A/N : cerita ini mengambil timeline di akhir season satu waktu gerbang gehenna terbuka gara2 kakek-kakek yang ono noh /merasa kesal/ WKWKWK, tiba-tiba kepikiran aja gimana kalo endingnya jadi angst~anw ini fanfic pertama ku di lapak ini, kritik dan saran akan sangat aku hargai, I hope you enjoy this!
XOXO
'Maafkan aku... Tidak bisa menyelamatkanmu...'
.
.
.
"YUKIO! CEPAT PERGI DARI SINI!"
"Tapi, Nii-san bagai—"
"Jangan pedulikan aku! Cepat pergi!"
.
.
.
Nii-san, manusia setengah iblis yang memiliki kekuatan satan. Saat ini ia terkurung dalam sebuah sangkar di gehenna dan dikelilingi para iblis.
Ini semua salahku. Kalau saja aku tidak menuruti kemauan kakek kami—ayah dari ibuku—itu. Nii-san tidak perlu sampai datang menyelamatkanku. Nii-san tidak perlu terluka parah akibat dihajar habis-habisan oleh para iblis itu karena berusaha merebutku kembali dari tangan satan.
Dan Nii-san tidak perlu menjadi tubuh baru bagi satan...
.
.
.
.
Dua tahun setelah kejadian itu...
Dia kembali.
Kakakku, Okumura Rin...
...kembali dari gehenna.
Tapi kami berada di pihak yang berbeda. Aku hanya anjing Vatican. Sedangkan Nii-san telah menjadi iblis sepenuhnya.
Ini salahku.
SALAHKU!!
"Yukio..."
Suara itu terngiang kembali di telingaku.
"Jangan merepotkanku terus dong, dasar adik bodoh. Kau itu memangnya cuma bisa menangis ya, kalau tidak ada aku?"
Suara yang hanya kudengar sepersekian detik sebelum Shura menyeretku kembali ke Assiah, sementara Nii-san tertinggal dalam kurungan di gehenna.
"Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. Apa yang telah terjadi biarlah terjadi. Aku yang memilih untuk menyelamatkanmu, jadi aku yang bertanggung jawab atas resiko yang kuambil."
Cengirannya yang dulu kubenci—namun sekarang kurindukan—itu kembali terbayang di kepalaku.
"Kau itu cerdas. Musuh sekuat apapun bisa kau hadapi, termasuk aku. Jangan takut menghadapi musuhmu sekalipun itu aku."
Air mata mengalir deras di wajahku.
"Lanjutkan perjuanganku dan Jijii ya, Yukio! Kalahkan satan! Kalau itu kau, aku yakin pasti bisa!"
Dan dengan senyum jahil serta tangan yang membentuk tanda peace, perlahan bayangan itu menghilang...
Jangan pergi...
Jangan pergi!
Aku tidak bisa!
Aku tidak sekuat kau atau Otou-san!
Aku tidak punya api biru!
Aku bukan Paladin!
Aku sendiri bisa apa?!
"Yuki-chan..."
Sebuah tangan menepuk punggungku.
"Jangan hanya bermuram durja, ada musuh yang harus kita kalahkan."
...Shiemi-san?
Ah, dan para murid exwire di pelatihan exorcist lainnya.
Hahaha... Shiemi itu, padahal matanya sendiri sudah memerah karena menangis, kenapa juga dia harus sok kuat?
"Kau tidak sendiri, Yuki-chan... Kita berlima pasti bisa mengalahkan satan, bahkan mungkin kita juga bisa membawa Rin pulang kembali!"
Tidak mungkin, Shiemi... Nii-san sudah tiada, dan itu semua salahku.
"Okumura-sensei." Panggil salah seorang murid exwire, Suguro.
"Ayo, kalau tidak cepat nanti Assiah keburu porak poranda dibuat si biang kerok Okumura itu." Ujarnya sembari mengulurkan tangan.
Kalian itu...
...benar-benar menganggap Nii-san masih ada ya?
Yah itu memang seperti kalian yang biasanya sih.
Senyum kecil terpatri di wajahku.
Meskipun Nii-san bilang Apa yang telah terjadi biarlah terjadi, tapi peristiwa ini tidak akan pernah kulupakan.
Bukan sebagai sesuatu untuk disesali, tetapi sebagai pelajaran di masa depan agar kesalahan yang sama tidak kembali terulang lagi.
"Aku menyayangimu, Nii-san. Maafkan aku selama ini telah menyimpan rasa iri dan bahkan seringkali kesal kepadamu... Maafkan aku, adikmu, yang telah membuatmu terjerumus dalam sebuah masalah yang berujung kematian.
Maafkan aku. Meskipun aku tidak pernah mengungkapkannya secara langsung selama ini, tapi aku menyayangimu, aku mencintaimu...
...Nii-san..."
