjutkan. "Kejadian tadi pagi pun sama; kamu itu bohlam dan aku itu dapur.
Pertanyaannya adalah: apakah cahaya mu yang menelan gelap ku hingga lenyap? Atau terangku yang mengunyah redup mu sampai hilang tidak bersisa?"
"Aku," kala itu Sugawara meragu, menimang ini itu sebelum akhirnya meneruskan. "dulu pernah berkata bahwa aku terbakar cintamu tiap harinya." Mereka berdua masih mendekap badan. Ego terlampau tinggi untuk membagi jarak. Tapi lagi, punggung-punggung mereka dingin.
"Pun sampai saat ini masih. Aku akan terus meyakinkanmu bahwa aku masih terbakar tiap harinya. Dan seterusnya. Mungkin sampai akhir jaman. Atau tidak. Atau mungkin hanya sampai nanti sore." Mereka terkikik bersama, paham bahwa hal tersebut nyata adanya. "Tapi mungkin akhir-akhir ini aku terbakar sendirian. Dalam sepi, dalam sunyi. Lalu entah dititik mana kau dan aku lupa bahwa kita pernah membakar diri masing-masing. Tanganmu mulai dingin dan punggungku membeku."
Tidak ada tawa. Ini juga nyata. Sugawara terdiam lagi.
Sugawara lelah, jadi ia memutuskan untuk menyandarkan dagunya di pundak tegap depannya. "Tapi jika kau tanya aku," bibir itu berbisik dekat telinga. "Aku masih. Aku masih dan aku akan selalu terbakar karenamu. Aku akan terbakar sampai pada titik diriku habis sisa rangka. Lalu sembuh, atau lahir lagi dari abuku dan ketahuilah bahwa aku akan tetap kembali padamu."
"Tapi malam ini baik kamu dan aku tidak ada yang terbakar. Kita sudah habis sejak lama, api sudah padam sisa asap." Akhirnya Oikawa buka suara. "Tapi kalau kamu mau mungkin kita bisa bakar saja dapur ini sampai habis."
"Pada akhirnya kita terbakar." Sugawara
"Eh kalau ini terdengar terlalu ekstrim, kita bisa saja menggantinya dengan sesuatu yang lebih mudah. Ganti bohlam dapur misalnya."
Mereka tertawa. Terbahak. Paham.
.
.
.
(pun bohlam itu tidak diganti pada akhirnya. Mati seutuhnya pada penghujung bulan November, tepat setelah Sugawara mengepak baju dari binatu dan keluar dari apartemen mereka tanpa pernah kembali).
FIN.
a.n: aduh saya juga lupa cara edit dokumen disini astaga membingungkan sekali.
