Read

Summary: DMM.

Warning: OOC, typo, ga jelas sama sekali, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk ulang tahun Kume Masao (23/11/2021).


Kume Masao tidak suka membaca, sedangkan Akutagawa Ryuunosuke selalu menulis. Mereka bahkan sudah kandas pada prolog ini. Kata "tamat" akhirnya tersemat di pendahuluan tersebut, dan Akutagawa-lah yang membubuhkannya dengan terpaksa tersenyum.

Karena kesedihannya tidaklah pantas, tentu Akutagawa hanya bisa tersenyum. Berduka lagi untuk tulisan-tulisannya yang ujung-ujungnya, diciptakan demi tak pernah mencapai tujuan. Akutagawa ingin semua kertas-kertas ini diperhatikan oleh Kume. Namun, seperti yang Akutagawa bilang sebelumnya Kume itu enggan membaca. Ia lebih suka mengobrol, menenggak sake-nya dalam berbincang-bincang, tetapi Akutagawa bukanlah percakapan yang Kume sukai.

Ia lebih menyukai obrolan dengan Yoshii Isamu, dan Satomi Ton, sehingga dari sudut bar yang remang-remang Akutagawa pun sekadar bisa menghela napas. Tentu saja mereka asyik berceloteh, seolah-olah dunia hanya dimiliki ketiganya. Sesekali pula terdengarlah Kume yang mengeluhkan mengenai Akutagawa, membuat Akutagawa kian meremas ujung kertas. Di sana benar-benar tak ada hal-hal baik, selain kebencian Kume terhadap Akutagawa.

"Lagi-lagi Natsume-sensei hanya memuji Akutagawa-kun. Padahal aku sudah bersusah payah menulis cerita itu. Lebih parahnya lagi Natsume-sensei mengatakannya di hari ulang tahunku."

Gelas berisi bir Kume angkat dengan lemah. Suaranya terisak, serak seperti ingin lepas, dan merah di wajahnya pucat pasi. Yoshii lantas mengusap-usap punggung Kume begitu pun Ton, selagi Akutagawa menggigit bibir yang melahirkan keputusan, bahwa sebaiknya Akutagawa pergi saja. Apalagi ketika Ton mengingatkan Kume belumlah kalah. Setidaknya ia sedikit dipuji, sehingga hal tersebut bisa dijadikan pintu pertama agar Kume mengalahkan Akutagawa.

Di mana jujur saja, Akutagawa membenci hal yang Ton katakan itu. Walaupun bersaing secara sehat dengan Kume adalah impian yang bagus, dan Akutagawa mau, masalahnya ia tidak bisa melihat hal baik dari kemenangan Kume. Bahwasanya apabila Kume diakui Natsume, sang penulis Rashomon lebih yakin Kume akan mencampakkan Akutagawa. Mengabaikan Akutagawa dibandingkan mengulurkan tangannya lalu Kume mengucapkannya ...

"Akhirnya aku pulang padamu, setelah sekian lama aku hanya berlari, tetapi tidak ada yang dekat selain kehampaan."

Membayangkannya di tengah malam bersalju begini, setidaknya lebih menghangatkan Akutagawa dibandingkan sebelum-sebelumnya. Sebelum pulang ke perpustakaan ajaib, Akutagawa pikir ia akan berkeliling dahulu di kota ini. Sedikit menikmati nuansa natal yang terpasang dalam lembutnya merah, dan hijau, juga kue stroberi yang dihias pajangan sinterklas.

Tetapi kue itu lambat laun melunturkan senyuman Akutagawa, begitu pun langit tanpa purnama, salju yang perlahan-lahan turun lagi, terlebih ketika angin menerbangkan cerita buatan Akutagawa. Kertas-kertas yang semula tinggal di genggamannya, kini berpergian tanpa arah. Akutagawa menghela napas yang kian berat sebelum akhirnya, Akutagawa memutuskan pulang menaiki kereta.

Sebelum-sebelumnya lagi, sosoknya memang telah melewati sekian gerbong kereta demi menyusul Kume. Hendak menghadiahkan cerita gubahannya sebagai kado ulang tahun, dan demi meyakinkan dirinya sendiri bahwa karangannya memang layak, ia mati-matian memperoleh pengakuan dari Natsume. Ia benar-benar hanya menginginkan yang terbaik, karena Kume sangatlah hebat, tetapi lagi-lagi Kume malah tersakiti oleh hal yang sama; kenapa Akutagawa yang terus dipuja sedangkan Kume dipaksa menjelma ampas?

Tatkala kereta melintas di hadapannya, pertanyaan tersebut juga muncul menghias benak Akutagawa. Kapan terakhir kali Kume membaca tulisan Akutagawa? Adalah hal yang ia maksud. Pandangannya pun mendadak kosong. Jawaban yang mendatangi keningnya betul-betul tidak di luar dugaan, menyebabkan Akutagawa merindukannya–masa-masa ketika Akutagawa mati.

Itu konyol, karena mana mungkin Akutagawa mengingatnya, tetapi begitulah adanya.

Hal tersebut pun menyedihkan, sebab Akutagawa tahu Kume hanya membaca, ketika Akutagawa meninggal dan menitipkan sebuah wasiat. Juga sebuah kisah berjudul Aru Aho no Issho. Sekalinya Kume membaca, bukankah Akutagawa justru sekadar mengantarkan Kume mengetuk-ngetuk? Padahal ia ingin membahagiakan Kume melalui tulisan. Bahkan itulah satu-satunya hal yang Akutagawa harapkan, karena Akutagawa adalah sastrawan yang lahir dari mengagumi kecemerlangan Kume.

"Jika aku menabrakkan diriku pada kereta, dan mati sekali lagi, Kume pasti membaca tulisanku, bukan? Walaupun aku hanya membuatnya merasakan pahit."

Akan tetapi Akutagawa urung, walaupun barusan kegigihan kereta melintasi rel, dan itulah satu-satunya kesempatan Akutagawa menilik ini adalah kendaraan terakhir. Pada akhirnya Akutagawa naik tanpa memikirkan apa-apa lagi. Dibandingkan tulisannya; dirinya dibaca oleh Kume, lebih baik Kume tak menangis lagi, bukan? Jadilah Akutagawa telah memutuskannya.

Akutagawa Ryuunosuke tidak akan menulis lagi.

Saat kereta mengantarnya pada kota di mana perpustakaan ajaib itu muncul, dan mereinkarnasikan para sastrawan yang telah lama mati, Akutagawa tetap duduk di tempatnya. Hanya tahu untuk turun di pemberhentian terakhir, lalu tiba-tiba disambut padang bunga yang hampir seluruh kecantikannya ditutupi salju.

Sejenak Akutagawa menatapnya dengan hampa. Bintang-bintang terlihat elok, dan anginnya bahkan sejuk dibandingkan membekukan. Namun, Akutagawa malah tiba-tiba menangis hingga air matanya menjadi bunga yang baru. Sekilas ia tampak menggeleng-geleng, sebab seketika merasa gagal.

"Padahal semakin aku jauh darimu, aku justru makin menuliskanmu, bukan?"

Ingatannya tentang Kume justru kian menguat, dan artinya sama saja dengan Akutagawa menuliskan Kume. Entahlah apa yang membuat Akutagawa begitu mengejar Kume, selain karena Akutagawa ingin memperbaiki hubungan yang merenggang di masa lalu, walau Akutagawa mana memedulikannya. Apabila perasaannya terhadap Kume sekuat ini, intinya adalah Akutagawa tengah memperjuangkan orang yang tepat, bukan?

Jika Kume tidaklah tepat, kenapa Akutagawa merasa ingin bersusah payah sampai tangisannya tertahan? Untuk apa ia mati-matian menyimpan air matanya, dan mengurungnya di balik kelopak mata agar itu bahagia? Jadilah ketika turun hanya terlihat kegembiraan yang meluap-luap yang menggenangi Akutagawa, saat akhirnya Kume mau menyambut Akutagawa sebagai seseorang–bukan lagi yang sebenarnya ada, tetapi dianggap tiada.

Padahal Akutagawa tidak tahu saja, ia yang merasa bersusah payah dapat disebabkan oleh Kume yang memang sengaja mempersulit Akutagawa. Kume yang tampak seperti jurang sekaligus bunga itu, merupakan harapan terindahnya supaya Akutagawa selamanya tersesat, dan tak pernah kembali lagi.


Tamat.


A/N: Fic ini gak sepanjang tahun lalu, emang, dan sejujurnya juga gak terlalu punya ide selain keinget reav pernah bilang, kume gk suka membaca. Pedalaman emosinya pasti kurang, karena yh emang niatannya cuma bikin drabble. Palingan kalo di-total isi fic-nya hanya 800 kata. Selebihnya author note.

Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. Mari bertemu lagi di fanfic lainnya~