Rokok

Bungou to Alchemist belong to DMM Games

special for reauvafs' birthday (September 10)

happy reading, and happy birthday, Reau-san!

(p.s.: Kalo merasa ada yang familier, jawabannya ada di author note bawah)

~o~

Dari sekian banyaknya tempat di stasiun ini, Akutagawa Ryuunosuke tidak pernah menyangka akan bertemu dengan 'orang itu' di tempat yang ia tuju.

"Ayo dong, masa nggak tahu rokok kesukaannya Kitahara-kun apaan?"

"Kamu yang kenal dia juga nggak tahu, 'kan?"

"Bener juga. Tapi sekarang aku yang nanya."

"Tapi aku juga gak kenal sama si Kitahara-Kitahara itu, tahu!"

Itu percakapan yang bisa Akutagawa dengar samar-samar dari tempatnya berdiri. Antara si pria penjaga konter rokok dan pemuda berhelai cokelat yang kehadirannya membuat Akutagawa agak ragu untuk mendekat. Ia kemari hanya untuk membeli rokok, padahal—rokok miliknya habis dan mulutnya sudah protes meminta asupan nikotin.

Hmm, di mana konter rokok terdekat lain di stasiun ini? Akutagawa mau putar balik saja rasanya.

"Ya ampun kau ini, sudah hisap berapa batang sejak tadi pagi, hah? Tapi terserah, deh. Kalau kau mau beli, sekalian belikan punyaku—nih uangnya, kembaliannya simpan saja."

Dan itu yang kembali mencegat Akutagawa berbalik. Selain tidak tahu di mana lagi konter penjual terdekat selain di depan, Kan juga menitip rokok padanya—jarang-jarang kawannya itu mengizinkannya dengan sukarela, bahkan sekaligus menitip buat diri sendiri.

Juga, Akutagawa benar-benar butuh rokok sekarang.

"... Hah ..."

Pada akhirnya pula Akutagawa kembali melangkah, menjadikan konter rokok di depan sana sebagai destinasi. Sosok berhelai cokelat yang tinggi badannya tidak lebih tinggi dari Akutagawa sendiri itu diabaikan demi ketenangan pribadi, yang mana kemudian membuat orang itu diam karena selain penjual rokoknya lebih memilih melayani Akutagawa, ia juga terkejut.

Akutagawa menyebut merek rokok favoritnya dan merek rokok yang sering Kan bawa. Transaksi jual-beli mengalir begitu saja dan karena tidak diusik, Akutagawa memilih pergi. Namun, belum ia melangkah menjauh, sesuatu mendadak terasa menarik ujung mantelnya dari belakang, yang kemudian disusul tangannya lantaran Akutagawa refleks berhenti bergerak.

"Nee, nee, Akutagawa-kun."

Oh, sial. Seharusnya Akutagawa turut memperkirakan ini sebelumnya.

"Aku mau tanya. Akutagawa-kun bantu jawab, ya? Ya?"

Akutagawa menghembuskan napas. "Kan menungguku dan kami harus pulang sekarang. Jadi bisa kau lepaskan peganganmu sekarang?" Tidak, tidak, Akutagawa tidak ada waktu buat meladeni—lagipula kenapa ia harus?

"Aku rasa kita bakal satu kereta. Sama-sama balik ke perpustakaan, 'kan? Jadwal kereta berikutnya masih lama, lho."

Sayang sekali perkataannya tepat sasaran. Akutagawa lebih yakin ia tidak akan dilepas begitu saja, hingga akhirnya memilih menyerah. Pemuda itu mengembuskan napas untuk kesekian kali, kemudian berbalik. "Apa maumu, Shimazaki?"

Adalah Shimazaki Touson yang sekarang menatapnya, dengan tatapan datar seolah-olah ikan mati yang biasa namun terasa menyebalkan. Shimazaki yang diam sebentar membuat Akutagawa kesal ingin langsung meninggalkan, seribu sayang tangannya masih ditahan hingga tidak ada pilihan lain selain menunggunya bicara.

"Kamu ingat merek rokok kesukaan Kitahara-kun?"

"Gak." Singkat, padat, juga jelas. Akutagawa tidak terlalu dekat dengan Kitahara Hakushuu—kelihatannya semua orang di perpustakaan tahu itu. Jadi kendati mereka berdua sama-sama perokok aktif, bukan berarti Akutagawa tahu merek rokok mana yang biasa Kitahara isap.

Tatapan Shimazaki masih sama datarnya. "Yah ... Akutagawa-kun payah, ah. Masa gitu aja nggak ingat."

Apabila ini manga, sebuah perempatan pastilah sudah muncul di dahi Akutagawa.

"Kau sendiri nggak tahu, 'kan?"

"Makanya aku bertanya. Kalian berdua sama-sama suka merokok, Akutagawa-kun seharusnya bisa tahu."

"Sama-sama suka bukan berarti kami dekat, Shimazaki."

"Payah, ih."

Sekali lagi, apabila ini manga, perempatan lain pastilah muncul lagi, tapi kali ini letaknya di pipi.

"Kalau begitu lebih baik lepaskan aku." Akutagawa menarik tangannya. Namun, tangan Shimazaki lebih gesit, hingga tangannya kembali ditarik bahkan dicengkram.

"Gak boleh." Shimazaki membalas. "Temani di sini sampai aku dapat rokoknya."

"Kau tadi ke luar dengan siapa, sih? Sama dia aja emang nggak bisa?"

"Katai sakit perut, katanya. Dia udah pergi dari tadi dan sampai sekarang nggak balik-balik."

Entah apa yang Tayama Katai makan sampai-sampai perutnya sebermasalah itu, tapi Akutagawa turut merasa kasihan. Namun bukan itu intinya. Ia harus kembali pada Kan, menunggu kereta, lalu pulang ke perpustakaan dan merokok dengan tenang. Shimazaki biarlah tetap berdiri di sini (dan berdebat dengan si pria penjaga konter, barangkali) sampai dapat wangsit mengenai rokok kesukaan Kitahara Hakushuu, urusan nanti dia pulang atau tidak Akutagawa tidak peduli.

"Aku tahunya Kitahara-kun suka rokok linting ..."

"Semua rokok itu dilinting, Shimazaki."

"Oh, benarkah?"

Akutagawa menghela napas. "Lagipula kenapa kau membelikan dia rokok, sih? Dia titip kepadamu sebelum kalian pergi?" Sebetulnya juga satu bagian di hatinya sedikit penasaran, mengenai Shimazaki yang entah kenapa terlihat ngotot sekali ingin membeli rokok untuk Kitahara. Kalau memang titipan, seharusnya Kitahara tidak seceroboh itu sampai lupa memberi tahu merek favoritnya, atau seharusnya Shimazaki juga tidak seceroboh itu sampai lupa bertanya.

Shimazaki memiringkan kepala. "Akutagawa-kun mau tahu? Wah, tumben."

"Memang lebih baik aku pergi saja, ya."

"Gak boleh."

Ini sudah yang ketiga, namun kalau ini manga, satu perempatan akan muncul lagi di wajah Akutagawa, entah di bagian mana.

"Terserah, lah."

"Jadi Akutagawa-kun mau tahu?"

"Terserahmu."

Shimazaki diam lagi. "Selama beberapa minggu ini, Kitahara-kun mengajariku beberapa lagu ..."

"Lagu?" Dahi Akutagawa berkerut.

"Iya, lagu." Shimazaki mengangguk. "Karena belakangan aku ingin berbaur lagi dengan anak-anak, aku meminta Kitahara-kun mengajariku."

Akutagawa tidak mengerti apa korelasi dari mengajari lagu dan berbaur dengan anak-anak. Setidaknya ia sudah tahu alasannya, mengerti tidak mengerti ia bisa kesampingkan itu dan cari tahu kapan-kapan kalau tidak malas.

"Lalu?"

"Yang kutahu Kitahara-kun suka merokok—mirip sepertimu, gitu. Aku mau belikan itu sebagai ucapan terima kasih karena sudah mau mengajariku."

Akutagawa mangut-mangut.

"Tapi ..." Akutagawa teringat satu hal. "Kalau tidak salah ingat, Kitahara-san suka castella? Kenapa tidak belikan itu saja?" Ketimbang berdiri entah sampai kapan di depan konter penjual rokok sambil menunggu wangsit yang seratus persen mustahil lewat, bukankah lebih baik memberikan sesuatu yang sudah pasti jenis dan keberadaannya?

Shimazaki terkekeh kecil. "Itu sudah, kok." Ia mengangkat tangan kirinya yang menenteng sebuah kotak putih—Akutagawa tidak terlalu memperhatikan hingga baru menyadarinya sekarang. "Tapi waktu lewat konter rokok ini, aku jadi kepikiran. Kitahara-kun suka rokok, aku rasa tidak ada salahnya membelikan rokok juga."

Akutagawa mengejap-ngejap.

"Yah ... tapi ujung-ujungnya kau juga tidak tahu mau beli yang mana, 'kan?"

"Itu dia masalahnya, makanya aku menahanmu. Ayo bantu aku berpikir."

"Apa-apaan itu ..."

"Ekhem, kalian berdua."

Perhatian keduanya teralihkan, secara serentak Akutagawa dan Shimazaki menoleh ke arah konter penjual. Pria penjual rokok yang awalnya berdebat dengan Shimazaki itu rupa-rupanya menyimak obrolan mereka, sejak Shimazaki menahan Akutagawa supaya tidak ke mana-mana.

"Aku tidak tahu kau bakal suka saran ini atau tidak—iya kau, yang rambut cokelat. Tapi kalau kau tidak punya ide merek rokok mana yang temanmu sukai, ketimbang menyusahkan temanmu yang satunya lagi, aku punya saran buatmu." Pria penjual itu berujar. Akutagawa sedikit tersinggung ketika pria itu menyebut dirinya dan Shimazaki berteman (mohon dicatat Akutagawa tidak sudi dikata berteman dengan Shimazaki Touson, tidak sama sekali). Namun ketimbang urusannya makin panjang, ia memilih diam.

Lain halnya dengan Shimazaki, kedua netra hijaunya yang redup itu terlihat sedikit tertarik. "Saran?"

Si penjual rokok tersenyum. "Tentunya aku tahu rokok mana saja yang terbaik di sini. Aku akan tunjukkan beberapa, kau bisa pilih dan beli—kalau temanmu tidak suka, silakan kembali kemari dan tukarkan dengan merek kesukaan temanmu itu. Bagaimana?"

Tawaran pria itu terdengar menarik, juga menguntungkan buat dirinya. Shimazaki mengangguk-angguk, kemudian mendekat. "Bisa kau tunjukkan itu? Aku mau lihat."

"Tunggu sebentar."

Sebetulnya Akutagawa ingin pergi dari sini—mumpung ketika penjual rokok itu mengambil beberapa kotak rokok rekomendasinya, Shimazaki melepaskan pegangan dari tangannya. Namun, melihat pria penjual rokok itu memperlihatkan merek-merek rokok terbaik di konternya pada Shimazaki membuat Akutagawa turut tertarik—kalau ada yang menarik minatnya, mungkin ia akan coba membeli dan membandingkan rasanya dengan yang biasa ia isap. Shimazaki kelihatannya tidak perlu waktu lama untuk memilih. Ia menunjuk satu, kemudian sang penjual rokok menyebutkan harga per kotaknya.

"Yang itu juga, tolong." Satu kotak rokok yang mereknya sangat Akutagawa kenali juga ditunjuk oleh Shimazaki. Sang penjual rokok mengambil dan menyerahkan keduanya pada Shimazaki sambil menyebutkan total harga, yang mana langsung dibayar dengan uang pas yang kebetulan ada di saku.

"Oi, Touson!!"

Shimazaki menoleh, begitu pula Akutagawa yang belum beranjak. Tayama Katai datang dari arah kanan dengan setengah berlari. Urusannya di kamar kecil pasti sudah selesai.

"Udah beli rokoknya? Aku haus, temenin beli minum yuk."

"Sudah, kok. Tapi tunggu sebentar."

"Mau ngapain lagi? Oh, ada Akutagawa ternyata, halo Akuta ... EEEH, AKUTAGAWA?!" Jelas saja Katai terkejut, mengingat hubungan Shimazaki dan Akutagawa yang tidak bisa dibilang baik.

"Tenang, Katai. Aku nggak ngapa-ngapain, kok." Shimazaki membalas kalem. Katai tidak bisa percaya ini seratus persen, tapi karena Akutagawa juga tidak protes, ya sudahlah.

Shimazaki berbalik, menghadap Akutagawa. Tangan kanannya terulur pada pemuda yang lebih tinggi darinya itu, membuat yang bersangkutan sedikit kebingungan.

Setelah Akutagawa perhatikan, barulah ia sadar. Yang Shimazaki sodorkan padanya adalah sekotak rokok, rokok dengan merek favoritnya.

"Aku sudah sering liat Akutagawa-kun dengan merek rokok yang ini—tadi pun Akutagawa-kun juga membelinya, meski beli dua merek, tapi aku yakin yang sering kamu isap adalah yang ini." Shimazaki berujar. "Terima kasih karena sudah menemaniku tadi. Syukurlah kamu tidak langsung pergi tadi, jadinya aku tidak perlu mengejar-ngejarmu di perpustakaan buat memberikan ini."

Nada bicaranya datar, seperti biasa. Tatapannya juga masih sama. Menyebalkan bagi Akutagawa, seperti biasa pula.

Akutagawa mendengus kecil. "Seharusnya kau tidak perlu repot-repot," katanya. "Tapi terima kasih, lho."

Kotak rokok tersebut berpindah tangan pada Akutagawa. Karena Katai sudah mengeluh haus lagi, Shimazaki undur diri, pergi bersama Katai ke arah yang berlawanan dengan arahnya akan kembali pada Kan.

Akutagawa diam di tempatnya untuk sesaat. Kotak rokok di tangannya ia perhatikan sejenak. Sedikit banyak Akutagawa menyadari, semenyebalkan apapun Shimazaki Touson, rupanya ia juga tahu terima kasih. Kotak rokok itu ia kantongi pada akhirnya. Lantas, ia berbalik, kemudian pergi.

Ia pergi terlalu lama. Kan pasti khawatir menunggunya.

-end-

Sebelum aku mau ngomong yang lain (gatau apa, liat dulu), ak mau ngucapin, HABEDE REAU-SAAAAANNN. SEHAT SELALU, SUKSES SELALU, DAN BAHAGIA SELALUUU OwO)/

Kita beneran kenal dan ngobrol dari kapan, si? Ingatanku jele, tapi kayaknya dari 2019 kan? Buset bentar lagi 3 taun ;v;) Beneran ak ga nyangka bisa ngobrol n deket kayak gini (kek, apa si? Waktu ak kelas 9 dulu ak mikirnya bakal jadi forever lone wolf di ffn gegara gaada kenalan yg beneran kenalan sefandom (adanya di wp doang), di FI gaada yg sefandom sama aku dan ak belum kenal FFA juga :'D). Ak akan jadi anak jagungmu yang berbakti meski kadang2 ak merasa ingin sekali ganti KK ;v;)/ /tida

btw, iya, aku ada ngambil referensi dari fic Shared Castella yg tgl 8 April kemaren. Maaf, aku bener-bener minta maaf gegara ngga bilang-bilang dulu (kalo aku bilang ntar ketahuan aku mo ngepaen T-T) /gebukin sadja tida apa-apa

Sekali lagi, habedeee. Bahagia selalu yaaa :(

(p.s.: Kalo linknya nanti cuman satu, yang satunya lagi (semoga) nyusul ntar jam tiga ato habis aku kelar kbm nanti pagi.)