Heartbeat

By Fureene Anderson

.

.

Boboiboy is own of Monsta. I just borrow the character

.

.

HalixYing/AU!Entertainment/No Super Power/ Actress!Ying, Actor!Halilintar/ 21Yo/Typos

.

Enjoy Reading

.

.

"Aku senang menghabiskan waktu bersamamu. Percayalah, aku benar-benar bahagia ketika kita berkecan, tertawa, membeli permen kapas dan naik roller coaster. Tapi, kurasa jalan inilah yang terbaik. Aku tidak bisa lagi bersamamu. Aku bukan untukmu. Dan kau … kau akan menemukan kebahagian yang lain. Dan itu bukanlah aku."

Adegan itu lalu ditutup dengan kepergian sang gadis. Halilintar—yang berperan sebagai Hardin—membeku di tepi jalan. Kedua tangannya menggantung di saku. Matanya menatap ke bawah. Kepergian sang gadis terlalu menyakitkan sampai ia tak mampu lagi mengucapkan kata-kata. Namun, syal merah yang melilit lehernya telah menyerap air mata. Halilintar terus berdiri di bawah lampu jalan, membiarkan orang-orang berlalu lalang sementara lagu sedih berputar bersamaan sosoknya yang disorot semakin jauh.

"Ya ampun kasihan banget," komentar Ying. Ia sukses terisak setelah menonton episode 10 drama yang berjudul 'Notification'. Drama terpopuler di aplikasi streaming Myflix dan berhasil menembus pasar internasional. Sampai saat ini dramanya sudah mencapai peringkat 2 di 8 negara.

"Lizzy, kenapa kamu harus ninggalin Hardin kayak gitu, sih?" Ying kembali menyabet tisu untuk mengeringkan air mata. "Padahal Hardin udah bucin banget, lho sama kamu. Tapi kenapa kamu malah beralih ke Langit? Ya emang Langit pemeran utamanya, tapi chemistry kamu sama Hardin bagus banget! Ah, dasar! Mau director-nya apa sih sampai mainin perasaan penonton gini? Pantas aja, karakter Lizzy dihujat!"

Suara deheman menyentak Ying dari bersungut-sungut.

Di belakangnya, Shielda sudah menggeleng-geleng sambil bersidekap. Manajernya itu selalu datang dengan tablet yang selalu siaga di tangan. Ying tidak akan berharap Shielda membawakannya makanan karena ia harus mempertahankan berat badannya sampai tiba waktu syutingnya nanti. Dan seingat Ying, ia tak punya janji apapun dengan Shielda hari ini.

"Kamu udah dari kapan ada di sini?"

Satu-satunya yang memegang kunci apartemen Ying selain dirinya adalah Shielda. Ying tak akan protes mengapa Shielda tak membunyikan bel terlebih dulu.

"Dari tadi." Menghempaskan tubuhnya di sofa, Shielda menatap layar televisi Ying yang menampilkan lagu closing drama Notification, kemudian berpaling pada hamparan tisu yang berantakan di meja. "Kamu nonton dramanya Halilintar buat kenal dia, kenapa kamu ikutan emosional juga? Dari jam berapa kamu maraton Notification?"

Ying kembali mengusap wajahnya dengan tisu. "Ya habis aktingnya bagus. Kemistrinya juga bagus. Dan dia … dia kasihan banget. Hardin, ganteng-ganteng jadi sadboy."

"Itu kan cuma peran, Ying. Lagian kalau aku baca di sosmed, akting Halilintar justru banyak yang kritik. Katanya pengucapannya nggak bagus dan cuma menang visual."

"Ya, tadinya kupikir begitu." Ying mengangguk. "Aku nonton dramanya juga karena mau ngebuktiin omongan orang-orang soal aktingnya. Tapi, mungkin karena terbantu akting Amy yang bagus, juga Amy yang jago bangun kemistri sama lawan mainnya, Halilintar nggak terlihat seburuk itu. Yah, meski aktingnya emang perlu diasah lagi."

Shielda mengangguk, menyetujui pendapat Ying. "Makanya, kamu tau kan risiko terima tawaran satu drama sama Halilintar? Kamu juga masih baru, Ying. Kamu baru main satu drama. Yah, walau rating drama kamu masih tertinggi sampai sekarang, tapi kamu juga belum pernah jadi pemeran utama. Gimana kalau ternyata drama yang kamu mainin sama Halilintar justru nggak bakal dilirik penonton karena mereka tau kualitas akting kalian? Aku tau kamu udah berusaha. Tapi kalau drama yang kamu ambil ini nggak memenuhi target rating, kamu bakal makin susah lagi dilirik rumah produksi."

"Shielda, itu lebih baik daripada aku nggak punya kerjaan sama sekali," Ying mendesah, merapihkan tisu yang berserakan menjadi satu gumpalan bola. "Kamu tau, aku harus ngegaji kamu, ngegaji supir kita, bayar sewa apartemen, makan. Drama "Anneth" itu udah enam bulan yang lalu. Sekarang aku udah cukup istirahat. Aku mau akting lagi dan kupikir ini peluang bagus. Webtun "Moonlight" itu termasuk webtun populer dan Halilintar juga aktor andalannya Myflix, dan yang paling penting aku dipilih sebagai pemeran utama. Jadi, nggak ada alasan buat aku tolak tawaran itu."

Ying menutup kalimatnya dengan senyuman. Shielda menatap binar mata Ying yang memancarkan kesungguhan. Ying memang sudah rindu dengan dunia akting. Ia tidak akan menampik pendapat Shielda tentang aktingnya. Meski pendatang baru dan kemampuannya masih perlu diasah, tapi debut di drama pertamanya sama sekali tidak mengecewakan.

Siapa yang tidak mengenal Ying? Pemeran karakter Aliya yang mampu membuat penonton geram karena kepribadian sosiopatnya. Ia dinilai sebagai pemeran pendukung terburuk karena tak pernah menampilkan sisi baik.

Tapi, itu artinya akting Ying cukup bagus, bukan? Artinya ia berhasil menghidupkan sosok Aliya dalam dirinya.

Manajernya yang sudah bekerja selama dua tahun itu akhirnya mengangguk. Setelah mendengar alasan Ying, ia merasa tak perlu lagi mendebat. Ying yang bisa memilih perannya dan ia hanya bertugas mengarahkan. Tapi, jika Ying sudah bersikeras, tak ada lagi yang bisa menolak permintaannya.

"Kamu udah baca webtunnya?"

"Udah dong!" Ying menyahut ceria, memakan wortel dari mangkuk saladnya. "Karakterku sebenarnya bukan aku banget. Luna itu sosok perempuan pemalu, kalem, pintar,tapi nggak beruntung ketika meraih mimpinya jadi idol. Sementara kamu tau aku kan? Aku bawel, serampangan, yah kebalikan dari Luna 180 derajat!"

"Tenang aja, Halilintar pun sama, kok."

"Halilintar karakterya beda dari Jason?"

"Itu pasti." Tangan Shielda terkibas. "Kamu udah nonton variety show atau behind the scene-nya Halilintar belum, sih?"

"Aku cuma baru sempat nonton dramanya," sahut Ying menyesal.

"Menurut kamu Halilintar itu gimana?"

Ying mengangkat bahu. "Entahlah, tapi kalau dilihat dari gimana dia mainin karakter Hardin, mungkin agak mirip. Cool, tapi kalau udah bucin bakal sayang dan beda banget!"

Ying terus tersenyum lebar seolah tenggelam dalam persona Hardin. "Nggak heran dia udah punya banyak fans setia dan follower instagram berjuta-juta."

"Gimana nggak? dia kan ganteng." Shielda memutar mata.

"Dan Hardin adalah tipe cowok idaman semuan cewek di seluruh dunia."

"Oke, itu berlebihan." Shielda mendesah lelah. "Lusa kita ada technical meeting sama kru dan producer Moonlight. Halilintar, dan jajaran pemain lain juga bakal hadir. Kalian akan reading sebelum syuting akhir bulan nanti, jadi pastiin kamu tau dulu siapa Halilintar dan gimana karakternya."

"Kamu nyuruh aku analisa variety show dan BTS dramanya?"

"Yah, supaya kamu punya bayangan, Ying. Jadi kamu nggak kaget kalau ketemu Halilintar nanti."

"Kamu udah pernah nonton?" Ying balik bertanya.

"Aku kenal Halilintar langsung."

Ying membelalak. "Apa? Kok bisa? Kok kamu nggak cerita?"

"Dia itu saudara Taufan, temannya Fang. Jadi, sedikit aku tau soal dia," sahut Shielda.

Ying tampak antusias. "Terus menurut kamu Halilintar aslinya gimana?"

Shielda mengernyit melihat senyum Ying yang seperti menunggu pengumuman liburan. Gadis itu menggeleng, mencomot brokoli dari mangkuk Ying.

"Shielda, gimana?" Ying merengek. "Kamu bilang aku harus tau Halilintar sebelum ketemu dia."

"Kamu tau karakter David di drama Kenangan Mantan?"

"Ah!" Ying meringis, membayangkan sosok David yang selalu membuatnya muak. "Cowok ngebosenin, minim kata, dingin, dan nggak peduli dengan keadaan sekitar. Dia bahkan cuma bisa liatin ketika teman sekelasnya dibully. Dia juga nggak peka waktu Hana naksir dia. Tipe cowok yang paling aku benci. Yah, aku berharap nggak bakal nemuin spesies kayak gitu, sih."

Shielda tersenyum kecut. "Ya, itu dia."

"Apa? Dia siapa?" Ying mengernyit. "David?"

"Ya itu Halilintar. Halilintar adalah David di dunia nyata."

Ying mengerjap beberapa kali. Shielda masih tersenyum. Butuh waktu bagi Ying untuk menyimpulkan pernyataan Shielda sampai tawanya meledak ke seluruh apartemennya.

"Kamu bohong kan, Shielda?"

.

.

.

A/N : Alo, ada yang masih inget aku nggak? Kalau nggak, berarti aku emang udah terlalu lama hiatus, ya?

Habis baca novel soal k-pop, jadi pengen nulis tema entertainment juga. Tapi nggak tau ini bakal dilanjut atau nggak. Ide sih ada, kalau nggak mager ya bakal dilanjut. Hehe. Tapi semoga nggak. Makanya kasih semangat aku, dong. Like sama review aja udah cukup, kok.

Btw, seneng banget bisa nulis lagi. Walau nyawa tulisannya masih belum terkumpul, semoga bakal lebih baik lagi. Aku harap kalian juga kayak gitu. Semoga kita yang lagi belajar nulis diberi kemudahan dan ide mengalir seperti air, juga semangat yang nggak pernah padam kayak matahari.

Semangat, semuanya!