Senin, Jam 5 subuh
Ikebukuro, Kediaman Yamada
Ichiro Yamada anak sulung dari Yamada bersaudara sudah terbangun dari pukul 4 pagi.
Mengerjakan segala pekerjaan rumah yang sudah menjadi kegiatannya sehari-hari.
"Cuci baju, sudah. Jembur baju, sudah. Membersihkan kamar, sudah. Nyapu, sudah. Ngepel, juga sudah. Tinggal masak sarapan dan menyiapkan bekal untuk Jiro dan Saburo."
Mengecek kembali pekerjaannya, Ichiro bergegas pergi ke arah dapur untuk memasak.
Dengan cekata dan penuh hati-hati, Ichiro membuat sarapan untuk dirinya dan kedua adiknya tercinta.
Tidak lupa juga menyiapkan bekal untuk dibawa ke sekolah.
Ichiro tidak perlu khawatir untuk membangunkan kedua adiknya, karena dia tau kalau sih bungsu Saburo biasanya sudah terbangun ketika dia mulai membuat sarapan untuk mereka, biasanya dia akan langsung ke bawah atau pergi ke kamar Jiro untuk membangunkan sih tengah.
Tapi, Ichiro bingung. Dia sudah selesai menyiapkan sarapan untuk mereka.
Bahkan bekal pun sudah siap.
Tapi, tidak ada tanda-tanda kedua adiknya akan turun.
Jam sudah menunjukkan pukul 05.47
Ichiro yang mulai dilanda kekhawatiran langsung pergi ke lantai dua untuk mengecek apakah kedua adiknya sudah bangun.
Melangkahkan kakinya menuju pintu yang terdapat papan bertuliskan "Idiot dilarang masuk". Ichiro langsung membuka pintu kamar adiknya tanpa mempedulikan tulisan yang ada di papan tersebut.
Sesuai dugaannya Saburo masih tertidur lelap di bawah selimut hangat miliknya.
Ichiro yang melihatnya hanya tersenyum, dan langsung menghampiri sih bungsu.
"Saburo, saburo. Ayo bangun, nanti kamu telat pergi ke sekolah" Ichiro menggoyangkan pundak adiknya sambil sesekali menepuk pipinya pelan.
"Nghh.. Sekarang jam berapa Ichi-nii?" Tanya sih bungsu sambil mengucek matanya dan berusaha mengambil posisi duduk.
Dengan muka yang masih mengantuk, Saburo menunggu jawaban sang kakak.
"Sekarang sudah pukul 06.49, kamu cepat siap-siap, abis itu kebawah untuk sarapan, kakak akan membangunkan Jiro." Jawab Ichiro setelah melihat jam di gawai miliknya.
Mendengar jawaban sang kakak, muka ngantuk Saburo langsung hilang dalam persekian dekit.
Dia dengan terburu-buru bangun dari posisi duduknya, menyambar handuk dan berlari ke arah kamar mandi.
Ichiro yang melihat gerakan reflek sang adik pun langsung memperingatinya untuk tidak lari-lari di dalam rumah, takut terjatuh.
Pas sekali ketika Ichiro selesai memperingatinya, langsung terdengar suara orang jatuh dan tidak lama kemudian terdengar suara bantingan pintu.
Ichiro hanya bisa menghela nafas.
Setelah memastikan kalau sih bungsu baik-baik saja, Ichiro membawa kakinya menuju kamar adik pertamanya, Jiro Yamada.
Sama seperti Saburo, Jiro juga memiliki papan yang digantung di pintunya. Ichiro hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tulisan di papan tersebut.
"Anak kecil dilarang masuk."
Itulah tulisan di papan milik Jiro.
Terkadang Ichiro heran sendiri dengan kelakuan kedua adiknya yang suka bertengkar setiap saat.
Ichiro juga terkadang lelah melerai kedua adiknya dan membiarkan mereka.
Tidak terlalu memikirkan papan yang digantung, Ichiro membuka pintu kamar milik Jiro dan melihat sang empu kamar masih terbuai mimpi.
Ichiro tanpa membuang waktu lagi pun langsung membangunkan Jiro. Takut sang adik terlambat berangkat ke sekolah.
Tapi, lebih takut lagi kalau nanti Jiro di tinggal sama Saburo.
"Jiro, Jiro. Ayo bangun, nanti kamu telat pergi ke sekolah." Dengan cara yang sama, Ichiro membangunkan Jiro seperti dia membangunkan Saburo.
Tapi, orang yang dibangunkan sama sekali tidak bergeming dari tidurnya. Malah masih terlelap di mimpinya.
Ichiro yang melihat kebiasaan Jiro yang susah bangun hanya bisa memaklumi nya, dia sudah terbiasa. Karena Jiro memang tipikal orang yang susah dibangunkan.
Ichiro jadi penasaran bagaimana cara Saburo membangunkan Jiro, karena Jiro akan langsung bangun ketika dibangunkan oleh Saburo.
Apa mungkin dia harus tanya cara Saburo membangunkan Jiro. Harap-harap saja cara yang dipakai oleh Saburo masih dalam standar wajar untuk membangunkan orang.
Setelah berusaha beberapa kali, tapi tidak membuai kan hasil. Ichiro akhirnya menyerah, niatnya pengen pergi ke kamar mandi untuk mengambil segayung air dan menyipratkanya ke muka Jiro tapi, Saburo masih mandi. Jadi dia buang idenya tersebut.
"Ichi-nii, baka Jiro masih belum bangun?."
Ichiro terkejut dengan kehadiran tiba-tiba Saburo.
"Ah! Belum. Dia tertidur nyenyak sekali."
Saburo yang sudah siap dan rapi dengan baju sekolahnya masuk ke kamar Jiro, langsung menggenggam selimut yang masih membungkus Jiro dan menariknya dengan kasar sampai Jiro terjatuh dari kasur dan langsung terbangun ditambah dengan teriakan sakit miliknya.
"Ittai! Apa yang kau lakukan Saburo?!"
Jiro langsung berdiri dari posisi jatuhnya dan berdiri di hadapan Saburo ditambah dengan muka kesal miliknya.
Saburo hanya menyeringai senang melihat reaksi Jiro.
"Kau benar-benar bodoh ya Jiro, tentu saja membangunkan mu. Apa lagi yang aku lakukan selain itu." Saburo menyilang kan tangannya di dada dan memandang remeh Jiro
"Ha?! Siapa yang kau panggil bodoh ha?!"
"Tentu saja kau baka Jiro. Apakah sekarang kau juga tuli sampai-sampai tidak bisa menangkap apa yang baru aku bilang 10 detik yang lalu."
"Sudah! Sudah! Jangan bertengkar pagi-pagi! Jiro kamu cepat mandi dan siap-siap, setelah itu kebawah untuk sarapan. Dan Saburo cepat kebawah dan makan sarapannya. Nanti kalian telat." Ichiro melerai pertengkaran mereka.
Bagaikan anak ayam, Jiro dan Saburo langsung melaksanakan perintah sang kakak.
Ichiro menghela nafas melihat kelakuan kedua adiknya.
Setiap saat selalu bertengkar walaupun masalahnya merupakan masalah sepele seperti tadi.
Tapi, mau bagaimanapun juga Ichiro menyayangi kedua adiknya dengan sepenuh hati. Lagi pula mereka berdua merupakan harta berharga yang dimiliki Ichiro di dunia ini.
Ichiro selalu mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya untuk menjaga dan menafkahi kedua adiknya.
Ichiro yang melihat kalau kamar Jiro begitu berantakan pun memutuskan untuk membersihkan kamar Jiro terlebih dahulu.
Ichiro memandang puas hasil kerjanya, sekarang kamar milik Jiro sudah terlihat lebih bersih dan tertata rapi dari pada sebelumnya.
"Nii-chan. Ah! Nii-chan membersihkan kamar Jiro. Harusnya Nii-chan tidak perlu melakukan itu, nanti juga Jiro bisa membersihkannya sendiri." Jiro masuk ke kamarnya hanya dengan handuk yang dililitkan di pinggangnya.
Ichiro yang mendengar perkataan adiknya hanya tersenyum dan mengelus kepala Jiro.
"Tidak apa-apa nii-chan memang ingin membersihkan kamarmu, sekarang pakailah baju dan bersiap-siap."
"Um!" Jiro bersemu merah mendapatkan elusan di kepalanya dari Ichiro.
Ichiro pun turun kebawah menyusul Saburo.
Sesampainya di lantai pertama, Ichiro melihat adiknya sudah duduk di meja makan menunggu dirinya dan Jiro.
"Saburo, kamu belum memakan sarapan mu dari tadi?" Tanya Ichiro dan duduk di depan Saburo
Saburo yang tadinya fokus memainkan tabletnya mengalihkan pandangan matanya dari tablet kesayangannya dan langsung fokus ke Ichiro.
"Ah! Aku menunggu Ichi-nii... Dan Jiro..."
Ichiro mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum mendengar dua kata terkahir dari adiknya. Walaupun hampir terdengar seperti bisikan Ichiro masih bisa menangkap apa yang adiknya sebutkan.
"Ichi-nii."
"Hm?"
"Emmm nanti setelah sekolah selesai aku tidak langsung pulang ke rumah." Saburo was-was dengan perkataannya.
Ichiro yang mendengarnya heran. Saburo bukan tipikal orang yang suka keluyuran setelah pulang sekolah, tidak seperti Jiro yang pasti akan menghabiskan waktu bersama teman-temannya terlebih dahulu baru pulang ke rumah.
"Hm? Kenapa? Ada sesuatu kah?"
"Emmm, Saburo mau ke rumah salah satu teman di kelas Saburo, ada kerja kelompok." Jelas Saburo
"Bohong dia nii-chan, Saburo gak mungkin pergi ke rumah temannya. Dia kan gak punya teman"
Jiro tiba-tiba datang tanpa suara dan mengagetkan kedua orang yang sudah menunggunya dari tadi.
Saburo yang tidak terima langsung membalas perkataan Jiro.
"Ha?! Apa maksudmu?! Tentu saja aku punya teman! Di tambah lagi, teman ku itu pintar. Tidak seperti teman mu yang sama idiot nya dengan mu." Kata Saburo tajam.
"HA! Jangan mengatakan teman-teman ku idiot!" Jiro menggebrak meja makan dan menatap tajam Saburo. Tidak terima teman-temannya dipanggil idiot.
"Heh! Pada dasarnya aku benar kan. Hanya orang idiot yang mau berteman dengan mu, baka Jiro."
"Ack! Katakan itu sekali lagi ku pukul kau!" Ancam Jiro
"Hah! Kau kira aku takut dengan ancaman kekanak-kanakan milik mu itu! Yang benar saja! Dalam mimpimu!"
"Kau ini! Saburo!"
"Heh! Coba sini kalau berani!"
Bletak! Bletak!
"Ittai! Nii-chan!/ichi-nii!."
"Kalian berdua hentikan! Sudah berapa kali aku mengatakan ini ke pada kalian! Sesama saudara tidak boleh bertengkar!."
"Gomen nii-chan/ichi-nii."
"Saburo. Tidak baik mengatai teman-teman Jiro idiot, itu tidak sopan! dan Jiro, jangan menggebrak meja makan, ini tempat untuk kita makan bukan untuk bertengkar! Mengerti?!"
"Ha'i."
"Sekarang cepat makan sarapan kalian kalau tidak kalian akan benar-benar telat." Perintah Ichiro
Dengan tergesa-gesa Saburo dan Jiro memakan sarapan buatan kakak tercinta mereka.
"Makannya pelan-pelan saja, jangan capat-cepat nanti kalian tersedak." Kata Ichiro mengisi dua gelas dengan air putih, takut-takut saja kalau perkataannya menjadi kenyataan. Seperti saat dia memperingatkan Saburo.
Setelah menghabiskan sarapan Jiro dan Saburo pun langsung berpamitan dengan Ichiro.
"Jiro! Saburo! Bekal kalian!." Panggil Ichiro sambil membawa dua bekal di kedua tangannya.
Jiro dan Saburo langsung mengambil bekal buatan Ichiro.
"Itte ki-masu!." Pamit mereka
"Itte rasshai!." Balas Ichiro
Sepeninggalan Jiro dan Saburo, Ichiro pun langsung membuka toko miliknya
Yoruzuya Yamada.
Sambil menunggu seseorang memerlukan jasanya Ichiro memutuskan untuk menonton prequel anime yang dia nonton semalam.
Hampir menyelesaikan dua episode Ichiro sudah mendapatkan sekitar 5 pekerjaan.
Rata-rata pekerjaan yang dia dapatkan normal-normal saja. Seperti, mencari barang yang hilang, membawa anjing jalan-jalan, memperbaiki atap rumah yang bocor, mengangkat barang-barang yang berat dan mengirimkan paket.
Tapi, untuk yang kelima membuat alis Ichiro berkedut-kedut tidak nyaman.
Bukan, bukan soal pekerjaannya. Ichiro sudah biasa mengirimkan paket untuk seseorang.
Yang membuatnya tidak nyaman adalah alamat paket yang dituju, Yokohama.
Ya tempat kekuasaan sih kuda putih yang tidak ingin dijumpai oleh Ichiro.
Ichiro tiba-tiba teringat dengan kenangan masa lalunya dengan Samatoki dulu, dimana mereka menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
Sekarang mereka malah membenci satu sama lain dan selalu bertengkar ketika melihat wajah masing-masing.
Ichiro jadi dibuat galau sendiri kan pagi-pagi begini.
Ichiro bingung ingin menerima pekerjaan yang kelima atau tidak mengingat kalau dia akan bertemu orang nomor satu yang tidak ingin ia jumpai selama ia berada di Jepang.
Setelah memikirkannya selama 30 menit Ichiro memutuskan untuk mengambil pekerjaan tersebut.
Ichiro pun bergegas menerima semua pekerjaan yang memerlukan jasanya. Setelah menyelesaikan pekerjaan ke-empatnya Ichiro langsung pergi ke Yokohama setelah menerima paket yang harus diantar olehnya.
"Kalau aku selesaikan pekerjaan ini dengan cepat aku tidak akan bertemu dengan kuda putih itu." Pikir Ichiro
Oh sungguh salah kau Ichiro. Belum sampai ke alamat rumah yang dituju.
Sekarang sudah berdiri orang yang dibilang-bilang oleh Ichiro.
"Panjang umur nih kuda. Sialan." Batin Ichiro
"Oi! Gaki! Sedang apa kau di Yokohama?!"
Ichiro tidak menghiraukan pertanyaan Samatoki, dia langsung berbalik badan dan melangkah pergi dengan paket ditangannya.
Perempatan imajiner muncul di kepala Samatoki ketika Ichiro tidak mempedulikannya dan pergi begitu saja.
Dangan langkah yang dihentak-hentakan Samatoki mengejar Ichiro dan langsung menarik lengan Ichiro.
"Oi! Kalau Ore-sama bertanya itu kau jawab bocah!"
Ichiro yang sudah tersulut emosi pun langsung ikut membentak Samatoki.
"Ha! Apa-apaan kau kuda putih! Lepaskan tanganku! Aku masih ada urusan! Aku malas bertengkar dengan mu!"
"Siapa kau panggil kuda putih ha?! Berani sekali kau mengubah nama Ore-sama seenak jidatmu!"
Dan dimulailah pertengkaran di antara mereka berdua. Paket yang Ichiro bawa terlupakan begitu saja. Kasihan sekali kau paket.
Setelah lumayan lama, ralat bukan lumayan tapi benar-benar lama mereka mencaci maki satu sama lain, akhirnya mereka berhenti.
Samatoki dan Ichiro mulai kehabisan nafas karena terus berteriak, dapat dilihat dari nafas mereka yang terengah-engah.
Samatoki yang melihat kalau Ichiro membawa sebuah paket yang dia tidak ketahui isinya pun, menanyakan paket tersebut dan untuk apa dia membawa paket itu ke Yokohama.
Tentu saja Ichiro juga tidak mengetahui isi paket yg harusnya dia antar dari tadi, tapi terhalang karena kemunculan seseorang yang tidak diinginkan.
Ichiro pun menjawab kalau ini paket yang harusnya dia antar dari tadi ke sebuah alamat di Yokohama
Mendengar kalau Ichiro ingin mengantarkan paket tersebut, Samatoki dengan sukarela menawarkan Ichiro tumpangan.
Ichiro yang mendengar tawaran Samatoki, menatap Samatoki dengan pandangan was-was.
Awalnya Ichiro menolak, karena tidak yakin dengan Samatoki yang tiba-tiba jadi adem-adem baik begitu.
Tapi, karena Samatoki memaksanya dan Ichiro yang sudah malas meladeni Samatoki akhirnya dia setuju-setuju saja.
Ditambah lagi dia sudah bisa dibilang telat mengantarkan paketnya. Bisa-bisa nama Yoruzuya Yamada nantinya jadi buruk di mata masyarakat, karena kelalaian Ichiro sendiri.
Mana mau dia hal itu sampai terjadi. Nanti bisa-bisa dia kehilangan pelanggan dan tidak bisa menafkahi kedua adiknya.
Dia bahkan sudah membayangkan kedua adiknya tidak bisa melanjutkan pendidikan mereka dan menjadi pengangguran, membayangkan hal tersebut membuat Ichiro merinding sendiri.
Ichiro langsung mengikuti Samatoki yang sudah berjalan ke arah mobilnya dan meninggalkan Ichiro di belakang.
Sejak kapan sih Samatoki bawa mobil?
Selama perjalanan pun tidak ada yang buka suara. Hanya terdengar suara AC yang dihidupkan mobil.
Ichiro yang tidak punya topik pembicaraan pun hanya menatap keluar jendela. Walaupun dia tidak menyukai suasana sunyi dan canggung diantara mereka berdua.
Tapi, dia mau bagaimana lagi. Masa iya dia bicara dengan kuda yang duduk disebelahnya, kurang kerjaan banget, nanti ending-endingnya malah jadi pertengkaran lagi.
Dari pada menghabiskan suaranya berteriak ke Samatoki lagi, lebih baik dia diam saja.
"Hey Ichiro."
Ichiro kaget bukan main, ini gak salah kan. Nih kuda kenapa tiba-tiba manggil namanya? Pakai nada kalem pulaan, bukan teriakan seperti biasanya.
"Oy! Kau tuli ya?!"
Ok tarik kata-kata Ichiro, nih kuda masih suka ngegas rupanya.
"Apaan?" Ichiro memasang wajah malas.
..
...
...
...
...
Ok, Fix. Ichiro dibuat geram sendiri dengan tingkah kuda yang duduk disebelahnya. Udah manggil duluan, ngegas iya, abis dijawab malah diam aja. Pengen Ichiro tampol pakai sendal kesayangannya.
"Kau itu kenapa sih kuda?! Manggil-manggil orang, abis itu ngegas! Pas dijawab malah diam! Kamu mau apaan?!." Tanya Ichiro tanpa basa-basi lagi.
Samatoki memandang sekilas Ichiro setelah itu kembali fokus mengemudi.
"Gak ada. Cuman pengen manggil aja." Jawab Samatoki santai.
Ichiro menatap tidak percaya ke arah Samatoki, nih kuda beneran ngajak gelud. Untung mereka ada di dalam mobil dan Samatoki masih mengemudi, kalau tidak udah Ichiro tampol nih kuda.
"Kamu ngajak berantem Samatoki! Ngeselin banget jawaban kamu!" Kesabaran Ichiro diujung tanduk.
Samatoki tiba-tiba memarkirkan mobil miliknya ditepi jalan.
"Ini kenapa pula?." Pikir Ichiro.
"Woy! Ngapa berhenti di sini?, alamatnya masih jauh kuda!" Ichiro melihat keluar jendela untuk memastikan mereka ada dimana.
Samatoki dengan capat melepas sabuk pengaman miliknya dan mendekat ke arah Ichiro.
Ichiro yang melihat tindakan tiba-tiba Samatoki dari pantulan kaca jendela langsung memandang Samatoki dengan muka menuntut penjelasan.
"Kamu... Gak rindu sama aku?."
What?! Demi kolor dadu milik Dice. Ini sih Samatoki kesambet apaan coba? Astaga, Ichiro dibuat tidak bergeming oleh pertanyaanya.
"H-ha?! A-apa-apaan dengan pertanyaan tiba-tiba mu kuda?! Najis banget! Ngapain aku rindu coba!"
"Ichiro. Muka mu merah." Kata Samatoki terlalu santai.
Mendengar perkataan yang keluar dari mulut Samatoki, Ichiro merasakan mukanya memanas seketika.
"J-jauh-jauh! Dari ku dasar kuda! Aku gak rindu! Ja-jangan kepedean deh jadi orang!." Ichiro mengalihkan perhatiannya ke arah jendela depan mobil. Berusaha untuk menetralkan detak jantungnya.
"Bohongnya kelihatan banget."
Muka Ichiro tambah merah dan memepetkan badannya ke pintu mobil berusaha menjauhkan wajahnya dari wajah Samatoki.
"Ne, Ichiro." Panggil Samatoki sambil mengambil tangan kanan Ichiro yang sibuk memeluk paket dan menggenggamnya.
Ichiro yang tangannya digenggam oleh Samatoki membuat jantungnya makin berdetak tidak karuan.
"Hey, tatap aku." Samatoki mendekatkan wajahnya.
"Sa-samatoki, k-kau terlalu dekat." Kata Ichiro yang terdengar seperti bisikan.
"Hmmm."
Tanpa peringatan Samatoki mencium daun telinga Ichiro dan menggigitnya pelan.
"Ngh!."
Dengan reflek Ichiro langsung menutup mulutnya. Setelah menyadari suara laknat yang dia buat dan menatap Samatoki yang menyeringai di depannya.
"Hee, Masih sama rupanya. Telinga mu masih sensitif saja." Samatoki kembali menggigit kecil daun telinga Ichiro.
Muka Ichiro tambah merah dibuat olehnya.
"Sa-samatoki, He-hentikan."
"Kalau aku tidak mau? Kau bisa apa bocah?" Bisik Samatoki di telinga Ichiro.
Tangannya yang masih menggenggam tangan kanan Ichiro mulai menautkan jari-jarinya dengan jari milik Ichiro.
Ichiro dibuat lemas seketika dengan kata-kata dan gerakan tangan milik Samatoki.
"Ichiro..."
Ichiro memandang sayu ke arah Samatoki, menatap mata tajam ruby milik pemuda yang dari tadi menggodanya.
"Kembalilah menjadi milikku."
Oh Tuhan! lama-lama Ichiro bisa luluh kalau bigini caranya!.
Ichiro tidak sempat menjawab ketika merasakan benda kenyal menempel di bibir miliknya, tidak bisa diragukan lagi kalau itu adalah bibir milik Samatoki yang dengan seenak jidatnya menyium Ichiro.
Paket yang berada di pangkuan Ichiro terlupakan begitu saja untuk kedua kalinya, kedua orang tersebut malah asik bercumbu mesra di dalam mobil Samatoki.
Samatoki yang pertama kali menyudahi ciuman diantara mereka.
Memandang wajah Ichiro yang memerah dan matanya yang terbuka setengah, Samatoki menelan air liurnya bulat-bulat melihat pemandangan yang mengundang dirinya untuk segera memakan pemuda yang berada di depannya ini.
Menyentuh pipi Ichiro dengan tangan kanannya yang bebas dan mengelusnya Samatoki kembali mendekatkan wajahnya untuk menyatukan bibir mereka kambali, kali ini ciuman mereka lebih panas.
Ichiro tidak melawan, lebih tepatnya tidak bisa. Tenaganya sudah habis, Samatoki sangat lihai dalam hal menundukkan seseorang. Ichiro dibuat tidak berdaya olehnya.
Pangutan bibir mereka kembali terlepas. Ichiro memandang sayu ke arah Samatoki.
"Sa-samatoki. Haa.. sudah cukup, pa-paketnya.. Harus diantar." Ichiro menutup bibirnya dengan tangan kirinya agar Samatoki tidak bisa menciumnya kembali.
"Biarkan saja paketnya, tidak usah kau urus. Sekarang kau hanya boleh fokus ke arah ku saja." Samatoki menggenggam tangan kiri Ichiro dan menurunkannya
"Ta-tapi, nanti pelangganku-"
Samatoki meletakan jari telunjuknya di bibir Ichiro.
"Sshhh..." Samatoki mengelus bibir Ichiro dengan ibu jarinya.
Gawat! Ini benar-benar gawat! Ichiro seharusnya benar-benar menolak tawaran Samatoki tadi, dia seharusnya tau kalau menerima tawaran milik Samatoki pasti ada resikonya.
Ichiro harus memikirkan solusi agar dia bisa kabur dari Samatoki dan segera mengantarkan paket milik pelanggannya.
Ichiro yang terbuai dengan pemikiranya dikagetkan dengan Samatoki yang tiba-tiba saja mengecup lehernya yang dari tadi terpampang jelas.
"Sa-samatoki tunggu!."
Samatoki tidak mendengarkannya dan kembali melanjutkan kegiatannya meninggalkan kissmark di leher mulus milik Ichiro.
"A-ah! Samatoki! Tung- eng!." Ichiro menahan desahannya dengan menutup mulutnya menggunakan tangan kirinya mengingat kalau tangan kanannya masih digenggaman oleh Samatoki.
"Kenapa ditahan Ichiro? Keluarkan. Aku ingin mendengar desahan mu."
Warui! Warui! Warui! Kore wa hontōni waruidesu!.
Setelah selesai memberikan Kissmark di leher milik Ichiro, Samatoki menjauhkan wajahnya dan memandang hasil kerjanya. Betapa puas dirinya melihat pemandangan didepannya.
Ichiro yang sudah terengah-engah dengan perbuatannya, mata sayunya yang memandang Samatoki untuk berhenti, rambutnya yang mulai basah karena keringat dan resleting hoddienya yang entah kapan sudah turun sepenuhnya menampilkan belahan dada Ichiro yang mulus. Samatoki menjilat bibirnya menikmati hasil perbuatannya kepada Ichiro.
"Sa-samatoki. Cukup" Ichiro menggenggam hoddienya agar belahan dadanya tidak kelihatan.
Samatoki memandang tidak suka tangan Ichiro yang bertindak diluar kemauannya. Dia langsung memegang tangan Ichiro agar terlepas dari hoddienya.
"Jangan ditutup Ichiro, aku tidak bisa melihat belahan dada mu itu, apa sebaiknya Ore-sama meninggalkan kissmark juga disana. Hmm, bagaimana menurutmu Ichiro?".
Tanpa menunggu persetujuan Ichiro, Samatoki langsung mendekatkan wajahnya ke arah dada Ichiro.
Ichiro yang melihat hal tersebut mulai panik. Dengan sekuat tenaga dia mendorong pundak Samatoki, hingga Samatoki kembali duduk di kursi nya dan kepala Samatoki sedikit terhantuk dengan jendela mobil.
Ichiro mengambil kesempatan ini untuk kabur. Dengan tergesa-gesa Ichiro memperbaiki hoddienya, mengambil paketnya, keluar dari mobil dan berelari sejauh mungkin dari tempat itu.
Samatoki yang baru sadar dari pusingnya akibat terhantuk dengan kaca mobil pun, hanya memandang punggung Ichiro yang semakin jauh dari mobilnya.
Dia bisa saja mengejar Ichiro mengingat kalau Ichiro hanya berlari dan dia mengemudikan mobil. Tapi dia membiarkan Ichiro kabur untuk kali ini.
Puas dengan apa yang dia lakukan, Samatoki pun menyalakan mobilnya kembali dan mengarahkan mobilnya menuju apartement miliknya.
Disisi lain Ichiro sudah menghentikan lariannya ketika matanya sudah tidak menangkap keberadaan mobil milik Samatoki.
Dia benar-benar tidak habis pikir dengan perbuatan Samatoki kepada dirinya.
Apa-apaan tadi itu! Astaga Ichiro! Harusnya kau tidak usah mengambil pekerjaan ini dari awal! Sekarang kau malah jadi mangsa kuda liar tidak tau akhlak kan!.
Kalau saja ini bukan tempat umum Ichiro sudah teriak-teriak menumpahkan kekesalannya dan menghentakkan kepalanya ke arah dinding beton di depannya sekarang. Tapi, dia masih tau malu. Jadi, dia tidak melakukannya.
"Haaa sudahlah. Lebih baik aku mengantarkan paket ini sekarang."
Sementara di sekolah Jiro dan Saburo entah kenapa merasa ada yang tidak benar. Mereka tiba-tiba khawatir dengan keadaan kakak tercinta mereka.
"Semoga nii-chan/ichi-nii baik-baik saja."
.
.
.
.
.
Ichiro merebahkan badannya ke sofa, merenungkan harinya yang entah kenapa diluar dugaannya.
Dia tiba-tiba teringat dengan Samatoki yang menciumnya, Ichiro reflex langsung terduduk di sofa dan menepuk pipinya dengan kedua tangannya.
"Kenapa jadi ingat kejadian tadi sih?! Aduh! Memalukan!." Ichiro kembali merebahkan badannya di sofa.
Setelah beberapa saat berada di posisi tersebut, Ichiro memutuskan untuk membilas badannya dengan air shower segar berharap kepalanya kembali jernih ketika sudah disiram dengan air dingin.
Selesai mandi Ichiro langsung membuat makan malam mengingat jam sudah menunjukkan pukul 18:37 dan adik-adiknya belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang.
Pas sekali setelah selesai menyiapkan makan malam Jiro dan Saburo membuka pintu depan.
"Tadaima nii-chan/Ichi-nii."
"Okaeri Jiro, Saburo."
"Nii-chan/Ichi-nii." Jiro dan Saburo memandang serius Ichiro.
"Kenapa?." Tanya Ichiro bingung dengan wajah kedua adiknya yang memandangnya dengan muka serius.
"Nii-chan/Ichi-nii tidak apa-apa kan?." Tanya mereka To The Point.
"Nii-chan baik-baik saja kok. Kenapa kalian bertanya?."
"Aku merasakan ada suatu hal yang terjadi dengan nii-chan tadi siang." Kata Jiro disertai dengan anggukan kepala Saburo.
Ichiro jadi was-was sendiri ketika mendengar jawaban sang adik. Kenapa kalau soal beginian adiknya kompak banget dah, kan Ichiro susah untuk buat alasan. Ditambah pula dia tidak tega berbohong ke pada mereka.
Ichiro jadi teringat kembali dengan perbuatan Samatoki kepadanya tadi siang.
"Sialan. Keinget lagi kan."
"Nii-chan baik-baik saja kok. Gak terjadi apa-apa sama nii-chan. Sekarang kalian cepat mandi dan setelah itu turun kebawah, makan malam udah siap." Ichiro mendorong tubuh kedua adiknya ke arah tangga.
Jiro dan Saburo yang awalnya ingin protes mengurungkan niat mereka ketika melihat senyum menawan milik sang kakak.
"Nanti saja deh tanya-tanya lagi, untuk sekarang senang kan hati nii-chan/ichi-nii terlebih dahulu."
Jiro dan Saburo pun langsung naik ke atas untuk mandi.
Ichiro bernafas lega berhasil menghasut kedua adiknya.
"semoga saja mereka tidak melihat tanda merah di leherku ini. Samatoki sialan, bisa-biasanya dia membuat tanda. Kan susah buat nutupin nya."
Ichiro pergi ke arah meja makan dan mendudukkan dirinya di kursi sambil menunggu Jiro dan Saburo.
Sambil menunggu Ichiro memikirkan motif dari perbuatan Samatoki, ya walaupun udah terang-terangan benget sih tujuan sih kuda itu. Tapi, Ichiro menolak untuk percaya. Masa sih kuda udah kagak benci ama dia, dia aja masih ada perasaan tidak suka ketika melihat Samatoki. Apa jangan-jangan dia kerasukan kali ya. Tapi, mana ada setan ngerasukin setan lain, gak masuk akal banget dah.
Ah sudahlah! Memikirkan hal tersebut membuat kepalanya pusing.
Tidak lama kemudian Jiro dan Saburo turun secara bersamaan. Mereka langsung mengambil tempat duduk mereka masing-masing.
"Selamat makan!." Ucap mereka bertiga bersamaan.
Suasana makan malam mereka sama seperti biasanya. Dipenuhi dengan canda tawa dan terkadang ada saja perdebatan antar Jiro dan Saburo tapi, selalu bisa ditengahi oleh Ichiro.
Tapi, secara mengejutkan Saburo bertanya prihal tanda merah di leher Ichiro dan hampir saja membuat Ichiro tersedak dengan tempura yang dimakan olehnya.
Jiro yang mendengar pertanyaan adiknya pun ikut melihat ke arah leher Ichiro dan benar saja ada tanda merah seperti habis digigit sesuatu.
"Oh! Ini, hahaha! Hanya digigit nyamuk kok Saburo. Bukan apa-apa, kalian tidak perlu khawatir." Jawab Ichiro canggung dan tersenyum ke arah kedua adiknya
Saburo awalnya curiga tapi dia percaya-percaya saja dengan Ichiro.
Ichiro bernafas lega karena Saburo mempercayai kebohongannya. Ichiro merasa bersalah kan jadinya.
Jiro yang dari sananya memang bodoh, ya dia langsung percaya saja dengan alasan Ichiro.
Setelah makan malam selesai Saburo pamit pergi ke kamar untuk belajar. Sementara Jiro memutuskan untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya. We tumben rajin dia.
Ichiro pun langsung mencuci peralatan makan mereka dan setelah selesai dia pergi ke arah kamarnya dan merebahkan dirinya di sana.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.32 disaat dia ingin tidur. Tapi, sepertinya Tuhan tidak mengizinkannya untuk tidur dengan nyenyak malam ini, karena Ichiro tiba-tiba teringat dengan Samatoki yang malah membuatnya jadi susah tidur karena kembali mengingat kejadian tadi siang.
Ending-endingnya Ichiro tertidur pukul dua belas malam. Harap-harap saja dia tidak bangun telah besok paginya.
.
.
.
.
.
Yokohama, Camp Rio
Jam 00:04
"Hei Samatoki! Kau kesambet apaan? Dari tadi kau senyum-senyum sendiri!." Jyuto bingung dengan tingkah laku Samatoki.
"Shoukan juga penasaran apa yang membuatmu bahagia Samatoki."
Samatoki menyeringai mendengar perkataan kedua rekannya.
"Bukan apa-apa, aku hanya puas dengan hasil kerjaku tadi siang." Dia memandang kedua rekannya.
"Pekerjaan? Bukannya kau sedang mengambil libur Samatoki?"
"Memang, tapi aku menemukan hal yang menarik. Jadi langsung aku sambat saja."
Bagaikan tersengat aliran listrik Jyuto langsung paham dengan apa yang dimaksud oleh Yakuza satu ini.
"Heh! Dasar bejat kau Samatoki. Apa yang kau lakukan padanya?."
"Hm? Shoukan tidak mengerti apa yang sedang kalian bicarakan." Rio memandang bingung.
"Polos banget." Samatoki dan Jyuto sepemikiran.
"Aku hanya menciumnya tidak lebih." Kata Samatoki berbohong.
"Mengingat itu dirimu, aku sama sekali tidak percaya dengan perkataan mu. Apa lagi yang kau lakukan selain itu? Meninggalkan kissmark di lehernya?." Tebak Jyuto kelewatan benar.
Samatoki membentuk gerakan menembak dan mengedipkan sebelah matanya.
"Pintar juga kau polisi korup."
"Heh! Tentu saja, dan jangan mengedipkan matamu padaku!. Itu menjijikan sialan!." Jyuto membenarkan kacamata yang sama sekali tidak merosok.
"Sialan kau!." Balas Samatoki
Rio langsung paham kemana arah pembicaraan kedua rekannya.
"Samatoki, bukannya kau membenci Yamada sulung. Kenapa tiba-tiba melakukan hal seperti itu kepadanya?."
"Hm? Kenapa kau tanya. Aku hanya ingin bermain-main dengannya saja, penasaran wajah seperti apa yang akan dia buat."
"Memang bejat kau Samatoki."
"Heh! Ngaca kelinci! Kau sama bejatnya dengan diriku! Kau kira aku tidak tau kau mengincar sih tengah!." Mata Jyuto membesar menandakan kalau dia kaget.
"Darimana kau-."
"Hanya menebak." Jawab Samatoki santai.
"Haa terserah."
Rio hanya diam saja mendengarkan pembicaraan kedua rekannya mengenai Yamada bersaudara. Dia jadi penasaran sih bungsu sedang apa sekarang.
"Sepertinya dia sudah tidur." Bisik Rio
Samatoki dan Jyuto saling pandang dan penasaran siapa yang dimaksud dengan sang mantan tentara. Tapi, mereka memilih untuk diam saja.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Ya! Ya! Ya!
Ok, emm author gak tau mau bilang apa. XD
Emm.. Makasih sudah membaca chapter pertama dari cerita ini moga-moga kalian suka ya. Dan untuk bagian SamaIchi nya maaf kalau kurang memuaskan. Ini pertama kalinya author menulis adegan seperti itu jadi masih terkesan agak kaku.
Jadi, emm sampai jumpa di chapter berikutnya! Semoga hari kalian menyenangkan! Bye bye!
Oh! Satu lagi hampir lupa maap ya kalau ada typo hehehe!
