Jungkook POV.

Si angkuh tampan ini mungkin tidak pernah ditolak.

"Tidak."

"Ayolah, Jungkook. Kencan sekali dan aku akan menyerah."

Yah, benar. Si angkuh ini belum pernah ditolak. Aku mengulur waktu, memakan ramyeonku cukup tidak beradap, membuat suara berisik, menarik cairan dihidungku sedemikian menjijikan. Kuharap perilaku menyimpang itu dapat mematahkan semangatnya menggodaku.

Aku mendongak.

"Kau masih disitu?" Tanyaku acuh, mengelap bibirku dengan tisu yang barusan kupakai mengelap tumpahan kuah.

"Berhentilah berakting jorok seperti itu Jungkook. Aku tahu kau sengaja melakukannya."

Ck, si angkuh ternyata lumayan pintar. Aku kira semua yang berwajah tampan tidak memiliki otak. Dia menambah daftar isi dalam hatiku agar aku semakin membencinya dan memasukkannya dalam blacklistku.

Kupijat leherku dengan malas, "seberapa besar taruhanmu sehingga kau sekeukeuh ini mengejarku?" dia terkesiap, ternyata tidak mengira aku akan seblak-blakan ini. Dia tidak tahu jika nama tengahku si Blak-blakan yang tak tahu adat.

"Aku tidak mengerti ucapanmu."

Dia berlagak bego,

"Ayolah Taehyung. Aku tahu semua permainan ini. Aku tahu kau bertaruh dengan kawananmu. Dapat tantangan baru, euh? Aku tidak tertarik."

Dia pikir aku tidak tahu. Kecuekkanku terhadap alpha male cukup terkenal. Sering kali aku dijadikan bahan taruhan tidak sensitive mereka.

Tampan. Kaya. Dua kategori itu masuk blacklistku.

"Aku serius Jungkook. Aku ingin mengenalmu,"

Kukibaskan tanganku mengusirnya, "Ya yah.. Terserahmu saja."

Aku mengambil tasku, menguraikan rambutku dan mencoba memperbaiki tatanan poniku kembali kedepan. Aku ingin tampil cantik didepan prof. sastraku. Aku naksir dengannya. Seandainya saja dia tidak memiliki istri yang keriput dan 3 orang anak. Aku sudah menggodanya.

Aku penyuka pria tua. Bukan setengah matang seperti Mr. Angkuh-Arogan Taehyung yang duduk didepanku.

"Pergilah Taehyung." Kuambil beberapa receh diatas meja kemudian memasukkannya kedalam tas lalu berdiri dengan anggun. Mataku mencari-cari sahabat sejatiku yang memiliki nama Park Jimin, yang sedari tadi menghilang setelah dia melihat superstar captain rugby Yoongi, aku yakin mereka sekarang sedang memakan wajah satu sama lain disuatu tempat yang gelap, tak terdeteksi, sempit.

Mereka sedang diliput napsu membara. Dasar anak muda.

Si angkuh ikut berdiri, membuatku kesal setengah mati.

"Kau rupanya pantang menyerah yah." Desisku sinis.

Dia menyeringai, "kau tidak tahu jika aku petarung keras kepala? Tidak ada kata menyerah dalam pembendaharaan kata-kataku."

Aku mencibir. "Terserah."

Kalimat favoritku akhir-akhir ini 'TERSERAH'

"Good Luck."

"Ho, aku selalu beruntung Jungkook. Dewi fortuna selalu memihakku. Aku yakin sebentar lagi kau akan bertekuk lutut didepanku."

"Jangan buat aku muntah." Selaku dingin. "Pria sepertimu inilah yang ingin kuinjak dan kubumihanguskan. Kesombongan yang mendarah daging. Kau kira karena kau..." Tampan, "kaya, kau bisa mendapatkan semuanya. Betapa Tuhan tahu aku sangat menbenci spesiesmu. Aku pembenci pria kaya. Camkan itu."

Si angkuh bukannya tersinggung, dia malah tampak geli. Garis-garis bibirnya beranjak naik. Sial, dia membuatku naik darah. Apa yang lucu dari deklarasi cerdasku?

"Dan kau Jungkook, aku penyuka spesiesmu. Aku jarang bertemu pemuda yang membenci kekayaanku, bukan salahku kan aku terlahir kaya, aku akan mendapatkanmu, camkan itu."

Aku menggeram, "Jadi itu masalahnya. Kau benar-benar tertantang. Kau tidak pernah ditolak. Kau tidak pernah bertemu orang yang tidak berliur dan dengan mudah mengangkang didepanmu karena kekayaanmu. Dasar pria arogan. Semua sama."

Aku melewatinya dan dia menghentikanku, menahan sikuku kemudian berbisik ditelingaku.

"Aku serius denganmu. kau bukan sekedar tantangan atau apapun yang kau asumsikan padaku. Aku. Serius." Dia mengucapkan dua kata terakhir dengan tekanan dan keakuratan yang membuatku merinding. "Aku menyukaimu. Dan ingatlah, aku bersumpah akan membuatmu menyukaiku."

... Tbc