Hetalia © Hidekazu Himaruya

Story © Kira Desuke

IvanGil (Ivan Braginsky x Gilbert Beilschmidt)

Rate M Yaoi Alternate Universe

Another FWB thing, sorry I love it haha

.

.

.

LINE

.

.

.

Seharusnya sudah jelas sekarang.

"Sampai jumpa lagi."

Dua kata itu tidak benar-benar salah... tapi bisa salah kapan saja.

Gilbert ingin menatapnya, melihat wajah pria yang baru saja tidur dengannya hingga beberapa jam yang lalu. Namun sebelum dia bisa melakukan itu, pria itu menuju pintu tanpa melihat ke belakang. Gilbert membuka mulutnya sedikit sambil menatap punggungnya yang menjauh dan membuat jarak di antara mereka semakin jelas. Suara pintu terbuka lalu tertutup meyakinkan Gilbert untuk menutup rapat bibirnya dan melanjutkan tangannya bergerak mengancingkan sisa kemejanya.

Dia mencoba berdiri meski kakinya masih goyah. Gilbert mendesis ketika dia hampir jatuh beberapa kali tetapi cukup keras kepala untuk terus berjalan. Ini bukan yang pertama, tapi yah… sudah cukup lama sejak terakhir mereka melakukannya dan Gilbert tidak bisa mengabaikan rasa sakit merepotkan ini.

Bagaimana bisa pria itu santai meninggalkannya seperti ini? Paling tidak,

Fuck him. Really.

Gilbert mengambil tasnya dan berjalan keluar. Dia meninggalkan kamar hotel tetap apa adanya lalu berjalan tenang melewati para office boy yang telah bersiap membereskan kekacauan mereka. Dia masuk ke dalam lift dan turun melewati beberapa detik. Gilbert segera keluar begitu pintu terbuka, berhenti di depan resepsionis dan menyebutkan nomor kamarnya sementara dia menyibukkan diri dengan melihat telepon genggamnya.

Wanita yang memeriksa layar komputernya tersenyum ramah, "Semua layanan kamar telah dibayar oleh Tuan Braginsky, Sir. Anda tidak perlu membayar apa pun."

Gilbert terkejut sesaat hingga dia berhenti mengetik di atas layar touch screen di tangannya. Sampai akhirnya dia tersenyum untuk membalas informasi itu, "Begitu… baiklah."

"Apakah ada hal lain yang bisa saya bantu?"

"Tidak, tidak ada. Terima kasih."

"Terima kasih kembali. Selamat beraktivitas, kami tunggu kunjungan anda kembali."

Gilbert berbalik dan berjalan melalui pintu kaca otomatis, "Bukankah terakhir aku yang bayar?" dia bergumam pelan sementara tangannya menekan tombol taksi dan menunggu salah satu mobil kuning berhenti di depannya. Gilbert masuk ke dalam taxi lalu menyebutkan tempat tujuannya sebelum duduk terdiam.

Baik pengemudi dan dirinya sendiri tenggelam ke dunia masing-masing. Jalan panjang di depan dan Gilbert kehilangan hitungan berapa banyak lampu merah yang mereka lewati. Berputar dalam pikirannya sendiri untuk beberapa waktu sampai dia menutup matanya dan mengambil napas panjang untuk mengeluarkannya perlahan. Salah satu tangannya memijat bahunya agar merasa lebih rileks.

"Kupikir seharusnya ini giliranku…"

Masih bergumam bahkan ketika matanya menatap tajam pada jalan tidak bersalah di luar jendelanya.

"…lupakan."

Benar, lupakan saja.

Dia hanya perlu membayarnya kembali nanti.

Jarum jam berhenti pada pukul sembilan ketika Gilbert melompat keluar segera setelah dia membayar taksi. Semua orang di sana bisa melihat pria semi-albino itu sedang terburu-buru dari cara dia melihat arlojinya dan berjalan cepat, tidak mengurangi kecepatannya di tengah keramaian. Bisikan seperti 'Permisi' atau 'Maaf' keluar dari mulutnya berulang kali sampai dia tiba di depan salah satu ruang rapat dan menempelkan kartu identitasnya pada kotak sensor untuk membuka pintu.

"Gilbert Beilschmidt," suara pintu yang terbuka itu diikuti suara salah satu lelaki tua berjas yang familiar. Dia menatap Gilbert dengan tatapan menilai dari kursinya lalu memeriksa jam yang melingkar di tangannya sebelum mendengus keras, "hampir terlambat, ya?"

"Saya berhasil absen tepat waktu." Gilbert berkata dengan bangga, senyuman liciknya membuat lelaki tua yang sama menghela napas panjang, "Sudah bukan masalah, 'kan? Let's start!"

"…Baiklah."

Gilbert tidak perlu mendengar itu dua kali. Pria dengan rambut spike berwarna putih keabuan tersebut menyiapkan proyektor dan laptop sambil mulai menjelaskan beberapa proyek masa depan yang sedang dikerjakan timnya sekarang. Bukan hal yang sulit untuk Gilbert membuat seluruh penghuni ruangan menaruh perhatian padanya berkat kharisma dan kemampuannya membawa topik meeting dengan baik. Seketika para penghuni ruangan itu melupakan apa yang terjadi di awal dan fokus dengan tugas mereka masing-masing.

Waktu berlalu dan mereka akhirnya mencapai kesimpulan setelah beberapa diskusi untuk memecahkan masalah merk utama mereka. Tentu saja adanya catatan tambahan tidak bisa diabaikan tetapi setidaknya Gilbert masih mendapatkan apresiasi atas usaha kerasnya dengan sepadan. Tidak rugi juga semalaman menyiapkan presentasi hingga mengorbankan waktu tidurnya—dan Gilbert tahu dia menyeringai sombong saat memikirkan ini.

Gilbert bersenandung riang ketika dia sudah sendirian. Sebagian besar orang yang menghadiri pertemuan ini langsung keluar setelah keputusan dibuat. Dengan alasan perlu membereskan beberapa hal dulu, tidak ada yang berpikir ulang meninggalkan Gilbert dan kembali ke ruangan masing-masing lebih dulu. Gilbert jauh lebih rileks sekarang, belum lagi alasan utama mengapa Gilbert harus menjaga formalitasnya sudah pergi duluan sejak awal.

Hari ini sepertinya akan menjadi hari yang menyenangkan. Mungkin Gilbert bisa mempertimbangkan untuk kembali ke bar malam ini dan merayakannya. Kedua tangan Gilbert berhenti ketika dia mengingat sesuatu.

Jika dia juga bisa bertemu dengan pria itu, kali ini—

"Kau terlihat lebih bersemangat dari biasanya, Gil."

Gilbert menghentikan lamunannya dan melihat ke belakang.

"Dari reaksimu, aku melihat hasil rapat yang sukses. Selamat, Gil. Seperti yang diharapkan dari karyawan yang berhasil meraih peringkat terbaik tahun lalu."

Gilbert tertawa kecil mendengarnya dan menggelengkan kepalanya, "Aku bahkan tidak memenangkannya, kenapa kau sarkas begitu?" Gilbert tidak berpikir ada orang yang akan menemaninya saat ini tetapi dia terus merapikan barang-barangnya dan melanjutkan, "apa yang kau lakukan di sini, Toris? Kau perlu menggunakan ruangan ini?"

Pria berambut cokelat sebahu ituhanya tersenyum, "Nanti, masih beberapa jam sebelum giliran timku." Toris terdiam saat Gilbert mengaitkan lengan tas di bahunya sebelum berbalik, "Aku sedang mengambil kopiku dari dapur di sebelah sampai aku melihatmu dan mengingat sesuatu."

"Oh? Apa itu?"

"Yah…" Toris melihat cangkir kopi kertas di genggamannya, "…seseorang ingin bertemu denganmu. Salah satu bagian dari kemitraan divisiku."

Gilbert mengangkat alisnya dan memiringkan kepalanya, "Mitramu? Apa yang mereka inginkan dariku?"

Pertanyaan bagus.

Bukan hal yang aneh untuk ditanyakan karena Gilbert adalah Marketing Executive dari divisi Man Fashion sementara Toris adalah Merchandiser Executive dari divisi Food and Beverages. Kedua posisi bagian ini hampir tidak pernah bertemu dalam keadaan apapun kecuali saat membicarakan keseluruhan acara utama perusahaan. Acara semacam itu tidak ada di dekat jadwal mereka sekarang jadi Gilbert berhak untuk meragukan kata-kata temannya tersebut.

Toris menganggap reaksi Gilbert dapat dimengerti, tetapi dia tetap mempertahankan rahasianya, "Aku tidak tahu, dia bilang padaku untuk tidak menyebutkan namanya sampai kalian bertemu secara langsung dan memintaku untuk membawamu kepadanya jika kita kebetulan bertemu. Jadi… apakah kau ada waktu sekarang?"

Toris menatap kedua iris mata merah Gilbert dalam-dalam. Mata hijau zamrud-nya memperlihatkan kilat terang yang menunjukkan keseriusannya.

"Dia baru saja datang dan menunggu di ruang makan. Aku juga berencana pergi ke sana sekarang untuk mendiskusikan beberapa hal dengannya tapi itu bisa menunggu jika dia lebih memilih bertemu denganmu dulu."

Mulut Gilbert terbuka perlahan tapi tidak ada kata yang keluar sampai dia mengangguk sekali, "…Baiklah. Kuharap dia penting." Ucapnya dengan santai namun tetap mengikuti Toris keluar dari ruangan.

"Dia orang penting untuk pekerjaanku, tolong jaga sikapmu," Toris mengeluarkan protesnya dengan kedua alis yang mengernyit kesal—tahu sekali bagaimana sifat Gilbert di luar jam tugasnya. Melihat Gilbert yang tidak bergeming sama sekali membuatnya menghela napas, "Terserah. Dari cara dia bicara, sepertinya urusan kalian bersifat pribadi, aku tidak akan berhak ikut campur untuk itu." Toris menjelaskan sementara mereka terus berjalan.

Gilbert menutup rapat bibirnya saat mendengar ini. Pribadi? Dia tidak berpikir dia mengenal siapapun secara pribadi baik di perusahaan ini atau mitra manapun yang terkait dengannya. Teman-teman terdekatnya bahkan tidak bekerja di negara ini dan jarang datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Adik laki-lakinya masih kuliah sekarang, jadi dia jelas tidak mungkin. Dan yang paling penting mengapa orang misterius ini harus menyembunyikan namanya?

Lalu siapa? Salah satu mantan lamanya? Atau seseorang yang memiliki masalah khusus dengannya? Atau mungkin saja orang-orang sekedar lewat yang pernah satu sampai dua kali dengannya?

…Tidak mungkin.

"Kita di sini," Gilbert terbangun dari lamunannya dan sedikit terkejut ketika Toris berhenti tepat di depannya, menghalangi pandangannya melihat seseorang yang duduk di sudut dan membaca laporannya sendirian, "Mr. Braginsky, saya bertemu Beilschmidt di jalan, jadi saya membawanya ke sini kalau-kalau anda masih ingin bertemu dengannya." Kata Toris dengan segala hormat dalam setiap nada suaranya, sangat berbeda saat berbicara dengan Gilbert.

Butuh beberapa detik bagi Gilbert untuk membuka matanya lebih lebar saat perlahan tapi pasti dia menyadarinya.

Bragins…ky?

Pemilik nama itu mendongak perlahan seolah mengikuti suara detak jarum jam di kepala Gilbert. Toris menjauh dari pandangan mereka, memberi akses pada penglihatan Gilbert untuk mengkonfirmasi semuanya dengan jelas. Gilbert tidak bisa memilih kata-kata yang tepat ketika kedua matanya yang berwarna bloody red itu bertemu dengan amethyst purple itu lagi.

Lagi.

Tatapan itu sangat menawan dan memikat namun beracun. Gilbert terpaku di tempatnya berdiri, seluruh memori yang kembali dari malam sebelumnya membuat dia kembali teringat dengan siapa dia sebenarnya di luar gedung ini.

"…Ivan."

Nama itu terlalu melekat di lidahnya dan dia membencinya.

Pria keturunan Russian itu adalah orang asing yang seharusnya hanya perlu tidur dan pergi dari kehidupan Gilbert dalam satu malam. Gilbert mengira mereka berdua sudah paham dengan kesepakatan ini sejak hari pertama. Namun pada akhirnya, mereka terus melakukannya setiap kali mereka bertemu di bar favorit mereka.

Rasanya begitu nikmat dan tubuh mereka sangat cocok dengan satu sama lain. Mereka tidak pernah membicarakan apapun kecuali kehidupan seks mereka sebelumnya. Meskipun itu hanya sebagai referensi untuk pengalaman baru yang lebih baik.

Gilbert tahu namanya—Ivan Braginsky—setelah entah berapa kali mereka saling menggigit tubuh seperti binatang. Gilbert juga mengakui bahwa dia hampir yakin... mungkin menemukan buddy sex setelah sekian lamanya tidak terlalu buruk.

Tapi sekarang… lelucon macam apa ini?

"Hei, Gilbert."

Ivan hanya memasang seringainya yang tidak peduli sama sekali dengan apapun yang Gilbert pikirkan sekarang. Gilbert bisa merasakan seluruh kalimat penghinaan melewati kepalanya setiap kali Ivan memanggil namanya dengan mulutnya yang juga mengeluarkan bisa mematikan itu.

"Aku sudah memberitahumu sebelumnya, bukan? Sampai jumpa lagi."

#

.

.

.

.

.

#

Di bar biasa… dan waktu yang sama.

"Kita akan bertemu lagi, kan?"

Hari-hari berlalu menjadi minggu hingga akhirnya menjadi satu bulan telah berlalu seperti satu kedipan mata sejak saat itu. Satu bulan mungkin tidak cukup, Gilbert tahu dia akan membutuhkan waktu lebih lama untuk menjaga jarak dan memastikan. Apapun akan Gilbert lakukan selama dia bisa menghindari kemungkinan untuk bertemu wajah itu lagi. Dan seperti hari-hari sebelumnya, dia juga berencana untuk melewatkan jadwal minumnya saat ini di bar tersebut.

Tapi, kali ini kakinya berhenti melangkah di tengah jalan.

Gilbert mendecih pelan kemudian berbalik ke tujuan yang selama ini dia hindari.

Dia membuka pintu dan lagu bertema pop yang menggema di ruangan menyambut kedatangannya. Bahkan lagu yang keras itu pun tidak bisa menyembunyikan kehadirannya dari seseorang yang sepertinya selalu menunggu di kursi yang sama. Tidak butuh waktu lama sampai pria itu menoleh untuk menatapnya. Seolah-olah dia cukup tahu dari aroma yang hanya lewat sekilas atau mereka memiliki isyarat sendiri yang hanya mereka ketahui dan semacamnya.

Pria yang seharusnya dia benci itu melambaikan tangannya pada Gilbert seperti anak kecil polos yang tidak merasa bersalah sedikitpun dengan senyuman bodoh di wajahnya. Dia bahkan menebak dengan tepat bahwa Gilbert akan duduk di sampingnya dan tidak mungkin menolak tawarannya membelikan minum. Seakan ini sudah tertulis dalam sistem yang bahkan Gilbert sendiri tidak menyadarinya.

Semua berlalu cepat dan Ivan Braginsky terus berbicara meskipun Gilbert tidak memisahkan bibir atas dan bawahnya sedikitpun hingga dia minum dengan tatapan masih lurus ke depan.

Gilbert tahu betapa dia membencisenyuman dan suara menyebalkan itu.

Walau begitu, dia yang memilih kembali. Jadi siapa yang benar-benar idiot di sini?

"Hahaha, sebenarnya aku ingin melihat wajahmu yang kaget saat melihatku di sana tetapi kau tetap bersikap dingin. Harus kuakui reaksimu sedikit mengecewakan, tapi bukan berarti aku tidak memperkirakan itu."

Ivan mulai tertawa geli, tidak terlalu peduli dengan bagaimana Gilbert masih menggeram kesal di sampingnya. Dia sama sekali tidak terganggu oleh fakta bahwa dia satu-satunya yang berbicara selama tiga puluh menit terakhir.

"Kau harus minta maaf pada Toris, dia langsung tegang setelah kau pergi tanpa mengatakan apapun. Kasihan sekali, dia pikir dia dalam masalah karena perilakumu padaku."

Gilbert tentu saja ingat dengan keadaan terakhirnya bersama Toris tapi sebenarnya tidak peduli. Dia memang pergi dengan emosi di setiap sel darahnya pada saat itu, "Dia juga tetap salah." Sinisnya.

Ivan tampak terkejut hingga dia berhenti melanjutkan minumnya. Tidak terlalu berharap Gilbert akan menjawabnya setelah diam sejauh ini. Dengan senyuman lebar, Ivan menggeser tubuhnya sampai Gilbert tersentak ketika bahu mereka bersentuhan, "Benarkah begitu? Dia hanya membawamu kepadaku seperti yang kuminta. Jangan terlalu menyalahkannya."

"Berarti memang kau masalah utamanya."

"Benar. Dan aku tidak menyesalinya."

"Seharusnya kau menyesal, brengsek! Apa yang salah dengan isi kepalamu!?" Gilbert mengerang frustasi membayangkan seberapa jauh percakapan menyebalkan ini akan berlangsung. Menghela napas kasar dengan cepat, Gilbert mendorong Ivan menjauh dan turun dari kursinya, "Jaga jarakmu denganku, Sir." Dia berkata tegas untuk menekankan status mereka lalu mengambil gelas kosongnya untuk mengisinya lagi dengan bir favoritnya.

Pria berambut putih keabuan itu berniat pergi sambil mengutuk kebodohannya sendiri setelah minuman terakhir ini. Kenapa juga dia mempertimbangkan untuk kembali? Yah, tempat ini memiliki bartender profesional yang cocok dengan selera Gilbert dan lokasinya sangat strategis, tapi… apakah itu cukup menjadi alasan untuk tempat yang layak Gilbert perjuangkan meskipun harus bertemu dengan seseorang yang telah melanggar prinsip hidupnya dan melewati batas?

Sayangnya, iya.

Ivan yang harus pergi!—Gilbert sangat ingin mengatakannya. Tapi sisi logikanya selalu menang karena Gilbert tahu betul dia tidak pernah punya hak untuk mengusir pria ini dari tempat umum yang bukan miliknya. Gilbert yang seharusnya segera mencari tempat lain, tetapi terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan dia tidak punya banyak waktu luang untuk fokus pada hal remeh seperti itu.

Seleranya terlalu tinggi untuk kebaikannya sendiri. Pilihan yang tepat untuk Gilbert sekarang adalah mengabaikan segala sesuatu yang berhubungan dengan pria itu dan melanjutkan hidupnya apa adanya.

Lagi pula, pada akhirnya... dia memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi.

Ivan menyadari segala sesuatunya dengan sangat baik. Seolah dia bisa melihat apa yang Gilbert inginkan melalui mata merahnya meskipun tersembunyi di balik gelapnya malam. Gilbert bisa saja mencoba bersembunyi dan memilih peran sulit di setiap permainan yang mereka lakukan, Ivan akan beradaptasi untuknya. Ivan sadar bagaimana dia dengan santai terus melanggar aturan tidak tertulis di antara mereka dan mengapa Gilbert sangat marah tentang hal itu, tetapi tidak ada gunanya memusingkan hal yang sudah terjadi di masa lalu, 'kan?

Pria berdarah Russian itu tahu pasti Gilbert juga menyadarinya. Dia hanya tersenyum penuh arti saat melihat Gilbert mengosongkan gelasnya lalu langsung meraih pergelangan tangannya ketika dia akan kabur. Mengabaikan protes Gilbert, Ivan mendorongnya kembali membelakangi meja lalu mencium bibirnya yang dingin dengan sedikit keras dan membuat mereka berdua tersandung.

Tidak ada yang akan mengakui bahwa ada sesuatu yang klik sejak pertama kali mereka melakukannya.

Gilbert seharusnya membencinya namun tubuhnya segera merespon. Dengan geraman pelan, Gilbert mencoba mendorong lalu menjambak rambut Ivan dengan marah yang justru memperdalam ciumannya. Perlawanan tidak memberi perubahan sedikitpun, posisi Ivan di atas memberinya keuntungan untuk terus mendorong Gilbert sampai dia tidak bisa menahan tubuhnya sendiri. Tangan Gilbert yang sebelumnya berada di tempat terpisah kini berkumpul di rambut Ivan, kembali menarik kuat hingga terasa menyakitkan seolah ingin mencabiknya langsung dari kulit kepalanya. Meski semuanya terlihat kacau, Ivan tetap mencium Gilbert, memasukkan lidahnya ke mulut pasangannya dan mengajaknya berdansa.

Bartender dan pelanggan tetap lainnya tidak peduli dengan mereka. Pemandangan umum dimana situasi berubah dari ketegangan menjadi panas dalam arti sesungguhnya dengan sangat cepat. Mungkin orang-orang asing itu hanya bergerak jika ternyata keadaan berubah menjadi buruk hingga muncul pertumpahan darah. Beberapa pertengkaran pasangan bodoh seperti ini tidak akan membuat mereka berkedip.

Seperti sudah memperkirakan ini akan segera terjadi, Bartender mengambil gelas kosong mereka dengan tenang dan Ivan yang menyadari itu meletakkan kartu kreditnya di atas meja tanpa memisahkan bibir mereka. Bahkan di saat yang sama dia mulai mengambil posisi berada di antara dua kaki Gilbert dan menahan tubuh mereka dengan menyandarkan punggung Gilbert pada sisi meja sembari menunggu Bartender menyelesaikan pembayaran.

"Terima kasih dan selamat malam, Gentlemen."—adalahkata penutup sang Bartender yang sopan sebelum berbalik dan meninggalkan pasangan itu sendirian.

Mereka mengakhiri ciuman ini dan akhirnya merasakan napas mereka selaras menyentuh wajah satu sama lain. Napas Gilbert terdengar lebih kasar tetapi dia berusaha menyembunyikannya dengan menutup bibirnya dan memberi death glare untuk memperingatkan Ivan terakhir kalinya—meskipun dia sendiri tahu itu tidak berguna. Gilbert menggerutu pelan dan membuang muka, Ivan mengambil kesempatan untuk mencium lehernya dan menghirup aura panas yang menyengat di antara mereka. Dia tersenyum saat bibirnya menyentuh kulit Gilbert yang sedang menelan ludahnya.

"Kau ada meeting besok?"

Ivan bertanya lebih dulu saat tangannya mulai menjelajahi tubuh yang masih tertutup jas dan kemeja di bawahnya. Dia menambahkan tekanan pinggulnya dengan Gilbert, membiarkan pria itu merasakan gundukan di balik celananya. Gilbert menahan erangannya di balik bibir yang dia gigit, tidak akan memberi Ivan kepuasan apapun. Belum.

"…Apa? Memangnya ada yang beda?" Gilbert hampir meringis saat mengatakan itu, apalagi saat Ivan terus menekannya di bawah sana. Benar-benar mengganggu.

"Ya. Aku tidak akan terlalu kasar, jika kau mau," Ivan menghisap lehernya lebih keras dan Gilbert tersentak karena sensasi itu. Gilbert mulai melawan lagi tetapi Ivan hanya berpindah ke telinganya dan menggigit cupingnya, menguncinya di tempat, "anggap sebagai permintaan maaf untuk waktu itu? Setidaknya kau tidak perlu berjalan pincang ke rapatmu besok."

Gilbert menggigit bibir bawahnya saat Ivan menemukan bagian sensitifnya. Dia mengerutkan kening dan menarik dasi Ivan dengan kesal. Untuk pertama kalinya hari ini, pinggulnya membalas gerakan Ivan dan mencium bibir pria itu lebih kasar. Gilbert memeluk leher Ivan untuk memperdalam ciuman dan memaksa lidahnya masuk. Ivan membiarkannya melakukan apa yang dia inginkan sampai Gilbert berbisik di telinganya.

"Gimme a break, kau pikir aku perawanatau apa?"

Ivan membuka mulutnya sedikit, bisikan bernada berat dan dalam itu terasa seperti racun yang menembus kulitnya.

"Milikmu yang besar itu adalah satu-satunya barang bagus yang kau miliki."

Gilbert tahu dia membenci pria ini.

"Gunakan dengan sebaik-baiknya dan jangan mengecewakanku."

Tapi... dia punya kebutuhan.

Mulut yang terbuka itu berubah menjadi seringai. Ivan terkekeh pelan di sampingnya dan meremas pantat montok Gilbert yang langsung menutup mulutnya. Tangan Ivan terus bergerak di atas celana dan mulai menarik garis ruang di antara pantat itu seolah-olah tidak ada yang bisa membatasinya.

Ini terasa sangat benar, seperti tangan Ivan memang seharusnya berada di sana. Ivan mungkin akan mempertimbangkan untuk memasuki Gilbert saat ini juga tetapi dia tidak mau mengambil resiko membuat Gilbert lari darinya lagi.

"Sesuai permintaanmu, Sir."

Ini adalah hubungan Give and Take. Friend with Benefits. Ada garis pembatas yang tidak bisa mereka lewati sebagai aturan utama. Berganti pasangan lalu berpamitan hampir merupakan kewajiban yang sudah menjadi kebiasaan mereka sebagai kaum minoritas di tengah masyarakat yang tidak membutuhkan kepastian.

Walau begitu, mungkin mereka akhirnya akan menemukan sesuatu yang lebih baik tidak terungkap.

#

.

.

.

#

"Ah, jadi ingat."

Ivan berhenti membuka kancing kemejanya ketika dia mendengar Gilbert bergumam pelan.

"Kenapa kemarin kau yang bayar? Seharusnya giliranku."

Kali ini Ivan mengangkat alis untuk pertanyaan tersebut. Dia membuka mulutnya ketika menyadari maksudnya, "Oh, itu. Tidak masalah, 'kan?"

"Masalah bagiku. Kau tahu aku tidak mau berhutang apapun padamu."

"Kau tidak perlu memikirkannya. Bagaimana kalau sesekali menikmati layanan gratis yang diberikan padamu?"

"Lucu sekali."

"Jangan terlalu dipikirkan."

"Aku tidak—"

Ivan mencium bibir Gilbert cepat dan penuh tekanan untuk membuatnya diam. Mulutnya terbuka untuk menggigit bibir bawah Gilbert sedikit sebelum menghisapnya dengan kuat. Gilbert menggeram pelan di balik ciuman itu sebelum menarik diri, mengeluarkan nada protes saat dia melakukannya. Ivan tertawa pelan mendengarnya lalu dia berbalik untuk menggantung jas luarnya di tiang gantung pakaian. Dia berdiri di depan lemari, melakukan entah apa yang tidak bisa Gilbert lihat.

Sementara itu, Gilbert masih menutupi bibirnya dengan punggung tangannya. Dia duduk di sisi kasur, masih mengenakan jas dan kemeja lengkapnya—hanya saja lebih berantakan dari sebelumnya. Ivan tidak pernah memaksa untuk membuka pakaiannya, sesuatu yang tidak terlalu dipikirkan Gilbert sampai beberapa minggu yang lalu. Mungkin ini cara Ivan untuk menunjukkan bahwa dia akan menghormati apapun keinginan Gilbert dan akan mengikuti pasangannya itu sampai dia siap.

Tapi, tetap saja menyebalkan karena Ivan suka mengacaukan pakaiannya sampai Gilbert tidak punya pilihan selain menelanjangi dirinya sendiri.

Pada akhirnya… hasilnya tetap sama.

Sebelum memasuki kamar ini, Gilbert tidak bisa menghitung berapa kali Ivan terus mendorongnya ke dinding lalu menyerang bibir dan lehernya. Gilbert mungkin tidak memiliki kesabaran, tetapi secara pribadi dia menganggap Ivan jauh lebih buruk. Meskipun Gilbert tidak bisa melihatnya, dia berani bertaruh tanda merah di leher dan dadanya akan kembali sebelum bisa hilang sepenuhnya.

Lebih buruk lagi, Gilbert bisa merasakan sesuatu yang semakin sesak di celananya. Dia tidak perlu menunduk ke bawah untuk melihat apa yang terjadi. Matanya hanya mengamati Ivan yang berjalan kemudian duduk santai di single sofa dengan kaki disilangkan. Sebotol vodka di atas meja di sampingnya ketika dia menghela napas lega.

"Kau bisa mandi dulu." Ivan memberi jeda untuk meminum alkoholnya lalu menatap botol di tangannya dengan malas, "Kau mungkin membutuhkannya."

"Dan kau tidak?"

Balasan langsung itu membuat Ivan melirik pria di seberangnya, "Aku akan melakukannya nanti."

"Begitu pula aku." Gilbert menghela napas panjang sebelum berdiri dan menghampiri Ivan. Mengelus pahanya, Gilbert memisahkan kedua kaki Ivan dan memberi ruang untuknya.

Kali ini Gilbert berinisiatif untuk mencium Ivan terlebih dahulu, lidah mereka kembali beradu saat Gilbert mengambil posisi kepalanya di atas Ivan. Gilbert memaksa Ivan untuk mendongak dengan kedua tangan memegang sisi-sisi leher dan wajahnya, dia menggunakan lutut untuk menekan Ivan yang membuatnya menahan geraman di tengah ciuman. Setelah beberapa detik, Gilbert melepaskan ciumannya dan berbalik.

Sebelum Ivan sempat bingung apa yang Gilbert lakukan, rahangnya lebih dulu mengeras dan dia reflek menahan napasnya seketika Gilbert sengaja duduk kasar di atas selangkangannya dengan tekanan lebih dari yang seharusnya.

Gilbert tidak berhenti dan terus menekan Ivan di belakangnya sampai dia bisa mendengar napas pria itu semakin berat. Ivan sadar Gilbert sedang menguji kesabarannya—tidak, kesabaran mereka berdua. Ini adalah kompetisi untuk melihat siapa yang akan kalah lebih dulu dari nafsu yang telah hadir di depan mata mereka.

Itu, atau Gilbert hanya mencoba cara baru untuk menggodanya tanpa kata-kata.

Ivan mulai mendekati batasnya tetapi masih bisa menyeringai, "Lihat siapa yang bersemangat sekarang." Dia meletakkan kembali botolnya di atas meja lalu mengelus sisi pinggang Gilbert yang sedikit lebih ramping darinya.

Tubuh Gilbert bergetar pelan saat Ivan menyentuhnya namun dia membuka kakinya begitu tangan Ivan mencapai tonjolan di bawah. Ivan mengusapnya dengan lembut sebelum masuk ke balik celana membuat tubuhnya tersentak. Gilbert menggigit bibir bawahnya untuk menahan erangan dan menyandarkan kepalanya di atas bahu Ivan.

"…Diam." Bisik Gilbert pelan.

Ivan tetap tersenyum lalu mulai meremas kejantanan Gilbert lebih keras. Gilbert tidak menyangka ini dan hampir berteriak, dia mencakar lengan Ivan dan menghentakkan kepalanya ke belakang. Tanpa sengaja memperlihatkan leher jenjangnya yang mengundang Ivan untuk menghisapnya sembari tetap menggerakkan tangannya lebih cepat. Tangan Ivan yang lain menutupi mata Gilbert, benar-benar menghalangi pandangan untuk menambah rangsangan pada tubuhnya. Dia terus mencium dan menghisap leher Gilbert, turun ke bahunya. Gilbert menjambak rambut Ivan di belakangnya dan pinggulnya bergerak seirama dengan tangan pria yang terus mengocoknya.

Gilbert meneriakkan nama Ivan pada klimaks pertamanya. Alkohol membantu tubuhnya menjadi lebih sensitif dari biasanya, hanya saja untuk sekedar pengingat… sudah satu bulan berlalu sejak terakhir kalinya. Gilbert bisa merasakan tubuhnya semakin lemas tetapi pada saat yang sama dia juga menyadari bahwa dia masih jauh dari selesai. Ivan tentu saja mengetahuinya dan segera menggunakan cairan Gilbert sendiri untuk memasukkan satu jari ke bawah sana. Beberapa detik sebelum dia menambahkan jari kedua dan ketiga dengan cepat.

Rasa tegang meninggalkan tubuh Gilbert saat dia mulai lebih fokus pada Ivan. Seluruh frustrasi yang menumpuk selama sebulan terakhir perlahan bersembunyi di balik tirai. Gilbert tahu Ivan tidak peduli dengan semua ini, jadi dia juga mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya.

"Jika kita bertemu secara tidak sengaja di tempat umum, tidak perlu mengganggap kau mengenalku."

Ivan hanya senang bermain-main dengannya.

"Aku tidak ingin hubungan lebih jauh dengan penghangat kasurku."

Setelah semua ini berakhir, mereka akan menjadi orang asing lagi.

Jari-jari Ivan tidak mencapai titik itu tetapi gerakannya cukup untuk membuat Gilbert merasa penuh. Napasnya terdengar cepat seiring dengan kebutuhannya yang meningkat. Dia mulai mencakar lengan Ivan, memintanya untuk bergerak lebih cepat dan dalam. Ivan mendengar Gilbert memanggil namanya samar-samar sehingga dia mendekat dan menuntun kepala Gilbert untuk menoleh ke belakang sampai Gilbert yakin lehernya akan sakit nanti. Mereka menyatukan bibir lagi, kali ini lebih canggung dari sebelumnya tapi Ivan bisa memanfaatkan situasi untuk fokus membuka jalannya di bawah sana.

Gilbert hanya diam membalas ciuman mereka sehingga Ivan bisa melakukan pekerjaannya lebih mudah, meskipun begitu Gilbert tetap bergerak membantu jari-jari Ivan melakukan tugasnya sekaligus mencari fraksi yang membuatnya mendesah pelan. Pada akhirnya Gilbert juga tidak mau ketinggalan, dia menyelipkan tangannya dan menemukan milik Ivan yang sudah setengah keras. Ivan bisa merasakan tangan Gilbert dan memajukan pinggulnya untuk menantang Gilbert menyentuhnya lebih jauh.

Gilbert menerima tantangan itu dan meremasnya dengan keras sebelum membelainya lembut. Dia mengocoknya lebih cepat, terutama ketika Ivan menggeram dan menggoyangkan pinggulnya sebagai tanggapan.

Ivan bisa merasakan dia akan segera klimaks jika Gilbert terus melakukannya, dia menarik jarinya dan meraih tangan Gilbert, "Cukup." Dia berkata dengan tegas lalu menggigit bahu Gilbert sebagai peringatan. Gilbert meringis dan menatapnya kesal, tangan Ivan tidak menutupi matanya lagi dan mulai berpindah. Permukaan tangan Ivan terasa begitu panas di atas dada bidangnya yang masih tertutup kemeja.

"Ride me."

Itu bahkan bukan perintah atau izin, lebih seperti sesuatu yang memang seharusnya terjadi. Gilbert menutup mulutnya, tidak mengatakan apapun saat dia menurunkan celananya dan membiarkannya jatuh ke lantai. Dia mengangkat tubuhnya dengan tangan memegang kejantanan pria itu lalu mengarahkannya ke lubang bawahnya. Sedikit sakit karena Gilbert masih belum terlalu rileks sampai Ivan memegang pinggangnya. Saat kepalanya sudah masuk, Ivan menariknya dengan cepat hingga terduduk dan sebuah sentuhan langsung ke titik yang tepat membuat Gilbert tersentak.

Ivan mendesis pada rasa sesak yang mengelilinginya. Dia membiarkan Gilbert menyesuaikan dirinya sebelum benar-benar bergerak naik-turun sendiri. Gilbert mulai bergerak lebih cepat, tangannya meremas pegangan kursi di kedua sisi saat dia menarik ke atas dan turun ke bawah sambil menahan erangannya agar tidak keluar semakin keras. Ivan meraih dadanya dan mengusapnya dari luar sembari membuka kancing kemejanya satu persatu. Setelah menemukan jalan untuk menyentuhnya secara langsung, Ivan meremas dan mencubit nipple yang menambah rangsangan pada tubuh Gilbert.

"Tidak… Ivan…" Gilbert tidak bisa menahan diri lagi dan terus bergerak hanya fokus pada klimaksnya sendiri. Dia tidak bisa memikirkan hal lain selain sentuhan Ivan di tubuhnya, semakin sulit ketika pria di belakangnya mulai menghisap tengkuknya lebih kuat, "…tolong…" bisikan permohonannya terdengar dan gerakan Gilbert semakin lambat saat dia mulai lelah hingga akhirnya dia benar-benar jatuh dengan menelan seluruh milik Ivan.

Tapi itu saja sudah lebih dari cukup. Ivan memeluknya dari belakang dan ikut bergerak. Dia menghujam titik yang tepat dan tubuh Gilbert melengkung seketika kenikmatan menenggelamkannya. Ivan menarik kedua tangan Gilbert ke belakang, menahannya selama pinggulnya keluar-masuk di bawah tanpa henti. Ivan menggertakkan giginya kemudian mengangkat Gilbert dan mengubah posisinya membungkuk di atas meja. Dia kembali menabrak prostat Gilbert lebih keras, posisinya lebih leluasa sekarang.

Gilbert memegang tangannya sendiri di atas meja, seluruh tubuhnya gemetar saat dia benar-benar di bawah kuasa Ivan. Dia bisa merasakan Ivan membelai punggungnya mengikuti garis lekuk tubuhnya. Cukup yakin Ivan akan menciumnya dan meninggalkan jejak jika dia tidak mengenakan pakaian atasnya. Ivan melepaskan kemeja Gilbert hati-hati, memastikannya tidak sampai robek kemudian melemparnya sejauh mungkin. Dia turun mencium tengkuk belakang Gilbert dengan lembut sebelum membuka mulutnya.

Gilbert tanpa sadar mengeluarkan teriakan lebih keras saat Ivan menggigitnya. Keras. Giginya menancap dalam menembus kulit Gilbert, mengeluarkan darah yang membuat siapapun yang melihat akan bertanya-tanya betapa sakitnya itu. Gilbert memang merasa sakit, tetapi sakit itu menyatu dengan kenikmatan yang tidak bisa dijelaskan begitu Ivan kembali menyentuh titik yang sama. Ivan menggerakkan miliknya dengan cepat dan intens, menggunakannya dengan sangat baik hingga setiap bagian dari tubuh Gilbert bisa merasakan dominasinya tanpa terkecuali.

Ini gila. Kenikmatan yang intens ini terlalu luar biasa. Kejantanan Ivan mengisinya dengan sangat baik. Sangat tepat, seperti memang dibuat untuknya. Tubuh mereka yang compatible membuat Gilbert sangat ketakutan karena dia bisa merasakan sensitivitasnya meningkat. Ivan bahkan tidak perlu menyentuh miliknya untuk membuatnya mencapai puncak.

"IVAN!"

Gilbert bisa merasakan dia klimaks tidak lama setelah Ivan menggigitnya. Ivan mendesis pelan dan mengikutinya, memasukkan cairannya ke dalam tubuh Gilbert sembari membiasakan diri dengan sensasinya. Biasanya mereka menggunakan pengaman tetapi Gilbert sadar kali ini dia pasti sangat frustasi hingga lupa mengingatkan Ivan atau sebaliknya. Gilbert tahu dia akan menyesalinya nanti, tetapi dia membiarkan Ivan mengeluarkan semuanya untuk saat ini.

Gilbert menjatuhkan kepalanya di atas tangannya. Mungkin dia akan tertidur seandainya dia tidak merasakan tangan Ivan menyentuh miliknya dan mengocoknya perlahan. Jari-jarinya mengelus garis urat batang Gilbert lalu meremas buah zakarnya beberapa kali. Pria semi-albino itu berusaha untuk tidak mempermasalahkannya, namun pada akhirnya dia bisa merasakan pijatan Ivan membuatnya kembali mengeras.

Tentu saja Gilbert tidak mau mengakuinya dan dengan keras kepala menyembunyikan wajahnya meskipun faktanya dia mulai bergetar di setiap sentuhan yang ada, bahkan kedua telinganya mulai terlihat memerah. Milik Ivan yang masih di dalam dirinya tidak membantu sama sekali, keheningan di antara mereka hanya memperburuk efeknya.

"…Fuck."Gilbert akhirnya mengutuk pelan dan memelototi Ivan di belakangnya, "Lakukan dengan benar jika kau ingin lagi, brengsek."

Ivan tertawa puas mendengarnya sebelum dia tersenyum seperti anak kecil yang polos. Menambah tenaga di remasannya yang membuat tubuh Gilbert berjengit kaget dan mempersempit ruangan di bawah sana.

"Thought you wouldn't ask."

Dan mereka tahu malam ini masih sangat panjang.

#

.

.

.

#

Bangun sendirian di tempat tidur adalah hal yang sudah biasa bagi Gilbert. Tapi hari ini sedikit berbeda karena Gilbert menyadari tidak sepenuhnya sama. Perlu beberapa detik kemudian dia benar-benar terbangun dengan kenyataan bahwa dia tidak berada di kamarnya sendiri. Gilbert mendengus pelan saat dia mencoba menggerakkan pinggangnya dan suara retak menegaskan bahwa dia perlu lebih banyak waktu untuk bangun dari tempat tidur.

"…Ugh," Gilbert membenamkan wajahnya di atas bantal, menggeram seolah-olah bantal itu yang bermasalah dengannya, "you must be kidding me."

Ketika pikirannya sudah lebih jernih dan tubuhnya telah menyesuaikan diri, Gilbert membalikkan badannya untuk melihat pakaiannya tersebar di setiap sudut. Suara seseorang yang sedang mandi membuat Gilbert sadar bahwa dia masih belum sendiri. Gilbert mencoba mengabaikannya dan menyentuh rambutnya, menyisirnya perlahan untuk menutupi helai-helai rambut tidurnya. Saat itulah dia melihat sesuatu di atas meja dan gerakannya berhenti.

Ivan keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah yang dia keringkan menggunakan handuk yang digantung di lehernya. Dia masih menyenandungkan beberapa lagu, berjalan menuju lemari es untuk mengambil minuman kalengnya sebelum melihat Gilbert, "...Apa yang kau lakukan?"

Gilbert tidak langsung memberikan tanggapan dan matanya masih fokus dengan sesuatu, "Perempuan—tidak, laki-laki ini… dia cantik."

Ivan berhenti sejenak ketika dia mengerti, namun dia lanjut membuka penutup kalengnya, "Aku tidak ingat memberimu izin untuk menyentuh dompetku."

"Ya, sama seperti kau yang memanggilku seenaknya di depan umum."

"Kau masih memusingkan hal itu?"

"Supaya kau ingat betapa kesalnya aku."

"Oke, cukup adil," Ivan tertawa pelan ketika dia mengambil minuman kaleng satu lagi dan membawanya ke Gilbert. Dia sengaja menekan permukaan kaleng dingin ke wajah Gilbert yang langsung meringis dan menatap Ivan kesal, "bagaimana tubuhmu?" tanya Ivan sembari mengambil dompetnya dari tangan Gilbert lalu duduk di tepi kasur menghadap jendela besar di depannya.

Mendengar pertanyaan itu, Gilbert memperhatikan sisi wajah Ivan sebelum melirik ke arah lain. Tangannya meremas permukaan kaleng dingin di genggamannya, "…Kau benar-benar ingin tahu?"

"Tidak juga."

"Kalau begitu jangan tanya, bodoh."

Gilbert mendesah keras untuk menyembunyikan kekesalannya. Dia menatap minuman kalengnya sendiri meskipun pikirannya kembali fokus pada foto pria cantik berambut hitam panjang di dompet Ivan sebelumnya. Dia kembali menatap Ivan yang sudah duduk di depannya, memperhatikan jendela dalam diam.

Dia bisa melihat sepasang iris mata berwarna amethyst purple, warna mata yang langka untuk seorang pria. Terlihat sangat kesepian ketika seberkas cahaya membiaskannya sebelum Ivan menyembunyikannya lagi.

"…Dia cinta pertama atau apa?"

Gilbert tahu dia tidak berhak bertanya.

Senyuman Ivan menghilang selama beberapa detik. Dia menemukan kembali kedua iris mata bloody red milik Gilbert yang menatapnya dalam keheningan yang tidak nyaman di antara mereka. Terus bertatapan sampai Ivan mendengus dan tersenyum dengan penuh makna di baliknya. Gilbert tetap memasang wajah seriusnya hanya untuk melihat apa yang akan Ivan jawab perihal privasi tersebut. Dia pasti akan berhenti jika Ivan memintanya, tetapi jika tidak—

"Kau bilang akan pergi ke kantor setelah makan siang, kan?"

Pertanyaan mendadak itu membuat Gilbert lengah, "Ya, mungkin." Tidak memperhatikan Ivan yang berdiri dan berjalan ke arahnya, Gilbert meraih hpnya untuk melihat waktu saat ini, "Tapi, aku berencana untuk pergi lebih cepat—"

Gilbert tidak mengira bibirnya akan dicium ketika dia mendongak untuk melihat Ivan lagi. Dia mencoba melawan, namun ada sesuatu yang rumit di balik semua ini yang Gilbert sadari namun dia tidak bisa memahaminya. Ivan memaksa lidahnya masuk dan mendorong tubuh Gilbert untuk berbaring lagi di atas kasur. Ivan memperdalam ciumannya dan mulai menurunkan selimut di bawahnya, menunjukkan tubuh telanjang Gilbert yang terekspos sempurna. Ivan mengakhiri ciumannya kemudian mencoba memasukkan dua jarinya ke mulut Gilbert namun ditolak dengan cepat. Seolah tidak mempedulikan itu, Ivan bergerak ke leher Gilbert untuk turun menggigit dan menghisap nipple berwarna merah muda yang kembali tegang.

Gilbert menjambak rambut Ivan secara refleks, mencoba mengabaikan tubuhnya yang mulai merespon meskipun gagal. Ivan kembali menciumnya dan Gilbert meleleh bersamanya. Merasa bahwa perlawanan Gilbert telah berkurang, Ivan melepaskan ciuman mereka dan mendesak Gilbert untuk menghisap jarinya sekali lagi. Pada akhirnya Gilbert mau melakukannya dengan enggan, lidahnya melewati jari-jari Ivan, menjilat lalu menghisapnya sesuai permintaan.

Ivan menarik jarinya setelah beberapa saat dan menggunakan jari yang sama untuk memasuki lubang pasangannya. Gilbert tersentak dan menghentakkan kepalanya ke bantal, memperlihatkan lehernya yang penuh dengan tanda-tanda yang diberikan Ivan sebelumnya. Kejantanan Gilbert bergetar karena sensasi ini, mengenai Ivan karena menginginkan sesuatu. Ivan tertawa pelan melihat reaksi tubuh pria di bawahnya, dia mencium kening Gilbert dan menyentuh titik yang selalu berhasil membuatnya mendesah.

"Terlalu mudah."

Pria berambut putih keabuan itu menggertakkan giginya kesal sekaligus menahan erangannya. Ivan mencengkeram kedua paha Gilbert dan memberi jarak satu sama lain sehingga dia bisa menyelaraskan posisi tubuh mereka. Gilbert bisa merasakan Ivan dengan sengaja menancapkan kuku ke kulit pahanya untuk memberikan rasa sakit yang sebenarnya disukai tubuhnya.

Gilbert berbisik pelan di tengah erangannya pada Ivan yang masih tersenyum, "…Fuck you."

"Dan aku akan senang hati melakukannya."

#

.

.

.

.

.

#

Sebagian sudah mengabur tapi… Gilbert ingat beberapa momen pada pertemuan pertama mereka.

Pandangan mata mereka bertabrakan saat memesan minuman masing-masing. Gilbert menyadari percikan yang hadir itu tetapi dengan cepat mengabaikannya dan membuang muka. Paling tidak yang ada di pikirannya saat itu akhirnya ada seseorang yang menarik perhatiannya malam ini. Gilbert ingin mengambil langkah pertama tetapi Ivan yang waktu itu belum dia ketahui namanya mungkin menyadari niatnya juga sehingga dia memilih untuk melihat apa yang akan pria itu lakukan.

Dan firasatnya yang awesome itu selalu benar.

Gilbert bisa melihat dari sudut matanya bahwa pria itu berjalan ke arahnya. Dia menyeringai di balik gelas sebelum meminum alkoholnya sampai habis dan Ivan duduk di sampingnya dengan senyuman penuh arti. Setelah Gilbert menghabiskan isi gelas pertamanya, Ivan menggeser gelasnya mengenai gelas Gilbert, menimbulkan suara dentang yang terasa seperti gema di dunia mereka sendiri.

"Bagaimana caramu menikmati minumanmu?"

Pria yang to the point, Gilbert tampak terkejut sekilas sebelum menyeringai dan menoleh ke arahnya.

"Tergantung seberapa enak rasanya."

"Kau akan menyukai yang ini."

"Ah, benarkah?"

"Mau mencoba?"

"Tawaran yang menarik. Tapi, aku tidak ingin kecewa nanti." Gilbert menuang cairan di botol lagi ke gelasnya dan meminumnya, "Need to take a break for a while, don't you think?"

Gilbert tidak pernah ragu untuk menunjukkan kebosanannya. Bahkan kepada orang asing yang berusaha membuat kesan baik untuknya. Pada beberapa pengalaman pertamanya, Gilbert akan memberikan respon yang sama hanya untuk bersikap sopan. Tapi sekarang setelah semua yang dia lalui, Gilbert terlalu lelah melakukan basa-basi lagi dan ingin langsung ke intinya saja.

Orang asing ini sepertinya mengerti.

Tetapi mengertidan memiliki skill adalah hal yang berbeda.

Gilbert tidak tahu apa yang dilihat Ivan darinya saat itu. Meskipun Gilbert mengakui bahwa dia mengira akan mendapat reaksi dingin seperti beberapa pria dan bahkan wanita yang mencoba mendekatinya sebelumnya.

Tapi, Ivan tidak terlihat mundur sama sekali. Dia justru menyeringai lalu memasukkan gelasnya sendiri ke gelas Gilbert, membuat dentang itu terdengar lagi namun lebih keras.

"Deal."

Tidak bisa benar-benar mendengar Ivan saat itu. Kedua mata berwarna bloody red tersebut terlalu fokus pada posisi dua cangkir yang Ivan buat untuk menunjukkan posisi mereka malam ini.

Ivan menghilang di pagi harinya dan tidak mengatakan apa-apa. Dia membayar malam pertama mereka dan Gilbert hanya tahu dari resepsionis bahwa pria itu memiliki nama keluarga, 'Braginsky'. Satu minggu berlalu dan mereka bertemu lagi di kursi yang sama. Kali ini Gilbert yang membayar semuanya dan tidak menerima protes apapun. Ivan menurut dengan tenang dan tidak pernah bertanya.

Pertemuan mereka menjadi bulanan hingga mingguan, mereka membayar malam panas itu secara bergantian. Tidak peduli siapa yang akan pergi lebih dulu, Gilbert dengan keras kepala mengatakan semuanya harus tetap teratur dan rapi. Meski begitu, Ivan tetap senang bermain-main hanya untuk membuatnya kesal.

Apalagi sejak suatu hari dia mengatakan Gilbert terlihat sangat imut jika sedang marah. Ivan tidak pernah berhenti mengungkitnya dan entah berapa kali urat kesabaran Gilbert terputus karenanya. Terkadang mereka berpapasan di kantor saat Ivan sedang visit atau tempat umum lainnya, Ivan tidak menyembunyikan seringai dan tawanya sama sekali yang mengundang perhatian orang-orang di sekitar mereka. Tentu saja dibalas Gilbert dengan tatapan tajam dan sebisa mungkin bersikap biasa seolah dia memang tidak mengenal pria besar itu sebagaimana mestinya.

…Namun setelah semua ini, Gilbert bertanya pada dirinya sendiri mengapa dia tidak pernah pergi.

Di sana, di tempat yang mereka janjikan dalam diam, dia akan bertemu dengan sepasang amethyst purple yang sama menatapnya dengan lapar lagi.

Ivan Braginsky seharusnya menjadi batu pijakan bagi Gilbert yang hanya perlu dia lewati sekali dalam hidupnya. Seseorang yang Gilbert bisa tinggalkan kapanpun dia mau. Ivan tampaknya menyadari itu dan mungkin telah mempersiapkan segalanya. Dia tidak pernah terlihat memikirkannya atau berniat membicarakannya dengan Gilbert. Dia tidak pernah memaksa Gilbert melakukan apapun kecuali saat mereka di kamar, terjebak di atas kasur yang telah mereka sewa.

Hanya saja Gilbert bisa merasakan ada yang tidak beres. Ada alasan yang tidak bisa dijelaskan yang membuat dia harus mengakhiri segalanya sebelum terlambat. Seperti insting alami.

Sekarang adalah keputusannya.

Gilbert meletakkan gelas kosongnya di atas meja.

"Ini yang terakhir."

Ivan menghentikan bibir botol Vodka itu di depan mulutnya. Dia melirik Gilbert di sampingnya lalu minum lagi dan berkata, "Tidak biasanya kau mengatakan itu lebih dulu—"

"Tidak hanya minuman ini." Gilbert mempertahankan nada seriusnya dan menatap lurus ke arah Ivan, "Kurasa sudah cukup. Semuanya."

Ivan balas menatapnya dan tidak membuka mulutnya sedikitpun. Hingga akhirnya dia tersenyum tipis dan memalingkan wajahnya. Tidak menunjukkan keraguan dan dia menerima pernyataan Gilbert dengan baik.

"…Oke."

Jawaban yang sederhana. Seperti yang selalu Ivan lakukan.

Gilbert menhela napas lega karena dia bisa mengatakannya tanpa terlihat aneh tapi sekarang ada sesuatu yang hilang. Masa-masa hening dimana mereka menuju hotel baru, memesan kamar, lalu berjalan di koridor. Gilbert merasa seperti sedang menunggu tapi tidak tahu apa yang dia tunggu. Ivan masih terlihat sama dengan senyuman bodoh dii wajah tampannya dan bersenandung tenang. Bagi Gilbert, semuanya terasa begitu campur aduk bahkan setelah pintu yang akan menemani malam terakhir mereka telah terbuka.

Tapi semua pikiran Gilbert terbuang dengan cepat begitu Ivan mendorongnya ke dinding segera setelah mereka masuk. Ciuman penuh gairah dan kekasaran yang Ivan gunakan tidak banyak berubah. Gilbert akhirnya memilih untuk melupakan semuanya dan memeluk leher Ivan. Membiarkan pria itu mendominasi mulutnya sambil melepaskan penghalang mereka.

Mereka pindah ke tempat tidur setelah telanjang dan Gilbert lebih dari siap untuk menunggunya. Gilbert biasanya tidak nyaman ketika pasangannya terlalu sering menciumnya, tetapi mungkin karena Ivan adalah pasangan sex terlamanya, dia akan membiarkannya. Ivan menghafal bagian sensitif Gilbert dengan baik, memastikan tubuh pria itu tersentak setiap kali dia mengusap dan menciumnya. Cengkeraman Ivan pada penis Gilbert sangat kuat tetapi desahannya juga semakin keras. Tidak mungkin Ivan tidak menyadarinya.

"T-Tunggu…" Tangan Gilbert di bahu Ivan membuatnya berhenti. Gilbert mendorongnya ke belakang seraya berbisik, "…biarkan aku yang melakukannya."

Ivan tidak begitu mengerti apa yang terjadi tapi dia tetap berbaring di kasur dan membiarkan Gilbert melanjutkan. Gilbert merangkak di atasnya untuk mencari akses yang lebih baik dan sekarang Ivan bisa merasakan lidah Gilbert di kejantanannya. Ivan tersenyum kecil lalu melihat milik Gilbert yang juga menegang di atasnya. Ivan juga menyesuaikan posisinya lalu menggunakan jari-jarinya untuk mempersiapkan lubang Gilbert sementara mulutnya melakukan hal yang sama seperti pasangannya itu.

Biasanya Ivan yang justru berinisiatif melakukan sebaliknya. Walau begitu, Ivan tidak punya tempat untuk mengelak karena blowjob Gilbert benar-benar terampil. Entah dari mana Gilbert mempelajarinya tapi dia seharusnya lebih sering menggunakan mulutnya seperti ini. Ivan yakin wajahnya akan ditendang jika dia mengatakannya terus terang.

Cukup lama menghisap milik Ivan sampai akhirnya Gilbert berhenti merasakan kejantanan itu sempat berkedut di mulutnya, "…Sudah waktunya." Mulut Gilbert masih terasa perih karena penis Ivan tidak muat seluruhnya di dalam mulutnya—tentu saja dia tidak akan mengakuinya. Dia berbalik dan duduk di atas perut Ivan. Menyeringai saat menatap Ivan yang masih berbaring di bawahnya, "Apakah ada hal lain di pikiranmu?"

Ivan bingung dengan pertanyaan itu dan mengangkat sebelah alisnya, "Apa maksudmu?"

Gilbert membuka mulutnya sedikit untuk mengatakan sesuatu tetapi segera menutupnya. Setidaknya setelah beberapa detik, dia kembali bertanya, "Apa kau tidak menginginkannya?" Gilbert meraih wajah Ivan dan membelai pipinya dengan lembut, "Berhubungan seks dengan cowok cantik berambut hitam itu?"

Ekspresi Ivan tidak bisa terbaca. Gilbert yakin dia sudah memperkirakannya tetapi melihatnya langsung di wajah yang hampir selalu tersenyum itu masih luar biasa.

"Kau bisa menganggapku sebagai dia. Aku tidak keberatan."

Apa tujuan dari semua ini?

Siapa sebenarnya yang melewati batas?

Gilbert tidak tahu jawabannya. Namun, rasanya memuaskan... setelah berhasil mengatakannya.

Meski begitu, Gilbert belum siap ketika Ivan tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dan menariknya ke bawah dengan kasar. Genggamannya begitu menyakitkan dan Gilbert meringis saat dia nyaris mendengar suara retakan di balik tangannya. Gilbert sudah terbiasa dengan perubahan mendadak Ivan di atas tempat tidur, tetapi dia menyadari kali ini berbeda. Ivan menukar posisi mereka sehingga kini Gilbert yang berbaring dan dia menahan tangan Gilbert di belakang punggung.

Gilbert tidak bisa melihat ekspresi Ivan sekarang tetapi dari kekuatan Ivan… dia sadar telah membuat kesalahan besar.

Tapi mungkin…

"Itu tidak lucu, Gil."

...lebih baik seperti ini.

Gilbert akan merespon seandainya saja Ivan tidak tiba-tiba memasukkannya ke dalam. Bisa saja ini adalah cara Ivan untuk membungkamnya atau hanya untuk mengingatkannya tentang posisi mereka saat ini. Rasa sakit dari dorongan kasar terus meningkat di setiap tusukan tapi tubuh Gilbert justru semakin menyukainya. Mereka hampir tidak pernah melakukan angry sex dari sisi Ivan, selalu kebalikannya.

Gilbert membuka mulutnya dan menggigit bantal di bawahnya. Air mata mengalir membasahi kedua pipinya saat tubuhnya tidak berhenti merasakan hujaman kenikmatan itu. Rasa sakit dan kenikmatan yang bercampur membuat Gilbert merasa mereka harus melakukannya lebih sering.

…Oh, tunggu. Ini yang terakhir, 'kan?

Menyadari semua akan berakhir besok pagi rasanya… sayang sekali.

Tidak. Tidak mungkin. Mereka akan memiliki pasangan baru dan hidup akan terus berjalan seperti sebelumnya. Semuanya akan baik-baik saja.

Saat Gilbert terus mengatakan itu di benaknya seperti mantra, Ivan membalikkan tubuhnya dan mencium bibirnya dalam. Terlalu liar dan penuh tuntutan, gerakan Ivan tidak berhenti sama sekali bahkan dengan bagaimana Gilbert berusaha keras untuk menyesuaikan diri dengan ritme baru mereka. Ivan menghujam titik yang sama tanpa henti dan itu cukup membuat Gilbert meneriakkan namanya dan mencakar punggungnya.

Why does it feels… so good?

Ivan menggigit tengkuknya, mencapai bagian terdalam di balik kulitnya. Gilbert masih mengatur napas setelah klimaks pertama mereka, membiarkan Ivan melakukan apa pun yang dia inginkan sekarang. Tangan Gilbert menyentuh rambut Ivan yang kini tepat di bawah rahangnya, tangannya yang lemas itu mengusap kepala Ivan perlahan, merasakan kelembutan rambut berwarna beige itu mengenai wajahnya.

Setelah beberapa saat, Ivan akhirnya bangkit lagi dan mengendus wajahnya, sesekali menciumnya dengan tekanan. Gilbert tertawa pelan merasakan ini. Dia mencoba menghindari Ivan yang terus mengendusnya lalu berkomentar, "Kau seperti anjing besar, bodoh."

Ivan berhenti ketika dia mendengarnya. Gilbert membuka matanya dan bisa melihat Ivan menatapnya dalam diam. Makna di baliknya masih belum terungkap saat senyum Ivan kembali dan dia memiringkan wajahnya. Turun mendekati Gilbert, menghilangkan jarak di antara wajah mereka.

"Ya… maaf."

Gilbert berkedip dan sebelum dia bisa mengatakan sesuatu Ivan telah mempertemukan bibir mereka kembali. Dia memperdalam ciumannya sambil bergerak perlahan dan merangsang Gilbert untuk memancing keinginan ronde berikutnya. Gilbert mengizinkannya dengan cepat dan memeluk leher Ivan, membiarkannya bergerak lebih cepat sementara kedua kakinya mengait di belakang pinggang pria itu. Mereka harus menikmati malam terakhir sebaik-baiknya, itulah yang mereka sepakati dalam diam.

Pagi akhirnya datang dan Gilbert tidak ingat bagaimana dia tertidur. Tubuhnya terasa sangat lelah tapi ada yang lebih berat membebani tubuhnya. Gilbert bangkit dari tempat tidur dan melirik ke tempat kosong di sampingnya. Seprai yang berkerut masih terlihat baru ditinggal dan Gilbert bisa merasakan kehangatan yang tersisa di sana meskipun dia tidak menyentuhnya.

Gilbert menutup matanya dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

Ini sudah berakhir.

#

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

#

Lima bulan telah berlalu dan Gilbert bisa merasakan kebosanan akhirnya mencapai puncaknya.

Tidak ada hal istimewa yang terjadi, meskipun jika dia bisa bereaksi berlebihan, dia mulai khawatir tidak akan dapat memenuhi kepuasan dalam bentuk apapun lagi sampai akhir hayatnya. Semuanya terasa begitu hambar. Pekerjaannya, teman-temannya, dan bahkan keluarganya tidak bisa memberinya percikan semangat itu lagi.

Rasanya dia hanya menjalani rutinitas membosankan setiap hari yang terus berputar tanpa akhir. Seks yang dulunya bisa menyembuhkan hampir segalanya sekarang tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengisi lubang yang dibiarkan kosong. Gilbert mulai bertanya-tanya mengapa dia memilih jalan ini di awal tetapi dia sudah melupakan ingatannya pergi begitu lama sehingga hampir tidak ada yang bisa dia ingat.

…Mengapa? Di mana dia melakukan kesalahan?

Gilbert menghela napas panjang saat mengambil batang rokok terakhir di dalam kotaknya. Tugasnya hari ini sudah selesai meski jam pulang masih sangat jauh. Hasil nyata bahwa dia bekerja terlalu keras selama ini telah terlihat. Lagipula, Gilbert juga tidak ingin pulang ke rumah sekarang dimana dia hanya akan menghabiskan waktunya dengan tidur dan bermain game. Atau yang terburuk, dimarahi oleh adik laki-lakinya yang terlalu dewasa dan protektif.

Mencari pasangan seks baru lagi?

Nah, dia sedang tidak mood untuk saat ini. Pasangannya terakhir kali sangat mengerikan dalam berbagai arti, jujur saja.

Gilbert bukan perokok berat tapi begitu ada waktu melakukannya, dia bisa lupa kapan harus berhenti. Untuk rokok terakhirnya hari ini, Gilbert akan menghabiskannya sampai api menyentuh garis atau ketika dia tidak bisa menerima asap ke dalam paru-parunya lagi. Menikmati pemandangan yang sangat luas hingga dia sendiri tersesat di dalamnya, kedua matanya yang setengah terbuka membuatnya terlihat mengantuk. Merasakan angin bermain dengan rambutnya yang berwarna putih keabuan, Gilbert memejamkan matanya.

Wajah itu muncul lagi. Bahkan tidak perlu mengucapkan permisi.

Senyuman bodoh itu masih sama seperti terakhir kali.

Mengambil napas dalam-dalam, Gilbert menghela napas lemah, "Apa yang aku... lakukan?"

"Ya, apa yang kau lakukan?"

Terkejut, Gilbert mendongak cepat dan hampir melompat mundur. Kehadiran orang yang paling tidak terduga membuat detak jantungnya berdegup semakin cepat dan dia mulai khawatir jika pria bernama asli Ivan Braginsky itu bisa mendengarnya sekarang.

Melihat reaksi Gilbert yang mungkin juga tidak dia duga sebelumnya membuat Ivan membuka mulutnya sebelum tertawa terbahak-bahak hingga wajah Gilbert memerah karena malu, "Hahaha! Apa itu tadi?"

"ITU HARUSNYA KATA-KATAKU!" Gilbert tidak bisa menahan amarahnya dan berteriak keras. Mereka berada di atap gedung perkantoran jadi sudah sewajarnya Gilbert merasa tidak akan ada pengunjung lain yang mengganggunya di sini tapi—"Apa yang kau lakukan di sini!?" bisik Gilbert, hampir membentak. Untungnya dia berhasil menyelamatkan rokok terakhirnya meskipun sekarang dia menggigitnya terlalu keras.

Seakan ini bukan pertemuan pertama mereka sejak malam itu, Ivan dengan santai berdiri di samping Gilbert dan mengeluarkan kotak yang sudah dikenal mereka berdua tetapi masih disegel, "Sama sepertimu." Gilbert tidak terlihat menerimanya sehingga Ivan menambahkan setelah dia menggigit rokoknya sendiri, "Oh. Aku akan bertemu dengan Toris dan timnya pada pukul tiga. Masih banyak waktu luang sampai saat itu jadi aku berencana untuk menghabiskannya di sini. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini."

Gilbert akhirnya terima dengan alasan itu lalu kembali melihat ke depan, "…Oke."

"Hm, apa? Apakah kau berharap aku di sini untuk mencarimu?

"Tentu saja tidak. Jangan berharap terlalu tinggi."

"Oh sial, aku lupa membawa pematik."

"Dengarkan aku saat berbicara!"

"Aku minta apimu, Gil."

"Kau benar-benar—"

Gilbert tidak bisa menyelesaikan kalimatnya saat Ivan langsung memegang rahangnya dan memaksanya menoleh hingga ujung rokok mereka bertemu. Gilbert menahan napas secara refleks. Waktu terasa berhenti seketika mereka menunggu api berpindah. Gilbert berusaha keras untuk tidak memikirkan ciuman antar rokok ini, tetapi dia mungkin akan segera gagal.

Ivan melangkah mundur setelah rokoknya sendiri menyala dan dia menghisapnya dengan keras sebelum mengeluarkan asap dari mulutnya. Gilbert menatap pria di sampingnya itu sebelum membuang muka dengan bibir terkatup rapat.

Mereka menikmati pemandangan dari atap gedung itu dalam diam. Tidak ada yang memulai percakapan karena tidak ada yang bisa memutuskan topik apa yang bisa dibicarakan oleh kedua mantan teman seks. Jarak di antara mereka terasa berat… dan panas. Rasanya tidak nyaman tetapi mereka tidak ingin memikirkan alasan untuk pergi. Atau mungkin hanya Gilbert yang memikirkan ini. Siapa peduli?

Cukup… sebentar saja.

Seperti ini.

Tidak ada yang aneh jika sekedar mengharapkannya… bukan?

Keduanya terlihat tenang tetapi Gilbert mengertakkan gigi di belakang bibirnya. Dia tidak menginginkan ini. Debaran di jantungnya begitu mengganggu sehingga dia tidak bisa berpikir jernih. Pada awalnya, debaran ini terasa menyenangkan tetapi semakin dia memikirkannya semakin sakit tanpa alasan yang jelas. Gilbert menyembunyikannya dengan sangat baik di balik penjara. Penghalang yang dibuat dari prinsip kebanggaan dan keras kepala yang dia ciptakan untuk melindungi sisi rapuhnya dari dunia yang tidak bisa dia percaya lagi.

"Hei, Gil."

"…Apa?"

"Aku bosan."

"Lalu?"

Sehebat apapun Gilbert membenci ini, dia tidak bisa lari dari garis yang telah terlewati semudah itu. Gilbert menyadarinya ketika Ivan menunjukkan senyuman lembut yang hanya dia lihat dari kegelapan mimpinya sebelumnya. Sisa rokok Gilbert jatuh dari mulutnya dan Ivan menginjaknya tanpa peduli.

Gilbert tahu. Tentu saja dia tahu.

Ivan tidak pernah melihatnya.

Tidak ada kata yang perlu keluar. Ivan tahu dia selalu mendapat izin di waktu yang tepat. Dia hanya mengambil keuntungan dari semua permainan yang diberikan Gilbert padanya. Dia bukan pemenang tapi juga bukan pecundang. Itu masih jauh lebih baik daripada Gilbert yang tidak akan pernah mengaku sebagai pecundang sejati yang sudah lebih dulu jatuh di antara mereka.

Ivan bisa menerima karma untuk nanti.

Tapi, sampai saat itu tiba…

"Izvini."

…biarkan dia menemui bibir yang membutuhkannya itu.

.

.

.

.

.

Grabbed my hand, pushed me down

Take the words right out my mouth

.

Tag, you're it

- Melanie Martinez (Tag, You're It)

.

.

.

FIN

.

.

.

Izvini (извини) = Sorry

Aku gak nyangka tinggal translate aja lama banget astaga :")) #ye Semoga kalian suka! Sebenarnya ide RuPru ini udah lama banget mampir di kepala tapi belum sempet ketulis sampai akhirnya kemarin kelar duluan yang versi English-nya wkwkwkwk kalian bisa cek di akun AO3-ku eheee. Niatnya pun cuma 5k words PWP tadinya tapi malah jadi ada hidden plot hhhh dasar aku—

Btw karena aku lagi ingin fokus memperdalam skill fic English-ku, jadi kayaknya aku bakal lebih cepet update di sana. Silahkan dicek x"D Aku akan tetap mengusahakan update di FFn tapi mengingat kesibukan mungkin akan lebih lama lagi update-nya heuheu.

Berikutnya aku akan update Numbers ASAP! Kuharap kalian menyukai fic ini dan maaf untuk setiap kesalahan yang kubuat.

Mind to review, please? Thanks before!