Cross The Road
Disclaimer: DMM.
Warning: OOC banget, typo, drabble ga jelas, romance!slight, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk ulang tahun Miki Rofuu (23/06/2021).
Miki Rofuu ternyata takut menyeberangi jalan, dan itu menjadi hal terkonyol yang pernah ia lihat sampai kelucuannya berkali-kali lipat, ketika ia bukanlah lagi anak-anak. Sudah melewati usia 75 tahun bahkan boleh dikatakan, Miki ini berumur entahlah berapa menilik kehidupannya sekarang, adalah merepresentasikan jiwa penulis.
Mana Miki tahu jalanan pada hari ini akan padat. Walau lebih tepatnya lagi seharusnya memang, Miki tidak takut sama yang beginian yang sebenarnya sepele sekali. Untuk menuju kafe dengan bolu jeruk setengah harga, tetapi lukisan alam pada dindingnya itu tentunya selalu berharga penuh, jarak yang harus Miki tempuh padahal benar-benar pendek. Kurang dari lima menit pasti tiba. Namun, gara-gara ketakutannya terlalu menghantuinya, Miki pun sekadar celinguk-celinguk membuang dua puluh menit berturut-turut.
"Tunggu sebentar lagi, deh. Tunggu mobil putih itu lewat, dan aku akan menyeberang."
Pada ke sekian kalinya jua Miki membatin demikian. Dilanjut lagi dengan menyebut warna hitam, metal, berulang-ulang yang tak kunjung menjadi mejikuhibiniu. Mungkin sekarang sudah setengah jam Miki berdiri di sini. Kenapa pula tiada seorang pun hendak menyeberang menyebabkan Miki gemas? Tetapi menemukannya pun Miki ujung-ujungnya tetap masam.
"Ngapain kau di sini?" Belum apa-apa bahkan Miki sudah ketus. Alis pemuda di sampingnya naik sebelah mengindikasikan heran. Sejurus kemudian tersenyum atas kebetulan yang kesederhanaannya begitu mengejutkan.
"Ah ... kebetulan sekali bertemu dengan Rofuu di sini. Mau ke mana?"
"Bukan urusanmu."
"Baiklah. Kalau begitu aku duluan. Nanti kafenya keburu penuh."
Daun telinga Miki spontan bergerak. Jadilah disaksikannya secara terperinci, dari Kitahara Hakushuu mengambil satu langkah untuk menapaki aspal. Caranya berjalan yang begitu mengesalkan, ketika bisa-bisanya ia tenang-tenang saja dalam menghentikan rakus laju kendaraan. Tiba di seberang seolah-olah tiada apa-apa. Kemudian Miki makin gigit jari sebab benar saja, Hakushuu menuju kafe yang tengah merabat kue-kuenya.
"Kau mau ke kafe ini juga?" Telunjuk Hakushuu yang mengarah ke bangunan antik ini membantu suaranya menjelaskan. Miki buru-buru buang muka, ditambah gestur menyilangkan tangan di depan dada. Bibirnya juga manyun membuat Hakushuu berkacak pinggang.
"Dikata itu bukan urusanmu."
"Kelihatannya kau mau menyeberang, ya?" tanya Hakushuu retorik. Samar-samar Miki memutar bola matanya malas, karena lagi-lagi benar saja Hakushuu hanya merusak perasaan Miki.
"Ya. Terus kenapa? Aku hanya tidak mau menyeberang bersama–"
Sambil berucap Miki hendak menyeberang. Namun, tatkala angin dari motor yang mengebut menerpa keras tubuh bagian depannya, Miki seketika jatuh terduduk akibat kaget. Wajahnya diam-diam pucat. Pasti selalu begitu setiap kali Miki berusaha menyeberangi jalan, yang mana caranya meninggal turut memaksa sekali ingin dikenang. Miki ditabrak taxi sampai pendarahan otak. Ajaibnya lagi bisa-bisanya Miki bertahan delapan hari, ketimbang langsung mati saja.
"Apa aku pulang saja? Padahal hari ini ulang tahunku, dan kafe itu akan memberikan diskon tambahan kepada yang berulang tahun."
Namun mau bagaimana lagi? Daripada Miki tiba-tiba membeku di tengah jalan, dan hanya semakin memperjelas detik-detik sebelum Miki kecelakaan, lebih baik ia pulang ke perpustakaan. Berkebun saja bareng Miyazawa Kenji, sekalian mengajak Niimi Nankichi. Labu sebagai kue ulang tahun juga bagus, kok. Alam betulan alam adalah yang terbaik lagian, dibandingkan sekadar–
"Kubantu. Jangan protes-protes lagi, karena aku sudah menawarkan bantuan."
Tiba-tiba saja pergelangan tangan Miki sudah Hakushuu genggam. Bahkan keberanian Hakushuu dengan kejamnya mengancam apabila Miki sempat-sempatnya memberontak, dia tinggal siap-siap ditabrak. Jadilah selama menyeberangi jalan Miki menutup mata impulsif. Lumayan lama sampai-sampai Hakushuu harus memanggil Miki berulang kali.
"Kita sudah sampai, Rofuu. Bukalah matamu." Mereka benar-benar berada di seberang. Miki menghela napas panjang yang belum menyadari, Hakushuu masih menggenggam pergelangan tangannya.
"Sekarang ayo ke kafenya. Nanti kita tidak kebagian tempat duduk."
Mendengar itu Miki mengangguk-angguk saja. Kepalanya masih agak-agak kaget, karena tidak menyangka ia dapat menyeberang, dan entah bagaimana ternyata tak se-menyeramkan bayangannya. Miki akhirnya ingat bahwa kembali adalah untuk tersenyum lagi. Sepertinya di jam pulang nanti, Miki bisa–
"Aneh. Kenapa aku merasa ditarik, ya, dari tadi?" Mendadak Miki menyuarakan keheranan. Benaknya mengira-ngira ia masih puas atas pencapaiannya, dan posisi yang ia ambil seharusnya berdiri. Namun, ternyata Miki sudah di kafe entah sejak kapan.
"Denial, sih denial, tetapi bukannya kau keterlaluan? Dari tadi aku memegangi tanganmu, lho." Miki menurunkan pandangan. Benar saja kata Hakushuu membuatnya buru-buru melepaskan. Masih berekspresi jijik. Kenapa pula Hakushuu terus menggenggamnya, sampai mereka memasuki kafe bahkan mungkin ditonton khalayak?
"Ka-ka ... ka ... kau ...! Kau gila, ya?! Harusnya kau melepaskanku setelah membantuku menyeberang."
"Tidak ada yang gratis di dunia ini, Rofuu. Lagi pula sebenarnya aku sadar, kau melamun dan kemungkinan besar tak akan menyadari, aku terus menggenggammu. Malah lebih parah dari dugaanku, sih."
Bisa-bisanya pula hanya tersisa satu meja lagi di pojokan. Suka atau benci Miki terpaksa berbagi dengan Hakushuu, bahkan bolu jeruk idamannya turut diicip terang-terangan. Castella Hakushuu pun harus mengalami nasib sejenis, mendorong Miki untuk mencoleknya menggunakan sendok. Namun si bangsat ungu itu tak keberatan. Hakushuu masih mesem-mesem menggoda Miki agar segera melelehkan kekikukannya sendiri.
"Balas dendammu sangatlah menggemaskan, Rofuu. Jika kau menghabiskan castella-nya, nanti kau mendapatkan hukuman yang juga imut, lho."
Bahkan lagi-lagi Miki dikhianati yang membuatnya tidak menyadari ia tersipu. Miki pun melupakan pertanyaan, dari manakah Hakushuu tahu Miki trauma terhadap menyeberang gara-gara pernah ditabrak taxi? Walaupun mungkin itu memang tak benar-benar penting.
Dunia telah seutuhnya menjadi milik berdua saja, soalnya.
Tamat.
A/N: HBD buat miki. Awalnya gak ada niatan bikin, tapi abis liat FA soal miki yang takut nyebrang, karena dulunya mati ditabrak taxi, itu menarik juga dan lahirlah drabble ga jelas ini. Awalnya mau miki x sakutarou. Cuma aku bingung juga bikin sakutarou biar IC tuh kek mana wkwkw. Kalo hakushuu x miki sih aku percaya, sebenernya mereka saling care. Lalu iya, anggaplah di sini ada slight!romance.
Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Mari bertemu di fanfic lainnya~
