BBB HANYA MILIK ANIMONSTA
SEMOGA TERHIBUR
Aroma makanan menganggu konsentrasinya. Kaizo bertanya-tanya jenis makanan apa yang aromanya mampu menyebar ke seluruh kabin pesawat luar angkasa? Berpaling dari layar komputernya, kakinya gatal untul menghampiri aroma itu.
Dapur pesawat angkasa, nyaris tidak pernah digunakan selain untuk menghangatkan air dan Meal Ready To Eat, jenis supply makanan militer yang terkadang tidak perlu diganggu gugat lagi dan bisa segera dimakan, penuh dengan kandungan nutrisi yang dipadatkan menjadi jenis makanan beraneka macam. Jenis makanan itulah yang menemani perjalanannya selama ini.
Siapa kiranya yang sibuk di dapur saat ini? Dan kenapa juga dia jauh-jauh memikirkannya. Hanya dua orang yang ada di pesawat saat ini. Hanya dia dan Private Fang.
Adiknya itu sama bodohnya dengan Kaizo sendiri jika sudah memasuki arena keahlian memasak. Ya, dari deretan keahliannya, Kaizo mengakui dia tidak memiliki skill yang memadai untuk mengolah makanan. Semenjak dia pernah secara tidak sengaja meracuni adiknya sendiri dengan masakan buatannya, Kaizo trauma mencoba memasak lagi.
Yaaa… salahnya sendiri juga kenapa belajar memasak dari Lahap, alien kotak ungu itu memiliki kondisi biologis yang berkebalikan dengan Alien dari planet Gogobugi, bahkan Kaizo mengakui alien jenis Lahap lebih langka keberadaannya dari jenis alien lain. Lahap membutuhkan makanan bertoxic agar dapat bertahan hidup, racun dan segala hal yang tidak dapat alien pada umumnya konsumsi adalah sajian buffet paling mewah baginya.
Dulu sekali, Maskmana bergurau kalau Lahap adalah Chef professional yang keahliannya dikenal seluruh antariksa, Kaizo yang masih polos mempercayainya tanpa pertanyaan, dia tidak menyadari kalau Maskmana saat itu sedang bersarkas ria. Masakan Lahap hanya lezat bagi Lahap dan alien sejenisnya. Alien lain jangan pernah coba-coba untuk mencicipi apa yang dibuatnya jika masih sayang nyawa.
Kaizo mematikan layar komputernya. Jika diingat-ingat dia belum makan apapun sejak pagi ini. Hanya kopi hitam yang menahan rasa laparnya. Menahan lapar bukan hal jarang di kehidupan Kaizo, sebagai mantan pelarian perang, dan prajurit di arena perang, rasa lapar juga merupakan teman lama. Namun dia tahu mengkondisikan segalanya, tubuhnya sadar kalau dia bisa relaks sejenak saat ini, menahan lapar di saat tidak ada ancama berada dalam radius dekat merupakan kebodohan.
Menuruti keinginan tubuhnya, aroma itu mengarahkannya menuju dapur pesawat angkasa. Aromanya semakin kuat saat Kaizo berdiri di luar pintu dapur, membuat perutnya berkerucuk ria.
Memasuki ruang dapur, dia menemukan adiknya tengah berdiri membelakangi, adiknya terlihat sibuk memotong sesuatu. Sebuah panci besar berdiri di atas kompor, uap yang keluar dari panci itu mengeluarkan aroma menyenangkan. Di meja makan, Kaizo melihat dua piring sudah disiapkan, tidak jauh dari kedua piring itu, duduk sebuah alat masak bulat yang tidak pernah Kaizo lihat sebelumnya mengeluarkan uap lain.
"Ini Kare," ucap adiknya, sudah menyadari kedatangan Kaizo tanpa melihat.
Kaizo hanya mengangguk, tidak tahu jenis makanan apa itu, pastinya sesuatu yang Fang pelajari dari Bumi. Adiknya banyak membawa kebiasaan baru setelah Kaizo mengirimnya untuk melakukan misi ke bumi, selama kebiasaan baru itu tidak melukai Fang maka Kaizo tidak keberatan, se absurd apapun kebiasaan baru itu.
Mengecek isi panci, pemandangan Kaizo disambut dengan cairan mirip lumpur, cairan kecoklatan kental dengan berbagai jenis bahan makanan, mungkin sayur dan daging. Sedangkan adiknya tengah memotong bahan makanan yang Kaizo tahu adalah bawang bombai.
"Sebentar lagi jadi, duduklah duluan." Fang memasukkan bawang bombai ke dalam panci, mengecilkan apinya, membiarkan masakan itu dimasak dalam api kecil.
"Kau belajar dari mana?" tanya Kaizo sembari duduk di meja makan, sedikit gugup karena kali ini adalah perdana mencicipi masakan adiknya, Fang sering membawa oleh-oleh dari Bumi dan rasanya cukup cocok di lidah Kaizo. Makanan selingan yang menyenangkan di banding supply makanan militer yang menunya notabene itu-itu saja.
"Internet." Jawab Fang seraya membersihkan konter dapur, "Mudah kok, bumbunya sudah instant, aku hanya perlu merebus sayur dan daging."
Dari aromanya cukup meyakinkan kalau masakan Fang tidak akan berakhir seperti masakan yang dibuat Kaizo terakhir kali. Kaizo percaya dimana ada kemauan pasti ada jalan, usaha seseorang untuk memperlajari sesuatu tidak akan sia-sia, adiknya entah punya bakat atau tidak dalam arena masak memasak, Kaizo juga tidak dapat memastikannya, tapi melihat usaha adiknya, Kaizo seakan tahu Kare ini pasti bisa dimakan.
Apa bakat memasak mengalir dalam keluarga mereka? Apa ada seseorang dalam keluarga mereka yang menginjak karir sebagai koki? Seingat Kaizo, mendiang orangtuanya dan kerabat yang lain hanya tertarik dengan dunia politik dan bisnis, seorang mendiang sepupu mereka menginjaki dunia medis, namun dunia koki dan seni seolah haram di keluarga mereka.
Kaizo tidak yakin apakah Fang ingat, tapi keluarga mereka dulu sangat terpandang. Mereka memiliki banyak pelayan di rumah untuk mengurusi rumah mereka yang megah bak istana. Orangtua mereka bukan lain lagi adalah pasangan dari keluarga terpandang yang dijodohkan demi memperkuat kekuatan. Namun begitu, Kaizo tahu orangtua mereka saling mencintai biar pun pada awal masa percintaan mereka mungkin sangat rumit.
Ibunya tidak pernah memasak dikarenakan kesibukkannya, mereka juga memiliki koki di rumah jadi tidak perlu mengkhawatirkan tentang makanan akan tersaji atau tidak di meja makan. Namun terkadang, saat Ibunya memiliki waktu luang yang terbilang cukup langka, Kaizo kerap melihat Ibunya membuat cemilan seperti cake lobak merah dan donat lobak merah, dua makanan yang paling digemari Kaizo dan Fang saat mereka masih berada dalam dekapan orangtua mereka dulu. Hingga kini pun, makanan itu masih menjadi makanan favorit mereka, namun tidak pernah ada restoran atau toko manapun yang dapat menyaingi kelezatan cake ataupun donat lobak merah buatan mendiang Ibunda mereka.
Pasca bencana yang meluluh lantahkan planet mereka. Kaizo dan Fang diadopsi oleh Maskmana, mereka dipertemukan dengan Lahap tidak lama setelah itu. Menyalahpahami sarkas Maskmana tentang keahlian Lahap, Kaizo meminta Lahap untuk mengajarinya cara membuat donat lobak merah. Kaizo ingin membuatnya demi Fang waktu itu, berharap dapat sedikit mengatasi kerinduan Fang akan sentuhan Ibunya.
Naas sekali karena hasilnya? Fang diopname di rumah sakit selama tiga minggu dengan perawatan intensif.
Mengingat itu rasanya Kaizo mau membenturkan diri ke meteor saja.
Menyelesaikan kegiatannya di meja konter dapur, Fang mematikan kompor, dia membuka tutup panci dan aroma kare semakin menggugah, Kaizo mengutuk diri sendiri karena perutnya tiba-tiba kehilangan jati dirinya. Kaizo berusaha menahan diri dengan menyuruh lambungnya untuk tenang, namun dirinya dibuat terlonjak akibat bunyi jetrek tiba-tiba dari mesin bulat di meja makan.
"Oh nasinya juga sudah matang." Fang menghampiri meja makan, membuka mesin bulat itu.
"Nasi?" Tanya Kaizo.
"Ya, kita makan kare dengan nasi." Fang mengaduk apapun benda yang dia bilang nasi itu, "Aku membeli Ricecooker di Bumi."
Ohh… Benda bulat ini namanya Ricecooker? Batin Kaizo sedikit miris, dia tidak tahu apa-apa perihal dapur.
Fang mengambil dua porsi nasi di masing-masing piring, lalu menungkan karenya di atas nasi, dia membawanya ke meja makan dengan senyum lebar, menyajikannya di hadapan Kaizo "Baunya enak kan? Mumpung ada waktu, aku rasa tidak buruk untuk membuat sesuatu yang lain, aku jenuh dengan makanan militer. Aku kira mungkin…" perkataannya terputus, dia mengaduk sebagian kecil karenya "Aku kira mungkin Abang akan suka." Lanjutnya pelan.
Tersenyum tipis Kaizo ikut mengaduk karenya, mengambil suapan pertama. Rasa kare adalah perpaduan banyak rempah, rasa manis dan asin berbaur sempurna, tekstur nasinya lembut diiringi dengan sayur dan daging yang memberikan perpaduan tekstur lain nan menyenangkan di mulut.
"Kau benar." Ucap Kaizo "Äku menyukainya." Mengambil suapan lain, makanan ini terasa lezat dan hangat, hingga hatinya sendiri merasa hangat. Entah akibat makanan atau panggilan Fang tadi.
Family Time yang tidak terduga-duga sangat menyenangkan.
Fang tersenyum lebar, ikut menyantap kare bagiannya. "Aku bisa mengajari Abang cara membuatnya. Tidak perlu takut, di bawah bimbinganku, masakannya tidak akan berubah menjadi racun. Tidak akan ada orang yang akan masuk rumah sakit setelah Abang belajar dariku."
Mengungkit kenangan lama, Kaizo nyaris tersedak. Di seberangnya Fang mengeluarkan tawa kecil.
