ace of diamond (c) Terajima Yuuji
centimeter (c) aiko blue
.
saya tidak mendapat keuntungan komersil macam apa pun atas pembuatan fanfiksi ini
.
Seharusnya kami.
Itsuki membatin getir selagi matanya menatap pada layar televisi yang menampilkan suasana stadium begitu riuh dan penuh suka cita. Battery Seidou, Sawamura-Miyuki berpelukan di tengah-tengah antara home plate dan mound setelah sebelumnya saling berlari menghampiri.
Pertandingan final Koshien musim panas tahun ini telah berakhir. Sawamura berhasil bertahan melawan barisan pemukul Komadai dan membawa Seidou keluar sebagai pemenang dengan skor 3-2. Kini, para pemain lain mulai berlari menghampiri battery itu, wajah lelah mereka lenyap berganti kepuasan dan tawa. Kamera menyorot sekumpulan remaja laki-laki yang berkerumun di lapangan, menepuk-nepuk kepala ataupun punggung Sang Ace. Segalanya tampak menakjubkan.
Seharusnya kami. Lagi, Itsuki membatin sementara nafasnya bertambah berat. Sebelum perasaannya semakin kacau, Itsuki memilih untuk berdiri dari kursinya dan menyingkir.
"Tadano-senpai?"
Itsuki menoleh pada suara itu, memberi Shinji senyum simpul dan gelengan tipis yang menandakan bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan. "Aku hanya ingin beli minuman sebentar."
Sorot mata Akamatsu Shinji seolah tak percaya dan ingin menggali lebih dalam. Tapi Itsuki lekas memutus kontak mata dan menepuk bahu pitcher jangkung itu ringan, sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan ruangan.
Panas matahari langsung menusuk kulitnya begitu Itsuki berjalan ke area lapangan yang kosong. Tak ada kegiatan latihan hari ini, seluruh anggota tim bisbol Inashiro diberi libur khusus untuk dapat menyaksikan pertandingan final Koshien melalui siaran langsung di ruang meeting. Yah, pertandingan itu sudah berakhir beberapa menit yang lalu. Musim panas sedang mencapai puncak tertingginya, sedangkan Itsuki masih saja terpenjara bersama pahitnya kekalahan hari itu.
Dia gagal.
Dia telah gagal dan membiarkan musim panas kelas tiga berubah menjadi hujan kepedihan. Fukui, Hirano, Yabe, Carlos, Shirakawa, dan... Mei. Itsuki gagal memenuhi tugasnya untuk membuat Mei bersinar di panggung nasional pada tahun terakhirnya.
Itsuki menggigit bibir, mengepalkan tangan erat-erat, dan mulai berlari mengelilingi lapangan yang kosong. Kegelisahan, rasa sakit, penyesalan, setiap perasaan itu kini tumbuh semakin besar menggerogoti hatinya. Memaksanya berlari lebih cepat dan lebih cepat lagi.
Dia muak terus dihantui oleh tiap kenangan dari saat yang telah hilang. Pikiran, angan-angan, hasrat, impian yang tidak ada lagi. Itsuki ingin berlari meninggalkan itu semua.
Tubuhnya mulai terasa panas, otot kakinya mengencang, dan butir keringat bermunculan di dahinya, tapi Itsuki tidak peduli. Dia terus berlari, secepat mungkin, sementara memori-memori berkelebat di benaknya.
Hari ketika pelatih mempercayakannya menjadi catcher utama tim setelah Harada Masatoshi pensiun.
Hari ketika Mei mengujinya di bullpen.
Hari memilukan ketika mereka dikalahkan Ugomori di turnamen musim gugur.
Hari ketika Mei mengungkapkan isi hatinya, mengakui keegoisannya sebagai pitcher, dan bertanya apakah Itsuki bisa mengimbanginya.
Hari ketika Itsuki menjadi lebih berani untuk berdebat dengan Mei.
Hari-hari dan malam-malam yang Itsuki habiskan untuk mencatat berbagai macam tips untuk menenangkan pitcher. Mencari-cari lelucon populer di internet dengan harapan akan berguna bagi Mei.
Hari ketika Mei memprotes leluconnya yang payah... Itsuki menggigit bibir dan berlari dengan frustasi.
Hari ketika Mei tersenyum atau menertawakan sikapnya... Mengejek tingkah lakunya... Meneriakinya saat Itsuki berada di kotak pemukul…
Hari ketika dia dan Mei akhirnya mulai kompak sebagai battery.
Hari ketika mereka berhasil memenangkan Turnamen Kanto, dan ketika Mei berjanji akan memberinya pelukan kemenangan saat mereka berhasil menaklukkan Koshien...
Hari ketika Seidou mengalahkan mereka...
Itsuki ingin berlari dan meloloskan diri dari itu semua. Dari kenangan demi kenangan menyakitkan yang semakin mempertegas kegagalannya. Pahitnya kekalahan yang tak berhenti meninggalkan tenggorokannya sejak hari itu, serta pemandangan punggung Mei yang berjalan menjauh darinya.
Itsuki terus berlari. Dia lupa akan panasnya cuaca hari ini, lupa akan nafasnya yang semakin terengah, lupa akan detak jantungnya yang semakin cepat, rasa panas yang kini membakar tubuhnya adalah satu-satunya harapan untuk menghanguskan semua kenangan pahit itu. Dan karena itulah, Itsuki hanya ingin terus berlari sampai semua kenangan itu terbakar dan sirna, sehingga dadanya terasa lebih ringan.
Entah sudah berapa putaran dia berlari mengelilingi lapangan. Semakin lama, semakin habis nafasnya, semakin cepat detak jantungnya, semakin meningkat panas tubuhnya, serta semakin buram pandangannya, maka Itsuki berharap perasaannya akan segera lebih baik.
Sampai tiba dimana kakinya tak lagi sanggup menahan pijakan, hingga akhirnya Itsuki jatuh ke rumput outfield yang kering. Itsuki merasakan naik-turun dadanya begitu cepat, denyut nadi berdebar kuat di balik kulitnya. Ia berbaring, menatap bentang langit musim panas yang cerah. Aah, kenapa dunia tetap baik-baik saja setelah mereka kalah?
Dengan nafas terengah keluar dari mulutnya, Itsuki berusaha meresapi lebih dalam bentuk kelelahan itu, keputus asaan, juga janji-janji yang sirna dalam luka. Ini akan terasa konyol seandainya ada anggota tim yang memergokinya berbaring sendirian di lapangan seperti ini. Kalau itu Mei, dia mungkin akan melontarkan sindiran habis-habisan untuk Itsuki. Terus mengungkit soal catcher Inashiro yang kehilangan akal dan berbaring di lapangan dalam keadaan kotor dan banjir keringat. Tapi Mei sudah tidak lagi tinggal di asrama, dan Itsuki mungkin patut bersyukur akan hal itu.
Sambil mengatur nafas, Itsuki menatap langit lurus-lurus. Tetapi matahari terlampau menyilaukan hingga membuat matanya perih. Astaga, kenapa ia begitu lemah? Pantas saja ia gagal membaha Mei ke Koshien, menatap matahari pun ia tak mampu.
Itsuki salah saat mengira bahwa ia sudah lebih kuat sejak hari itu. Ia salah saat menganggap bahwa ia akan baik-baik saja saat melihat Seidou di Koushien. Itsuki benar-benar salah saat berpikir bahwa pelukan kemenangan yang sempat dijanjikan oleh Mei tidak lagi berarti untuknya. Karena nyatanya, Itsuki masih menginginkannya. Ia menginginkan Narumiya Mei berada dalam pelukannya, tertawa penuh suka cita saat mereka berhasil menaklukkan kejuaraan nasional. Tapi Itsuki telah gagal. Dia telah gagal dan membiarkan janji manis itu menjelma menjadi kepahitan, keputus asaan, dan rasa sakit.
Namun, tak ada satu tetespun air mata yang keluar. Seolah bukan hanya harapannya yang telah sirna, tapi air mata juga telah meninggalkannya. Di sana Itsuki membuka mulut. Lalu mencoba menjerit. Ia menjerit sekuat tenaga, selantang mungkin yang bisa ia lakukan. Tapi tidak banyak suara yang dapat keluar. Hanya ada lolongan berat, rendah, dan penuh penderitaan. Ia kembali mencoba, menjerit dan menahannya selama mungkin. Jeritan demi jeritan dari kedalaman perutnya, dari kedalaman hatinya. Ia keluarkan lolongan yang mendekati tawa, dihiasi frustasi. Ia terus mencoba, menjerit dan menjerit hingga kehabisan napas dan tenggorakannya seperti terbakar.
Mei sudah berdiri di sana dalam jangka waktu yang tidak ia hitung. Mematung di pinggir lapangan, terus mengikuti pergerakan Itsuki sejak pemuda itu berlari dalam jumlah putaran yang cukup gila. Mei sudah ada di sana selama bermenit-menit, menjadi pengamat, mengepalkan tangan, menggigit bibir, dan menatap getir ketika Itsuki akhirnya berbaring di rumput sambil melolongkan teriakan putus asa. Mei ada di sana, tapi ia tak sanggup melakukan apapun.
Mereka belum benar-benar bicara sejak hari itu. Mei bahkan tidak tahu apa yang sebaiknya ia bicarakan dengan Itsuki, segalanya berubah suram dan canggung. Itsuki sempat meminta maaf dengan penuh sopan santun, tapi Mei hanya menatapnya tanpa mengatakan apa-apa. Dan sejak saat itu, interaksi mereka hanya sebatas tanpa sengaja berpapasan, bertukar tatapan singkat, lalu diakhiri dengan Itsuki yang membungkuk sopan. Menyebalkan. Tapi yang lebih menyebalkan adalah Mei bahkan tak mampu mencairkan dinding beku di antara mereka.
Kau tidak perlu minta maaf, Bodoh!
Adalah apa yang Mei ingin katakan ketika Itsuki membungkukkan badan padanya kala itu.
Tegakkan badanmu! Kau kapten sekarang!
Kata-kata yang ia telan kembali sesaat setelah mendengar pengumuman formasi baru tim.
Jangan membuat ekspresi seperti itu. Aku tidak suka melihatnya!—menempel di tenggorokannya sepanjang ia mengamati Itsuki berlari mengelilingi lapangan seorang diri.
Selama ini Mei mengira kekalahan adalah hal yang paling dibencinya, tapi ternyata tak mampu berbuat apapun untuk membuat perasaan Itsuki menjadi lebih baik adalah seribu kali lebih menyebalkan dibanding kekalahan itu sendiri.
Ini tidak bisa dibiarkan. Menarik nafas dalam-dalam dan menguatkan tekad, Mei memaksa mulutnya untuk terbuka dan berseru, "OI, ITSUKI!"
Yang dipanggil menoleh cepat. Mei tak bisa melihat dengan jelas ekspresi Itsuki dari jarak sejauh ini, tapi dari lonjakan kecil di tubuhnya, Mei yakin Itsuki terkejut mendengar suaranya. Mei berdiri tegak sambil melipat tangan di dadanya, memasang ekspresi galak dan menunjuk ke tanah di kakinya, seolah mengatakan Hei, Kau. Ke sini. Sekarang.
Mei sempat mendapat firasat menggelisahkan bahwa Itsuki bakal mengabaikannya ketika reaksi pemuda berambut gelap itu justru kembali memandang langit dan tak kunjung bangkit menghampirinya. Tapi kegelisahannya lenyap tak lama kemudian setelah melihat Itsuki mulai bergerak dan berjalan setengah berlari ke arahnya.
"Mei-san," senyumnya agak dipaksakan, Mei sangat menyadarinya. Dia terlalu mengenal Itsuki. "Aku tidak tahu Mei-san datang hari ini."
Mei mendelikkan bahu, berusaha untuk tidak menarik kaos Itsuki dan meneriakinya untuk berhenti bersikap seakan tak ada apapun. "Aku datang untuk mengambil beberapa barangku yang masih tertinggal di kamar asrama."
Itsuki mengangguk tipis, dari jarak sedekat ini Mei bisa melihat betapa berkeringatnya pemuda itu. Kaos menempel di tubuhnya seperti pita perekat, dan beberapa bagian tubuhnya dilapisi tanah lapangan yang kemerah-merahan. Mei menyadari bahwa rambut Itsuki sudah lebih panjang sejak terakhir kali mereka berdiri sedekat ini, poninya hampir menyentuh alis mata, dan barangkali ini adalah kali pertama Mei melihat rambut Itsuki dibiarkan sepanjang itu.
Itsuki berdeham canggung. "Sudah berapa lama Mei-san berdiri di sini?"
Cukup lama untuk melihat kau berlari seperti orang depresi—tentu saja, Mei tidak cukup bodoh untuk mengakuinya. "Belum lama." Ia berdusta. "Aku kebetulan lewat sini dan melihatmu berbaring di lapangan seorang diri seolah baru tersambar petir." Mei mencoba terdengar sarkastis. "Apa yang kau lakukan? Frustasi karena idol favoritmu keluar dari grup? Atau karakter anime favoritmu baru saja terbunuh?"
Itsuki meringis, menyeka keringat di dahinya singkat sebelum tersenyum samar. "Bukan. Cuma latihan sebentar."
Mei mendengus. "Seingatku ini day off."
Itsuki tidak mendebatnya, dan itu membuat Mei merasa kesal. Situasi mereka kembali menjadi canggung dan tidak menyenangkan, dan Mei mulai muak dengan ini semua. Jadi dia memutuskan untuk terus bicara. "Bagaimana keadaan tim sekarang? Kalian tidak akan membuat Inashiro malu setelah kami pensiun, kan?"
"Aku akui, kami memang belum sekuat saat kelas tiga masih ada di tim. Tapi kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk Fall Tournament nanti."
"Bagaimana dengan Akamatsu?"
"Bukan masalah." Itsuki tersenyum sopan lagi. "Aku sudah mengenal Shinji cukup lama, dan kami tidak mengalami kesulitan menjalin kerja sama sebagai battery."
Mei menggigit ujung lidahnya gusar, sebelum tersenyum masam. "Tentu saja, bagimu tidak ada pitcher yang sulit kecuali aku."
"Mei-san—"
"Apa?" Tantang Mei. "Kau mau mengelak? Kau mau berkata kalau bekerja sama denganku justru membantumu berkembang? Atau kau mau minta maaf lagi karena kita gagal masuk Koshien?"
Rahang Itsuki terkatup kaku. Tapi lagi-lagi dia berhasil menjaga suaranya tetap rendah dan sopan. "Aku memang berterima kasih pada Mei-san dan kelas tiga lainnya. Kalian pemain yang hebat, kalian mengajarkan banyak hal padaku. Aku akan selalu membutuhkan bimbingan kalian, jadi datanglah berkunjung sesekali untuk melihat kami."
Mei memutar mata. "Seolah aku punya waktu untuk main-main dengan anak SMA setelah bergabung dengan pro."
"Benar, aku yang salah. Seolah Mei-san punya waktu. Mei-san bahkan tidak punya waktu barang untuk merespon permintaan maafku pasca kekalahan hari itu."
Mei membeliak lebar, benar-benar tak menyangka seorang Tadano Itsuki bisa bicara sesinis itu padanya. "Itsuki, kau—"
Itsuki justru membungkukkan badan. "Aku permisi, aku harus mandi sekarang. Sekali lagi terima kasih atas waktunya, dan maaf karena aku membiarkan musim panas kalian berakhir sesingkat ini."
Mei butuh sekurang-kurangnya sepuluh detik untuk mencerna segala hal yang terjadi. Ia memutar tubuhnya dengan cepat dan berlari mengejar Itsuki lalu menarik pergelangan tangan catcher itu hingga Itsuki berbalik menghadapnya. "Kau mau lari lagi? Sampai kapan kau mau menghindar?"
"Bukankah Mei-san yang lebih dulu menghindariku? Mei-san sama sekali tidak merespon dan mengatakan apapun padaku saat aku sudah memberanikan diri dan bicara dengan Mei-san hari itu."
"Aku tidak bermaksud menghindarimu! Aku cuma—"
"Marah?" Potong Itsuki. "Mei-san terlalu marah untuk menanggapiku."
"Aku tidak marah padamu!" Kilah Mei. "Tentu saja aku kesal karena kalah tapi—" Mei berdecak. "Sialan, Itsuki! Kenapa kau selalu memikirkan segala sesuatu dengan berlebihan, sih!"
"Karena Mei-san tidak mengatakan apa-apa!" Suara Itsuki meninggi hingga Mei merasakan udara bertambah tajam. "Kalau Mei-san ingin marah, maka marahlah! Mei-san bisa menyalahkanku, mengkritik sikapku, permainanku, strategiku, apapun! Selama ini Mei-san tidak pernah ragu untuk menentangku, jadi kenapa sekarang Mei-san tidak melakukan apapun?"
"Kau ingin aku memarahimu?!"
Rahang Itsuki terkatup kaku. "Itu akan jauh lebih baik."
"JANGAN KONYOL!"
"AKU TIDAK KONYOL!" Bentak Itsuki, Mei bahkan tersentak mendengar betapa keras suaranya. "Bukankah itu yang selama ini Mei-san lakukan? Mei-san biasanya selalu mengoceh dan tidak bisa diam! Mei-san mengeluhkan segala hal bahkan perkara sepele!"
"MAKSUDMU AKU CEREWET?!"
"Cerewet. Kekanak-kanakan. Egois."
"HEY! KAU—"
"TOLONG MARAHLAH!" Nafas Itsuki terlihat berat. Matanya lurus dan tajam menatap mata Mei. "Katakan kalau Mei-san kecewa dan merasa sia-sia saat bekerja sama denganku sebagai battery! Katakan semua kekecewaan itu padaku! Katakan bahwa ini adalah karir terburukmu sebagai pitcher dan—"
"AKU TIDAK MENYESAL!" Jerit Mei, kini bahkan tak peduli lagi andai satu asrama mendengar suaranya. "AKU TIDAK MENYESAL MENJADI REKAN BATTERYMU! AKU TIDAK MENYESALI APAPUN SEJAK MUSIM GUGUR TAHUN LALU! DAN AKU TIDAK MENYALAHKANMU! DASAR IDIOT, BAGAIMANA MUNGKIN AKU MENYALAHKANMU SEMENTARA KAU ADALAH ORANG YANG MEMBUATKU MENJADI LEBIH BAIK?!"
"Mei—"
"DIAM!" Bentak Mei, memelototi Itsuki galak. "Inilah sebabnya aku menyuruhmu tidak terlalu banyak menonton anime! Kau jadi sibuk dengan pemikiranmu sendiri!"
Mei terengah-engah. Detak jantungnya meningkat karena adrenalin dan emosi yang akhirnya ditumpahkan setelah sekian lama terpendam. Rasanya dia masih ingin marah, berteriak, atau meninju sesuatu. Tapi tatapan kaget bercampur bingung yang Itsuki berikan membuatnya menelan ludah dengan cepat dan berusaha mengatur nafasnya lagi.
"Itsuki," Mei berusaha terdengar lebih tenang. "Aku tidak pernah marah padamu. Pertandingan hari itu, meskipun kita kalah dan tidak masuk Koshien, tapi itu pertandingan yang sempurna. Kita semua bekerja keras. Tidak ada penyesalan. Itu adalah penutup yang bagus. Kau lihat, kan? Seidou sekarang menjadi juara tingkat Nasional, kita hanya kalah oleh tim nomor satu di Jepang tahun ini. Itu menyebalkan, tapi bukan juga sesuatu yang buruk."
Ada keheningan cukup lama sebelum akhirnya Itsuki menundukkan kepala dan bahunya mulai bergetar. "Idiot!" Mei berkata. "Kau tidak perlu menangis." Mei mendongakkan kepala, menahan air matanya agar tidak tumpah.
Selama beberapa menit, mereka hanya bertahan seperti itu. Membiarkan air mata dan isak tangis tertahan memenuhi udara di sekitar mereka sampai kemudian Mei menarik nafas panjang, berdiri tegak menatap Itsuki yang sedang menghapus jejak air mata di pipinya. Mei menyeringai tipis, lalu melayangkan satu tamparan di pipi kanan Itsuki.
Itsuki mengerjap, tampak kaget dengan serangan tiba-tiba itu. Sedangkan Mei menatapnya dengan senyum sombong. "Aku menamparmu karena kau salah. Kau salah sudah menuduhku yang tidak-tidak! Itu kejahatan!"
Itsuki tidak mengatakan apapun, dan Mei mulai khawatir kalau tamparannya mungkin terlalu keras.
"Aargh, baiklah! Aku juga salah karena mengabaikanmu duluan! Aku salah! Puas? Sekarang kau boleh menamparku juga, lalu kita impas dan segalanya akan baik-baik saja!"
Itsuki hanya menatapnya.
"Aku serius!" Tegas Mei. "Lakukan saja! TAMPAR AKU!"
Mei melihat Itsuki menghela nafas, kemudian mulai mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Mei berusaha tidak tampak takut atau mundur sedikitpun, tapi saat telapak tangan Itsuki makin dekat dengan wajahnya, ia refleks memejamkan mata.
Rasanya tidak sakit.
Tamparannya sama sekali tidak bertenaga. Hanya seperti Itsuki sedang menempelkan telapak tangan di pipi Mei dan memberi dorongan kecil sebelum sentuhannya menghilang kembali. Mei membuka mata dan menatap lurus mata coklat Itsuki, tapi pemuda itu hanya memberinya senyum samar. Kali ini, Mei mengenali keaslian senyum itu.
"Maaf, Mei-san." Itsuki berkata, suaranya selembut yang ada dalam ingatan Mei. "Kita sudah saling menampar, jadi kita baik-baik saja sekarang, kan?"
Mei merasakan sebutir air mata bergulir di pipinya, dia buru-buru mengusapnya lalu mengangkat dagu menatap Itsuki. "Oke." Kata Mei lugas. "Kalau begitu kau kumaafkan dan kuanggap kau juga sudah memaafkanku."
Itsuki tertawa samar, suara tawa yang Mei bahkan tidak sadar begitu ia rindukan. "Ini konyol."
Mei mendengus keras, tapi tak mampu menahan senyuman si wajahnya. "Kau baru sadar? Kau memang konyol, Itsuki. Kau konyol, aneh, kutu buku, otaku, overthinking, kaku, terlalu sopan, bahkan tamparanmu sama sekali tidak—"
"Mei-san," Potong Itsuki, dia membasahi bibirnya singkat lalu matanya menatap Mei lekat dan dalam—
"Boleh kupeluk?"
a/n: halo, ada yang masih inget saya? hehe, maaf balik ke sini bukanyya bayar hutang malah bawa kapal baru :D
buat yang mutualan sama saya di twitter barangkali udah pernah baca ini. Yep! akhirnya saya memutuskan buat bawa itsumei ke sini juga. Semoga tetap bisa dinikmati yaa, soalnya jujurly, saya udah setahun ini malah naksir berat ke mereka berdua :(
thanks for reading!
