Empat puluh tiga bromide lagi yang perlu ditandatangani sepertinya. Jatah 350 bromide untuk hari ini sebentar lagi selesai. Neige tersenyum kecil mengetahui pekerjaannya yang tinggal sedikit dan meregangkan tubuhnya sejenak.
"Habis ini mandi dulu kali, ya …." Ia mendengus pelan, kemudian menepuk kedua pipinya berbarengan. "Yosh! Semangat! Besok harus bangun pagi dan bersiap ke handshake event!" serunya menyemangati diri sendiri.
Tinta spidol hitamnya kembali tertoreh di atas lembar demi lembar bromide dirinya. Setelan yang dikenakan di bromide kali ini benar-benar membuatnya terlihat lebih dewasa. Neige bahkan hampir tidak mengenali pantulan dirinya sendiri. Bolak-balik ia tersenyum, membayangkan betapa bahagianya para penggemar yang akan menerima bromide spesial ini.
"…" Namun, saat bromide-nya tersisa 10 lembar lagi, Neige menghentikan gerakan tangannya. Pikirannya melayang, jauh ke kejadian sebulan lalu saat Vocal & Dance Championship (VDC) di Night Raven College. Saat dimana dirinya, untuk pertama kali, bertemu dengan salah seorang penggemar setia yang diam-diam menarik perhatian.
Neige tidak menyelesaikan pekerjaannya. Ia justru meletakkan spidol itu kembali ke tempatnya, lalu membiarkan imajinasinya menari liar di setiap sudut ruang dalam kepala. Tangannya menopang dagu, membantu matanya menangkap keindahan langit berbintang yang dapat dilihat dengan jelas dari jendela kamarnya.
"R-san … Rook Hunt …." Dua sudut bibirnya naik ke atas. Hatinya enteng kala nama itu muncul dan menguasai pikiran. "Besok kau akan datang lagi tidak, ya … aku sangat menantikannya," gumamnya lagi, mulai memikirkan kata-kata apa yang akan digunakan untuk menyambut sang penggemar spesial.
"… Aku tak sabar ingin tahu akan secantik apa kau besok."
…
Taman belakang, aman. Pagar sekolah, aman. Surat izin, aman. Semua sudah terpantau aman dan barang-barang yang diperlukan pun ada di dalam tas. Sekarang tinggal pergi—oh, hampir saja lupa.
"Topi wajib dipakai …." Tangannya meraih sebuah topi cap dari atas meja dan memakainya. Bagian depannya ditarik lebih ke bawah supaya wajahnya semakin sulit dikenali. Meski sudah memakai masker, tetap saja kehati-hatian itu perlu.
Jendela sudah dibuka, kondisi di bawahnya juga terpantau terkendali. Tidak ada orang lain yang akan melihat. Seharusnya, jika ia keluar sekarang itu sudah aman. Baiklah, waktunya—
Tok, tok
"Rook-san? Apa ada di dalam?"
Nyaris kakinya tergelincir dan membuat tubuhnya terjun bebas dari lantai tiga asrama. Saking fokusnya memperhatikan jalan untuk keluar, orang yang ternyata Rook Hunt, wakil pemimpin asrama Pomefiore itu sampai tidak sadar kalau ada orang yang datang ke kamarnya. Kalau dari suaranya, sepertinya itu Epel.
Tok, tok
"Rook-san?"
Uh … haruskah Rook menjawab? Namun kalau dia menjawab, itu artinya dia harus membiarkan Epel masuk, sedangkan pakaiannya sudah bukan pakaian biasa lagi. Ah, tapi, kan, ada sihir? Dia tinggal berubah semau yang dia bisa?
"Rook-san?" Epel tampak mencoba menarik kenop pintu, tapi tidak berhasil. "Dikunci … Rook-san tidak ada di dalam, kah? Padahal aku yakin dia belum keluar asrama hari ini."
Ya, memang belum dan baru mau keluar.
Mulai resah, Rook melihat jam di kamarnya dan dia sudah tidak ada waktu lagi. "Tiga puluh menit lagi dan aku akan terlambat." Ia kembali memosisikan dirinya di jendela, melihat sejenak pintu kamarnya yang tidak lagi diketuk, lalu berbisik, "Maafkan aku, Epel-kun."
Dalam sekali lompat, Rook menjatuhkan diri dan kemudian sosoknya terlihat terbang menjauh dengan naik sebuah sapu terbang. Tampaknya sapu itu sudah disiapkannya di suatu tempat tersembunyi di taman belakang Pomefiore sehari sebelumnya.
…
Neige mulai kelihatan tidak sabar. Ia mondar-mandir mengelilingi stand-nya yang masih sepi karena event belum dimulai. Kakinya gatal, sangat gatal, membuatnya tidak bisa duduk diam dan anteng seperti biasa. Kepalanya pun kalut, jantungnya juga berisik. Dia sudah terbiasa untuk merasa tidak tenang di setiap event atau acaranya yang lain, tapi ini yang pertama kalinya ia merasa "berlebihan" seperti ini.
Bukan tanpa alasan, ini karena Neige akan bertemu dengan sang dambaan hati. Untuk pertama kalinya ia akan menyapa orang yang selama ini hanya bisa ia kenal sebagai "R-san." Neige sudah bisa bayangkan akan "seheboh" apa begitu ia bertemu dengan orang itu nantinya.
"Neige-sama." Yang dipanggil terkaget dengan mata melotot. Orang yang memanggil, manajernya, sampai ikut kaget dan seketika gugup kala mendapati Neige yang tampak "berbeda" dari biasanya. "Mmm … j-jika Anda merasa tidak enak badan, apa mungkin—"
"Ah, tidak, tidak. Aku tidak apa," potongnya cepat. Senyum Neige cerah, mencoba meyakinkan manajernya supaya bisa meninggalkannya kembali sendiri. "Aku hanya merasa … excited untuk hari ini. Tidak ada masalah."
Masih dengan keraguan yang kentara, manajernya menganggukkan kepala. "… Baiklah, tapi jika dirasa ada yang—"
"Tenang saja. Aku pasti akan bilang kalau ada apa-apa." Neige makin melebarkan senyum, seolah memaksa manajernya untuk segera pergi. Rupanya usahanya itu berhasil karena manajernya benar-benar pergi setelah diberikan senyum selebar itu.
Begitu dirinya kembali sendiri di stand, Neige mulai menghentak-hentak kakinya pelan. Perasaannya benar-benar campur aduk, antara senang, tidak sabar, dan gugup. Namun ia sangat menikmati setiap perasaan yang didapat karena hari ini adalah hari yang begitu ditunggu-tunggu.
"Dia … pasti cantik juga hari ini." Neige tertawa kecil, kemudian menggigit bibirnya sendiri.
…
Pemburu itu mengatur nafasnya dengan susah payah. Tak peduli berapa kali sudah ia melakukan ini, tetap saja perjuangannya selalu 100 persen. Terkadang ia berpikir, akankah hari dimana ia akhirnya berhenti melakukan hal semacam ini akan datang? Ia juga seringkali merasa bersalah karena harus bolak-balik masuk toilet perempuan hanya demi … demi ini!
Namun dirinya tidak ada pilihan lain. Rook harus melakukannya.
Dari dalam tas, ia mengeluarkan magic pen miliknya yang selalu berhasil dibawa sampai sejauh ini. Satu tarikan nafas diambil, sebelum beberapa kata berupa mantra keluar dengan suara kecil dari mulutnya. Tak lama kemudian, seberkas cahaya terang terpancar dari salah satu bilik toilet tersebut. Beruntung belum ada orang lain yang sempat masuk ke toilet, sehingga mereka tidak perlu kaget atau takut ketika melihat ada cahaya sihir yang muncul tiba-tiba.
"Sudah dengar belum? Katanya bromide Neige-kun kali ini spesial!"
"Sungguh? Aku belum dengar."
Oh? Sudah ada orang lain, kah? Beruntung dirinya sudah siap. Tak apa jika keluar sekarang.
Klek
Klotak, klotak, klotak
Sosok tinggi berkaki panjang keluar dari bilik toilet yang bercahaya tadi. Tas tangan indah yang dipegangnya, ditaruh di atas wastafel begitu sebuah lipstick diambil dari dalam sana. Dengan gerakan yang begitu lihai, tanpa keraguan sedikit pun, tangannya membawa batangan lipstick berwarna cerah itu memoles bibir tipis nan elok. Begitu warnanya dirasa cukup, ia memandangi hasil karyanya sendiri beberapa saat, sebelum memasukkan lipstick itu kembali ke dalam tas. Matanya berkedip beberapa kali di depan cermin, berniat mengecek apakah makeup yang sudah lebih dulu terpoles di area mata masih dalam kondisi sempurna.
"… Sepertinya cukup."
Tangannya meraih tas, melihat pantulan diri di cermin sekali lagi, sebelum akhirnya berbalik dan hendak berjalan keluar. Namun, oh, gadis-gadis yang tadi masuk, ternyata terdiam di dekat pintu—menghalangi—dan melihatnya nyaris tak berkedip.
Sosok tinggi itu ikut terdiam, tapi kemudian ia tersenyum manis. "Maaf, aku mau keluar. Apa tidak keberatan untuk …?"
"O-oh …." Salah satu gadis yang sudah sadar, menepuk gadis lainnya untuk menyingkir dari depan pintu. "Si-silakan, Nona," katanya, masih tidak bisa melepas pandangannya dari sosok yang mengagumkan tersebut.
"Terima kasih." Sosok itu membungkukkan badannya sedikit dengan sopan dan berjalan keluar dari toilet. Suara klotak klotak dari heels yang dipakainya bergema, membuat merinding setiap orang di sekitar yang melihat. Tidak, mereka bukan merinding karena takut atau hal lain, tapi karena kelewat kagum dengan pemandangan indah yang tersaji.
Rook menambah kecepatan, membiarkan suara heels-nya kian menggema. Ia tidak nyaman dengan semua mata yang terus terpaku pada dirinya, walau sudah sering ia melakukannya. Antara memang masih belum terbiasa, atau dirinya yang kurang nyaman dalam balutan pakaian feminin seperti ini.
Hampir ia menggosok kaki kanannya dengan kaki kiri jika tidak ingat kalau ia sedang memakai rok sebatas paha. Tidak sepantasnya untuk melakukan hal itu. "… Kakiku dingin."
…
Memang masih ada sekitar 50 antrean lagi sampai ke baris terakhir, tapi Neige sudah tidak sabar. Sembari terus melempar senyum dan menyerahkan bromide bertanda tangan dirinya serta beberapa merchandise lain, mata Neige tidak henti-hentinya melirik pintu masuk. Sungguh, kehadiran R-san ini diam-diam selalu yang paling ia tunggu.
"Neige-sama." Suara manajernya menarik perhatian. Sebuah tanda dilempar pria muda itu dan Neige langsung menangkapnya sebagai tanda kalau sudah masuk waktu istirahat.
Dengan menunjukkan ekspresi kecewa, Neige berdiri dari tempat duduknya. Masih dengan senyuman, ia menyampaikan pesan itu pada barisan penggemarnya, "Istirahat 30 menit dulu, ya? Nanti kita lanjutkan lagi."
Kekecewaan juga ikut terlihat dari para penggemar. Meski begitu, mereka tetap dengan teratur meninggalkan barisan dan bergerak menuju tempat duduk yang sudah disediakan sesuai arahan staff yang tengah berjaga.
Neige yang juga kecewa (lebih karena sedang menunggu seseorang), bermaksud meninggalkan lokasi ketika matanya terjatuh pada siluet seorang wanita tinggi yang baru tiba di pintu masuk. Kepalanya tampak bergerak ke kanan dan kiri, mengecek barisan yang mulai duduk di kursi yang tersedia. Tak lama, sosok itu pun mengikuti rombongan penggemar untuk duduk di salah satu kursi yang masih kosong.
Dengan mata yang melotot dan berbinar, Neige menarik lengan baju manajernya lalu menunjuk sosok tinggi yang sudah duduk dan fokus pada handphone-nya itu. Sontak manajernya melempar tatapan penuh tanya pada sang Snow White yang mendadak bertingkah aneh (meski sejak tadi pagi tingkahnya juga sudah aneh.)
"Kau lihat perempuan itu, kan, Noir-san?"
Manajernya, Noir, mengangguk—gerakannya agak ragu. "… Ya. Memangnya kenapa, Neige-sama?"
"Panggilkan dia," perintahnya. Neige melirik sosok itu sekali lagi, sebelum mulai berjalan masuk diikuti Noir yang makin bingung. "Suruh dia masuk dan temui aku di ruang ganti. Kau ikut untuk mendampingi juga tidak apa-apa."
"M-maksud Anda apa, Neige-sama?!" Kelihatannya Noir panik karena, bagaimanapun, yang ia lihat dari sosok itu hanya sebatas penggemar dari Neige LeBlanche. "Kita tidak bisa sembarangan membawa orang asing masuk! Seharusnya kau tahu itu, kan?"
"Ya, aku tahu." Neige mengangguk sangat yakin. "Namun, itu kalau untuk orang asing, kan? Sedangkan dia bukan orang asing."
Noir masih tidak mengerti akan ke mana arah pembicaraan ini, sampai Neige bicara lagi, "Dia kenalanku dan temannya Vi—Vil Schoenheit. Tidak sengaja aku bertemu dengannya di acara VDC kemarin ketika dia sedang bersama Vil. Rupanya dia salah satu penggemarku selama ini, jadi ketika dia datang, aku ingin menyapanya."
Walau sudah dijelaskan begitu, Noir tetap masih ragu. "… Anda yakin soal ini, Neige-sama? Bagaimanapun, dia hanya penggemarmu. Apalagi kalian baru kenal—temannya Vil Schoenheit sekalipun."
"Itulah kenapa aku mengizinkanmu untuk ikut mendampingi, kan, Noir-san?" Neige melempar perkataannya kembali. "Aku tidak akan bertemu dengan perempuan itu berdua saja, tapi bertiga dengan Noir-san. Jadi? Apa bisa?"
Neige melihat Noir yang masih ragu dalam diam. Namun Neige tidak mau mendengar alasan-alasan lain yang nantinya akan dikeluarkan Noir. Maka, ia langsung menepuk pundak sang manajer dan berjalan menuju ruang gantinya.
"Langsung bawa dia ke mari, ya?" ia berseru dari pintu. "Jangan sampai penggemar yang lain tahu soal ini. Cepat, waktu kita tidak banyak."
"…" Ingin rasanya Noir berhenti dari pekerjaannya sebagai manajer. Namun selama kariernya sebagai manajer seorang public figure, tidak pernah ia bertemu dengan orang seramah dan sebaik Neige LeBlanche. Maka tak ada pilihan selain ia menyerah dan menuruti saja apa yang diminta pemuda yang satu itu.
…
Tiba-tiba saja ada orang yang memanggilnya dan memintanya untuk mengikutinya. Rook sama sekali tidak mengenal orang itu siapa, tapi ia entah bagaimana merasa kalau orang itu tidak bermaksud jahat. Meski begitu, penjagaannya tetap tidak lengah selama Rook mengikuti ke mana orang itu pergi.
Tak lama setelah mereka berjalan meninggalkan kursi tunggu, akhirnya mereka berhenti di tempat yang terlihat seperti bagian belakang venue. Tanpa perlu pikir panjang lagi, Rook tahu kalau mereka sekarang tengah berada di bagian belakang venue handshake event milik Neige LeBlanche.
Menyadari itu, sontak membuat Rook merasakan kepanikan yang untungnya masih bisa ia sembunyikan dengan sangat baik. "Um … maaf, kita sedang di mana, ya? Dan aku akan dibawa ke mana?"
"Neige-sama ingin bertemu dengan Anda," jelas orang itu tanpa basa-basi yang, tentu saja, langsung membuat Rook membelalakkan matanya. "… Kelihatannya Anda sendiri terkejut, ya? Sepertinya Neige-sama belum mengatakan ini pada Anda."
Rook menggelengkan kepalanya cepat. Ia berhenti cukup jauh dari pintu yang langsung ia tebak sebagai pintu menuju ruang ganti sang idola. "T-tidak, mohon maaf. S-sepertinya … sepertinya saya—"
"Noir-san, kenapa masih lam—aah! Rook—R-san!"
Terlambat sudah. Rook tidak bisa lagi lari ke mana-mana. Tidak. Kalau ia lari sekarang, mungkin masih sempat!
"R-san! Akhirnya kita bertemu lagi!" Namun, seolah Neige adalah seorang pemburu juga sama sepertinya, lelaki manis itu berhasil mendekati Rook dan menahannya dengan cengkeraman yang tanpa diduga kuat. Cukup kuat hingga membuat Rook tidak bisa bergeser satu inci pun dari posisinya.
Mata Neige tampak berbinar saat melihat sosok yang sedari tadi—tidak, dari semalam ia nanti-nanti kehadirannya. "Aaah, sudah kuduga kau akan datang! Apa kau tahu kalau aku merindukanmu?"
Apa kau yakin kau merindukanku?! Yakin?! Apa aku bermimpi?! Rook sudah tidak bisa lagi menahan perasaannya. Ia berteriak sejadinya dalam hati.
Noir mencolek bahu Neige. Jarinya menunjuk jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, menandakan kalau waktu istirahatnya hampir habis. Sekitar 15 menit lagi, kalau Neige tidak salah ingat, dan hitung.
Dengan sisa waktu yang ada, buru-buru Neige berkata, "R-san—tidak, Ruu-kun. Selesai event ini, apa kau ada waktu?"
Dia memanggilku dengan panggilan pendek seperti Vil! Mencoba tenang dan tidak membiarkan isi kepalanya mengganggu, Rook mengangguk cepat. "Y-ya! Aku kosong setelah ini!"
"Baguslah!" Neige meremat tangan yang ada dalam genggamannya. Rematannya terasa nyaman, tapi itu sama sekali pertanda buruk bagi kesehatan jantung Rook Hunt. "Aku ingin kau dalam wujud biasamu karena aku ingin dengan Ruu-kun bukan R-san, tapi tidak apa. Hari ini akan jadi kencan pertama kita yang spesial; antara Neige LeBlanche dan penggemar setianya, R-san."
"Ke-ken—"
"KENCAN?!" Keterkejutan Rook dipotong—atau lebih tepatnya dilanjutkan—oleh Noir yang wajahnya langsung pucat pasi. Tidak hanya karena kata "kencan" yang dengan mudahnya keluar dari Neige, tapi juga karena tadi dia memanggil Rook dengan "-kun" yang berarti … perempuan di depan matanya ini bukan perempuan!
"Neige-sama, tunggu sebentar." Setelah teriakannya tadi, Noir sadar kalau dia harus mengontrol dirinya kembali. Tampak ia menarik nafas panjang, kemudian mengeluarkannya perlahan sebelum meneruskan, "Anda tadi bilang apa? Kencan?"
Neige dengan santainya menganggukkan kepala. "Ya. Memangnya kenapa? Setelah ini aku tidak ada jadwal lagi, kan?"
"… Ya, memang tidak ada, tapi—"
"Kalau begitu, aku bisa manfaatkan waktu kosongku untuk Ruu-kun." Terlihat sekali Neige tidak mau kata-katanya dibantah, dan Noir tidak punya celah untuk menolaknya.
Mau tidak mau, Noir menyerah. Ia pun akhirnya mengangguk. "Baiklah, silakan. Selama aku tetap ikut 'kencan' kalian, maka aku tidak akan mengeluh lagi."
"Terima kasih, Noir-san! Kau memang yang terbaik!" Hampir Neige memeluk Noir saking bahagianya saat Noir mengangkat tangannya untuk menyetop si lelaki manis.
"Sudah waktunya kembali ke venue, Neige-sama. Lima menit lagi handshake event-nya harus dilanjutkan."
Neige langsung meraih tangan kiri Noir untuk melihat jamnya. "Kau benar! Ruu-kun." Sebelum itu, ia kembali menghampiri Rook yang masih diam mematung di tempatnya sejak tadi. Tangan putih nan halus Neige menggenggam tangannya yang cukup banyak luka itu lagi. "Maaf kalau ajakanku ini terkesan mendadak, tapi aku harap kau tidak masalah dengan itu. Sampai bertemu di venue, ya."
Neige mencium punggung tangan Rook sekilas, lalu pergi sambil melambaikan tangan. Noir yang masih ada di tempatnya hanya diam melihat adegan itu. Beberapa saat kemudian, ia berdeham, dan itu langsung menyadarkan Rook yang masih termenung.
"Anda yakin tidak perlu kembali ke barisan, R-san?"
Rook segera menggelengkan kepala dengan wajahnya yang memerah. "… M-maaf. Saya … akan segera kembali." Setelahnya, pemburu muda itu pun pergi meninggalkan lokasi dan kembali ke dalam antrean penggemar yang menanti bromide limited edition Neige.
Meskipun sudah kembali ke tempat di mana seharusnya ia berada, Rook masih tidak bisa melepaskan rasa terkejutnya. Jantungnya masih berdegup kencang, bahkan ia sampai khawatir suaranya bisa didengar oleh gadis-gadis yang ada di depannya. Tidak hanya jantung yang mendapat efek besar, kedua tangan dan juga kakinya ikut merasakan efek terkejut itu. Mereka gemetar hebat, sampai beberapa kali nyaris membuat Rook hilang keseimbangan.
Rook masih tidak bisa mengontrol diri hingga gilirannya berhadapan kembali dengan Neige tiba. Dengan tanpa merasa bersalah akan apa pun (dan memang dia tidak salah apa-apa), Neige menjabat tangan gemetar Rook. Senyum yang ia berikan lebar dan cerah, sekali lagi sanggup membuat hati Rook meleleh parah.
"Senang melihatmu lagi, R-san," sapanya yang jelas hanya basa-basi, "dan kau terlihat cantik juga hari ini."
…
(A/N: Sedikit catatan kalau Rook di sini tidak benar-benar jadi perempuan, ya. Dia tetap jadi laki-laki dengan tinggi 177 cm. Cuma bedanya Rook pakai sihirnya untuk bikin badan dia nggak kelihatan terlalu kekar, sehingga dia sampai bisa pakai rok sebatas paha. Baju yang dia pakai juga nggak bikin sisi maskulinnya kelihatan, kok. Makanya nggak ada yang sadar dia laki-laki kalau cuma sekilas lihat.
Ah, iya. Perlu diketahui kalau ini hanya sebatas headcanon-ku atau mungkin lebih tepatnya imajinasiku saja. Aku masih keganggu sama kata-kata Neige yang dia kaget kalau R-san ternyata laki-laki, di saat Rook udah pernah datang ke handshake event-nya. Gara-gara itu, pikiranku langsung liar nggak bisa diam, wkwk. Jadi, kalau semisal nantinya terbukti "imajinasiku" ini salah, mohon untuk tidak dibawa serius, ya.
Anyway, terima kasih buat yang sudah mampir dan baca! Semoga kalian suka, ya! Jangan lupa jaga kesehatan dan minum air yang cukup!
Tertanda,
Lampu Merah.)
…
Sekarang kalian juga bisa dukung aku dengan jajanin aku cendol di Trakteer atas nama "Rotlicht." Terima kasih!
