Disclaimer : Haikyuu belongs to Haruichi Furudate
Character : Nishinoya Yuu, Kinoshita Hisashi, Suna Rintarou
Pair : Suna x Nishinoya (SunaNoya)
Rating : T
Genre : Friendship, Romance, Humor
Warning : Shou-ai/BL, Alternative Universe, OOC, Typo[s, etc.
"RINTAROU SUNA, KAU BODOH!"
Kinoshita tergopoh-gopoh menarik lengannya turun. Tidak habis pikir bagaimana badan seukuran siswa sekolah dasar mampu menyimpan kekuatan sebesar yang Nishinoya punya. Pokoknya, tugas penting Kinoshita saat ini memastikan temannya urung meletuskan pertengkaran dan tolong garis bawahi selamat dari kejaran perwujudan siluman rubah berkedok siswa sekolah.
"Ayolah, Nishinoya," Kinoshita rusuh menyeret temannya untuk melarikan diri.
Nishinoya dalam cengkeraman memberontak dan memanfaatkan segala bentuk pegangan demi bisa bertahan dari tarikan maut Kinoshita. Tidak masalah entah itu tangkai bunga matahari di halaman kelas; lesu tak bertulang, atau tungkai lunglai Endo; yang membuatnya mengaduh kesakitan. Kinoshita meringis dalam-dalam.
"Tidak," tolaknya keras. "Tidak sampai aku berhasil menendang tulang keringnya atau paling tidak meninju hingga giginya putus."
Nishinoya kokoh pendirian. Membuat Kinoshita harus memerangkapnya dalam dekapan erat dan dia semakin meronta-ronta. Setidaknya Kinoshita bisa menghilangkan pemandangan si kecil dari sang rubah kelas A yang terkenal akan kekejiannya memperitili tulang-tulang manusia–dikutip langsung oleh Tanaka Ryuunosuke yang mendengar pembicaraan tahun-tahun pertama melalui semak rimbun belakang ruang kesiswaan.
"Kau tidak melawan Suna Rintarou dengan kekuatan."
Tidak bersikap kejam, tapi Kinoshita berharap Nishinoya sadar diri akan potensi tinjunya bilamana mesti dibandingkan dengan seberapa berpengaruh bogem Suna Rintarou akan membuatnya terjerembab. Kinoshita cukup tahu, tak perlu merasakan. Pengalaman Daiki yang sempat menjadi bintang kelas selama berlangsungnya cerita ia ditumbangkan mudah oleh salah satu siswa kelas A yang mana juga merupakan sahabat karib pelakon utama permasalahan masih hangat-hangatnya sampai kini.
"Apa?! Karena aku kecil?!" Nishinoya tidak terima.
Itu juga, Kinoshita membatin. Tapi dia tidak mengatakannya, jadi Kinoshita hanya terus menggenggam tangan mungil itu, menjaganya tetap di belakangnya. Sampai tenaga lain mengirimkan tarikan balik yang membuatnya hampir terjungkal kalau bukan karena pengalamannya bertahun-tahun menjadi atlet judo–tidak itu bohong. Kinoshita tidak mengikuti klub dojo mana pun.
Kinoshita berbalik, kalimat sudah di ujung lidah, sampai kemudian matanya jatuh pada kelopak mengantuk ... khas, karena tentu saja Suna Rintarou ada di sana. Berdiri tepat di belakang mereka, jari tengah sengaja mengait ke kerah Nishinoya. Tangan kanannya terdapat ponsel yang biasa dibawa ke mana pun pemuda itu pergi.
Nishinoya melotot tajam-tajam, bola mata nyaris keluar dari tempatnya. Bibirnya meracaukan segala macam kutukan. Santainya pemuda itu hanya mendengus. Menarik si kecil hingga punggungnya membentur dadanya sendiri. Tidak memberi kesempatan jarak mengisi dengan segera melingkarkan lengan di sekitar pinggang ramping Nishinoya.
Kinoshita bisa melihat temannya bersumpah serapah tapi rona merah yang menyebar pada roman wajah membuatnya kikuk tak beralasan. Ini seharusnya peringatan berbahaya karena baru selang lima menit sebelumnya, Nishinoya kedapatan mengumpati rubah kelas A, Kinoshita membantunya kabur, dan sekarang proyek kekhawatiran Kinoshita berada dalam ... pelukan lawan?
"Aku akan menciummu jika kau terus bergerak."
Wajah Kinoshita ikut memanas.
"Ap- kau gila!"
Ketegaran suara Nishinoya patut diacungi jempol.
"Lepaskan, kau bajingan!"
"Maksudmu setelah kau menjelaskan perkataanmu di sudut lapangan tadi."
"Maksudmu tentang kau yang bodoh?"
Kinoshita menarik garis tipis di bibirnya. Perselisihan di depannya ini tidak begitu penting jika tidak mengingat Nishinoya merupakan bagian inti dari pasukan armada tahun kedua atau nama lainnya kumpulan anak-anak tak cukup kerjaan yang ngomong-ngomong diprakarsai langsung oleh si pendek itu sendiri. Dan karena mereka menjunjung tinggi solidaritas sebagaimana yang diajarkan oleh Takada-sensei, Kinoshita enggan membiarkan temannya digeluti masalah.
... yang tidak begitu masalah sebenarnya.
"Kau, meneriakiku tanpa sebab–"
"–itu bukan tanpa sebab–"
"–dan memotong perkataanku, bisakah kau tutup mulut sebentar saja?"
Nishinoya praktis merengut. Pipinya menggembung bagai balon. Dia tidak lagi memberontak dan sial, apa dia baru saja malah bersandar pada Suna Rintarou? Yah, meski tangannya, jari-jarinya masih mencubiti lengan pemuda itu.
Kinoshita ikut terkesiap melihat Nishinoya memekik, terkejut ditarik ke sebuah pangkuan. Kedua pahanya berada di luar sisi kaki Suna, tergantung karena memang Nishinoya itu begitu kecil yang entah mana baru benar-benar disadari Kinoshita. Pinggangnya dikungkung. Nishinoya refleks melingkarkan lengannya di sekitar leher pemuda yang kerap dijuluki rubah itu.
"Kakiku tidak bisa mendarat, brengsek!"
Apakah mereka berdua tidak punya malu?!
Tolong, Kinoshita tidak perlu mengingatkan di mana mereka semua berada. Kantin, saudara-saudara. Kantin. Kinoshita belum siap menjadi pusat perhatian, masa bodoh dengan duo sinting ini. "Kutinggalkan urusan kalian berdua di sini, harap-harap selesaikan."
Nishinoya dan Suna menoleh padanya seperti baru menyadari kehadiran sosok lain sejak pecahnya telur isu. Si kecil bersiap memprotes namun segera dibungkam dengan kecupan singkat. Dan ternyata Nishinoya baik-baik saja, Kinoshita tidak perlu memastikannya. Secepat kilat datang menyambar, Kinoshita dan bangkai sisa-sisa hawa keberadaannya hilang ditelan bumi.
Namun sebelum benar lenyap dari kantin, ia menyempatkan diri melihat kembali ke meja paling pinggir dekat dengan lapangan. Mendapati Nishinoya dan Suna tengah saling melumat. Suna terampil dalam berciuman, terutama bagaimana ia menghisap bibir bawah Nishinoya dan menyelipkan lidahnya, Nishinoya tersedak karenanya. Pemuda itu masih nakal dengan menggigit pelan bibir Nishinoya yang membengkak.
Dan sudah diputuskan, mulai sekarang hingga esok-esoknya, Kinoshita tidak akan ambil peduli dengan urusan antara rubah kelas A dengan cebol hiperaktif dari kelas C. Sama dengan Nishinoya Yuu dan Suna Rintarou yang tidak memperdulikan pendapat sekitarnya.
yeah, and that's SunaNoya here. I love Suna Rintarou.
–Cal.
