Labile

Disclaimer: DMM.

Warning: OOC parah, typo, slow burn, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi.


Matsuoka Yuzuru terbangun dalam posisi berdiri yang menurutnya aneh. Ia semakin kurang ingat dengan wajah kejadian yang menemuinya kemarin sore. Namun, sewajarnya memang Matsuoka tertidur di atas ranjang. Itulah logika umum yang seharusnya, itulah yang berjalan berputar-putar yang omong-omong pula, di manakah kamar Matsuoka berada?

Spontan Matsuoka memegangi kepalanya. Setelah tiba-tiba terbangun dalam posisi berdiri, sampai-sampai Matsuoka melupakan di manakah letak kamarnya, bukankah wajar Matsuoka bertanya-tanya, semalam ingatannya melewati apa? Mungkinkah ia terbentur amat keras, atau ditimpa kecelakaan sejenis itu yang intinya memengaruhi memori?

"Tetapi kepalaku enggak berdarah. Kalaupun aku kecelakaan, bukankah seharusnya aku tertidur di ranjangku?"

Sebanyak apa pun Matsuoka meraba-raba sekitar kepalanya, telapak tangannya tidak dapat mencetak apa pun selain kosong melompong seperti biasanya. Ataukah mungkin Matsuoka delving? Seperti terjebak dalam novel misteri gubahan Conan Doyle, kah? Tetapi Matsuoka takut duluan ketika berspekulasi demikian, sebab matanya hanya menemui lorong perpustakaan sebagai satu-satunya tempat Matsuoka berdiri.

"Benar. Aku harus mencari Akutagawa, Yamamoto, Kan, atau siapa pun yang bisa membantuku menjelaskan keadaan ini."

Pintu yang tinggal di sampingnya menjadi kandidat yang pas. Kebetulan juga Matsuoka mengenali kamar siapakah ini, sehingga ketukannya terdengar ringan. Namun tidak ada respons. Ternyata pula tak dikunci yang langsung saja, kebingungan Matsuoka disingkirkan oleh kekhawatiran bahwa mungkin, penghuninya kenapa-kenapa yang menggidikkan Matsuoka.

"Kume! Kume! Apa kamu baik-baik saja?"

Tangan Matsuoka mengguncang-guncang bahu Masao Kume. Botol obat tidur yang berserakan di atas meja kian menaikkan tensi Matsuoka. Mendorong kakinya berlari meninggalkan kamar Kume yang entah mengapa, seolah-olah mengecil. Tentu saja Matsuoka harus memanggil bantuan. Akutagawa Ryuunosuke, kah ... Kikuchi Kan, Hori Tatsuo ... pokoknya siapa pun harus tahu, terutama Dokter Mori atau Mokichi.

"Kan, tolong jawablah! Sepertinya terjadi sesuatu pada Kume."

Usai menggedor-gedor pintu kamar Kan, untungnya ia langsung terjaga yang dengan sigap, Matsuoka menjelaskan keadaannya. Kan masih tampak mengantuk. Gara-gara itu saran Matsuoka agar mereka memanggil Dokter Mori atau Mokichi, seolah-olah Kan lewati begitu saja. Setidaknya Kan masih menuju kamar Kume. Tatkala pintunya Kan buka jua, Matsuoka benar-benar bersyukur Kume sudah bangun.

"Ya ampun Kume. Kami sangat mencemaskanmu, lho," ujar Matsuoka sembari mendekati Kume yang masih linglung. Sekadar meraba-raba di manakah kacamatanya pun, Kume terlihat lelah. Kan sendiri tengah berkacak pinggang yang menghias wajah marah bercampur cemasnya itu.

"Insomniamu kelihatannya semakin parah, ya. Namun, tetap saja kau jangan mengonsumsi obat tidur terlalu banyak. Aku khawatir kau kenapa-kenapa, Kume."

Obat tidur yang tersisa Kan rapikan. Matsuoka turut membantu walau sejurus kemudian, ia yang antusias malah mematung di samping Kume. Dengan perlahan-lahan Kan lantas memapah Kume. Pucat yang begitu pahit pada paras Kume menjadi pemandangan terakhir yang Matsuoka lihat, sebelum pintu kembali tertutup tanpa memedulikan Matsuoka.

"Sepertinya aku tahu apa yang terjadi pada diriku, deh ..."

Kecut pun mendominasi dan menjadi senyuman Matsuoka. Ia juga bangkit berdiri yang jika perkiraannya tidak salah, palingan Kume baru kembali sejam kemudian. Rangakaiannya adalah Kume akan mandi dahulu, sarapan, barulah pulang lagi ke kamarnya mengurus kertas-kertas yang berserakan yang sepanjang itu berlangsung, Matsuoka ingin jalan-jalan. Mungkin juga tersenyum selama yang ia bisa.

"Begini bagus juga, sih. Pada akhirnya tidak ada alasan untuk bingung … bukan?"

Lagi pula Matsuoka masih sanggup menyukai senyumannya, kecuali ia melihat cermin atau Kume tidak mendung lagi, mungkin.


Kurang dari satu jam Matsuoka malah kembali. Kume jelas-jelas belum berada di kamarnya yang sembari menunggu, Matsuoka mencoba mengalihkan pikiran dengan mengintip kertas-kertas yang tengah Kume isi.

Kertas-kertas lusuh ini adalah rumah dari cerita-cerita Kume. Matsuoka tentu senang ia masih dapat membaca cara Kume bertutur, walaupun perih ketika Kume memilih kelabu sebagai warna tulisannya. Bahwa ia memilihnya tetapi bukan karena Kume menyukainya, melainkan Kume frustrasi sebab segala-galanya habis. Namun, ia tak bisa menciptakan apa pun lagi sesuai keinginannya, padahal ia ini penulis.

Sedikit-banyak alurnya mengisahkan mengenai seseorang yang takut dilupakan. Rasa-rasanya Matsuoka langsung dibuat membayangkan Kume itu sendiri, sewaktu membaca kalimat-kalimat yang Kume taruh. Kume yang merasakan hal tersebut seorang diri, tiada orang lain, membuat Matsuoka tiba-tiba mengenang Shipwerck.

"Jangan memaksakan dirimu, oke? Sekarang masih pukul sembilan pagi, kok. Tenangkan dulu dirimu, barulah kembali menulis lagi. Kalau ada apa-apa panggil saja aku."

Usai berpesan demikian Kan menutup pintu. Meninggalkan Kume yang dengan sempoyongan menuju meja tempatnya berkarya, lalu ia duduk di lantai dan memegang pena. Bahkan di mata Matsuoka itu bukan seperti menggenggam, sebenarnya. Katakanlah perasaannya justru seumpama bolpoin tersebut menarik-narik leher Kume. Memaksa jari-jarinya lekat dengan wujud ramping ini sehingga mau tak mau, Kume hanya menulis, menulis, atau menulis.

"Harusnya aku minta Kan menuliskan cerita untukku saja. Meskipun deadline-nya pukul satu siang, aku merasa enggak bisa memenuhinya. Apa sekarang ini waktunya untuk menyerah, ya?"

Ah. Kume putus asa. Secara impulsif tangan Matsuoka terulur hendak mengelus wajah samping Kume, tetapi tembus seperti pil tidur yang Matsuoka coba untuk rapikan.

"Memangnya Kume mau menghilang?" Suara Matsuoka bergetar. Meskipun tidak terdengar, setidaknya biarkan senyuman Matsuoka menyentuh Kume. Agar Kume tahu ia takkan pergi, karena ada yang segera lepas yang mana, hanyalah garis lengkung Matsuoka seorang di sini.

"Tetapi aku takut dilupakan. Aku enggak mau menghilang, tetapi berjuang buat hidup di neraka pun, apa artinya? Bukankah lebih baik aku tinggal di neraka betulan?"

Ucapan itu Kume gumamkan sambil mengukirnya ke selembar kertas. Matsuoka memperhatikan tulisan tangan Kume yang acakadut, agak abstrak, dan seperti melantur dibandingkan mengarang cerita. Tatapannya jadi berkerut khawatir. Kalau sudah terlihat begini, mana mungkin Kume dapat disebut baik-baik saja, bukan? Matsuoka jadi mendadak beranjak yang benar-benar ingin pergi.

"Tunggulah sebentar, Kume. Akan kubuatkan kopi favoritmu."

Biasanya begitulah cara Matsuoka menyemangati Kume, dan Kume pun menyukainya sehingga ia selalu meminta Matsuoka melakukannya. Dapur tidaklah ramai mengingat jam sarapan telah berakhir. Ketika Matsuoka sampai, palingan ia sekadar menyaksikan Tokuda Shuusei tengah mencuci piring dibantu Shimazaki Touson. Bisu yang mengelilingi mereka entah mengapa tak seperti sewajarnya.

"Haahhh ... siapa sangka, ya, bakal begini jadinya." Keran air Shuusei matikan. Piring yang sudah bersih dilap sejenak sebelum akhirnya, ditumpuk di samping. Touson mengoper satu kepada Shuusei barulah menatap manik obsidian tersebut.

"Ya. Setelah shinshokusha dibasmi sepenuhnya, siapa sangka kita bisa tetap hidup. Namun, semua tergantung pada bagaimanakah popularitas kita di mata masyarakat. Ada beberapa yang langsung hilang gara-gara itu, dan kita melupakan semua tentang dia begitu saja."

Sementara yang bertahan singkatnya menyerupai jejak yang Kume pilin. Mereka takut menghilang, atau lebih tepatnya dilupakan selama-lamanya. Oleh karena itu, semua rela menggila sampai disakiti oleh menulis. Senyuman Shuusei yang masam rasa-rasanya begitu Matsuoka pahami, bahwa ia pun tidak suka. Bercerita menjadi sama sekali tak menyenangkan. Justru lama-kelamaan melahirkan penyesalan, kenapa jalan seperti ini harus ada di dunia dan dipilih?

"Menurutmu sudah berapa banyak yang kita lupakan?"

"Entahlah, tetapi firasatku berkata kita melupakan satu orang lagi." Mendengar itu Matsuoka tersentak. Kedua tangannya mengepal yang terasa nyata pun, tetap saja sia-sia karena Matsuoka tidak diizinkan menggenggam cangkir. Bagaimana caranya menyeduh kopi untuk Kume?

"Nah, Shuusei ... karena topiknya telanjur begini, apa yang akan kau lakukan semisal kau menghilang? Tetapi kau masih bisa menontoni kami sebelum menghilang."

Pertanyaan mendadak itu membingungkan Shuusei, dan membuat kabur Matsuoka. Suara Touson terngiang-ngiang sepanjang Matsuoka malah menyusuri lorong. Napasnya terengah-engah, atau mungkin tanpa Matsuoka sadari, ia sudah berhenti melakukannya. Bahkan mungkin Matsuoka tidak benar-benar perih ketika seulas perasaan muncul untuk melukis, ia sedih karena menulis hanyalah belenggu kebahagiaan sekarang ini.

Tetapi jika semua ini tidak nyata, kenapa Matsuoka bisa merasakannya? Ia tak ingin berkhayal. Ia tak mau pikiran-pikirannya untuk Kume hanyalah mimpi–Matsuoka yang berangan masih memiliki kenangan, prihatin atas nasib Kume, padahal sebenarnya Matsuoka ini sekadar wujud transparan tanpa isi apa pun yang bergentayangan, sebab tak menyadari ia bukan manusia lagi.

Ia masih ingin hati yang nyata.

Walaupun semuanya haruslah penderitaan, kepedihan, rasa sakit, kesedihan ataupun luka-luka bahkan sampai berduka atas diri sendiri, Matsuoka tetap berkata ia mau. Mengharapkannya biarpun nanti Matsuoka menghilang, dia dilupakan, segala-galanya pupus semata.

Setidaknya Matsuoka menegaskan kepada dirinya sendiri bahwa Matsuoka Yuzuru ini hidup.

Hidupnya ini nyata walaupun ia tak kasatmata lagi. Tiada khayalan, mimpi-mimpi, angan-angan, atau besi imaji apa pun, sehingga Matsuoka memutuskan kembali ke kamar Kume. Memecah pertanyaan Touson yang mana, karena memang Matsuoka sudah memperoleh jawaban. Memperlihatkannya dengan Matsuoka tetap menggenggam tangan Kume, meski tembus dan tak akan pernah sampai.

"Aku akan di sisimu sampai akhir dengan bersikap seperti biasa, setidaknya. Maaf, karena hanya itu yang bisa kuperbuat."

Mendapati Kume mendengkur halus, lalu Matsuoka seolah-olah mengelus rambut Kume yang acak-acakan. Samar-samar kata "tamat" tampaknya tersemat. Spontan keriangan Matsuoka berseru, Kume memang bisa melakukannya dan Matsuoka pun menyatakan, ia selalu memercayainya. Jadi menutup mulut seakan-akan Matsuoka terlalu berisik, Kume nanti mendengar dia menyebabkan istirahatnya terganggu.

"Ko-pi ..."

"Kume lagi bermimpi minum kopi, kah? Buatan kafe atau rumahan, nih? Kalau yang kafe rasanya pasti lebih enak, tetapi yang rumahan paling bisa menghangatkan hati."

Igauan Kume belum menampakkan batang hidung lagi. Bibirnya sebatas meracau asal-asalan Suaranya pun masih entah ke mana membuat Matsuoka tertawa kecil. Tentu saja Kume itu menggemaskan. Sayangnya pemikiran tersebut amat pelan, dan sebentar sekali, di mana sejurus kemudian hanyalah Kume yang kecewa yang Matsuoka ketahui.

"Hmm ... kopinya ke mana, ya? Padahal aku menunggunya selama mengerjakan cerita."

"Ah. Ternyata Kume tidak membeli di kafe, ya." Matsuoka memang mengelak. Habisnya ia sudah memutuskan, takkan meminta maaf karena tak bisa menyeduhkan kopi untuk Kume, selama Matsuoka ingat telah berjanji menemani Kume sampai akhir sebagai gantinya.

"Kopinya ke mana, ya ...? Kapan datangnya?"

"Sebentar lagi Kan membuatkannya untukmu. Tunggu saja."

"Buatan Kan memang enak, tetapi bukan ini yang aku cari."

"... Terus siapa?"

Matsuoka menggigit bibir. Pada akhirnya ia tak bisa tak bertanya, tetapi sekiranya ia masih menahan permintaan maaf. Pantas saja berubah begitu sulit. Rasa tidak suka seolah-olah bersekutu. Keinginan yang hanya bertahan dengan wujud seulas kaca pun diserangnya bertubi-tubi. Takdir mungkin memang ingin melihatnya berpecahan, karena perubahan dari manusia adalah sebenar-benarnya perubahan yang paling bisa meluluhlantakkan kata-kata dari nasib.

Takdir benci diubah oleh manusia yang berubah yang padahal, mula-mula begitu takut dan menolaknya, tetapi Matsuoka akan teguh untuk berubah.

Akan Matsuoka pastikan dirinya tidak meminta maaf, supaya tiada kesedihan baru yang tertinggal. Lalu pada epilognya sekadar mengingat hal-hal menyenangkan yang pernah menemani mereka sebagai–

"Lupa ... kenapa aku melupakannya, ya? Apa karena itu dia enggak mau membuatkanku kopi?"

Bukan begitu.

Mana mungkin pula bisa seperti itu, karena walaupun Matsuoka tetap "menghilang" seperti dilupakan oleh Kume yang amnesia, Matsuoka akan selalu menyeduhkan kopi. Sebanyak apa pun kesukaan serta kebencian Kume berubah, pasti Matsuoka buatkan yang terenak untuknya. Matsuoka senantiasa menjadi Matsuoka yang sama; yang biasanya agar Kume nyaman tanpa perlu mengingat siapakah Matsuoka. Makanya–

"Maaf, karena tidak bisa membuatkanmu kopi. Aku pun sangat menginginkannya kalau saja tanganku enggak transparan begini."

Dengan sedikit terisak Matsuoka memeluk Kume. Ia tetap berubah pikiran, ternyata. Matsuoka gagal bersikukuh yang artinya, ia ditaklukkan takdirnya, dan karena Matsuoka lemah hatinya pergi mencari-cari alasan. Mengumpulkan kata-kata yang dapat berucap; begitu pun tak apa, setidaknya hanya Matsuoka seorang yang bersedih, sedangkan Kume baik-baik saja setelah mengganggapnya sekadar bunga tidur.

"Kira-kira pula berapa lama lagi waktu yang kumiliki dengan Kume? Apa sampai akhir ... Kume benar-benar tidak–"

"Kume. Bersiap-siaplah karena sebentar lagi kita berangkat. Kutunggu dalam lima menit."

Dari balik pintu suara Kan memanggil Kume. Rencana yang Kan maksud sepertinya adalah mengunjungi editor naskah, dan nantinya karya Kume dinilai layak ataukah tidak untuk dimuat di surat kabar.

"Bangunlah, Kume. Jangan sampai terlambat. Nanti kesanmu jadi buruk, lho."

Kegagalan tidak pernah ada selama setelahnya, seseorang dapat mencoba lagi menggunakan kehidupannya yang entah sampai kapan. Matsuoka lantas seolah-olah menggoyang-goyangkan bahu Kume. Terus melontarkan bisik-bisik lembut yang diam-diam bergetar meminta Kume bangun, hingga ujung-ujungnya Kan turun tangan. Kume pun terbangun akibat gerakan yang lebih keras.

"Maaf membangunkanmu, tetapi kita harus bersiap-siap." Kacamata bulat khas Masao Kume itu Kan bantu ambilkan. Jam telah menunjukkan pukul dua belas siang yang sebenarnya, akan agak mepet ketika waktu ditempuh nanti, tetapi Kume tetap tenang-tenang saja. Gerakannya begitu kuyu seperti dapat pecah kapan saja.

"Atau aku saja yang mengirimkan naskahnya? Lebih baik kau beristirahat."

"Kali ini entah kenapa, aku merasa berhasil membuat sesuatu yang hebat. Jadi, aku ingin mendengar langsung pendapat editor."

Selesai memasang fedora favoritnya, Kume berjalan beriringan dengan Kan sementara di belakang mereka, Matsuoka mencoba membakar langkah-langkah Kume dengan semangat. Keduanya berjalan kaki menuju tempat surat kabar. Guna mencairkan lesu yang menyelimuti Kume, Kan bertanya mengenai cerita yang Kume gubah. Katanya rahasia. Matsuoka tertawa bersama Kan memuji antusiasme Kume.

"Kan sendiri bagaimana?"

"Tentu aku juga berusaha. Untuk sekarang sepertinya aku aman, meski selanjutnya ... entahlah. Apa aku salah kalau aku bilang, aku benci menulis?"

"Sama. Kejamnya lagi kalau kita menghilang, karya-karya yang kita lahirkan sebelum dipanggil sebagai representasi jiwa penulis, lenyap juga." Gigi Kume bergemeretak. Benaknya pun sama seperti Kan yang sekarang hanya membenci, euforia bertemu sahabat-sahabat seperjuangan ataupun akrab dengan bungou baru jadi ternodai, gara-gara hal tersebut. Kan menerawang langit. Menghela napas karena selalu mendadak lelah setiap membicarakannya.

"Berkah yang menjadi kutukan, ya. Sebenarnya aku sudah lelah, tetapi demi Ryuu mana bisa aku menyerah."

Sastrawan kondang macam Akutagawa Ryuunosuke dan Dazai Osamu, memang bisa dipastikan eksistensi mereka bakalan panjang. Sebelum Matsuoka benar-benar fana pula, ia ada menyaksikan Akutagawa berkali-kali mencoba bunuh diri. Untuk seterusnya, Kan serta Kume pasti ditemukan oleh kengerian itu lagi. Rasa tidak enak hati yang mula-mula segelintir, mau tak mau lama-kelamaan terus menggelinding yang terus membesar dalam diri Matsuoka.

"Ya. Hal yang begitu kusukai pun menjadi sesuatu yang sangat kubenci. Namun, selain karena menulis tak lagi menyenangkan, atau tujuan kita berkarya menjadi kacau, aku benci karena ketika gagal mempertahankan namaku, aku dibuat mengkhianati kalian."

Setelah ini yang entah berapa lama lagi, Matsuoka akan meninggalkan Kume, Kan, beserta anak-anak Shinshicho lainnya. Tidak menanggung luka mereka ataupun mengetahuinya yang bukankah, secara tak langsung menjadikan Matsuoka seorang pengkhianat?

Mereka akan terus mengingat, sedangkan Matsuoka melupakan segala-galanya. Bahkan mungkin mana mengerti apakah dia pernah hidup, tengah mati, ataukah mempertanyakan apa itu hidup apa itu mati, atau jangan-jangan tak mengetahui kedua bentuk tersebut?

Ia lebih membenci hal seperti itu ketimbang dirinya harus menghilang. Namun, untuk sekarang ini dibandingkan memikirkannya lamat-lamat, Matsuoka dengan ceria menunjuk toko yang menjual mochi dari jauh. Lidahnya berceloteh bahwa dia ingat sekali, mereka pernah beberapa kali ke sana menemani Natsume-sensei membeli raindrop cake.

"Kuenya sangat cantik. Benar-benar seperti tetes air hujan yang jernih, dan rasanya enak. Aku mau memakannya lagi."

Ada pula konpeito kesukaan Niimi Nankichi. Pernah juga Ozaki Kouyou diseret-seret oleh Izumi Kyouka supaya jangan terlalu banyak memakan manisan, serta nostalgia lainnya yang terus Matsuoka jabarkan. Toko tersebut memang akrab dengan para bungou. Kini mereka bertiga melewatinya yang menyenangkan Matsuoka, tetapi baik Kume maupun Kan justru membisu. Keduanya tak sedikit pun menengok membuat Matsuoka berhenti berjalan.

"Bagaimana dengan kedai ramen yang ada di situ, atau toko jam tempat Natsume-sensei memperbaiki jam tangannya? Kita sering ke daerah sini, lho. Karena menulis terus kalian jadi jarang kemari, 'kan? Memangnya enggak rindu?"

Sudah lama tidak kemari, maka biasanya mengenang.

Apakah bahkan mereka tidak terpikirkan ingin membeli kue untuk Natsume-sensei? Sejenak menikmati ramen menilik keduanya belum makan siang? Atau setidaknya sepulangnya dari mengecek naskah Kan dan Kume berjalan-jalan?

Padahal mereka terbiasa melakukannya dengan rasa sayang. Tetapi sekarang ini kenangan-kenangan yang pernah terkatakan begitu menghambar, cenderung asing, mengerikannya lagi seolah-olah tidak akan kembali dikenali. Karena jika Matsuoka melihat dari sini, punggung keduanya adalah punggung yang melupakan bahwa pulang hanyalah tentang kembali ke belakang, tetapi bukan mengulangi melainkan membawanya ke depan, untuk memperbaharuinya dan menjadi baru.

"Hanya perasaanku atau wajah kalian bertambah pucat dari hari ke hari? Lagi pula kalau ceritanya kurang laku, masih bisa dicoba lagi, kok."

Editor berujar santai yang bukan salahnya. Kume begitu pun Kan sekadar tersenyum kelewat tipis, barulah Kume menyerahkan naskah cerpennya. Matsuoka berdiri di belakang sofa yang diduduki editor. Membaca tulisan Kume secara lebih lengkap, mengingat ia tak bisa memegang apa-apa ditambah lagi, sekarang ini tubuhnya kian transparan.

"Kekuatan Kume-san memang terletak pada kata-katamu. Namun, untuk cerita yang satu ini, saya merasakan sesuatu yang lebih spesial. Meski, ya, tolong perbaiki beberapa bagian. Agak melantur soalnya."

Kan mengambil waktu untuk membacanya juga. Wajah Kume agak memerah malu, karena lucu sekali mendapati Kan antusias. Bahwa penulis pop fiksi itu berkobar, tetapi Kan tetap memiliki kelam yang merapat ke sisinya. Ada kesedihan yang bisu, mungkin selama-lamanya bisu, makanya selalu membuat sedih.

"Aku takut dilupakan, tetapi aku lebih takut melupakan. Bagaimana bisa aku melakukannya? Karena walaupun yang kulupakan hanyalah boneka jahitan ibu, artinya sama saja aku melupakan ibu. Sementara jika yang kulupakan adalah masa lalu, berarti aku melupakan sahabat terbaikku. Sekarang aku tidak tahu caranya maju, sebab ia berhenti mengisi belakangku sebab aku melupakannya."

Paragraf tersebut memiliki magi paling kuat yang menghidupkan cerita ini. Matsuoka saja sampai-sampai melamun cukup lama, dan baru tersadarkan ketika Kume meninggalkan ruangan ditemani Kan. Bahu Kume dirangkul sambil Kan terus memujinya. Meyakinkan Kume bahwa kali ini Kume pasti bertahan lama. Makanya lebih baik Kume nyenyak hingga esok, tetapi siapa sangka Kume menolak saran Kan.

"Aku mau ke izakaya di daerah X."

"Daerah X jauh juga, 'kan? Kume yakin mau ke sana? Perjalanannya saja dua jam lebih." Matanya merah padam. Sewaktu berjalan pun Kume ada saja menabrak orang, sehingga bagaimana mungkin Kan tidak cemas? Namun, anggukan Kume tetap terlihat mantap. Kalau sudah begini, kenapa rasa-rasanya tiada yang bisa menghentikan Kume, ya, ataupun menemani dia kecuali seseorang? Sayangnya Kan lupa siapa dia.

"Berhati-hatilah. Jangan minum terlalu banyak."

Tangan Kume yang terangkat sebelah tidak Kan artikan Kume akan berjanji untuk menurut. Palingan diam-diam Kan berjaga-jaga dengan menaiki kereta selanjutnya. Mengekori Kume yang tengah duduk-duduk menikmati senja, dan ia bersama Matsuoka sebenarnya. Matsuoka yang betul-betul kebingungan harus berekspresi seperti apa.

"Izakaya di daerah X, ya ... kami sering ke sana karena Kume sering galau."

Sembunyi-sembunyi. Menyenangkan. Selalu dekat walaupun sekarang ini, Matsuoka merasa jauh karena mungkin ia sudah terlalu paham, bagaimanakah Matsuoka Yuzuru akan menghilang.

Namun, begitu pun tak apa. Matsuoka sungguh baik-baik saja sampai ia tidak sanggup memejamkan mata, sebab takut apabila ia menutupnya walau sebentar sekali, tahu-tahu Matsuoka melupakan hidup-matinya. Sensasi kereta yang berdogleg-dogleg mendorong Matsuoka untuk bersandar di bahu Kume. Suaranya kembali terbuka yang mana Matsuoka turut menyanjung cerpen buatan Kume.

"Luar biasa banget. Kume dapat inspirasinya dari mana, nih? Buat perbaikannya, lakukan saja besok-besok. Lebih baik Kume bersenang-senang dulu."

Apa pun jadi Matsuoka utarakan. Sulit dipungkiri selain senang, ketakutannya tetap saja teramat besar bahwa bisa jadi, Matsuoka tiba-tiba lenyap. Toh, lambat laun Matsuoka pun semakin sukar mendengarkan suaranya sendiri. Nanti itu timbul. Nanti itu ditelan lalu-lalang keramaian, atau sesungguhnya Matsuoka sudah tak mengeluarkan kata-kata lagi, tetapi ia enggan menyadarinya.

"Sore menjelang malam, Kume. Sudah lama sekali tidak melihatmu. Masih sibuk menulis, kah?"

Yang berbicara adalah sesosok pak tua berwajah ramah. Menanggapi itu Kume sekadar mengangguk, lalu duduk di kursi yang biasanya. Matsuoka mengikuti Kume dengan menempati tempat di sebelahnya. Sekarang ini bartender pasti tengah mempersiapkan whisky kesukaan Kume. Sayang sekali Matsuoka tak dapat bersulang untuk sahabatnya yang sebentar lagi Matsuoka tinggalkan.

"Maaf. Boleh tolong ganti menunya?" Baik itu Matsuoka maupun bartender, mereka sama-sama terkejut mendapati Kume hendak mengubahnya. Mungkinkah perasaan Kume belum membaik? Matsuoka menatapnya khawatir meski entahlah, netranya masih bisa menyentuh rasa ataukah tidak.

"Boleh-boleh saja, sih. Mau apa memangnya?"

"... Yuzu."

"Yuzu? Cocktail yuzu, ya? Apa setelah lama tidak kemari, Kume jadi pecinta jeruk?" Kume menyunggingkan samar pada lengkung bibirnya. Sang bartender mesem-mesem saja, karena ia bisa merasakan Kume juga bahagia.

"Bukan begitu. Sebelum pergi menyetorkan naskah bersama Kan, aku bermimpi menunggu kopi dari seseorang. Namun, yang datang hanyalah Kan. Aku berkata kopinya enak, tetapi bukan itu yang kucari, melainkan yang bukan buatan Kan dan rasanya ... yuzu?"

"Memangnya ada kopi rasa yuzu?" Cocktail diletakkan di depan Kume. Ia menggeleng yang saat meneguk minumannya, Matsuoka terkejut. Soalnya Kume tiada mengigaukan yuzu.

"Entahlah, tetapi mimpi, kan, bisa sangat random. Cuma aku tidak bisa tidak memikirkannya."

"Komentar dari teman-temanmu bagaimana?"

"Miris banget, sejujurnya. Aku belum menceritakan mimpiku kepada Kan, tetapi malah langsung ke paman, padahal dia sahabat baikku." Kini sekujur wajahnya masam. Gelas cocktail Kume remas kuat-kuat, ketika sesudah meminumnya Kume semakin menyadari sesuatu. Bahwa pada hari ini ia memang melupakan seseorang yang berharga baginya.

"Kalian bertengkar?"

"Justru karena kami terus menulis, kami malah renggang. Aku merasa enggak dekat dengan Kan, semenjak keseringan mengurung diri di kamar. Kan juga jadi rada-rada segan, meski dia masih menyemangatiku. Makanya aku tidak menceritakan mimpiku kepadanya."

Pandangan Matsuoka temaram disaput bayangan, dan dia kian mencari-cari hitam untuk tenggelam, semakin telinga Matsuoka mendengar Kume menyingkap yang ia pendam. Matsuoka pun tidak menyukainya. Menulis yang seharusnya terus menghubungkan mereka sebagai sastrawan, berbalik mengkhianati arti dari dirinya sendiri. Malah menerima makna yang berkebalikan yang justru menjadi perpisahan.

Semakin mereka menulis, semakin mereka terpisah dengan tidak mengenali satu sama lain. Bahkan diam-diam asing terhadap yang ditulis.

Pada akhirnya mati-matian mempertahankan eksistensi pun, apa artinya jika suatu hari yang menanti perpustakaan, hanyalah saling merasa asing? Ternyata memang Matsuoka sangat bodoh. Saat ia berpikir untuk bersikap biasa saja, ia gagal. Namun, sewaktu yang dirasakan Matsuoka sesungguhnya sah-sah saja, Matsuoka menyesal. Maunya bukan berarti tak jelas. Ia hanya berpikir ketika sebentar lagi hilang, seharusnya Matsuoka merasakan–

"Dibandingkan rasanya seperti yuzu, apa Kume tak merasa itu merupakan nama seseorang?"

"Ya. Hal itu baru juga kupikirkan. Pasti dia adalah sahabatku yang kulupakan."

"Kalau kalian sahabat mana mungkin Kume melupakannya, bukan?" Tawaran untuk menambah cocktail melalui isyarat, Kume tolak baik-baik. Habis ini dia mau pulang, lagian. Kan benar harusnya Kume beristirahat saja–kepalanya mulai berputar-putar.

"Nyatanya aku melupakannya, karena aku ini lemah. Padahal rasanya dia selalu mengingatku, makanya aku bisa mengetahui ada yang selalu membuatkan kopi untukku. Dia pasti sangat baik. Akhirnya aku ke sini karena merasa, aku bisa tenang dan mengerahkan segalanya. Pasti dia sering menemaniku minum-minum, lalu kami mengobrol hingga larut."

Sekarang Kume mengerti, makanya ia memutuskan pamit meninggalkan sang bartender, juga Matsuoka yang masih duduk. Apabila kuatnya bukanlah perandaian, setidaknya Kume akan melawan ketika ia diharuskan melupakan. Dicarinya sosok itu yang lebih penting, dibandingkan sebuah batas waktu ataupun nyatanya eksistensi diri sendiri. Sayang sekali Kume lemah. Payahnya lagi Kume sekadar mengatakan itu, dan niatnya untuk mencoba tetap tumpul.

"Menjadi lemah itu apakah salah?"

"Kalau semisal dia muncul dalam khayalanku, aku sendiri enggak keberatan. Fiksi semata pun pasti kuanggap nyata, agar seenggaknya aku bisa minta maaf."

Kalimat-kalimat tolol itu dengan tidak tahu dirinya berputar kencang. Tak dapat dihentikan, ataupun Kume ingin, karena ia menyeriusinya. Dengan kesadaran yang kian terkikis, Kume pun berpikir ia akan mengarang saja. Ia tidak apa-apa dengan kelegaan palsu. Malahan mungkin memang benar, hal tersebut adalah yang terbaik yang bisa Kume peroleh, makanya–

"Kume! Kume! Setidaknya kali ini saja, tolong dengarkan aku."

Kepala yang nyaris membentur tembok itu diselamatkan oleh Matsuoka. Siapa lagi kalau bukan dia yang padahal, sesungguhnya telah menepati janji dari diri sendiri untuk bersama Kume sampai akhir. Padahal sampai detik ini walaupun Matsuoka setiap saat terombang-ambing, Matsuoka hanyalah Matsuoka yang seperti biasanya; ia tahu ia menyayangi Kume, ia mengerti kenapa ia memedulikan Kume, karena semuanya selalu sesederhana sebab Kume adalah Kume.

"Apa Kume bisa mendengar dan melihatku? Wujudku hampir transparan, tetapi saat Kume berkata kamu itu lemah, aku–"

Untuk Matsuoka tangannya benar-benar menggenggam Kume, sedangkan bagi Kume ia sekadar berkhayal–tidak kurang maupun lebih, tetapi Kume senang bisa se-nyata ini. Matanya dapat benar-benar merasa menyukai sepasang netra Matsuoka yang rapuh, lelah, tetapi ia bersinar karena terlihat sekali, ia rela patah berkali-kali demi sosok sekecil Masao Kume.

"Aku menjadi kuat, dan walaupun sebentar sekali karena aku memang harus menghilang, aku senang bisa memberitahumu bahwa Kume tidaklah lemah. Ceritamu sangat bagus. Lalu– ma-maksudku ... bukannya aku menguntitmu atau apa. Anggaplah aku ini hantu yang jatuh cinta ... padamu."

"Jatuh cinta itu maksudnya ...?" Pipi Kume ikut-ikutan memerah. Diksi yang Matsuoka pakai ia sadari memang ambigu, tetapi Matsuoka tahu harus bagaimana agar Kume tak tiba-tiba kabur.

"Konteksnya tidak romantis, kok. Bagiku jatuh cinta adalah ketika ingin bertemu lagi, tetapi sebenarnya tak bertemu pun, aku berharap Kume bahagia."

"Jadi ... kau itu Yuzu?"

"Kira-kira begitulah. Menampilkan diri di depanmu pun, sebenarnya aku tidak tahu lagi mau mengatakan apa. Justru aku enggak mau lama-lama, biar Kume tak terbebani." Secara sepihak Matsuoka membebaskan genggaman. Egoisnya sudah cukup, atau bahkan lebih dari cukup mengingat selama ini, Matsuoka enggan jauh-jauh dari Kume. Setelahnya bahkan harapan Matsuoka yang bisu dikabulkan, supaya Matsuoka bisa dilihat Kume untuk terakhir kalinya.

"Tadi kau bilang ceritaku sangat bagus, 'kan?"

"Benar, kok! Mana mungkin aku bohong."

"Mau tahu aku terinspirasi dari siapa?"

"Entar kepanjangan, ah. Lagi pula setelah ini, kita enggak akan bertemu lagi. Ceritakan saja kepada temanmu yang–", "Apaan? Aku saja enggak tahu terinspirasi dari siapa. Namun, karena katamu kau adalah Yuzu, ya sudah. Akan kuanggap ideku itu terinspirasi darimu. Terimalah agar menghilang pun, seenggaknya kau punya sesuatu di akhir semua ini."

Sayup-sayup tawa Matsuoka mengudara. Masing-masing tidak mengatakan apa pun lagi. Purnama ternyata semakin naik, dan di dalam senyumannya yang lebar Matsuoka tahu-tahu menghilang. Menjadi bagian dari musim semi yang hampir berakhir. Kume baru terkekeh tatkala Matsuoka pergi. Kebohongannya payah sekali yang dibandingkan berdusta, bukankah seharusnya Matsuoka bilang saja dia itu sahabat Kume? Menjelaskan bahwa mereka adalah rekan seperjuangan, lalu Kume ...

Lalu dia mengakui Kume memang melupakan Yuzu–Matsuoka Yuzuru–daripada mengobrol yang betul-betul singkat, kemudian hangus begitu saja. Ketimbang Matsuoka memanfaatkan kesempatan terakhirnya malah untuk menegaskan, Kume ini kuat.

"Kayaknya Yuzu itu temanku yang paling bodoh, ya?"

Faktanya adalah Matsuoka Yuzuru itu menantu Natsume-sensei, tetapi ia malah paling dilupakan oleh masyarakat, sehingga Matsuoka menjadi yang selanjutnya menghilang.

Sementara menurut Kume, dia itu bodoh karena sangat menyayangi Kume. Terlalu mengasihi Kume sampai-sampai untuk mengetahuinya, memang tinggal melihat matanya saja yang seharian ini, berapa puluh kali Matsuoka memikirkan Kume hingga di akhir, Kume menyadari siapakah Matsuoka walau sebentar sekali?

"Seenggaknya aku akan berusaha biar tidak hilang. Masalahnya kalau aku hilang, ceritaku yang katamu bagus itu yang mana jadinya?"

Sempat menontoni Kume berbicara sendirian selagi Kan mengawasi, di perjalanan pulang Kan jadi menyarankan supaya Kume mengunjungi Miekichi–psikologisnya diperiksa secara terperinci, daripada Kume menjadi Akutagawa kedua. Mendengar kekhawatiran itu Kume tertawa getir. Mengakui bahwa ia memang berhalusinasi, tetapi ...

"Jika itu benar-benar halusinasi ... sebenarnya aku akan sangat sedih, Kan."

Lagi-lagi ada Kan yang menerawang, meski bedanya kali ini adalah langit-langit kereta. Kepala Kume ia tepuk-tepuk. Kurang memahami titik perkaranya pun, mungkin lebih baik Kan bilang seharusnya Kume percaya, ia hanya akan melewati fragmen-fragmen yang nyata ketika bersama orang baik.


Tamat.


A/N: Ide ini terinspirasi dari sw-nya ivy (mention nama karena orangnya enggak akan baca juga). Di situ ivy ada bilang, meskipun matsuoka itu menantu natsume, dia ini malah dilupakan orang-orang dan nyari bukunya juga susah. Dari situ aku kepikiran mau bikin konsep, di mana yang gak terkenal kek matsuoka itu bakalan menghilang. Kalo mau bertahan hidup dan karyanya enggak dihapus, ya harus terus nulis biar seenggaknya tetap dikenal khalayak.

Yang mau kutekankan di sini itu dinamika perasaan matsuoka. Dari dia yang mula-mula yakin, labil, kembali yakin, labil lagi, sampai akhirnya dia tau2 tiba di akhir dan gak memikirkan segalanya lagi. Harusnya ini jadi dalam 2 hari, tapi karena pas pengerjaan aku lagi masa2 ujian juga, makanya butuh 3 hari. Maaf kalo semisal fic ini gaje, dan thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Seenggaknya aku seneng bisa nyumbang buat matsuoka x kume, meski maaf lagi karena di akhir mendadak kecepetan. Aku bener2 gak tau juga mau ngomong apaan lagi.