Naruto (c) Masashi Kishimoto
.
o0o0o0o0o
.
(Seorang pria memesan pendamping hamil untuk datang ke rumahnya dan mengadakan pertunjukan melahirkan pribadi)
.
o0o0o0o0o
.
Aku tidak bisa mempercayai mataku saat dia muncul di rumahku, jas hujannya dikancingkan dan rambut merah panjangnya basah karena hujan. Dia ada di sini, apa yang selalu aku impikan. Pertunjukan melahirkan pertamaku!
"Hai," katanya dengan manis, wajah cantiknya tersenyum padaku. "Benar kamu Naruto?
"Ya benar," aku menelan ludah, tapi balas tersenyum. "Masuklah."
Segera setelah aku menutup pintu rumahku, dia membuka kancing mantelnya. Dia berbalik tepat saat perut besarnya menyembul melalui kancingnya.
"Biarkan aku mengambilnya untukmu." Aku membantunya melepaskan mantel, dan detak jantungku melonjak ketika aku melihat dia datang berpakaian sesuai dengan permintaanku, sepasang lingerie serasi berwarna putih dengan gaun tidur sutra yang transparan di bagian depannya. Langsung dari katalog Victoria yang aku kirimkan.
"Kamu sangat baik," katanya sambil mengelus rambutnya. "Aku Kushina. Apakah aku sesuai dengan keinginanmu?" Dia mengibaskan rambutnya, berpose dengan tangan memegangi perutnya.
Aku merasa wajahku merona. "Iya. Mungkin malah lebih. Ini." Aku mengulurkan tas belanjaan yang ku isi dengan pembayaranku. Aku membayar di muka dengan tarif tetap: 4.500 dollar untuk seberapa lamapun proses melahirkannya.
Kushina mengambil tas itu dan membolak-balik ikatan uang di dalamnya. Merasa puas, dia tersenyum manis dan meletakkan tasnya di dekat pintu depan.
"Oke, Naruto," katanya. "Seperti yang kamu minta, ketubanku belum pecah. kontraksi menjadi teratur sekitar satu jam yang lalu, tapi hanya berjarak lima belas menit."
"Sempurna!" Aku sudah bisa merasakan penisku menegang di celanaku sebagai antisipasi. "Apakah... kamu keberatan jika kita langsung masuk ke... bisnis? Kamu membaca permintaanku tentang apa yang ingin aku lakukan pertama, kan?"
Kushina menyeringai, sikap imutnya sedikit menghilang. "Aku sudah melakukannya. Kamu pilih lokasinya."
Permintaan pertamaku: berhubungan seks dengannya sampai aku memecahkan air ketubannya.
Beberapa menit kemudian, di bak mandi jacuzziku yang kosong, aku berhubungan dengannya dengan gaya doggy-style. Tanganku dengan bersemangat mengelus dan menjelajahi perutnya, dan aku merasakan kontraksi menekan otot-ototnya di sekitar penisku. Kushina hanya diam, wajahnya membelakangiku, tapi aku bisa melihat tangannya memegang erat pinggir bak, seperti menyalurkan rasa sakitnya, tapi dia membiarkanku menyelesaikannya. Satu-satunya suara yang dia buat adalah suara "ah" kecil saat cairan mulai mengalir keluar di sekitar penisku, melumasiku sehingga aku bisa bergerak lebih cepat.
Karena kontrak kami menyatakan bahwa aku tidak akan akan melukai dia atau bayinya, aku menarik diri dan mengeluarkan pelepasanku di punggung bawahnya. Aku bersandar pada tumitku dan melihat lebih banyak cairan keluar darinya.
Setelah itu, Kushina mencoba bersantai denganku di sekitar rumah. Aku menari berdampingan dengannya saat kontraksinya datang dan pergi. Dia berpose dengan kaki terbuka untuk ku sehingga aku bisa mengambil beberapa foto. Sesekali dia akan memberiku handjob tetapi tidak pernah membiarkan aku klimaks. Kami menghemat energi untuk acara utama.
Setelah lima jam, Kushina mulai gelisah, tidak ingin diam maupun banyak bicara. Yang dia lakukan hanyalah berjalan-jalan di ruang tamuku, di mana aku sudah menyiapkan kasur angin dan semua perlengkapan yang kami perlukan. Aku akan menyiapkan kamera perekam, tetapi itu tidak diizinkan.
"Kurasa aku sedang dalam transisi," Kushina menghela nafas, berhenti untuk menggosok punggung bawah dan menggoyangkan pinggulnya. "Ohh... oww, bayinya terasa semakin rendah."
Dari percakapan kami sebelumnya, ini adalah bayi keduanya. Dia sudah melakukan pertunjukan melahirkan untuk gubernur Sunagakure tiga tahun lalu. Kushina tahu apa yang harus dilakukan, dan dia tetap tenang tentang itu.
Aku duduk di sofa di sampingnya, telanjang bulat dan dengan santai menyentuh diriku dengan desahan rendahnya. Kushina duduk di sampingku, dan naik ke pangkuanku tanpa sepatah kata pun. Dia menaiki penisku selama beberapa menit, menunggangiku saat dia mengerang dan berkontraksi. Tangannya meremas pundakku. Jika aku menutup mata dan rileks, aku seperti bisa merasakan kepala bayi menekan leher rahimnya.
Tiba-tiba, dia berhenti. Pinggulnya bergoyang dengan cepat dan dia mulai bernafas seperti di cerita: "Hee-hee, hoo. Hee-hee, hoo."
Aku mengerang saat merasakan ujung penisku ditabrak sesuatu di dalam dirinya.
"Ngghh... aku... aku sudah mulai mengejan," kata Kushina, suaranya tegang.
Dia tidak bangun dari ku, sebaliknya aku mendengar dia mengambil napas pendek lagi dan mendesah. Kepala bayinya semakin menekan ujung penisku. Aku dengan lembut memegang pinggul lebar Kushina dan mengangkatnya, tidak ingin ada yang terluka.
Kushina tetap berlutut di atasku, sesekali mencium bibirku saat dia beristirahat. Ketika dia perlu mengejan, dia akan menggerutu sepanjang kontraksi, mengejan tanpa berhenti sama sekali.
"Ohhh ... Naruto ..." dia menyebut namaku, wajahnya memerah. Dia menatap mataku, menorehkan senyumah lemah di bibir merah mudanya. "Bayinya akan lahir."
Akhirnya, kita sampai pada saat yang aku tunggu-tunggu seumur hidupku!
Kami pindah ke kasur udara, aku telentang dan dia berlutut di atasku lagi. Aku dapat melihat seluruh daerah intimnya yang mulus tanpa rambut. Vaginanya sudah menyembul karena tekanan bayi di dalamnya, tetapi belum ada yang terlihat.
Kushina menguatkan dirinya di atas kakiku dan mengeluarkan suara rendah "Nggghhh...!" Sepotong kecil rambut basah mengintip dari celahnya, tapi menghilang saat dia berhenti mengejan.
"Aku melihatnya!" Aku berseru. "Gadis baik, Kushina! Aku bisa melihat bayimu! "
Kushina menyeringai padaku dengan manis. Dia mengejan lagi, meraih tanganku dan meletakkannya di vaginanya. "Rangsang aku .." erangnya.
Aku menggosok pada klitorisnya, dan aku merasakan kepala menekan jari-jariku. "Tahan di sana, Kushina! Ayo, mengejan sampai dia memahkotai." Aku membelai rambut basah dengan ujung jari aku.
Kushina menggeram, istirahat sejenak untuk terengah-engah, dan menarik napas lagi. "Ahhnggggghh ..!" Kepalanya mengintip keluar darinya dan ke tanganku lagi. Aku menangkupkan tanganku ke mahkotanya, tidak membiarkannya keluar dengan cepat.
"Sakit! Rasanya terbakar!" Kushina tiba-tiba berteriak. "Seberapa jauh ?!"
"Rasanya terbakar, itu artinya bayinya akan keluar," kataku, dengan terus memainkan klitorisnya dengan lembut. "Tampak luar biasa di bawah sini. Terbuka begitu lebar ..."
Kushina mengulurkan tangan dan merasakan kepala bayinya muncul, senyuman lemah terbentuk di wajahnya. Kemudian, dia menatapku dengan senyuman yang berbeda. Pada kontraksi berikutnya, dia berjongkok dalam-dalam di atas selangkanganku.
"Ahh, kontraksinya datang!" dia mendengus, menahan napas untuk mengejan. Kepala itu sedikit lebih menonjol, menarik kulit merah dari vagina. Dia menurunkan mahkota menonjol itu ke penisku dan mulai menggoyangkan pinggulnya saat dia mendorong kepala bayinya keluar lebih jauh.
"Kepalanya sangat besar, Na-Naruto," dia merengek, menggosok vaginanya yang sekarang terbuka lebar oleh kepala bayinya ke atas bawah batangku. "Oh! Apakah kamu bisa merasakan bayinya?"
"Ahh, ya!" Aku mendesah, mencengkeram sisi kasur. Ini terasa licin dan panas, dan ereksiku menjadi hidup. Aku merasa lebih banyak kepala menekanku sementara Kushina diam dengan ejanannya.
Kushina berhenti menggosok, tapi menutupi ereksiku. "Oh ... oh ... ow ow ..." Aku melihat tubuhnya menegang sedikit demi sedikit saat dia membuat suara-suara kecil itu. "Pelan-pelan," dia terengah-engah. "Harus memberikan ejanan kecil untuk melonggarkan kepala."
Vaginanya terbuka di sekitar kepala saat dia memberi ejanan demi ejanan kecil, kemudian kepala itu memahkotai penuh vaginanya. Setelahnya, Kushina mencoba untuk menahannya di sana, sedikit menutup kakinya saat desahan tajam keluar dari rahangnya yang rapat. Apakah dia sedang ... orgasme?
"Ahh... sakiiit!" Matanya terbuka dan tubuhnya meliuk.
Tiba-tiba semburan air keluar dari tubuhnya dan kepalanya menggantung di antara kedua kakinya. Membasahi pinggulku dan kasur udara di bawah kami. Aku dengan cepat mengulurkan tangan dan memegang kepala itu di tanganku.
"Luar biasa!" Aku berteriak. "Beberapa ejanan lagi, mama, dan bayimu akan lahir!"
Kushina mencondongkan tubuhnya ke atasku, perutnya menyentuh perut bagian atasku dan tangannya memegang erat pundakku. "Bersiaplah, Naruto ..." dia terengah-engah. "Ini ... ahhh" dia mendengus dan aku merasakan perutnya menegang. "Ya Tuhan, ini dia! NNGGGGHHHHH!"
Dia menggerakkan pinggulnya ke depan, dan aku merasakan bayinya tergelincir ... dan jatuh ke tanganku dan ke perutku dalam semburan air lagi.
Kushina mengangkat pantatnya untuk melihat di antara kami, dan aku menyerahkan bayinya melalui kakinya. Itu perempuan, dan dia mulai menangis begitu ibunya mengangkatnya dan memeluknya di dadanya.
Kushina berguling dariku, mengangkat putrinya ke dadanya. Aku menyelimutinya. Aku masih ereksi, aku tidak bisa mengeluarkan pelepasanku sebelum Kushina melahirkan bayinya, dan aku berguling dan diam-diam mengeluarkannya ke handuk yang tidak akan kami gunakan.
"Kamu luar biasa," ucapku, berbaring di sampingnya sementara dia mencoba untuk membuat bayinya menempel ke payudaranya.
"Apakah sudah semua yang kamu bayar?" dia bertanya.
"Belum," kataku. "Aku juga memesanmu untuk pertunjukan melahirkan berikutnya ...kali ini, dengan bayiku."
.
o0o0o0o0o
.
