Ren tidak pernah tau kenapa sebabnya dia selalu berakhir dengan Jen? Diantara tujuh koma tujuh miliar orang yang menduduki planet Bumi, kenapa harus selalu Jen? Bahkan saat dia melarikan diri ke Jepang, sebulan kemudian dia kembali bertemu dengan Jen disebuah kelas dan berakhir menjadi rekan kelompok. Disaat dia kembali pada Tanah Pertiwi, lagi-lagi dia harus berurusan dengan Jen. Jenandra Maespati.

"Segala sesuatu memang punya alasan. Termasuk seseorang yang datang dihidup kita, pastilah membawa sebuah alasan. Tapi emang elo ngga bosen?" Jen menoleh, kentara sekali tengah bingung dengan pertanyaan Ren. "Ngga bosen ketemu gue lagi-gue lagi?" Jen tersenyum. Menerbitkan bulan sabit kembar, yang diam-diam selalu Ren sukai.

"Lo bosen?" Ren mengangguk. Jawabannya adalah jujur. Hampir seluruh waktu hidupnya selalu berurusan dengan Jen. Entah itu dalam konteks yang baik atau konteks yang buruk. Ya, hampir seluruhnya bersinggungan dengan seorang Jenandra.

"Gue..." Ada jeda yang terambil. "Ngga" Atensi Jen berakhir pada deret angka di layar monitornya. Tanpa mau menoleh dan melihat Ren selanjutnya. Suaranya lirih diakhir jawaban. Akan teredam begitu saja, jika ruangan mereka ramai. Namun sayang, ruangan itu lebih sepi dari koridor ruang mayat. Jelas, suara Jen terdengar begitu saja pada rungu Ren.

-

Harusnya Ren menolak saja permintaan Nakula, jika dia tau pada akhirnya dia kembali berakhir bersama Jen. Candra tak pernah bilang, Nakula juga seolah tak peduli. Yang pasti Ren hanya diminta menggantikan Nakula, tanpa tau kelanjutan siapa yang menjadi kawan. Dan lagi-lagi Ren harus terjebak bersama Jenandra. Ren tidak pernah membenci Jen. Dia hanya bosan. Biar bagaimanapun sesuatu yang berulang akan terasa membosankan, bukan? Terlebih untuk waktu yang cukup lama. Itu sih pendapat Ren.

"Lo ngga pernah kepikiran? Dari sekian banyak orang, kenapa harus gue yang selalu ada di sekitar lo?" Ren mengunyah roti lapisnya. Jen berhenti sesaat menyesap kopinya. Mereka tengah sarapan sekaligus menghabiskan waktu tiga puluh menit sebelum pertemuan penting mereka dengan para bos besar dimulai.

"Selalu. Ada lebih dari tujuh miliar orang, tapi lo selalu jadi yang berakhir. Tapi kayak kata lo, semua orang pasti membawa alasan masing-masing saat hadir dihidup orang lain" Jen terkekeh pelan. Merasa lucu, ketika ingatannya mengulang segala kata berakhir yang bermuara pada orang di depannya. Orang yang sama. Orang yang tidak pernah berubah.

"Iya sih. Tapi kan, di kantor tuh ada lebih dari lima ratus karyawan. Di devisi kita ada lebih dari sepuluh orang, tapi kenapa elo lagi? Bosen gue" Jen kembali menyesap kopinya. Menatap pada manik yang selalu berpendar indah meski tanpa cahaya sekalipun.

"Takdir" Jen bersuara enteng yang dibalas suara Ren tersedak dan batuk lebih dari dua menit meski telah ditolong oleh air minum. Jen selalu setenang telaga. Selalu sekelam malam untuk Ren bisa menjamah seluruhnya. Tidak ada yang tau kenapa anak seorang CEO perusahaan besar lebih memilih duduk di devisi pemasaran perusahaan milik sahabat Ayahnya. Jen terlalu misterius.

-

"Lo?" Sekarang bukan hanya Ren yang terkejut, tapi juga Jen. Pasalnya pemuda dengan mata serupa bulan sabit ketika tersenyum itu berfikir bahwa kali ini dia tidak akan berakhir dengan Ren. Sebab yang ia tau, orang yang akan menemaninya perjalanan tugas kali ini adalah Candra. Tapi, sekarang lihat. Ren yang ada di depannya dengan ransel ukuran sedang di punggungnya. Mungkin Jen juga sudah mulai bosan dengan kehadiran Ren. Atau ada hal lain, yang membuat Jen enggan berakhir dengan Ren kali ini? Entahlah.

"Kayaknya emang kita terikat benang merah" Ren mendelik tidak percaya kemudian begidik geli tanpa sadar. Menatap Jen yang kembali terlihat tenang. Keduanya duduk menunggu panggilan penerbangan mereka. Setelah kalimat Jen, keduanya memilih diam. Ren tidak tau harus bereaksi macam apa untuk kalimat itu. Mungkin Jen benar, atau ini semua hanya kebetulan?

"Dulu banget, gue selalu percaya pada kata kebetulan. Apapun yang terjadi tanpa rencana gue adalah kebetulan. Tapi terus, gue ketemu sama seseorang yang bilang bahwa- tidak ada kebetulan di dunia ini" Ren mengalihkan atensinya dari awan-awan di luar jendela pesawat pada Jen yang duduk tenang di sampingnya. Mencoba memahami maksud dari kalimat Jen.

"Di dunia ini ngga ada yang kebetulan Ren. Semua udah tertulis, tercatat, tersusun dengan rapi. Bahkan kelewat rapi. Hanya saja kita ngga pernah tau dan menganggap semua yang diluar rencana kita adalah kebetulan" Ren selalu iri pada Jen yang bisa setenang telaga. Melihat banyak hal dari sudut positif. Membaca banyak hal dalam banyak versi. Sejak duduk di bangku sekolah dasar Ren selalu saja iri pada Jen.

Mereka bukan kawan dekat. Bukan yang wara-wiri selalu bersama. Bukan pula teman yang selalu terlintas pertama kala diri butuh kawan untuk membunuh bosan. Mereka bukan kawan yang sering membagi masalah, terkhusus masalah yang mengandung ranah pribadi. Mereka hanya dua orang kawan yang tak sengaja selalu bersama sejak duduk di bangku taman kanak-kanak hingga saat ini. Padahal jika difikir kembali, seharusnya itu mustahil terjadi. Mengingat kawasan tinggal mereka yang begitu berjauhan.

"Kebetulan adalah kata dari manusia. Tapi untuk Tuhan, segalanya adalah atas rencana-Nya" Ren membuka belah bibirnya, namun dua detik kemudian dia tutup kembali. Dia paham betul penjabaran Jen barusan. Jika Ren meruntut, tidak ada batahan untuk segala penjelasan Jen perihal kebetulan.

"Yang menjadi pertanyaan gue adalah rencana apa kiranya yang tengah Tuhan mainkan untuk kita berdua? Sampai-sampai gue dan lo selalu menemui kata berakhir" Setelah sekian menit berlalu, hanya itu yang keluar dari mulut Ren. Maniknya menatap pada langit di atas sana, meski kini dirinya pun tengah di atas gumpalan-gumpalan awan.

-

Dari jutaan kalimat berakhir bersama Jenandra, Ren paling tidak suka dengan kalimat itu dihari dimana hujan turun pada bulan kesepuluh untuk kali pertama lima tahun lalu. Ren ingat betul, hari itu Jen meremas tangannya dengan lembut, seolah memberi banyak kekuatan lewatnya. Ren juga masih begitu ingat, ketika Jen meremas bahunya halus, saat Ren gamang untuk mengetuk pintu rumahnya sendiri. Jenandra Maespati disana, bersamanya. Memberikan banyak keyakinan. Tapi Ren tidak suka hari itu. Meski Jen berakhir bersamanya hingga petang menjelang.

"Tidak ada yang salah, hanya saja ini tidak seharusnya. Kalian paham bukan maksud Ayah? Kalian sudah dewasa, Ayah harap bijaklah dalam mengambil banyak keputusan" Tidak ada sorot kecewa, seperti sorot milik Ibunda Jen. Tidak ada kata kasar, seperti milik Ayah Jen. Tidak ada tamparan, tidak ada pengusiran. Tidak ada drama yang Ren takutkan. Setelah kalimat panjangnya, Ayah Ren beranjak. Ibunda Ren hanya tersenyum teduh seperti biasanya sebelum mengukir kalimat sederhana dengan raut wajah yang tak pernah bisa diartikan oleh Ren ataupun Jen.

"Kalian boleh menghabiskan hari ini bersama-sama" Hari ini, Ibunda Ren hanya berkata hari ini. Itu artinya tidak ada besok? Lusa? Dan seterusnya? Benar bukan? Ren tidak menangis. Jen hanya tersenyum. Mengusap bahu Ren lembut sebelum membawa tubuh itu masuk dalam dekapannya. Ren tidak suka kata berakhir hari itu. Jen pun sama. Keduanya tidak ingin berakhir yang seperti ini.

"Aku pamit, Ren" Dari jutaan kalimat yang ada di dunia, Jen memilih kalimat sederhana itu. Setelah memilih melewati ratusan detik dengan saling diam dan meremas tangan masing-masing, Jen benar-benar hanya memilih kalimat itu. Senyum mengiringi, namun jelas terbaca ada luka menganga dalam hatinya.

-

Ren yang pertama untuk Jen. Sejak lima belas tahun silam. Ren satu-satunya untuk Jen. sejak dia paham apa itu jatuh cinta yang sesungguhnya. Rendanu Brajadaka Harjita, satu-satunya manusia yang Jenandra Maespati harapkan berakhir bersamanya di altar suci pernikahan. Namun norma merenggut kata berakhirnya.

Haruskah aku melawan, Tuhan? Atau aku harus diam saja? - Jenandra dan Rendanu