Cast: All member Exo and others
Genre: Brothership - Friendship - OOC
Rating: General
Desclaimer: Semua cast hanya milik Tuhan dan keluarga mereka, tapi cerita dalam ff ini adalah milik saya.
Warning: Typo bertebaran
DON'T LIKE, DON'T READ
HAPPY READING
Di arena yang sama dengan posisi yang berbeda mereka akhirnya dipertemukan
Dan
Di keluarga yang berbeda mereka akhirnya dipersatukan.
Gerimis di musim gugur seperti ini nampaknya kurang nyaman untuk pemuda Seoul yang tengah duduk dalam diamnya di sebuah mobil Sport hitam itu. Raut wajahnya nampak datar dengan maniknya yang masih setia menatap tiap tetesan gerimis yang berjatuhan di kaca mobilnya. Sementara kedua tangannya nampak mencengkram erat kemudi seakan ia sedang menyalurkan emosi yang mungkin tengah meluap di dalam hatinya saat ini.
'Sehun bukan anakku!'
Bahkan kalimat bermakna ambigu yang terlontar dari mulut pria yang selalu ia panggil dengan sebutan Appa selama ini masih berdengung jelas di telinganya. Awalnya ia hanya mengulas senyum tipisnya, seakan menganggap kalimat itu hanya sebuah gurauan yang sebenarnya ia sendiri bingung dimana bagian lucunya, namun seiring kalimat itu sering tanpa sengaja ia dengar dan perlakuan kasar pria itu pada Eommanya mau tak mau membuat amarahnya semakin tersulut dan menimbulkan kebencian yang mendalam saat ini, entah untuk siapa?
'TOK'
'TOK'
Sebuah ketukan pada kaca jendela mobil membuatnya mengerjap pelan sebelum tersadar dari lamunannya dan mendapati seorang pemuda imut tengah berdiri di luar sana dengan sebuah payung berada dalam genggamannya untuk menghindari rintik gerimis yang nampaknya semakin deras. Segera ia buka kaca mobilnya dan mengabaikan titik-titik basah itu membasahi bagian dalam mobilnya.
"Kau sudah lama menunggu disini? Kenapa tidak menelponku?" Tanyanya dengan suaranya yang sedikit ia kerasnya untuk menandingi suara gerimis yang nyatanya telah berganti menjadi hujan. Raut wajahnya nampak khawatir dan ia sedikit mengigil membuat Sehun tersenyum miris dan bergegas keluar dari dalam mobilnya, meneduh dengan sedikit merunduk mengingat tinggi pemuda dihadapannya bahkan hanya sebatas telinganya.
"Apa aku mengganggumu?" Tanya Sehun, bahkan nada bicaranya pun terdengar sangat datar membuat pemuda imut itu paham, ia dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
Maka ia menggeleng pelan sembari menyerahkan payungnya pada Sehun. "Masuklah. Eomma sedang membuat Sup." Membuat Sehun kembali tersenyum meski rasanya ia yakin ekspresinya saat ini bukan sebuah senyum yang biasa ia tunjukkan pada sahabatnya itu.
"Baekhyun hyung, apa kau yakin Eommonim akan mengijinkanku masuk?" Sehun segera mengejar dan memayungi pemuda imut itu sebelum ia nanti basah kuyup.
"Heumb. Eomma yang memberitahu bahwa kau ada di halaman rumahku." Jawab Baekhyun kemudian merapatkan jaketnya guna menghalau desau angin yang juga bertiup.
"Hmm… maaf aku selalu mengganggumu." Ucapan Sehun membuat Baekhyun urung membuka pintu rumahnya dan menatap Sehun kesal.
'PLUK'
Sebuah pukulan ringan mendarat di ujung kepala Sehun. "Sudah berapa kali kukatakan, kau sudah kuanggap seperti saudaraku sendiri. Jadi jangan berkata hal menyebalkan seperti itu. Tsk." Baekhyun segera membuka pintu rumahnya dan melepas sepatunya yang telah basah kemudian memakai sandal rumah diikuti Sehun yang lebih dahulu menutup payungnya.
"Sehun-aa, masuklah." Eomma Baekhyun menyambut Sehun seperti hari-hari sebelumnya dengan senyum cerahnya membuat Sehun tak bisa untuk tidak membalas senyuman itu sehangat yang ia mampu. "Duduklah. Kita makan malam sebentar lagi."
"Eomma, lebih baik dia mengganti pakaiannya dulu." Baekhyun menyahut sembari mengaduk segelas teh hangat. Sehun menatap jaket dan ujung celananya yang memang basah.
"Eoh, benar. Ganti bajulah dulu, Sehun. Jika makan malam sudah siap aku akan memanggilmu." Putus Eomma Baekhyun kemudian melanjutkan memasak bahan makanan sementara Baekhyun menarik Sehun menuju lantai dua. Menuju salah satu kamar kosong yang selalu ditempati Sehun jika ia sedang dalam acara kabur seperti hari ini.
"Pakaianmu ada di dalam almari, gunakan saja itu sementara bajumu yang basah akan dicuci besok." Ucap Baekhyun kemudian tersenyum hangat. Sehun mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar yang tepat bersebrangan dengan kamar Baekhyun.
.
.
.
"Jadi, kau tidak ingin cerita?" Baekhyun yang baru selesai membantu membereskan sisa makan malam mereka segera menghampiri Sehun yang kini nampak duduk di sisi jendela dan kembali ke aktifitas sebelumnya, melamun.
"Tidak ada yang perlu kuceritakan, hyung." Jawab Sehun masih dengan posisi bertopang dagu disana. Baekhyun memilih diam, pasalnya ia cukup paham apa yang terjadi karena ini bukan kali pertama Sehun datang kerumahnya dengan keadaan hatinya yang berantakan. Ia cukup paham bagaimana Appanya tiba-tiba menganggap dirinya bukan anak kandungnya dan Eommanya bahkan tak memberikan klarifikasi apapun pada Sehun karena wanita itu lebih memilih masuk ke dalam kamarnya dan mengunci diri hingga keesokan paginya Sehun berangkat sekolah.
"Baekhyun-aa, ada Junmyeon!" Teriakan Eomma Baekhyun dari lantai bawah membuat keduanya saling pandang sebelum Sehun menghela nafas berat.
"Kau bahkan memanggil Suho hyung kemari?" Runtuknya dengan tatapan kesalnya yang dibalas Baekhyun dengan cengirannya sebelum pemuda imut itu beranjak dan keluar dari kamar Sehun.
Tak lama pintu kamar itu kembali terbuka dan menampakkan pemuda dengan raut seriusnya itu menghampiri Sehun cepat.
"Sehun-aa, apa yang terjadi?" Tanya Suho seraya memegang bahu Sehun lembut. Sehun menatapnya dari pantulan kaca jendela dan entahlah ia merasa sedikit tenang menemukan kedua sahabatnya ada di sana untuk menghiburnya.
"Tidak ada, Hyung. Aku baik-baik saja." Ucap Sehun seraya menepuk pelan punggung tangan Suho yang masih berada di bahunya.
"Mereka bertengkar lagi?" Tanya Suho masih belum yakin akan jawaban Sehun. Sehun hanya mengangguk pelan. Disaat yang sama Baekhyun datang dengan sebuah nampan berisi secangkir kopi dan secangkir coklat panas.
"Minumlah coklat panas ini, Sehun." Ucap Baekhyun seraya menyerahkan gelas susu milik Sehun dan Kopi milik Suho kemudian ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang Sehun, mengamati punggung bidang bocah itu dengan tatapan ibanya.
"Sore tadi ... Aku melupakan handphoneku sebelum keluar dan saat aku kembali masuk ke dalam rumah, Eomma tengah menangis di lantai dan Appa tengah memarahinya, sepertinya ia baru menampar Eomma. Dan saat aku hendak menolong Eomma, Appa kembali berkata bahwa aku bukan anaknya…" Suara Sehun nampak tercekat. Dengan susah payah ia menahan gejolak emosi dihatinya juga rasa panas yang menjalar di kedua matanya. "Lalu jika bukan anak Appa, aku anak siapa? A-Aku…" menyerah. Sehun memilih menunduk dalam-dalam dan membiarkan air mata yang selama ini ia tahan itu jatuh menetes di atas jemarinya yang saling bertaut erat.
'GREP'
Suho segera mendekap tubuh Sehun ke dalam pelukannya dan membiarkan pemuda itu menangis disana. Sementara Baekhyun dan Suho saling pandang dengan pikiran mereka masing-masing.
.
.
.
Mobil sport putih itu meluncur kencang memecah jalanan basah kota Seoul yang baru saja di guyur hujan, mengabaikan beberapa panggilan yang masuk ke dalam handphonenya karena saat ini hanya satu tujuannya.
'Kai, tim dari China mengirimi kita e-mail. Kurasa kau harus membacanya dan membicarakannya dengan kami.'
Lamat-lamat mobil itu berhenti di halaman sebuah kediaman tua yang nampak tak berpenghuni dan terawat. Ia bunyikan klaksonnya satu kali dan pintu garasi itu terbuka membuatnya berdecih karena terlalu lama menunggu sebelum kembali ia jalankan mobilnya memasuki ruang garasi yang nampak terang dengan segala perkakas bengkel yang tertata rapi di dalam sana. Ada beberapa mobil Sport lain yang terparkir disana. Pemuda itu memarkir mobilnya di sisi sebuah mobil Sport merah kemudian turun.
"Tsk… terlambat lagi tuan muda." Sebuah suara membuatnya berhenti dan mendongak, seorang pria jangkung dengan rambut kelamnya nampak tersenyum lebar sembari bersendekap di depan mobilnya.
"Apa yang lain sudah datang?" Tanyanya mengabaikan bagaimana cengiran itu nampak begitu mencibir kebiasannya yang sering terlambat. Pemuda dihadapannya hanya mengangguk ringan sebelum maniknya nampak menatap seksama mobil putih itu.
"Kai, kau menabrakannya lagi?" Cengirannya menghilang dan berganti sebuah tatapan serius membuat Kai, sang pemiliknya tertegun. "Lampunya berbeda." Lanjutnya sedikit memekik dan menatap Kai tajam.
"Ah itu,… yah kau tahu kan, aku sering terlambat jadi tanpa sengaja mobil ini mencium tiang lampu jalanan." Kai tersenyum canggung kemudian menepuk bahu pemuda dihadapannya. "Chanyeol hyung, aku tidak akan melakukannya lagi, eoh." Ucapnya dengan tatapan puppy eyesnya membuat Chanyeol memutar bola matanya malas.
"Kau bahkan sudah mengucapkannya seperti merapal mantra Kim Jongin." Seru Chanyeol kemudian berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah diikuti Kai yang terkikik geli dibelakangnya.
Di dalam rumah itu bahkan tak terlihat bahwa itu adalah sebuah rumah tua. Dengan desain simple, kediaman itu nampak hangat dan nyaman. Ada beberapa sofa yang diletakkan di tengah ruangan juga tiga kamar terletak di lantai satu. Sementara di lantai dua terdapat dua kamar dan sebuah ruangan yang digunakan untuk meletakkan peralatan elektronik dan kebutuhan bengkel pribadi mereka.
Kai mendudukkan dirinya di sofa single sementara Chanyeol menuju lantai dua. Tak lama suara ribut-ribut diikuti derap langkah membuat Kai mendongak dan menemukan Chanyeol melangkah bersama dua pemuda lain dibelakangnya.
"Kau selalu terlambat, Kai!" Sungut salah satunya dengan suara cemprengnya membuat Kai mengulas senyum mirisnya.
"Chen-aa, percuma saja kau memarahinya." Sahut Chanyeol yang turut mendudukkan dirinya di sofa double membuat Chen mendengus kesal namun tak urung ia menyerahkan tablet yang sedari tadi berada dalam genggamannya. Kai menerimanya dan membaca sebuah e-mail yang tertera disana.
"Tsk… kenapa mereka melarangku balapan?" Sungut Kai nyaris melempar tablet itu keatas meja beruntung Chanyeol merampasnya dan mengamankannya terlebih dahulu.
"Seperti yang kau tahu, waktu itu kau 'tanpa sengaja' menghancurkan mobil mereka." Chen membuat tanda kutip ketika mengucapkan 'tanpa sengaja'nya membuat Kai menghembuskan nafasnya kasar.
"Itu kesalahan mereka sendiri. Bahkan mereka meminta ganti rugi yang lebih dari harga mobil itu…"
"Karena mereka kehilangan harga diri, Kai." Pemuda bermata bulat yang sedari tadi bungkam angkat bicara sembari mendudukkan dirinya disisi Chanyeol. Kai bungkam sejenak sebelum sudut bibirnya tertarik membentuk seringai.
"Kau benar, D.O hyung." Pandangan Kai berpindah pada kedua sahabatnya yang lain. "Apa kalian mengenal Suho? Kim Junmyeon? Kudengar dia juga sering mengikuti balapan liar seperti ini." Ucap Kai.
"Tidak Kai. Dia bukan pembalapnya tapi dia adalah mesin uangnya." Ucap Chen membuat Kai yang sempat menggebu kehilangan semangatnya seketika. "Tapi mungkin Baekhyun bisa." Imbuhnya membuat ketiga temannya mengernyit bingung.
"Yah… sebenarnya kalian juga bisa saja bertanding, tapi mengingat taruhannya adalah uang ganti rugi dan juga mobil, kurasa jika kita menggunakan anak buah Suho semuanya akan menjadi tanggung jawabnya." Chen mengendikkan bahunya acuh.
"Baekhyun?" Chanyeol bergumam sebelum matanya membola. "Bukankah dia yang dulu bertanding vocal denganmu?" Chanyeol menunjuk Chen yang membalasnya dengan cengiran canggung. "Dan kalian bertengkar hingga akhir? Astaga, apa kau yakin pemuda itu akan baik-baik saja nantinya?"
"Kau sedang berbicara tentang apa Chanyeol Hyung?" Sahut Kai.
"Maksudku, bagaimana jika nanti bocah itu kalah dan mengamuk pada lawannya?" Dan perkataan Chanyeol itu menimbulkan tawa geli dari teman-temannya.
"Kau berlebihan, Chanyeol-aa." D.O menepuk bahu Chanyeol disela tawanya.
"Baiklah. Sepertinya besok kita harus pergi ke sekolah mereka dan menghubungi mereka." Putus Chen akhirnya dan diangguki oleh ketiga temannya.
.
.
.
"Kau tidak sekolah?" Baekhyun yang telah rapi dengan seragam smanya sedikit terkejut melihat Sehun masih nampak bergelung nyaman di balik selimut tebalnya. Dibukanya tirai kamar itu seketika membuat cahaya matahari menerobos masuk dan menyinari wajah Sehun.
"Ugh… Silau hyung." Gerutu Sehun kemudian menutupi sebagian wajahnya dengan selimut membuat Baekhyun menghela nafasnya. Dihampirinya Sehun dan ia buka sedikit selimut yang menutupi wajahnya.
"Kau akan terlambat jika tidak bangun sekarang, Sehun-aa." Ucap Baekhyun, ia gusak sejenak surai Sehun sebelum ia memekik pelan. "Kau demam?" Paniknya kemudian menempelkan punggung tangannya di dahi Sehun membuat pemuda itu bergerak tak nyaman. "Aku akan mengatakan pada Eomma agar merawatmu, eoh."
"Jangan. Aku hanya butuh tidur, setelah ini aku akan baik-baik saja. Dan … jangan katakana pada Suho hyung, eoh?" Jawab Sehun dengan suara seraknya. Baekhyun menatap Sehun sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk.
"Aku akan membuat bubur dulu, setelah kau memakannya jangan lupa minum obatnya." Baekhyun bangkit dan melangkah keluar dari kamar Sehun setelah menutup sedikit tirai kamar itu agar cahayanya tidak terlalu membuat Sehun terganggu.
"Eoh, dimana Sehun?" Eomma Baekhyun yang masih berkutat di dapur sedikit terkejut melihat putranya turun sendirian tanpa Sehun.
"Kurasa dia kurang enak badan. Aku akan membuatkannya bubur sebelum berangkat." Jawab Baekhyun kemudian tersenyum pada Eommanya. "Kau akan berangkat sekarang, Eomma?"
"Iya. Sebenarnya aku sudah sedikit terlambat, tapi aku masih harus menyiapkan sarapan untukmu jadi…"
"Eomma pergi saja. Aku akan sarapan roti nanti." Ucap Baekhyun kemudian menyiapkan bahan untuk buburnya.
"Apa kau yakin? Lalu Sehun bagaimana?"
"Dia hanya demam biasa. Mungkin karena kehujanan, setelah meminum obatnya aku yakin dia akan lebih baik." Ucap Baekhyun mengangguk yakin. Eommanya nampak terdiam sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk dan tersenyum lega.
"Baiklah. Eomma pergi eoh." Ucap Eommanya kemudian melangkah pergi dari dapur menyisahkan Baekhyun yang nampak sedikit menerawang.
Setelah mengantar Suho pulang di depan pintu rumahnya semalam, Baekhyun melangkah hendak menuju dapur untuk mengambil air minum saat indera pendengarannya mendengar sebuah percakapan di ruang kerja Appanya. Jika biasanya ia akan acuh namun entah mengapa kali ini ia ingin sedikit mencuri dengar apa yang sedang dibicarakan Appanya.
'Bagaimana bisa kalian tertipu dan terlibat dengan para mafia itu? Lalu? Apa aku harus terbang menuju China sekarang?' Suara Appanya terdengar bergetar menahan emosi sedikit banyak membuat Baekhyun juga khawatir.
'Baiklah. Besok pagi-pagi aku dan istriku akan terbang ke sana. Kalian tunggu aku.'
"Apa eommonim pergi?" Tanya Sehun yang baru saja mencuci wajahnya yang nampak memucat. Baekhyun mengangguk sembari meletakkan nampan berisi bubur dan segelas air untuk Sehun di atas nakas.
"Makanlah dan minum obatnya, aku harus berangkat sekarang." Ucap Baekhyun kali ini meletakkan obat demam di sisi mangkuk bubur.
"Hyung, apa kau baik-baik saja?" Tanya Sehun membuat Baekhyun mengurungkan langkahnya yang hendak keluar dari ruang kamar Sehun. Ia berbalik dan tersenyum lebar.
"Aku baik-baik saja. Aku pergi eoh." Baekhyun menutup pintu kamar Sehun dengan helaan nafasnya yang terdengar berat.
"Aku tau kau sedang tidak baik-baik saja, hyung." Gumam Sehun yang kini menatap Baekhyun yang tengah melangkah di jalan setapak kediamannya dengan wajah tertunduknya kemudian menghilang di balik pintu pagar.
.
.
.
Chen baru saja keluar dari kediamannya saat terdengar deru mobil di luar pintu pagarnya seketika membuat senyumnya melebar. Ia segera bergegas melangkah menuju pintu pagar dan menghampiri mobil itu. Chanyeol nampak turun dan melambai sejenak pada Chen.
"Dimana mobilmu?" Tanya Chanyeol yang nampak celingukan melihat kebagian garasi mobil di rumah Chen yang nampak lengang, biasanya disana akan terparkir sebuah mobil sport biru milik Chen dan sedan hitam milik Appanya. Tapi pagi ini mendadak Chen menghubungi Chanyeol dan memintanya untuk menjemputnya di rumah.
"Semalam hyungku menemukanku sedang memperbaiki mobil itu." Ucap Chen.
"Minseok hyung datang?" Tanya Chanyeol membelalakkan matanya kaget. Chen mengangguk sebelum tersenyum miris.
"Aku bahkan tidak tahu jika ia pulang semalam. Dan ia menuduhku melakukan balapan dengan mobil itu jadi… pagi-pagi sekali ia membawanya pergi." Chen nampak mengendikkan bahunya, terlalu putus asa dengan keadaan mobilnya saat ini.
"Jangan katakan dia menjualnya? Hei… bukankah mobil itu yang kita dapat dengan susah payah? Aku bahkan sudah mendesainnya sekeren mungkin." Sungut Chanyeol nyaris berteriak.
"Entahlah. Jika memang dia menjualnya kita hanya perlu mencari dimana ia menjualnya dan membelinya ulang kan?"
"Apa menurutmu kita hanya perlu membayarnya dengan daun cemara di halaman rumahmu itu?" Chanyeol nampak semakin emosi membuat Chen bergumam pelan. "Masuklah. Kita akan terlambat." Lanjut Chanyeol kemudian masuk ke dalam mobil diikuti Chen.
Selepas mobil merah Chanyeol meluncur pergi, sebuah mobil sport biru lamat-lamat berhenti di depan kediaman rumah Chen. Sang pengemudi bersurai biru gelap itu menatap kepergian mobil Sport Chanyeol dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kurasa mobil ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Tsk… kalian terlalu bersemangat rupanya." Gumamnya. "Maka bersiaplah. Dan kita akan tahu siapa serigala yang sesungguhnya nanti."
.
.
.
Kai baru saja tiba setelah kejadian menyebalkan menyerangnya pagi ini, dimana ia harus berlarian mengejar bus karena terlambat bangun ditambah dia harus kembali berlari selepas turun dari bus itu di halte menuju sekolahnya dengan harapan pintu gerbang itu belum tertutup.
"Jongin-aa!" Sebuah suara membuat Kai berhenti dan menatap sosok D.O yang melambai padanya dari lantai dua.
"Astaga, apa aku harus berlari lagi menuju lantai dua?" Runtuk Kai namun tak urung ia balas melambai dan bergegas menaiki anak tangga menuju lantai dua, menghampiri D.O.
"Kau terlambat bangun lagi?" Tanya D.O yang melihat bagaimana pemuda itu nampak kelelahan. Seperti hari-hari sebelumnya. Kai hanya mengangguk singkat sebelum mendudukkan dirinya di sisi D.O yang tengah sibuk membaca sebuah buku.
"Apa itu?" Tanya Kai melirik sekilas buku D.O sebelum ia mengeluarkan botol air mineralnya dan menenggak airnya cepat.
"Hari ini aku ada ulangan, tapi karena semalam membahas e-mail menyebalkan itu aku jadi tidak bisa berkonsentrasi." Ucap D.O tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya pada buku itu. Kai hanya mengangguk pelan sebelum maniknya menangkap siluet Chanyeol dan Chen yang nampak melangkah beriringan menghampiri keduanya.
"Kalian berangkat bersama?" Tanya Kai.
"Eoh. Chen menumpang pada mobilku." Ucap Chanyeol membuat Kai menatap Chen bingung.
"Kemana mobilmu?"
"Dibawa Hyungku." Sahut Chen, terlalu malas untuk menjelaskannya lebih panjang lagi karena sedikit banyak itu membuat moodnya memburuk.
"Minseok hyung pulang?" Tanya D.O yang kini menatap Chen kaget. Chen mengangguk pelan. "Dan menyita mobilmu?" Lanjutnya membuat Chen kembali mengangguk.
"Sudahlah. Masih ada mobilku jika kau membutuhkannya." Sahut Kai.
"Aku tidak melihatnya di parkiran." Chanyeol menatap Kai bingung.
"Aku tidak membawanya. Kurasa masih ada sedikit masalah dengan mesinnya." Ucap Kai membuat Chanyeol menghela nafasnya.
"Kenapa tidak kau tinggal dibengkel semalam?" Sungutnya. "Waktu kita tinggal tiga hari lagi dan kalian bahkan tidak menyiapkan satu mobil cadanganpun."
"Bukankah masih ada mobilmu? Kurasa dia yang paling stabil selama ini." Sahut Kai santai.
"Jadi kalian memintaku untuk bertanding dengan mobilku?" Tanya Chanyeol.
"Tidak. Bukankah sudah kukatakan semalam, Baekhyun yang akan bertanding." Sela Chen menatap Chanyeol kesal.
"Kenapa kau yakin sekali bocah itu mau? Bisa saja dia belum melupakan bagaimana kalian beradu mulut tahun lalu." Jawab Chanyeol membuat Chen menatapnya gemas.
"Dia pasti mau. Sudahlah, kita juga belum mencobanya bukan?"
"Tapi… sebenarnya aku penasaran satu hal." Potong D.O membuat ketiga temannya memandangnya. "Siapa yang akan kita lawan nantinya? Bukankah dua dari mereka sudah kita kalahkan telak?"
"Heumb… bahkan Kai nyaris meremukkan tubuh bocah itu." Sahut Chanyeol membuat Kai menarik sudut bibirnya membentuk sebuah seringai. "Dan berakhir dengan kita dituntut." Imbuh Chanyeol membuat yang lain mengangguk termasuk Kai.
.
.
.
Sehun baru terbangun setelah waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, ia menatap sekeliling dan kembali teringat bahwa pagi tadi tubuhnya sempat demam kemudian Baekhyun membuatkan sebuah bubur untuknya. Terlelap setelah meminum obat ternyata tidak berpengaruh banyak, ia masih merasa tubuhnya sangat lemas saat ini.
Ia sibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya kemudian menuju kamar mandi, mencuci wajahnya sejenak sebelum akhirnya ia tatap pantulan dirinya di depan cermin. Wajahnya masih nampak sedikit pucat dengan kedua pipinya yang memerah, jika Eommanya melihat keadaannya saat ini pasti wanita itu akan tertawa geli karena wajah itu sangat lucu namun tetap akan merawat Sehun hingga pemuda itu kembali sehat. Ya… seharusnya seperti itu. Tapi keadaan sudah banyak berubah saat ini.
'Sehun bukan anakku!'
Bahkan kalimat menyebalkan itu juga selalu berputar-putar di otaknya membuat Sehun akhirnya memilih mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil di kamar mandi itu sebelum ia meraih mantel bepergiannya dan melangkah keluar dari rumah Baekhyun. Ia menemukan mobilnya terparkir di garasi rumah Baekhyun namun ia terlalu malas untuk mengendarainya jadi ia memilih melangkahkan kakinya melewati jalanan yang nampak lengang itu dengan harapan setidaknya rasa sesak yang sedari tadi menyusup ke dalam hatinya turut menghilang.
Dedaunan kering yang berjatuhan dari pohon maple yang tertanam di sekitar sana membuat suasana musim gugur kali ini sedikit memberi warna untuk Sehun. Jika tahun lalu ia habiskan musim gugurnya di sekolahnya kali ini pemuda itu ingin setidaknya menikmati musim dengan cara yang berbeda. Atau mungkin hanya satu hari ini saja. Ia berharap ada keajaiban yang membuat harinya lebih menarik dari sekedar memikirkan masalah di rumahnya.
Tanpa sadar, langkahnya kini telah tiba di sebuah taman. Masih nampak jejak basah hujan semalam di beberapa alat bermain anak-anak di taman itu namun tak mengurungkan niat Sehun untuk melangkah dan duduk di salah satu ayunan.
'Sehun-aa, Eomma akan mendorongmu yah. Jangan lupa pegangan, eoh?' wanita itu tersenyum lembut sebelum dengan perlahan mendorong ayunan yang terdapat di kediaman Sehun membuat Sehun yang masih berusia tujuh tahun itu memekik senang.
Tanpa sadar, bibir Sehun tertarik membentuk sebuah senyuman tipis.
'Sehun bukan anakku!'
Dengan kasar Sehun bangkit dan melangkah pergi dari taman itu. Kedua matanya nampak berembun dengan bibir tipisnya yang ia gigit erat. Ia enggan menangis lagi, setidaknya ketika tak ada Suho dan Baekhyun di sisinya.
'BUGH'
Tanpa sengaja Sehun menubruk seseorang yang membuat keduanya tersungkur di trotoar. Dan efek dari tubrukan itu membuat kepala Sehun menjadi semakin pening. Bahkan tanpa sadar bulir bening itu menetes membasahi kedua pipinya.
"Oh… maafkan aku." Suara lembut itu membuat Sehun menengadah dan menemukan seorang pemuda imut kini menatapnya khawatir. "Apa kau terluka?" Tanyanya seraya membantu Sehun bangkit. Sehun menggeleng pelan, entah mengapa mendadak suaranya tercekat. "Huh? Kau menangis? Apa ada yang sakit?" Imbuhnya menatap tubuh Sehun meneliti.
Seakan baru sadar, Sehun segera mengusap jejak air matanya kasar.
"Aku baik-baik saja." Ucap Sehun.
"Tapi pipimu memerah. Apa kau demam?" Wajah itu semakin menampakkan kekhawatiran membuat Sehun merasakan déjà vu. Tanpa meminta ijin, pemuda itu menempelkan punggung tangannya pada dahi Sehun dan Sehun meronta tidak suka. "Sudah kuduga kau demam. Ayo kuantar kau ke rumah sakit."
"Tidak." Putus Sehun cepat. Ia menatap pemuda dihadapannya kesal. "Aku sudah bilang, aku baik-baik saja. Dan aku bahkan tidak mengenalmu." Ucap Sehun masih dengan nada kesalnya yang sebenarnya lebih terkesan seperti sebuah rajukan untuk pemuda dihadapannya.
"Ah benar. Aku Luhan. Kau?" Pemuda itu tersenyum hangat semakin membuat Sehun merasakan perasaan aneh menyusup ke dalam hatinya.
"Sehun. Oh Sehun." Sahut Sehun kemudian memilih membuang wajahnya dari pandangan Luhan yang nampak sedikit tertegun menatapnya. "Aku minta maaf telah menabrakmu. Aku pergi dulu." Sehun membungkuk sejenak sebelum melangkah pergi.
Sementara Luhan, ia masih mematung memandang jejak kepergian Sehun dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Hingga sebuah tepukan ringan di bahunya membuat Luhan tersadar.
"Apa yang kau lakukan disini, Lu?"
"Ah tidak ada. Kau sudah lama menungguku, Xiumin? Atau perlu kupanggil kau Minseok karena sekarang kita berada di negaramu?" Sahut Luhan yang kini menatap Xiumin.
"Tsk… panggil aku sesukamu. Lebih baik kita segera masuk ke dalam coffe shop dan menikmati kopi dengan berbincang. Bagaimana?"
"Baiklah. Ayo." Luhan kemudian memilih melangkah mengikuti Xiumin memasuki sebuah coffe shop meski manic Luhan masih menatap kearah dimana Sehun melangkah pergi tadi.
"Akhirnya…" lirihnya.
.
.
.
Baekhyun nampak duduk menerawang di salah satu bangku di kantin sekolah, mengabaikan Suho yang kini tengah menyantap makan siangnya dengan semangat dan sesekali maniknya meneliti tiap notifikasi yang masuk kedalam handphonenya hingga tak lama matanya nampak membola.
"Baekhyun-aa, lihat." Serunya seraya menyodorkan handphonenya kearah Baekhyun yang langsung tersadar dari lamunanya. Baekhyun membaca tiap kalimat yang masuk ke dalam e-mail Suho sebelum ia menghela nafasnya berat.
"Aku tidak bisa, Hyung." Ucapnya membuat Suho menautkan alisnya bingung. Jika biasanya pemuda itu akan bersemangat, kenapa kali ini ia nampak kehilangan setengah jiwanya.
"Apa ada masalah? Kau bahkan tidak makan siang." Ucap Suho nampak khawatir.
"Tidak ada. Hanya saja, sebentar lagi aku ada kompetisi menyanyi. Aku ingin berkonsentrasi." Ucap Baekhyun berbohong. Suho menatapnya sejenak sebelum mengendikkan bahunya pelan.
"Sepulang sekolah nanti mereka mengajak kita bertemu. Apa kau bisa?"
"Tidak bisa, Sehun sedang…" Baekhyun terdiam sejenak.
'Jangan. Aku hanya butuh tidur, setelah ini aku akan baik-baik saja. Dan … jangan katakana pada Suho hyung, eoh?'
Kalimat Sehun kembali hadir membuatnya mengulas senyum canggung.
"Baiklah. Sepulang sekolah kita akan menemui mereka." Lanjut Baekhyun. Ia terpaksa berbohong dan mengatakan Sehun telah pulang ke rumahnya pagi tadi meski akhirnya Suho berfikir Sehun membolos karena masih membutuhkan waktu, mungkin untuk berbicara dengan kedua orang tuanya.
.
.
.
Chanyeol, Chen dan D.O baru saja turun dari mobil Chanyeol dan melangkah memasuki salah satu café tempat mereka berencana bertemu dengan Suho dan teman-temannya. Ketiganya melangkah menuju lantai dua dan memesan sebuah ruang VIP.
"Kau yakin kita harus memesan ruangan seperti ini?" Chen menatap Chanyeol bingung, pasalnya tidak biasanya sahabat tiangnya yang satu itu berkenan melakukan hal-hal mewah seperti ini.
"Kurasa Suho bisa membayar semuanya nanti." Sahut Chanyeol enteng kemudian mendudukkan dirinya di salah satu sofa diikuti D.O dan Chen.
"Kau gila. Kita bahkan tidak mengenal mereka dengan baik." Ucap D.O.
"Lalu untuk apa kita mengajakmu? Kau adalah salah satu teman olimpiadenya, jika aku tidak salah." Sahut Chanyeol kemudian tersenyum lebar menatap D.O yang hanya balas menatapnya datar.
"Aku tahu kau akan seperti ini akhirnya. Tsk." Ucap D.O mencibir dan ikut membaca buku menunya.
"Hei… karena hanya itu yang kami butuhkan tuan kutu buku." Timpal Chanyeol balas mencibir. Ia turut membuka buku menu namun belum sempat mereka memesan, sebuah suara ketukan pintu membuat ketiganya mengalihkan pandangannya pada pintu. "Kurasa mereka sudah datang." Gumam Chanyeol.
Seorang pelayan membukakan pintu dan terlihat Suho dan Baekhyun di luar sana menatap heran pada ketiga pemuda yang belum benar-benar mereka temui secara langsung sebenarnya.
Chanyeol melambai riang, sementara Chen tersenyum seramah mungkin ketika kedua pemuda itu masuk dan duduk di hadapan mereka. D.O menatap Suho sejenak sebelum ia kembali mengalihkan tatapannya pada buku menu.
"Jadi, ada apa kau memanggil kami kemari?" Tanya Suho menatap ketiga teman barunya itu penuh tanda Tanya, pasalnya ketika ia membaca e-mail siang tadi sepertinya keadaannya begitu genting dan sekarang sepertinya mereka terlalu menikmati hidupnya.
"Ah kalian tidak ingin memesan sesuatu dulu?" Tanya Chanyeol seraya menyerahkan buku menunya yang belum sempat ia baca pada Suho. Suho hanya meliriknya sejenak sebelum menatap Chanyeol malas.
"Kami sudah makan. Dan kami juga tidak punya banyak waktu." Sahut Suho membuat Chen urung memilih makanan dan hanya memesan jus jeruk pada pelayan yang masih berdiri di sana, diikuti D.O yang juga memesan sebuah jus apel.
"Kau pesanlah minuman dulu setelah itu kita bicara." Ucap D.O pada Suho dan Baekhyun yang akhirnya memesan Americano dan jus strawberry diikuti Chanyeol yang memesan Americano favoritnya.
"Jadi sebelumnya perkenalkan namaku Park Chanyeol, kalian bisa memanggilku Chanyeol saja." Ucap Chanyeol seraya menepuk dadanya pelan.
"Apa aku boleh memanggilmu Yoda?" Celetuk Baekhyun membuat Chanyeol membelalakkan matanya kesal. Kemudian Baekhyun terkikik geli dan melambaikan tangannya. "Aku hanya bercanda." Imbuhnya. "Aku Byun Baekhyun, panggil saja aku Baekhyun."
"Aku Kim Jongdae, err… karena aku sempat tinggal di China, banyak yang memanggilku Chen, begitu juga mereka. Dan itu namaku di arena." Chen mengangkat tangannya sejenak sebelum menatap kedua sahabatnya.
"Aku Kim Junmyeon. Dan yah… banyak yang memanggilku Suho." Ucap Suho singkat.
"Aku Do Kyungsoo." Ucap D.O membuat Chanyeol menghela nafasnya, temannya yang satu ini benar-benar irit bicara.
"Panggil saja dia D.O. lebih simple kurasa." Sahut Chanyeol.
"Tunggu…" Baekhyun menatap ketiganya serius. "Dimana Kai? Bukankah Kai salah satu dari kalian?" Lanjutnya kemudian.
"Ah benar. Dia tidak bisa ikut karena ada keperluan."
"Tsk… Dia benar-benar seperti kabar yang beredar. Bertingkah sesukanya." Ucap Baekhyun kemudian menyandarkan punggungnya pada punggung kursi seraya bersendekap.
"Jadi apa masalah kalian?" Suho menatap ketiganya tak sabaran, entah sudah berapa kali pemuda itu bertanya hal yang sama sejak tadi.
"Apa kalian mengenal tim balap dari China?" Chen mendekatkan tubuhnya pada meja dan menatap Suho serta Baekhyun bergantian. Keduanya hanya mengangguk. "Kami ingin meminta bantuan kalian untuk bertanding melawannya. Ini… atas nama Negara kita kurasa." Imbuh Chen kemudian tersenyum canggung.
"Huh? Apa maksudmu? Bicaralah pada intinya." Baekhyun menatap Chen sebal. Sesekali ia melirik arlojinya yang sudah menunjukkan pukul lima sore.
"Maksudku, kami ingin meminta bantuan kalian untuk bergabung dengan tim kami dan melawan mereka." Sahut Chanyeol yang sedikit heran dengan sikap gelisah Baekhyun.
"Kenapa kami? Bukankah masih ada tim lainnya?"
"Karena kami lebih percaya pada kalian." Ucap D.O menatap lurus mata Suho membuat pemuda itu bungkam dan nampak berfikir.
"Maksud kalian, aku harus melawan tim China itu?" Tanya Baekhyun ragu, dan dijawab dengan anggukan oleh Chanyeol. "Kemana Kai? Bukankah biasanya dia yang bertanding?"
"Kai dilarang bertanding oleh mereka karena sebuah masalah. Jadi hanya kau satu-satunya harapan kami." Ucap Chen.
"Lalu, apa keuntungannya untuk kami?" Tanya Suho membuat Chanyeol dan Chen saling pandang.
"Kalian bisa menggunakan bengkel kami untuk reparasi mobil kalian." Ucap D.O membuat Chanyeol dan Chen menatapnya kaget. Hal itu tidak ada dalam kesepakatan mereka sebelumnya. "Kurasa kalian tidak memiliki tempat untuk reparasi kan? Aku dan Chanyeol bisa membantu kalian memperbaiki mobil kalian." Imbuh D.O kemudian menatap Suho dan Baekhyun bergantian.
"Ugh… sebenarnya begini…" Chanyeol hendak menyela namun Baekhyun lebih dulu memotongnya.
"Aku tidak bisa." Ucapnya membuat keadaan menjadi hening. Bahkan Suho nampak terkejut. "Aku ada urusan lainnya. Ah benar, aku harus pulang sekarang. Hyung, aku akan pulang dengan taksi." Baekhyun menepuk bahu Suho sebelum akhirnya undur diri.
"Hei… Baekhyun-aa!" Panggil Chanyeol hendak mengejarnya namun Suho menahannya.
"Biarkan dia. Kurasa dia sedang ada masalah saat ini. Jika nanti aku bertemu dengannya aku akan bicara padanya." Ucap Suho.
"Tsk… dia bahkan belum meminum pesanannya." Runtuk Chen kala melihat pelayan tiba membawa pesanan mereka.
"Sudahlah. Sebagai permintaan maafnya, biar aku yang membayar semua tagihannya." Ucap Suho membuat Chanyeol menatap Chen kaget.
"Dia benar-benar mentraktir kita." Gumamnya pelan.
.
.
.
Sehun baru saja masuk ke dalam rumah Baekhyun kala ia menemukan pemuda itu menatapnya kesal di ruang tamu.
"Kau dari mana Oh Sehun?" Tanya Baekhyun nampak menahan emosinya, ia masih ingat pemuda itu masih dalam keadaan sakit. Sehun melepas sepatunya dan menghampiri Baekhyun.
"Aku hanya mencari udara segar." Jawab Sehun membuahkan decakan dari Baekhyun yang langsung menariknya menuju ruang makan dan menyuruhnya duduk di salah satu kursi.
"Aku pulang kemalaman, tapi keadaan rumah justru kosong, kau tidak ada di rumah dan meninggalkan handphonemu. Apa kau pikir aku bisa tenang?" Omel Baekhyun seraya menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Sehun di ruang dapur.
"Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir, tapi karena cuaca pagi ini bagus jadi aku ingin jalan-jalan. Biasanya aku menghabiskan musim gugurku di sekolah dan rumah." Jawab Sehun seraya menatap punggung Baekhyun.
"Lalu, kau tidak meninggalkan pesan apapun padaku? Tsk… jangan membuat hariku semakin menyebalkan, Sehun-aa." Baekhyun meletakkan piring yang berisi makanan untuk Sehun dihadapannya dan segelas susu coklat hangat kemudian ia mengambil piring miliknya sendiri dan duduk berhadapan dengan Sehun.
"Maafkan aku. Pikiranku sedang penuh tadi." Ucap Sehun membuat Baekhyun menghela nafasnya, tak ada gunanya memarahi Sehun seperti ini sebenarnya. "Apa yang membuat harimu buruk? Apa ada yang mengganggumu di sekolah?" Tanya Sehun kemudian berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Err… tidak. Hanya tawaran untuk balapan lagi." Ucap Baekhyun membuat Sehun hanya balas mengangguk seraya mengaduk makanan di piringnya. "Tapi aku menolaknya." Imbuh Baekhyun membuat Sehun mengangkat wajahnya dan menatap Baekhyun heran.
"Kenapa? Bukankah kau menyukainya?" Ucap Sehun.
"Masih ada yang harus kuurus beberapa hari ini. Jadi aku tidak akan bisa berkonsentrasi mengurusi masalah balapan."
"Tsk… biar aku saja yang turun kalau begitu. Aku sudah lama tidak melakukannya." Ucap Sehun membuat Baekhyun membelalakkan matanya.
"Tidak!" Seru Baekhyun. "Lawan kali ini bukan seperti balapan kita yang sebelumnya, Sehun-aa."
"Lalu? Memangnya siapa?" Tanya Sehun.
"Mereka tim dari China. Kudengar mereka sangat kuat, meski beberapa waktu yang lalu sempat ada kabar bahwa salah satu dari mereka cedera parah hingga tidak bisa bertanding lagi. Jadi… kurasa karena itu mereka ingin balas dendam." Ucap Baekhyun yang memang sempat mendengar kabar itu beberapa bulan yang lalu meski ia sendiri tak percaya.
"Apa kau takut?" Tanya Sehun membuat Baekhyun menatapnya kesal.
"Aku hanya tidak ingin kau pulang tinggal nama, bocah." Sahut Baekhyun membuat Sehun tertawa geli.
"Sudahlah. Aku akan baik-baik saja."
"Tsk… kau keras kepala sekali." Cibir Baekhyun yang diam-diam menatap khawatir pada Sehun.
"Ah benar. Dimana Eommonim?" Pertanyaan Sehun membuat Baekhyun memilih menundukkan wajahnya menatap piring makanannya.
'Baekhyun-aa, Eomma dan Appa masih berada di China. Maafkan kami yang tidak sempat pamit padamu. Kami akan sering menelponmu. Jaga diri baik-baik, eoh.'
Baekhyun masih ingat dengung suara Eommanya beberapa waktu yang lalu ketika ia baru tiba di rumah. Ada perasaan takut diam-diam menyelimuti perasaannya.
"Hyung?" Panggil Sehun membuat Baekhyun menengadah dan tersenyum canggung pada Sehun.
"Mereka berada di China untuk urusan bisnis. Mungkin beberapa hari lagi datang." Ucapnya kemudian melanjutkan makannya dalam diam diikuti Sehun yang sedikit heran melihat perubahan mood Baekhyun sejak semalam.
.
.
.
"Dia tidak mau?!" Kai memekik heboh dari dalam rumah ketika mendengar Chanyeol dan Chen tengah menceritakan bagaimana pertemuan mereka dengan Suho dan Baekhyun sore tadi seraya memeriksa keadaan mesin mobil Kai.
"Eoh. Dia mengatakan tidak bisa kemudian pergi." Ucap Chen membuat Kai menghambur keluar dan duduk di sisi D.O yang nampak serius dengan laptopnya.
"Astaga, kenapa dia bisa kabur begitu saja? Kalian tidak menahannya?"
"Suho menghalangi kami dan mengatakan dia akan membujuknya." Ucap Chanyeol.
"Suho? Dia menerima tawaran kita?"
"Tidak gratis, Kai. D.O mengijinkannya menggunakan bengkel kita juga." Ucap Chen. "Tanpa persetujuan Chanyeol sebagai pemiliknya." Imbuhnya seraya menatap D.O.
"Kurasa itu impas." Sahut D.O kemudian menyimpan laptopnya di atas meja dan memutar duduknya menatap ketiga temannya. "Suho adalah satu-satunya orang yang sangat membenci tim China." Ucap D.O membuat ketiga temannya pasang telinga, bahkan Chanyeol dan Chen mengurungkan niatnya melanjutkan pekerjaan mereka.
"Kenapa? Apa dia pernah kalah dari mereka?" Tanya Kai.
"Bukan. Salah satu dari peserta itu, kalian ingat Kris? Dia adalah putra mafia terkenal di China yang sangat ingin menghancurkan bisnis turun temurun keluarga Suho dan menghancurkan mereka hingga ke akar-akarnya. Dan untunglah saat peperangan itu terjadi, Suho dan keluarganya sedang mengadakan perjalanan tanpa sepengetahuan mereka sehingga mereka selamat. Tapi… karena itulah Suho menyimpan dendam pada mereka semua, Tim China." Ucap D.O.
"Woah… apa dia memukul rata semua tim China?" Tanya Chanyeol.
"Heumb… kudengar mereka semua bersaudara. Jadi kurasa mereka pasti…"
"Apa kita sekarang sedang melawan kumpulan pada mafia?" Seru Chen memotong ucapan D.O histeris.
"Kai, kurasa kau benar-benar dalam masalah." Chanyeol menatap khawatir Kai yang kini benar-benar nampak tertekan, namun tak lama ia kembali tersenyum.
"Aku percaya Suho akan menyelamatkan kita." Ucapnya. "Seharusnya aku hancurkan saja mobil bocah itu." Sungut Kai.
"Kau bahkan membuatnya cedera parah, Kai. Semoga Baekhyun benar-benar berubah pikiran dan menerima permintaan kita." Ucap Chen.
"Aku akan membujuknya besok." Chanyeol kembali focus pada komputernya diikuti Chen. "Dan kita harus memperbaiki mobil ini sebelum hari itu tiba."
.
.
.
Esoknya, Baekhyun dan Sehun tengah duduk di kantin seraya menikmati jus favorit mereka masing-masing saat Suho datang membawa beberapa buku tebal yang ia pinjam dari perpustakaan kemudian menghenyakkan tubuhnya di sisi Baekhyun.
"Astaga, kau ingin menjadi professor atau apa hyung?" Seru Baekhyun heboh menatap takjub tumpukan buku itu.
"Aku harus ujian sebentar lagi. Waktuku tidak banyak." Ucap Suho kemudian mulai membuka salah satu bukunya. Sementara Sehun menyenggol ujung kaki Baekhyun membuat pemuda itu menatapnya bingung. Tak lama ia menghela nafasnya kemudian menatap Suho.
"Hyung…" panggil Baekhyun yang hanya di respon sebuah gumaman oleh Suho. "Aku… aku akan ikut balapan itu." Ucapnya kemudian membuat Suho mengalihkan tatapannya dari buku pada Baekhyun yang kini tersenyum canggung padanya.
"Benarkah?" Tanya Suho semangat. Senyumnya merekah. Setidaknya usahanya membujuk Baekhyun sejak semalam hingga pagi ini tidak sia-sia. Baekhyun mengangguk membuat Suho merangkulnya erat. "Kita harus memenangkannya. Aku akan mengabari mereka nanti."
.
.
.
Sepulangnya, sekali lagi Suho menghilang di antara tumpukan bukunya membuat Sehun dan Baekhyun memilih pulang terlebih dahulu. Keduanya tengah melangkah menuju tempat parkir saat langkah Baekhyun tiba-tiba terhenti dan maniknya menatap lurus pada pintu gerbang, dimana seorang pemuda jangkung yang ia juluki Yoda itu tengah berdiri menatapnya dengan cengiran lebarnya.
"Siapa dia, Hyung?" Tanya Sehun yang turut menghentikan langkahnya. Baekhyun tak menjawab namun memilih menghampiri pemuda itu diikuti Sehun yang masih bingung.
"Mau apa kau kemari, Yoda?" Tanya Baekhyun membuat cengiran itu berubah menjadi poutan lucu.
"Aku ingin membujukmu tapi… tadi Suho hyung menelponku dan mengatakan bahwa kau sudah setuju. Jadi…"
'GREP'
Chanyeol memeluk erat tubuh mungil Baekhyun membuat pemuda itu meronta hebat dibantu Sehun.
"Tsk… kau gila!" Sungut Baekhyun.
"Siapa dia?" Seolah tak mendengar makian Baekhyun, ia menatap Sehun yang balas menatapnya datar.
"Dia Sehun. Adik kelasku." Ucap Baekhyun. "Sehun-aa, dia adalah tim yang semalam kuceritakan. Namanya Park Chanyeol. Panggil saja dia Yoda."
"Ya!" Seru Chanyeol menatap Baekhyun kesal namun ia kemudian tersenyum pada Sehun. "Dia benar-benar imut."
"Heol… jika sudah tidak ada keperluan, pulanglah. Kami juga harus pergi." Baekhyun melangkah menuju mobil sport milik Sehun diikuti Sehun membuat Chanyeol menatapnya serius.
"Baekhyun-aa…" panggil Chanyeol membuat Baekhyun membalikkan tubuhnya malas. "Ikutlah aku hari ini. Aku juga harus memeriksa mobilmu itu." Ucap Chanyeol membuat Baekhyun dan Sehun saling pandang sebelum akhirnya ia mengangguk.
Mobil Sport Chanyeol baru saja memasuki bengkelnya diikuti mobil Sport hitam milik Sehun yang terparkir di salah satu sisi bengkel. Baekhyun turun dari kursi kemudi diikuti Sehun yang turun dari kursi penumpang.
"Ini rumahmu?" Tanya Baekhyun menatap sekeliling bengkel itu kemudian menghampiri Chanyeol yang baru turun dari mobilnya.
"Heumb, sebenarnya bukan rumah utama. Rumahku tidak di sini. Rumah lama ini kugunakan untuk tempatku dan yang lain menyimpan semua keperluan balapan kami. Lagipulan rumah ini sudah tidak digunakan lagi oleh kakekku." Chanyeol menyandarkan tubuhnya di kap mobil sementara Baekhyun mengedarkan pandangannya menyapu rak-rak yang berisi peralatan dan aksesoris untuk mobil balap juga beberapa mobil yang terparkir disana.
"Hei… aku pernah melihat mobil itu." Seru Baekhyun menunjuk mobil putih Kai semangat. "Bukankah itu mobil yang menyerempetku tempo hari." Lanjutnya membuat Chanyeol menatap mobil Kai dan Baekhyun bergantian kemudian padangannya beralih pada mobil hitam Sehun yang ia fikir adalah milik Baekhyun.
"Apa sekarang dia baik-baik saja?" Tanya Chanyeol menunujuk mobil hitam itu.
"Huh? Bukan mobil itu yang kumaksud." Elak Baekhyun membuat Chanyeol semakin bingung.
"Jadi?"
"Err… begini Chanyeol. Sebenarnya, ada yang harus kukatakan." Baekhyun melirik Sehun yang nampak duduk di atas kap mobilnya santai. "Sebenarnya…"
TBC
