"Apa kau sudah mendengar kabarnya?", gadis dengan rambut merah berjalan dengan gusar disepanjang lorong, sambuk menatap perempuan disebelahnya yang masih sibuk membaca sambil berjalan, sesekali menatap depan hanya untuk melihat apakah ada halangan didepan langkah nya.
"Kabar apa?", gadis dengan kuncir kepang bersurai kecoklatan itu tak meninggalkan tatapan pada buku tebalnya.
Suara erangan terdengar, "Oh Hermione, bisakah kau tidak membaca sambil berjalan, itu berbahaya, kau bisa terjatuh. Sekarang dengarkan aku-", Ginny Weasley menarik paksa buku Hermione hingga perempuan cantik itu hanya mendengus saja sebagai tanggapan.
"Ada apa? kabar apa yang ingin kau katakan padaku?", kali ini Hermione menatap wajahnya.
"Ikatan, kementerian membuat undang undang pernikahan baru untuk semua perempuan yang belum menikah, dan kita, tahun ke enam dan ketujuh harus mengikuti itu, besok malam di aula besar, aku tak yakin kenapa Professor Minerva menyetujui itu, kita bahkan belum menyelesaikan Hogwarts", Ginny menggerang lagi dengan frustasi.
Hermione mengernyit, "Undang undang pernikahan? kita? menikah? yang benar saja. Holy crap", ia mengumpat.
"Semua ini karena populasi kaum penyihir semakin menipis setelah perang. Kementerian bertindak tergesa-gesa dan membuat kita juga harus melakukan ini semua. Para murid Hogwarts tidak harus datang ke kementerian untuk melakukan ikatan, besok malam di aula besar acara nya di mulai. Aku berharap pasangan ku adalah Harry", diakhir kalimat Ginny berbisik dengan khawatir.
Hermione terdiam, ia tak tau akan ikatan apa yang dilakukan besok malam. Kementerian tentu saja bertindak dengan cepat setelah semua penyihir hanya tersisa seperempat dari populasi seharusnya.
Gadis itu tak mendengarkan kelanjutan yang dikatakan oleh Ginny. Ia hanya sibuk berpikir tentang siapa yang akan menjadi pasangan nya nanti.
.
Esok hari nya.
Hermione duduk tak nyaman sambil menatap sekeliling nya. Aula besar tampak lenggang. Disulap seperti saat Triwizard Tournament dulu.
Bangku bangku mengelilingi sebuah kabut asap yang sangat tebal yang diluarnya terdapat sebuah api kebiruan yang tampak seperti lapisan penjaga.
Ia meremas tangan Harry dan Ron lebih kencang sehingga membuat kedua pemuda itu meringis pelan. Hermione tersadar dan buru-buru meminta maaf, "Ahh, maafkan aku teman teman. Aku hanya-.. sedikit gugup", ujarnya mencicit.
Harry menghela nafas, "It's okay Mione. Kami juga sama gugup nya dengan mu. Aku harap Ginny mendapatkan ku untuk ini".
Suara dentingan gelas kaca berbunyi dengan adanya suara keras milik Professor McGonagall.
"Seperti yang aku jelaskan dua hari lalu. Saat ini adalah titik terendah bagi kita, kaum penyihir selama beribu-ribu tahun karena adanya perang besar. Kementerian dengan sepakat membuat undang undang baru untuk kita semua, seseorang perempuan yang belum menikah akan kupanggil satu persatu untuk memasuki lingkaran api ini dan kalian bisa melepaskan separuh sihir milik kalian agar bisa mencocokkan dengan pasangan sejati kalian nanti. Aku tau ini sangat sulit untuk kita semua, tapi wizarding world membutuhkan kita, perempuan perempuan kuat", Minerva berucap dua kali lebih panjang dari biasanya.
Acara dimulai, Hermione semakin gugup tak terkendali. Ia melirik sekitarnya, melihat Ginny memegang lengan Luna dengan erat.
Ia mendesah merasa takut. Baru kali ini dalam hidupnya rasa takut yang tak terkontrol hinggap dihati nya, dan ini hanya karena memikirkan siapa yang akan menjadi suaminya nanti.
Semua orang berbisik setelah Pansy Parkinson berteriak terkejut karena pasangannya adalah Ernie Macmillan.
Wow, Hermione merasa jantungnya turun ke perutnya. Mereka adalah pasangan yang tak terduga.
Lalu tak lama Luna dipanggil, Hermione menundukkan wajahnya karena merasa takut siapa yang akan menjadi pasangan temannya itu.
Jantung nya berhenti saat mendengar bisik bisik semakin keras dan ia mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang menjadi pasangan Luna. Ia terkejut, cukup terkejut.
Karena yang sekarang berdiri didepan Luna adalah seorang Draco Malfoy.
Hermione menghembuskan nafas semakin tak nyaman, ia merasa semakin takut mendapatkan pasangan yang tak sesuai seperti apa yang diinginkan nya.
"Hermione Granger", teriakan Professor McGonagall terdengar.
Hermione berdiri dari duduknya yang melangkah mendekati kabut, ia mengigit bibir bawahnya dengan gugup, melirik pada Harry dan Ron yang mengangguk menyemangati.
Ia menghembuskan nafas lebih keras lagi saat memasuki lingkaran api.
Dipejamkan matanya sebentar sambil berbisik untuk mengeluarkan separuh sihirnya.
"Jangan Slytherin, please",
Ia masih memejamkan mata nya, angin berhembus kencang membuat rambut nya berayun kesana kemari.
Sebuah elusan pada punggung tangannya yang mengepal ia rasakan. Hermione menegang, membuka matanya dengan refleks karena ia bisa mendengar semua orang memekik tak percaya disekeliling nya.
Seorang pemuda dengan jubah hitam mahal terlihat. Usianya mungkin tak lebih dari dua puluh tahun. Wajahnya tampan dengan rahang tegas, rambutnya hitam legam dan maniknya segelap langit malam. Rambutnya tak sepanjang milik Ron sekarang, tapi agak pendek dari itu. Tapi bukan itu yang Hermione pikirkan.
Siapa orang ini? dia begitu tampan.
Hermione tak pernah melihat orang ini.
Dia tampak asing.
"Siapa dia?"
"Apa kau pernah melihat nya? aku tak pernah melihatnya"
"Apa dia seorang muggle? tapi dia memakai pakaian mahal"
"Muggle tidak bisa melihat Hogwarts!"
"Kau pikir muggle kumpulan orang orang miskin atau apa?"
"Diam kau Hufflepuff bodoh!"
"Siapa dia? dia tampan sekali"
Semua orang berbisik bisik melihat ketampanan dari wizard didepannya.
Hermione menegang saat merasakan tangan pemuda itu menyentuh lengannya. Sentuhan itu begitu lembut hingga Hermione tanpa sadar menggigit bibir bawah nya menahan erangan.
"Hallo",
Tungkai kakinya terasa lemas seketika setelah mendengar suara nya yang begitu halus.
"REGULUS BLACK", terdengar teriakan tercekat dari Professor McGonagall.
Hermione membelalak, menatap manik gelap pemuda yang menjadi pasangannya itu.
Regulus Black? apa benar pemuda didepan nya adalah Regulus Black?
Dia sudah mati. Dia hidup jauh ditahun sebelum dia lahir. Mana mungkin.
Merlin.
Lalu Hermione melirik lengan kirinya yang tersingkap, menampilkan sebuah dark mark yang terlihat jelas dikulit lengannya.
Hell, ini benar-benar Regulus Black.
Hermione menoleh saat Professor McGonagall berjalan cepat menuju arah keduanya, tetap berdiri agak jauh dari lingkaran api, menatap pemuda yang dulu menjadi muridnya itu dengan tatapan tak percaya. Apalagi dia sudah lama mati. Bagaimana ini bisa terjadi?
"Regulus Arcturus Black. Bagaimana mungkin- bagaimana kau- oh Godric",
"Professor McGonagall?", ia tercekat juga.
Bisik bisik bertambah keras. Semua orang terkejut dengan kedatangan Regulus. Semua orang terdiam karena melihat makhluk yang seharusnya sudah mati kini berdiri dalam keadaan gagah dan sehat didepan sana.
Apalagi ini karena dia adalah pasangan Hermione Granger.
Hermione berbisik penuh keterkejutan, "Professor-", dia tak bisa berkata kata lagi.
.
"Ini kasus yang sangat langka. Maksudku, ini tak pernah terjadi sebelum nya. Kabut itu hanya membawa seseorang yang benar-benar pantas untuk mu, yang akan setara dengan pikiran, sihir dan hasratmu. Ini semua nyata. Sungguh nyata, dan ini bukan tindakan illegal. Regulus Black telah hidup kembali", Kingsley berujar penuh semangat di kantor Professor McGonagall setelah penyihir tua yang menjadi kepala sekolah itu memanggilnya dengan cepat setelah kedatangan Regulus beberapa menit lalu.
Hermione masih duduk di sofa ditengah-tengah ruangan, dengan Regulus yang juga duduk disebelah nya, menggenggam tangannya lembut.
Apa ini semua efek ikatan yang mereka miliki? Hermione merasa hawa semakin panas saat Regulus terus menyentuh nya walau hanya dengan memegang lengan atau tangannya saja. Dan perasaan Hermione semakin tak karuan. Ia seakan telah mencintai pemuda ini dalam waktu yang lama.
Well, sebenarnya Regulus Black adalah salah satu Black favorit nya. Slytherin, Death Eater, tapi baik hati dan Hermione tak bisa menjelaskan semua nya, Hermione menyukai Regulus setelah tau apa penyebab dia mati.
"Jadi Hermione, bagaimana jika kita nanti pulang ke rumah?", Regulus tak menghiraukan kesemangatan yang ditunjukkan Kingsley. Pemuda itu meremas lembut jari jemari Hermione dan tersenyum.
"Aku masih sekolah, Mr Black".
"Oh, aku juga masih sekolah Hermione. Kita sama, tapi aku Slytherin dan kau Gryffindor".
Hermione meringis pelan, menatap wajah tampan didepannya dengan tak bosan bosan nya.
"Tapi Grimmauld Place sudah dimiliki Harry", katanya memberi tahu.
Regulus tampak berpikir, "Harry?".
"Harry Potter, Sirius memberi semua kekayaannya pada Harry termasuk rumah itu".
Regulus mengangguk paham. Hermione meliriknya, Regulus telah mengetahui kematian Sirius beberapa menit lalu setelah Professor McGonagall memberitahunya. Terdengar sakit memang, Regulus hanya terdiam di tempatnya sambil menunduk.
"Tidak semuanya. Sirius mungkin memberi kekayaannya pada Potter. Tapi aku masih memiliki kekayaan dari kakekku dan beberapa dari paman Cygnus yang tidak pernah tersentuh oleh Sirius sekalipun. Kita bisa membeli rumah baru dengan itu", ujarnya enteng.
Hermione mengangguk saja.
.
Satu minggu kemudian.
Regulus dengan jubah Slytherin tengah berdiri sambil menyandarkan tubuhnya disebelah pintu kelas. Ia sedang menunggu istrinya untuk datang ke aula besar bersama.
Seminggu ini semuanya berubah. Dia menjadi murid Hogwarts lagi, dan berada di Slytherin lagi.
Semua orang tentu menyambut nya dengan suka cita, walau ada beberapa yang masih takut dan gugup jika berdekatan dengannya. Semua tau bahwa Regulus Black adalah pemuda tampan, pureblood dan tentu nya kaya raya.
Dan dalam sekejap, Regulus telah mengambil alih gelar Pangeran Slytherin dari Draco Malfoy, anak dari sepupu tersayang nya Narcissa Black, ah sekarang telah menjadi Malfoy. Regulus tak ambil pusing, dia tak terlalu peduli dengan gelar omong kosong seperti itu.
Semua orang mengakui ketampanan nya, apalagi berbeda dari Slytherin pada umumnya yang selalu sinis, Regulus adalah tipe orang yang ramah pada semua orang termasuk pada mereka yang memiliki darah muggleborn.
Pintu kelas terbuka dan semua murid keluar satu persatu.
Lagi lagi, para murid perempuan memekik senang karena ada Regulus.
Mereka kompak menyapa pemuda tampan itu dengan senyuman paling manisnya, yang tentu saja tak semanis senyuman istrinya.
"Ekhem",
Regulus menoleh, menatap Hermione yang berdiri disebalah nya dengan kedua tangan terlipat didepan dada. Menatap Regulus dengan kerutan yang menunjukkan bahwa dia cemburu.
Hubungan keduanya cukup lancar, tanpa hambatan. Regulus selalu menyukai apa yang dilakukan istrinya, begitu juga Hermione yang selalu mendukung apapun yang dilakukan suaminya. Tentu jika itu ada persetujuan darinya.
Kisah asmara mereka adalah yang termanis di Hogwarts sejauh ini. Semua murid selalu iri melihat kedekatan keduanya. Regulus selalu menemani kemanapun Hermione pergi, mengantarkan nya ke asrama setelah makan malam berakhir dan selalu menjemputnya sebelum kelas dimulai.
Regulus juga tipe orang yang manis, romantis dan pengertian. Ia selalu sabar jika Hermione sudah dalam mode singa nya-saat dia cemburu-, apalagi jika di masa-masa pms nya. Regulus cukup mengetahui itu.
"Apa kau menunggu lama, Reggie?", tanya Hermione.
Regulus tersenyum, mengambil alih tas Hermione yang terasa berat seperti biasanya. Pemuda itu mengecup sekilas bibir ranum istrinya sebelum meraihnya dalam pelukan yang lembut.
"Kau tau, ini hanya beberapa jam terakhir kita bertemu dan aku sudah sangat merindukanmu", ia berbisik lembut sambil mengecup pipi Hermione, yang seperti biasanya, selalu membuat perempuan itu memerah karena malu dan senang.
Hermione memukul pelan bahu Regulus dan tertawa. Mereka kini berjalan disepanjang lorong untuk menuju aula besar, sekedar untuk bersantai sambil minum teh mungkin.
Beberapa orang yang lewat menyapa Regulus yang dibalas dengan ramah olehnya. Hermione menatap wajah tampan suaminya dengan senyum bangga karena bisa mendapatkan seseorang seperti Regulus yang baik hati. Hermione merasa mendapatkan jackpot besar karenanya.
Memasuki aula besar yang tak begitu ramai, keduanya disuguhi pertengkaran kecil antara Ernie dan Pansy yang seperti biasa, bertengkar karena hal hal kecil yang menurutnya tak berguna.
"Harry, kenapa kau tak menunggu ku tadi?", Hermione langsung duduk disebelah Ron yang tengah memakan camilan nya.
Regulus juga duduk tepat di samping Hermione, "Hallo, Potter", sapanya ramah.
Harry menatap Regulus dan meringis canggung, "H-hai juga, ehm.. paman, eh..ehm maksudku Black".
Mereka sama sama tak memanggil nama depan walau sudah dekat seperti ini.
Selama seminggu ini juga Harry selalu canggung jika berdekatan dengan Regulus karena itu akan mengingatkan nya pada Sirius. Apalagi sifat Regulus yang ramah selalu membuat nya merasa tak nyaman. Bukan karena curiga atau apa, Harry merasa Regulus terlalu baik.
Dan setelah dunia sihir tau kebangkitan Regulus Black, Kreacher yang saat itu juga mendengar nya karena ikut bekerja di dapur Hogwarts langsung mendatangi dan memeluk Regulus sambil menangis dengan deras. Merindukan tuan nya yang telah baik hati mengorbankan nyawanya untuk house elf rendahan seperti dirinya. Regulus adalah tuan yang sempurna bagi Kreacher, tak ada yang sempurna seperti Regulus bagi nya termasuk Harry yang selama ini menjadi tuan nya yang baru.
Semua Slytherin saat melihat Kreacher yang begitu lancang memeluk Regulus yang notabene nya adalah tuannya lantas mengernyit jijik seakan ingin membunuhnya saat itu juga, tapi setelah mereka melihat Regulus memeluk nya kembali dan menahan tangisannya, mereka tau, bahwa Regulus lebih baik dari mereka semua. Pureblood baik hati yang sangat langka ditemukan, yang dengan mau nya dipeluk makhluk rendahan seperti Kreacher.
Harry tau bahwa Kreacher sangat menyayangi Regulus, dan dengan itu mengumumkan bahwa ia bisa kembali pada tuannya yang sebenarnya. Kembali pada tanggung jawab Regulus. Apalagi saat ia juga melihat bahwa Regulus menyanyangi nya juga.
Hermione lain dari yang lain. Ia bangga, senang dan benar-benar tak dapat mendeskripsikan semuanya. Regulus adalah seseorang yang ia cari selama ini. Sejalan dengan pikirannya, begitu menganggap house elf juga makhluk berharga seperti nya.
"Kreacher"
House elf itu langsung datang dengan semangat, membuat Regulus tersenyum semakin lebar, "Tolong buatkan teh dan beberapa kukis untukku dan istri ku", perintahnya.
Kreacher tau bahwa Hermione lah yang membangkitkan Regulus, dan dengan itu membuatnya semakin menyayangi Hermione sama seperti dia menyayangi Regulus. Tak peduli bahwa dia adalah muggleborn yang selalu dibencinya, Kreacher hanya senang dan merasa berterima kasih dengan itu.
"Tentu Master Reggie", ujarnya dengan semangat lagi dan menghilang dengan secepat kilat.
"Luna, itu kalung yang bagus", kata Ginny saat Luna baru mendudukan dirinya disebelah nya.
Luna tersenyum, menyentuh kalung indah itu dengan lembut.
"Draco memberinya padaku tadi", ujar nya semakin tersenyum.
Hermione mengangguk, "Aku baru tau Malfoy memiliki sisi seperti itu", ujarnya yang diangguki oleh semua orang.
"Dia baik, dia sudah berubah, dia juga manis saat cemburu, dan dia sangat suka mencium", Luna berujar dengan nada santai seperti biasa.
Ginny tertawa mendengar kalimat terakhir Luna, "Tentu saja, dia Slytherin sex god".
Regulus menggeleng mendengar pembicaraan kedua gadis itu. Ia menatap Hermione yang kembali membaca, tanpa kata mengelus surai bergelombang nya dengan lembut dan mendekatkan wajahnya untuk sekedar mengecup puncak kepala nya.
Hermione menoleh, lalu tersenyum melihat itu dan mengecup pipi Regulus.
"Ewh", Ron mengernyit.
Hermione mendengus, "Apa?", tanya nya dengan galak sehingga Ron hanya menggeleng saja.
Regulus tertawa dibuatnya. Ia menggenggam jari jemari Hermione lembut sambil mengelus nya.
.
Regulus dan Hermione duduk di padang rumput dekat danau hitam. Mengubah sebuah kertas menjadi karpet untuk keduanya duduk.
Saat ini mereka tengah menikmati waktu luang sebelum makan malam di mulai. Keduanya hanya duduk diam sambil menatap hamparan danau hitam yang luas.
Regulus menidurkan kepalanya di paha Hermione, menatap awan keemasan yang cukup gelap karena hari akan petang.
Lalu pandangan nya tertuju pada wajah cantik Hermione, ia tersenyum.
"Kau sangat cantik, love", Regulus mengelus pipi Hermione begitu lembut, sehingga perempuan itu balas tersenyum dan memegang telapak tangan besarnya.
Hermione mengeluskan pipinya pada tangan Regulus.
"Aku sangat bersyukur karena mendapatkan mu sebagai istriku", ujarnya sekali lagi.
Hermione mengangguk, memeluk Regulus saat pemuda itu mendudukan dirinya kembali, "Aku juga beruntung sekali karena mendapatkan mu. Aku takut saat akan mendapatkan wizard pureblood yang malah membenciku karena status darahku", cicitnya disela-sela pelukan. Lengannya semakin memeluk erat leher Regulus dan pemuda itu semakin mengencangkan remasan pada pinggangnya.
Regulus merengkuh erat tubuh Hermione.
"Kau istimewa Hermione. Tak peduli apa status darahmu, semua itu hanya omong kosong. Status darah hanyalah status darah. Kau adalah kau. Hermione hanyalah Hermione. Dan kau hanyalah milikku", Regulus melepas rengkuhannya untuk sekedar menatap wajah memerah Hermione yang begitu menggoda dimatanya.
Nafas mereka kini sama sama menderu tanpa diminta. Secara refleks Regulus mengikis jarak diantara keduanya, menghembuskan nafas beratnya sambil mengerang karena menghirup aroma tubuh Hermione yang menguar diudara sore itu. Vanilla dan berry bercampur menjadi satu, Regulus begitu menyukainya.
Ia mengecup hidung Hermione sekilas sebelum melumat habis bibir ranum semanis cherry itu. Hermione mengerang penuh kesenangan karenanya. Ia meremas surai gelap Regulus setelah pemuda itu mengangkatnya untuk duduk di pangkuan nya.
Lumayan demi lumatan mereka lakukan. Hermione membuka mulutnya sekali lagi hingga Regulus seakan tak bisa menahan hasrat kuatnya. Lidah mereka saling membelit dengan pertukaran saliva yang begitu manis.
Tangan besar Regulus meremas pantat Hermione keras sambil menekan kuat tubuh mereka dengan hasrat.
Pinggul Hermione bergoyang dengan girang karena Regulus sesekali mengangkat tubuhnya hanya untuk semakin mendekatkan tubuh mereka. Bahkan ia juga sesekali menampar bongkahan pantat sintal istrinya dibalik rok pendek yang dikenakannya.
Regulus menyesap keras bibir bawah Hermione, mengelus perut dan punggungnya sesekali.
Ciuman itu terhenti beberapa detik, lalu Regulus kembali melahapnya sebentar sebelum beralih untuk mencumbu leher jenjang Hermione.
Perempuan itu tak mengerti. Setelah ikatan mereka terjalin, hasratnya tak bisa dianggap main main. Semua itu karena Regulus begitu lihai dan pintar dengan segala hal, termasuk dalam hal mencumbu seperti ini.
Mereka belum melakukan sex selama seminggu ini karena Hermione belum siap. Pengalaman pertama nya tentu harus yang terbaik, dan Regulus juga tau jika istrinya itu masih sedikit takut.
Ia memahami nya.
Hermione mendesah keras, meremas surai hitam Regulus dan beralih meremas bahu lebarnya untuk menyalurkan kenikmatan akan cumbuannya.
Pemuda itu mengecup, menyesap, menggigit dan menjilat leher Hermione yang bersih dan wangi. Regulus juga mengerang karena kulit Hermione begitu terasa sejuk menenangkan.
Sebuah hickey tercipta setelah Regulus menyesap kulit lehernya keras dan Hermione semakin mengerang tak karuan.
Ia menjauhkan wajahnya pada leher istrinya untuk sekedar menatap bagaimana penampilan Hermione setelah Regulus menyerang nya dalam sebuah cumbuan panas.
Hermione terengah-engah, wajah nya memanas dan bibirnya bengkak, lehernya juga terdapat dua hickey lembut yang kentara jelas dilehernya.
Regulus terkekeh melihat Hermione yang sedikit kesusahan bernafas karena ciuman mereka yang panas tadi.
Hermione menggerang, memukul bahu Regulus pelan sebelum ikut tertawa bersamanya.
Dia tanpa sadar melihat jam tangannya, membelalak karena makan malam akan dimulai sepuluh menit lagi.
"Kita harus segera kembali. Makan malam akan dimulai", ujar Hermione sambil berdiri dari duduk nya. Ia menepuk pantat nya pelan untuk membersihkan debu yang menempel.
Regulus mengubah kembali karpetnya menjadi kertas dan membakarnya setelah itu.
Pemuda itu tiba-tiba berjongkok dihadapan Hermione sambil menepuk punggung nya sendiri.
"Ayo, naiklah, aku akan membawamu kembali dengan cepat", ujar Regulus.
Hermione terkekeh tak yakin tapi setelah itu ia naik keatas punggung Regulus sambil memeluk lehernya.
"Oke, baiklah, pegangan erat erat, love, aku akan membawamu berlari secepat kilat", dan dia berlari dengan kencang hingga membuat Hermione tertawa keras sambil melambaikan tangannya diudara menikmati angin yang menubruk wajah dan tangannya. Regulus menoleh sesekali dan ikut tertawa melihat Hermione mengeluarkan suara suara lucu seakan ia sedang menaiki roket atau pesawat, Regulus tak tau apa itu.
Kisah mereka memang seperti ini. Penuh dengan romansa manis yang selalu membuat iri siapa saja yang melihatnya.
Keduanya memang diciptakan untuk bersama, ya kan?
.
Tengah malam di ruang kebutuhan.
"Ohhh.. Regulus... hhh", Hermione tersentak sentak sedari tadi. Peluh membasahi keduanya membuat perempuan itu semakin berusaha mengendalikan pernafasan nya.
Ia mengerang sambil meremas bahu telanjang milik Regulus.
Setelah berdebat dengan hatinya, akhirnya Hermione memberanikan diri dan menyerahkan tubuhnya pada suaminya. Ini memang susah tapi Regulus begitu pengertian padanya karena ini adalah first time.
Hermione mengencangkan dinding vagina nya sehingga Regulus mengerang keras di cekukan lehernya.
"Shit, Hermione.. jangan lakukan itu... kau... damn witch", Regulus memompa semakin kencang dan kuat, ia meremas pantat Hermione lalu meremas kedua paha nya sambil mengangkatnya. Ia membawa satu tungkai kakinya untuk bertengger di bahunya dan satu tungkai lagi melingkari pinggangnya.
Hermione memeluk Regulus semakin erat karena merasakan kejantanan milik pemuda itu semakin menguat dan membesar. Ia tau artinya itu, Regulus akan cumming.
Tapi ia juga bergetar, tubuhnya bergetar tak terkendali. Hasrat kuat menguar dari tubuhnya, Hermione tak tahan lagi.
Ia membuka mulutnya sedikit sambil menggulung mata nya merasa kenikmatan.
Tak pernah dalam hidupnya ia merasakan rasa seperti ini. Seakan melayang di langit penuh bintang.
Manik kecoklatan miliknya menggelap, Hermione ikut menggoyangkan pinggang nya, semakin mengeratkan kedua kakinya.
Regulus turun kebawah, melahap payudara Hermione yang sedari tadi memantul liar karena nya.
Hickey sudah tercetak jelas daritadi, hanya beberapa di titik tertentu yang menampilkan keseksian menggodanya.
Regulus menatap wajah indah Hermione setelah puas menghisap payudara nya. Menikmati wajah memerah itu, ini semua karena nya. Hermione memiliki wajah secantik itu karena nya. Karena ia membuat Hermione kegirangan seperti ini.
Setelah beberapa saat pelepasan mereka terjadi, Hermione cumming terlebih dahulu setelah itu Regulus.
Pemuda itu mengangkat tubuh Hermione yang sudah kelelahan untuk duduk di pangkuan nya. Regulus lagi lagi menggerakkan kejantanan nya yang masih bersarang di pussy ketat dan basah milik Hermione.
Ia mengerang lagi.
Hermione mendongkak dengan mulut melebar, perempuan itu memeluk leher Regulus erat.
"Oh... yes... yeah.. harder.. just like that.. ohh Regulus.. more, please more", desahannya sangat kencang.
Regulus datang untuk menciumi leher jenjang Hermione yang terbuka lebar untuknya. Mencumbunya semakin liar dengan lidah panasnya.
Pemuda itu mengangkat tubuh Hermione dan melepas penyatuan mereka sehingga Hermione mengerang kecewa, tapi sebelum itu, Regulus dengan cepat memposisikan tubuh Hermione untuk menungging di ranjang, meraih pantat sintalnya dan menamparnya selama dua kali.
Hermione menggigit selimut yang telah tak berbentuk, menahan desahan kerasnua saat merasakan Regulus mengecup clit nya. Dua jari Regulus mengelus area vagina basahnya dan menepuknya, lalu lidahnya mulai bermain disana.
Hermione merasakan pusing, ia tak pernah seperti ini. Ini membuatnya gila.
Perempuan itu menenggelamkan wajahnya di bantal, sambil tangannya terus meremas seprei karena menyalurkan rasa nikmatnya.
Pantatnya memantul, dia melakukan sedikit twerk untuk membuat lidah Regulus semakin masuk kedalam dan itu efektif.
Dia datang setelah itu, Regulus melahap cairan nya tanpa sisa, "your semen is so scrummy, love"
Kembali pada posisinya lagi, Regulus memasukkan kejantanan nya pada vagina Hermione yang masih begitu sempit setelah berjam-jam lamanya ia pompa dengan huge cock miliknya.
"Ahh.. Regulus.. harder than before please", dan pemuda itu menurutinya, bergerak dengan liar dan kuat hingga ia bisa mendengar bahwa Hermione sedikit memekik kesakitan.
"Kau tak apa apa? aku bisa lebih lambat jika kau mau, aku tak ingin menyakiti mu", Regulus berujar khawatir.
Hermione menggeleng, "I don't care, i want you to fuck me harder Regulus Black. Please".
Setelah malam itu kehidupan sex mereka benar-benar menggairahkan.
.
Tiga tahun kemudian.
"Datang lah pada Daddy, Marius", Regulus duduk di karpet tebal rumahnya sambil melebarkan kedua tangan hendak menunggu bayi berusia setahun yang sedang mencoba berjalan dengan kedua kaki mungil nya walau sesekali mencoba menyeimbangkan diri karena hendak terjatuh.
Marius Apollo Black, bayi gemuk dengan rambut hitam yang sama seperti ayahnya mengoceh dan tertawa sambil terus melangkah dengan kaki kecilnya, tangannya meraih raih udara seakan ingin segera memegang ayahnya.
Hermione duduk tak jauh dari mereka, bertepuk tangan riang sambil menyemangati Marius.
"Ayo, Marius, pelan pelan, Mommy yakin kau bisa", Hermione bertepuk tangan lagi.
Regulus menyukai semua hal tentang anaknya. Nama Marius tentu saja tak asing bagi keluarga Black karena itu adalah nama salah satu saudara kakeknya yang diusir karena status squib nya.
Regulus menyukai banyak hal, ia menyanyi keluarga nya lebih dari apapun walau keluarga Black sangat keras dan hancur.
Orion Black, ayahnya, selalu was-was saat ia masih kecil dulu, Sirius telah memperlihatkan sihirnya diusia lima tahun, tapi Regulus bahkan masih jauh, usia nya delapan tahun saat ia baru mengeluarkan sihirnya.
Ayahnya selalu takut jika ia akan menjadi squib seperti Marius, karena Pollux pasti akan membenci itu dan mengusir Regulus juga jika ia tak memiliki sihirnya.
Mungkin Arcturus Black III, juga akan melakukan hal yang sama jika tau Regulus seorang squib.
Regulus sempat takut akan hal itu karena ayahnya sempat bercerita bagaimana Cygnus Black II saat mengusir Marius dengan kejam nya. Tentu saja ayahnya tak tau seperti apa kejadian itu karena dia belum lahir.
Oleh karena itu selama usia lima tahun saat ia mengira akan mendapatkan sihirnya seperti Sirius, Regulus selalu memandang nama Marius di pohon keluarga. Ia ingin tau seperti apa rupa nya, dan apakah ia sekarang masih hidup atau sudah mati.
Sebab itulah Regulus ingin menamai anaknya dengan nama Marius. Setidaknya nama itu sangat berharga dalam hidupnya walau ia pun tak tau seperti apa Marius itu.
"Satu langkah lagi, Marius. Satu langkah lagi. Ayo, anak Daddy pasti bisa", Regulus meyakinkan Marius kecil dengan wajah senang nya.
Marius semakin mengoceh sehingga ia kehilangan keseimbangan lagi dan terjatuh jika saja tangan Regulus tak cepat meraihnya.
"Oh, it's okay, dear, Marius anak Daddy yang hebat. Kau hebat, sayang", Regulus mengecup pipi gembul Marius, mencubit nya dengan kedua mulutnya seakan melahap habis pipinya yang gemuk.
Hermione ikut berdiri, bertepuk tangan riang sambil mengecupi lengan gembul Marius, "Itu satu langkah yang bagus Marius. Mungkin setelah satu percobaan lagi, kau akan berhasil. Tapi sebelum itu, kita harus segera berbelanja, bahan makanan telah habis", ujarnya yang diangguki oleh Regulus.
Setelah lulus dari Hogwarts, keduanya sepakat untuk membeli rumah baru di dunia Muggle. Dekat dengan kota tempat tinggal kedua orang tua Hermione.
Richard dan Joanna Granger sudah kembali dari ingatan mereka. Hermione dibantu oleh Kingsley yang saat itu dengan baik nya menawarkan bantuan untuknya, tentu saja dengan Arthur Weasley yang juga membantu mencari.
Dan kedua nya tinggal di muggle London saat ini.
Regulus mengambil kunci mobilnya, menggendong Marius yang masih setia menggigit bahu nya dengan dua gigi bawahnya yang baru muncul.
Air liur beserta biskuit yang baru dimakannya ikut menempel pada kaus yang dikenakan Regulus.
Hermione mendudukkan dirinya dengan nyaman setelah meraih Marius dan menempatkan nya pada kursi khusus nya.
"Ayo kita berangkat".
"Kita butuh acar, beberapa tofu, daging, jamur dan mayo", Hermione menggenggam sebuah kertas note untuk barang yang diperlukan.
troli dorong sedikit penuh, dengan Marius yang kini tertidur pulas sambil menaruh kepalanya ditumpukan tisu dan minyak goreng.
Air liurnya menetes membasahi plastik wadahnya.
Regulus mengusap pipi gemuk Marius sambil sesekali tertawa.
Niatnya tadi dia akan menggendong Marius, tapi anak laki-laki nya itu menangis karena tak mau turun dari troli, dan Regulus harus bersabar menunggu hingga ia benar-benar tidur pulas untuk bisa mengangkatnya.
"Seperti nya aku bisa mengangkat nya sekarang", monolog Regulus.
Ia dengan pelan mengangkat kepala Marius terlebih dahulu sebelum mengangkat tubuhnya. Sedikit kesusahan karena kakinya terjepit tisu dan kardus sereal.
Regulus dengan telaten membelai dan menimang Marius lagi karena bibir mungil anaknya mengerucut lucu seakan ingin menangis, tapi mata nya tetap tertutup rapat.
Isakan kecilnya terdengar dan Regulus mengusap punggung kecilnya, "Sshh... shhtt", ia bergoyang sebentar untuk membuat Marius lebih nyaman.
Tangan kecilnya mengepal kuat sambil memegang daun yang tadi didapatkannya di area sayuran. Tangan Marius menarik beberapa daun saat Regulus mengangkatnya untuk sekedar membuatnya tertawa.
"Sepertinya daging yang kucari sudah habis. Bagaimana jika kita menggantinya dengan udang atau ayam?", tanya Hermione sambil memasukkan kresek berisi lemon.
Regulus mengangguk, "Beli semua yang ingin kau beli, Hermione", ujarnya sambil mengikuti langkah perempuan itu dengan tangan kanan yang mendorong troli.
Regulus menoleh saat mendengar bisik bisik disekitar nya.
Mendapati beberapa ibu ibu tengah terkikik geli sambil menatapnya.
Apa ada yang salah?, pikir nya.
Tapi Regulus tetaplah Regulus, dia hanya tersenyum ramah pada tiga ibu ibu muda yang kini juga menyapanya.
"Dia sangat tampan, istrinya begitu beruntung, bukan begitu?"
"Istri nya juga cantik. Apa mereka menikah muda? mereka terlihat masih diusia awal dua puluh tahun"
"Iya dia tampan, dan terlihat sangat kaya"
"Tapi istrinya kelihatan sangat galak. Mereka tak cocok sama sekali"
Hermione menghela nafas, menoleh mendapati Regulus berhenti hanya untuk menyapa beberapa orang lainnya.
"Suami ku yang tampan, seperti nya kita harus pulang sekarang. Semua belanjaan telah berada di ranjang", ujarnya.
Regulus menyeringai, dia tau ada maksud lain dari perkataan itu. Istrinya tengah cemburu.
Hermione terkadang tak terlalu suka saat Regulus begitu baik pada semua orang apalagi pada perempuan lain. Ia takut suaminya hanya dimanfaatkan. Hermione selalu posesif, walau sebenarnya Regulus lah yang lebih posesif.
"Aku datang istri cantik ku",
Suara pekikan ibu ibu tadi terdengar setelah Regulus mengatakan itu.
Ia terkekeh saat melihat wajah Hermione mengerucut dengan gemas.
Dengan cepat ia mendorong ranjang belanja nya lagi dan mendekati Hermione untuk pergi ke kasir.
Yah, Regulus tau jika kehidupan pernikahan nya dengan Hermione sangatlah sempurna. Ia mencintai Hermione dan Hermione mencintanya. Mereka juga mencintai Marius, tentu saja.
.
end.
