"Aku tidak tertarik dengan cerita horor."
"Ayolah, Kak Hali! Ini kan masih siang, jadi gak apa-apa kok!"
"Pokoknya tidak!"
Taufan tertawa terbahak-bahak saat menyaksikan Halilintar berlari keluar dari kelas. Memang sudah menjadi rahasia umum kalau kakak mereka yang terkenal garang itu takut dengan hal-hal berbau horor dan mistis.
"Kak Upan, ayo dong! Katanya mau cerita horor!" seru Blaze tidak sabar.
"Iya, aku penasaran!" sahut Duri.
Taufan terkekeh lalu duduk di kursinya.
Di jam pelajaran terakhir ini guru yang bertugas tidak datang karena ada urusan mendadak. Sepertinya saking mendadaknya, dia tidak sempat memberi tugas pengganti pada murid-muridnya.
Otomatis ini menjadi jam kosong. Beberapa anak pergi keluar kelas, hendak menyantap makanan sekaligus menunggu jam pulang sekolah. Ada yang yang menetap di kelas dengan tidur, bermain ponsel, atau mengobrol.
Si Trio Pembuat Masalah, Taufan, Blaze, dan Duri memilih untuk di kelas, menyanggupi usulan Taufan untuk bercerita horor.
"Hati-hati lho... katanya kalau ada orang yang bercerita horor, maka para hantu yang ada di sekitarnya akan ikut mendengarkan..." kata Taufan dengan nada menakut-nakuti. "Kalau kalian tidak kuat, silakan bergabung dengan Kak Hali..."
"Aku bukan penakut! Ayo kak, cerita!" seru Blaze tanpa ragu.
"Aku siap kok, kak! Ayo!" seru Duri.
Taufan menyeringai, lalu akhirnya mulai bercerita.
Pertama, kisah tentang seorang siswa yang bunuh diri di UKS karena dinyatakan tidak lulus. Konon arwahnya sering berkeliaran di UKS dan koridor sekitarnya, dengan wujud yang sama saat dia ditemukan. Yaitu wajah dipenuhi belatung dengan mulut yang mengeluarkan aroma racun tikus.
Kedua, rumor tentang keberadaan kuntilanak berlidah panjang di toilet wanita di pojok sekolah. Rumor mengatakan dia muncul di malam hari, menjilati sisa pembalut wanita yang tidak dicuci bersih.
Ketiga, penampakan sekelompok tentara tanpa kepala yang muncul di malam-malam tertentu di halaman sekolah. Mereka dulunya adalah tentara Inggris yang dibantai pada masa penjajahan Jepang.
"Dan keempat..." Taufan lanjut bercerita, dalam hati merasa puas melihat kedua adiknya terpengaruh cerita-ceritanya. Terlihat jelas dari wajah mereka yang memucat.
"Kalian lihat pohon besar yang ada di sana?"
Taufan menunjuk sebuah pohon beringin besar yang tidak jauh dari kelas mereka.
"Pohon itu sudah ada bahkan sebelum sekolah ini berdiri. Pohon itu tidak bisa ditebang. Katanya, tiap ada orang yang ingin menebangnya pasti akan mengalami penyakit yang tidak jelas penyebabnya. Kata 'orang pintar' itu terjadi karena pohon itu adalah pusat dari kerajaan jin di seluruh Pulau Rintis..."
Blaze meneguk ludah. "Huuu seram sekali–"
"AAAAAAAAAAAHHH!"
"Duri? DURI?!"
.
.
.
DIMENSI TAK KASAT MATA
Summary: Kisah-kisah horor mengantarkan mereka pada fakta bahwa mereka tak hidup sendirian di dunia ini.
Disclaimer: BoBoiBoy © Monsta Studio. Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari pembuatan fanfiksi ini.
Warning: agak islami(?), Typo(s), OOC akut, supranatural gagal, dll.
SELAMAT MEMBACA!
.
.
.
Halilintar mencengkeram kerah baju Taufan.
"Sudah kubilang jangan cerita horor! Lihat, Duri jadi begini kan?! Ini semua salahmu!" teriaknya.
"K-Kak Hali... lepasin..." pinta Taufan gemetar.
"Kak Hali jangan salahin kami! Kami gak tau apa-apa!" seru Blaze.
"Kalian, ini bukan waktunya untuk bertengkar!" lerai Gempa. "Kalau kita berisik, penjaga UKS akan mengusir kita!"
Halilintar lalu melepas kerah baju Taufan. Mereka kembali terdiam.
Entah apa yang terjadi. Duri tiba-tiba berteriak kencang lalu pingsan di kelas. Taufan dan Blaze bersama teman-teman yang lain segera membawanya ke ruang kesehatan.
Hingga jam pulang sekolah, Duri masih belum bangun. Wajahnya tampak pucat.
"Jadi... Duri pingsan saat kalian sedang bercerita horor?" tanya Ice.
Taufan dan Blaze mengangguk.
"Jangan-jangan Duri kesurupan..." gumamnya.
"Ice, jangan berkata begitu!" tegur Gempa.
"Tenang, mungkin Duri cuma pingsan biasa," ujar Solar. "Bisa jadi anemia atau–"
"AAAAAAHHH!"
Suara itu berasal dari Duri. Dia terbangun dari tidurnya dengan mata terbelalak. Sedetik kemudian dia menangis terisak-isak.
"Duri, kau kenapa?" tanya Gempa pelan.
Duri tidak menjawab. Dia terus terisak.
"Tenang, Duri. Katakan saja pada Kak Gem..." ujar Gempa sambil memegang bahu Duri lembut.
Di sela-sela isaknya, Duri mulai bicara.
"Kak Gem... aku takut..." katanya. "Di pojok sana..."
Duri menunjuk sudut ruangan UKS.
"Siswa yang bunuh diri... di cerita Kak Upan... dia ada di sana... wajahnya menakutkan..."
Mereka menatap sudut yang ditunjuk Duri. Bulu kuduk mereka seketika berdiri.
"Duri... tidak ada apa-apa di sana..." ujar Gempa gemetar.
Duri menggeleng. "Tidak! Dia ada di sana! Dan di sini... banyak makhluk aneh... ada wanita merayap di langit-langit... kepala terbang... bayangan hitam... hiks... menakutkan..."
"Duri, tenang–"
"Kak Gem! Aku takut!" Duri tiba-tiba memeluk Gempa. "Mereka semua menatap ke arahku!"
"Duri..."
"Jangan mendekat! JANGAAAAANNN!"
.
.
.
"Duri, dengar. Apapun yang kau lihat, jangan beritahu Kak Hali. Oke?" ujar Halilintar.
Duri hanya mengangguk mendengar perintah Halilintar.
"Sekarang Kak Hali mau makan dulu. Kau ikut saja," lanjutnya.
Halilintar kini berjalan pulang dari sekolah dengan Duri menggenggam tangannya. Dia sebenarnya risih, tapi dia tidak punya pilihan lain. Mereka semua kini harus sabar dalam menghadapi Duri yang entah bagaimana caranya, 'mata batinnya' telah terbuka sehingga dia bisa melihat hal-hal gaib.
"Sebenarnya aku lebih menyimpulkan Duri kena skrizofenia sih..."
Halilintar memutar matanya saat mengingat celetukan Solar yang membuatnya dihadiahi bogem mentah Gempa.
Halilintar tidak menyalahkan Solar. Sebagai teman sekamar Duri, yang selama tiga hari pertama tidak bersekolah karena selalu menjerit-jerit dan mengatakan hal-hal semacam 'pocong yang tiba-tiba tidur di sampingnya' atau 'kuntilanak terbang di atas kamar' membuat Solar yang selalu mengedepankan logika turut ketakutan.
Setidaknya Duri beruntung ada Tok Aba dan Gempa yang sangat sabar menghadapinya. Walau takut, tapi saudara mereka yang lain turut membantunya.
"Kalau Duri melihat mereka, langsung tutup mata saja. Kan aman?" usul Ice.
Duri menggeleng. "Bukannya tak terlihat, mereka justru terlihat makin jelas jika aku menutup mata, Kak Ice..."
Tok Aba dan Gempa menyarankan Duri memperbanyak ibadah seperti sholat atau membaca Al-Qur'an, tapi itu tidak mudah. Jangankan membaca, Duri mendadak suka merasakan pusing dan panas jika mendengar suara azan atau suara bacaan Al-Qur'an.
Hal yang sama dia alami saat sholat. Belum lagi dia sering mengalami gangguan dari 'mereka'. Duri pernah tiba-tiba lari saat sholat, dia bilang ada makhluk putih bermata merah mencoba melayang menembus tubuhnya. Pernah juga saat bersiap sujud dalam sholat, muncul pocong berwajah hitam berbaring di tempat sujudnya.
Tapi lambat laun Duri berhasil mengendalikan ketakutannya, sehingga bisa kembali bersekolah. Tapi tetap saja Duri suka kaget dan ketakutan walau tak sampai menjerit. Jadilah semuanya sepakat paling tidak ada satu orang yang selalu menemani Duri dalam sehari agar dia tidak terlalu takut.
Dan hari ini adalah giliran Halilintar. Dia tidak suka ini, tapi mau bagaimana lagi.
Halilintar sendiri harus menahan rasa takutnya karena tadi Duri tidak mau melewati halaman sekolah. Katanya dia melihat sekelompok tentara Inggris tanpa kepala sedang berbaris di sana. Terpaksa Halilintar menyeretnya melewati halaman itu. Dia mengabaikan kata-kata Duri yang tubuhnya merasa dingin saat menembus para tentara itu.
"Nah, kita makan di sini saja, Duri," ujar Halilintar di depan sebuah warung bakso.
"Uhm... tidak tempat lain saja, kak?" tanya Duri.
"Memangnya kenapa kalau di sini?" tanya Halilintar.
Duri tidak menjawab. Dia hanya mengigit bibir bagian bawahnya. Apa dia melihat sesuatu?
"Sudahlah, Duri. Apapun yang kau lihat, abaikan saja," ujar Halilintar sambil berjalan masuk. Duri buru-buru mengikutinya.
Halilintar lalu duduk di salah satu meja yang disediakan. Duri yang ikut duduk di sampingnya tampak tidak nyaman. Dia memerhatikan sekelilingnya dengan cemas.
Halilintar memutuskan mengabaikan sikap Duri dan mulai memesan makanan.
"Duri, kau mau makan juga?" tanya Halilintar.
"T-tidak usah kak! Aku duduk saja!" jawab Duri cepat-cepat.
Tak lama kemudian semangkuk bakso pesanan Halilintar datang ke mejanya. Dia pun menambahkan sedikit saus dan kecap di dalamnya, memotong bakso itu lalu mulai memakannya
"KAK HALI TUNGGU!"
Sebelum bakso itu masuk ke dalamnya, Duri berteriak keras sampai-sampai bakso itu jatuh kembali ke mangkuknya.
"Kenapa, Duri?!" tanya Halilintar kesal, merasa risih karena kini orang-orang melihat ke arah mereka.
"Uhm... baca doa dulu kak, sebelum makan," ucap Duri heran.
Halilintar mengerutkan kening. Tapi dia cepat-cepat mengusir pikiran aneh di kepalanya lalu mulai berdoa. Dalam hati merasa agak malu karena diingatkan untuk berdoa, rasanya seperti anak kecil.
.
.
.
Hari ini, Solar mengumpulkan mereka semua di ruang tengah. Dia memegang sebuah papan tulis kecil lengkap dengan spidolnya.
"Sejak kejadian yang menimpa Duri, aku mencoba mencari tahu tentang fenomena anak indigo dan mata batin. Aku menemukan sesuatu yang menarik, yang mungkin bisa menyembuhkan Duri," jelas Solar. "Ehem, oke. Aku akan menjelaskannya pelan-pelan..."
Solar lalu menggambar sebuah manusia lidi (stick man) di papan tulis itu. Lalu dia menempelkan bagian bawah spidolnya ke samping manusia lidi itu.
"Coba kutanya, menurut kalian manusia lidi melihat spidol ini sebagai apa?" tanyanya.
"Eh... spidol yang menjulang tinggi?" jawab Taufan.
"Salah," sangkal Solar. "Karena manusia lidi itu makhluk dua dimensi dan spidol ini tiga dimensi, maka dia hanya bisa melihat bentuk dari bagian bawah spidol, yaitu benda bulat yang aneh. Lalu saat spidol ini kuangkat, bagi manusia lidi mungkin benda bulat itu hilang entah ke mana. Tapi bagi kita, spidol ini masih ada kan?"
"Lalu apa hubungannya semua itu dengan Duri, Solar?" tanya Halilintar.
Alih-alih menjawab, Solar membuat garis panjang di atas manusia lidi, lalu menggambar manusia lidi bertanduk di atasnya. Dia pun membuat garis panjang lagi di atasnya, lalu menggambar manusia lidi bersayap.
"Jadi begini, kita bayangkan dunia ini terbagi menjadi beberapa dimensi yang tingkatannya berbeda-beda..."
"Maksudmu seperti 2 Dimensi, 3 Dimensi, dan 4 Dimensi begitu?" tanya Ice.
"Yah, anggap saja begitu," jawab Solar. "Karena tingkatannya berbeda, maka makhluk yang berdimensi rendah tidak bisa melihat makhluk yang dimensinya lebih tinggi."
Solar lalu menunjuk gambar manusia lidi di papan tulis.
"Manusia berada di dimensi paling rendah. Karena itulah, manusia hanya menganggap dunia ini hanya diisi oleh makhluk berdimensi sama seperti hewan dan tumbuhan. Nah, jin dan makhluk halus itu dimensinya lebih tinggi dari manusia, sehingga mereka bisa melihat manusia, tapi manusia tidak bisa melihat mereka. Tetapi jin tidak bisa melihat malaikat, karena dimensi malaikat lebih tinggi dari mereka."
Solar lalu menggambar anak panah vertikal di antara garis-garis pembatas itu.
"Di film fiksi ilmiah, pasti dijelaskan kalau perlu energi besar untuk melakukan perjalanan antar dimensi kan? Dimensi manusia-jin-malaikat juga sama. Malaikat sih tak masalah, karena mereka diciptakan untuk menjalankan perintah-Nya, sehingga mereka tak sulit melakukan perjalanan antar dimensi."
"Jin bisa melakukan perjalanan antar dimensi, tapi mereka memerlukan energi yang sangat besar. Sebenarnya, jin yang menampakkan diri aslinya seperti manusia yang baru keluar dari api, lemah sekali. Itulah kenapa penampakan itu mengambil bentuk menyeramkan, agar mereka bisa menyerap energi ketakutan manusia sebagai gantinya. Makanya banyak kasus di mana orang jatuh sakit setelah bertemu penampakan kan?"
Mereka hanya mengangguk kepala mendengar penjelasan Solar. Entahlah apakah mereka paham dengan penjelasan rumit tersebut.
"Lalu bagaimana dengan manusia yang bisa melihat makhluk halus seperti Duri? Sederhana sih, coba jelaskan bagaimana cara kita memanjat gedung yang tinggi?" tanya Solar.
"Hmm... dengan tali atau tangga barangkali?" tebak Halilintar.
"Tepat," kata Solar. "Untuk bisa melihat dimensi jin atas keinginan sendiri, manusia memerlukan 'tali atau tangga' yaitu penghubung antara manusia dan jin. Salah satu caranya adalah mengikat kontrak antara manusia dan jin seperti dukun yang tentunya syirik. Namun ada beberapa kasus di mana manusia sejak lahir diberi 'penghubung' sehingga bisa melihat dimensi jin. Itulah orang-orang indigo. Itu memudahkan makhluk halus untuk memperlihatkan diri karena mereka hanya perlu memfokuskan energi pada satu orang–"
"Tunggu dulu, Solar," sela Gempa. "Lalu yang dialami Duri itu sebenarnya apa?! Dia kan bisa 'melihatnya' kan tiba-tiba!"
"Oh, iya," kata Solar. "Kalau kasus Duri, ada beberapa orang yang sengaja diberi 'penghubung' secara tiba-tiba dengan tujuan mengganggunya. Lagipula Duri hebat sih, karena biasanya orang yang mengalami ini berakhir gila. Karena populasi jin itu jauh lebih banyak dari manusia, karena mereka takkan mati kecuali jin merasuki hewan lalu hewan itu dibunuh."
Taufan menepuk bahu Duri. "Tuh kan, sudah kubilang, kau hebat Duri! Kau pemberani!"
"Ngomong-ngomong, kalian tahu bagaimana cara jin memberi 'penghubung' itu?" kata Solar tiba-tiba.
Mereka menggeleng.
"Dengan bersemayam di tubuhnya," jawab Solar. "Orang indigo sejatinya 'melihat' lewat mata jin yang ada di tubuhnya. Inilah yang disebut dengan mata batin."
Keheningan meliputi ruangan tersebut. Mereka seketika melihat ke arah Duri dengan perasaan merinding. Duri sendiri, wajahnya memucat.
"Lalu... kita harus bagaimana?" tanyanya gemetar.
"Tenang, itu bisa diusir kok," kata Solar. "Dengan cara pengusiran setan–"
"Wow! Jadi seperti di film-film begitu?!" potong Blaze antusias. "Kita mengikat Duri di tengah-tengah lingkaran sihir, lalu mengelilinginya sambil membaca mantra?!"
"Blaze, yang seperti itu bukan pengusiran setan, tapi pemberian tumbal," ujar Solar geleng-geleng kepala.
"Hei, kalian ini!" tegur Tok Aba. "Kita gunakan cara kita sendiri! Jangan gunakan cara yang aneh-aneh!"
"Eh? Cara seperti apa Tok Aba?" tanya Gempa.
"Iya, cara orang islam. Yaitu Ruqyah!"
.
.
.
Ruqyah adalah metode penyembuhan dalam islam dengan membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an pada orang yang sakit akibat dari 'ain (tatapan orang yang iri hati), sengatan hewan, bisa, sihir, rasa sakit, gila, kerasukan dan gangguan jin.
Tok Kasa, teman lama Tok Aba yang memiliki kemampuan melakukan ruqyah dimintai tolong untuk mengobati Duri. Walau dia orang yang sibuk, tapi dia bersedia menyanggupi permintaan tersebut.
Karena itulah, kini Duri duduk bersimpuh di tengah ruangan dengan Tok Kasa di sampingnya. Keenam saudaranya bersama Tok Aba mengamatinya dari pinggir.
"Kalian benar mau tetap di sini?" tanya Tok Kasa kepada mereka.
"Eh? Memangnya kenapa Tok?" tanya Gempa.
"Ruqyah itu bukan tontonan. Tapi kalau kalian bersikeras, aku sarankan kalian berwudhu dan sholat dhuha terlebih dahulu," katanya.
Mereka tak bergerak. Masih tak mengerti kenapa mereka diperintah begitu.
"Kalian tidak mau jin yang ada di tubuh anak ini berpindah ke tubuh kalian kan?"
Tanpa aba-aba mereka berenam langsung berdiri dan melaksanakan perintah Tok Kasa sebaik-baiknya.
Setelah itu, kini Tok Kasa beralih ke Duri.
"Kau siap, Duri?" tanyanya.
Duri hanya mengangguk.
"Kau tak perlu takut. Insya Allah kau akan baik-baik saja..."
Tok Kasa pun memegang ubun-ubun Duri lalu mulai membaca ayat-ayat Al-Qur'an.
Pertama adalah surat Al-Fatihah, dilanjut dengan lima ayat pertama surat Al-Baqarah, Ayat Kursi, Al-Ikhlas, dan surat Al-Mu'awwidzatain yaitu Al-Falaq dan An-Nas.
Solar yang mengaktifkan ponselnya untuk merekam terkagum-kagum saat mendengar lantunan ayat suci dari mulut Tok Kasa yang sangat merdu. Dia tak menyangka, surat yang masuk kategori 'paling favorit dibaca saat sholat' punya kemampuan untuk menangkal hal-hal gaib.
Solar melirik Duri. Sejauh ini, Duri tidak bereaksi apa-apa. Tapi ekspresi wajahnya yang meringis dan keringat dingin yang mengalir di wajahnya menandakan kalau bacaan itu berefek padanya.
Tok Kasa lalu mulai membaca doa-doa ruqyah.
"Dan kami menurunkan Al-Qur'an sebagai obat bagi orang-orang muslim..."
"Dengan menyebut nama Allah aku meruqyahmu. Semoga engkau mendapat perlindungan Allah dari orang-orang dengki apabila mereka dengki..."
Duri tiba-tiba bereaksi. Dia menunduk sambil mengeluarkan suara erangan kesakitan.
Melihat Duri, Tok Kasa lalu mengulang-ulang doa itu beberapa kali. Hingga saat Tok Kasa membaca doa itu untuk ketiga kalinya...
"AAAAAAAAARRGH!"
Duri tiba-tiba meraung lalu menyerang Tok Kasa.
"Dasar manusia keparat! Berhenti atau kubunuh kau!"
Kata-kata itu keluar dari mulut Duri, tapi itu sama sekali bukan suara Duri yang mereka kenal.
Gempa refleks bangkit lalu menarik Duri menjauh dari Tok Kasa. Duri mengamuk semakin kuat. Gempa mulai kewalahan karena tak menyangka Duri bisa mengeluarkan tenaga sebanyak itu.
Taufan, Blaze, dan Ice akhirnya turut bangkit lalu membantu Gempa menahan Duri. Setelah usaha yang melelahkan, mereka berhasil menahan Duri dengan masing-masing dari mereka menahan tangan dan kakinya.
"Arrgh! Lepaskan! Lepaskan!" teriaknya.
Tok Kasa lalu mendekati Duri lalu bersuara lantang. "Wahai jin! Siapa kau?! Kenapa kau masuk ke tubuh ini hah?!"
Duri menatap Tok Kasa dengan mata melotot. "Aku King Balakung! Penguasa Pohon Beringin di sekolah anak ini! Ini hukuman karena saudaranya seenaknya bicara tentangku!"
Taufan dan Blaze yang mendengar itu langsung terbelalak.
"Hanya karena seperti kau sampai tega membuat Duri jadi begini hah?!" seru Blaze marah.
"K-kalau begitu kami minta maaf! Tolong keluar dari tubuh kami ini!" pinta Taufan.
"Hah! Kau pikir dengan itu aku akan–AARRGH!"
Kata-katanya terputus saat Tok Kasa memukul dada Duri.
"Keluarlah engkau, wahai musuh Allah!" serunya sambil kembali membaca doa-doa ruqyah.
Duri terus meronta sambil berteriak keras. Gempa dan yang lainnya kembali menahan tubuhnya. Setelah beberapa lama, tubuh Duri melemas dan dia berhenti berteriak.
"Hah... hah... apa yang terjadi?" tanyanya. Suaranya sudah kembali normal.
Gempa buru-buru memegang bahu Duri cemas. "Duri! Kau benar-benar Duri kan?!"
Duri hanya mengangguk kecil. Dia masih tampak bingung. "Apa yang terjadi? Kenapa... sepi?"
"Hah? Sepi?" ulang Ice tak paham.
"Rasanya tadi... ada banyak makhluk hitam di sekitar sini. Sekarang mereka... menghilang..." kata Duri pelan.
Mereka semua terperangah mendengar perkataan Duri. Tok Aba dengan gemetar memegang bahu Duri.
"Kau tidak melihat mereka lagi, Duri?! Sungguh?!" tanyanya.
Duri mengangguk lemah. Melihat itu Tok Aba langsung menatap Tok Kasa.
"Hang Kasa! Apa ini artinya... setan yang merasuki Duri sudah pergi?!" tanyanya.
Tok Kasa terdiam sejenak, lalu berkata, "Eh... aku tak tahu pasti. Tapi kemungkinan besar begitu. Kita harus memeriksanya–"
"ALHAMDULILLAAAHH!" teriak Tok Aba penuh syukur sambil memeluk Duri erat. Gempa dan yang lainnya pun turut memeluknya.
"HWAAAAA! UNTUNG KAU SELAMAT DURI!"
"Alhamdulillah, Duri. Alhamdulillah!"
"AKHIRNYA SETAN ITU PERGI JUGA! HWEEEE MAAFKAN AKU DURI! GARA-GARA AKU KAU JADI BEGINI!"
"Selamat, Duri..."
Solar yang sejak tadi merekam akhirnya menurunkan kameranya. Dia pun bangkit untuk turut bergabung dengan mereka.
Cpak!
Langkah Solar terhenti saat merasa kakinya menginjak genangan air. Air itu berwarna kekuningan dan berbau pesing, dan Halilintar duduk tepat di tengah genangan itu.
"K-kak Hali..." Solar membekap mulutnya, menahan tawa. "Jangan bilang... Kak Hali ngom–"
BUAK!
.
.
.
"Kak Hali tenang! Kami akan jaga rahasia kok!"
"Kami masih cukup waras untuk menutupi aib saudara sendiri!"
"Ampuni kami kak!"
Halilintar mendengkus saat mengingat kejadian super memalukan tersebut. Apa boleh buat, waktu itu dia sangat ketakutan sampai-sampai tak bisa mengontrol kandung kemihnya.
Beruntung semua saudaranya bersedia tutup mulut. Meski untuk Taufan, Solar, dan Blaze harus diberi bogem mentah terlebih dahulu.
"Hm? Duri?"
Halilintar menatap Duri yang kini sedang memandang ke arah jendela. Dia tampak sedang melamun.
Sejak kejadian ruqyah tersebut, Duri mengaku tidak melihat makhluk apapun lagi. Hanya sesekali dia melihat bayangan hitam, tapi itu tidak masalah baginya.
Tok Kasa sudah memberikannya beberapa obat herbal seperti pil jinten hitam untuk menguatkan kesehatannya (tidak gratis tapi) dan bacaan doa-doa tertentu yang harus dibaca tiap pagi dan sore untuk jaga-jaga.
Meski begitu, melihatnya melamun begitu membuat Halilintar khawatir. Bagaimana jika Duri kesambet lagi?
"Duri? Kau lihat apa di sana?" tanya Halilintar sambil menghampirinya.
"Eh? Uhm... tidak lihat apa-apa kok kak," kata Duri. "Hanya saja rasanya... sepi."
"Sepi?" ulang Halilintar tak paham.
"Iya, soalnya biasanya aku di jalan sana banyak makhluk gaib berlalu-lalang seperti orang biasa. Melihatnya sepi rasanya jadi aneh," jawab Duri.
"Duri, lupakan saja semua kejadian itu oke?" kata Halilintar. "Dunia kita dan mereka berbeda. Kau ingat penjelasan Solar kan?"
"Ingat kok, kak," kata Duri. "Hanya saja... menurutku mereka tidak semuanya jahat. Ada siluman ayam biru yang suka berkeliaran di halaman, yang ternyata adalah teman khayalan Ayah waktu kecil. Lalu ada makhluk setinggi langit-langit kamar yang selalu ikut Tok Aba sholat malam..."
"Lupakan, oke?" ulang Halilintar
Duri tersenyum ke arahnya. "Tenang saja, kak. Lagipula mereka sama seperti kita kan? Sama-sama diciptakan untuk beribadah kepada Allah..."
Halilintar terdiam, lalu tersenyum kecil. Kejadian ini ada hikmahnya rupanya. Yaitu membuat mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian di dunia ini.
"Eh... Kak Hali, aku boleh cerita? Tapi... Kak Hali jangan marah ya?" Duri tiba-tiba.
"Eh? Cerita apa?" tanya Halilintar balik.
"Eh... Kak Hali masih ingat saat kita makan di warung bakso?" ujar Duri. Sebenarnya... waktu itu aku melihat ada pocong berdiri di samping Kali Hali lalu meludah ke mangkuk Kak Hali. Bakso Kak Hali langsung terlihat busuk dan penuh belatung..."
Perut Halilintar seketika terasa terbalik saat mendengarnya. Dia langsung membekap mulutnya, menahan rasa jijik dan mual.
"KENAPA WAKTU ITU KAU TIDAK BILANG, DURI?!" teriak Halilintar.
"Kak Hali waktu itu bikang apapun yang kulihat, jangan diberitahu Kak Hali," jawab Duri polos. "Kak Hali tenang saja. Setelah Kak Hali baca doa, makanan Kak Hali langsung kembali seperti semula–"
Sayangnya Halilintar tidak mendengar hal itu. Dia sudah terlanjur lari ke toilet dan memuntahkan seluruh isi perutnya.
.
.
.
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (Q.S Adz Dzariyat: 56)
.
.
.
TAMAT
A/N: YAHOOO AKHIRNYA KESAMPAIAN JUGA NULIS FIC SUPRANATURAL KAYAK GINI! XD
Oke, saya tahu riset saya gak maksimal karena cuma modal tanya temen sama baca-baca di buku dan internet. Kakak sempet nyaranin buat gabung ke komunitas ruqyah biar tahu banyak. Sayangnya gak sempet jadilah riset seadanya. Klo ada yang salah silakan mengoreksi.
Btw pengalamannya Duri saya ambil dari cerita-cerita keluarga sama temen. Terutama Ibu yang dulunya punya kemampuan 'melihat' makhluk tak kasat mata OwO
Oke, sekian. Terima kasih sudah membaca fic ini and the last...
REVIEW! REVIEW! REVIEW!
