Kalian tau game? Sebuah permainan yang dimainkan oleh banyak orang. Tanpa kalian sadari kehidupan itu seperti game. Dimana kalau kita salah melangkah, kita akan kalah dan terjebak dalam kegelapan.
Dan game kehidupan juga punya nama...
Life Game
Boboiboy milik
Animonsta
Karya murni dari kepala Krista
[Life]
.
.
.
.
.
HAPPY READING
kehidupan itu seperti teka teki. Tidak pernah ada yang tau apa yang akan terjadi kedepannya. Hal yang sama juga di alami oleh si kembar 3. Sebut saja mereka trio traublemaker.
Taufan, anak sulung yang merupakan otak semua kejahilan yang terjadi.
Blaze, anak tengah yang akan mengikuti semua rencana kakaknya.
Thorn, si polos yabg sering terjebak dalam aksi kedua kakaknya itu.
Dan setiap keonaran yang mereka lakukan, mereka selalu akan di seret ke ruang BK oleh Gempa yang bergelar sebagai ketua OSIS. Halilintar yang merupakan ketua kelas beserta korban kejahilan si kembar 3 tidak akan segan membanting anak itu membuat para guru ketakutan.
Itu bukan typo kok memang para guru yang ketakutan.
Solar, si pintar dari sekolah pulau rintis tidak luput dari kejahilan mereka ber-3. Bahkan saking jahilnya, Solar tidak akan segan menjadikan mereka sebagai objek eksperimen. Dan tentu saja hal itu selalu membuatnya masuk ke ruang BK karena ketua OSIS yang mengamuk. Kenapa mengamuk? Karena Thorn juga kena.
Thorn murid kesayangan Gempa soalnya:D
Ice, wakil ketua OSIS yang sudah sangat-sangat sering menjadi pengawas hukuman kembar 3 itu mulai bosan. Pasalnya, di setiap kasus pasti akan ada mereka ber-3. Dari telat masuk kelas, tidak upacara, bahkan sampai kasus kelahi pun mereka ada(walaupun yang paling sering cuma Blaze).
"Kalian tidak bosan di hukum terus?" Hari itu adalah puncak kemalasan Ice dalam mengawasi mereka ber-3. Siapa juga yang tidak bosan saat yang di hukum orangnya selalu sama.
Ketiganya hanya cengengesan seolah mereka benar-benar bersenang-senang dengan apa yang mereka lakukan. Ice hanya menghela nafas kasar. Dia sudah menduga pertanyaannya itu tidak akan di pedulikan mereka ber-3.
"Apa kau tau, Ice? Kami sedang bermain game loh!" Ice mengerutkan dahinya tanda tidak mengerti perkataan Blaze. Manik birunya menatap kembar 3 itu dengan tatapan tajam bahkan meneliti setiap sudut. Tapi ia tidak menemukan ponsel ataupun konsel game di sekitar mereka. Hanya seember air dan pel yang di gunakan untuk membersihkan toilet.
"Kau akan mengerti, Ice" Blaze kembali bersuara namun kali ini terdengar sangat dingin. Ice tersentak. Ia menyadari nada suara itu bukan seperti Blaze yang biasanya.
Kepalanya ia dongakkan untuk menatap mereka bertiga. Tidak ada yang aneh. Mereka terlihat bermain saling menyipratkan air dan tertawa riang. Apa Ice salah dengar?
"Udah selesai hukumannya?" Halilintar, sang pemilik suara terlihat sedang berdiri di depan pintu ruang OSIS bersama Gempa. Sepertinya mereka berdua baru saja selesai membicarakan sesuatu.
"Sudah kok! Ice suruh kami kembali ke kelas lebih cepat!" Taufan lah yang menjawab pertanyaan Halilintar. Halilintar dan Gempa terlihat menggeleng-gelengkan kepala mereka tanda tidak mengerti dengan pemikiran mereka ber-3.
"Sekali-sekali cobalah untuk tidak membuat masalah" nasihat Gempa yang di balas dengan anggukan Halilintar. Mereka bertiga terlihat cengengesan sebelum pada akhirnya kembali berjalan meninggalkan Halilintar dan Gempa. Keduanya hanya menghembuskan nafas kasar sebelum kembali pada topik awal.
"Maaf kami tidak bisa nanti kami kalah" dan suara dingin Taufan membuat mereka berdua tersentak. Tatapan keduanya beralih kepada si kembar 3 yang terlihat bercanda ria di lorong sekolah. Bahkan sesekali mereka terlihat jahil kepada murid yang lewat. Keduanya saking berpandangan. Apa mereka salah dengar?
"Terima kasih karena sudah mau membantuku membuat eksperimen" wajah Solar terlihat masam ketika eksperimen miliknya kembali di hancurkan oleh mereka ber-3. Taufan, otak si biang onar terlihat tertawa terbahak-bahak. Bahkan Blaze juga terlihat tertawa.
Thorn juga sama. Cuma dia tertawa sambil membereskan bekas kejahilan mereka. Dia tidak mau di seret ke ruang BK lagi.
"Maaf ya Solar kami terpaksa! Kami hampir kalah soalnya" Solar yang sedang mencuci wajahnya tersentak. Ia sangat yakin itu adalah suara Thorn. Pandangannya teralihkan kepada mereka ber-3 yang masih tertawa. Apa halusinasinya saja?
Taufan terdiam. Surat yang ia dapatkan dari kotak surat tadi telah membuktikan apa yang akan terjadi kedepannya. Manik safirnya menatap Blaze dan Thorn yang terlihat tertawa. Tangannya mencengkram erat surat itu. Game ini telah hampir mencapai akhir.
"Blaze... Thorn... kalian harus lari" keduanya tersentak. Mereka tidak pernah menyangka permainannya akan secepat ini berakhir.
Mata Thorn berkaca-kaca seolah tidak terima. Ia masih mau bersama kedua kakaknya.
"GAK! POKOKNYA KITA HARUS SAMA-SAMA LARI!" Blaze berteriak tidak terima. Tubuhnya gemetaran berusaha menahan amarah yang bergejolak di dalam dirinya. Seolah tuli, Taufan malah memilih mengemasi barang-barang milik kedua adiknya.
Kesunyian menghinggapi mereka cukup lama sampai pada akhirnya tangisan Thorn pecah.
"Huwaa!! Gak mau! Pokoknya Thorn gak mau pergi!!"
"Aku bilang kalian harus lari! Jangan sampai kekuatan elemental jatuh ketangan para iblis! Jangan sia-sia kan perjuangan Petir, Tanah, Air dan Cahaya. Kalian ingatkan tujuan kita menyamarkan nama kita? Larilah! Jangan biarkan mereka sampai mendapatkan kalian! Mareka yang gagal mendapatkan kekuatan mereka pasti akan mencari kita! Larilah... aku menyayangi kalian" Blaze dan Thorn tersentak keduanya saling berpandangan.
Jubah hitam yang tersembunyi di dalam lemari mereka sudah mereka kenakan. Ketiganya saling menatap. Sebelum berpelukan erat. Tangan Blaze menarik tangan Thorn yang seolah enggan melepaskan.
Taufan tersenyum kecil sambil melambai pelan kepada kedua adiknya. Ia tolehkan kepalanya kearah belakang. Para iblis sudah datang. Menghancurkan seisi rumahnya satu persatu. Salah satu iblis tersenyum sinis kepadanya seolah sudah menanti saat ini.
"Pangeran Angin~ anda sudah tidak bisa lari" Taufan hanya tertawa kecil sebelum membentuk pusaran angin yang sangat besar. Yang akan membunuh para iblis beserta dirinya. Dia tidak masalah. Yang penting kedua adiknya bisa lari dari kejaran para iblis.
Alasan kejahilan mereka selama ini tidak lain hanya untuk membedakan manusia dan iblis.
Dan mereka lengah. Fang, salah satu dari iblis telah membocorkan keberadaan mereka saat ini. Setelah ini semuanya akan berakhir. Blaze dan Thorn akan mencapai kemenangan mereka. Dan Taufan akan kalah dalam permainan ini. Pusaran mulai berputar. Menghancurkan para iblis dan satu lagi memasuki portal para iblis.
Manis safirnya kembali menatap ke arah tempat adik-adiknya menghilang. Ia tidak akan pernah menyesali keputusannya. Pada dasarnya kedua adiknya telah sampai di akhir dan memenangkan permainan ini.
"Selamat atas kemenangan kalian Api... Daun.."
Fin
Apaan ini?Gaje banget!!!! Kok bisa cerita kayak gini yang muncul!! Huwaaa!!! Aneh!!
