Naruto © Masashi Kishimoto
Rate M; contents will appear sooner or later.
CANON. After 4th Shinobi War. Blank Period.
.
思い出
Chapter 01: Meeting
.
Dua pria dewasa berada di depan gedung Hokage. Jika dilihat sekilas, sepertinya mereka berdua sedang terlibat dalam sebuah percakapan penting. Padahal pada kenyataannya, dari tadi hanya ada satu orang yang vocal, yang satunya hanya terdiam, entah menyimak pembicaraan atau tidak. Tapi, sepertinya ini hal yang biasa bagi mereka.
"Ingat Sasuke, jangan bertindak sembrono. Aku membebaskanmu dengan jaminan namaku sendiri," ujar pria bersurai perak yang sekarang menjabat menjadi rokudaime, hokage ke enam di Konohagakure. Sebenarnya, kalimat itu seperti nasihat di telinga orang normal, namun di telinga Sasuke, ia menganggap 'sensei'-nya ini sok pamer dengan wewenang yang dimilikinya sekarang.
Pupil kelam itu hanya menatap, bibirnya enggan bergerak, Kakashi —sang rokudaime—sangat tahu tabiat muridnya itu. Sadar kalau kalimatnya tak akan mendapat balasan, guratan kain hitam yang menutupi sebagian wajah si perak bergerak, mencetak jelas guratan senyum yang terukir di bibirnya.
"Namun, kau masih harus menunggu untuk benar-benar bebas, setidaknya sampai lima kage menyetujui penghapusan namamu pada bingo book dan daftar nuke-nin S rank dari Konoha. Jangan coba-coba keluar desa sampai aku memberimu kabar," tandasnya Panjang lebar, berharap muridnya itu memberikan sedikit atensi yang lebih bermakna.
"Hn," akhirnya lawan bicaranya mampu meproses sebuah tanggapan, walaupun tidak jelas.
Kakashi hanya mampu menghela nafas, sepertinya sifat muridnya ini tidak akan berubah kecuali meteor menghantam langsung kepalanya. "Baiklah, ini kunci apartemenmu yang lama, kau bisa kembali ke situ. Jaa ne~" ia langsung berbalik badan sembari mengangkat tangan kanannya yang melambai tanda 'perpisahan' setelah menyodorkan sebuah kunci.
Baru beberapa langkah Kakashi berjalan meninggalkan Sasuke, ia terhenti sejenak lalu menengok ke belakang, mendapati muridnya masih berdiri di sana. "Ehm.. Ano- Sasuke.. Ini bukan semacam misi penting, tapi, bisakah kau berbaur dengan orang lain, selain Naruto dan Sakura tentu saja,"
Jawaban yang didapat hanya mata yang memicing tajam, seakan bertanya 'kenapa?'
Sebenarnya Kakashi juga tidak tahu kenapa, tapi ia ingin muridnya ini mempunyai banyak teman. Dengan begitu, akan lebih mudah untuk membersihkan nama Sasuke di mata orang lain jika ia mudah bergaul, kan? Entahlah.
"Aku hanya ingin yang terbaik untukmu, percayalah Sasuke," nadanya sangat tenang, seperti seorang ayah yang menasehati putranya.
"Akan kucoba," jawabnya pelan namun tegas, cukup untuk didengar oleh lawan bicaranya.
"Baiklah, jaa~"
Kali ini si perak benar-benar sudah menghilang dari pandangannya. Namun ia masih enggan untuk bergerak, ia hanya menatap tangannya yang menggenggam sebuah kunci dengan gantungan lonceng. Pikirannya dibawa terbang ke masa lalu, di mana kelompok 7 pertama kali melakukan latihan dengan Kakashi-sensei untuk mendapatkan lonceng itu. Sudut bibirnya bergerak naik, mengingat masa itu, cukup senang tenggelam ke dalam pikirannya sendiri, sampai ia secara tidak sadar menggerakkan kedua tungkainya. Ini masih terlalu sore untuk pulang ke rumah, mungkin ia akan berkeliling desa terlebih dahulu sebelum pulang. Atau aku ke sana saja?
.
思い出
.
Sebuah bangunan yang dulunya berdiri dengan megah dan besar, kini berubah menjadi seperti tempat penampungan orang sakit. Rumah sakit Konoha yang biasanya lenggang, kini penuh sesak dengan korban akibat perang shinobi ke empat yang baru selesai dua minggu lalu. Tidak hanya shinobi, namun banyak pasien dari warga sipil. Peperangan memang tidak pernah berakhir baik, selalu membawa luka. Mungkin hal ini yang sangat mendasari Itachi mencintai kedamaian, bukan?
Ah, tapi kita tidak akan membahas Uchiha yang kelewat berjasa untuk Konoha itu. Di salah satu ruangan di rumah sakit, dua orang sedang melakukan suatu kegiatan ditemani dengan layar komputer yang menunjukkan garis-garis yang sejujurnya tidak dimengerti oleh pemuda berambut kuning jabrik itu. Ia hanya bisa diam dan memperhatikan perlakuan gadis bersurai merah muda yang sedang membalut perban ke tangan kanannya yang baru selesai dioperasi beberapa hari lalu.
Lilitan perban pada tangan baru pemuda itu sudah selesai dirapikan. Tidak ada masalah dengan tangan barunya, hanya pengecekan rutin di rumah sakit untuk mencatat perkembangannya. Kebetulan yang jaga hari ini Sakura, jadilah si Naruto itu sangat semangat pula untuk mengecek keadaannya.
"Yosh, sudah selesai Naruto. Chakramu bisa beradaptasi dengan baik, kau sudah bisa melakukan latihan ringan menggunakan tangan barumu," Sakura berucap sembari memperhatikan gambar x-ray tangan kanan Naruto yang kini terpampang di komputer miliknya.
Si pemuda itu tersenyum senang mendengar penjelasan Sakura. Sebenarnya ia tidak banyak mengerti, yang ia paham hanya kondisinya sudah mulai membaik. "Arigatou, Sakura-chan! Anosa anosa, kudengar Sasuke sudah bebas hari ini. Bagaimana kalau kita merayakannya?"
Jemari Sakura bergerak mematikan layar komputer di hadapannya karena sudah tidak ia pakai lagi, telunjuknya ia gesekkan ke dagu, ia terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Naruto.
"Ya, kudengar dari Tsunade-sama pun seperti itu," ada jeda sebelum ia kembali bersua, "Tentu saja aku ikut! Kau tunggu aku di luar, Naruto. Aku mau melapor hasil perkembanganmu lalu izin pulang," tandasnya dengan sebuah senyum cerah.
Gema jawaban gadis bernama Sakura itu disusul oleh gerakan tungkai kembarnya menuju pintu dan melangkah keluar, tentu Naruto mengekor di belakangnya, namun mereka berbeda simpang saat Sakura hendak ke kantor dokter kepala terlebih dahulu. Mereka berhenti sejenak di persimpangan, saat Naruto kembali bersuara cukup nyaring.
"Sakura-chan, jangan lama-lama, kita harus beli ramen instan dan bir untuk merayakannya. Aku yakin dia pasti senang!" cengiran khasnya kembali menghiasi wajah bodoh Naruto, tapi Sakura ikut tersenyum, sudah lama sekali ia tidak merasakan bahagia seperti ini.
"Baiklah Naruto, kau yang traktir ya!" ujar Sakura sambil menjulurkan lidahnya dan segera berlari ke ruangan lain untuk melaporkan hasil kerjanya hari ini.
Cengiran Naruto masih terpasang di wajahnya saat ia sudah menapaki kakinya di luar gedung rumah sakit. Sama seperti Sakura, ia pun sangat tidak sabar. Sepertinya ia akan menghabiskan malamnya di rumah sahabatnya yang kini sudah kembali pulang.
.
思い出
.
Ufuk barat sudah berwarna jingga, mentari yang sepanjang hari selalu menemani, kini mulai meredupkan cahayanya. Pada jam-jam ini, kebanyakan orang sudah kembali ke rumah masing-masing. Sedikit dari mereka yang masih berkeliaran jika bukan di pusat desa, apalagi di pemakaman. Bukan sedikit, tapi gadis Hyuuga itu yakin, ia hanya sendirian di pemakaman lagi hari ini.
Netra lavendernya memandang kosong dan sendu, dihadapannya ada sebuah batu nisan bertuliskan 'Hyuuga Neji', beberapa tangkai bunga lily putih, segelas ocha, dan sebungkus kecil kue kering. Sudah beberapa menit ia lewati dengan melamun, sebenarnya tidak sepenuhnya melamun, karena ia sedang mengunjungi kakak sepupu yang sangat ia kasihi dan ia rindukan saat ini. Benaknya kembali ke kejadian itu, saat matanya sendiri menyaksikan kematian kakak sepupunya. Dan detik itu, ia merasa hidupnya ikut selesai, mati bersama senyuman kakaknya. Senyum yang jarang sekali ia lihat, atau mungkin itu pertama dan terakhir kalinya.
Matanya terpejam menyembunyikan lavender yang digenangi air mata yang siap tumpah kapan saja, tangannya menyatu di depan dada, nafasnya mulai memendek tidak teratur, bisa dikatakan bahwa gadis itu…
"Neji nii-san,"
…rindu pada seorang pejuang yang kini telah tiada. Tidak ada suara lain, bahkan air matanya tumpah tanpa suara, tanpa ia membuka matanya barang sejenak. Hanya desiran angin petang dan gesekan daun kering di atas rumput yang menghampiri telinga si gadis bernama Hinata itu.
Pipinya sudah sangat basah, air matanya tidak bisa berhenti mengalir, ia tidak tahu harus berbuat apa, sudah beberapa kali ia habiskan waktu untuk menangis di sini, padahal ia tahu itu tidak ada gunanya. Tapi hanya itu yang ia bisa, memberi penghormatan terakhir.
Hinata mulai membuka matanya, perlahan ia menyeka air matanya yang mulai mengering di pipi seputih salju miliknya. Ia membawa dirinya bersedeku di depan batu nisan, jemarinya dengan gemetar mengusap ukiran nama itu berkali-kali, bibirnya masih gemetar walaupun air matanya sudah tidak keluar.
"Nii-san, apa nii-san bahagia di sana?"
"…"
Hening, tentu saja, gadis itu seperti berbicara pada angin.
"Nii-san, Hinata pulang dulu, nanti aku akan berkunjung lagi. Selamat sore, nii-san.." bibirnya bergetar saat melengkungkan senyum tulus. Ia mengusap ujung batu nisan itu sebelum beranjak berdiri dan meninggalkan area pemakaman. Dalam keadaan berkabung seperti itu, jelas saja ia tidak merasakan sepasang mata yang menatapnya dalam diam di bawah rindangnya pepohonan.
Mentari sudah benar-benar menghilang dari langit, gadis itu hanya menatap hamparan langit penuh bintang sesaat, sebelum melanjutkan langkahnya. Sepertinya aku akan mampir ke pasar untuk membeli bahan masakan.
Beruntungnya, dari pemakaman menuju ke rumahnya melewati tengah desa, jadi ia bisa mampir sejenak, mungkin sambil menikmati zenzai. Ide yang tidak buruk juga, pikirnya.
.
思い出
.
Suara ketukan yang cukup —sangat— keras kembali terdengar di sepanjang koridor lantai apartemen. Sepasang pemuda pemudi kini sibuk memukul pintu dihadapan mereka dengan dalih 'mengetuk dengan sopan agar terdengar oleh empunya rumah'. Sebenarnya kasihan pintu itu, sedari tadi dipukul tanpa ampun, padahal sudah jelas apartemen itu kosong, dari lampu di dalam yang masih temaram. Mungkin jika pintu itu hidup, dia sudah membalas memukul kepala kedua orang yang memukulnya sedari tadi.
"Baka teme! Di mana dia?!" gerutu sang tuan yang disambut oleh anggukan lemah si puan.
"Chanaro~ Padahal aku sudah izin pulang lebih cepat," nadanya sangat lemah, sesuai dengan ekspresi yang ia tunjukkan.
"Huum! Kita pun sudah beli sangat banyak makanan dan minuman.." ujarnya melemah memandangi dua kantong plastik besar di tangannya. "Sepertinya dia belum pulang, ya?" dan sudah pasti pertanyaan bodoh membuat Sakura naik pitam, satu bogem mentah secara gratis Naruto dapatkan dari gadis yang sangat ia cintai.
"Sudah jelas dia belum pulang, Naruto. Kenapa kau masih bertanya?!" Padahal dia sendiri ikut menggedor pintu itu, wanita memang sulit dimengerti.
Naruto yang belum sadar sepenuhnya, hanya mampu mengangguk menanggapi perkataan Sakura. "Apa kita pulang saja, Sakura-chan? Besok kita datang lagi," tanyanya perlahan sembari telunjuknya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, takut-takut ia salah bicara lagi dan malah menyebabkan gadis itu kembali mengamuk.
"Hm.. Sepertinya itu yang terbaik, ayo Naruto," Kalimat ajakan yang ditanggapi dengan anggukan serta aksi dari kedua shinobi yang membalikkan badan mereka dan berjalan menjauhi pintu apartemen, korban mereka malam ini. Namun belum tiga langkah mereka beranjak, tubuh mereka berdua seakan tersihir sampai tidak bisa digerakkan saat melihat seseorang di hadapan mereka yang baru saja menaiki tangga apartemen.
"Oi,"
Sapaan yang terdengar tidak asing menghampiri telinga mereka hingga mata mereka membulat karena terlalu terkejut. Sebenarnya tidak perlu terkejut karena ini memang tempat tinggal temannya itu, namun duo sahabat itu memang kelebihan energi.
"Sasuke!"
"Sasuke-kun!"
Netra keduanya berbinar seperti baru mendapat hadiah utama dari acara pelelangan. Kini mereka berdua menghamburkan diri ke pemuda berambut gelap itu, memeluknya seakan mereka sudah terpisah empat tahun lamanya. Eh, atau memang sudah?
Sasuke sedikit risih, namun ia tidak bisa bergerak karena pelukan mereka yang terlalu erat, jadi ia hanya bisa berdiam diri sampai kedua sahabatnya itu melepaskan dia dari kekangan yang membuatnya sulit bernafas ini.
"Kami sudah menunggumu sedari tadi, kau kemana saja, teme?!"
"Huum! Sasuke-kun, apa kau lelah? Kami membeli banyak makanan dan minuman, ayo kita habiskan bersama!"
Sebenarnya ia enggan, ia hanya ingin istirahat malam ini, namun sudah pasti ia tidak ada tenaga pula untuk berdebat menolak ajakan 'perayaan' ini. Jadi ia pasrah saat diseret ke apartemennya.
Naruto langsung masuk meletakkan kedua kantong belanjaannya di atas meja makan, Sasuke menyalakan lampu, sementara Sakura terlihat menyiapkan air panas. Sudut bibir si pemuda sedikit terangkat, bohong jika ia tidak merindukan kedua sahabatnya, namun terkadang pula ia sangat lelah menghadapi energi mereka yang berapi-api.
"Teme, kudengar apartemenmu sudah dibersihkan, pantas saja rapi, seperti apartemenku," bualan dan cengiran dobe sialan itu terkadang benar-benar membuatnya sakit kepala. Iris sapphire yang melenglang-buana di penjuru apartemen melihat sebuah bingkai foto tua. "Kau masih menyimpan foto itu ternyata," ujarnya dengan nada bangga.
"Kita semua sudah bukan anak-anak, ya?" ada getir yang terdengar di suara Naruto dan ditangkap dengan baik oleh telinga Sasuke dan Sakura yang ada di sana. Tiga pasang mata itu menatap ke arah foto yang kini Naruto pegang. Untuk sejenak, pikiran mereka terbawa masa lalu, mengingat terbentuknya serta perjalan tim 7.
"Kalian berdua benar-benar berkembang, Naruto, Sasuke-kun. Aku bangga menjadi teman satu tim kalian," ujar Sakura dengan senyuman tulus. Kedua pemuda itu pun hanya menatap dengan balasan senyuman ke arah Sakura.
"Kau yang lebih hebat, Sakura!"
Detik berikutnya, mereka mendengar suara alarm ramen Naruto berbunyi, menandakan bahwa ramen instan mereka sudah matang. Yah, sepertinya mereka harus mengisi perut mereka terlebih dahulu sebelum kembali bernostalgia.
.
思い出
.
"Hinata!"
Sebuah panggilan menggema dan hinggap di indera pendengarannya, netra sang empunya nama berkeliling mencari sumber suara. Sampai ia mendapati pria berambut coklat dengan corak taring merah di kedua pipinya. Bibirnya mengulum senyum tipis menaggapi pria yang kini sudah berjalan ke arahnya bersama anjing putih besar yang sangat ia kenal.
"Kiba-kun, Akamaru.. Sedang apa di mari?"
Sebenarnya mereka berdua ada di tempat umum, jadi wajar saja kalau Kiba ada di sini juga seperti dirinya. Tapi tidak apalah, basa-basi itu tidak salah, kan?
"Aku lapar, ingin makan. Kebetulan bertemu denganmu. Apa kau mau menemaniku makan, Hinata?"
Sedikit kikuk, ia bingung untuk menolaknya. Zenzai yang ia makan tadi cukup banyak jadi ia masih kenyang untuk makan malam. "A-ano.." belum selesai ia menjawab, tangan kanannya sudah terlebih dahulu ditarik. "Sudahlah, ayo. Aku traktir, Hinata!"
Yah kalau sudah begini, Hinata hanya bisa pasrah dibawa masuk ke salah satu tempat makan oleh teman satu timnya ini. Mungkin nanti ia hanya memesan camilan dan minuman.
"Hinata, pesan apa saja yang kau mau ya!" Hinata hanya mengangguk sembari membaca buku menu. Sementara temannya sudah mengangkat tangan tinggi-tinggi sambil berteriak, "Ossan! Aku pesan 2 nasi kari super pedas dan ocha super panas!" sepertinya ia sudah langganan di tempat makan ini.
"Osh!" paman itu hanya menjawab dan segera menyiapkan pesanan Kiba.
Sementara Hinata memesan cinnamon rolls kepada nee-san yang kebetulan melewati mereka.
"Kiba-kun, tidak bersama Shino-kun?" kebiasaan gagap Hinata sudah lama hilang jika bersama Kiba, Shino dan Kurenai-sensei, mungkin karena mereka berempat banyak menghabiskan waktu bersama.
"Shino? Ia sedang ada misi keluar desa dengan ayahnya, sepertinya berhubugan dengan urusan diplomatik yang aku tidak paham. Kalau Kurenai-sensei pasti ada di rumahnya bersama Mirai," jelas Inuzuka itu panjang lebar, padahal Hinata belum bertanya tentang Kurenai-sensei.
Anggukan pelan menjadi jawabannya pada penjelasan Kiba. Namun baru sedetik berselang, Kiba kembali bersua, "Ah, Hinata. Kau sudah dengar berita tentang Sasuke?"
Wajah Hinata yang sedari tadi tertunduk kini terangkat, bola matanya bersimpukan dengan mata coklat Kiba, sedikit mengisyaratkan kebingungan akan topik kali ini. "Sasuke-kun? D-Dia.. kabur lagi?"
Pertanyaan Hinata sontak membuat Kiba tertawa lepas. Sepertinya temannya ini benar-benar ketinggalan berita. "Iie, Hinata, iie," ujarnya sambil mengibaskan tangannya dan mencoba mengontrol tertawanya yang kelewat batas. "Sasuke itu, dia sudah bebas dengan jaminan rokudaime sendiri, tapi dia masih belum sepenuhnya bebas, sampai lima kage menyetujui pembersihan namanya. Itu yang aku dengar dari Shino sebelum ia berangkat bersama ayahnya tadi sore,"
Hinata mengangguk dan menyimak penjelasan Kiba mengenai Sasuke. Sebenarnya ia tidak terlalu mengenal pria itu, hanya sebatas teman di akademi, sekaligus sahabat dari pria yang ia cintai, tidak lebih tidak kurang, jika tidak membahas mengenai klannya yang sangat membeci klan Uchiha entah karena alasan apa.
"Tapi aku yakin kazekage langsung menyetujui pembersihan nama Sasuke. Tidak tahu sih dengan kage lain, hum, padahal jasa Sasuke besar, ya, selama perang akhir," ujar Kiba sambil menerawang, tidak tahu memikirkan apa.
Lagi, Hinata hanya mengangguk lemah. Pembahasan perang masih menjadi topik yang cukup sensitif untuknya. Ia perlu waktu untuk terbiasa dengan itu semua.
Tak disangka, pembicaraan mereka terus mengalir, seperti biasa, Kiba yang menggebu-gebu dan Hinata yang menanggapi sekenanya. Makanan mereka yang tadi disajikan pun sekarang sudah habis, hanya bersisa dua gelas ocha panas yang asapnya masih mengepul di udara.
Hinata meneguk ochanya, menetralkan rasa manis dari cinnamon rolls yang baru saja ia lahap. Ujung matanya menatap gerakan aneh dari sosok pria di hadapannya ini, pria itu sedang menatap ke kiri dan kanan sembari menggaruk belakang kepalanya.
"Kiba-kun?"
Yang dipanggil pun terkesiap secara tiba-tiba. Pria yang biasanya berisik tiba-tiba kikuk.
"Eh, Hinata.."
Gadis bersurai indigo itu hanya menatap Kiba, menanti rangkaian kata dari mulut si pemuda.
"…"
"…"
"Ku antar pulang ya, ini sudah malam,"
Hinata sedikit kaget, temannya ini bersikap agak aneh. Namun ia berhasil menutup kekagetannya dengan seulas senyum, "Terima kasih, Kiba-kun," ucapnya.
Jadilah dua insan itu berjalan dalam diam, tidak seorang pun dari mereka yang berniat membuka suara terlebih dahulu. Agak awkward memang, dan Kiba tidak terbiasa akan keheningan, tapi sepertinya Hinata sangat terbiasa.
Menit berlalu sampai mereka berdua sudah tiba di depan gerbang klan Hyuuga. Hinata berbalik badan, menatap temannya yang sedari tadi berjalan agak sedikit di belakang dirinya. Kepalanya sedikit membungkuk sembari berujar, "Terima kasih banyak sudah mengantarku, Kiba-kun dan Akamaru,".
Kiba hanya tersenyum lebar sembari mengusap kepala Akamaru yang senantiasa berjalan di sampingnya, "Ah, bukan masalah besar. Baiklah. Aku juga akan pulang sebelum kaa-san mengamuk, jaa mata ashita, Hinata!"
Surai indigo itu terlihat semakin indah di bawah sinar bulan dan sepoian angin. Tanpa disadari, semburat merah sudah menghiasi wajah berkulit tan miliknya. Mungkin, suatu saat nanti, jika nanti ia menemukan waktu yang tepat.. Mungkin..
.
思い出
.
Sudah terhitung satu minggu semenjak Sasuke kembali ke apartemennya. Kehidupannya biasa-biasa saja, yang tidak biasa hanya Naruto yang hampir setiap hari menginap di apartemennya. Sesekali juga ia dimintai tolong untuk ikut membantu membereskan kekacauan desa, seperti bergotong royong dengan warga membangun rumah atau kios mereka, bahkan membenarkan jalan yang berlubang di sana-sini. Dalam hati memang enggan, namun ia tidak bisa membantah karena Kakashi yang menyuruhnya. Belum lagi Naruto juga berisik dalam gotong royong ini.
"Haahh~ Tidak ku sangka kerusakan desa akan separah ini. Tapi aku lebih kasihan dengan Yamato-sensei, sih.." Naruto berujar sendiri, Sasuke tidak berniat menanggapi. Ia sedang menikmati waktu sore mereka di bawah pohon rindang. Seharian bekerja membangun pondasi beberapa kios sangat melelahkan. Andai ia menguasai doton, pasti tidak sesulit itu.
Manik obsidiannya menjelajah, hingga mendapati seorang gadis yang berjalan, sepertinya akan melewati mereka. Belum sempat ia menebak, suara sahabatnya sudah menggema, rasanya gendang telinga Sasuke mau pecah jika berlama-lama terlalu dekat dengan Naruto.
"HINATA! HOI HINATA!" sapa —teriak— Naruto dengan tangan yang melambai ke arah Hinata, yang menenteng sebuah kantung coklat kecil.
Gadis yang merasa namanya dipanggil pun langsung menengok. Saat menyadari siapa yang menyapanya, wajah Hinata langsung memerah, ia yakin mukanya sama seperti warna bulu Akamaru saat ia berubah.
Naruto dengan refleks menarik tangan Sasuke, untuk mengikutinya menghampiri Hinata. Lagi-lagi, Sasuke hanya bisa pasrah karena enggan memperdebatkan hal yang tidak penting.
Hinata memaksakan diri untuk tidak pingsan dengan tersenyum ke arah dua pemuda yang kini ada di hadapannya. "Se-Selamat sore..N-Na-Naruto-kun, Sasuke-kun.."
Naruto dengan sabar menanti Hinata selesai berbicara, ia tahu, gadis ini sedikit aneh.
Dasar tidak peka.
"Hai Hinata! Kau dari mana? Eh, apa kau mau ikut makan bersamaku dan Sasuke? Ayo kita ke Ichiraku!"
Dia habis nangis, bodoh. Apa kau tidak bisa melihat matanya yang sembab.
Hinata yang sedang merasakan mukanya memanas, merasakan pula kepalanya yang panas mencerna kalimat Naruto itu. Tapi ia hanya tersenyum dan mengangguk. Seperti mendapat durian runtuh, Hinata merasa sangat beruntung hari ini, karena diajak makan bersama dengan orang yang sangat ia cintai.
Satu tangan Naruto yang bebas kini sudah menggenggam tangan Hinata saat menarik Sasuke dan Hinata ke kedai Ichiraku. Hinata hampir saja pingsan jika ia tidak bisa menguasai dirinya sendiri. Ia hampir gila dengan perlakuan kecil Naruto ini padanya.
Ck, gadis membosankan.
Sasuke dan Hinata jalan dalam diam, hanya Naruto si radio butut itu yang terus mengoceh kesana-kemari. Sasuke sudah benar-benar lelah sampai ia menulikan telinganya sendiri. Hinata sesekali menanggapi dengan anggukan dan apresiasi kecil seperti,
"K-Kau hebat, Naruto-kun.."
atau
"I-iya.."
Dia punya kelainan berbicara?
Lalu di sinilah mereka bertiga, duduk berjajar di kedai Ichiraku. Tentu saja Naruto di tengah, Sasuke di sisi kirinya sedangkan Hinata di sisi kanannya. Waktu terasa lama saat mereka menanti ramen sampai matang, apalagi untuk Naruto. Jadilah ia kembali berisik. Namun kali ini ia menyadari sesuatu dari Hinata. Ia menatap Hinata lekat-lekat.
"Hinata.."
Hinata yang dipanggil mematung saat ia menengok ke arah Naruto yang menatapnya intens. Tarik nafas-keluarkan-tarik nafas-keluarkan. Ia mengulang itu berkali kali agar tidak benar-benar pingsan. Jarak wajah Naruto sudah sangat dekat. Apa jangan-jangan Naruto menyadarinya?
Si bodoh ini menyadarinya, kah?
"Ehm Hinata, apa yang kau bawa di kantong itu?"
Usuratonkachi, baka dobe.
Sasuke hampir membunuh sahabatnya, Hinata juga ingin rasanya menjitak Naruto sesekali.
Mukanya sudah tidak semerah tadi, Hinata yakin itu. Jadi ia mencoba menarik nafas pelan sebelum menjawab dengan senyuman tipis di wajahnya, "I-ini.. Kue kering. Apa Naruto-kun dan Sasuke-kun mau mencobanya?"
Ia berujar sembari mengeluarkan sekantung kecil kue kering dari kantong coklat yang ia bawa, lalu menyodorkannya ke arah Naruto dan Sasuke. "A-aku me-membuatnya sendiri.. Ja-jadi mohon ma-maaf kalau ti-tidak enak..".
Heh? Dia menunduk lagi dengan muka kebakarannya itu.
"Ah, benar tidak apa kalau aku makan? Ahahah kau tahu saja aku sedang sangat lapar, Hinata," cengiran Naruto disusul dengan jemarinya yang mulai meraih kue kering yang disodorkan padanya, lalu mengoper kantung kue itu ke Sasuke. Tentu saja disambut dengan baik oleh Sasuke, karena ia pun sudah lapar.
Beberapa detik berlalu setelah kedua pemuda itu memakan kue kering itu sampai habis. Hinata terdiam, 'Mungkin tidak enak, ya?' batinnya sembari menanti ucapan Naruto dan Sasuke. Tapi sepertinya ia menunggu terlalu lama. Sampai-sampai kue kering itu sudah ludes dari kantongnya, namun Naruto dan Sasuke tidak bersuara.
"A-ano.. Naruto-kun.. Apa kuenya.. ti-tidak enak?" Hinata memberanikan diri untuk bertanya.
Yang makan bukan hanya dia.
"Hi-Hinata.."
Hinata menelan ludahnya sendiri, ia terlalu gugup, benar-benar memalukan jika seorang gadis tidak bisa membuat kue kering, pikirnya. Hinata hanya terdiam, menanti perkataan Naruto selanjutnya.
"I-ini sangat enak.. Kau benar membuatnya sendiri?" suara Naruto yang lebih pelan dari biasanya tapi membuat Hinata tersipu lebih dari biasanya.
Gadis itu mengangguk dengan senyum yang mengembang, setidaknya kemampuan memasaknya tidak diragukan dan ia sangat senang. "Ji-jika kau mau, a-a-aku bisa membuatkannya u-untuk Naruto-kun.."
Cih, kenapa hanya dia? Aku juga mau.
Cengiran lebar Naruto kembali menghiasi wajahnya. Ia dengan semangat mengangguk dan kembali bersua, "Wah! Aku akan sangat senang Hinata, lihatlah, si Sasuke pun menikmati kuenya, pasti ia juga mau, iya kan, Sasuke?!" ujarnya bersemangat sembari menepuk pundah sahabatnya itu.
"Hn,"
"Bicaralah Sasuke, jangan buat Hinata takut padamu,"
"Berisik,"
Naruto sepertinya sedikit tidak enak pada Hinata, karena ia mendapati Hinata memandang sedikit takut ke arah Sasuke. Naruto dan Hinata hanya tidak tahu bahwa Sasuke sedari tadi vokal menanggapi, dalam hatinya. Dan, sejujurnya untuk sesaat Hinata melupakan kehadiran Sasuke di sini. Maklumlah, pikirannya hanya tertuju pada Naruto.
"Ti-tidak apa, Naruto-kun.."
Detik berikutnya Teuchi-Ossan dan Ayame nee-chan sudah menyediakan ramen pesanan mereka, dan mereka kembali larut ke dalam rasa masakan yang sangat enak, apalagi menurut Naruto.
Mereka bertiga makan dalam diam, walaupun hanya Naruto yang bersuara untuk minta tambah dan tambah. Entah dia habis berapa mangkuk, Sasuke tidak peduli, sementara Hinata sedikit mengkhawatirkan gizi Naruto kalau ia hanya makan ramen.
"Aku sudah kenyang! Tenang saja, kalian berdua aku traktir!" suaranya kembali menggelegar, sesekali Hinata agak menutup telinga kirinya dengan tangannya agar tidak terlalu menganggu kerja gendang telinganya. Sasuke sudah tidak sabar ingin menonjok mulut berisik sahabatnya.
Bulan sudah menggantikan mentari saat mereka keluar dari kedai Ichiraku. Baru beberapa langkah mereka berjalan, tiba-tiba Naruto berhenti, membuat Sasuke dan Hinata mau tidak mau ikut berhenti, lalu memandangi Naruto.
"Sepertinya aku kebanyakan makan.."
Sasuke dan Hinata menatap Naruto dengan tanda tanya besar, namun terjawab di detik berikutnya.
"Maaf aku harus buru-buru ke toilet. SASUKEE! Tolong antar Hinata, jaa Hinata, Sasuke!"
Hinata hanya sempat mengangkat tangannya sebelum Naruto menghilang dari pandangan mereka. Ia tersenyum melihat tingkah Naruto yang tidak banyak berubah.
Mereka berdua kembali berjalan, tapi Hinata tidak suka suasana ini. Bukan karena heningnya perjalanan mereka, namun karena ia tidak mengenal pria ini sepenuhnya. Hinata pun tidak ada niat untuk merepotkan Sasuke untuk mengantarnya pulang.
"Sasuke-kun, aku bisa pulang sendiri, aku tidak ingin merepotkanmu. Terima kasih banyak," ujar Hinata sembari membungkuk ke arah Sasuke, lalu berjalan mendahului Sasuke, niatnya agar ia pulang sendiri, tanpa perlu diantar. Lagipula dari kedai Ichiraku ke rumahnya tidak jauh.
Beberapa langkah ia ambil, sepertinya sosok pria itu masih mengikutinya dari belakang. Ia sedikit bingung dan menghentikan langkahnya, namun belum sempat ia menengok ke belakang, Sasuke sudah berujar pelan, "Kalau aku tidak mengantarmu, si bodoh itu nanti berisik. Anggap saja aku tidak ada,"
Kalimatnya ditutup dengan tengokan Hinata ke arahnya sambil tersenyum. Jakunnya bergerak, menandakan ia menelan ludah menatap gadis bersurai indigo yang tengah tersenyum itu. Wajahnya tetap datar, namun desiran jantungnya tidak sedatar biasanya.
"Terima kasih banyak Sasuke, kun. Maaf aku merepotkanmu.." ujar Hinata, sedikit pasrah karena ia pun tidak mau menyebabkan masalah di antara kedua sahabat ini.
Hinata melangkah pelan, menanti Sasuke menyamai langkahnya.
"Kau setiap hari ke pemakaman?"
Pertanyaan Sasuke itu memecah keheningan di antara mereka. Hinata yang cukup kaget dengan topik yang pria ini angkat. Wajahnya terangkat, amethyst menatap obsidian.
"K-Kau, melihatku?" ujar Hinata berbata karena kaget. Apakah Sasuke melihatnya menangis di makam? Ia akan sangat malu jika Sasuke benar-benar melihatnya.
Hanya anggukan yang Sasuke berikan.
Wajah Hinata memerah karena malu, tapi ya sudahlah. Sudah wajar kan, kalau orang menangis di pemakaman. "Hm, menjenguk nii-san,"
"Neji, ya?"
Kali ini gantian, Hinata yang mengangguk.
Sehabis itu tidak ada lagi perkataan yang keluar, keduanya asik tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hinata memikirkan Neji, dan Sasuke memikirkan kue kering itu. Random sekali bujang ini.
Tidak terasa, mereka berdua sudah tiba di depan rumah Hinata. Pintu kayunya terlihat tua namun masih kokoh berdiri. Sasuke sedikit terkejut dengan luasnya tembok yang mengelilingi mansion Hyuuga ini. Sejujurnya ini pertama kalinya ia mengunjungi area klan Hyuuga, jadi wajar ia sedikit kaget.
"Terima kasih sudah mengantarku, Sasuke-kun. Selamat malam," gadis itu sekali lagi membungkuk sembari mengucapkan terima kasih -lagi- dan hanya dibalas dengan anggukan Sasuke.
Omong-omong tentang Neji. Ia sebenarnya jadi sering mengunjungi makam Neji karena ketidaksengajaannya melihat Hinata di sana. Hari ini ia lewati, namun ia belum ke sana. Sepertinya dia akan mampir ke sana sebelum pulang.
.
.
つづく。
.
.
Hai! Perkenalkan, saya Kuro, penulis baru di sini. Sebenarnya saya sudah lama menjadi reader tetap di ffn dari zaman saya SMP sampai sekarang saya sudah kerja #yha. Tapi ini perdana saya memberanikan diri menulis cerita.
Jadi jangan lupa review ya! Saya sangat senang kalau tahu ada yang membaca cerita ini.
Sebenarnya saya sedang menimbang-nimbang, perlu update cerita ini di lapak sebelah atau tidak, ya?
Oh iya, saya menerima segala masukan dan kritikan yang membangun. Terima kasih semuanya dan salam kenal!
