Disclaimer: all characters belong to Masashi Kishimoto. i just couldn't save you tonight (c) arditho pramono. but this story purely mine. i don't take any material profit from this work. it's just because i love it.
Warning: au; miss-typos, kinda rush, past-present timeline, and other stuffs.
Note: i know it's not my best comeback's fic after almost 8 months leaving this fandom ;; but u know, some things never change (: and i'm still hope u like it! stay safe and stay happy, everyone!
.: i just couldn't save you tonight :.
[ maybe, you wanna be a star? or maybe, you wanna be in love? ]
.
.
00; present
Haruno Sakura yang Sasuke kenal adalah gadis cantik berambut panjang nan eksentrik. Di masa-masa remajanya, Sakura tak pernah mau memotong rambut panjangnya itu. Katanya, pipiku terlihat semakin bulat kalau rambutku pendek! Tapi Sasuke tak percaya karena sudah dalam kurun waktu yang agak lama dulu, ia pernah membaca buku harian Sakura, melingkarkan poin-poin di secarik halaman rahasia yang tertulis; Sasuke suka cewek berambut panjang.
Sakura punya kesulitan khusus ketika mengontrol emosi. Semua orang akan tahu bahwa gadis itu menyukai Sasuke, terlalu jelas. Pun dirinya sendiri tahu. Tapi Sakura punya jutaan denial yang ia uar dari pengecapnya, meski hari-hari yang mereka habiskan semakin membuktikan perasaan gadis itu, meski malam-malam yang Sakura curi dari kamar Sasuke membuat dirinya kesal dan merepotkan, meski suatu malam Sasuke tajam menatap emerald Sakura dan mencari-cari apa yang bisa ia temukan pada pusatnya; Sakura masih tak mengatakannya, dan meski di malam prom, Sakura menarik Sasuke ke belakang panggung, dengan wajah memerah dan riasan terlampau terang, mendekatkan wajah sebelum Sasuke mampu bereaksi; "Nah, kau harus menjadikanku gadis pertama yang kau cium," dan mencuri ciuman pertamanya.
Sakura adalah terangnya musim semi. Seperti tenang dan meledak-ledak di waktu yang bersamaan. Aroma petrikor dan gersang yang disatukan. Malam dan siang. Hitam dan putih. Tak pernah statis dan berada dalam satu linear.
Tapi, ketika kembali melihatnya setelah sepuluh tahun yang menyakitkan, yang Sasuke lihat hanyalah musim semi yang tenang. Yang merah mudanya hampir habis dan siap untuk menggugurkan daunnya. Yang terlampau cerdas mengatur emosi pada gurat-gurat wajahnya; tersenyum seperlunya, menatap sebutuhnya. Tubuhnya semampai dalam balutan jas putih dokter juga pantofel berhak yang terlampau tinggi (ia ke manakan sneakers favoritnya?), dan rambutnya, rambutnya adalah yang paling membuat sudut pandang Sasuke berdiferensiasi.
Rambutnya terurai tak lebih dari batas bahu. Hanya mampu menutupi tengkuk dan sisi lehernya. Rahangnya terlihat halus dan tegas di saat yang bersamaan, dan pipinya, pipinya setirus wanita-wanita yang sekilas Sasuke lihat dalam beauty pageant. Tak ada tembam yang dulu Sakura takutkan, tak ada rona yang dulu ia diam-diam perhatikan.
.
.
"Memangnya kau pikir aku akan menahanmu?"
"Kau memang tak perlu menahanku."
"Pergi saja."
"Pergi saja, Sasuke. Pergi dan jangan coba untuk kembali. Pergi dan biarkan aku membencimu."
"Tak ada yang memintamu sejauh ini denganku."
"Pergi saja."
"Jatuh cintalah dengan pria lain."
"Pergi."
"You deserve better than me."
.
.
Yang tak berubah hanya satu—mata Sakura masih secantik yang Sasuke ingat.
.
01; past
"Kau pernah memikirkan masa depan, Sasuke?"
Sakura berputar di balik selimut Sasuke. Menatap Sasuke dari balik punggungnya, mencari tahu apakah kali ini ia berhasil mencuri perhatiannya.
"Tidak."
Sakura tertawa kecil, beranjak dari tempat tidur Sasuke yang terlampau familier dan mengintip dari balik bahunya. Mesin pencarian, media sosial, kumpulan nomor kontak acak, sometimes, website kepolisian—dan satu lembar foto yang tak pernah Sasuke tinggalkan.
"Belum juga?" Sakura memeluk Sasuke dari belakang, berbisik kecil. "Mau sampai kapan, Sasuke?"
"Sampai aku menemukannya."
.
02; present
Sasuke tak sempat mengambil langkah ketika akhirnya mata mereka bertemu. Emerald yang sama, rasa yang berbeda. Cara tatap yang berbeda. Sasuke terlalu abai untuk sekadar bereaksi pada tatap-tatap yang orang berikan padanya, namun kali ini, kepalanya pening dan berpikir, reaksi apa yang harus ia lakukan?
"Nah, Sakura-chan, ini dia pasienku."
Ketika Kakashi membuka suara, Sakura memalingkan tatap. Kemudian, Sasuke melihat senyumnya, senyum paling dingin yang pernah Sakura tunjukkan kepada dunianya.
"Haruno. Haruno Sakura."
Satu jabatan. Hati retak yang kemudian kembali hancur.
"Uchiha. Uchiha Sasuke."
.
03; past
Sepanjang yang Sakura ingat, Sasuke yang ia kenal adalah seorang monoekspresif yang tak lagi mau tahu akan indahnya dunia. Hidup menghukumnya terlalu muda, dan sisanya adalah rasa sakit dan dendam-dendam yang infiniti. Tiga tahun lalu, Fugaku dan Mikoto ditemukan tak bernyawa dalam suatu perjalanan bisnis. Kecelakaan. Tunggal. Dan pengemudinya adalah Itachi. Uchiha Itachi, kakaknya. Yang kemudian membuat perasaan Sasuke ikut mati adalah ketika mayat ayah dan ibunya sampai, namun Itachi ada di sana, dan bertahan. Hidup. Meski dalam batas luka dan sakit yang tidak sedikit. Meski ia juga punya duka yang seluas Sasuke.
Namun Sasuke adalah Sasuke. Bungsu yang tak pernah siap kedatangan mayat kedua orangtuanya di depan mata. Maka bagi Sasuke, Itachi adalah pembunuh. Tak ada lagi aniki, tak ada lagi ikatan. Jika Sasuke harus melihat orangtuanya mati, maka Itachi juga harus mati. Dan tak ada yang mampu mengacaukan kepala Sasuke akan status Itachi dalam hidupnya.
Kehidupan Sasuke setelahnya penuh dengan medikasi dan terapi. Dan Sakura ada di sana. Ia selalu di sana. Meski Sasuke jarang menoleh, meski Sasuke tak terlalu peduli, tapi, ia hanya ingin ada di sana.
Hingga suatu hari, di tahun kedua sekolah menengah mereka.
"Sakura,"
Sakura merasakan Sasuke menyentuh jemarinya. Jemari Sasuke selalu terasa dingin, namun malam itu, ada hangat yang menyambanginya.
"Terima kasih."
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Sakura jatuh cinta.
.
04; present
Ada sesuatu yang hilang pada diri Sakura.
Dan Sasuke tak berani menebak-nebak racauan argumennya.
Ketika akhirnya Kakashi mengajak mereka makan siang bersama, Sasuke tak punya kesempatan untuk menolak. Sejak dulu, Sasuke tahu Sakura akan memilih bidang medis sebagai masa depannya. Perempuan itu meracau tentang, "Aku ingin menjadi dokter, Sasuke" ketika Sasuke hanya berpikir bagaimana cara membuat hidup Itachi semakin menyakitkan. Awalnya Sasuke tak mau tahu, namun, pada akhirnya, ada masa di mana ia menyerah dan berhenti sebentar. Dan yang tersisa adalah semua tentang Sakura yang tanpa sadar telah ia simpan rapat-rapat di dalam kepalanya; bagaimana perempuan itu menemukannya, bagaimana perempuan itu menjadi sahabatnya, bagaimana perempuan itu menemaninya, bagaimana perempuan itu jatuh cinta padanya, bagaimana perempuan itu selalu tersenyum dan Sasuke tak punya banyak balasan pada setiap senyum tulusnya. Bagaimana kemudian Sakura menemani malam-malamnya setelah hari kelulusan, bagaimana Sakura mengajarkannya tentang mimpi, bagaimana Sakura memercayakan seluruh dirinya pada Sasuke, untuk kemudian ia hancurkan, bagaimana pada akhirnya Sakura menyerah.
Yang tak pernah Sasuke tahu, mungkin adalah alasan mengapa Sakura memilih spesialis ini. Psikiater. Satu-satunya yang Sasuke butuhkan di waktu-waktu ke belakang kehidupannya. Satu-satunya yang akan terus bersinggungan dengan kebutuhannya. Satu-satunya yang tak akan bisa Sasuke hindari.
Tapi, mungkin, hidup adalah kotak pandora yang selalu memberi kejutan—baik atau buruk. Dan sekarang, setelah sepuluh tahun, Sasuke diharuskan memulai menata pecahan hatinya lagi.
Ketika jam makan siang sudah hampir habis, Kakashi mendapat telepon dan membuat pria itu kemudian pamit bergegas kembali pada rumah sakit, menyisakan kemudian ia dan Sakura yang terduduk berhadapan, dengan piring-piring yang tak sedikit pun mendekati kosong.
Udara menguap. Sasuke mencuri satu tatap.
"Apa kabar—Sakura?"
Sakura, dalam satu tindak-tanduk, terlampau kaku dan diatur, bersamaan dengan satu senyumnya yang formalitas, menatap kepada Sasuke. Ia angkat sedikit dagunya, menjawab dalam manner yang terlalu bukan Sakura.
"Aku baik, dan maaf, Sasuke, aku juga ada jadwal dengan pasien lima belas menit lagi." Ia berdiri, meneruskan kembali ucapnya dalam langkah-langkah. "Oh ya, it's nice to see you again."
Tanpa menoleh sama sekali.
Di dalam kepala Sasuke, ujaran terakhirnya terdengar, "Aku tak pernah mengharapkanmu kembali."
.
05; past
Dulu, bagi Sakura, dua puluh tahun adalah usia yang cukup untuk mengecap level lain dari sebuah kedewasaan. Hampir tiga tahun menjalani hidup sebagai mahasiswa, dan ada banyak perubahan-perubahan yang ia rasakan.
Kecuali satu, perasaannya pada Sasuke.
Malam yang mereka lalui mungkin tak memiliki banyak perubahan. Di waktu-waktu ini, Sakura lebih banyak menyambangi kamar Sasuke, menginvasi selimutnya, menghirup dalam-dalam aromanya. Ada suatu waktu di mana ia akan nekat dan takut-takut menarik Sasuke, untuk kemudian ia kecup bibirnya. Sebentar—sesekali, begitu lama. Sasuke tak membalas, namun ia tak menolak, dan bagi Sakura, itu sudah cukup.
Di malam lainnya, Sasuke ada di sebelahnya menatap matanya dan tidak berkata apa-apa. Beberapa kali Sasuke mencium lebih dulu, dan lebih lama. Kemudian ia memeluk Sakura dan tertidur. Di kali lain ia hanya menatap, membawa Sakura jatuh pada kelamnya hitam di mata Sasuke.
Dulu, bagi Sakura, cinta adalah adjektif abstrak yang hanya bisa dirasakan. Ia tak dapat mendeskripsikannya, namun merasakan presensi Sasuke di dekatnya, begitu saja sudah cukup. Dan tak perlu apa-apa lagi. Meski Sasuke dingin dan kosong, meski Sasuke tak menjanjikan apa pun, meski Sasuke, mungkin, tak pernah punya cinta yang sebesar miliknya (sebab merasakan cinta lagi pun sepertinya tidak bisa, sudah tidak).
Namun, dari malam-malam kasual Sakura yang statis, ada satu malam yang berbeda. Malam ketika Sasuke memeluknya lebih erat dan menciumnya lebih dalam.
"Sasuke," Segalanya dimulai dari satu kalimat ini. "Kau tahu ... Naruto? Teman satu jurusanku."
"Hn?"
Sakura, mengujar lambat. "Naruto menyatakan cinta padaku."
Ketika itu, Sasuke hanya menatap, kemudian menyentuh helai rambut Sakura. "Kenapa?"
"Uh?" Sakura membalas.
"Kenapa mengatakannya padaku?"
Sentuhan Sasuke berhenti di kening Sakura, ia mainkan jarinya di sana, dan tak pernah ia tinggalkan tatap-tatap Sakura.
"Karena, Sasuke—" Tapi akhirnya, Sakura tak pernah punya kesempatan waktu untuk menjawab. Karena kemudian, Sasuke meretas jaraknya, mencium bibir Sakura, dalam dan panjang. Tak ingin berhenti.
Dan tak hanya sampai di situ.
.
06; present
Kunjungan kedua Sasuke bertemu dokter Hatake Kakashi adalah sore yang hampir larut. Saat ini, Sasuke bukanlah pasien yang tak bisa mengendalikan diri, sepuluh tahun mengajarkannya akan self control, dan kini, meski ia tak bisa sepenuhnya menanam apologia pada Itachi, tapi setidaknya kini ia tahu bahwa rasa ingin membunuh yang ia telusupkan pada anikinya itu bukanlah hal yang tepat.
Sasuke mengerti, dirinya sepuluh tahun yang lalu tak ubahnya seperti penjahat naif yang tak punya hati. Ada banyak hal yang ia sia-siakan, ada banyak orang yang ia sepelekan, ada banyak waktu yang ia lewatkan. Ia tak berharap apa pun, ketika akhirnya ia memutuskan kembali, dan memulai lagi langkah di mana dulu dirinya menapak; mungkin 'pulang' bukanlah hal yang semenakutkan dulu.
Mungkin ia masih bisa menemukan rumahnya di sini.
Tapi, secepat itulah, kemudian Sasuke kembali melihatnya.
Haruno Sakura keluar dari ruangannya, membawa tas dengan jas dokternya yang sudah dilepas. Tubuh semampai itu kini hanya berbalut jeans gelap dan hoodie oversize—terlalu besar dan sangat bukan Sakura. Namun ketika satu entitas lagi muncul dari balik pintu ruangannya, dengan senyum secerah matahari dan raut wajah yang terlampau familier, pada akhirnya Sasuke mengerti, ada potongan puzzle yang kemudian terangkai, membentuk lagi satu gagasan yang sudah sejak lama, lama sekali Sasuke lupakan kemungkinannya.
Mereka membelakangi Sasuke, namun Sasuke tahu ada senyum-senyum yang terpatri, tangan-tangan bertaut, dan cium-cium yang dicuri sepanjang koridor. Mereka terlalu bergegas dan kasual—mengartikan, pemandangan ini adalah pemandangan yang sudah terjadi terlalu lama, sehari-hari.
"Naruto menyatakan cinta kepadaku."
Sasuke mungkin melewatkan kemungkinan-kemungkinan lainnya.
Kemungkinan ketika waktu dapat mengubah segala hal, termasuk perasaan Sakura yang tak lagi seperti musim semi.
Sebab, jika ada cinta lain yang bisa menandingi rasa Sakura kepadanya ketika itu, sejak sepuluh tahun yang telah berlalu;
Maka, perasaan lelaki itu kepada Sakura adalah jawabannya.
Perasaan Naruto kepada Sakura yang sempat Sasuke lupakan.
.
07; past
"Aku ingin pergi."
Sakura masih mengingat malam itu dengan sangat jelas; selimut yang berserakan, kamar yang terlampau dingin, resonansi penghangat yang tak berfungsi, bibir Sasuke di atasnya.
"Ke mana?" Sakura masih menutup matanya. Ia cari hangat-hangat yang hilang meski di peluknya penuh dengan Sasuke, aromanya, tubuhnya.
"Ke mana saja yang bukan di sini."
Bersamaan dengan itu, Sakura membuka mata. Sasuke menatapnya sejak tadi, namun fokus itu tak ada di sana. Pandangnya kosong dan tak terjamah. Sakura melepas peluk-peluk dingin mereka.
"Kenapa?"
Sakura merasakan angin berembus. Malam-malamnya bersama Sasuke tak pernah sedingin ini. Meski pria itu tak pernah mencintainya, mungkin, meski hanya ia yang mencintai di relasi ini, tapi Sasuke tak pernah membiarkannya kosong. Tapi, tidak. Tidak lagi sekarang.
Sasuke bangun dari tidurnya, tatapnya berpindah pada jendela kamar yang menerobos langit-langit, pekat. Sakura menahan napas.
"Karena tidak ada lagi yang kubutuhkan di sini."
Sakura ingin tahu, sepanjang hidupnya, pernahkan Sasuke merasa presensinya di kehidupan lelaki itu memengaruhi hidup-hidupnya yang menyakitkan? Adakah malam-malam yang mereka bagi dengan hangat dan dekap mampu membuat Sasuke merasa dicintai? Tidakkah cukup ... semua yang Sakura lakukan, yang Sakura berikan ... untuk lelaki itu.
"Tidakkah aku cukup untukmu, Sasuke?"
Malam-malam di mana Sasuke membalas kecupannya, memeluknya lebih dulu, membawanya pada peluk-peluk yang terlampau memabukkan. Di mana Sasuke tersenyum, membagi selimutnya, dengan hangat yang terlampau kelewat, dan hening-hening yang terisi alunan napas mereka. Hari-hari di mana Sasuke memeluknya, mengecup keningnya, dan melepas satu senyum kepadanya. Sakura kira, semua itu cukup. Bahwa Sakura mampu membawa warna lagi kepada hidup Sasuke yang monokrom, yang tak punya warna, yang berisi sakit-sakit akan masa lalu.
"Kau ...," Sasuke berbisik kecil. "Justru karena aku tak pantas terus-menerus mendapatkan ini darimu, Sakura."
Sasuke menoleh perlahan. "Maafkan aku."
"Tak usah minta maaf." Sakura, akhirnya menjawab. Selimut Sasuke masih memeluknya, dan untuk pertama kali, Sakura ingin membuangnya. "Aku tak akan menahanmu."
"Kau memang tak perlu menahanku."
"Pergi saja."
"Maafkan aku."
"Pergi saja, Sasuke. Pergi dan jangan coba untuk kembali. Pergi dan biarkan aku membencimu."
.
08; present
Jika ada satu hal yang memang harus Sasuke pelajari; sesuatu yang datang terlambat akan lebih baik dibanding dengan hal-hal lain yang tak akan pernah sempat terucapkan. Ia terlalu banyak melakukan dosa, mungkin, menyakiti orang-orang di masa lalu, menyimpan dendam hingga sakit tak hanya hinggap pada fisik-fisik, namun kepada kepala dan psikisnya yang goyah.
Jadi, ia tak akan pernah menyesali pertemuannya kembali dengan Sakura. Ia tak akan pernah menyesal pernah terlambat menyadari. Ia tak akan pernah menyesal jika ia tak lagi punya kesempatan.
Toh, dulu sekali, ia yang memutuskan untuk pergi.
Bertahun-tahun yang lalu, ia yang menyakiti. Ia yang memberikan kesempatan Naruto masuk—hingga sekarang, bertahun-tahun dan mungkin juga tak selalu mudah untuk mereka.
Dan Sasuke mengerti, mereka pun sudah terlalu jauh. Mungkin, kenangan-kenangannya dengan Sakura dahulu tak ada apa-apanya dibanding memori baru yang Sakura ciptakan bersama Naruto. Sasuke akan selalu menjadi yang pertama untuk Sakura, tapi mata biru dan hangat itu, adalah satu-satunya rumah ternyaman untuk Sakura. Sakura membutuhkan Naruto. Sakura membutuhkan sentuhan ringan yang tak menuntut, pelukan hangat yang tak banyak pertimbangan, tatap-tatap tulus tanpa beban masa lalu.
Naruto bisa menyikapi api-api Sakura dengan tenang, mengatakan cinta ratusan kali tanpa pikir panjang. Ia akan tersenyum ketika Sakura memarahinya, ketika Sakura lelah dengan dunianya. Ia akan memanjakan Sakura dengan kata-kata manisnya di balik selimut, di samping telinga, dan di malam-malam yang panjang.
Sakura membutuhkan Naruto yang terang.
Dan pada akhirnya Sasuke mengerti.
Ia tak punya hak untuk merenggut semua kebahagiaan ini.
.
09; past
Jika aku bisa, aku ingin tahu, apakah kau bahagia?
Sebab, aku tidak tahu.
Bagaimana aku bisa membahagiakan seseorang jika aku sendiri belum mengerti bagaimana rasa bahagia itu?
Di masa yang akan datang, jika kau menemukan kebahagian lain yang bukan diriku—hiduplah dengan kebahagiaan itu.
Aku akan mencari. Dan kuharap, kau pun begitu.
Berbahagialah, Sakura.
—(pesan dihapus)
.
10; present
Sore itu, langit lebih terang dari biasanya. Musim semi hampir memasuki waktunya, dan Sasuke seperti dapat melihat kilau oranye-merah muda yang menggantung di atas langit kota Tokyo sesorean itu.
Ketika pintu di sebelahnya terbuka, Sasuke terbangun dari duduknya, menunggu dengan sabar hingga sosok itu menemukannya.
"—Sasuke?"
Ia tersenyum kecil.
"Sakura."
"Bukankah jadwal cekmu sudah selesai?"
Pada akhirnya, jika ada satu hal yang memang harus Sasuke pelajari; sesuatu yang datang terlambat akan lebih baik dibanding dengan hal-hal lain yang tak akan pernah sempat terucapkan. Dan meski Sasuke tahu, kesempatannya sudah habis, tapi ia tak akan pernah lagi bersembunyi di balik kamuflase perasaannya.
Sasuke berdeham, "Aku ingin bicara."
Setelah sepuluh tahun berlalu. Setelah musim-musim datang dan pergi. Setelah aku pada akhirnya mengerti.
"Kurasa, aku berutang beberapa hal kepadamu."
Sakura terdiam, menatap Sasuke dengan tatap yang kemudian begitu ia kenali. Sasuke, pada akhirnya, meyakinkan diri, di antara koridor rumah sakit, kelebat bau antiseptik, dan putih-putih mendominasi.
Masih ada waktu lima menit lagi, sebelum Naruto biasanya datang, dan menjemput Sakura dalam genggam-genggam dan senyum hangat.
Dengan perasaan yang jauh lebih ringan, Sasuke meraih tangan Sakura. Membawa sebentar, pada genggam jari-jemarinya.
"Hal pertama, terima kasih," ujarnya pelan, namun penuh keyakinan. "Aku tak pernah mengucapkannya secara langsung." Ia menghela napas. "Untuk segala hal yang pernah kau berikan, segala hal yang selalukau berikan."
Empat menit lagi. Koridor sudah mulai ramai dengan pergantian shift, namun mereka, masih di sana.
"Hal kedua, maaf." Ketika Sasuke mengucapkannya, ia melihat kepada mata Sakura. "Maaf—untuk hal-hal yang mungkin, terlalu banyak kulakukan. Terlalu banyak. Aku bahkan tak bisa menyebutkannya satu-persatu. Maaf."
"Sasu—"
"—ketiga." Sasuke memotongnya. Tangan Sakura masih di genggamannya, tak ingin lepas. Terlampau pas. "Aku bahagia." Di sini, hati Sasuke seperti diremas, namun ia menemukan kelegaan dan keringanan di saat yang bersamaan. Seperti tak ada lalu-lalang langkah, tak ada suara bising khas rumah sakit, tak ada bunyi lift yang berdenting setiap waktu, hanya ada mereka.
Maka, Sasuke meneruskan. "Aku bahagia melihatmu bahagia."
Dan memang, Sasuke menemukan jawabannya, ketika ia tak pernah merasakan kebahagiaan itu, ketika ia terus-menerus berpikir, bahwa perasaannya tentang Sakura yang berbalaslah sumber kebahagiaannya; namun ia salah.
Sebab ternyata, satu-satunya hal yang mampu membuat Sasuke bahagia dan terlepas dari segala beban-beban masa lalu kesalahannya adalah; ketika melihat Sakura-nya bahagia. Dengan cara apa pun.
"Aku mencari-cari, apa yang bisa membuatku bahagia." Sasuke mengucap lagi, waktunya tak banyak. "Dan sekarang, aku menemukan jawabannya."
Di luar sana, langit senja mungkin semakin berwarna. Sasuke bisa membayangkan koakan burung dan beberapa kelompoknya yang terbang mengitari sisi-sisi gedung rumah sakit. Mereka akan menjadi objek terbaik para penikmat seni, atau orang-orang awam dengan romantisasi, tapi, di sini, semuanya sudah cukup bagi Sasuke.
"Sasuke, aku—" dalam satu detik yang terasa lama, Sakura melepaskan genggamannya, menyubtitusinya dalam satu peluk yang terlampau erat. Dan menyedihkan. Namun juga menyenangkan. Penyerahan diri, atau mungkin, memang ini cara Sakura menerima segala ucapannya. Bahwa Sakura juga mengerti, meski terlalu banyak kesalahan, meski terlalu banyak rasa sakit, meski terlalu banyak waktu yang terbuang. Namun, dekap dan sentuh-sentuh jemari Sakura di punggungnya seolah satu lambang verbalisasi, bahwa mereka akan baik-baik saja, bahwa mereka akhirnyabisaberkata bahagia, bahwa mereka akhirnya kembali menemukan satu sama lain.
Meski dengan detail-detail yang tak lagi sama.
"Berbahagialah selalu, Sakura. Maka aku akan bahagia." Sasuke berbisik di telinga Sakura. Ia merasakan hangat tak biasa di bahunya. Apa pun itu, Sasuke harap, bukan air mata kesedihan.
Sasuke tak sempat menghitung, ketika Sakura akhirnya melepaskan pelukannya. Wanita itu menangis (dalam batas-batas bahagia), ia temukan kembali emerald-nya yang bersinar, yang menerangi dunianya di waktu-waktu terdahulu. Ia temukan lagi senyumannya, ia temukan lagi Sakura-nya.
"Kau pun, Sasuke." Sakura berbisik kecil. "Teruslah berbahagia. Temukan kebahagiaan lain," lanjutnya. "—yang bukan lagi diriku."
Bagi Sasuke, saat ini, mungkin tak akan ada lagi kebahagiaan lain selain melihat Sakura bahagia, tapi suatu saat, Sasuke harap—ia akan menemukannya.
Bersamaan dengan senyum Sakura yang kembali ia temukan, Sasuke mendapati langkah tegap yang begitu ia kenal mendekat ke arah mereka. Naruto, pada akhirnya, sampai di sana. Inilah saatnya. Inilah akhirnya.
Naruto menguarkan senyum cerahnya, ia sapa Sakura dan ia kecup kecil kening wankta itu. Sasuke tak merasakan apa-apa, selain kebahagiaan.
"Aku duluan, Sasuke?" Dan pada akhirnya, Sakura harus pulang. Kembali pada rumahnya.
Sasuke mengangguk ketika Naruto melambai kecil, berbalik dan membersamai langkah Sakura yang tenang dan statis, merangkulnya, seperti tak akan pernah melepaskannya.
Pada detik itu, koridor kembali bising, dan senja yang tadi Sasuke lihat melalu jendela, kini meredup. Dan pada akhirnya, Sasuke memutuskan untuk kembali pulang.
Ia berbalik, melangkahkan kaki dengan hati yang sesak dan ringan di saat bersamaan. Mungkin, ada beberapa hal yang tak membuat hatinya membaik, seperti, ia tak akan bisa menatap Sakura dengan harapan-harapan lagi, ia tak bisa mendekap Sakura seperti waktu-waktu terdahulu. Tapi, bukankah ini keputusannya? Dan Sakura bahagia. Itu saja sudah cukup. Toh, ini bukan seperti ia akan berpisah dengan Sakura. Mereka masih akan bertemu kembali besok, besoknya lagi, besok besoknya lagi, dan besok besok besok yang akan datang lagi dan lagi.
Ketika Sasuke menapakkan kaki keluar gedung, ia menatap langit-langit sorenya.
Ah, ada satu hal yang ia lupakan.
Sasuke memejamkan matanya.
Ia belum sempat menyampaikan, bahwa selama ini, sejak awal, perasaan Sakura tak pernah sendirian. Bahwa Sasuke juga memiliki perasaan yang sama. Bahwa ia juga mencintainya.
Bahwa Sasuke selalu mencintainya.
Sasuke memegangi dadanya, detak-detaknya, sebagaimana ketika ia mengingat Sakura. Tidak berubah. Dan mungkin, tidak akan pernah berubah. Menghela napas kecil, Sasuke melanjutkan langkahnya.
Tidak apa-apa. Tidak apa-apa
Mungkin, di kesempatan lain. Ia akan mengatakannya.
Di kesempatan lain, yang mungkin tak akan pernah ia dapatkan lagi.
.
.
[]
