Jika kubuka pintu kecil dengan cara ini
Akankah tempat yang kuimpikan berada disana?
Malam yang penuh dengan bintang yang mempesona
Bisakah hanya ada aku dan kamu?
Yonghoon menegak minumannya dengan rakus, tidak peduli sudah berapa banyak yang dia minum. Tidak peduli sudah separah apa rasa mabuknya. Yonghoon merasa ini tidaklah cukup. Tidak ada yang bisa menghilangkan rasa sedihnya. Sudah 2 tahun lamanya, tapi Yonghoon masih belum bisa melupakannya. Seseorang yang sangat dicintainya. Dilihatnya sebuah foto yang terbingkai rapi di atas nakas. Yonghoon meraih foto itu dan memeluknya erat, dan lagi-lagi Yonghoon menangis. Perih hatinya melihat senyuman yang terpasang manis dalam foto yang tidak bisa dilihatnya lagi. Harus terenggut selamanya, tepat di depan matanya.
Yonghoon suka bernyanyi, sedari kecil memang Yonghoon sudah memiliki suara yang indah. Orang tua Yonghoon juga mengagumi bakat anaknya itu. Selain suaranya yang bagus, Yonghoon juga pandai bermain musik, mulai dari gitar, piano, bass, Yonghoon bisa memainkan itu semua. Walaupun begitu, Yonghoon tetaplah seseorang yang berkepribadian baik dan ramah.
Yonghoon ingat pertemuan pertamanya dengan seseorang yang berhasil merebut hatinya.. Anggaplah Yonghoon pedofil, karena dia jatuh cinta dengan seorang anak SD. Astaga Yonghoon merasa dirinya tidak normal saat itu, ditambah anak SD itu seorang Namja. Yap betul, seorang Namja dan anak SD. Yonghoon benar-benar seorang penjahat kalau dipikir-pikir lagi. Yonghoon adalah seorang Siswa SMA kelas akhir, jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang anak laki-laki kelas 6 SD. Apa yang akan dikatakannya kepada orang tuanya dia menyukai seorang anak SD? Padahal sebelumnya, dia sering berpacaran dengan wanita, tapi tidak ada seorangpun yang pernah membuat hatinya berdebar sangat kencang seperti ini.
Yonghoon akhirnya memutuskan mendekati anak itu, yang sedang duduk sendirian disebuah taman. Yonghoon baru menyadari ekspresi sedih sang bocah yang hampir menangis saat Yonghoon mendekatinya. Taman ini sepi, mungkin saja anak ini kehilangan orang tuanya dan tersesat atau tertinggal disini.
"Dek, apa kau baik-baik saja? Kenapa kau sendirian disini?"
Anak itu terdiam, masih dengan wajah yang menahan tangis, dan ekspresi wajahnya itu berhasil membuat Yonghoon terasa gemas. Apa semua anak kecil menahan tangis terasa menggemaskan seperti itu? Yonghoon tidak tahan melihatnya.
"Apa kau tersesat? Dimana rumahmu? Hyung akan mengantarmu pulang"
Lagi-lagi tidak ada jawaban dari sang bocah, membuat Yonghoon bingung dibuatnya. Yonghoon memutuskan untuk duduk disamping ayunan sang bocah dan menunggunya berbicara. Itu lebih baik, daripada membiarkannya sendirian.
"Ru-rumahku ada diujung gang sana…" Akhirnya sang bocah berbicara, membuat Yonghoon menoleh dan mendekat sedikit karena suaranya terlalu pelan untuk didengar
"Ta-tapi.. Wookie.. tidak mau pulang…"
'Wookie? Nama yang manis' Yonghoon berkata dalam hati saat mendengar nama yang dilontarkan sang bocah. Tapi, wajah si bocah mulai berubah ketakutan dan kini sudah hampir menangis. Anak itu mengusap matanya berkali-kali menahan air matanya keluar. Yonghoon terasa iba melihat kondisinya.
"Apa appa dan eommamu sedang tidak ada dirumah? Karena itu kamu tidak mau pulang?"
Anak itu menggeleng lemah dan menunduk "Eomma… sudah lama pergi.. Wookie.. tidak pernah bertemu eomma. Kata appa, eomma pergi karena Wookie, makanya… hiks.. makanya Wookie disuruh pergi… huwaaaa"
Yonghoon dibuat kebingungan dan sedikit panik, selama ini dia adalah anak tunggal jadi tidak terlalu pandai menangani anak kecil walau Yonghoon suka sekali bermain dengan anak-anak. Tapi tangisan sang bocah yang tiba-tiba membuat Yonghoon jadi kebingungan sendiri dibuatnya.
"Sssttt cup cup cup anak baik jangan menangis ya. Wookie anak baik kan? Jadi jangan menangis" Yonghoon memeluknya dengan erat sambil sesekali mengelus punggung sang anak. Baru Yonghoon sadari ada beberapa luka lebam dibalik baju seragam sang bocah. Terlihat samar, tapi itu memang luka lembam. Tidak hanya satu, ada beberapa luka lebam yang terlihat masih baru dan ada yang mulai memudar. Anak kecil yang berada dipelukannya ini, ternyata memiliki kehidupan yang begitu menderita. Saat tangisannya sang anak mulai mereda, Yonghoon melonggarkan pelukannya dan mengusap air mata si anak. Memberikan senyuman lembut yang berhasil menenangkannya.
"Kalau Wookie mau, bagaimana kalau Wookie tinggal bersama hyung?"
Wajah sang anak seketika berubah, matanya begitu berbinar terlihat bahagia. Mereka baru pertama kali bertemu, tapi sang anak terlihat tak peduli dan tak memikirkan apakah Yonghoon adalah orang jahat atau bukan.
"Benarkah Hyung? Wookie boleh tinggal bersama hyung?"
Yonghoon mengangguk dan mengacak rambutnya gemas, Wookie memang sangat menggemaskan "Tentu saja, Wookie bisa tinggal selama yang Wookie mau"
"HOREEE! WOOKIE PUNYA HYUNG!"
Yonghoon terlihat ikut berbahagia dengan senyuman Wookie yang begitu berbinar.
"Ah tapi.. semua baju Wookie dan keperluan sekolah masih ada dirumah. Wookie harus pulang mengambilnya dulu hyung"
"Baiklah, hyung akan menemani Wookie mengambil semua barang-barang Wookie, baru setelah itu kita kerumah hyung" Wookie mengangguk antusias seakan baru saja mendapatkan hadiah besar, atau memang seperti itu.
"Nama hyung Jin Yonghoon, Nama Panjang Wookie siapa?"
"Lee Giwok hyungie" Giwook tersenyum lebar dan hati Yonghoon semakin berdebar karenanya. Dari awal senyuman Giwook begitu manis, dan semakin manis saat wajahnya terlihat begitu ceria. Giwook memanglah anak yang polos.
Giwook mengambil barangnya seperlunya sementara Yonghoon melihat keadaan rumah Giwook. Rumah itu terlihat tidak layak huni, banyak sampah yang berserakan, piring yang bertumpuk tidak dicuci, pakaian yang ditaruh sembarang, juga beberapa makanan yang sudah basi tergeletak begitu saja. Banyak juga botol minuman alkohol yang berserakan. Yonghoon terasa miris melihat hal ini, seorang anak kecil tumbuh dalam lingkungan yang sangat buruk. Mungkin ini salah satu alasannya tubuh Giwook penuh dengan lebam.
" Yonghoon Hyung, Wookie sudah siap"
Yonghoon menoleh dan mendapati Giwook mendapati 2 tas besar diseret di tangan kanan dan kirinya, Yonghoon tersenyum antara sedih dan bangga. Giwook ternyata cukup pandai dalam mengepak barang. Dia bisa membereskan barangnya sendiri dan membaginya kedalam 2 tas besar, walau memang tenaganya tidak cukup besar untuk mengangkut keduanya.
"Hyung yang bawakan tasnya ya, ini terlalu berat untuk Wookie"
"Gomawo hyungie"
Yonghoon baru saja ingin kelaur dari rumah itu, sebelum akhirnya seseorang laki-laki datang dengan kondisi mabuk dan Giwook reflek berlindung dibalik tubuh Yonghoon. Bisa Yonghoon asumsikan, orang didepannya ini kemungkinan adalah Appa Giwook yang sudah memberikan rasa trauma kepada anaknya sendiri.
"Heh?! Siapa kau?! Kau mau maling ya hah?!" bentakan seketika terlontar dari mulutnya, bau alkohol masih tercium kuat membuat Yonghoon mendecih jijik melihat kelakuan orang tua didepannya ini. Ini masih sore, tapi dia sudah mabuk-mabukkan separah itu, bahkan didepan anaknya sendiri yang masih kecil.
"Giwook, ambilkan appa air dingin. Cepat!"
Teriakan dari appanya membuat tubuh Giwook merinding ketakutan dan Giwook bahkan tanpa sadar mencengkram tangan Yonghoon yang kosong begitu erat.
"Hei apa yang kau lakukan?! Cepat!" Appa Giwook menarik paksa tangan Giwook yang kecil, membuat Yonghoon naik darah dibuatnya. Ditepisnya tangan sang appa sambil menarik Giwook yang sudah mulai menangis mendekat ke pelukannya.
"Mulai hari ini, Giwook bukanlah anakmu lagi. Appa macam apa kau ini menyiksa anakmu sendiri dan mabuk-mabukkan sampai sore hari meninggalkan anak yang terlantar"
"Hei bocah tengik, kau ini tau apa? Anak sialan ini sudah membunuh istriku, dari awal keberadaanya tidak kuakui. Dia hanya menyusahkanku saja, sudah untung masih kuberi tempat tinggal dan makan. Aku sudah menyekolahkan dan memberinya kehidupan. Kewajibanku sudah terpenuhi"
Yonghoon semakin marah dibuatnya, bisa-bisanya dia berkata seperti itu didepan anaknya sendiri. Apa dia tidak punya hati? "Giwook yang bilang padaku, kau tidak menginginkannya lagi, kau sudah mengusirnya dan kau juga sudah mengakuinya. Giwook bukan anakmu lagi"
"Grrr! Bocah sialan! Giwook itu anakku berikan dia!" Giwook ditarik begitu paksa dari pelukan Yonghoon dan Yonghoon yang tentu saja tidak terima dengan perlakuan itu mendorong paksa appa Giwook. Kemudian menggendong Giwook yang sudah mulai menangis pergi dari rumahnya. Yonghoon cukup kelelahan harus berlari sambil membawa 2 tas besar dan menggendong Giwook disatu tangan. Untunglah dia sering berolahraga, walau tetap terasa capek juga. Saat terasa sudah aman, Yonghoon menurunkan Giwook dan beristrahat sebentar. Nafasnya sudah habis, dia sudah tak sanggup berjalan lagi.
Giwook menggenggam tangan Yonghoon dan menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca "Hyung mianhe… Wookie merepotkan Hyung, padahal Giwook baru pertama kali bertemu hyung"
Yonghoon sedikit tertawa dengan nafas yang tersengal, anak ini benar-benar polos. Giwook sudah tahu mereka benar-benar orang asing yang baru pertama kali bertemu ditaman. Tapi dia mengkhawatirkannya bukannya terasa bingung atau takut, Giwook sama sekali tidak berfikir Yonghoon adalah orang jahat, atau mungkin saja Giwook sudah putus asa. Karena itu dia tidak peduli siapapun yang membawanya, yang jelas dia ingin segera keluar dari rumahnya sendiri.
"Tidak apa Wookie. Hyung senang bisa membantumu, karena Wookie anak baik"
Giwook memeluk erat Yonghoon dan kembali menangis sekencang-kencangnya. Yonghoon mengelus rambut Giwook dan menenangkannya. Kini, Giwook sudah terbebas dari penderitaannya, Yonghoon akan berusaha untuk melindungi Giwook kecil ini dengan segenap kemampuannya.
Di dunia yang tersulam ini
Aku akan bersamamu
Ke bintang rahasia itu
Melalui malam yang panjang
Aku akan tetap di sisimu sambil menatap matamu
Yonghoon masih menangis dalam diam, air matanya sudah kering karena terlalu lama menangis. Yonghoon melihat malam berbintang diluar jendela apartemennya. Giwook menyukai malam seperti ini, malam penuh bintang yang terang. Yonghoon masih ingat dengan baik ocehan Giwook yang mengagumi astronomi dari kecil hingga dewasa. Yonghoon tersenyum sedih, dimalam yang penuh bintang ini. Tidak ada lagi Giwook yang mengoceh tentang rasi bintang, tidak ada lagi pembicaraan aneh yang sulit Yonghoon mengerti tentang galaxy dan tidak ada lagi tawa Giwook yang semangat menceritakan tentang betapa indahnya langit malam yang penuh bintang kepada Yonghoon. Yang ada hanyalah kehampaan.
Yonghoon melangkahkan kakinya keluar balkon apartemennya, melihat langit yang sangat cerah. Bulan purnama yang bersinar terang, bintang-bintang yang menghiasi langit dengan sedikit awan. Sangat romantis. Tapi disinilah Yonghoon, menatap semuanya sendiri, penuh dengan kehampaan.
"Wookie, apa disana begitu indah?" Yonghoon bermonolog, menatap bintang mencari bintang yang paling terang untuk diajaknya bicara.
"Dulu kau pernah bilang, kau ingin sekali keluar angkasa melihat bintang. Tapi… sekarang.. kau sudah menjadi bintang…" Yonghoon menelan air liurnya pahit, jikalau air matanya tidak mengering. Yonghoon sudah dipastikan akan banjir air mata lagi. Matanya sudah sangat perih dan memerah, tapi Yonghoon masih ingin menangis, berusaha merelakan semuanya. Berusaha merelakan kejadian selama 2 tahun lamanya.
Saat pertama kali membawa Giwook ke rumah, Yonghoon memang cukup khawatir dengan kedua orang tuanya. Yonghoon tidak berpikir panjang saat sudah berjanji membawa Giwook ke dalam rumah, padahal bisa saja kedua orang tuanya mengamuk dan malah mengusir Giwook. Karena bagaimanapun, Giwook adalah bocah asing yang ingin ditampung karena keegoisannya. Tapi, siapa sangka eomma appanya malah menerima dengan baik keberadaan Giwook. Giwook diperlakukan dengan baik oleh eommanya dan begitu disayang oleh appanya. Yonghoon memang terlalu paranoid, kedua orang tuanya adalah orang baik. Orang yang sangat baik, yang sampai hati ingin menuntut Appa Giwook dan mengadopsi Giwook menjadi anaknya. Yonghoon tentu sangat senang dengan hal itu, dia memiliki adik baru dan bisa mengenal lebih dekat dengan Giwook. Bocah kecil yang telah mengambil hatinya itu.
Giwook adalah anak yang ceria dan pandai, dia mudah disukai oleh siapa saja dan Giwook suka membantu dengan inisiatifnya sendiri. Wajar saja kedua orang tua Yonghoon sangat menyukai Giwook. Yonghoon tentu pernah bertanya kepada kedua orang tuanya kenapa begitu cepat menerima anak kecil yang tiba-tiba saja dibawanya kerumah.
"Giwook terlihat begitu terluka saat pertama kali appa melihatnya, appa merasa tidak tega membiarkan anak sekecil itu mengalami hal yang berat seperti itu. Appa tidak suka melihat anak kecil tersiksa, kau tau kan itu Yonghoon"
Yonghoon mengangguk mendengar jawaban sang appa, appanya adalah sosok yang begitu lembut sama halnya dengan ibunya. Walau appanya begitu lembut, dia masih bisa terlihat tegas dan bijaksana disatu sisi. Sosok appa yang Yonghoon idolakan.
"Lagipula, bukankah Yonghoon bilang ingin seorang dongsaeng. Mungkin Giwook datang dalam keluarga kita karena ingin mengabulkan keinginan Yonghoon. Bagus bukan" Eommanya menambahkan dengan sedikit tawa. Tapi Yonghoon juga ikut sedikit tertawa, memang dulu sekali Yonghoon menginginkan seorang dongsaeng karena Yonghoon begitu kesepian menjadi anak tunggal. Tapi, kondisi eommanya yang begitu lemah saat melahirkan Yonghoon karena Yonghoon yang lahir premature. Membuat sang appa tidak menginginkan anak lagi dan Yonghoon mencoba mengerti kondisi itu.
Keberadaan Giwook dalam keluarganya memberikan suasana baru dan ceria, kedua orang tuanya yang memang menyukai anak kecil ditambah Yonghoon yang memang menyukai Giwook. Yonghoon tidak pernah merasa sebahagia ini. Hidupnya terasa makin sempurna saat Giwook datang.
Giwook dan Yonghoon tidur dalam satu kamar, dikarenakan memang rumah mereka bukanlah rumah mewah yang besar. Hanyalah rumah sederhana. Tapi walau begitu, beruntunglah kondisi ekonomi appanya cukup stabil sebagai sebuah produser musik dalam sebuah agensi artis. Appanya, bahkan masih bisa membelikan kasur tingkat agar Yonghoon dan Giwook tidur dengan nyaman dan merasa adil dikamar. Beruntunglah kamar Yonghoon cukup besar untuk diisi berdua. Jadi, walau mengadopsi Giwook mereka tidak sedikitpun terasa kekurangan, semuanya cukup untuk memenuhi kebutuhan yang ada. Bahkan, sesekali Yonghoon disuruh ayahnya untuk merekam lagu demo untuk beberapa artis. Yonghoon tentu senang saja akan hal itu, menyanyi adalah salah satu hobi yang disukainya.
"Hyungie lihat gambar Wookie, bagus tidak?"
Yonghoon yang sedang memainkan gitar dikasurnya turun ke bawah dan duduk disebelah Giwook, melihat gambar yang diberikan dan tersenyum. Sebuah gambar langit malam yang penuh dengan rasi bintang dan sebuah bulan yang bersinar terang dengan beberapa gradasi warna juga beberapa bentuk galaxy yang dibuat sedikit abstrak agar bisa menyatu dengan rasi bintang yang dibuat. "Ini gambar yang bagus, Wookie pintar menggambar. Wookie suka dengan bintang?"
Giwook mengangguk antusias "Nde Hyungie, suatu saat Giwook akan ke galaxy sana dan melihat semua bintang-bintang diangkasa luar. Itu pasti keren"
"Itu memang keren, karena itu Wookie harus belajar dengan giat biar bisa ke angkasa luar" Yonghoon mengusak rambut Giwook gemas, sementara Giwook menggerutu kesal rambutnya diacak oleh Yonghoon
Giwook berdiri dan membingkai gambar yang dibuatnya, menambahkan sedikit hiasan pita kemudian memberikannya kepada Yonghoon. Yonghoon bingung, tapi masih menerima dengan baik pemberian Giwook. "Eomma bilang, hyungie akan keluar rumah karena kuliah"
Yonghoon menatap bola mata Giwook yang mulai berkaca-kaca karena ingin menangis, Yonghoon juga sedih dan terasa berat meninggalkan Giwook sendirian disini. Yonghoon tahu, kedua orang tuanya pasti akan menyayangi Giwook dengan baik layaknya anak mereka sendiri. Tapi tetap saja, Yonghoon tidak rela meninggalkannya. Tapi Yonghoon harus meraih pendidikannya, dan karena kampusnya cukup jauh dari rumah Yonghoon memutuskan untuk tinggal di asrama kampus sampai studinya selesai.
"Wookie.. Mian hyung-"
"Tidak apa kok hyung" Giwook memotong perkataan Yonghoon, ada senyuman dibalik matanya yang berkaca "Hyung harus kuliah kan, karena itu hyung harus keluar rumah. Wookie tidak apa, Wookie juga akan giat belajar biar bisa menyusul hyung nanti. Hyung juga harus belajar dengan giat, biar nanti eomma dan appa bangga dengan hyung" Senyuman lebar diberikan Giwook, masih dengan matanya yang berkaca-kaca. Yonghoon tau, Giwook tidak ingin dia juga merasa sedih meninggalkannya sendiri dirumah. Karena itu dia ingin memberikan senyuman kepada Yonghoon.
"Ini hadiah dari Wookie untuk hyung, agar hyung bisa ingat terus dengan Wookie. Jangan lupa dipasang diasrama hyung kkkk" Yonghoon ikut tertawa, semua tingkah Giwook selalu membuat Yonghoon jatuh cinta setiap harinya.
Meninggalkan segalanya untukmu
dan aku berjanji padamu pada takdir
Saat kita mencapai bintang
Aku akan menemukanmu
Setelah penantian yang lama
Di alam semesta ini di mana kita diizinkan
Aku akan berada di sisimu lagi
Seperti sebuah kebetulan
Kita menuju ke waktu yang sama
Libur semester pertama datang untuk Yonghoon, karena itu Yonghoon memutuskan untuk meninggalkan asrama dan pulang. Semester pertama dalam perkuliahannya tidak begitu buruk, Yonghoon mengambil jurusan seni yang tentu disukainya dan beruntungnya dia mendapatkan beasiswa penuh hingga semester akhir karena kepintarannya. Orang tuanya juga mendukung hal itu dengan baik dan merasa sangat bangga dengan Yonghoon.
Yonghoon pulang dimalam hari, karena harus menyelesaikan beberapa tugas dikampusnya juga mengurus band yang baru saja dibuatnya. Karena itu, Yonghoon datang cukup larut malam. Orang tuanya sudah mengabari terlebih dahulu, kalau mereka sedang pergi ke Jeju karena pernikahan adik dari ibunya. Yonghoon tetap memutuskan untuk pulang karena eommanya bilang, Giwook sedang berada dirumah sendiri tidak bisa ikut karena sedang mengikuti kompetisi Sains disekolahnya. Yonghoon merasa bangga dengan adiknya itu, Giwook benar-benar serius mencapai cita-citanya untuk keangkasa luar dan Yonghoon yakin Giwook akan berhasil karena dia cukup pandai.
Yonghoon menaruh barangnya diruang tengah saat menyadari adanya alunan bass dari arah kamarnya dan Giwook. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, sudah cukup larut. Apa Giwook belum tertidur? Yonghoon menghampiri kamarnya dan melihat Giwook yang sedang melakukan beberapa rap dan mengaransemen musik sambil sesekali bermain bass. Sejak kapan Giwook begitu multitalen seperti ini? Tidak hanya pandai dalam bidang sains, Giwook bahkan bisa mengaransemen musik dan bermain bass, 1 semester perkuliahannya membuat Yonghoon takjub melihat perkembangan Giwook yang begitu jauh. Padahal, Giwook barulah kelas 1 SMP.
Giwook yang merasa sedang ditatap seseorang menoleh dan mendapati Yonghoon berdiri mematung menatapnya, Giwook cukup terkejut tapi tetap terasa senang karena Yonghoon telah pulang "Hyungie sudah pulang. Bagaimana perkuliahan Hyung?" Giwook bertanya antusias
Yonghoon tersenyum mendekat dan duduk disebelah Giwook "Perkuliahan berjalan dengan lancar, hyung bahkan sudah punya beberapa teman"
"Hyungie hebat, Wookie yakin hyung pasti bisa menjalani perkuliahan dengan baik"
Yonghoon menatap beberapa kertas berisi lirik dan beberapa not lagu yang Giwook tulis, Giwoon yang tahu arah pandang Yonghoon mulai mengumpulkan kertas-kertas liriknya. Entah kenapa terasa malu
"Hyung tidak tau, Wookie pandai mengaransemen lagu"
Giwook menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tertawa sedikit canggung "Ah.. anu.. sejak hyung mulai masuk kuliah, Wookie bingung mau melakukan apa. Jadi, Wookie minta tolong appa mengajari mengaransemen lagu. Terus, Appa bilang Wookie pandai dalam rap, jadi Wookie juga belajar rap sedikit"
Yonghoon terkesima dengan semua talenta Giwook, Yonghoon memang pandai bernyanyi dan memiliki suara yang bagus, juga bisa beberapa alat musik. Tapi Giwook? Dia bahkan bisa rap dan mengaransemen lagu ditambah pandai bermain bass. Giwoon memang anak yang istimewa.
"Dan bass ini? Appa yang juga mengajari?"
"Eh? Ah? Anu… eumm bukan. Wookie entah kenapa suka juga dengan bass, jadi belajar sedikit. Wookie belum terlalu pandai bermainnya"
"Benarkah? Hyung dengar permainan Wookie tadi cukup bagus. Apa Wookie membeli bass ini sendiri?"
Giwook menggeleng "Tidak Hyung, ini bass milik teman Wookie. Wookie meminjamnya untuk berlatih, Wookie tidak ada uang untuk membeli bass sendiri dan Wookie tidak ingin meminta kepada appa"
Yonghoon jadi terpikirkan sebuah ide, dia baru saja membentuk sebuah band dikampusnya dan belum memiliki seorang bassis, Yonghoon yakin teman-temannya yang lain tidak keberatan kalau Giwook masuk sebagai anggota walau umurnya masih cukup muda. Ah! Tapi ada seseorang yang seumuran dengan Giwook, sepupu dari drummer bandnya. Ditambah, Giwook hanya perlu dilatih bermain bass, pada dasarnya Giwook anak yang cepat tanggap. Giwook juga bisa mengaransemen sebuah lagu dan pintar rap. Sebuah bakat yang sangat saying disia-siakan.
"Wookie, bagaimana kalau ikut band Hyung? Hyung belum memiliki seorang bassist. Nanti kita bisa belajar bersama dalam band nanti, hyung yakin anggota lain tidak keberatan"
Giwook mengangguk antusias, merasa senang karena bisa lebih dekat dengan Yonghoon dan menjalankan hobi barunya bersama. Kesempatan emas yang tidak bisa dilewatkan tentunya.
Pertemuan pertama bandnya berjalan baik, semuanya langsung berteman. Giwook juga cepat akrab dengan semua member, terutama Dongmyeong sepupu dari Harin sang drummer, karena mereka seumuran. Band yang Yonghoon bentuk belum memiliki nama, sampai Giwook mengusulkan sebuah nama disela-sela latihan mereka distudio sewaan.
"Bagaimana dengan ONEWE?" Celetuk Giwook tiba-tiba saat mereka sedang beistirahat
"ONEWE?" Yonghoon bertanya kebingunga dengan penuturan random Giwook
Giwook mengangguk mantap "Nama band kita, ONEWE"
Dongmyeong berpikir sejenak, kemudian mengangguk-angguk "ONEWE… Bagus juga. Apa ada artinya?"
"Nde, ONEWE sendiri terbentuk dari gabungan kata 'We' yang Giwook ambil dari kalimat 'We Shine on You' dan 'One' yang berarti satu. Jadi artinya ONEWE adalah Kami akan menyinari dunia dengan kemampuan kami dan membuat semuanya bersatu dengan musik kami. Maksud Wookie, kita akan bersatu untuk seterusnya"
Semua member tersenyum dan ada yang tertawa kecil, dengan pemikiran Giwook yang sederhana. Maklum, Giwook adalah yang termuda. Bisa dibilang maknae, tentu saja masih ada tingkah sederhana dan kekanakan dari dirinya.
Giwook mempoutkan bibirnya kesal, kenapa mereka tertawa? Apa nama yang diberikannya tidak bagus?"Waeyo? Apa nama yang Wookie berikan itu tidak bagus?"
Yonghoon menggeleng masih dengan tawa kecilnya "Aniya… itu nama yang bagus Kie-ya. Hyung setuju dengan nama itu, yang lucu adalah pemikiranmu yang sederhana" Giwook menaikkan sebelah alisnya kebingungan, bagaimana bisa pemikiran sederhananya menjadi bahan tawaan? Dia tidak begitu paham
"ONEWE… Nama yang bagus, Myeong setuju dengan nama ini. Kalau yang lain?"
Semua member mengangguk setuju, ONEWE akan menjadi nama band mereka. Dan akhirnya, ONEWE terbentuk dengan final. Ada Yonghoon sebagai vokalis dan ketua, karena Yonghoon yang pertama kali mengusulkan pembentukan band dan juga yang memiliki umur paling tua. Yonghoon dipilih sebagai ketua oleh anggota lain. Kemudian ada Ju Harin sebagai drummer, Kang Hyungu atau lebih suka dipanggil sebagai Kanghyun sebagai gitaris. Dongmyeong vokal dan keyboard, dan terakhir Giwook sebagai rapper dan basist. Giwook akhirnya memilih nama panggungnya sendiri sebagai Cya, karena Menurut studi numerologi, nama "Cya" mempunyai kepribadian Tingkat spiritual tinggi, intuitif, tercerahkan, idealis, pemimpi, dan Giwook merasa cocok dengan nama panggungnya itu.
Cukup lama ONEWE terbentuk dan sering ikut kompetisi Band, sampai bisa membawa banyak piala juara 1. ONEWE akhirnya cukup terkenal dikalangan Band. Karena memiliki 2 vokalis, ditambah 1 rapper yang masih cukup muda. ONEWE memiliki ciri khas tersendiri dalam setiap lagunya, yang berhasil membuat para penonton tertarik disetiap penampilan mereka. Lagipula, semua membernya memang sangat tampan, siapa yang tidak akan tersepona dengan semua visual band ini.
Giwook dan Dongmyeong yang notabene masih kelas 1 SMP, memang cukup kewalahan dengan jadwal tampil yang cukup padat ditambah dengan kegiatan sekolahnya. Giwook yang ikut kompetisi Sains juga sangat kelelahan. Tapi, Giwook dan Dongmyeong mengakui tampil bersama ONEWE adalah hal yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Semua rasa lelahnya terbayarkan saat semua penonton dan fans saling bersorak ria meneriakkan nama mereka saat manggung.
Karena ONEWE yang cukup sukses dalam penampilan bandnya, Yonghoon mengajak Giwook untuk membeli bassnya sendiri. Karena selama ini, Giwook tampil dengan bass bawaan promotor. Berbeda dengan Kanghyun yang sudah memiliki gitar dari awal, dan juga Dongmyeong yang memang sedari awal sudah memiliki portable keyboard dari orang tuanya. Giwook tentu saja senang dengan ajakan itu, dirinya sangat bersemangat saat diajak pertama kali oleh Yonghoon.
Giwook melihat dengan baik dan seksama dengan semua bass yang dipajang ditoko, sementara Yonghoon juga melihat-lihat beberapa gitar yang menarik perhatiannya. Giwook langsung tertuju dengan sebuah bass berwarna biru gelap dengan sedikit glitter bintang menghiasi bodi bass. Giwook terdiam sesaat dan menyentuhnya perlahan. Yonghoon memperhatikan Giwook yang seperti mematung memegang bass pilihannya, didekatinya Giwook dan melihat bass yang sedang dipegangnya.
"Bass yang bagus, cocok untukmu Wookie"
"Benarkah?"
Yonghoon mengambil bassnya dan membawanya ketangan Giwook, Giwook tersenyum dan memainkan bassnya perlahan. Bassnya memang bagus, dan Giwok memang sudah sangat tertarik dari awal pertama melihatnya, ditambah dengan hiasan glitter bintang disetiap bodi bassnya. Yonghoon yang memperhatikan Giwook memainkan bassnya tersenyum, bass itu memang cocok untuk Giwook. Seakan memang bass itu dibuat untuk Giwook. Yonghoon tanpa sadar mendekat dan menggenggam tangan Giwook yang sedang memainkan bass, Giwook yang terkejut menatap bola mata Yonghoon yang menatapnya dengan intens. Wajah Giwook memerah diperlakukan seperti itu, dan Yonghoon segera tersadar dari perlakuannya. Dengan sedikit canggung Yonghoon melepas genggamannya dan berdehem pelan.
"Pakai itu saat kita tampil nanti arraseo?" Yonghoon berujar memecah keheningan, sementara Giwook menganngguk dengan wajah yang sangat merah, tapi masih dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya, dan Yonghoon memang tidak akan pernah bosan dengan senyuman Giwook yang manis.
Bahkan bintang dalam jarak yang begitu jauh
Memantulkanku dengan begitu terang
Satu, kututup mataku
Dua, kumulai berharap
Tiga, kuharap menjadi segalanya bagimu
Yonghoon menatap kembali bintang diatasnya dan tersenyum miris, kemudian berjalan masuk tanpa menutup kembali pintu balkonnya membiarkan angin malam yang begitu dingin masuk ke dalam apartemennya. Perhatian Yonghoon tertuju ke bass biru yang tersimpan rapih disamping gitarnya, diambilnya bass itu dan memainkannya perlahan. Suara bassnya masih terasa sama saat terakhir kalinya Giwook memainkannya. Yonghoon memainkan sebuah lagu yang pernah dibuatkan Giwook untuknya. Sambil bernyanyi dengan pelan, dan memainkan bass dengan lembut. Padahal lagu yang dibuatkan Giwook untuknya bernada ceria, dulu saat masih tampil dengan ONEWE, Yonghoon adalah yang paling bersemangat dalam menyanyikan lagu ini. Karena Yonghoon merasakan semua perasaaan Giwook dalam lagu yang ditulisnya, dari setiap nada yang ada hingga lirik yang dibuatnya sepenuh hati. VERONICA. Lagu yang Giwook buat untuk Yonghoon.
Giwook memberikan lagu buatannya ke Yonghoon. Saat ini, mereka ada di dalam kamar berdua, bertukar inspirasi seperti biasa dalam pembuatan lagu. Dimalam yang sunyi, disaat kedua orang tua mereka tertidur. Yonghoon dan Giwook masih terbangun untuk mencari ide baru. Sekarang, Yonghoon sesekali akan pulang kalau sedang ingin membuat lagu bersama Giwook atau membutuhkan bantuan appanya dalam lagu bandnya.
Yonghoon membaca setiap lirik yang dibuat Giwook, lirik yang sangat romantis. Terlihat sekali kalau Giwook membuatnya dalam keadaan sedang jatuh cinta dan hati yang berbunga. Yonghoon menatap Giwook yang malu-malu, maknae ONEWE sudah besar ternyata sampai bisa membuat lirik yang begitu romantis ini.
"Uri Wookie sudah besar eoh? Kkkk lirik yang indah, hyung suka. Siapa yang membuat Wookie jatuh cinta seperti ini?"
"Hyung…." Lirih Giwook pelan, dan ucapan Giwook tidak terdengar dipendengaran Yonghoon
"Ya? Wookie mengatakan sesuatu?"
"Hyung.. Yonghoon hyung yang membuat Wookie jatuh cinta"
Pernyataan tiba-tiba Giwook membuat jantung Yonghoon berdebar kencang, dan juga Giwook yang tak kalah berdebarnya. Semuanya diam, tidak ada yang bersuara. Yang ada hanyalah kesunyian malam. Hingga akhirnya Yonghoon menarik Giwook mendekat, dan menciumnya. Mencium Giwook tepat dibibirnya. Giwook awalnya terkejut, tapi mulai mengikuti saat Yonghoon mulai memberikan lumatan-lumatan yang memabukkan. Giwook mendekap lebih erat Yonghoon, sementara Yonghoon menekan tengkuk Giwook untuk memperdalam ciuman. Lumatan berubah menjadi hisapan, hanya ada suara bibir yang saling tertaut dan bintang-bintang yang menjadi saksi betapa mereka saling menyukai sejak lama. Giwook sedikit meronta saat dirasa oksigennya sudah hampir habis, kalau bukan karena dorongan Giwook dari tubuhnya, Yonghoon yakin masih bisa merasakan lebih lama lagi bibir manis Giwook. Saliva tertaut dari ciuman panas yang mereka buat, satu kecupan terakhir Yonghoon berikan untuk Giwook sebelum akhirnya tersenyum dan menempelkan dahi mereka bersamaan.
"Sejak kapan Wookie?" Yonghoon bertanya ambigu, tapi Giwook bisa menangkap maksud pertanyaan Yonghoon
"Sejujurnya Wookie tidak tau sejak kapan menyukai hyung, yang jelas setiap bersama hyung, jantungku berdebar dan aku merasa gelisah setiap Hyung tidak ada disisi Wookie. Disitulah akhirnya aku yakin, Wookie sudah jatuh cinta dengan Yonghoon hyung"
Yonghoon menatap mata Giwook dalam, sementara Giwook walaupu malu-malu dengan pipi yang memerah masih bisa membalas tatapan mata Yonghoon dengan begitu lembut. Yonghoon membawa tangannya ke pipi Giwook dan mengelusnya pelan "Sejak pertama bertemu dengamu, hyung sudah jatuh cinta"
"Eh? Benarkah?" Giwook berseru kaget, kalau sejak pertama bertemu. Itu berarti Yonghoon sudah menyukainya sejak ia masih kecil
"Tentu saja benar Giwookie, sejak hyung melihatmu duduk di ayunan taman itu sendirian. Hyung sudah terpikat padamu, bocah manis yang begitu menawan sudah berhasik mendapatkan hati hyung yang sudah dewasa ini. Katakanlah hyung pedofil, kau masih SMP dan hyung sudah berada dibangku kuliah. Tapi, dari detik itu hingga saat ini, rasa cinta hyung padamu tidak pernah berubah. Hyung masih terus mencintaimu, dan menunggumu cukup dewasa untuk Hyung menyatakan cinta. Tapi, siapa sangka Wookie yang akan menyatakan duluan"
"Gomawo hyungie, sudah menemukanku saat itu. Sudah mau menyelamatkanku dan memberikan keluarga. Aku bersyukur dan bahagia bertemu hyung saat itu" setetes air mata turun dari pipi Giwook, Yonghoon mengusap air matanya dan menciumnya perlahan.
"Sekalipun kau ragu dengan perasaanmu suatu saat, hyung tidak akan pernah melepaskanmu Jin Giwook" didekapnya lebih erat Giwook dalam pelukannya dan Giwook juga membalas dekapan Yonghoon tak kalah eratnya, walau masih dengan air mata yang menetes
"Nde, Giwook juga tidak akan pernah melepaskan Hyung"
Malam itu, adalah bukti janji kisah cinta mereka. Diterangi cahaya bulan, dan disaksikan ribuan bintang dilangit. Kedua insan yang saling memendam lama perasaan mereka bersatu, tidak ada lagi keraguan dalam hati mereka, yang ada hanya keinginan untuk saling memiliki satu sama lain. Biarlah nanti apa yang akan dikatakan teman dan kedua orang tua mereka, yang penting untuk sekarang biarkan mereka menikmati momen ini untuk berdua saja. Hanya berdua.
Apakah perasaan yang sama yang kumiliki setiap hari, terasa berbeda jika aku bersamamu?
Saat aku mencapaimu dan mengejar rasi bintang
Sebuah takdir baru menyebar
Mengejar banyak bintang
Aku mengingatmu di langit malam
Yonghoon dan Giwook duduk bersama dibalkon apartemen menikmatai angin malam yang berhembus pelan sambil meminum coklat hangat yang Yonghoon buat. Yonghoon menatap langit yang bersih dan cerah dipenuhi bintang bersama Giwook, ditambah dengan hadirnya bulan purnama, hari ini terasa begitu sempurna bagi mereka.
Sudah hampir 3 tahun mereka menjalani hubungan. Kini Giwook dan Yonghoon tinggal bersama disebuah apartemen, kesuksesan mereka dalam band ONEWE berhasil meraih kejayaan sebesar ini. Hingga mereka bisa membiayai keperluan mereka sendiri tanpa adanya bantuan orang tua. Mereka masih merahasiakan hubungan ini dari orang tua, walau semua anggota band tau hubungan mereka dan mendukung sepenuhnya apapun yang terbaik untuk Yonghoon dan Giwook.
"Wookie, apa kau masih ingin pergi ke galaxy sana dan melihat bintang? Kau tidak melanjutkan olimpiade sainsmu saat SMP. Sekarang kau sudah SMA, apa kau masih ingin meraih mimpimu itu?"
Giwook menyesap pelan coklat hangatnya, kemudian menyenderkan kepalanya ke bahu Yonghoon dan menatap langit "Untuk sekarang, aku masih mau berada disisi hyung dan tampil bersama dengan ONEWE. Karena Yonghoon hyung adalah galaxy Wookie"
"Kkkk… siapa yang mengajarimu menggombal seperti ini Wookie-ya?"
"Hmmm molla~~ Harin hyung mungkin"
Mereka tertawa lepas, momen seperti inilah yang mereka nikmati bersama. Bercanda tawa bersama, melihat bintang disetiap malamnya dan berbagi kehangatan berdua. Yonghoon tidak memperlukan apapun lagi selama Giwook disampingnya. Begitu pula dengan Giwook.
Malam semakin dingin, Giwook dan Yonghoon memutuskan untuk masuk ke dalam apartemen. Giwook ingin membuat segelas coklat hangat lagi karena tubuhnya terasa begitu dingin, terlalu banyak angin malam memang tidak baik. Tapi, sebuah pelukan dan kecupan ringan dilehernya membatalkan niatnya.
"Hyung.. mau coklat lagi?"
"Ani.. hyung hanya mau melihatmu. Kau buat saja coklat hangatnya sendiri Wookie"
"Uuhh.. Bagaimana bisa aku membuatnya saat hyung menciumi tubuhku sedari tadi"
Yonghoon terkekeh, dan membalik tubuh Giwook untuk berhadapan dengannya. Dinaikkannya tubuh Giwook diatas counter dapur kemudian menciumnya. Ciuman yang terasa begitu intens, liar dan panas. Sudah lama menjalani hubungan, Giwook bukanlah seorang bocah polos yang tidak bisa mengimbangi permainan Yonghoon. Giwook juga membalas ciuman Yonghoon tak kalah panasnya, saling menghisap bibir dan bertaut lidah hingga saliva mereka tertukar. Yonghoon melepas ciumannya dan melihat Giwook dengan tatapan sayunya, masih mendekap erat Giwook seakan masih ingin lebih.
"Ur lips tastes like a chocolate"
Giwook tersenyum jail, dan mencubit pelan hidung Yonghoon "Hyung mau rasa rasa coklat lagi?"
Giwook mengambil coklat batang yang terletak tak jauh darinya, cemilan yang biasa Giwook simpan dikala lapar tengah malam melanda. Dipatahkannya 1 bar coklat dan digigitnya digigi tidak sepenuhnya memakan coklatnya. Dengan seduktif Giwook mencium bibir Yonghoon lagi, yang masih ada coklat dalam giginya. Yonghoon merasakan manisnya coklat berpadu dengan bibir Giwook yang tak kalah menggoda. Yonghoon dan Giwook saling menghisap dan menjilat dalam ciumannya, saling merebut coklat yang manis dalam bibir masing-masing. Hingga coklatnya habis meleleh dalam mulut dan ditelan oleh mereka berdua.
Yonghoon tersenyum ria saat tau Giwook bisa seinisiatif ini "Siapa yang mengajari maknae ONEWE menjadi sepert ini hm?"
Giwook mendekat dan mendekap Yonghoon erat, mendekat ke telinga Yonghoon dan menggigitnya sensual "Mungkin Wookie hanya terlalu hebat dalam menggoda hyung"
Dan batas kewarasan Yonghoon putus seketika saat Giwook berbisik ditelinganya. Yonghoon menggedong Giwook dan membawanya ke dalam kamar. Menidurkan Giwook diranjang empuk mereka selagi dia membuka baju dan dan celananya. Giwook tersenyum miring saat tau Yonghoon terlihat begitu tidak sabaran. Yah… memang sudah dari awal Giwook merencanakn menggoda Yonghoon
Yonghoon membuka kaos Giwook dan mulai menjilati lehernya, Giwook mengerang tertahan saat dirasakan sentuhan Yonghoon begitu memabukkan untuk dirinya. Apalagi sekarang Yonghoon dengan rakus menghisap nipplenya, sembari memainkan sebelah nipplenya dengan tangan lainya. Spot sensitifnya dipermainkan dengan sedemikian rupa hingga tanpa sadar Yonghoon sudah membuka celana Giwook dan memainkan kejantanannya diantara kedua pahanya itu.
"Eunghh… Hyung… hhh.. I cant" Giwook menggigit bibirnya saat semua titik sensitif ditubuhnya dikuasi oleh Yonghoon, kepalanya terlalu pening menerima segala kenikmatan yang Yonghoon berikan
"U like it? How about here?" Yonghoon memasukkan sekaligus kedua jarinya ke dalam lubang analnya, yang sukses membuat Giwook menjerit kesakitan. Yonghoon tidak memakai pelumas atau sesuatu yang licin untuk membahasi holenya, dan itu terasa sangat perih.
"Hyung akh… ssh.. kenapa tidak memakai pelumas eoh? Ini sakit"
"Hyung tau kau akan tetap menikmatinya Wookie"
"Apa yang –AKH!" Jari Yonghoon mengenai titik ternikmat Giwook dan membuat Giwook mencengkram seprei kuat-kuat, rasa sakit dan nikmat bercampur satu. Giwook menangis tanpa sadar. Entah menangis karena rasa sakit atau hal lainnya, Giwook sendiri tidak yakin. Sementara Yonghoon sudah mulai memasukkan 3 jarinya ke dalam Giwook, sambil terus memaju mundurkan jarinya jauh ke dalam Hole Giwook. Yonghoon sudah hafal betul semua tentang tubuh Giwook, karena itu dia sudah tidak ragu lagi apa yang akan dilakukannya.
"Hhh.. Hyung.. Hyung eunghhh Wookie.. Wookiee hhh.."
Giwook sudah tidak sanggup berbicara, sementara Yonghoon yang sudah paham dengan maksudnya mulai memegang junior Giwook sambil mengurutnya pelan, masih dengan jari yang bermain dalam Hole Giwook. Giwook yang menerima 2 rangsangan sekaligus menahan tangan Yonghoon walau percuma, tubuhnya terasa tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikan semuanya
"ahh.. ahh.. Hyungie.. Jangan semuanya.. AKH!" Cairan putih kental keluar dari junior Giwook membasahi tangan Yonghoon selagi Giwook terengah mengatur nafas. Yonghoon menjilat seduktif cairan Giwook, sementara Giwook membelalakan mata reflek duduk menahan perlakuan Yonghoon
"Apa yang hyung lakukan? Itu kotor"
"Ini tidak kotor Wookie, ini terasa manis sama sepertimu"
Giwook yang mendengarnya malu sampai terasa ke ubun-ubun. Wajahnya memerah seperti tomat matang sampai telinga, sementara Yonghoon tertawa sambil mengecup pelan bibir Giwook
"Ur so cute and adorable Jin Giwook, I love u so much my love"
"I love u more, Yonghoon hyung"
Yonghoon mendekap erat, dan mencium bibir Giwook selagi mempersiapnya juniornya dihole Giwook. Giwook yang merasakan junior Yonghoon mulai masuk, reflek melepaskan ciumannya dan mendekap lebih kuat Yonghoon, walau sudah melakukannya berkali-kali, tetap saja Giwook masih belum terbiasa.
"Pelan hyungie.. ughh.. appo.."
"Hhh… Mian Giwook, hyung sudah mencapai batasnya" Dalam satu hentakan, Yonghoon memasukkan juniornya dalam hole Giwook. Giwook tentu saja reflek menjerit kesakitan dan mengigit pundak Yonghoon tanpa sengaja, juga cengkeraman Giwook dalam pundak Yonghoon membuatnya punggung Yonghoon terluka karena kuku Giwook yang mencakar cukup dalam
"Hiks… uuhh.. Appo.. Hyung.. hh.. mmhh"
"Ssshh.. Gwenchana… rasa sakitnya akan segera berkurang Wookie"
Yonghoon menidurkan kembali Giwook sambil mengenggam tangannya diatas kasur, Yonghoon mulai bergerak perlahan dan Giwook memejamkan mata menahan rasa sakit yang tersisa. Saat Yonghoon mulai bergerak cepat, Giwook pun mulai bisa menerima dan memohon lebih ke Yonghoon.
"Yonghoon hyung more… Ahhh ahhh Eunghh Hyungg"
"Giwook-ya ur so adorable" Yonghoon berbisik ke telinga Giwook dan menjilat telinganya pelan. Giwook reflek memalingkan telinganya karena geli, dia sedikit sensitif dibagian telinga. Yonghoon memegang pinggul Giwook dan mulai menggenjotnya dengan cepat. Giwook, meremas seprai dengan kuat, kepalanya terasa pening menerima kenikmatan dari Yonghoon
"Hyungg ahhh ahhh hhh more.. more.. deeper Hyungg nghhh"
"Ahh uhhh Giwookhh"
"Hyunggg.. akh.. Wookie hhh hhh Mmmhh"
Yonghoon mulai mempercepat tempo hingga mereka mencapai klimaks bersama, Yonghoon menimpa badan Giwook dan saling mengatur nafas bersama. Giwook melihat jam disamping meja menunjukkan jam 3 pagi lewat 15 menit. Mereka sepertinya akan kena tegur member nanti pagi.
"Yonghoon hyung…" panggil Giwook dengan suara serak. Oh tidak, bahkan suaranya berubah serak
"Mmmm?" Yonghoon bangun sedikit dan menatap Giwook sembari memberi sedikit kecupan dibibir
"Hyung belum melepaskan junior hyung" Giwook berujar malu-malu sementara Yonghoon tersenyum cengegesan. Dilepaskannya junior dari hole Giwook, sementara Giwook merintih sedikit kesakitan dan baru dirasakannya ada cairan mengalir dari holenya. Seketika Giwook melotot kepada Yonghoon yang terlihat tidak berdosa.
"Hyung tidak pakai kondom?!"
"Eh ya… tanggung ehehehe"
"Apa-apaan tanggung yak! Gimana nanti Wookie membersihkannya! Hyungie pabo! Pabo!" Giwook memukul-mukul tangan Yonghoon dan Yonghoon mengeluh ampun karena pukulan Giwook tidak main-main
"Nde nde nde, nanti pagi hyung akan membantu Wookie membersihkan diri" Giwook masih memberikan tatapan mautnya ke Yonghoon, Yongghoon menghela napas pasrah saat sudah ditatap seperti itu oleh Giwook. "Hyung janji Cuma bantu membersihkan diri"
"Awas kalau bohong"
"Janji, hyung janji"
"Arraseo, Wookie ngantuk. Mau tidur, Yonghoon hyung peluk.."
Giwook merentangkan tangannya yang disambut dengan baik oleh Yonghoon hyung, didekapnya Giwook sambil sesekali mengelus kepala dan punggungnya, Giwook juga menyamankan posisinya ke dalam dekapan Yonghoon.
"Hyungie, nanti besok kita latihan pagi. Tapi Wookie lelah"
"Hyung akan undur latihannya nanti"
"Nanti hyungie dimarahin, member lain"
"Gak akan, hyung kan leader"
"Menyalah gunakan kekuasaan" Giwook memberikan pukulan main-main ke dada Yonghoon hyung, Yonghoon hanya tertawa karena perlakuan Giwook setelah itu mereka berdua mulai tertidur karena kelelalahan. Tidur dalam dengan tenang dan nyaman dalam pelukan masing-masing.
Dalam waktu yang aku tidak bisa pergi karenamu
Aku akan selalu berada disisimu
Meski untuk sejenak aku melepaskanmu, bintang-bintang ada ditanganku
Meski aku tersesat dalam sekejap mata, ada garis yang terbentang disetiap jalanku
Akan aku ikuti untuk mengetuk hatimu
Aku bersembunyi dan menahan nafas dalam kerinduanku
Pegang erat aku sehingga aku tidak bisa bernapas
Yonghoon mengeratkan syal Giwook karena sudah memasuki musim dingin. Hari ini adalah hari Senin dan Giwook juga Yonghoon harus berangkat untuk bersekolah. Sekolah Giwook tidaklah jauh, dari apartemen mereka tinggal, hanya berjalan 20 menit maka sudah sampai. Yonghoon tentunya sengaja membeli apartemen disekitar sekolah Giwook untuk mempermudah akses pulang pergi. Lagipula, apartemen ini cukup strategis, karena letak kampus Yonghoon juga tidak terlalu jauh. Berkendara selama 30 menit, maka sudah sampai.
"Kau yakin tidak ingin hyung antar saja? Cuacanya sangat dingin hari ini kalau berjalan kaki"
"Tidak apa, hyung kan ada kelas pagi. Wookie akan berjalan bersama teman seperti biasa"
"Rapatkan lagi mantelmu, nanti masuk angin" Yonghoon merapatkan mantel Giwook dan menresletingkannya dan sekali lagi merapihkan pakaian Giwook memastikannya sudah hangat
"Hati-hati, ingat jalanan sudah mulai licin. Jangan berlarian"
Giwook mencium pipi Yonghoon sebelum keluar dari pintu apartemen dan memberikan senyuman lebarnya "Arraseo Hyungie, Wookie bukan anak kecil lagi. Hyung semangat kuliahnya, jalja~" Giwook melambaikan tangan sebelum akhirnya pintu apartemen tertutup dengan rapat. Yonghoon menggelengkan kepala tapi masih dengan senyum di wajahnya, kemudian Yonghoon bersiap diri untuk kelas paginya dikampus.
Siapa sangka Kelas Yonghoon bisa selesai sebelum waktu Giwook pulang sekolah, Yonghoon memutuskan untuk menjemputnya disekolah kemudian pulang bersama. Cuaca sudah mulai sangat dingin, dan Yonghoon yakini bisa saja turun salju hari ini. Dengan kecepatan sedang, Yonghoon membawa mobilnya menuju sekolah Giwook dan memarkirkannya diseberang jalan. Giwook bisa melihat beberapa siswa dan siswi mulai berhamburan keluar gerbang sekolah. Tapi, Giwook belum terlihat dipandangannya. Yonghoon menunggu sekitar 10 menit disamping mobil dan akhirnya melihat Giwook yang berjalan pelan sendirian keluar dari gerbang sekolah. Yonghoon berteriak memanggil Giwook dan Giwook langsung tersadar dengan panggilan Yonghoon diujung jalan.
Giwook baru saja ingin menyebrang menuju Yonghoon sebelum akhirnya ada sebuah mobil berkecepatan tinggi menabraknya hingga terpental sejauh 5 meter ke depan jalan. Kejadian itu begitu cepat sampai Yonghoon tidak menyangka, apa yang sebenarnya terjadi didepan matanya ini.
"GIWOOK!"
Teriakan Yonghoon bergema, dan Yonghon berlari secepatnya menuju Giwook yang terkapar ditengah jalan. Dipeluknya tubuh Giwook yang mulai mengeluarkan darah segar dari kepala, matanya terpejam dan darah segar juga mulai keluar dari hidung dan mulutnya.
"Giwookie! Wookie! Ya! Ireona!"
Yonghoon berteriak panik, dan orang-orang sekitar mulai ribut karena telah terjadi sebuah kecelakaan. Beberapa orang sudah memanggil ambulans, dan menahan pengendara mobil yang ingin kabur.
"Wookie ireonaaa! Ireona! Ya! Wookie-ya!" Yonghoon berkata putus asa dan menepuk-nepuk pelan pipi Giwook yang nafasnya sudah mulai terasa berat. Salju mulai turun membasahi bumi bertepatan dengan Giwook yang membuka matanya dengan berat menatap Yonghoon.
"Hyungie…." Giwook berujar lirih, terasa tidak sanggup bahkan hanya untuk berbicara sedikit saja
"Wookie… Jangan bicara.. Wookie akan baik-baik saja, semuanya akan baik-baik saja" Yonghoon mulai menangis, bisa dirasakannya nafas Giwook yang mulai pendek dan detak jantungnya yang terasa melemah dalam pelukannya.
"Sakit… Dingin.. Hyung… Salju.."
"Nde.. Nde… Sekarang turun salju.." Yonghoon menggenggam erat tangan Giwook, air matanya sudah tidak bisa tertahankan lagi, Yonghoon sudah tau kemungkinan buruk yang terjadi.
"Salju.. Uhuk! Tidak…. Bisa.. Melihat.. Bintang… Terhalang… Salju… Hyung…"
"Wookie.. sudah.. jangan banyak bicara… Semua akan baik-baik saja.."
"Mian.. Hyung… Wookie.. Mengantuk.. Hyung.. Yonghoon Hyung.. Sarangha..e…"
Hembusan nafas terakhir terasa tepat saat Giwook berucap kata cinta, matanya langsung tertutup dan tubuhnya terkulai pasrah dalam pelukan Yonghoon. Yonghoon menangis histeris memeluk Giwook, memanggil namanya berulang kali dan berteriak putus asa. Tapi, tidak ada yang bisa dia lakukan.
Jin Giwook, orang yang dicintainya…
Tidak akan pernah kembali….
Saat segalanya tentang kita berubah
Saat aku ditinggalkan di dunia yang mulai berubah ini
Akan kuukir kau dikedua mataku
Pertemuan setelah penantian yang lama
Cinta di alam semesta yang diizinkan untuk kita
Seperti sebuah kebetulan, aku berjanji padamu tentang takdirku
Kita menuju ke waktu yang sama
Yonghoon berhenti memainkan bass Giwook, dan menatap sekitar sendu. Kehadirannya seakan masih terus terasa, padahal kepergiannya sudah 2 tahun lamanya. Yonghoon menaruh kembali bass Giwook dengan baik dan mengambil catatan musiknya dilemari buku, mulai mencatat semua lirik yang tersimpan diotaknya.
Setelah kepergian Giwook, Yonghoon hancur. Dirinya hanya seperti seseorang tanpa jiwa. Hidup dan bekerja layaknya robot. Tepat, saat pemakaman Giwook selesai. Yonghoon berkata jujur kepada orang tuanya, semuanya tentang hubungan yang dia sembunyikan bersama Giwook. Orang tuanya memang kaget, tapi mereka tidak marah. Tidak memaki, dan juga tidak mengusir Yonghoon. Mereka memeluknya, memeluk Yonghoon dengan sangat erat dan menyuruh Yonghoon belajar merelakan Giwook. Yonghoon kembali menangis sekencangnya. Seandainya kalau memang orang tuanya menerima keadaan mereka dari awal. Yonghoon akan berkata terus terang, dan Giwook akan tersenyum bersama mereka.
Seandainya waktu bisa diulang kembali, sebentar saja. Yonghoon ingin mengubah semuanya dihari itu. Yonghoon yang akan pergi menyebrang menyusul Giwook, atau Yonghoon akan memarkirkan mobilnya di depan gerbang sekolah. Seandainya bisa, Yonghoon berdoa setiap malam. Hanya sekali, sekali saja Yonghoon ingin kembali diwaktu Giwook masih hidup dan memberikan senyuman lebarnya kepada Yonghoon. Satu menit, ah tidak sepuluh detik pun tak apa. Yonghoon hanya ingin melihat senyum manisnya.
Yonghoon memang berusaha menjalankan hidupnya setelah kepergian Giwook. Kuliah, tetap berusaha tampil bersama ONEWE setelah vakum selama hampir 6 bulan karena Meninggalnya Giwook. Harin tidak pernah memaksakan ONEWE untuk kembali tampil melihat kondisi Yonghoon yang terlihat sangat terpuruk. Member lain pun setuju dengan Harin. Tapi Yonghoon bersikeras untuk ONEWE kembali tampil, untuk menghormati Giwook dan Yonghoon tidak ingin terus terjebak dalam masa lalunya bersama Giwook. Yonghoon tidak ingin membuat Giwook bersedih disana. Walau faktanya, dia memang masih terus terjebak dalam masa lalu.
Teman-temannya yang lain, ONEWE, juga orang tuanya tahu selama ini Yonghoon hanya memaksakan dirinya untuk bahagia tanpa Giwook. Yonghoon masih belum menerima walau sudah 2 tahun lamanya. Mungkin, untuk orang-orang yang tidak mengenal Yonghoon. Ia akan terlihat sudah ceria dan melupakan hal sedihnya dimasa lalu, walau sebenarnya Yonghoon hanya berpura-pura. Agar semuanya tidak harus memperhatikan dirinya, tidak mengkhwatirkan dirinya. Hingga saat waktunya tepat, Yonghoon memutuskan untuk pergi.
Yonghoon selesai menulis catatan liriknya, menatap datar sesaat lirik dihadapannya. Kemudian, tersenyum tipis. Lagu ini akan menjadi lagu terakhir yang dibuatnya, ah tidak lebih tepatnya lirik terakhir yang Yonghoon buat. Yonghoon yakin ONEWE bisa membawakan lirik ini menjadi sebuah lagu yang bagus. Yonghoon mengetik sesuatu diponselnya kemudian berjalan menuju dapur setelah mematikan ponselnya. Yonghoon mengambil sebuah botol bening kecil yang tidak berlabel diatas lemari dapur. Sudah lama Yonghoon menyimpannya disana, mungkin ini sudah waktunya dia menggunakannya. Ditatapnya lama botol kecil dalam genggamannya dan tersenyum. Tersenyum tulus dari hatinya. Yonghoon bisa bertemu dengan Giwook akhirnya.
"Wookie-ya.. Hyung datang"
Tanpa keraguan diminumnya cairan dalam botol itu, dan seketika Yonghoon terjatuh dengan batuk darah. Ditahannya batuk yang keluar dari kerongkongannya, walau percuma. Darah keluar dari mulut Yonghoon dan Yonghoon sudah terkapar didapur. Samar-samar Yonghoon melihat seseorang datang, Yonghoon ingin memfokuskan pandangannya tapi tidak bisa. Hingga saat seseorang itu mendekat. Yonghoon bisa melihat Giwook yang menangis dihadapannya, terlihat sangat sedih.
"Wookie-ya… jangan menangis…." Yonghoon berusaha meraih Giwook tapi tidak bisa dicapainya "Hyung… Da..tang… Menyu..sul..mu.. Wo..kie…" Tepat saat itu, tangan Yonghoon terjatuh kelantai, dan Yonghoon menutup matanya dengan tenang. Nafasnya sudah tidak berjalan begitu juga dengan jantungnya yang berhenti berdetak.
Harin berkali-kali menekan tombol bel dihadapannya ini, semalam Yonghoon mengabarinya kalau dia baru saja selesai membuat lirik baru. Sudah lama Yonghoon tidak membuat lirik baru, setelah kematian Giwook. Akhirnya selama ini, yang mengaransemen lagu adalah Harin dan Kanghyun. Yonghoon tetap memberikan ide dan membantu untuk pembuatan lagu.
Pintu tetap saja tidak terbuka, Harin kebingungan. Tidak biasanya Yonghoon tidak datang membuka pintu, apa dia tidak dirumah? Tapi Yonghoon yang mengabari Harin untuk datang. Harin berusaha menghubungi ponselnya tapi tidak aktif, aneh sekali. Tiba-tiba saja Dongmyeong dan Kanghyun datang disaat Harin dilanda kebingungan karena Yonghoon yang tidak ada kabar.
"Harin hyung waeyo? Kok ada disini?" Tanya Dongmyeong kebingungan melihat Harin yang sudah berdiri didepan pintu apartemen Yonghoon. Kalau tahu Harin datang kesini, Dongmyeong akan memutuskan berangkat bersama karena biasanya Harin membawa motor.
"Kalian juga kenapa ada disini?"
"Yonghoon hyung menghubungi kami, katanya kita disuruh datang karena Yonghoon Hyung membuat lirik baru"
Harin mengenyitkan alis bingung, ternyata bukan hanya dia saja yang dihubungi Yonghoon, tapi seluruh anggota ONEWE, Harin merasa ada yang tidak beres disini.
"Yonghoon hyung tidak bisa dihubungi, apa kalian juga bisa menghubunginya" Tanya Harin, dan mereka berdua menggeleng bersamaan.
Merasa ada yang aneh, Harin menyuruh Dongmyeong mencari keamanan apartemen untuk membuka pintu. Yonghoon tidak biasanya tidak bisa dihubungi seperti ini, pasti terjadi sesuatu pikir Harin. Keamanan datang bersama Yonghoon dan membawa alat untuk menghancurkan pintu apartemen, dikarenakan pintunya menggunakan teknologi kode dan sidik jari.
Setelah pintu bisa terbuka, mereka semua masuk ke dalam. Di dalam terasa sepi, apa Yonghoon keluar? Dongmyeong menemukan catatan lagu Yonghoon yang tergelatak dimeja bersebelahan dengan ponselnya. ONEWE membaca lirik itu secara bersama, lirik lagunya berjudul '별 (STAR)' dan terasa sangat sedih disetiap baitnya. Dongmyeong bahkan hampir menangis saat membaca liriknya. Liriknya begitu indah dan juga sangat sedih disaat bersamaan. Ada sebuah pesan dibawah lirik, ditulis oleh Yonghoon
Ini lirik terakhir yang bisa hyung buat
ONEWE tolong bawakan dengan indah lirik yang sudah hyung tulis
Hyung juga menulis beberapa lirik lain dibuku ini, bawakan juga beberapa lagu lainnya.
Hyung percaya pada kalian ONEWE
Maafkan hyung…..
Belum bisa menjadi sosok ketua yang baik untuk kalian
Bisa bersama dan tampil dengan kalian bagaikan mimpi
Sayangnya, hyung harus mengakhiri mimpi ini
Semua member terkejut dengan pesan yang Yonghoon berikan, bersamaan dengan itu petugas keamanaan memanggil mereka. Para member ONEWE mengikuti petugas keamanan yang telah menemukan Yonghoon terkapar dengan darah dimulutnya dan ada pecahan botol disekitar kakinya. Bunuh diri, iya itu sudah jelas terpampang di depan mata. Tapi, walapupun Yonghoon bunuh diri. Senyuman terpasang dengan jelas diwajanya, Yonghoon pergi dengan tenang dan tanpa penyesalan. Karena ingin menyusul kekasih tercintanya, Jin Giwook.
"Kini kalian sudah bersama… Yonghoon hyung.. Giwookie" Harin berujar sambil menangis dalam diam, member lain pun sama. Kisah cinta mereka memang tragis, tapi mungkin itulah bukti cinta sejati yang mereka buat.
Yonghoon berlari mengejar Giwook diujung jalan, Yonghoon tidak tau dia berada dimana. Tapi yang jelas, Giwook yang berlari didepannya harus dia kejar. "GIWOOK-YA!" Yonghoon berlari sekuat tenaga mengejar Giwook. Saat Yonghoon berhasil menggenggam tangannya, Yonghoon menarik Giwook dalam dekapannya dan memeluknya erat. Merasakan setiap eksistensi Giwook dalam dekapannya. Ini memang Giwook, ini Jin Giwook orang yang dicintainya.
"Kumohon jangan berlari lagi, jangan pernah pergi dari hadapan hyung lagi. Hyung tidak bisa kehilangamu Wookie, hyung bisa gila"
Giwook dalam pelukannya terkekeh, tapi membalas dekapan Yonghoon lembut dan mengelus kepalanya perlahan "Wookie disini hyungie. Aku tidak akan meninggalkan Hyung lagi"
Yonghoon melonggarkan pelukannya, dan menatap Giwook yang berada didepannya. Wajah Yonghoon mendekat dan mencium lembut bibir Giwook. Terasa manis seperti biasanya. Ini memang Giwooknya, seseorang yang selalu dicintainya selama ini. Giwook melepaskan ciumannya dan tersenyum, mengelus pelan surai Yonghoon kemudian berjalan sedikit menjauh dari Yonghoon. Yonghoon bermaksud mengejarnya lagi, tapi Giwook memberikan tangannya untuk diraih Yonghoon.
"Sekarang, Hyung tidak perlu takut lagi kehilangan Wookie. Kita akan terus berjalan beriringan bersama selamanya. Hyung akan terus bersama Wookie kan?"
Senyuman lembut itu, senyuman lebar yang selalu Yonghoon rindukan. Yonghoon meraih tangan Giwook dan menggenggamnya dengan erat. "Tentu saja. Hyung akan tetap terus mengikuti Wookie, kemanapun Wookie pergi"
"Saranghae Jin Yonghoon"
"Nado saranghae Jin Giwook"
Mereka berdua tersenyum kemudian berjalan beriringan sambil menggenggam tangan. Tak peduli apa yang berada didepan mereka, selama mereka bersama. Tak ada lagi yang mereka pedulikan. Ya, selama mereka terus bersama. Selamanya.
Dongmyeong dan member ONEWE lainnya beristirahat sejenak setelah konser mereka selesai. Setelah pemberitahuan kematian Yonghoon. ONEWE mengaransemen semua lirik lagu Yonghoon dan menjadikannya full album untuk mengenang Yonghoon dan Giwook. ONEWE memutuskan tidak akan mengganti posisi Yonghoon dan Giwook dalam band. ONEWE akan tetap melanjutkan band ini bertiga saja dengan Dongmyeong sebagai vokalis utama.
Dongmyeong mendengarkan lagi lagu yang telah dinyanyikannya. Lirik Yonghoon yang terakhir dibuatnya memang berhasil menjadi lagu hits. Karena itu kegiatan konser ini juga untuk mengenang sekaligus sebagai kegiatan amal Yonghoon dan Giwook. Dongmyeong menangis tanpa sadar. Lirik yang dibuat Yonghoon memang begitu dalam, ditambah dengan Aransemen yang dibuat oleh member ONEWE. Lagu ini terasa makin sedih. Dongmyeong tidak pernah berfikir kisah cinta Yonghoon dan Giwook adalah sebuah tragedi. Menurutnya mereka hanyalah berusaha menjalani kisah cinta abadi mereka. Yonghoon membutuhkan Giwook, begitu juga sebaliknya. Mereka ditakdirkan bersama, tidak bisa dipisahkan.
Dongmyeong menatap langit cerah yang penuh bintang, dilihatnya ada 2 bintang yang bersinar terang berdampingan. Kemudain Dongmyeoang tersenyum "Kalian sudah bersama sekarang. Yonghoon hyung, Giwookie. Semoga kalian selalu berbahagia"
Harin memanggil Dongmyeong dari kejauhan, van mereka sudah siap berangkat untuk menuju konser mereka yang selanjutnya. Dongmyeong mengusap air matanya dan berlari menuju mereka berdua. Memberikan senyuman terbaik untuk teman-temannya.
'kalian pasti sudah berbahagia bersama disana. Doakan ONEWE yang terbaik juga nde, Yonghoon hyung, Wookie. Kami akan berjuang untuk kalian juga' batin Dongmyeong bersemangat.
Cinta mereka bukanlah tragedi
Mereka dipertemukan dengan singkat
Saling jatuh cinta bersama dalam waktu yang terduga
Kebersamaan mereka mungkin terasa tidak lama
Kematian memang yang memutuskan mereka
Tapi kematian lain yang juga menyatukan mereka
Kini mereka berjalan bersama, bergandengan tangan, bahagia tanpa takut kehilangan
Menuju utopia menjelajah galaxy sesuai mimpi
Kemudian menjadi bintang dilangit yang paling terang
END
