Orang-orang mungkin bisa memilih tentang bagaimana pertemuan terakhir mereka akan terjadi, Menata nya sedemikian rupa hingga menjadi perpisahan terindah.
Tapi, Princess...
Tak ada yang bisa menentukan tentang bagaimana pertemuan pertama akan terjadi. Kita menunjukkan diri kita yang sesungguhnya, diri kita yang paling rentan dan apa adanya. Kosong dan tak punya ide tentang bagaimana selanjutnya hubungan dengan orang dihadapannya.
Aku mengulurkan tangan hari itu sebagai kesopanan, dan kau menyambutnya dengan alasan yang sama. Aku gemetar sekaligus terbakar hingga kacau sepersekian detik, kesulitan membedakan mana gas dan mana rem untuk menyetir mobil yang kita kendarai. Aku pasti sudah gila, saat mengharapkan sentuhan hangat itu lagi dan lagi.
Sentuhan dari seorang wanita yang akan menjadi Ratu masa depan.
Sentuhan dari seorang wanita yang telah bertunangan dan sedang menyiapkan acara pernikahannya.
Sentuhan dari seorang wanita yang baru ku temui hari ini.
Bersyukur ku tentu keegoisan yang tak ternilai harganya, Memeluk mu saat terjatuh-- tidak, lebih tepatnya saat kau melompat keluar dari pesawat yang masih terbang.
Hey, Princess.. Kau bahkan tak memiliki sayap dibalik gaun putih mu.
Lagi-lagi saat itu aku terbakar untuk mendekatkan diri ke arah mu, mendekati dosa pada wanita tanpa dosa. Merasa bersalah pada Sang Raja karena telah menggunakan sihirnya pada hal-hal yang tak mungkin ia sukai, berusaha merebut calon menantunya misalnya?
Apakah kekacauan Insomnia ini terjadi sebagai salah satu jawaban dari do'a ku? Mengharapakan keterlibatan mu yang lain dalam hidupku yang hanya diisi dengan perang dan perang.
"Tak semua keajaiban dibuat dengan sihir."
Mungkin kau benar, mengubah kepercayaan yang telah ku pegang hampir seumur hidup hanya dalam satu malam. Mulut Oracle memang sangat berbahaya, matipun aku rela jika demi menuruti perintah dari suara lembut itu.
Tentu Aku tahu bahwa ini mustahil, Perasaanku yang menjadi nyata. Bahkan meski aku sedikit Positive Thinking, tentang mungkin saja kau sebenarnya sedikit nakal dan berniat selingkuh dari Pangeran, Itu tetap saja hanya membuat jalan buntu. Atau kemungkinan lain Jika kalian memutuskan hubungan, lalu apa? kau datang padaku dan menjadikan ku Pangeran?
Haha, Libertus akan menangis jika mendengar isi pikiranku yang benar-benar sudah gila.
Bahkan, jika saja.. hanya jika saja kau rela mengambil resiko melepaskan gelar-gelar berat itu, Gelar kebangsawanan, Oracle, Nox Fleuret dan semacamnya, Aku tetap tak mungkin bisa menyuguhkan hidup yang layak dalam porsi mu dengan segala keterbatasan ku.
Percayalah, ini bahkan bukan hanya sekedar frasa saat aku bilang bahwa Harga Gaun tidur mu yang paling sederhana setara dengan gajih ku selama setahun berlompatan di Medan perang.
Baiklah..
Saatnya kembali pada kenyataan.
Tapi kenapa? Kenapa kau muncul dihadapan ku tanpa rasa bersalah? Fajar datang, hanya disaat ini kita menjadi sama. Aku yang terbakar dalam api perang dang kau yang harus terus bersembunyi dibalik bayang-bayang Reruntuhan.
Kau harus pergi.
Membiarkanku terbakar seperti yang selalu ku lakukan saat bersamamu.
Jangan takut, karena meskipun aku hancur hari ini, jika untuk mu maka aku akan kembali terjun meratakan ratusan perang lagi meskipun tubuh ku telah menjadi abu.
Aku telah dan selalu akan memberikanmu segala yang aku miliki, darah, keringat, perisai, Pedang, kesetiaan, dan itu adalah Kejahatan Terindah yang pernah aku lakukan.
Kemarin malam, aku telah memutuskan bagaimana pertemuan terakhir kita akan terjadi, perang terakhir ku dalam kehidupan ini. Dan aku tak menyesal karena telah memakai Cincin Luci jika itu untuk keselamatan mu.
Terakhir kali tangan ku bersentuhan dengan mu hanyalah sentuhan ringan diujung jari saat aku memberikan cincin terkutuk itu untuk diberikan pada Pangeran Kesayangan mu.
Saat itu Kau pergi.
Tapi Lihatlah sekarang, Kota yang telah porak poranda akan kemarahan ku tentang ketidakadilan takdir dan kebodohan orang-orang yang berkhianat.
Terbakar, kali ini bukan hanya aku yang terbakar. Aku harap seluruh kota bisa merasakan apa yang selama ini aku rasakan.
Lihatlah lagi, Setiap jalan yang pernah kita lewati kini memerah dalam erangan penuh kepanasan.
Tak ada jalan untuk kembali.
Entah itu untuk mu..
Atau mungkin untuk ku..
Akulah Glaive yang gagal pada misinya, bukan hanya misi mengantarmu menuju Altissia, tapi juga misi melindungi mu dari segala bahaya, karena Akulah bahaya itu sendiri.
Tatapan ku terlalu membahayakan mu, keinginan ku mengancam martabat mu.
Sentuhan mu... ah sial! aku harus berhenti.
Sejak awal, aku telah gagal dalam hal-hal yang seharusnya sederhana itu.
Aku gagal dalam aturan utama para Glaive. Just protect, Not to look, not to listen, not to think
Ah, Sepertinya ini akhirnya. Aku harap sekarang sudah aman bagimu. Udara yang panas dan menyesakkan terus mencekik, aroma daging yang terbakar membuat perut ku terasa mual.
Aku terkelupas, perlahan hancur dan menghilang di sapu angin. Setidaknya ini bukan cara yang buruk untuk mati.
Rule Well, Young King.
dan...
We will meet again, Princess.
Song : Tamer - Beautiful Crime
