Morose Mononokean (C) Kiri Wazawa

Penulis tidak mendapat keuntungan material apapun dari penulisan ini

Pairing : Ashiya Sakae, Ashiya Nara

Warning : Bahasa Indonesia, hati-hati ada typo


Surainya tergerak oleh kipas ruangan. Mata keemasan yang berpendar redup dengan raut kantuk yang aneh. Cara pandangnya, cara bicaranya, semua yang dia perlihatkan di pertama mereka bertemu membuat Nara tergerak hati.

Kasihan? Keingintahuan? Respek? Terpukau? Terpikat? Nara tidak bisa menuliskan apa yang dia rasakan kala itu. Tapi dia begitu berterima kasih pada pemuda bernama Ashiya Sakae. Karenanya, Nara merasakan satu hal yang berbeda dalam hari-hari setelah sekian lama.

Perasaan apa ya?

.

.

.

Kata temannya, banyak gosip yang menyelubungi pemuda itu. Pendiam, tidak berperasaan, sering melamun, jarang bergaul, tatapan yang menyeramkan. Belum lagi tentang gosip keluarganya yang meninggal dalam satu malam dengan keadaan yang aneh. Hanya dia yang selamat di malam itu. Dewa Kematian, katanya.

Benarkah?

Anak ini? Pemuda ini? Orang dengan tutur kata selembut ini disebut dewa kematian? Nara tidak bisa membayangkan. Namun dia turut bersimpati dengan kematian keluarganya.

Pasti sakit. Pasti sedih sekali rasanya ditinggal sendiri seperti itu. Nara ingin sekali menghiburnya. Memeluknya dan berucap semua bukan salahnya, semua akan baik-baik saja.

Di hari kelulusannya, Nara menghampiri pemuda itu.

"Ashiya-kun," pemuda itu menoleh. Di antara guyuran bunga sakura di hari kelulusan angkatan Nara, pemuda itu terlihat makin kesepian di tengah hari berbunga.

"Ya, senpai?"

Nara menggenggam kedua sisi roknya, menguatkan tekadnya. Dia mengangguk yakin sebelum maju satu langkah.

"Terima kasih banyak sudah mengunjungiku di UKS hari itu!" kata Nara jelas. Ashiya Sakae terlihat mendengarkan.

"Dan juga, tolong," Nara menarik nafasnya. "Hiduplah dengan bahagia. Mungkin ini terdengar egois apalagi dikatakan oleh orang asing sepertiku. Tapi sebagai orang yang cukup dekat denganmu selama ini dan aku menganggapmu sebagai temanku, tolong, hiduplah dengan sehat, dan bahagia. Jangan lukai dirimu dalam penyesalan," kata Nara. Dia menatap kedua manik emas di hadapannya yang menatapnya dengan tatapan sulit diartikan olehnya.

"Kalau kau sudah hidup seperti itu, atau setidaknya kau menemukan tujuan hidupmu, maka temui aku. Akan kuberi kau hadiah," lanjut Nara dengan senyuman mengembang di akhirnya.

Nara tidak mengetahui, ada perasaan aneh yang menelusup ke dalam dada Ashiya Sakae. Perasaan hangat yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.

Sakae terdiam sampai beberapa saat. Dia tersenyum tipis. Kemudian mengejutkan bagi Nara karena pemuda itu menundukkan kepalanya.

"Aku mengerti, senpai. Ketika aku sudah menemukannya, aku akan menemui senpai. Saat itu tiba, tolong terima permintaanku juga," kata Sakae. Hal itu membuat Nara senang. Dia mengangguk.

"Ya, aku akan mengabulkannya. Sampai jumpa dan terima kasih, Ashiya Sakae-kun."

"Terima kasih atas kerja kerasmu selama ini, Ashiya Nara."

Itu terakhir mereka berjumpa. Tak sekalipun dia mendengar tentang namanya lagi. Nara melanjutkan hidupnya. Membuka toko bunga yang sudah dia impian sejak lama. Menamainya dengan nama yang dia suka. Merawat semuanya dengan cinta dan penuh kehati-hatian.

Dan kemudian di suatu hari bersalju. Pemuda itu datang.

Surainya tak lagi emas seluruhnya seperti terakhir mereka berjumpa. Matanya masih emas namun sirat kelembutannya lebih kuat. Senyumnya bukan lagi senyum kesedihan namun senyum tulus yang memukau.

"Kita bertemu lagi, Ashiya Nara," begitu katanya.

Hari bersalju itu terlihat seperti musim semi bagi Nara yang entah mengapa menunggu kedatangannya.

"Selamat datang, Ashiya Sakae," balas Nara dengan senyuman terbaik yang dia punya.

.

.

.

.

.


HAHAHAHA, halooo, saya author baru di fandom ini, hahahaha! Saya author Bahasa Indonesia dan inginnya bisa menambah list fanfic bahasa ini di fandom ini.

Agaknya sepi sih tapi tak apa, jika ada yang membaca, salam kenal dan terima kasih sudah membaca fanfic singkat ini.