Bittersweet; Strawberry Shortcake dan Iced Coffee

A KakaSaku Fanfiction

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't gain any profit

College!AU, kinda fluff, f/m pair alias ini lurus, setting lokal, kissing!scene

Enjoy, my beloved KakaSaku stan! PurpleSky's09 and Ashley Chen 16. Anyway, thanks for the prompt Ashley Chen 16 ayangg~


Summary :

Bittersweet mungkin istilah yang cocok untuk kombinasi mereka. Sakura si penyuka strawberry shortcake yang manis dan Kakashi si penyuka kopi yang pahit. Melepas kejengahan selepas kuliah di danau dekat gedung rektorat kampus mungkin sebuah ide yang bagus, sekaligus kesempatan mencoba sesuatu yang baru.


Pukul empat waktu setempat, kelas Sakura resmi berakhir. Gadis itu sekonyong-konyong membereskan mejanya dan memasukkan buku serta laptop ke dalam tote bag pemberian Kakashi waktu ulang tahunnya yang ke-20. Menolak halus tawaran Ino yang mengajaknya untuk pergi ke mall, Sakura minggat dari kelas dengan sedikit terburu. Ia setengah berlari melewati koridor yang kala itu masih cukup ramai oleh mahasiswa lain.

Gadis itu berbelok ke arah kantin fakultas ekonomi dan bisnis yang masih diisi beberapa orang; mahasiswa, dosen dan staff. Ia menghampiri stan kue yang terletak agak di dalam. Gadis itu menghela napas lega ketika melihat masih tersisa dua potong strawberry shortcake di balik kaca.

"Aku mau strawberry shortcake dua."

"Aku mau strawberry shortcake satu."

Otak Sakura berhenti seketika. Ia menoleh dan terkejut melihat sosok pemuda berambut raven yang tengah berdiri di sampingnya. Pemuda itu juga tampak sedikit kaget meski tidak terlalu banyak berekspresi. Suasana menjadi canggung sesaat sampai pemuda itu menghela napas.

"Tidak jadi. Aku ambil yang black forest saja," ujarnya pada ibu kantin. Sakura mengerjap. Ia hendak protes, tapi pemuda itu sudah keburu pergi dengan black forest-nya. Sakura disadarkan oleh ibu kantin yang telah menyiapkan pesanannya. Ia pun berhasil teralihkan dari sosok itu dan membawa dua potong strawberry shortcake dalam kotak di tangan.

Sakura masih terpikir sosok itu. Ia benar-benar bodoh jika berkata tidak mengenalnya. Sakura sangat mengenalnya, malah. Sosok itu adalah Uchiha Sasuke, mahasiswa yang seangkatan dengannya dari fakultas ekonomi dan bisnis jurusan ekonomi pembangunan. Gadis itu masih ingat ketika awal ospek ia dan Sasuke dipasangkan untuk tugas dari senior. Sejak saat itu, gadis Haruno mulai merasakan sesuatu; perasaan asing yang menggelitik perut. Menaksir, kalau kata orang. Namun, semuanya harus kandas ketika gadis itu mendengar kabar dari Ino bahwa Sasuke telah bertunangan dengan Hinata Hyuuga dari fakultas seni rupa. Pupus sudah harapan untuk mendekat dan cinta sepihak itu harus kandas tanpa diketahui oleh orang yang dicintai.

Pertemuan dengan Sasuke setelah sekian lama jelas membuat Sakura sedikit syok. Mereka tak pernah bertemu lagi sejak masa ospek selesai meskipun pernah beberapa kali bertukar kata, meski yang banyak berbicara itu si gadis Haruno. Namun, kenyataan bahwa dulu mereka sedekat itu dan sekarang untuk saling menyapa pun canggung benar-benar mengusik batin. Sakura menghela napas. Ia menengadahkan ponsel yang baru saja bergetar sekilas tanda ada pesan masuk. Gadis itu pun teringat bahwa seseorang tengah menunggunya. Mengembangkan senyum di wajah, gadis Haruno itu pun kembali melangkah dengan antusias.

"Tumben kau datang duluan," tegur Sakura yang langsung mengambil tempat duduk di samping Kakashi. Pemuda itu menoleh sekilas sambil melempar senyum.

"Kau yang telat. Dari mana saja?" Kakashi balas bertanya.

Sakura menghela napas. "Ketemu mantan crush waktu masih jadi mahasiswa baru?"

Alis Kakashi mengernyit sekilas kemudian menggumam sambil menyentil pelan dahi Sakura. Sakura mengusap dahinya sambil misuh-misuh tidak jelas. Kakashi hanya tertawa kecil menanggapi.

"Jadi? Gagal move on?"

"Bukan, tapi cuma kepikiran."

"Gagal move on, dong," ledek Kakashi yang menjulurkan kepala. Sakura meringis. Ia mendorong Kakashi menjauh setelah memukulnya sekali. Pemuda itu mengaduh tapi juga terkekeh.

"Jangan mulai."

"Baiklah, baiklah," balas Kakashi sekenanya. Ia menarik satu gelas americano dingin dan menyerahkannya pada Sakura. Seperti perjanjian, mereka akan bertukar hal yang menjadi favorit di kantin kampus. Sedikit unik karena keduanya sama-sama kurang dengan kegemaran masing-masing. Sakura bukan penggemar kopi dan Kakashi adalah tipe orang yang hanya akan makan makanan manis jika tak ada pilihan lain.

Sakura sedikit meringis melihat cairan hitam melalui gelas plastik itu. Kakashi yang telah menikmati kopinya terlebih dahulu terkekeh pelan. Memandang Sakura dari samping seperti ini, apalagi dengan ekspresi ragu-ragu, Kakashi kira ini merupakan salah satu jackpot dalam hidupnya.

Sakura memberanikan diri untuk membenamkan sedotan itu di dalam bibirnya dan mulai menyedot cairan yang tak terlalu pekat itu. Satu kali sedot, ia langsung menarik keluar sedotan itu dengan ekspresi wajah kecut, menekuk ke pusat. Kakashi terkekeh pelan.

"Cobalah nikmati rasanya, jangan pikirkan pahitnya," sugestinya. Sakura menghela napas. Usai menelan cairan itu ia kembali mencoba sedikit demi sedikit. Meskipun gigitan pahit itu sedikit mengusiknya. Tertolong oleh es yang mengapung dalam gelas. Melihat Sakura mulai menikmatinya, Kakashi tersenyum simpul.

"Sudah kubilang, 'kan? Enak."

Sakura mendengkus geli. Ia meletakkan gelas kopi itu di sampingnya lantas mengangkat kotak berisi dua potong strawberry shortcake ke pangkuan. Ia membuka kotak dengan hati-hati. Satu kotak kue miliknya, satu lagi diserahkan pada Kakashi. Sakura dengan antusias memakan kue dan menikmati sensasi segar, manis dan lembut dari cream cheese serta sponge cake yang fluffy. Ia tersenyum lebar, seolah menemukan surga dunia. Melihat Kakashi yang masih ragu, gadis itu pun mengompori.

"Ayo makan, aku sudah, 'kan?"

"Ini baru mau," balas Kakashi.

Ia meneguk ludah sekilas dan memotong sebagian keik yang bisa muat dalam mulut. Ketika masuk ke dalam rongga mulut, rasa manis, sedikit asam segar dari buah stroberi serta tekstur sponge cake yang fluffy langsung pecah. Kakashi akui itu sedikit enak, tapi ia tidak akan sanggup makan kue ini sesering Sakura.

"Enak, 'kan?" tanya Sakura.

"Entahlah, rasanya aneh."

"Masa, sih?"

Kakashi sedikit meringis. "Mau coba versi rasaku?" tanyanya.

Otak Sakura sesaat bingung. Ia mengerjap beberapa kali. Dan dengan polosnya ia malah menjawab sehingga menimbulkan seringai kecil di bibir Kakashi.

"Caranya?"

Kakashi menyuapkan sepotong lagi ke dalam bibir, mengunyahnya lalu menelan. Kemudian, tengkuk Sakura ditarik, bibirnya dipertemukan dengan bibir gadis itu. Sakura terperanjat. Kaget, ia merasakan lidah Kakashi yang mengantarkan aftertaste dari strawberry shortcake yang baru saja dimakannya. Gadis itu terdiam membeku dengan mata membulat lebar.

Kakashi mendengkus geli. "Bagaimana?"

Sakura diam sesaat, mukanya merah dari telinga kanan ke telinga kiri. Ia memukul bahu Kakashi yang tertawa dengan kesal. Baru berhenti ketika Kakashi memohon-mohon. Sakura kembali duduk manis di tempatnya dan meminum americano-nya seolah bukan apa-apa. Saking malunya.

"Cieee yang mulai suka kopi."

"Diam!" rengek Sakura.

Kakashi kembali tertawa pelan. Tawanya mereda dan pandangannya beralih pada danau yang tenang di depan mereka. Kaki beralaskan sepatu menggantung, sesekali mengayun di tepi danau. Orang-orang mungkin lebih memilih mall, pusat arcade maupun tempat fantastis lainnya di ibukota untuk merayakan besok akhir pekan. Namun, bagi Kakashi dan Sakura, tempat yang tenang, damai dan tempat di mana mereka bisa bebas berekspresi jauh lebih baik untuk self healing setelah stres sepekan.

Sakura menghela napas.

"Kakashi, jadi asisten dosen itu sibuk, ya?" tanya Sakura.

"Kalau ada praktikum, ya, sibuk. Enaknya sih diberi fee."

"Besok sibuk tidak?"

Kakashi menoleh. "Kenapa? Mau jalan?"

Sakura tak menjawab. Ia memalingkan wajah ke samping karena Kakashi langsung menebak apa maksud tersiratnya. Lelaki itu terkekeh pelan.

"Ya, kalau mau, ayo. Tapi aku jangan diajak makan strawberry shortcake lagi."

"Ih, enak tau!"

"Enak untukmu, bukan untukku. Pulang sekarang, yuk. Sekalian temani cari buku referensi sebentar," ajak Kakashi.

Sakura yang awalnya mengerucutkan bibir kesal pun menghela napas. Ia mengangguk menyanggupi ajakan Kakashi. Lelaki itu berdiri dan menepuk debu dari celana. Sisa sampah dibuang ke tong sampah terdekat. Ia mengulurkan tangan pada Sakura, disambut oleh yang bersangkutan. Sambil bergandengan tangan, keduanya menyusuri jalan dari batu-batu yang diratakan.

"Kakashi, besok jadi jalan?"

Tangan Kakashi yang satu naik mengusap sekilas puncak kepala Sakura. "Iyalah, biar dikira pacaran."

Sakura memberenggut. "Kan memang pacaran?"

Kakashi hanya terkekeh menanggapinya. "Tanya saja sama teman-temanku. Mereka tidak percaya saking 'seringnya' ketemu pacar."

"Sibuk terus, sih," cibir Sakura.

Pemuda itu meringis. "Oke, oke, besok jalan."

Sakura tersenyum, semakin menempelkan diri pada Kakashi. Jemari mereka saling bertaut erat, sedikit berayun main-main dan mengundang kikik geli keduanya. Menuntun jalan pulang seiring matahari yang semakin terbenam.

Fin

a/n : hai, lama juga gak setor ff ke pair ini wkwkwk. Buat teteh dan my beloved sister a.k.a para selir hatake juga secara umum seluruh KAKASAKU STAN semoga suka, ya!

( _ _ ) v