Naruto tentu tahu bahwa Hinata sangat jarang menyampaikan perasaannya kepada sang suami. Kebiasaan Hinata yang pemalu sejak dulu itu masih belum berubah. Naruto selalu kebingungan dengan istrinya yang terus-menerus menolak untuk menceritakan isi hatinya. Padahal, sang hokage tahu betul bahwa istrinya sedang memendam sesuatu.

"Kenapa?"

Suatu hari Naruto tiba-tiba bertanya. Tengah malam saat mereka hanya berdua, berbaring di kamar. Mereka saling memunggungi. Hinata kaget dengan Naruto yang tiba-tiba bertanya.

"Maksudmu. Naruto-kun?"

Naruto berbalik dan menatap punggung Hinata. Kelihatan jelas lagi bahwa Hinata terlihat gugup dan menyimpan sesuatu. Naruto sudah berubah dari pria yang tidak peka menjadi seorang yang perasa. Gerak-gerik seperti itu sudah jelas ia artikan bahwa sang keturunan Hyuga itu menyimpan sesuatu.

"Ada yang ingin kamu katakan, Hinata-chan?"

"Tidak ada Naruto-kun," wanita yang berasal dari klan Hyuga itu akhirnya berbalik. Kali ini ia menatap sang suami lekat-lekat. Kesalahan besar bagi Hinata, karena tatapan itu semakin membuat Naruto yakin bahwa ada sesuatu yang aneh. Hinata benar-benar memendam sesuatu.

"Oooh… ya sudah aku tidur dulu ya," kata Naruto. Ia memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut karena ia takut istrinya terganggu. Barangkali Hinata memang memiliki rahasia yang ingin ia pendam dan tidak ingin ia ceritakan kepada siapapun. Bahkan pasangannya sekalipun.

Terkadang, dalam hubungan memang perlu sebuah privasi untuk diri masing-masing.

Sebenarnya apa yang Naruto pikirkan tentang Hinata itu benar. Rahasia memang dipendam di benak sang wanita. Hinata lebih memilih untuk menyimpan rahasia yang ia miliki. Mungkin sebuah rahasia yang memang sebaiknya Naruto tidak tahu.

Malam itu berlalu dengan pasangan suami istri itu tidak bisa tidur dengan nyenyak. Keduanya menyimpan rasa penasaran dan rahasia di benak masing-masing.

Keesokan paginya, Naruto bangun lebih awal. Ia pergi ke gedung Hokage jauh lebih awal karena akan ada pertemuan kedamaian antar desa dalam waktu dekat. Tentu sebagai tuan rumah ia harus menyiapkan tetek bengek acara dengan penuh perhitungan. Maka, ia meninggalkan selembar kertas di atas meja untuk memberitahu Hinata bahwa ia sudah pergi dan akan pulang terlambat.

Sekitar dua jam kemudian, Hinata bangun. Ia kaget melihat jam yang sudah hampir menunjukkan pukul delapan. Lebih kaget lagi ketika Naruto yang berbaring di sebelahnya sudah menghilang. Kemudian, ia melihat selembar potongan kertas yang ditimpa gelas air. Naruto memberi tahu dirinya bahwa ia akan pulang terlambat dan sudah berada di kantor.

Hinata meregangkan tubuhnya. Ia jadi bangun terlambat karena sulit tidur. Ia tahu bahwa Naruto sudah menyimpan kecurigaan yang mendalam pada dirinya. Tidak mungkin seorang pemimpin tertinggi di desa ini tidak mengetahui istrinya tengah menyimpan rahasia yang akan mati-matian dia jaga. Naruto memang bodoh, tapi sekarang ia sudah menjelma menjadi pria keluarga yang perasa.

Naruto sudah mulai tahu ekspresi-ekspresi yang ditampilkan Hinata. Senyum tulus maupun senyum pahit. Menangis karena senang ataupun menangis karena sedih. Semakin bertambah umur kita akan menjadi semakin peka.

Hinata tidak bisa fokus seharian itu karena benaknya terus bergejolak. Di satu sisi ia merasa bahwa tidak adil baginya untuk menyimpan masalah dan rahasia ini sendiri. Ia merasa perlu untuk memberi tahu Naruto mengenai pergejolakan besar yang tengah dia alami. Rumah tangga bisa menjadi kuat jika kedua orang yang terlibat itu saling terbuka dan membantu. Kerahasiaan itu biasanya akan menghancurkan.

Namun, di lain sisi ada pemikiran yang membuat Hinata ragu untuk mengungkapkannya. Terkadang, kita perlu kebohongan. Kita perlu rahasia yang tidak ada yang tahu selain diri kita sendiri. Kebohongan juga terkadang bisa menyelamatkan, membuat orang lain bahagia. Tidak terhitung juga berapa kebohongan yang biasa Hinata lakukan. Ia biasa berbohong untuk membahagiakan ayah dan adiknya dulu.

Jadi, ia pun sudah tahu betul bagaimana rasanya berbohong demi kebaikan. Hidup memang perlu banyak pengorbanan. Tidak semua hal harus kita bagi ke seseorang. Kejujuran juga terkadang tidak bisa membantu banyak di kala kebohongan bisa menjawab banyak hal yang meragukan.

Hinata hanya perlu tahu apakah ia harus membeberkan ini atau menyimpannya terus-terusan. Naruto yang sudah begitu mencurigainya itu sungguh merepotkan dirinya. Lama kelamaan tembok pertahanan ini bisa runtuh. Bukan karena Naruto memaksanya untuk bercerita – selama ini Naruto sama sekali tidak pernah memaksa Hinata – melainkan karena ia takut ia tidak tahan. Ia takut tidak tahan untuk menahan beban rahasia ini.

Hinata perlahan berpikir bahwa sebaiknya kebohongan itu tidak dilakukan. Kejujuran memang menyakitkan, tetapi kebohongan rasanya lebih kejam. Mau tidak mau Hinata akan memikirkan lagi kemungkinan apa yang seharusnya ia ambil. Kemungkinan macam apa yang akan membuahkan hasil yang baik.

Apapun itu, dia berharap bahwa keputusannya tidak akan menganggu hubungannya dengan Naruto.

….

Tumpukan dokumen itu sama sekali tidak disentuh oleh sang Hokage. Sudah hampir setengah hari ini ia tidak melakukan apa-apa. Hanya melamun saja sambil melihat ke luar jendela. Shikamaru dari tadi sudah berusaha membujuk Naruto untuk segera menyelesaikan pekerjaan yang tertunda itu, tapi Naruto selalu mengulur-ngulur dan akhirnya sampai sekarang pun ia tidak berhasil menyelesaikannya.

Beberapa shinobi datang bergantian ke ruang Hokage. Melaporkan misi dan berbagai perkembangan lainnya. Semua itu harus ditangani oleh Shikamaru, karena Naruto masih sibuk dengan pikiran yang ada di kepalanya.

"Ya iya. Kau boleh pergi."

Entah sudah berapa kali Shikamaru berinteraksi dengan shinobi yang baru selesai misi hari ini. Ia merasa kesal juga dengan Naruto yang mendadak jadi malas-malasan, tanpa alasan. Kalau boleh dia tebak mungkin Naruto memiliki masalah. Namun, jika benar seperti itu pun rasanya Naruto tidak mungkin sampai terlarut begitu dalam kepada masalah tersebut. Biasanya, ia justru tidak akan peduli dan langsung menyelesaikannya dengan tindakan sembrono yang dia suka.

Namun Shikamaru sudah sadar. Naruto sang Hokage sekarang ini sudah bukan Naruto yang dia kenal dulu. Bukan berarti Naruto berubah menjadi pribadi yang buruk, hanya saja ia sudah terlihat lebih peduli dengan masalah-masalah dan berusaha menyelesaikannya dengan sebaik mungkin.

"Kau ini kenapas sih, Naruto?" tanya Shikamaru. Ia sudah benar-benar kesal.

"….."

"Naruto!"

Naruto tersentak, Lamunannya langsung pecah saat Shikamaru berteriak seperti itu tepat di depan telinganya. Ia berbalik dengan kesal.

"Ada apa sih, Shikamaru?!"

"Aku yang harusnya bertanya padamu! Kenapa kau melamun tidak jelas dari tadi dan sama sekali tidak mau bekerja, Naruto?!"

Naruto tersentak. Benar juga. Entah sudah berapa lama ia berdiam diri saja, duduk tanpa melakukan apapun. Ia melirik ke arah jam. Shit. Ia benar-benar tidak sadar waktu sudah berputar amat cepat. Entah apa saja yang mengisi kepalanya dari tadi. Ia seakan terhipnotis dan tidak bisa melakukan apa-apa.

"Gomen."

"Kau sedang ada masalah?" Shikamaru mulai yakin dengan pendapatnya. Kali ini bocah berambut kuning ini benar-benar terlihat memiliki masalah yang besar.

"Begitulah," jawab Naruto lemas. "Maaf sudah merepotkanmu."

Naruto kembali ke meja kerjanya dan mulai memeriksa lembaran-lembaran yang tersedia. Shikamaru hanya menggelengkan kepalanya. Tahu betul bahwa Naruto memang sedang 'bermasalah'

"Kau pulang saja lah."

Naruto menggeleng. "Tidak, aku sudah tidak apa-apa."

Shikamaru akhirnya membiarkan saja apa yang menjadi kemauan Naruto. Dia rasa Naruto sudah cukup dewasa dan bijak untuk menyelesaikan masalah pribadinya sendiri.

….

Hinata tidak pernah tahu bahwa Naruto akan sebegitunya merasakan keanehan pada dirinya. Baru kali ini ia memergoki suaminya tengah melamun dengan begitu jelas di meja makan. Suat

u hal yang rasanya sangat jarang terjadi di kehidupan sang Jinchuuriki itu.

Ia tidak memberanikan diri untuk mendekat. Hinata hanya mengintip sedikit dari celah pintu kamar yang tidak benar-benar tertutup rapat. Kegelisahan itu terlihat jelas di wajah Naruto. Hal itu serasa merobohkan pertahanan terkuat yang telah Hinata siapkan. Ia tidak sanggup melihat pemandangan itu.

Hinata akhirnya memutuskan untuk naik ke atas kasur, berbaring dan memejamkan matanya sekuat mungkin sampai ia bisa tertidur secara instan. Agar rasa bersalah ini bisa hilang dari benaknya. Sayang, hal itu tidak semudah yang ia bayangkan. Sekelebat wajah Naruto yang gelisah dan perasaanya yang bercampur aduk itu tidak bisa ia hilangkan dari pikirannya.

Ia sadar bahwa hal ini sudah semakin membesar, dan kenyataan tersebut perlahan-lahan telah mensugesti dirinya. Mungkin memang benar bahwa ia harus menyampaikan fakta pahit ini. Entah apakah reaksi Naruto yang akan ia dapatkan. Hinata rasa ia sudah tidak peduli lagi. Ia sudah tidak mampu melihat wajah gelisah itu.

Ia akhirnya memutuskan untuk menyampaikan semua ini…

.

.

Naruto kaget ketika Hinata mendadak menghampirinya. Ia sama sekali tidak menyadari kehadiran sang istri yang tiba-tiba sudah duduk di depan dirinya.

"K-kenapa, Hinata-chan?" sialan, dia malah terbata-bata.

Hinata menatapnya dengan serius. Mungkin salah satu tatapan terserius yang pernah Naruto lihat sepanjang hidupnya. Ia merasakan suasana yang berubah menjadi tidak enak. Pria itu mulai merasa tidak nyaman.

"Aku…. ingin berbicara sesuatu denganmu, Naruto-kun."

Naruto menelan ludah. "A-apa itu."

Hinata menarik nafas, memandang ke bawah. Tampaknya ia tengah mempersiapkan kata-kata yang ada di kepalanya dengan matang. "S-sebenarnya aku… tidak bisa punya anak.. Naruto-kun."

Naruto tersentak. Tiba-tiba saja Hinata berbicara seperti itu. Apakah ini jawaban dari segala rahasia yang tampak Hinata coba sembunyikan itu. "Apa maksudmu, Hinata-chan?"

"Aku tidak bisa hamil…" ia menundukkan wajah. "Gomen, Naruto-kun."

Naruto menatap Hinata tidak percaya. Inikah rahasia yang Hinata coba simpan? Ia tidak tahu harus berkata apa-apa selain menjemput tubuh Hinata ke dalam dekapannya, memeluk sang wanita itu dan menenangkannya.

Semenjak pengakuan itu, kehidupan mereka terasa berbeda. Hinata jadi jauh lebih banyak berdiam diri, murung seharian di rumah. Hanya percakapan-percakapan kecil yang mereka ucapkan setiap harinya. Naruto sungguh tidak tahan dengan kondisi ini, tapi diapun tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa diam dan berharap akhirnya Hinata bisa menyembuhkan luka itu. \

Ketika akhirnya Naruto sudah mulai lelah dengan semua itu, ia akhirnya memutuskan untuk mencari jalan keluar. Untuk mengatasi hal ini, ia menemui Tsunade, sang sannin yang ahli dalam dunia medis. Ia berharap bahwa Tsunade bisa menemukan solusi mengenai hal ini.

"Begitu ya… baiklah aku pamit dulu nenek."

Naruto selesai bertemu dengan Tsunade. Memang tidak ada jawaban yang pasti mengenai langkah yang harus dilakukan, tapi Tsunade tahu metode apa yang setidaknya bisa dicoba. Tsunade akan mencoba untuk menguatkan rahim Hinata melalui metode medis yang ia kuasai – tapi nantinya hal ini akan bergantung pada diri Hinata sendiri. Akankah dia mampu untuk menjalani segala metode yang Tsunade bilang 'sulit' ini?

Jika sang sannin sudah berkata sulit, maka memang itulah artinya. Naruto kembali ke rumah dengan memberi tahu Hinata mengenai hal tersebut

Hinata akhirnya terlihat bersemangat. Dia tidak ingin mengecewakan Naruto untuk kedua kalinya. Kesulitan yang Tsunade bilang itu sama sekali tidak dia pedulikan. Apapun yang menghalang tidak akan dia pedulikan.

Maka mulai besoknya mereka mencoba berbagai macam cara yang disiapkan Tsunade. Ada pengobatan yang digunakan untuk menguatkan organ tubuh manusia – yang dalam hal ini bertujuan untuk memperkuat rahim Hinata agar ia bisa mengandung – dan metode itu memerlukan berbagai tahap untuk dilaksanakan.

Tahap pertama. Ramuan herbal. Entah berapa banyak minuman dan obat-obatan pahit yang harus Hinata telan. Tsunade bilang ini bagus untuk memperkuat rahimnya, maka Hinata menurut saja. Pahit ini tidak seberapa dibanding keinginannya untuk mengandung anak Naruto.

Lalu tahap demi tahap berlalu. Banyak sekali hal yang menyusahkan terjadi. Naruto sendiri hampir tidak sanggup melihat Hinata menderita karena banyaknya rasa sakit yang harus dilewati Hinata. Entah berapa banyak obat-obatan pahit dengan efek samping menyakitkan yang harus ia terima.

Akhirnya, pengobatan itu berjalan sudah hampir setahun. Tidak ada perubahan yang berarti, Hinata masih belum mengandung. Hingga akhirnya di suatu pagi…

Hinata merasa mual. Tidak enak badan. Naruto membawanya ke rumah sakit, dan dari sanalah mereka baru tahu bahwa Hinata ternyata sudah mengandung anak mereka.

"Selamat Hokage-sama!"

Naruto memeluk istrinya, terharu. Hinata menangis bahagia. Akhirnya perjuangannya selama ini mendapat jawaban.

Mulai saat itu, Naruto menjadi suami yang siap siaga. Hinata sudah tidak diizinkan lagi untuk melakukan pekerjaan berat dan lain sebagainya. Meski sudah bisa mengandung, rahim Hinata masih terbilang tidak cukup kuat dibanding orang biasanya. Jadi, memang perlu pengawasan khusus. Untuk itu, Naruto meminta tolong kepada Tsunade untuk memantau Hinata.

Bulan demi bulan berlalu. Hari yang ditunggu-tunggu itu akhirnya datang di hidup Naruto.

Saat ia tengah sibuk mengerjakan tugas di gedung Hokage, ia mendapat berita dari seorang ninja yang datang ke ruangannya. Ninja itu bilang bahwa Hinata sudah berada di rumah sakit – kandungannya sudah sembilan bulan lebih. Buru-buru Naruto pergi ke rumah sakit menghampiri sang istri.

"Hinata-chan.." naruto menatap Hinata yang tengah berjuang di atas ranjang. Buru-buru ia mengenggam tangan sang istri yang hanya membalasnya dengan senyuman.

"Sedikit lagi!" dokter kandungan itu berteriak. Kepala bayi itu sudah mulai muncul. Hinata mengerahkan seluruh tenaga yang dia punya dan tidak lama kemudian…

Suara tangisan itu pecah. Bayi laki-laki keluar dari sana. Semua orang yang berada di ruangan itu mengembuskan nafas lega, terutama kedua pasangan itu. Mereka saling tersenyum bahagia.

Akhirnya, perjuangan itu berhasil. Naruto tersenyum bahagia. Anak lelaki sehat yang lahir ini dia beri nama..

Uzumaki Boruto.

Fin.