Disclaimer: Tokyo Revengers © Ken Wakui. No profit gained from this fanwork. Canon-divergence di mana Baji panjang umur.


Waktu Membeku


Jangan salah paham dulu, bukan maksud ingin bermelankoli, tetapi seringkali kehidupan ini terasa bagaikan mimpi panjang tak bertepi—di antara bayang-bayang kenyataan atau ilusi, ada kalanya kita merasa tidak berada di antara kedua hal itu.

Di dalam mimpiku yang absurd, aku melihat sendiri bagaimana aku mati; bersimbah darah dari pisau yang ditancapkan Kazutora pada saat Bloody Halloween—serta bagaimana Kazutora ikut mati di hari itu, dihajar sampai mati oleh … oleh siapa? Terkadang aku melupakan hal-hal kecil, ataukah hal-hal kecil itu sesungguhnya merupakan hal besar yang tak kusadari.

Tetapi, yang jelas, tatkala membuka mata, sebagian ingatan berloncatan tak tentu. Acak. Seakan aku memiliki banyak kehidupan—dan dari sekian banyak kehidupan, aku selalu berakhir di ranjang kematian. Kecuali di kehidupan kali ini, yang kuanggap merupakan bagian dari rekayasa alam pasca penghapusanku dari dunia. Atau, entah. Mungkin memang sungguh hidup, dengan sekian banyak tanda tanya. Salah-satunya adalah mengenai alasan kenapa Hanma menyelamatkanku.

Ya, tentu saja, siapapun akan terheran-heran kenapa laki-laki jangkung dengan tampang sok itu memutuskan untuk mengambil pisau Kazutora—serta menahanku melakukan aksi robek perut (yang katanya menjadi kematian konyol, bagi Hanma). Berkhianat atau tidak, atau hanya merupakan tipu daya sebagaimana biasa, tidak ada yang paham kenapa Hanma melakukan itu—tidak bahkan setelah Hanma menjelaskannya padaku.

Tatkala dia berdiri, memandang sendu ke luar jendela dengan seikat krisan di tangan, menjenguk ke rumah sakit seorang diri, dapat kulihat bagaimana laki-laki ini menyimpan beban yang besar pada pundaknya. Hanma Shuji seolah telah melihat jauh ke masa depan—masa yang hanya diketahui olehnya tanpa ia berminat untuk berbagi; mengenai siapa yang kelak mati, siapa yang kelak hancur berkeping-keping. Mungkin saja jawabannya sudah cukup jelas, berdasarkan pengamatanku yang dangkal.

Hanma bisa jadi akan hancur berkeping-keping atas kematian seseorang yang entah siapa. Barangkali Kisaki. Atau aku—walaupun aku pada akhirnya selamat, secara ajaib. Namun, ah, siapalah aku, omong-omong? Hanya seorang Baji Keisuke, masuk Valhalla dengan niat menyelidiki Kisaki—lebih dari itu, kalau bisa aku ingin menghabisinya. Demi Toman. Demi kawan-kawanku yang perlahan-lahan terpecah-belah, yang perlahan kulupakan.

Kebencianku pada Kisaki amat nyata dan beralasan, tidak seperti kebencianku pada Hanma. Hanma, di luar itu semua, tak ubah anjing yang amat penurut. Dia tolol dan tak memahami ketololannya—ketololan-ketololan yang bisa melenyapkan nyawa banyak orang. Bagaimana mungkin dia dapat membayangkan itu semua seandainya hal yang sama terjadi pada orang-orang di sekelilingnya? Atau Hanma sudah mengalami itu, sehingga sekarang dia tidak lagi bermuka tolol dan bersuara menyebalkan.

Tiba-tiba punggung Hanma terlihat lebar dan dewasa, seakan dia bukan bocah laki-laki berumur enam belasan. Senyum konyolnya lenyap, bersamaan dengan ketololannya—bagaikan terlahir kembali menjadi sosok yang sama sekali lain. Ketika Hanma meletakkan krisan di vas bunga rumah sakit, dia mulai membuka suara mengenai Valhalla yang hendak bergabung bersama Toman sebagai kapten divisi keenam.

"Aku ingin tahu kenapa."

Sepasang matanya yang keemasan akhirnya mengarah padaku. "Alasan kenapa kami bergabung—"

"Bukan soal itu."

Hanma terdiam cukup lama, sebelum memutuskan duduk di samping ranjang. "Aku tidak ingin kamu mati, sebab aku akan merasa kesepian."

"Hanya itu?"

Ia kembali diam, tetapi lengannya merayap perlahan meraih lenganku—dan, dengan segenap keanehan, menggenggam tanganku erat, mengisi kekosongan di antara jari-jemari kami. Suara Hanma terdengar agak lirih, seperti rintihan domba sebelum disembelih. "Suatu hari nanti kamu akan mengerti, Baji. Ini hanya soal keegoisanku semata."

Keegoisan. Karena Hanma hanya memikirkan dirinya sendiri. Bahkan dia rela menjadi anjing tolol yang mengekori tuannya demi mendapatkan hiburan sesaat. Penjelasan semacam itu tidak membuatku puas. Aku justru tertawa, lantas menarik tanganku sampai genggaman kami terlepas dan wajah Hanma berubah kecewa. Lucu sekali. Pertama kali dalam seumur hidupku mengenal Hanma, aku akhirnya melihat kekecewaan pada wajahnya.

"Kamu akan menyesal," ucapku seraya memalingkan wajah. "Kalau kamu menyelamatku sebagai batu loncatan untuk bergabung bersama Toman, atau untuk menghancurkan Toman dengan cara lain, atau persetan. Kamu akan menyesal sebab itulah saat aku akan menghabisi nyawamu."

Aku mendengarnya terkekeh, agak kesal sampai kembali memandangnya yang justru … entah, sulit didefinisikan. Tidak terbayangkan melihat Hanma tersipu seperti itu, terlebih di saat aku melayangkan ancaman serius. Sejak awal aku beranggapan Hanma kurang waras, hanya tak mengira bahwa dia memang benar-benar sinting. Tetapi seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa aku ikut sinting karenanya. Sebut saja kesintingan akibat jatuh cinta.


"Percayakah kamu pada reinkarnasi?" Pertanyaan bodoh dari bibir Hanma keluar bersamaan dengan asap rokok. Seperti déjà vu, melihatnya memunggungiku dalam keadaan memandang ke luar jendela. Sementara aku berada di atas ranjang kami, di dalam apartemen yang tidak begitu besar—tetapi cukup untuk kami berdua.

Oh. Banyak bagian yang sengaja kulewatkan.

"Daripada reinkarnasi, aku lebih percaya dunia paralel."

Hanma tertawa ringan. "Ya, aku datang dari dunia lain untuk menyelamatkanmu di dunia ini—karena di duniaku, aku gagal menyelamatkanmu."

Aku ikut tertawa. "Terdengar seperti nyata."

Hanma mematikan rokoknya, lalu menghampiriku. Dan mengecup lembut bibirku.

Sudah kukatakan, aku sengaja melewatkan banyak bagian—bagian di mana aku ikut sinting.

"Di seluruh dunia paralel yang kukunjungi, hanya di dunia ini kamu hidup." Ucapan Hanma terdengar sangat serius, terlebih ketika jarinya menyematkan rambut panjangku ke belakang telinga, lantas seulas senyum tipis terlukis di wajahnya. Dia terlihat amat sayang padaku, dengan alasan yang tidak kumengerti sampai detik ini.

"Mulutmu bau tembakau."

Sebagaimana Hanma, laki-laki itu malah sengaja kembali mengecup bibirku. Kali ini lebih dalam, lebih lama. Dibumbui pergulatan lidah, lantas aku terbaring pasrah. Ia mencumbuku sampai rasanya aku kehabisan napas. Di sela cumbuan serta kecupan—yang menjalar ke leher—aku teringat mimpi semalam, mimpi yang berepetisi. Mimpi di mana aku melihat diriku sendiri mati di tangan Kazutora, atau mati bunuh diri. Aku tidak ingin Kazutora menyalahkan dirinya sendiri. Tapi aku tetap tidak mengerti; kenapa aku sampai harus mengorbankan nyawa?

"Shuji…"

Hanma menghentikan kecupannya.

"Siapa yang sedang kamu cumbu saat ini?"

"Kamu."

"Sebut namaku."

"Keisuke. Baji Keisuke."

Aku melingkarkan tangan di lehernya. "Tidakkah terpikir olehmu bahwa kamu sedang mencumbu mayat? Aku merasa seharusnya aku sudah mati."

Hanma menggeleng, kemudian kepalanya bersandar pada ceruk leherku. "Kamu mungkin memang sudah mati, seharusnya. Tapi aku menyelamatkanmu. Dan di sinilah kita sekarang."

"Aku tidak mengerti."

"Dua belas tahun berlalu, seharusnya kamu mengerti."

Barangkali aku memang sedang melankolis. "Kamu mencintai aku yang berada di duniamu, bukan di dunia ini—bukan aku yang ini."

"Heh, jadi kamu percaya aku berasal dari dunia paralel?"

Pertanyaan Hanma membuatku berpikir. "Mungkin saja."

"Aku tidak peduli. Kamu tetaplah kamu. Setidaknya kamu hidup—dan aku tidak kesepian, tidak sendirian."

"Itu artinya kamu sudah tahu bahwa kamu akan ditinggal mati Kisaki?"

"Itu sudah bagian dari takdir."

"Percayalah, kematianku juga merupakan bagian dari takdir yang harus kamu terima."

Hanma bungkam. Aku mengusap punggungnya.

"Tapi kamu hidup, Keisuke. Kamu hidup."

Dua belas tahun terasa seperti satu kedipan mata. Kami dua bocah tolol yang menuhankan kesenangan di atas keselamatan. Kami tumbuh ditemani hajaran dan pukulan serta tawuran di jalanan. Banyak hal konyol bisa melenyapkan nyawa kami, tetapi pada akhirnya kami tetap hidup—sambil mempertanyakan; benarkah kami hidup—benarkah aku hidup dan bukan terjebak dalam dunia kematian yang rupanya tidak berbeda jauh dengan dunia kehidupan?

Lalu aku membayangkan hal-hal yang nyaris merenggut nyawaku, seperti juga kamu yang membayangkan hal-hal yang nyaris membunuhmu. Benarkah kita semua hidup? Bukan terjebak dalam dunia ilusi, bukan pula terjebak dalam mimpi panjang seperti ini—sebab kehidupan sungguh terasa seperti mimpi yang panjang, yang amat sangat panjang.

Kemudian waktu membeku sesaat, memperlihatkan seikat krisan yang tak pernah layu di dalam vas bunga. Terlintas kembali pertanyaan repetitif: sungguhkah aku hidup?[]


21:55 PM – September 19, 2021