Gomen ne, Hinata
.
.
.
.
.
Naruto milik Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 1
Perang besar berakhir dan dimenangkan oleh pihak Aliansi Shinobi. Walau begitu luka trauma masih membekas di relung hati terdalam para shinobi yang selamat maupun yang tak mengikuti perang. Mereka kehilangan keluarga, kekasih dan sahabat.
Akan tetapi, kehidupan harus berjalan, sesedih apapun hati seseorang, mereka harus tetap bertahan. Bertahan demi mereka yang masih hidup. Karena keberadaan mu mungkin masih memiliki arti untuk seseorang.
Naruto menatap langit biru yang senada dengan mata indahnya, dia meringis pelan karena keadaan tangannya, disampingnya Sasuke tetap diam tidak bersuara.
Laki-laki pirang itu terkekeh, "kau akan kembali kan?"
"Ya..-" Sasuke tersenyum tipis, "Tetapi tidak sekarang."
Dia menatap tidak percaya orang yang sudah berjuang bersamanya melawan musuh utama mereka, "Apakah kau masih bermain kejar-kejaran? Hokage.. kau mau jadi hokage kan?"
"Aku akan kembali, tetapi nanti saat aku sudah berhasil menghapus dosaku."
Naruto menyerah, dia tidak bisa melawan tekad kuat teman satu tim nya itu. Benar, mungkin hanya orang ini yang lebih keras kepala dari dirinya. Entah berapa kali, dia sudah membujuk laki-laki ini. "Bagaimana dengan Sakura-chan?"
Sasuke memalingkan wajahnya, "Entahlah.." lirihnya pelan.
Di sudut taman yang cukup sepi, hanya ada dua orang yang saling menatap diam disana. Suasana begitu indah dan sedikit canggung. Sang laki-laki berambut pirang tersenyum ke arah gadis berambut merah muda di hadapannya.
"Sakura-chan..-" Dia memanggil pelan gadis itu. Terlihat sekali keraguan pada wajahnya, sepasang mata indah biru menatap ke arah emerald yang tidak sabaran menunggu kelanjutan kalimatnya.
"Maukah kau menjadi kekasih ku?" Akhirnya dia mengatakannya, dia benar-benar mengatakannya.
Sakura menduga ini, dia tersenyum kecut. Memang itu hal biasa karena laki-laki yang notabene nya adalah sahabatnya itu sering menyatakan perasaan nya sejak kecil
Tetapi, "Naruto"
Entah kenapa, melihat ekspresi serius dari laki-laki bernama Naruto itu mebuat Sakura agak aneh.
Sakura tersenyum, laki-laki ini benar-benar telah dewasa. Lihatlah wajah serius nya itu; membuat Sakura merona merah saja. Dia menghela napas, ada apa ini? Kenapa dia jadi malu begini? Apakah karena melihat wajah serius Naruto atau alasan lain?
"Sakura-chan" Naruto semakin ragu apakah keputusannya ini adalah tepat, terlebih dengan gadis yang malah terdiam di hadapannya.
Gadis itu tahu bahwa keputusannya ini adalah penentu untuk masa depannya sendiri. Dia meremas erat pakaiannya; gugup.
"B-baiklah"
Sepertinya begitu. Apa perasaannya pada laki-laki raven itu begitu dangkal sampai dia dengan mudah menerima perasaan Naruto. Tidak terasa, dia tersenyum miris.
"Kau bilang apa tadi, Sakura-chan" Dasar. Bocah ini malah menghancurkan suasana. Bagaimana bisa dia membuat dirinya harus mengatakannya lagi.
"Kau yakin?"Pertanyaan aneh dari Naruto membuat Sakura menyerngitkan dahinya. Apa dia terlihat bercanda? Apa rona merah di pipinya ini candaan?
"Kau meragukanku?" Sakura memasang wajah masam dan tentu saja mengundang wajah panik Naruto.
"Ti-tidak. Aku hanya terkejut kau menerima ku begitu saja." Naruto nyengir.
"Jadi kau ingin aku meno..-"
Grepp..
Naruto memeluk gadis musim semi itu, pelukan nya begitu erat hingga sedikit membuatnya kesulitan bernapas sekaligus malu. Dia baru menyadari ini, tubuh seorang pahlawan perang memang bukan candaan. Astaga, apa-apa'an pemikiran mesum ini.
"Arigatou Sakura-chan." Suaranya terdengar lirih.
Sakura mengangguk dan membalas pelukan Naruto. Dia memejamkan matanya mencoba menikmati kehangatan yang di salurkan oleh laki-laki yang memeluknya ini.
"Na-Naruto kun" cicit Sakura pelan, wajahnya sudah memerah malu.
"Cobalah untuk santai sedikit, Sakura-chan. Kau berkeringat sekali hanya karena memanggil namaku, kau jadi terlihat seperti Hinata"
Sakura segera menoleh ke arah laki-laki yang malah tertawa, Dia teringat, gadis lavender itu juga menaruh perasaan pada laki-laki yang telah menjadi kekasih nya ini dan dia tahu itu bukanlah perasaan yang terbentuk dalam waktu sebentar.
Sakura merasa sedikit bersalah. "Naruto-kun"
"Hm.. Ada apa, Sakura-chan?"
"Bisakah kita merahasiakan dulu hubungan ini dan juga..-" Sakura tersenyum tipis "Ayo kita bertemu Hinata."
Jelas, sepasang pupil itu bergetar; Naruto terkejut. Tapi pandangannya segera melembut. Dia menghela napas dan mengalihkan pandangannya. "Baiklah" lirih nya pelan.
Reaksi yang biasa dari seseorang yang biasanya protes dengan permintaan aneh darinya. Jelas terdapat sedikit kekecewaan tergambar di wajah Sakura. Naruto mengiyakan nya dengan cepat. Mungkin laki-laki ini benar-benar telah dewasa.
.
.
.
.
"Sou ka.. Omodetou Sakura-san Naruto-kun" Hinata tersenyum manis; tidak, dja mencoba tersenyum ke arah dua orang yang berdiri di hadapannya.
"Arigatou Hinata. Kau tau, kau adalah orang pertama yang kuberitahu tentang hubungan kami" Sakura merasa bersalah. Bagaimanapun juga dia adalah sedikit orang yang mengetahui perasaan Hinata pada Naruto. Bahkan tidak bisa dibandingkan perasaan nya pada Naruto; jelas berada dalam artian berbeda. Bahkan dia tidak segan mengorbankan nyawa nya untuk Naruto.
Dan jangan lupa dengan kontribusi nya pada perang yang terakhir; dihadapannya kakak kesayangannya tergeletak tidak bernyawa. Tetapi demi keselamatan orang-orang yang masih hidup, dia menenangkan dirinya dan juga Naruto yang hampir kehilangan kewarasannya.
Tetapi Sakura tidak bisa menepis bahwa sekarang dirinya adalah kekasih dari orang yang sangat dicintai gadis ini. Bagaimanapun juga, Hinata harus tau tentang hubungan nya dengan Naruto untuk kebaikannya gadis itu juga.
Orang yang sejak tadi diam di belakang; menghela napas dan berjalan mendekat ke arah dua gadis itu. "Naruto.." Sakura terkejut saat tubuh laki-laki itu melewati dirinya dan mendekati Hinata yang menunduk diam. Dia mendekat dan berhenti tepat di hadapan gadis lavender itu. "Gomen" suara lirih laki-laki mampu membuat kepalanya mendongak sekedar menatap ekspresi terpuruk yang tergambar jelas di wajahnya.
"Na..-"
Grepp.. Rasa hangat menjalar cepat saat tubuhnya di peluk erat oleh Naruto. Ini terasa tidak benar; dia ingin menepis perasaan nyaman ini karena pemilik tubuh yang mengeluarkan aroma jeruk ini sudah jauh dari jangkauannya.
"Gomen ne Hinata." Ucapan lirih darinya terasa begitu menyayat hati Hinata. Walau dia begitu ingin, tetapi dia tidak bisa membalas pelukan ini. Terlebih karena kekasih dari laki-laki ini berada dihadapan mereka.
Di belakang, Sakura tidak bisa berkutik. Dia akui, dia cemburu. Bagaimanapun juga laki-laki yang sedang memeluk gadis lavender itu adalah kekasihnya. Apalagi dia tak pernah di peluk se manis itu.
Naruto akhirnya melepaskan pelukannya dan tersenyum melihat Hinata yang terdiam dengan rona merah menjalar di seluruh wajahnya.
"Tunggu saja, Hinata. Kau pasti akan menemukan laki-laki yang tampan dan hebat persis seperti ku" laki-laki itu nyengir.
Sakura segera menggeleng untuk menepis pikiran aneh itu. Bagaimanapun juga, Naruto telah memilihnya kan? Dan dia percaya pada laki-laki itu.
Melihat senyum Naruto, tak ayal membuat Hinata sedikit bisa mengendalikan dirinya. Dia tersenyum.
"Maaf Sakura-san Naruto-kun. Aku harus segera pulang, otou-sama pasti marah."
Hinata membungkuk sebentar, dia berbalik dan berlari meninggalkan dua orang itu. Gadis itu merasa tak bisa lagi memasang topeng yang terus di pasangnya di depan dua orang itu. Hatinya begitu sakit, benar-benar sakit. Apa ini namanya patah hati? Kenapa bisa sesakit ini.
Sakura berbalik menatap Naruto yang malah terpaku diam dengan pandangan lurus ke depan. Dia mengigit bibirnya..
"Naruto-kun"
"...Nee Naruto-kun"
"NARUTO!"
Naruto tersadar, dia menoleh dan menggaruk pipinya malu karena ketahuan melamun.
Sakura terkikik geli. Dia mencubit pipi Naruto. "Kenapa kau melamun? Apa yang kau lamunkan?"
Naruto tersenyum, "Aku hanya memikirkan kapan kita bisa kencan berdua?"
Sakura memerah, "Entahlah.." Gadis itu tertawa. Mereka berdua pergi dari sana.
Blam
Hinata menutup pintu dan bersandar disana. Napasnya terputus-putus karena dia berlari cukup kencang tadi. Hinata bahkan mengabaikan sapaan beberapa pelayan dan langsung berlari masuk. Untunglah ayahnya tidak ada, bisa-bisa di omeli nanti.
Tubuh Hinata merosot. Dia duduk bersandar dengan memeluk kedua lututnya dan membenamkan kepala nya di antara kedua lutut itu.
Syok? Tentu saja. Dia bahkan hampir kehilangan keseimbangan saat Sakura menjelaskan hubungan mereka. Hinata tak kuasa menatap mata Naruto dan memilih menunduk sampai akhirnya dia menguatkan hatinya untuk tersenyum. Jangan sampai Laki-laki itu mengetahui keterpurukannya.
"Omodetou Naruto-kun Omodetou.. Aku senang kau telah mendapatkan cintamu. Aku turut bahagia" Hinata tersenyum manis dengan air mata yang mengalir turun ke pipinya.
"Are? Kenapa aku menangis. Seharusnya aku senang" Hinata menyeka kasar air matanya.
Hinata menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Kenapa sakit sekali... Hiks hiks.."
Semenjak itu, Sakura maupun Naruto tak pernah lagi melihat wajah Hinata. Awalnya, gadis musim semi itu berkung ke rumah keluarga Hyuuga, tapi dia tidak pernah bertemu dengan dirinya. Gadis itu selalu mengambil misi yang menghabiskan waktu banyak bersama tim 8.
Tak ayal, Sakura merasa bersalah lagi. Itu pasti untuk menghindari mereka. Gadis musim semi itu menghela napas dan memakan dango nya dengan cepat. Dia menoleh ke arah laki-laki di sampingnya yang tidak menyentuh dangonya malah menopang dagunya, melamun.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Naruto-kun"
Laki-laki itu menghela napas, dia akhirnya mengambil sebuah dango dan memakannya dengan cepat, "Tidak ada"
Hubungan mereka sudah berjalan selama 2 minggu, dan selama waktu itu mereka berdua telah melakukan banyak hal. Makan manisan bersama seperti ini, menjemput dan mengantar sebelum atau sesudah misi, dan juga di ichiraku ramen...?
'T-tunggu dulu!'
Sakura tersadar, yang mereka lakukan 2 minggu ini seperti layaknya mereka berteman selama ini. Tak ada hal spesial. Seperti kencan? Eh kencan? Benar juga, apa makan bersama dan jalan-jalan itu termasuk kencan? Sakura rasa tidak.
Naruto memang bersikap baik, dia terus tersenyum dan sering membuat candaan yang membuatnya tertawa. Tapi bukankah laki-laki itu memang selalu begitu? Tak hanya pada dirinya. Tapi juga untuk semua orang yang dekat dengannya.
Apakah tak ada hal lain yang dilakukan Naruto layaknya kekasih sebenarnya dan tak pernah di lakukan laki-laki itu pada gadis lain. Ya hanya pada dirinya. Sepertinya tidak. Ya benar-benar tidak ada~
Sakura merasa ragu. Apa mungkin hanya dirinya yang menikmati kebersamaan mereka. Apa laki-laki di samping nya ini juga menikmatinya?
"Kencan.. Ayo kita kencan besok." Sakura memegang tangan Naruto dan menyadarkan laki-laki itu sepenuhnya.
"Lagi?" Naruto terkekeh
Gadis itu tersentak, "Kenapa? Kau tidak suka?" dia meremas erat ujung pakaian nya dan mencoba tetap tersenyum. Sakura menjaga agar suara tidak terdengar bergetar.
"Tidak, aku suka. Apa ada toko makanan yang baru buka?"
Gadis itu memukul lengan Naruto pelan, "Bukan seperti itu! Ayo berhenti makan. Hm.. jalan-jalan.. ayo kita jalan-jalan ya?"
"Kemana?" Naruto merenggangkan badannya. Dia berdiri dan melepas lelah karena terlalu lama duduk.
"Kemana saja.."
Naruto terlihat berpikir lama, dia kembali duduk dan berbalik menatap Sakura, "Baiklah.."
Benar, Naruto tulus padanya. Dia hanya sedikit lelah yang membuat jadi terlalu banyak berpikir. 'Kami akan baik-baik saja kan'
.
.
.
.
.
"Okaeri, Hinata-neesama"
Gadis lavender itu tersenyum, dia mengelus kepala Hanabi. "Tadaima" Hinata berjalan melewat adiknya itu dan pergi ke kamarnya.
Dia lelah? Tentu saja. Rasanya seluruh tubuhnya remuk; dia terlalu banyak mengerjakan misi bersama tim nya atau bahkan misi kecil yang bisa dia selesaikan sendiri.
"Besok.." Matanya menatap kosong benda-benda yang ada di kamarnya, "Besok aku harus mengerjakan misi apa?"
Gadis itu menatap kembali pantulan dirinya di cermin. Dia tersenyum puas dengan penampilannya hari ini. "Ayo semangat"
"Naruto-kun!"
Gadis itu melambaikan tangannya semangat, Dia segera mendekati laki-laki itu. "Kau menunggu lama?"
Naruto menggeleng, "Ayo.."
Sakura terkekeh dengan ketidakpekaan laki-laki ini. Bukankah ada kalimat yang harus dikatakan sebelum sepasang kekasih memulai kencannya. Baiklah, karena dia sedang dalam mood yang baik, "Tunggu, Naruto-kun?"
Naruto berhenti saat tangan nya di tahan oleh gadis itu. Dia menguap sebentar dan mengucek matanya, "Ada apa?"
"Kau mengantuk?"
"Ya, sedikit. Aku tidak bisa tidur beberapa malam ini."
Sakura terlihat tertarik, "Kenapa?"
"Bukan sesuatu yang penting. Tapi kenapa kau menarikku tadi?"
"Coba lihat.." Gadis itu berdiri sedikit lebih jauh dari Naruto. "Bagaimana menurutmu?"
Muncul tanda tanya dalam kepala Naruto, ada apa? Dia tidak tahu kenapa gadis ini bertanya seperti itu. Tidak ada perbedaan mencolok dalam penampilan gadis ini hari ini. Seperti biasa sama dengan sebelumnya.
"Kau tidak terlihat berbeda." Jawab laki-laki itu jujur.
"Dasar bodoh!" Pletak!
.
.
.
Gadis itu membawa Naruto pergi keluar desa. Tidak jauh, karena rencananya mereka hanya ingin jalan-jalan di sekitaran desa dan menikmati pemandangan. Walau begitu, sejak awal Naruto terlihat lebih banyak diam. Tatapan lurus kedepan dan terkadang Sakura menemukan bahwa matanya tidak fokus.
"Kau lelah?" Dia menghentikan Naruto lagi.
Naruto menggeleng, "Jangan khawatir, aku baik-baik saja." Dia kembali berjalan. Sakura ingin menikmati matahari tenggelam bersamanya, jadi mereka mencari tempat tinggi yang ada di dekat sini.
Naruto kembali berhenti saat menyadari gadis itu tidak mengikuti nya, "Ada apa?"
"Ayo kembali, aku ingin makan sesuatu yang manis"
"Lagi?"
Sakura tersenyum, "iya.."
"Ittadakimasu.." Naruto memakan dango miliknya dengan senang, memang makanan manis adalah obat terbaik untuk kelelahan.
Sakura menatap Naruto yang terlihat kembali hidup setelah memakan beberapa tusuk dango, 'apakah seterpaksa itu dia jalan-jalan bersamaku?' Pada akhirnya mereka kembali ke toko dango ini, seperti biasa. Dan jika tebakannya benar, setelah ini Naruto pasti akan mengajaknya ke..
"Hei, ayo kita ichiraku ramen. Ku dengar paman mengadakan promo. Bukankah kita tidak boleh ketinggalan hal seperti ini."
Sakura tertawa miris, 'benar kan?' Selalu seperti itu, apakah dia pikir dirinya tidak bosan.
"Naruto-kun"
"Hm?" Naruto segera menoleh dan tersenyum.
"Aku ingin kencan?"
Naruto menyerngit bingung. "Bukankah kita sedang kencan?" Naruto mengambil tusuk dango dan memamerkannya pada Sakura.
"Apakah kencan dengan seorang gadis hanya duduk berdua di warung dango. Itu juga bisa kau lakukan kepada Hinata." Sakura tertunduk. "Kau benar-benar menyebalkan"
Ada apa dengan gadis pink ini? Bukankah dia yang mengajak nya kesini. Kenapa dia berbicara seolah mengharapkan sesuatu dari dirinya, padahal dia sudah berusaha untuk mengikuti semua ajakan makan dari nya. "Sebenarnya apa yang kau inginkan?"
"Cium aku."
"A-ap..-"
Sakura memegang tangan laki-laki itu, dia meremas nya kuat. "Cium aku Naruto."
"Hah?"
"Byakugan"
"Bagaimana Hinata?"
Hinata menonaktifkan matanya dan menoleh ke arah Kiba dan Shino. Gadis itu menggeleng.
"Begitu rupanya? Baiklah terpaksa kita pulang dan melaporkan kepada hokage sekaligus meminta bantuan"
"Ha'I"
Dan 3 orang itu menghilang kembali ke desa Konoha. Di sepanjang perjalanan, tak ada pembicaraan apapun. Mereka bertiga hanya diam menikmati semilir angin yang menyapa tubuh mereka. Kiba sudah merasa ganjal sekarang. Diam nya Hinata terlihat aneh, sangat di paksakan.
"Hei Hinata, kau kenapa?" Pertanyaan akhirnya meluncur juga dari mulut anggota klan Inuzuka itu.
Hinata tersentak dan menoleh ke arah laki-laki yang menatap nya sambil menaiki anjing putih kesayangannya.
"Apa maksudmu, Kiba-kun?"Hinata tersenyum.
"Ya aneh saja. Kau terlihat terlalu serius, Hinata dan itu tidak cocok untukmu"
Hinata tertawa kecil. Apa benar dia terlihat terlalu serius? Memang dia ingin melupakan semuanya dengan cara menjalani misi. Hinata sedikit bangga, seperti nya keterpurukannya membuat dirinya terlihat serius. Keberuntungan atau kepahitan, eh?
"Aku tidak apa-apa, Kiba-kun. Terima kasih telah mengkhawatirkan ku"
Kiba tak bisa lagi membalas. Jika Hinata sudah bilang tidak apa, berarti gadis itu tidak ingin di ganggu.
'Kau berbohongkan Hinata, ya kau berbohong. Tapi sayangnya kau tidak membohongi tim mu' Kiba menoleh ke arah Shino yang juga menatapnya.
.
.
.
.
Naruto menarik tangan Sakura pergi. Sebelum itu dia menaruh beberapa uang di meja. Laki-laki itu membawa sang gadis ke tempat lain.
Laki-laki yang menjadi pahlawan perang itu menghempaskan tangan Sakura dan memijat keningnya kesal.
"Apa maksudmu, Sakura-chan? Kau ini kenapa sih?" Suara Naruto terdengar membentak. Dia menatap gadis yang juga menatapnya dengan pandangan sayu.
Benar kan? Bahkan dia meminta di cium saja; sebagai sepasang kekasih, berbagi kasih sayang kan wajar saja. Kenapa Naruto sampai membentaknya begitu.
"Kau yang kenapa, Naruto-kun. Apa salah kekasihmu minta dicium. Kita beneran pacaran kan?"
Perkataan telak Sakura tentu saja menohok Naruto. Laki-laki itu segera tersadar dan mengendalikan emosinya. Dia menghela nafas dan menatap datar ke arah Sakura. Benar, ini hanya ciuman, sebagai kekasih yang baik, Naruto harus menurutinya kan?
"Baiklah jika itu mau mu"
Naruto menarik pinggul gadis itu agar mendekat ke arahnya. Sang gadis musim semi tersentak kaget menatap sepasang blue sapphire yang begitu dekat dengannya. Rona merah memenuhi pipi Sakura, dia menatap tepat ke arah sepasang sapphire blue itu.
Perlahan wajah Naruto mendekat, laki-laki itu tetap membuka matanya dan menatap mata emerald yang juga masih membuka. Semakin dekat, tapi Naruto juga tetap membuka matanya, tak berniat menutup seperti pasangan yang lainnya. Hal kecil seperti itu tentu menjadi pikiran Sakura yang juga masih menatap wajah Naruto yang semakin dekat dengannya.
'Kenapa kau tidak menatapku seperti itu Naruto-kun? Seolah kau melakukannya secara terpaksa..'
Deg!
Sakura mendorong tubuh Naruto menjauh. Gadis itu merasakan rona merah di wajahnya, dia menutup wajahnya malu.
"Sekarang kenapa lagi?" Naruto tidak tahu kenapa dia melakukan hal ini kepada sahabatnya ini, terlebih sekarang gadis pink ini adalah kekasihnya.
'Aku tidak tahu.. aku tidak tahu.. tetapi saat menatap sepasang sapphire blue itu' Sakura mendongak untuk menatap lautan biru yang meredup; terlihat kelelahan. 'Aku merasa bahwa itu bukanlah untukku, tatapan nya, pelukannya, genggaman tangan nya, dan hatinya... itu bukanlah untukku'
"A-aku pergi. Ki-kita akan bertemu besok. Jaa" Sakura menghilang meninggalkan Naruto yang sambil mengacak rambut pirangnya; lelah.
"Apa yang telah ku lakukan! Sialan!" Dia menghela napas dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Kakinya melangkah asal; dia tidak memiliki tujuan.
"Naruto-senpai.." Para gadis penggemarnya menyapanya, mereka sudah mau mulai berteriak jika Naruto mengangkat tangan kanan nya mereka untuk berhenti. "Maaf ya, aku pergi duluan."
"Ada apa dengan, Naruto-senpai? Dia terlihat lelah?"
Naruto memainkan kakinya dan menendang beberapa kerikil, dia kembali menghela napas lelah. Matanya beralih kepada siluet gadis yang begitu familiar di ingatan nya, gadis yang selalu tercetak dengan sebagai seseorang yang tidak pernah menatapnya lebih dari 5 detik, gadis yang akan selalu kabur atau pingsan jika dihadapannya. 'Hinata!'
Gadis itu tidak menyadari keberadaannya. Dia tetap berjalan diam menuju mansion Hyuuga. Raut wajah nya terbilang aneh untuk seukuran gadis yang murah senyum. Tatapannya begitu kosong; dia melamun.
Naruto tidak memanggilnya, laki-laki berjalan mengikuti langkah kaki gadis itu dan menatap dari belakang punggung yang turun karena si empu nya yang sibuk menatap tanah.
"Dia akan berakhir menabrak seseorang jika terus seperti itu.." lirihnya pelan.
Pupil nya membulat saat melihat bahwa ucapannya benar-benar terjadi. Tubuh gadis itu oleng saat ditabrak shinobi yang berbadan lebih besar darinya.
Hinata tersadar dari lamunannya saat merasakan tubuhnya di tangkap oleh seseorang. Sungguh memalukan sebagai seorang shinobi karena ketahuan lengah dihadapan orang lain.
"Berhati-hatilah.." Sepasang Amethyst menoleh kaget dengan suara yang begitu dikenal sangat dekat dengannya.
"Maafkan aku, Naruto-senpai, Hinata-senpai" Shinobi muda itu tertawa malu. Dia membungkuk dan kembali melanjutkan larinya. Sepertinya dia tergesa-gesa ke suatu tempat.
"Kau baik-baik saja?" Hinata mengangguk, dia masih terpaku dan membiarkan laki-laki itu menyentuh beberapa tubuhnya; sekedar mengecek keadaannya setelah di tabrak seorang shinobi yang memiliki tubuh besar.
"Kau tidak terluka kan?" Naruto jelas khawatir, gadis ini masih tetap menatapnya lurus dan tidak berbicara.
"A-aku baik."
Naruto tersenyum canggung, "Sudah lama ya? Bagaimana kabarmu, Hinata?" Laki-laki menggaruk pipinya, malu.
"Aku baik-baik saja, Naruto-kun. Bagaimana denganmu?" Entah berapa kali, laki-laki ini menanyakan keadaannya.
"Seperti yang kau lihat..-" Naruto nyengir, "Kau sepertinya cukup sibuk ya"
Gadis itu mengangguk.
"Begitu ya.."
Mereka berdua kembali terdiam. Memang, dua minggu bukanlah waktu yang sebentar." Oh ya, Hinata. Ichiraku..-"
"Gomen, Naruto-kun. Aku harus segera pulang. Permisi"
Naruto dikejutkan dengan gerakan kilat Hinata. Dia membungkuk dihadapannya dan berlari pergi seperti biasa.
"Haah~ dia kabur lagi" Laki-laki itu terkekeh dan berbalik pergi.
Ke esokkan harinya, Tim 8 dan Sai berdiri berhadapan dengan Kakashi selaku Hokage yang baru menggantikan Tsunade. Sang Hokage bermasker itu menghela napas karena seharusnya yang berdiri di depannya ini ada 6 orang tapi kenapa hanya tim 8 dan Sai saja? Mana Naruto Sakura.
'Naruto-kun dan Sakura-san mungkin lagi kencan'
Miris, tentu saja? Sebuah pemikiran itu terlintas begitu saja saat melihat wajah Kakashi yang terlihat bingung mencari dua orang itu. 'Kuatkan hatimu, Hinata. Jangan sampai kau terlihat terpuruk di depan Hokage.'
"Sudahlah~ nanti kalian bilang pada mereka berdua ya" Kakashi mendengus kesal.
"Ha'I Hokage-sama"
"Sekarang bubar"
"Ha'I"
.
.
.
Naruto berdiri saat melihat Sakura datang. Gadis itu menyapa nya seolah tak terjadi apa-apa. Melihat sang kekasih yang mungkin telah melupakan hal kemarin, Naruto memilih diam dan juga membalas sapaan nya dengan riang.
"Gomen Naruto-kun, tadi aku tidak sempat ke kantor hokage. Kita akan menjalani misi apa?" Sakura menggaruk kepalanya malu.
"Sebenarnya aku juga tidak ke kantor hokage. Baru saja aku di kabari Sai untuk ke pintu gerbang" Jawab Naruto enteng. Dia nyengir.
"Aku juga baru saja di kabari Sai"
"Ohayo Naruto Sakura-san"
"Ohayo Sai" "Ohayo Sai"
"Yo! Ohayo Naruto Sakura. Kalian dari mana saja?"Kiba segera menyapa mereka berdua.
"Eh Kiba? Shino dan H-hinata?" Naruto menggaruk kepalanya.
"Ohayo Naruto-kun Sakura-san" Jawab Hinata seperti biasanya. Dia tersenyum ke arah dua orang itu. Benar, Bersikaplah seperti Hinata Hyuuga biasanya.
Sai menjelaskan tentang misi ini. Mereka hanya harus menangkap beberapa orang yang telah merusuh desa-desa di daerah Negara api. Sebenarnya ini misi yang mudah, tapi karena tim 8 yang tau persis bagaimana keadaanya, maka dari itu mereka juga ikut untuk membantu tim 7.
Suasana hening melanda 6 orang yang melompati perpohonan itu. Kiba dan Naruto yang terkenal berisik juga memilih diam.
"Guk guk" Akamaru menyalak.
"Kita sudah dekat, bersiaplah" Ucap Kiba.
"Oke"
6 orang itu bersembunyi dari balik semak-semak menatap puluhan orang yang mengembrungi sebuah desa yang sudah terbakar habis.
"Kita harus membantu mereka"
Hinata tidak tahan melihat semua itu. Apalagi saat telinga nya menangkap suara tangisan memilukan dari anak kecil di sana. Tapi sebuah tangan menahan pergerakannya dan menarik tubuh gadis itu untuk kembali bersembunyi.
"Tidak Hinata. Mereka ada dalam jumlah banyak dan mereka juga terlihat sulit dihadapi" Ucap sang pelaku penarikan, Naruto. Dia menggeleng keras.
Sebenarnya ini hal aneh karena bocah seperti Naruto menggunakan otak nya, apakah berada di peperangan membuatnya semakin berpikir dewasa?
"Ya, mereka juga menggunakan senjata api" Shino ikut menimpali. Walau mereka enggan, apa yang diucapkan oleh teman pirang mereka itu benar. Ini terlalu beresiko jika mereka ingin meringkus semua nya sekaligus.
"Tapi, Aku tidak bisa berdiam disini dan melihat mereka menghancurkan bahkan membunuh orang-orang tidak berdosa. Kumohon, Naruto-kun, semuanya. Kita harus membantu mereka" Mata Hinata mulai berkaca-kaca. Naruto tidak tega dengan genangan air di sudut mata gadis itu. Dirinya menghela napas dan tersenyum.
"Baiklah jika itu maumu.."
Naruto mengenggam tangan Hinata dan membawa nya mengendap-ngendap mendekati segerombolan orang itu; yang tentu saja diikuti oleh teman yang lain dibelakang. Genggaman tangan nya semakin menguat saat jarak mereka dengan musuh semakin dekat. "Tetap dibelakang ku."
Naruto tidak tahu, perlakuan aneh nya itu malah membuat gadis yang berada disamping Sai kecewa berat. Sepasang emerald itu menatap cemburu kepada mereka.
"Tajuu Kage bunshin no jutsu" jurus andalan dari pahlawan perang itu terdengar nyaring hingga membuat musuh tersentak kaget.
.
.
.
"Huh misi yang mudah.." Laki-laki pirang itu tertawa. Ah, dia kembali menjadi Naruto yang biasanya.
"Jangan sombong Naruto. Jika tidak ada Hinata, mungkin karena kelengahan mu itu, kau sudah terluka". Sindir Kiba.
"Kau ahli sekali membunuh rasa bahagia ku, Kiba." Naruto menggaruk pipinya malu. Dia menoleh ke arah Hinata yang tertawa kecil, laki-laki itu balas tersenyum.
"Arigatou ne Hinata. Kau penyelamatku."
Hinata tersenyum. Kiba dan Sai terus menyindir Naruto. Kok pahlawan perang bisa ceroboh begitu, memalukan. Dan tentu saja, membuat raut muka Naruto menjadi masam. Dia mencibir ke arah dua orang itu dan tentu saja menimbulkan gelak tawa dari mereka. Hinata dan Shino hanya tersenyum tipis.
Tak taukah kalian, di belakang, seorang gadis menatap cemburu ke arah dua orang yang melompat berdampingan sambil saling melempar senyum manis. Mengabaikan dia yang notabene nya adalah seseorang yang harusnya lebih pantas bersanding di samping sang laki-laki pirang.
'Tsk'
Tbc
Hi para readers tercinta, saya datang lagi bersama cerita baru. Kali ini berlatar belakang dunia shinobi. Latar waktu setelah PDS 4, tetapi tidak ada hubungan sama sekali dengan The last tercinta kita
Benar, ada yang ingin saya katakan, Saya tidak membenci atau menaruh perasaan tidak suka pada karakter Haruno Sakura.
Kali aja, ada yang berpikir, Sakura juga dibuat seolah ingin merebut Naruto dari Hinata atau kasarnya peran antagonis? Tapi memang dia yang paling tepat, dia dekat dengan Naruto dan feelnya dapat banget untuk Sakura meranin peran seperti itu. Ehehe..
So, tanpa panjang lebar, See you in the next chapter^^
Enjoy
