Naruto belongs to Masashi Kishimoto. Story written by angelichoco.
Tacenda,
Adalah tentang petrikor yang menguasai olfaktori di pagi buta. Tentu Sakura, sebagai pekerja anti penampilan kusut, enggan menerjang hujan hanya demi predikat disiplin waktu.
Tokyo amat mengerikan, bagaimana juga, lalu lalang dua puluh empat jam tak mungkin dapat dihindari. Astaga, membayangkan celana basah akibat cipratan dari lobang trotoar saja sudah menjadi mimpi terburuk.
Lagipula, kasur masih hangat. Selimut menggulung tubuh. Sasuke yang menyender nyaman, entah sampai kapan membuat rasa malas menuntut agar tak seinci pun bergerak. Ini sudah satu jam, dekapannya belum longgar. Helaan napas lalu terhempas pelan.
"Aku mau mandi." Sakura berujar ketus, seraya mendorong dada sedikit bertenaga. Tetapi, mungkin ia lupa, mau sesusah apa berusaha, siapa yang benar keras kepala. Sasuke tentu menuli, memilih meraih sebatang rokok sambil menyalakan pematik api. Selagi asap nikotin mengepul, Sakura mendengus, mengibas lengan depan wajah. "Merokok bisa saja membunuhmu, tahu."
Seolah hanya dianggap gurauan, Sasuke lantas melempar kekeh, membenahkan duduk, bahu berpindah pada senderan ranjang. Sembari menatap langit-langit parau, kalimatnya terujar pelan, "aku tak akan mati jika belum menikahimu."
Ringan—nyaris tanpa beban mengganjal. Sakura tentu tak bodoh untuk sekadar menyadari senyum palsu yang terpampang lepas, candu—mamabukkan. Hening mengapit gelintir waktu. Kalimat tertahan untuk terucap. Adalah benar jika apa yang dirasakan kini lebih dari kecambuk gusar dalam geming, netra enggan mengumbar dusta. Helaan napas terambil pelan, lengan mengepal. "Kau sebaiknya pulang."
Pandangan mengalih, bahu sesaat bergetar. "Istrimu pasti menunggu."
Hujan kian menghantam bentala. Sasuke bungkam. Asap rokok menyusut akibat terpadam gesekan asbak. Ada berapa bekas alat kontrasepsi yang bercecer pada ubin? Ini hari apa? Sejak malam yang mana, Sakura berpura-pura, menyimpan segudang nestapa demi cela terjaga?
Lelah melanda batin begitu pinggang dipeluk, ngilu merasuk dalam tiap sel darah. "Jangan bicara aneh-aneh,"
Kalimat sengaja digantung, kecupan manis ujung bibir sesaat mendarat, Sasuke membenamkan kepala di antara ceruk leher. "Kau sedang hamil sekarang. Mana mungkin aku pergi? Ayo tidur lagi."
Sihir telah diucap. Sakura ingin menolak, memberontak, menyumpah serapahi. Bangsat, sialan—tertahan dalam pangkal kerongkongan. Entah apa yang membuat tubuh lagi-lagi lemah begitu ditarik untuk kembali meringkuk terbalut selimut.
Hantaman tak kasat mata kian meraja lela bersamaan dering telpon menggema. Sasuke terpogoh pergi, mengangkat sambungan disertai suara minim. Persetan, semua terlihat jelas.
Karin, adalah nama perempuan, bukan?
Selagi menatap langit-langit dengan luka bergelayut, hujan deras menampar jendela. Dingin, jiwa membiru di tengah distopia, serupa kisah kasih kian menjelma benalu.
Mengapa?
Benar juga.
Pertemuan tanpa sengaja, obrolan saling menguatkan, yang lalu entah bagaimana bermula, rasionalitas terhapus dalam serat kepala. Ah, begitu klise. Sakura tahu, mungkin, kehadirannya memang hanya sebatas mainan belaka.
Tacenda, (n.) things better left unsaid; matter to be passed over in silence
A/N: halo! fanfiksi ini merupakan remake dari kapal sebelah, entah kenapa pengen dibikin versi sasusaku juga. Judul, summary dan isi emang agak gak nyambung, but hope you enjoy. Thank you3
