So If You Gone, Who Love Me in The End?

Disclaimer: Ken Wakui

Warning: OOC parah, typo, spoiler manga, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi.


"Nee, Kenchin. Aku jadi bertanya-tanya, deh, kalau kau pergi nanti, siapa yang akan mencintaiku, ya?"

Pertanyaan absurd itu mengangkat sebelah alis Ken Ryuguji, alias Draken yang tidak pernah secara kebetulan duduk di sebelah Sano Manjiro, atau lebih asyik untuk memanggilnya Mikey. Sejauh mata memandang, mereka hanya duduk-duduk saja menatap sungai. Melupakan apakah hari ini adalah langit pagi, siang, senja ataukah malam, karena di dalam kebersamaan yang seperti sekarang, tak seorang pun perlu untuk melihat jauh-jauh kecuali ke samping.

"Dari mana kau mendapatkan pertanyaan itu?" Keheranan Draken belum mereda. Tidak akan, sampai ia mengetahui Mikey baik-baik saja, walaupun pertanyaannya sedemikian melankolis.

"Tiba-tiba saja kepikiran. Kayaknya gara-gara aku habis baca novel punya Emma juga."

"Mengejutkan sekali mendengarmu membaca novel."

Sangat mengagetkan ketika sekarang saja, mereka ini bolos sekolah. Absennya pun bukanlah ke perpustakaan padahal sudah kelas tiga SMP, melainkan ke pinggiran sungai yamg entahlah apa itu. Tiada anak-anak yang bermain bola kaki ataupun layang-layang. Cuacanya pun sebenarnya panas, sehingga alasan mereka memilihnya sebagai tempat menongkrong semakin aneh.

"Habisnya halamannya terbuka begitu saja di depanku. Terus kubaca, deh."

"Satu halaman penuh?"

"Satu kalimat doang. Ini rekor karena biasanya aku membaca buku yang tertutup." Padahal ekspektasi Draken yang seperti tadi tidaklah terlalu muluk. Tadinya bahkan Draken ada berpikir Mikey menamatkannya, karena caranya bertanya terlampau serius. Namun, Draken tertawa saja dibandingkan kecewa–buat apa juga demikian?–sebab begitulah Mikey.

"Padahal aku mau tahu jawaban dari tokoh novelnya bagaimana."

"Enggak penting, Kenchin. Sekarang, kan, aku bertanya padamu. Aku lebih ingin mengetahui jawabanmu."

Angin yang memiliki napas sepoi-sepoi membelai lembut wajah mereka. Draken mengambil waktu sejenak untuk mencari-cari, tetapi Mikey sudah bangun duluan. Matanya menyipit ke arah Draken yang jadi mengusap-usap kepala. Lagi pula dia ini tidak pintar dalam berpikir–begitulah pembelaan Draken berbicara. Bisa-bisanya pula Mikey malah berkilah, bahwa ia takut mati penasaran gara-gara kebingungan Draken.

"Oke, oke. Kau serius bertanya seperti itu? Kenapa seolah-olah hanya aku yang akan mencintaimu di dunia ini?"

"Sebenarnya bukan begitu juga, sih. Kalau Kenchin pergi, dan walaupun aku masih disayang oleh Emma, Takemicchi, serta anggota Toman lainnya, tetap saja rasa sayang mereka berbeda dengan yang diberikan oleh Kenchin."

Saat kemarin sore Takashi Mitsuya memboncengnya dengan sepeda motor, lalu siang ini adalah giliran Draken, konteksnya sama-sama membonceng pun Mikey merasa berbeda. Dia menyukai kedua-duanya, memang. Namun, kalau ceritanya hanyalah Mitsuya yang membawa Mikey, kemudian Baji atau Chifuyu atau siapalah tanpa Draken, palingan Mikey sebatas menganggap menumpangi siapa pun sama saja.

Bukan hanya sama saja, bahkan, melainkan hambar sekali ketika Mikey tiada pernah berkata, dibonceng Mitsuya dengan dibonceng Draken berbeda 180 derajat.

Kebebasan sewaktu bersama Mitusya adalah masih menyisir setiap jingga di langit. Sementara kebebasan ketika Draken-lah yang mengendarai motornya, Mikey sekadar melihat punggung. Hanya punggung yang lebih sempit ketimbang langit pun, Mikey bisa membayangkan tengah melakukan apa pun bersama Draken. Draken sebagai satu-satunya tanpa ada Mikey yang memikirkan hal lain. Tak perlu melebar yang membikin pusing.

Termasuk dalam hal siapa melindungi siapa. Bahwa kendatipun Takemichi serta Draken mengatakan yang sejenis, rasanya sudah sangat berbeda. Di mana omong-omong ini bukanlah tentang Mikey yang menyadari Takemichi lemah, makanya Takemichi tak pantas sesumbar seperti itu. Mikey tidaklah berniat mengungkit-ungkit segi kekuatan.

Apabila Takemichi yang berkata, dirinya akan melindungi Mikey beserta Toman, Mikey lebih ingin pergi dan belakangan dalam memikirkan pulang, untuk menjawab perasaan Takemichi.

Sementara jika Draken yang berseru, dialah yang akan melindungi Mikey begitu pun Toman, Mikey lebih ingin pulang. Bahwa ia maju hanya untuk memulangkan dirinya sendiri kepada Draken nantinya.

"Memang tidak akan sama, Mikey. Namun, aku percaya bahwa aku pergi pun, bakalan selalu ada seseorang yang menyayangimu sepertiku, bahkan mungkin melebihi diriku."

Rambut pirang Mikey menjadi rumah bagi sentuhan Draken untuk saat ini. Ia mengusap-usapnya lembut, seolah-olah Draken memiliki seorang adik kecil. Atau mungkin memang sesosok adik kecil, sebab Mikey bertanya jika Draken pergi, siapakah yang mencintainya? Mikey yang belum bisa melihat secara jelas, mengenai cara orang lain mencintai dia.

"Di dalam hidupmu, tidak akan ada yang mencintaimu seperti yang dilakukan oleh orang sebelumnya. Kau hanya akan menemukan orang-orang mencintaimu dengan cara-cara yang berbeda."

"Namun, tetap saja cinta adalah cinta. Nanti aku pergi pun, setidaknya aku bisa memastikan akan selalu ada yang menyayangimu, Mikey. Kau takkan pernah ditinggalkan oleh perasaan tersebut."

Dengan tubuh semungil itu, dan walaupun Mikey akan selalu menanggung beban yang lebih besar serta jauh dari usianya, Draken tetap ingin menanamkan pesan yang sedemikian berperasaannya kepada Mikey. Di mana Mikey pun tak perlu kesakitan sebab Mikey jugalah yang paling tahu, Draken senantiasa memegang kata-katanya. Karena ucapan-ucapan itu jua merupakan dunia dari Draken untuk Mikey.

Memangnya kenapa apabila cinta dari Emma, juga anggota Toman lainnya sangatlah kecil ketimbang punggung lebar terlalu berat yang Mikey bawa? Setidaknya masih ada seulas tempat yang hangat. Sebuah sudut terpencil di dalam kegelapan yang selalu muram, justru sesungguhnya merupakan hadiah terbesar untuk Mikey, bukan?

Di sana Mikey sekadar dapat duduk pun, Mikey amat dikelilingi oleh mereka yang hanya tahu mencintai Mikey. Bagaimanakah kisah dengan Mikey dapat menjadi kasih yang ia dengarkan, setiap kali kegelepannya hendak menyudutkannya. Lalu Mikey ingat selama ia hidup, esok dan esoknya lebih banyak lagi yang mencintai ia.

Akan Draken pastikan, Mikey juga tinggal di dalam dunia seperti kata-kata yang Draken jabarkan.

Bagaimanapun caranya Draken pasti menjaga dunia di dalam kalimat-kalimatnya, baik itu yang hari ini maupun sebelum-sebelumnya, sebab ...

"Aku ingin pada akhirnya Mikey hanya ingat, duniamu ramai dan tidak se-sepi kelihatannya. Seburuk apa pun kejadian yang kaualami."

"Draken ..."

Tangan Mikey tiba-tiba terulur. Terus ke depan yang sebelum Mikey meraih Draken, sosok kelewat jangkung tersebut justru berpecahan. Berhamburan tanpa jejak, tetapi serpihannya tidaklah menjadi bagian dari musim panas. Tak mungkin seperti itu ketika yang Mikey dapati, hanyalah ternyata ia tengah tergantung di udara. Bergelantungan di antara hidup dan mati.

"Sekali ini saja, setidaknya katakanlah 'tolong selamatkan aku', Sano Manjiro!"

Suara tersebut menyebabkan Mikey tersentak. Pemandangan di mana Draken duduk di sampingnya, kini seutuhnya menjadi Takemichi yang memegangi tangan Mikey. Memintanya hidup, berteriak agar dirinya diselamatkan, atau sesuatu sejenis itu membuat Mikey tersenyum. Ia ingat sekarang. Beberapa waktu lalu Mikey ada menembak Takemichi tiga kali, tetapi dengan ajaibnya Takemichi masih mengambil napas. Bahkan dia tetap bisa marah sekali.

"Sayangnya ini adalah akhirnya, Takemicchi. Setidaknya tolong sampaikan terima kasihku kepada Draken, juga permintaan maaf."

Terima kasih, karena telah menemui Mikey menggunakan sosok SMP-nya, sehingga membuat Mikey tetap merasai akrab dengan Draken; Ken Ryuguji. Juga Mikey minta maaf, sebab diam-diam ia jahat terhadap Draken.

Pada akhirnya Draken tetap menjaga dunia, di mana rasa cinta itu tidak lagi meninggalkan Mikey. Karena buktinya di sepersekian menit sebelum kenang-kenangan Mikey akan sangat fana, Draken mengingatkan Mikey. Draken juga memperlihatkannya dalam bentuk tangan Takemichi yang mempertahankan Mikey, supaya Mikey tak terjatuh dari lantai atas.

Tetapi sejauh ini Mikey malah mencampakkan dunia yang Draken berikan kepadanya. Bahkan Mikey yakin sekali ada berkata, Draken tak pernah memberikan sesuatu sebaik itu untuk Mikey.

Ia pun tak bisa mengelak dari ide yang menghantui sepasang matanya, bahwa Mikey membuang cinta Toman kepadanya sehingga menciptakan entahlah apa yang diberi nama geng Bonten. Mikey melupakan Takemichi, Mitsuya, Pa Chin, Kazutora, Baji, Smiley, Chifuyu ... tetapi ia paling banyak melupakan Draken. Sejak keduanya berpisah Mikey selalu melupakan Draken, hingga detik ini, tetapi sekarang akan selama-lamanya.

"Mikey-kun! MIKEY-KUN!"

Apakah terjatuh seperti ini, dan selama-lamanya melupakan adalah pilihan terbaik? Ataukah masih lebih baik Mikey melupakan Draken setiap harinya?

Entahlah mana yang lebih baik. Lagi pula Mikey tidak akan memikirkannya lagi, karena ia sudah benar-benar dibuat melupakan bagaimanakah caranya membuka mata. Kepiluan Takemichi yang bersuara seperti teriakan-teriakan lantas menyerupai lolongan serigala. Ia bahkan lebih parah dibandingkan banteng mengamuk. Hanagaki Takemichi yang menyimpan penyesalan yang bisu, di mana bisa-bisanya dia gagal menyelamatkan Mikey. Padahal Naoto tak bisa membantu Takemichi kembali ke masa lalu lagi.

Begitu memang parah. Namun, bagi Draken yang sekalinya bertemu Mikey, ia malah membesuk nisannya Mikey, ada yang lebih berat lagi untuknya seorang.

"Antara melupakanku selama-lamanya dengan bunuh diri, atau melupakanku setiap harinya, tiada satu pun yang baik maupun lebih baik, Mikey. Yang benar adalah kau jangan pernah melupakanku, seharusnya, agar aku dapat menolongmu suatu hari nanti."

Lantas Draken jatuh berlutut di hadapan makam Mikey. Matanya kini menyerupai Mikey yang begitu kosong, tetapi bukanlah kehampaan yang justru menakutkan. Melainkan ketika Draken dapat melihat melankolis, luka, kesepian, sengsara, kesia-siaan, serta kesendirian menjelma seutas tali gantung. Di mana itu mula-mula masih menjerat leher dari bayangan Draken.

Draken yang mungkin selama-lamanya tidak akan bisa terlepas dari sana, dan akhirnya hanyalah Draken mati dengan dijerat oleh melankolisnya, lukanya, kesepiannya, lain-lainnya. Benar-benar tiada kerennya, karena ketika Draken bertemu Mikey nanti ... siapa yang ditenangkan serta menenangkan apabila Draken pun seperti Mikey?


Tamat.


A/N: Awalnya mau debut pake draken x emma, dan tema-nya ya dari pertanyaan si mikey juga. Tapi aku gak yakin itu cocok sama draken x emma. Akhirnya pindah haluan aja ke draken x mikey. Sebenarnya ini cocok buat bajifuyu sih ya, tapi aku telat banget kepikirannya. Ya semoga ini juga cocok, karena menurut pandanganku sendiri mikey bener2 bergantung pada draken. Harusnya sih ini gak terkesan ngaco atau apalah.

Karena ini baru pertama kalinya juga aku nulis di tokrev, kemungkinan besar pasti OOC dan banyak yang gak pas juga, buat mikey sama draken-nya. Kalo aku punya ide buat fandom ini, tentunya aku bakal nyumbang lagi dan ya … perbaikan dari segi sifat. Makin sering nulis makin ngeh sama sifatnya harusnya.

Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Mari bertemu di fic tokrev lainnya~ kapan-kapan aku mau bikin bajifuyu.