Winter Sparkle

Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't gain any profit.

KakaObi

For teteh Purple'sSky09

Warning : m/m pair, oneshot, flirting, kinda cringe


_

Salju turun tapi tak begitu lebat di luar sana. Orang-orang masih mengisi jalanan dengan pakaian hangat mereka. Uchiha Obito; mahasiswa semester enam kala itu menyusuri lorong gelap kampusnya. Sambil mengeratkan pegangan pada strap tasnya, ia mempercepat langkah sembari berharap segera menemui tempat yang agak ramai dan terang. Namun, entah kenapa lorong ini seperti tak ada habisnya saja. Umpatan kecil lolos setiap kali telinganya mendengar sesuatu; entah sugesti yang muncul dalam pikiran atau memang ada 'sesuatu' di sana.

Obito sedikit menghela napas ketika sampai di lobi utama kampus. Kalau saja bukan karena laptopnya yang tertinggal dan laporan praktikum harus diserahkan besok, sementara ia belum merevisi apapun, mungkin sekarang pemuda itu sudah jatuh ke alam mimpi di kamarnya. Dengan langkah gontai karena kehabisan tenaga menuruni tangga—lagi-lagi ia ditimpa kesialan karena lift tidak berfungsi ditambah tak ada asupan apapun sejak siang tadi, Obito menuju pintu utama. Kepalanya sedikit pusing, tubuhnya gemetar karena lapar dan dingin. Pemuda itu menggeleng, berusaha menyeret kaki yang sepertinya sudah mau lepas itu dengan paksa menuju ke luar.

Udara dingin langsung menghantamnya, membuat pemuda itu merinding sesaat sambil memeluk tubuh ketika keluar dari ruangan. Butir-butir salju berjatuhan di depannya, sedikit berkilau ditimpa cahaya. Obito kembali melangkah gontai menyusuri trotoar. Sumpah, ia sangat lelah, kedinginan dan lapar. Ia berharap menemukan kedai ramen dalam perjalanan sehingga tenaganya cukup untuk pulang. Saking lelahnya ia jadi tidak fokus sampai menabrak seseorang. Obito seharusnya jatuh karena lemas, tapi orang yang ditabrak menahan tubuh kekarnya agar tak menyentuh tanah berselimut salju.

Obito yang masih sadar tapi lemah itu mencoba menengadah. Matanya langsung bertemu dengan sepasang heterokrom tanpa ekspresi, dibingkai oleh rambut perak yang mencuat berantakan. Dibantu sang penolong, Obito dipandu untuk tegap kembali.

"Ck, kupikir siapa," decak si rambut perak. Obito mendengkus. Ingin memaki dengan suara tinggi tapi tenaganya tak memadai. "Kau ini tidak ada sopan santunnya sama seniormu, ya? Omong-omong, terima kasih."

Pemuda berambut perak itu tak menjawab. Segera ia melepas tahanannya pada tubuh Obito setelah mampu berdiri dengan benar. Obito hanya memandangnya sekilas sebelum kembali melangkah gontai melewatinya. Si rambut perak memandang punggung pemuda itu yang semakin menjauh, semakin mengecil ditelan jarak. Ia embuskan helaan napas jengah sebelum beranjak dari sana.

Obito makin sulit memfokuskan dirinya. Pandangannya kabur, belum lagi tremor yang menyerang seluruh tubuh di bawah guyuran salju. Tapi ia masih harus berjuang, setidaknya beberapa meter lagi untuk mencapai kedai ramen langganannya. Namun, tubuhnya semakin susah diajak kerja sama. Lalu, ia dikejutkan oleh pekikan klakson dalam jarak dekat. Langkahnya spontan berhenti, kepala ditolehkan cepat ke samping tempat asal suara. Sebuah mobil berwarna hitam kelam berhenti di sampingnya. Jendela diturunkan, menampakkan sosok si rambut perak yang duduk di kursi pengemudi. Obito menaikkan alis tinggi-tinggi.

"Naik." Singkat, padat dan penuh penekanan. Khas seorang Hatake Kakashi. Ekspresi Obito berubah skeptis sebelum melambai. "Tidak perlu, sudah dekat," ujarnya kemudian kembali melangkah. Kakashi mendengkus, lantas melajukan mobil dengan pelan, sejajar dengan langkah Obito yang mulai terseret.

"Kakimu sudah protes, tuh," ujar Kakashi setengah berteriak. Obito mendelik kesal. "Berisik! Pulang sana!" bentaknya. Ya, Obito benar-benar salah jika mengharapkan Kakashi akan patuh semudah itu. Mobil hitam tersebut masih saja menuntun si rambut hitam cepak yang semakin gemetaran.

"Kalau kau pingsan semua akan lebih repot lagi, tahu? Jangan seperti anak kecil, dari tadi kau sudah gemetaran."

Langkah Obito terhenti. Ia melirik pada seseorang yang berada dalam mobil hitam itu. Yang ditatap hanya mengedikkan bahu kemudian menjulurkan tubuh untuk membuka pintu mobil. Obito menarik napas panjang sebelum mengembuskannya dengan berat. Ia melangkah menghampiri mobil dengan pintu yang terbuka itu lantas masuk dan menutup pintunya. Pemuda itu menolak untuk menatap Kakashi.

Kakashi hanya menggeleng pelan sebelum melajukan mobilnya ke tengah jalan. Tak ada percakapan yang terjalin antar keduanya. Obito yang mulai lelah karena terus menegakkan punggung perlahan mulai merebahkan tubuh pada sandaran kursi. Kakashi menoleh sekilas.

"Buka dashboardnya!" perintah Kakashi. Obito menoleh dengan tatapan yang jelas merasa terganggu.

"Buka saja, apa susahnya?" Kakashi kembali berujar. Obito hanya menyumpahinya tanpa suara sebelum menarik dashboard di depannya. Ada beberapa makanan ringan dan minuman energi yang tersimpan di sana.

"Makan saja. Aku tidak mau mengangkatmu kalau kau sampai pingsan," ujar Kakashi pedas. Obito menganga sebentar kemudian beralih pada isi dashboard. Ia menarik satu bar cokelat dan minuman energi. "Kalau mau buat baik tulus sedikit, kek."

Kakashi tak menjawab lagi. Ia menyalakan radio yang saat itu menyiarkan lamaran cuaca malam ini. Obito yang mendengar bahwa rumahnya; Perumahan Kompleks Uchiha jalan aksesnya tertutupi pohon tumbang sukses tersedak. Pemuda itu terbatuk sambil menepuk dada kemudian berusaha melegakan dengan minum banyak. Kakashi sama sekali tak menolongnya.

Tiba-tiba saja, mobil Kakashi berbelok dari jalan utama. Obito terperanjat kaget; selain karena Kakashi tidak santai beloknya dan nyaris membuatnya menumpahkan minuman ke baju, jalan ini bukan ke arah rumahnya. Ia menoleh pada pemuda berambut perak yang masih memasang ekspresi datar itu.

"Oi, kau mau membawaku ke mana?"

"Tidak mungkin aku mengorbankan mobilku untuk menempuh jarak jauh hanya untuk mengantarmu sampai ke rumah. Malam ini menginap saja di tempatku," jawab Kakashi.

Obito mengerjap. Jadi sebenarnya Kakashi ini sedang berusaha menjadi orang baik? Tawanya pecah memenuhi atmosfer di antara mereka. Kakashi melirik sekilas dengan pandangan ngeri. "Kau ini kenapa? Kerasukan?"

Masih dengan sisa tawa, Obito mendekatkan kepalan tangannya ke bibir. "Kenapa kau bersikap baik dan tidak di saat yang bersamaan? Jangan membuatku bingung!"

"Kenapa kau harus memikirkannya?"

Obito skakmat. Mulutnya hanya bisa menganga. Lantas, ia menjatuhkan kepala ke belakang sambil menghela napas.

"Kau benar-benar orang yang paling tidak bisa ditebak."

Berselang lima belas menit, mobil itu sampai di kediaman Kakashi. Obito mengekori Kakashi yang keluar dari mobil dan menuju kamarnya. Ia memalingkan muka ketika melihat Kakashi menoleh padanya karena terus memandang saat akan memasukkan kata sandi. Setelah pintu terbuka, mereka pun masuk.

Kakashi langsung menyalakan lampu dan penghangat ruangan. Obito masuk sambil terus menerawang isi kamar itu. Tak banyak barang di dalam sana. Hanya ada sofa, televisi, tempat tidur dan meja kerja. Lalu di samping tempat tidur ada lemari tinggi dan cermin. Di sebelah utara ada sekat, sepertinya tempat dapur dan toilet.

"Duduklah di mana saja. Jangan sungkan."

Obito mendengkus, agak kurang suka dengan nada Kakashi yang lebih terdengar seperti perintah. Ia meletakkan ransel di sofa dan duduk di samping ranselnya. Obito menoleh pada Kakashi yang sedang melepas mantelnya lantas menghela napas. Ia mengeluarkan laptop dari ransel, bermaksud melanjutkan revisiannya.

"Kau tidak mau mandi?" tanya Kakashi.

"Duluan saja," jawab Obito yang sudah menaruh fokus penuh pada laptopnya. Kakashi mengedikkan bahu lantas berjalan ke kamar mandi dengan handuk yang menggantung di leher. Tak sampai lima belas menit, Kakashi sudah selesai dan berganti pakaian. Rambutnya digosok dengan handuk.

"Obito," panggil Kakashi.

Ketika Obito menoleh wajahnya langsung disambut lemparan baju, celana dan handuk baru yang telak mengenai wajah. Pemuda itu menarik kasar tumpukan kain itu dari wajahnya; menampakkan raut muka yang berkedut kesal. Kakashi yang duduk di tepi tempat tidur mendengkus geli sambil mengeringkan rambut.

"Cepat mandi, biasanya yang punya apartemen agak usil suka mematikan keran air panas kalau lewat jam tertentu."

Obito mencibir pelan kemudian mematikan laptopnya. Baru saja ia akan beranjak, ucapan Kakashi kembali memancing emosinya.

"Kalau mau pakaian dalam ada, tapi bekasku."

Obito refleks menoleh horor. Ia tarik bantal yang ada di sofa kemudian dilemparkan pada Kakashi. Kakashi menangkapnya dengan sempurna, membuat Obito semakin kesal.

"Najis!" umpat Obito. Kakashi hanya terkekeh nista mendengarnya. "Bercanda. Lihat di rak kamar mandi, ada yang masih baru."

Langkah Obito yang dihentakkan penuh emosi entah mengapa bisa menjadi hiburan tersendiri bagi Kakashi. Pemuda itu lantas beranjak ke dapur dan mengeluarkan dua mangkuk ramen instan. Tangannya menarik pintu kulkas, mengambil dua kaleng soda dari dalam sana. Sementara menunggu air matang, Kakashi membalas pesan teks yang masuk ke ponselnya. Obito keluar dari kamar mandi menggunakan pakaiannya, lengkap dengan wajah masam. Ia membuang kotak plastik bekas pakaian dalam yang digunakannya ke tempat sampah.

"Tidak perlu dikembalikan. Mau dicuci berapa kalipun aku tidak akan sudi memakainya lagi," ujar Kakashi.

Obito nyaris melemparnya lagi dengan handuk. Pemuda itu mendengkus. "Tidak ada niat juga. Nanti kugantikan," ujarnya.

"Tidak perlu."

"Jangan sok baik!"

Kakashi hanya mendengkus geli sebagai balasan. Obito kembali melenggang keluar dari dapur untuk melanjutkan revisian. Ketel air Kakashi berdenging. Pemuda perak itu lantas mematikan kompor dan menyeduh dua mangkuk ramen, menunggu tiga menit sebelum membawanya keluar dengan soda yang dihimpit pada lengan dan badannya. Ia menghampiri Obito yang sibuk bermanja dengan laptop dan mendorong satu mangkuk serta sepasang sumpit padanya.

Obito menoleh, memandangnya penuh keraguan.

"Apa?" tanya Kakashi.

"Kau tidak memasukkan sesuatu yang aneh ke dalamnya, 'kan?" tanyanya skeptis.

Kakashi memisahkan sumpitnya dan mulai mengaduk ramen yang masih panas itu. "Kenapa kau tidak percaya sekali denganku?"

Obito menghela napas. Ia menarik mangkuk ramen dan sumpit itu. Perutnya memang sudah minta diisi sejak dari tadi. Merasa tidak ada yang aneh setelah suapan pertama, Obito lanjut melahap ramen itu sambil sesekali menarikan jemari di atas touchpad dan keyboard. Kakashi tak banyak protes, memutuskan untuk memakan ramennya saja.

Seperti yang diduga, begitu selesai makan Obito langsung meneruskan revisi. Alisnya berkerut memindai tulisan yang ada di layar. Kakashi membereskan sisa peralatan mereka kemudian kembali ke tempat semula. Menatap Obito yang benar-benar menaruh fokus pada layar laptop. Bibirnya maju mundur, ekspresi wajahnya tak pernah tenang dan rileks sampai membuat Kakashi terkekeh geli.

Obito mendesis. "Apa kau tidak punya hal lain untuk dilakukan selain menatapku terus-terusan?" dengkusnya.

"Sejujurnya tidak," jawab Kakashi santai.

"Maka carilah hal untuk dilakukan. Aku tidak bisa fokus jika kau terus melihatku seperti itu!"

"Does that mean you feel like I'm stripping you through my eyes?"

Lemparan bantal kedua sukses mengenai wajah Kakashi. "Jangan mengganggu!" desis Obito.

Kakashi menghela napas, berusaha menahan tawa agar pemuda itu tak semakin meledak lagi. Ia beranjak dari sana dan membuka pintu balkon, lalu menutupnya kembali karena pemanas ruangan sedang menyala. Obito menoleh sekilas, setelah itu memalingkan wajah tidak peduli. Revisiannya lebih mendesak saat ini.

Sekitar tiga jam terlewat, akhirnya Obito menyelesaikan revisian. Ia meregangkan ototnya yang kaku karena tegang di depan laptop sedari tadi. Diliriknya pintu balkon yang masih tertutup, membuat pemuda itu bertanya apakah Kakashi masih di luar sana tanpa pakaian hangat? Obito beranjak dari tempatnya setelah memaytikan laptop. Ia membuka pintu balkon dan melihat Kakashi yang sedang bersantai dengan earphone di telinganya. Pemuda itu menoleh ketika merasakan kehadiran seseorang.

"Oh? Sudah selesai?"

Obito mengangguk, kemudian menatap salju yang masih turun. Sedikit berkilauan ditimpa cahaya. Sesaat perasaannya damai.

"Obito," panggil Kakashi pelan. Obito menoleh dan melihat pemuda itu menyuruhnya mendekat dengan isyarat tangan lalu menepuk paha. Ekspresi Obito langsung horor. "Tidak mau!"

Kakashi menghela napas. Ia sedikt beranjak kemudian menarik tangan Obito sampai pemuda itu ikut tertarik. Obito memekik, kemudian mengumpat ketika dirinya sukses duduk di atas pangkuan Kakashi dengan kepala pemuda itu yang bertumpu pada bahu dan lehernya.

"Oi, Bakashi, lepaskan aku!"

Kakashi mendecak. "Tenang sedikit, ya ampun! Aku merindukanmu, tahu?"

Darah Obito berdesir cepat, jantungnya berdebar kuat, wajahnya menghangat. Ia berharap Kakashi tidak mendengar jantungnya yang ingin lompat saat ini atau hal itu akan menjadi bahan ledekan untuknya selama setahun ke depan. Obito pasrah, lagipula Kakashi yang clingy seperti ini memang susah dilawan.

"Kau kenapa sibuk sekali, hm?" tanya Kakashi. Suaranya teredam karena wajahnya ia tenggelamkan pada ceruk leher Obito.

"Mitos darimana yang mengatakan kalau masuk jurusan teknik itu santai?" balas Obito ketus. Kakashi terkekeh pelan. Pelukannya sedikit mengerat. Tangan Obito perlahan menyusuri lengan Kakashi yang melingkar di perutnya. Tubuhnya menjadi sedikit rileks.

Kakashi mengangkat kepala kemudian meletakkan dagu di atas bahu Obito. Sama-sama memandang salju yang tampak berkilauan.

"Saljunya seperti bintang," tutur Obito polos.

Kakashi tekekeh pelan.

Senyum di wajah Obito mengembang. Tangan kanannya terangkat mengacak pelan rambut Kakashi yang setengah kering, membuat empunya keenakan sendiri. Kekasihnya itu kini tampak seperti kucing yang manja.

"Dasar! Tadi kau ketus sekali sekarang malah manja," keluh Obito. Kakashi mencuri satu ciuman singkat di pipi Obito, membuatnya terdiam seribu bahasa lantas kembali menyamankan diri di bahu Obito.

"Minggu ini ada asistensi?" tanya Kakashi yang merenggangkan pelukannya.

"Tidak. Kosong."

"Mau kencan?" tawarnya.

Wajah Obito memerah dari telinga kanan ke telinga kiri. Ia memalingkan wajah agar Kakashi tak melihatnya.

"Awas kalau membosankan!" ancam Obito.

Kakashi terkekeh pelan kemudian kembali memeluk Obito erat. Salju yang berkilauan menjadi saksi bisu sepasang kekasih yang berbagi afeksi itu.


Fin

Teteh semangat kuliahnyaaaa~ semangat buat laporannya~ aku cuma bisa kasi ini, moga suka~