Takasugi Shinsuke terbatuk. Tersedak akan likuid sake yang salah masuk jalur ke tenggorokan; merisak alur pernapasan.

Kawakami Bansai menatap prihatin. Meski begitu, wajahnya masih datar serupa gulungan perkamen Jepang. Namun, toh—itu tak menghentikan sang lelaki untuk mengangkat tangannya, mengusap lembut punggung Shinsuke.

Yang diusap mendadak gerah dan menepis. "Apa kau gila?" semprot Shinsuke dengan alis bertaut. Mendadak saja mata kirinya berdenyut dengan cara yang—tak biasa. Tak menyakitkan, tapi asing keterlaluan.

Bansai terdiam sesaat. Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu? Terlebih—ia cukup yakin itu retorik.

"Aku hanya memujimu," Bansai berusaha membela diri sendiri, pada akhirnya. Meski ia yakin Shinsuke tak akan sembarang meraih katana miliknya dan lakukan tebasan serong hingga membelah lehernya, Bansai masih ngeri sedikit dengan iris limau yang menyorot berbahaya ke arahnya.

"Memuji?" Shinsuke mengulang. Rusak sudah suasana kalem dan teduh yang terangkai sedari tadi. "Kau menyebutku manis. Coba diulik lagi pola pikirmu dan beritahu aku—lelaki mana yang senang dipuji manis?"

Bansai malah—tak bisa menahan senyum kali ini. Bibirnya tertarik sebelah, menimbulkan kurva timpang yang terukir begitu sempurna pada wajahnya dengan garis rahang yang tegas.

Shinsuke menelan ludah. Manusia menyebalkan—bagaimana Bansai selalu tampak mengagumkan? Tampak menawan, bahkan dengan kacamata hitam konyol dan shamisen memalukan!

"Maafkan aku," Bansai berujar, pada akhirnya—mengalah. Selalu begitu, bukan? Mana mungkin ia bisa mempunyai ekspektasi Shinsuke akan mengalah—arogansi Shinsuke terlalu melangit untuk itu; harga dirinya terlalu kokoh. Pada akhirnya, akan selalu Bansai yang menundukkan kepala. Bukan berarti ia keberatan, sih. "Aku hanya ingin mengutarakan hatiku saja dan entah bagaimana, itu satu kata yang terlintas. Aku akan lebih hati-hati lain kali, Shinsuke-sama."

Shinsuke merotasi bola mata. Oh, begitu—sekarang Bansai malah sok formal?

"Tidak usah pura-pura sopan," tandas Shinsuke, kasar. "Aku pernah berada di antara kakimu dan sekarang kau bertingkah begini?"

Kali ini—Bansai yang tersedak. Udara.

Sang pemimpin Kihetai menggeram sebal. Tangannya terulur untuk mencengkram erat tengkuk si lelaki bersurai biru gelap—membawanya mendekat. "Maksudku adalah; kau tidak usah banyak omong."

Sekon berikutnya, Shinsuke menyatukan kedua bibir yang lembab. Bansai tersenyum di sela kecupan itu. Lembut, ia mendorong Shinsuke ke atas tatami. Tangannya yang berurat menyelip di balik helai kimono ungu.

Karena, lelaki lebih baik langsung bertindak saja daripada banyak berkata-kata, kan?


Gintama © Hideaki Sorachi

Manis by Saaraa