Miyata
Disclaimer: DMM.
Warning: OOC, typo, gaje, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Seata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan sebenarnya untuk ulang tahun Oda Sakunosuke (26/10/2021).
Salah satu hal lucu yang Alchemist sematkan pada ciri khas reinkarnasi Oda Sakunosuke tentunya adalah, rambut kepang sepunggung yang benar-benar bertolak belakang, dengan penampilan Oda di kehidupan pertama. Sewaktu sapaan perdananya dimasukkan oleh perpustakaan, dan keesokannya ia terbangun bersama helai yang acak-acakan, jujur saja Oda sempat panik. Ia mana pernah memiliki pengetahuan terkait menata, sehingga Oda ingat betul dia sibuk luntang-lantung mencari seseorang.
Seseorang itu bukanlah Sakaguchi Ango, Dazai Osamu, ataupun Dan Kazuo, melainkan satu-satunya wanita yang Oda cintai. Ia ingat sekali bingung sampai memiliki linglung. saking edannya luas perpustakaan ini. Bahkan Oda tiada bertanya kepada siapa pun–menilik dahulu bungou masih sedikit–membuatnya sakit kepala berkali-kali. Hingga tiba-tiba Oda terhenti akibat semata-mata ingin tertawa getir.
"Yo ...! Atau mungkin, selamat siang? Bisa-bisanya juga aku bingung, mengenai bagaimana caranya menyapa istriku sendiri."
Tentu saja biarpun Oda tertawa, itu adalah getir sebab Oda takkan pernah menemukan istrinya lagi. Jadi, Oda pun kembali ke kamarnya yang ternyata, Oda bisa mengepang rambutnya sendiri meskipun ia tidak ingat pernah diajarkan. Walau dibandingkan menunjukkan kegembiraan yang berdecak kagum, Oda justru kesepian. Ia malah menyesal, kemudian meminta maaf kepada seulas tanya yang dihadirkannya bahkan sampai detik ini.
"Apa kau mengingat ceritaku di tahun lalu? Mengenai alchemist yang membuatku bereinkarnasi untuk melawan shinshokusha, demi melindungi literasi? Sekarang perpustakaan makin ramai, lho. Kami banyak menyambut rekan baru."
Tengkuk yang jauh dari gatal Oda usap-usap. Kenapa ia mati kutu seperti ini? Sehingga jadinya Oda malah menambahi pertanyaan yang kurang penting; mana mungkin juga menjadi penting, karena balasannya takkan pernah ada, walaupun jawabannya sangat ingin memiliki eksistensi di dunia ini. Oda pun tersenyum kikuk. Berjanji lagi ia pasti meminta maaf, kepada berbagai tanda tanya yang tanpa sengaja diciptakannya.
"Makanya Miyata tidak perlu khawatir. Di sini aku sangat bersenang-senang, kok. Tapi apakah di sana kau kesepian, karena aku menemanimu terlalu sebentar? Di surga ... Miyata punya teman mengobrol tidak? Haruskah aku meminta maaf juga, sebab meninggalkanmu sangat cepat?"
Sejenak Oda membisu. Bibirnya ia gigit kuat-kuat, ketika setiap Oda berucap ia merasa kata-katanya hanya melantunkan putus asa–sesuatu yang tidak bisa dijawab oleh apa pun.
"Maaf. Lagi-lagi aku bertanya kepadamu. Pesta ulang tahunku akan diadakan nanti malam, lho, omong-omong. Miyata mau merayakannya bersamaku ... tidak?"
Usai bertanya lagi, kepala Oda yang tertunduk seolah-olah jatuh sangat dalam. Dadanya menghela napas dengan berat, tetapi ia tidak merasakan apa pun yang berarti dari sana. Kini Oda mengalihkan pandangannya pada biru langit. Mata itu bergulir ke sana kemari seakan-akan ada yang ingin ia temukan, dan memang begitu adanya, yakni senyuman Miyata–satu-satunya teman hidup Oda yang jika ia tergantikan, Oda tetap mengharapkan Miyata; akan ia ganti dengan Miyata yang sehat, tersenyum lebar, dan tubuhnya adalah tawa yang ringan.
"Senyumanmu itu, apa seperti awan yang kulihat sekarang ini, ya?"
Lembut, hangat, dan mengantarkan harum musim panas walaupun sekarang ini musim gugur, lalu setelahnya adalah musim dingin.
Bertanya lagi pun, memangnya kenapa? Oda saja sudah lebih dahulu menangis, melanggar janji yang pernah diucapkannya sebelum tiba di makam ini–bahwa di hadapan Miyata, ia akan banyak-banyak tersenyum, juga menyatakan dirinya ini bahagia, Miyata pun harus begitu yang mana Oda akan tahu Miyata bergembira, apabila ia dapat mengungkapkan, "Aku menyayangimu" kepada siapa pun.
Kenapa pula baru sekarang ini Oda bertanya kepada Miyata?
Dulu ia ke mana saja ketika Miyata masih hidup, dan memeluk isi hati Oda?
Pernahkah juga Oda mengucapkan, "Selamat datang"?
Apakah ketika bersama Oda, Miyata benar-benar merasa pulang sehingga ia mengujarkan, "Aku pulang" kepada Oda? Ataukah ia hanya terlalu baik dan sebenarnya, Oda sekadar seolah-olah pantas bersama Miyata?
Pada akhirnya semua-muanya hanyalah pertanyaan, dan diam-diam itulah air mata Oda. Ia memang memiliki banyak sekali. Mungkin takkan pernah usai, sepanjang Oda terus menyalahkan dirinya sendiri bahwa kematian Miyata disebabkan, oleh Oda yang sakit-sakitan. Miyata pasti lelah merawat Oda, tetapi Oda tidak pernah menanyakannya jadilah Miyata meninggal. Ia yang belum beristirahat lagi dengan menjawab, "ya" ataupun berbohong.
"Maaf, Miyata. Sekali lagi aku meminta maaf. Maksudku bukanlah begini. Tolong abaikan saja pertanyaan-pertanyaanku, biar kamu tidak merasa berat. Karena Miyata baik, pasti kamu ingin menjawabnya, kan ...? Makanya jangan."
Jika begitu biar Oda saja yang menjawabnya, bukan? Miyata pasti ingat mengenai perpustakaan ajaib, dan kekuatan alkemis, karena ia pernah berkata walaupun Oda tak menggubah Meoto Zenzai, atau menuliskan artikel Kanosei no Bungaku, Mitaya pasti selalu mendengarkan Oda. Entah ia penulis terhebat, atau hanya petani bersahaja baik di bulan panen maupun paceklik, Miyata akan mengingatnya karena apa yang Oda katakan, maknanya istimewa bagi Miyata.
Lalu, Miyata pasti kesepian karena Oda-lah yang mengirim Miyata ke surga. Oda takkan pernah menerima alasan seperti, kematian merupakan takdir. Apabila Oda-lah yang menjaga Miyata, dan bukan Mitaya yang mengorbankan segala-galanya, Miyata tentu hidup. Akan begitu sebab semenjak mengenal ia, Oda Sakunosuke hanya menjadi lelakinya Miyata yang keinginannya selalu berlari untuk memiliki Miyata.
Mengenai pesta ulang tahunnya juga, Oda dapat membayangkan Miyata memasakkan kari yang harum rumah. Mereka pasti merayakannya dengan kesederhanaan paling meriah, ya? Seperti dibandingkan meniup lilin di atas kue cokelat, bibir Oda justru mengecup pipi Miyata.
Kemudian tentang senyuman Miyata ... jujur saja Oda sedikit bingung, harus bagaimana untuk menjawab yang satu ini secara memuaskan? Mungkin benar itu berbentuk awan. Walaupun Oda dapat membayangkannya sebagai matahari, angin, pepohonan, atau apa pun yang mata Oda tangkap akan menjelma senyum Miyata? Seolah-olah Miyata selalu tersenyum kepada Oda melalui hal apa pun, ya ...
Sekarang Oda pun lapang berkatnya.
"Miyata memang sangat baik. Aku mungkin boleh menjawab dengan hal-hal buruk sesuka hatiku, dan pada akhirnya Miyata menenangkanku untuk menang."
Untunglah semua ini diakhiri dengan terima kasih. Sebagai pemanis yang bukan gombal atau kelakar semata, Oda pun mengatakan, "Di kehidupan selanjutnya, aku akan membuatmu menetap", sebelum Oda benar-benar pergi meninggalkan pemakaman.
Tamat.
A/N: Sebenernya ini udah selesai dari bulan lalu, tapi aku males publish dan tiba-tiba molor sebulan. Daripada sayang, akhirnya ku-publish aja. Miyata sendiri merupakan nama dari kekasih Oda, dan kupikir ya mereka menikah. Jujur, nyari info soal oda itu susah. Nama miyata kudapatkan dari tumblr bsd. Semisal ini salah, dan ada yang tau nama yang bener itu apa, tolong kasih tau ya. Cepat atau lambat akan diperbaiki, dan semoga sih gak males lagi karena salah nama itu fatal juga.
Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Aku bikin ini, karena tersentuh dengan oda yang di RL-nya sayang banget sama istrinya. Kuharap gak salah nama.
