Haikyuu! © Furudate Haruichi.
Ia bisa merasakannya. Pelan namun pasti kehangatan mentari menyelimuti dirinya. Sesaat ia tertegun, keheranan ketika ia sadar betapa familiarnya perasaan itu. Ia dan kehangatan yang halus tersebut menjadi satu. Pun kemudian cahaya matahari menembus awan menuju pipinya, mengelusnya dengan lembut. Jadilah ia menutup mata. Merebah diri ke tanah. Menghirup banyak-banyak sampai paru-paru rasanya mau pecah. Matahari sore itu tidak punya memori, tapi lagi, semua perasaan saat itu terlampau familiar sampai-sampai ia mau muntah. Disini, saat ini, cahaya mantahari ini tidak memiliki masa lalu pun masa depan. Jadi ia akan tinggal. Sedikit lebih lama lagi. Sebentar lagi, sebelum cahayanya tenggelam dan ia harus bergegas pulang.
"Sugawara," ia dapat merasa tanah bergetar pelan akibat hentakan sol sepatu yang mendekat. "Sedang apa? Gerbang kampus nanti tutup kalau tidak pulang sekarang."
Sugawara membuka matanya. Cahaya matahari sudah hilang. Kehangatannya juga. Pipinya mulai memucat. Ia sesaat lupa bahwa mentari tidak stagnan. Kenyataan bahwa mentari yang begitu agung pada akhirnya tetap menyerah pada alur waktu membuatnya sedikit patah hati. Semua perasaan familiar itu hilang. Semua asing.
"Jadi?" Suara itu bertanya lagi. Sugawara belum bergerak dari tempatnya. Masih merebah badan. Dingin.
"Aku," Sugarawa mengambil jeda. Ia sebenarnya juga lupa sedang apa. "Sedang berbicara dengan Tuhan. Kau mengganggu kami bicara."
Pernyataan itu dibalas tawa. Satir, tentu saja. "Aduh. Maaf, maaf. Hanya saja kamu bicara dengan Tuhan setiap hari, langit toh akan tetap kosong."
Benar. Langitnya memang kosong dan ia mau tidak mau harus menelan kenyataan tersebut. Mataharinya terbenam dan langit hitam kelam. Langitnya asing dan sugawara kehilangan dirinya disana. Matanya bergerak mencari cari sesuatu, apapun itu yang mungkin dapat menggantikan mataharinya. Tapi langit tetap kosong. Jadi Sugawara bangun. Ia tatap lawan bicaranya lekat lekat.
"Daichi, kau tau tidak? Aku ini seharusnya sedang melihat surga sekarang."
Ada kerut yang tercipta di dahi. Terkadang Sugawara memang tidak dapat dicerna akal sehat. "Maksudmu?"
Tidak ada jawaban langsung hanya saja Sugawara mengangkat bahu lalu membersihkan tanah dan rumput yang menempel di jaketnya. Ia berdiri di samping Daichi dan tersenyum. "Entah? Hm. Nah malam sepertinya masih terlampau muda untuk aku meilhat mimpi kan? Mungkin baiknya kita pulang."
Jadi malam itu mereka pulang bersama. Beriringan dengan jari-jari yang kadang bersentuhan namun tak tergenggam. Punggungnya dingin, matanya mencuri curi ke sosok disebelahnya. Senyuman itu familiar namun mata itu tidak.
Sekali lagi, Sugawara melirik. Mencari-cari sesuatu yang mungkin familiar. Tidak ada. Masih kosong. Mungkin ia lelah dan netranya terselimut halimun. Mungkin malam terlampau dingin dan penilaiannya mulai terbias.
Atau mungkin memang tidak ada apa apa disana.
(Ia mengirimkan pesan singkat sebelum tidur:
'kemarin selesai kelas sore aku bicara sebentar dengan Tuhan.'
paginya ia mendapat pesan balasan:
'Lain kali sebut namaku saat kau bicara denganNya ya? Hidupku sedang sial akhir-akhir ini dan doaku sepertinya belum sampai. Kalau masih begini juga sampai akhir minggu, aku mau baku hantam saja dengan Tuhan.'
Ia membacanya sambil bepikir. Ia mencari-cari sesuatu dalam paragraf singat tersebut. Sugawara tidak tau apa tapi ada sesuatu dalam kalimat-kalimat itu yang terasa familiar.
Diluar, cahaya matahari menerobos masuk dari jendela kamarnya yang lupa ditutup semalam.
Hangat.)
Fin.
A.n: astaga lupa cara publish ahaha sad
