Naruto by Masashi Kishimoto
Boku no Hero Academia by Kohei Horikoshi
genre : Adventure, Fantasy, Friendship, A little bit romance
Summary : Haruno Sakura, seorang shinobi berbakat yang gugur dalam perang dunia shinobi keempat. Membawa seluruh penyasalan di kehidupannya yang sebelumnya, Ia pun menyusuri dunia para hero dan villain. Mendapat keajaiban tak terduga ini, Ia pun bertekat untuk tidak menjadi beban siapa pun di kehidupannya kali ini.
Chapter 1 : Akhir dan Awal Perjalanannya
~~XxXxX~~
"Sakuraa-chaann!"
"Sakura."
Ah, aku bisa mendengar kedua suara bariton itu dengan jelas. Bahkan, aku bisa merasakan tatapan khawatirnya yang mereka arahkan padaku. Yah, itu memang sangat wajar, sih. Bahkan, jika itu aku, aku mungkin akan bereaksi dengan lebih histeris dari dua pemuda itu.
"Sakura …, Obito …,"
Bahkan, meskipun itu hanya sebuah gumaman yang tidak terlalu jelas, entah kenapa aku masih bisa mendengarnya dengan baik. Suaranya yang rendah dan penuh keprihatinan itu, rasanya sangat menyenangkan karena dapat menenangkanku di saat-saat seperti ini. Tanpa perlu menengok pun aku tahu, siapa pemilik suara tersebut.
"Naruto …, aku tahu …, kau akan menjadi hokage yang hebat," ucap seseorang yang berada di sisi kananku, yang kondisinya tidak terlalu jauh berbeda denganku.
Aku menolehkan kepalaku ke arah sumber suara tersebut dan melihat seseorang yang beberapa waktu yang lalu, masih menjadi musuh besar dunia shinobi. Meskipun menjadi musuh besar dunia, tetapi Ia dengan tidak tahu malunya dapat menunjukkan wajah damainya menjelang kematiannya tiba. Dalam hal ini, aku berpikir, apa mungkin … aku bisa memasang wajah seperti itu juga?
Secara perlahan, aku melihat retakan-retakan yang muncul di tubuh penjahat perang itu. Seiring bertambahnya retakan yang mendistorsi tubuhnya, tubuhnya pun mulai berubah menjadi abu. Hingga beberapa detik kemudian, seluruh tubuh manusia yang seharusnya memiliki berbagai macam organ yang menyusun itu, telah berubah menjadi abu sepenuhnya. Tidak ada satu pun jejak yang menandakan bahwa seseorang bernama Uchiha Obito pernah berada di tempat itu.
Jadi …, seperti itukah caraku akan mati? Benda yang menyerupai tulang yang menusukku dan Obito, semenyeramkan itukah efek serangannya?
Siapa yang tahu, jika Kaguya ternyata akan menembakkan tiga proyektil mirip tulang ini. Andai saja Obito juga dapat menyerap serangan ketiganya—seperti yang Ia lakukan pada serangan kedua untuk melindungi Kakashi-sensei—aku mungkin tidak perlu bertindak sejauh ini, 'kan?
Aku tertawa kecil di dalam hatiku. Jika tahu begini, aku mungkin tidak akan mau mengorbankan diriku untuk menjadi perisai hidup yang menghalau benda seperti tulang itu. Namun, jika dipikir-pikir lagi dengan tenang, aku rasa ini bukanlah pilihan yang buruk. Maksudku, aku sudah kehabisan chakra setelah melakukan penyelematan untuk Sasuke-kun yang terjebak di salah satu dimensi Kaguya. Oleh karenanya, ninjutsu medisku pun dalam hal ini tidak akan bisa kugunakan lagi. Jadi, meskipun aku tetap hidup, tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan lagi. Dalam hal ini, aku akan benar-benar menjadi beban untuk tim.
Di lain sisi, Kakashi-sensei masih jauh lebih baik daripada aku. Meskipun kami berdua sama-sama tengah kehabisan chakra, tetapi Ia masih memiliki otak jeniusnya yang bisa saja digunakan untuk membalikkan keadaan. Tidak diragukan lagi, Kakashi-sensei pasti akan menjadi pilar penting yang akan membimbing Naruto dan Sasuke-kun untuk menyegel Kaguya. Selain itu, tidak akan ada yang tahu, bisa saja dia secara ajaib Ia mendapatkan sharingan-nya kembali, 'kan?
Maksudku, ada Dewi yang sudah tersegel selama ribuan tahun dan tiba-tiba bangkit karena konspirasi dari sebuah lendir hitam. Selain itu, ada juga dua pemuda yang ternayata reinkarnasi dari keturunan si Dewi dan sekarang memiliki kekuatan layaknya manusia setengah Dewa. Jadi, aku tidak akan terkejut, jika nanti ada keajaiban lain seperti kedua sharingan Obito yang berpindah ke Kakashi-sensei.
"Kakashi-sensei, Naruto, dan … Sasuke-kun," ucapku kepada rekan satu timku, "Aku rasa … waktuku juga tidak akan lama lagi,"
Aku tidak tahu, ekspresi seperti apa yang tercetak di wajahku saat ini. Aku juga tidak tahu, apakah senyuman yang aku pasang sekarang benar-benar sesuai dengan senyuman yang aku harapkan. Namun, melihat wajah mereka bertiga yang khawatir, aku rasa ini bukanlah ekspresi yang seharusnya aku pasang.
Air mata yang sedari tadi sudah kutahan, akhirnya menetes tanpa bisa kubendung. Aku takut, tentu saja aku takut dengan kematian. Terlebih, membayangkan bahwa tubuhku akan melebur menjadi debu tanpa sisa, membuatku semakin takut akan kematian yang telah menantiku. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan dan masih banyak mimpi yang belum bisa aku capai. Padahal, baru saja aku bisa membuktikan bahwa aku dapat melampaui Tsunade-sama di perang ini. Namun, aku justru tidak diberi kesempatan untuk merayakan pencapaianku itu.
Aku tidak ingin mati dengan membawa penyesalan, tetapi membayangkan hal-hal yang tidak dapat aku lakukan di masa depan saja sudah membuatku merasa sangat menyesal. Hal-hal kecil seperti melihat wajah di balik topeng Kakashi-sensei, momen menyenangkan ketika akhirnya melihat Naruto menjadi hokage setelah ribuan kali berceloteh tentang hal itu dengan mulut besarnya, dan juga perasaan berdebar-debar jika saja aku benar-benar bisa menikah dengan Sasuke-kun. Membayangkan bahwa aku akan melewatkan hal-hal seperti itu, membuat rasa penyesalanku semakin menumpuk.
Namun, ini bukanlah waktunya untuk memikirkan hal tersebut. Aku sudah merasakan sel-sel di tubuhku yang mulai terurai satu-persatu, yang menandakan bahwa waktuku semakin tipis. Jadi, mari pergi dengan memberikan satu kalimat terakhir untuk mereka bertiga—pahlawan masa depan Konoha. Karena hanya itu saja, yang bisa aku lakukan saat ini.
Jadi, mari lakukan yang terbaik sampai akhir … dan untuk yang terakhir kalinya.
"Tendanglah pantat Dewi sialan itu untukku dan untuk semua orang, oke?" ucapku yang telah kehilangan setengah badanku.
Ah, tolong jangan mentapku seperti itu. Aku akan mati dengan membawa penuh penyesalan, kau tahu? Jadi, tolong jangan tambah penyesalanku dengan mengiringi kematianku menggunakan tatapan itu. Karena jika begitu, aku mungkin tidak akan bisa pergi dengan senyuman terbaikku dan aku akan menyalahkan kalian bertiga karenanya.
Ini buruk, ekspresi sedih di wajah mereka benar-benar membuatku ingin hidup lebih lama lagi, hidup tanpa menjadi beban siapa pun dan hidup menjadi orang yang dapat diandalkan oleh siapa pun. Namun, aku tahu, itu adalah sesuatu yang tidak akan bisa terjadi. Memangnya, siapa aku? Aku bukan seorang Dewi yang turun dari langit, aku juga bukan seseorang yang beruuntung, yang menjadi reinkarnasi dua Dewa di masa lalu. Bisa sampai ke level ini dan terlibat dengan pertarugan dengan skala kekuatan Dewa seperti sekarang saja sudah merupakan pencapaian terbesar dalam hidupku.
Namun, jika keinginan egois dari gadis biasa sepertiku ini bisa dikabulkan, tentu saja itu akan sangat menyenangkan. Juga, tentu saja aku pasti hidup sebaik mungkin, tanpa meninggalkan penyesalan, tidak menjadi beban bagi siapa pun, dan bisa menjadi tempat bergantungnya harapan semua orang, sama seperti ketiga orang yang akan menjadi pahlawan perang saat ini.
~~XxXxX~~
"Jadi, ini adalah SMA U.A. yang terkenal itu, huh? Ini lebih besar dari gambar yang mereka unggah di internet," ucap seorang gadis sambil mengecap permen lolipop rasa susu strawberry-nya.
Gadis tersebut mengamati lingkungan sekitarnya dengan tatapan mata kagum yang tidak bisa Ia sembunyikan. Menurutnya, bangunan super megah ini akan lebih cocok jika disebut dengan sebuah kampus daripada sekolah. Bahkan, meskipun dirinya tidak terlalu mengikuti perkembangan teknologi berbasis elektronik, tetapi Ia yakin, semua teknologi terbaru telah terpasang di setiap sudut gedung ini.
'Tidak heran jika mereka menyebutnya sebagai salah satu sekolah terbaik di Jepang. Bahkan, gerbangnya saja terlihat seperti terbuat dari logam yang sangat keras,' pikir gadis itu.
Dengan surai merah mudanya yang mengingatkan semua orang akan bunga musim semi, gadis itu terus berjalan menyusuri jalanan aspal yang mengarah ke pintu masuk gedung utama. Tidak jarang netra emerald-nya itu menangkap pandangan-pandangan orang lain yang menatap ke arahnya. Banyak orang yang memperhatikan gadis berambut merah muda itu dengan tatapan aneh. Ia memang memiliki paras yang bisa dibilang cantik, tetapi bukan itulah yang menarik banyak perhatian orang lain.
SMA U.A. adalah sekolah elite dan hanya para terbaiklah yang bisa memasuki sekolah tersebut. Jika mengikuti logika masyarakat umum, mereka yang ingin mempertaruhkan masa depannya di sekolah ini seharusnya juga memiliki tingkat sopan santun yang juga tinggi. Atau setidaknya, mereka tahu bagaimana cara berpakaian yang baik dan sesuai aturan. Terlebih, jika itu berada di ujian masuk seperti saat ini. Akan tetapi, gadis berambut merah muda itu berbeda. Alih-alih memakai seragam SMP-nya dengan baik dan benar, Ia justru berpakaian seolah hari ini tidak ada bedanya dengan hari-hari biasanya Ia di sekolah.
Ia mengenakan seragam model sailor berwarna hitam—mulai dari atasan hingga bawahan—dengan pita merah yang menempel di bagian dadanya. Bawahan rok yang Ia pakai memiliki panjang hingga sekitar 10 centimeter di atas mata kaki, yang terbilang sangat panjang untuk standard ukuran rok siswi Jepang. Selain itu, kedua lengan seragamnya yang seharusnya memiliki panjang sampai ke pergelangan tangan, Ia gulung sedemikian rupa hingga mencapai sikunya. Ditambah dengan sepatu hitam dan stocking hitam panjang, lengkap sudah penampilan serba hitam gadis tersebut.
Siapa pun yang melihatnya, mereka pasti tahu, bahwa cara berbusana seperti itu hanya digunakan oleh cewek berandalan, yang lebih sering disebut dengan yankee. Kedua tindik berwarna hitam yang keduanya ditindikkan di telinga kirinya sekaligus, seakan mengonfirmasi bahwa gadis berambut merah muda itu bukanlah gadis baik-baik. Terlebih, caranya berjalan sambil membawa tas slingbag-nya yang Ia panggul di pundak kanannya, semakin membuatnya terlihat seperti berandalan.
"Yang benar saja, berandalan seperti itu ingin mendaftar di sini?"
"Apa dia tidak sadar diri atau semacamnya?"
"Dilihat dari penampilannya saja, dia seperti seorang perundung di SMP-nya. Bahkan, keajaiban pun tidak akan bisa membuatnya masuk di sekolah ini."
Seperti itulah bisik-bisik orang-orang di sekitar, tatkala mereka melihat penampilan gadis bersurai musim semi itu. Namun, Ia tidak peduli dan tidak mengindahkan gunjingan-gunjingan yang diarahkan ke dirinya tersebut.
Haruno Sakura, itulah namanya. Jika berbicara tentang keajaiban atau sesuatu yang di luar nalar, gadis itu adalah saksi hidup bahwa hal-hal tersebut memang nyata. Sebagai seorang shinobi—atau setidaknya mantan shinobi—Ia tidak seharusnya berada di tempat ini atau bahkan dunia ini. Bukan hanya itu, jika berbicara tentang hukum alam, dirinya pun sangat yakin, bahwa Ia seharusnya telah mati pada perang dunia shinobi keempat.
Namun, entah bagaimana caranya, dia justru terbangun di dunia yang benar-benar berbeda dari dunia tempatnya berasal. Terlebih, ketika Ia pertama kali bangun di dunia ini dan menatap pantulan dirinya di sungai, yang Ia dapati bukanlah Haruno Sakuro, gadis 16 tahun yang memakai standard pakaian jounin dari Konoha, melainkan justru versi dirinya saat Ia masih berumur empat tahun dan mengenakan pakaian gaun laboratirium berwarna biru muda.
Bingung? Tentu saja. Siapa yang tidak bingung, jika kau tiba-tiba terbangun di tempat yang benar-benar berbeda dan tubuhmu yang tiba-tiba mengecil? Bahkan, sejak hari di mana Ia pertama kali terbangun di dunia ini, Sakura membutuhkan waktu setidaknya dua minggu untuk dirinya beradaptasi dan dua tahun sampai dia benar-benar bisa menerima kenyataan.
"11 tahun sudah berlalu …, 'kah? Waktu benar-benar berjalan dengan cepat," ucapnya sambil memandang jauh ke langit biru.
Meskipun Ia bilang dirinya sudah menerima keadaan dan memutuskan untuk menatap ke masa depan, tetapi bukan berarti dia bisa melupakan semua yang telah terjadi di masa lalu. Karena baginya, menerima keadaan dan melupakan semua kenangan adalah dua hal yang sangat berbeda.
~~XxXxX~~
"Jadi …, kau tidak tahu bagaimana dan kenapa kau bisa ada di sini, ojou-chan?"
Aku hanya bisa menatap bingung atas pertanyaan pria dewasa yang ditujukan kepadaku itu. Lupakan tentang bagaimana dan kenapa aku bisa sampai ke tempat yang benar-benar asing seperti ini. Bahkan, aku saja tidak tahu, kenapa aku bisa hidup dan kembali ke tubuh kecilku—yang kutaksir berusia empat tahunan. Terlebih, di saat aku terbangun dan tidak dapat merasakan chakra di dalam tubuhku sama sekali, hal itu membuatku sangat khawatir. Hingga pada akhirnya, aku bertemu oleh sekelompok orang yang mengaku diri mereka sebagai hero dengan pakaian aneh mereka dan dibawa ke fasilitas rehabilitasi setempat, aku pun menyadari sesuatu. Dari semua orang yang kutemui dalam perjalanan kemari, tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki chakra.
Ditambah dengan pakaian unik serta moda transportasi yang jauh lebih maju daripada yang aku tahu di Elemental Nations, hal itu membuatku yakin, tempat di mana aku terbangun benar-benar berbeda dengan Elemental Nations. Jika aku boleh berbicara tentang teori yang lebih gila, aku cukup yakin, bahwa tempat ini adalah sebuah dunia yang berbeda dengan dunia shinobi, mengingat tidak adanya chakra sama sekali di dunia ini.
"Ti- tidak," ucapku pelan sambil menggeleng dan memasang wajah ketakutan yang sengaja aku buat.
Pria itu mengusap dagunya dengan putus asa. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang lelah karena menangani kasus yang tidak biasa terjadi. Menurutku, reaksi yang Ia tunjukkan itu cukup wajar. Bahkan, bagi shinobi berpengalaman sepertiku pun akan dibuat kebingungan jika menemukan anak kecil berusia empat tahun, mengenakan gaun laboraturium, dan berdiri kebingungan di tepi pantai.
"Dia ditemukan di pantai Timur Sendai dengan pakaian seperti itu. Tidak ada informasi lain yang bisa kita temukan. Bahkan, nama Haruno Sakura pun tidak terdaftar dalam catatan kependudukan sipil," ucap pria lain yang juga ada di dalam ruangan.
"Apa mungkin dia anak seorang yakuza yang diculik atau semacamnya?"
"Yakuza, ya? Yah, memang sih, banyak anak yakuza yang tidak didaftarkan ke catatan sipil. Namun, jika melihatnya memakai gaun laboraturium seperti ini, bukankah dia lebih seperti anak yang dijadikan objek eksperimen ilegal dan entah bagaimana berhasil kabur?"
Di dunia ini, aku yang merupakan orang dari dunia lain ini tidak memiliki latar belakang sama sekali. Aku tidak tahu, berapa lama aku akan hidup di dunia ini. Aku juga tidak yakin, apakah ada cara agar aku bisa kembali ke dunia asalku—tidak, bahkan jika aku tidak tahu bagaimana cara kembali, aku pasti akan menemukannya. Oleh karena itu, untuk bertahan dan hidup dengan nayaman di dunia ini sampai aku menemukan cara kembali, latar belakang merupakan sesuatu yang sangat penting. Dan karena aku tidak memilikinya, aku bisa menggunakan salah satu ide kedua pria itu untuk memulai latar belakangku sendiri.
"Te- tempatku be- berasal sangat me- menakutkan. Di- di sana ada o- orang besar de- dengan rambut hi- hitam jabrik dan ma- mata yang sangat menakutkan. Di- dia selalu memakai to- topeng aneh kapan pun kami ber- bertemu," ucapku dengan nada dan raut wajah ketakutan yang tentu saja itu hanyalah akting.
Seperti yang aku harapkan, kedua pria itu memasang ekspresi rumit yang sulit diartikan, tetapi cukup mudah untuk dipahami. Di mana pun kau berada, tidak ada satu pun orang yang tidak iba ketika melihat gadis kecil berusia empat tahun merengek ketakutan. Terlebih, jika kau sendiri yang menemukan gadis itu berdiri di tepi pantai dengan tatapan kosong.
"A- ah, tenang saja, ojou-chan. Kami tidak akan membawamu kembali ke tempat itu lagi."
Jika mau berpikir positif dan mensyukuri keadaan yang ada, terbangun dengan tubuh anak kecil berusia empat tahun adalah satu-satunya hal yang aku syukuri. Di belahan dunia mana pun, anak kecil akan selalu dianggap sebagai anak yang polos dan tidak tahu apa-apa—kecuali kau adalah super jenius seperti Yondaime Hokage atau Kakashi-sensei. Oleh karena itu, berada di situasi yang serba tidak pasti seperti ini, seorang anak kecil berusia empat tahun sepertiku pastinya tidak akan dipaksa lebih jauh jika aku mengatakan 'tidak tahu' atau hanya sekedar menggeleng dengan memasang wajah ketakutan. Jika aku adalah gadis 16 tahun dan shinobi berpengalaman yang pernah berada di garis depan selama perang besar, para pihak berwajib ini—yang mengaku bahwa mereka adalah hero—pasti tidak akan membiarkanku begitu saja jika aku menjawab dengan jawabanku yang samar-samar.
Salah satu pria di depanku itu menghela napas dan berkata, "Mari kita akhiri saja untuk hari ini dan kita serahkan semuanya pada asosiasi nanti."
~~XxXxX~~
Kenangan 11 tahun yang lalu, itu adalah sebuah kenangan yang tak akan pernah terlupakan oleh Sakura. Sejak pertemuannya dengan dua heroes yang menemukannya dulu, Ia pun ditempatkan di sebuah panti asuhan di Kota Sendai, Prefektur Miyagi dan tentu saja, namanya telah didaftarkan di catatan sipil, sehingga gadis berambut merah muda itu telah resmi terdaftar sebagai warga negara Jepang. Meski begitu, semuanya tidak berhenti begitu saja sampai di situ. Sejak saat itu, Pro Heroes Association masih harus mengawasi dirinya untuk sekitar satu tahun, sampai dirasa dirinya dinyatakan bukan seorang mata-mata yang menyamar atau semacamnya.
Meskipun Ia tidak begitu suka jika harus dipantau secara terus-menerus, tetapi Sakura berpikir bahwa itu adalah hal yang wajar dilakukan dan harga yang pantas dibayar atas identitas sebagai warga negara yang Ia dapatkan secara cuma-cuma. Setidaknya, dengan begitu, Ia tidak perlu berkeliaran di tempat-tempat seperti dunia bawah dan melakukan sesuatu secara ilegal, karena tidak memiliki identitas diri.
Jujur saja, tidak pernah terbesit sedikit pun olehnya, bahwa Ia akan hidup kembali dalam tubuh kecilnya dan berpindah dimensi. Jika saja dia tidak mengalaminya sendiri, mungkin Sakura akan menganggap semua hal tentang dunia lain itu hanya omong kosong belaka. Namun, apa pun itu, terlalu banyak hal yang membuatnya shock ketika Ia berusaha beradaptasi dengan dunia barunya ini. Tentu saja, salah satunya adalah fakta bahwa dia telah kehilangan seluruh chakra-nya. Namun, meskipun Ia telah kehilangan chakra, tetapi segel byakugo masih tetap berada di dahinya. Padahal, secara teori, segel byakugo pasti akan menghilang apabila Ia telah kehilangan seluruh chakra-nya. Hal tersebut membuatnya berpikir, apakah Ia masih dapat menggunakan ninjutsu medisnya meski telah kehilangan chakra-nya.
Namun, jawabannya adalah nihil. Sekeras apa pun Ia mencoba, tidak ada tanda-tanda Ia dapat menggunakan ninjutsunya kembali. Akan tetapi, ketika tubuhnya menginjak usia lima tahun di dunia ini, jawaban atas pertanyaannya pun mulai muncul. Ya, Ia bisa menggunakan ninjutsu medisnya. Bukan hanya itu, kekuatan fisiknya pun mulai bertambah kuat—seperti ketika Ia masih aktif sebagai shinobi dulu—meskipun Ia tidak memiliki dan tidak tentu saja tidak menggunakan chakra sama sekali.
Awalnya, hal tersebut membuatnya berasumsi, bahwa ninjutsu-nya entah bagaimana telah kembali lagi. Namun, hingga beberapa bulan kemudian, Ia tetap tidak bisa menggunakan teknik lain selain ninjutsu medis dan body enhance miliknya. Ia tidak bsia menggunakan ninjutsu sedeerhana berbasis elemen tanah, Ia juga tidak bisa memanggil Katsuyu, Ia bahkan tidak bisa berjalan di air atau tembok. Hingga pada akhirnya, Ia mengetahui bahwa di dunia ini terdapat sebuah kekuatan unik yang bernama quirk, yang umumnya setiap orang hanya memiliki satu quirk dan dalam kasus yang sangat-sangat langka, ada satu orang yang bisa menggunakan dua quirk hasil dari turunan kedua orang tuanya.
Dari informasi itu, Sakura pun membuat kesimpulan, bahwa seluruh chakra dan kekuatannya telah dikonversi mengikuti standard kekuatan yang ada di dunia ini. Untuk alasan kenapa Ia hanya bisa menggunakan ninjutsu medis dan body enhance, dia berasumsi bahwa itu dikarenakan dua teknik tersebut adalah teknik andalannya sebagai shinobi, yang juga menjadi ciri khasnya. Dengan kata lain, kedua teknik itu telah menjadi quirk milik Sakura sekarang, sebagai ganti dari seluruh chakra-nya yang menghilang.
"Seperti kata pepatah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung," ucap Sakura yang sempat mengingat ke masa lalu, "Yosh, hari ini pun, ayo lakukan yang terbaik."
"PLUS ULTRAAA!"
Gadis berambut merah muda itu sedikit terlonjak kaget ketika tiba-tiba ada suara yang berteriak dari belakangnya. Mengikuti insting alami setiap manusia, Ia pun menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang, hingga kemudian mendapati seorang gadis lain yang seusia dirinya—secara fisik—yang tersenyum lebar dengan aura positif di sekitarnya.
"A- ah, apa a- aku mengagetkanmu? Maaf … hehehe," ucap gadis itu dengan kikuk.
Sakura mengamati lekat-lekat gadis yang sempat mengagetkannya itu. Dilihat dari ekspresi gadis berambut merah kecoklatan yang dikuncir tersebut, Sakura merasa yakin, tidak ada niat atau kesengajaan dari gadis itu untuk mengagetinya. Sebelah alis Sakura terangkat ketika melihat gadis di hadapannya kini berusaha mengalihkan pandangannya dengan gugup.
Tentu saja, tidak ada yang tidak gugup jika ada seorang yang terlihat seperti yankee yang menatapmu lekat-lekat. Ini bukan pertama kalinya bagi Sakura mendapati tatapan seperti itu. Menyadari apa yang mungkin dipikirkan oleh gadis tersebut, Sakura pun menghela napasnya.
"Namaku Haruno Sakura," ucapnya dengan santai, "Jadi, kemana perginya semangat plus ultra tadi?"
"A- ah, benar juga haha. Aku Kendo Itsuka, salam kenal, Haruno-san. Maaf tadi tiba-tiba berteriak di belakangmu. " balasnya sambil menggaruk pipinya menggunukan jari telunjuknya, "A- aku dari tadi sedikit gugup, ka- kamu tahu? Dan ketika kamu bilang 'hari ini pun, ayo lakukan yang terbaik' itu terasa seperti plus ultra bagiku."
Plus ultra, sebuah jargon yang dipopulerkan oleh Sang Lambang Keadilan, All Might. Sakura berani bertaruh, tidak ada satu orang pun di Jepang yang tidak mengetahui jargon tersebut. Bahkan, Ia yang tidak fanatik terhadap All Might pun bisa tahu karena banyak sekali orang-orang di jalanan yang meneriakkannya.
"Begitu, 'kah? Jangan terlalu dipikirkan, semua orang merasa gugup saat ini. Selain itu … kau bisa berbicara lebih santai denganku, Kendo," balas Sakura sambil tersenyum.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, gadis bermarga Haruno itu kembali melangkahkan kakinya dengan santai menuju pintu masuk tempat ujian diselenggarakan. Melihat hal itu, Kendo tanpa pikir panjang langsung mengikuti Sakura dan menyamakan langkah kakinya hingga Ia bisa berjalan sejajar dengan gadis berambut merah muda itu.
"Terima kasih. Ketika aku melihatmu dari belakang, aku kira kamu seperti siswi normal lainnya. Akan tetapi, ke- ketika kamu berbalik dan aku bisa melihat penampilanmu …—ba- bagaimana aku mengatakannya, ya?" balas Kendo Itsuka yang bingung memilih kata untuk melengkapi kalimatnya.
"Terlihat seperti berandalan? Seorang yankee?" jawab Sakura yang tepat mengenai sasaran.
Dulu, Ia sempat berpikir, jika penampilannya tidak akan berubah—atau setidaknyahanya akan mengalami sedikit perubahan—ketika dia tumbuh dewasa nanti. Ia tidak berpikir, dirinya akan berbeda dengan dirinya ketika masih di dunia shinobi. Namun, dugaan itu ternyata salah. Sejak awal, bahkan sejak di dunia shinobi, Sakura adalah gadis yang cukup tomboy. Jika dibandingkan dengan teman seangkatannya dulu—Hinata dan Ino—Sakura tidak memiliki sisi feminimnya sama sekali. Dia suka memukul, suka berkelahi, suka memaki, dan memiliki tempramen yang cukup buruk. Yah, mesakipun hampir semua itu dipengaruhi karena sikap konyol Naruto yang ditunjukkan setiap hari, sifat malas Kakashi yang kadang lebih malas dari klan Nara, dan mulut Sai yang tidak memiliki filter setiap kali berbicara. Apalagi, guru besarnya—sang Hokage Kelima, Senju Tsunade—memiliki kebiasaan buruk yang tidak jauh berbeda dengan Sakura—tidak, bahkan jauh lebih buruk jika kau menambahkan kebiasaan mabuk dan berjudinya.
Karena sejak awal Sakura memang telah memiliki bibit-bibit menjadi gadis yang tomboy di dalam dirinya, hal itu pun diperparah dengan segala sifat unik orang-orang di seklilingnya. Beruntung baginya yang memiliki teman seperti Ino, gadis yang sangat fashionable dan menyukai bunga-bunga, serta Hinata, gadis dengan tipikal yamato nadeshiko atau gadis dengan kecantikan dan keanggunan yang murni sampai ke dalam hatinya. Jika tidak ada mereka berdua, mungkin Sakura akan benar-benar menjadi Tsunade kedua, yang bukan hanya tentang mewarisi kemampuan medis dan gaya bertarung sang Hokage Kelima, tetapi juga mewarisi segala sifat buruknya.
"Tenang saja, aku sudah terbiasa dipandang seperti itu," ucap Sakura kembali sambil tersenyum.
Sejak Sakura bereinkarnasi ke tubuh kecilnya di dunia lain, Ia pun secara alami juga mengikuti segala hal yang ada di dunia ini, termasuk tentang segala pop culture yang ada. Dari sekian banyak film populer di dunia, gadis berambut pendek itu sangat menyukai film tentang perkelahian anak sekolahan seperti Crows Zero series atau semacamnya. Puncaknya adalah ketika dia menonton drama mnigguan yang berjudul Majisuka Gakuen, yang pemeran utamanya dibintangi oleh Maeda Atsuko. Majisuka Gakuen, sebuah drama tv yang menceritakan seorang gadis yang mandiri, yang tidak kenal takut meskipun sekolah yang ditempatinya merupakan sekolah berandalan dan sarang para yankee.
Mulai dari situ, secara perlahan, Sakura sedikit mengubah penampilannya agar terlihat lebih percaya diri dan pergi ke SMP di mana seragamnya memakai seragam tipe sailor, yang pada akhirnya digunakan oleh Sakura saat ini.
Selain perubahannya dalam fashion-nya, ada juga satu perubahan yang menurut Sakura cukup mencolok. Saat tubuhnya berusia 12 tahun, Ia menyadari, jika ekspresi wajahnya sangat berbeda dengan ekspresinya dulu. Meskipun dulu Ia adalah gadis yang cukup tomboy dengan tempramen yang buruk, tetapi garis wajahnya dulu terbilang sangat bersahabat. Namun, sekarang, jangankan bersahabat, garis wajahnya justru terlihat lebih tegas—dan kadang cenderung galak ketika Ia memasang ekspresi serius. Setiap kali Ia memperhatikan garis wajahnya, itu semakin mirip seperti garis wajah milik Tsunade.
'Apa karena secara mental aku adalah wanita berusia 27 tahun, makanya garis wajahku terlihat semakin tegas?' batinnya yang tiba-tiba teringat akan Lady Tsunade yang sangat Ia kagumi.
"Se- sekali lagi, aku minta maaf. A- aku tidak bermaksud menganggapmu seorang berandalan atau semacamnya," ucap Kendo dengan kikuk.
Sakura menatap gadis tersebut sambil tersenyum, "Tenang saja, itu bukan hal yang besar."
Setelah mengatakan kalimat itu, Sakura pun menghentikan langkah kakinya karena mereka telah sampai ke dalam aula super besar tempat ujian tulis akan dilaksanakan.
"Sepertinya, kita akan berpisah mulai dari sini," ucap Sakura sambil mengedarkan pandangannya ke segala sisi ruangan.
"Uhm, kurasa begitu. Kalau begitu, semoga beruntung, Haruno-san," balas Kendo Itsuka.
Sakura mengangguk dan membalas, "Berikan saja yang terbaik yang kau miliki. Nasib baik akan selalu mengikuti mereka yang selalu memberikan usaha terbaiknya."
Kalimat itu sekaligus menjadi pesan terakhir yang diucapkan Sakura kepada gadis yang baru saja Ia temui tersebut. Karena tepat beberapa detik kemudian, terdengarlah sebuah suara nyaring, yang Ia yakini berasal dari pemandu acara ujian masuk SMA U.A. ini. Suara nyaring yang menarik perhatian seluruh peserta di aula tersebut, menjadi penanda bahwa ujian akan segera dilaksanakan beberapa menit lagi. Dan bagi seorang Haruno Sakura, suara itulah yang menjadi pertanda untuknya, bahwa perjalanannya di dunia para pahlawan ini beru saja akan dimulai.
~~Bersambung~~
Author Note : Halooo, beberapa minggu terakhir, aku coba-coba membaca fanfict di fandom BNHA dan menurutku itu sangat menarik. Terlebih, ketika aku mampir ke corssover BNHA x Spider-Man, entah kenapa aku jadi pengen nulis cerita tentang BNHA juga. Daannn ya, kira2 seperti itu lah aku berakhir di fandom ini.
Chapter ini adalah chapter pembuka, anggap saja sebuah prolog. Di sini, ada alasan khusus kenapa aku menggunakan Sakura sebagai MC nya. Jika kalian membaca fict-ku yang satunya (The Twins) kalian pasti tahu, kalau aku adalah penggemar kekuatan superhuman strength atau kekuatan fisik menusia super. Menurutku, kekuatan fisik manusia super itu sederhana, tetapi di lain sisi sangat keren jika mengombinasikannya dengan martial arts. Karena itulah, jika ditanya siapa superhero favoritku, jawabannya adalah Spider-Man dan Captain America.
Yah, karena di chapter ini sudah aku katakan alasan Sakura tidak memiliki chakra dan tentang quirk sakura, maka akan aku buatkan profil Sakura (beserta hobinya dll).
Nama : Haruno Sakura
Usia : 15 tahun (27 tahun jika dihitung sejak di dunia Shinobi)
Quirk : Superhuman Strength dan Healing Factor
Hobi : Belajar tentang ilmu medis
Musik favorit : Musik rock (dan Nirvana adalah band favoritnya)
Film/Drama favorit : Majisuka Gakuen
Yah, itu saja dariku. Terima kasih kepada kalian yang meluangkan untuk membaca cerita ini dan tinggalkan jejak berupa review, karena itu akan menjadi penyemangat untuk menulis cerita ini. Terima kasih dan sampai jumpa di chapter selanjutnya.
