TOKYO REVENGERS
Ken Wakui
.
.
.
"S Word—from Rindou to Sanzu"
.
.
.
—S word buat Sanzu itu apa sih?
—Stress
.
.
.
Stress.
Satu kata dari Rindou untuk Sanzu Haruchiyo. Bukan maksud untuk memusuhi, tapi tiap apapun yang Sanzu ucapkan atau lakukan pastilah kesesatan tanpa moral, berikut berakibat keresehan tanpa batas. Stressnya sudah sampai keluar batas, mana lagi ampas. Rindou jadi paham mengapa Kakaknya selalu berusaha terlalu keras menjauhkannya dari Sanzu.
"Jangan dekat-dekat sama Rin, Kampret! Mau dikebiri?!"
Ancaman Ran—kakaknya—Selalu sama. Rindou tidak yakin jika Sanzu akan percaya. Tapi mungkin otak Ran yang udah cetek dari sananya itu sulit memikirkan ancaman lain. Jadi, Rindou memakluminya. Dengan anggukan penuh keyakinan jika diperlukan.
"Sayang? Seluruh duniaku itu kamu"
Ucapan gombal level rendah seperti itu sudah sering melewati kedua telinga Rindou—iya, hanya lewat, tertanam jelas diingatan, berikut dengan Sanzu yang berlutut sambil mesem-mesem serem. Sempat pula membuat Rindou menggelepar trauma—demam tujuh hari tujuh malam— karena muka Sanzu.
"Rin, Pacar stress lo ngamuk noh!"
Sudah 5 kali seminggu ini Rindou mendapat laporan tindakan anarkis makhluk stress satu ini. Entah apa untungnya ngamuk di halaman sekolah, menghajar entah siapa itu dengan semangat berkobar. Pernah Rindou bertanya maksud tindakan anarkis yang dia lakukan. Tapi sungguh, jawabannya makin membuat Rindou ingin terjun ke palung mariana saking capeknya.
"Dia suka liatin Kamu, Sayang. Aku kan cemburu"
Rindou tidak ingat pernah mengizinkan makhluk stress ini memanggilnya Sayang. Tidak pernah dan tidak akan pernah. Lagipun, meski punya pacar atau istri, Rindou ingin dipanggil dengan nama saja, bukan Sayang. Jijik.
"Kamu cantik, aku suka"
Gombalan yang kesekian, dan Rindou ingin mengamuk tidak terima. Rindou tidak pernah rela ataupun setuju dikatai cantik—sama artinya meragukan kemaskulinannya. Di lihat dari sisi manapun, Rindou itu ganteng. Ran udah bilang gitu berulang-ulang.
"Aduh... Adek abang ganteng banget"
Saking seringnya, Rindou jadi tidak yakin jika Ran benar-benar memujinya. Rindou udah kebal kayaknya.
"Sayang, minggu ini ngiter lagi yuk!"
Kegiatan tiap malam minggunya Rindou itu dijemput Sanzu lalu ngiter—ngukur jalanan—sampai bahan bakar habis. Rindou tidak pernah menolak ajakan Sanzu untuk yang satu ini. Rindou suka naik motor, ngiter sana-sini, menghirup segarnya udara.
Ah, betapa sukanya Haitani Rindou pada Sanzu Haruchiyo di malam minggu.
"Sanzu, Gue lebih suka lo kalau malam minggu gini deh"
"Oh ya? Kenapa begitu?"
"Gue gatau. Pokoknya suka aja sama lo di malam minggu"
"Apa karena aku ga rese?"
"Mungkin aja"
"Karena aku ajakin jalan-jalan?"
"Salah satunya"
"Dan yang lainnya?"
"Lo tahu gimana bicara sama Gue. Tanpa ngerasa bosan. Gue suka"
Sanzu tersenyum kecil. Lebih mempesona dari ribuan senyum setannya, Rindou suka.
"Ayo pulang!"
"Kita baru jalan"
"Mau pulang. Sekarang!"
"Iya deh iya"
Oh, Sanzu... Andai kau tahu, Rindou tidak kuat mental bersamamu lebih lama karena malunya sudah di pucuk rambut.
--
Bagian 1 Selesai.
