Be My Father

Naruto © Masashi Kishimoto (Tidak ada keuntungan materi dalam pembuatan karya ini. Fanfiksi ini dibuat hanya untuk hiburan semata)

Pairing: Gaara x Sakura H. Rating: T

(Mamanya itu gila kerja. Hidupnya seolah diperuntukan untuk dua hal, mengurusnya dan bekerja. Tidak ada hal lainnya seperti sekedar menonton film di akhir pekan atau berkeliling melihat baju musim panas keluaran terbaru. Sarada mengeluh betapa membosankan hidup Mamanya. Sampai seorang Pria tampan yang mengaku senior Mamanya saat kuliah dulu secara kebetulan menjadi tetangga mereka)

...


Sarada bangun setelah mendengar kebisingan dari dapur. Ini masih pukul enam pagi tapi aktivitas sepertinya sudah dimulai di rumah itu. Ia mengucek matanya pelan sambil berjalan menuju dapur, mendudukan diri di meja makan kemudian memandangi mamanya yang terlihat sibuk.

"Pagi Mama," ucapnya memberi salam. Wanita berambut merah muda yang membelakanginya itu nampak terkejut.

"Sarada? Kenapa sudah bangun—Ah! Selamat pagi juga sayang." Sakura tersenyum lalu melanjutkan memotong sayuran. "Mama ada shift pagi hari ini jadi bekal makan siang hari ini sederhana saja ya," lanjutnya. Wanita itu menampilkan ekspresi memelas memohon persetujuan anaknya.

Sarada menghela napas. Dia benar-benar tidak masalah dengan apapun bekal makan siangnya. "Iya Mama lalu siapa yang akan mengantarku ke sekolah?"

"Mama sudah minta tolong pada Bibi Hinata. Jadi nanti kau berangkat bersama Bibi Hinata dan Boruto ya sayang," jawab Sakura lalu kembali melempar senyum lebar yang malah dibalas wajah kesal Sarada. Sakura panik. "Hei kenapa? Apa kau marah Mama tidak bisa mengantarmu hari ini?" lagi-lagi wanita cantik berambut merah muda itu mengeluarkan ekspresi memelasnya.

"Bukan begitu. Tapi kenapa harus bersama Boruto?!"

Sakura terkekeh. Ia sebenarnya tahu betul bagaimana hubungan putrinya itu dengan putra sahabatnya. Mereka akan langsung berdebat meskipun baru beberapa detik bertemu. "Maaf sayang, Bibi Ino dan Paman Sai tidak bisa datang hari ini karena Inojin masih flu"

Sarada menjatuhkan kepalanya ke meja. Gadis 8 tahun itu ingin hari ini cepat berlalu saja. Dia sudah bisa membayangkan bagaimana tenaganya akan terkuras meskipun sekolah belum dimulai. Membayangkan Boruto saja sudah sangat menyebalkan.

"Ah! aku hanya punya waktu kurang dari 30 menit! Sarapannya sudah mama siapkan, bekal makan siangmu juga. Mama juga meninggalkan uang untuk jaga-jaga. Mama harus segera berangkat. Bye sweety, jadi anak baik lagi hari ini ya," lalu satu kecupan mendarat di dahi dan pipi Sarada sebelum mamanya yang seorang dokter super sibuk itu berlari terbirit keluar dari rumah.

Sarada menghela napasnya lagi. Mamanya selalu sesibuk itu tapi ia sangat bersyukur karena sesibuk apapun Mamanya, jika bisa Mamanya akan meluangkan waktu untuknya, memastikan semua kebutuhannya terpenuhi dan tak lupa membuatnya merasa menjadi anak paling bahagia di seluruh dunia meskipun tanpa ada sosok Ayah di samping mereka. Sarada melirik foto laki-laki yang tersenyum tipis sedang merangkul mamanya yang tersenyum cantik begitu lebar. Ia tidak begitu mengingat sosok itu. Ayahnya meninggal karena kecelakaan saat dirinya baru berusia dua tahun. Mulai saat itu Mamanya harus berperan ganda dalam menjaganya. Bekerja lalu mengurusnya begitu terus setiap hari sampai-sampai ia tidak pernah melihat Mamanya menonton film kesukaannya lagi di akhir pekan atau berjalan-jalan untuk melihat gaun musim panas keluaran terbaru. Mereka tetap melakukan itu tapi tentu saja Mamanya akan memilih film yang Sarada suka dan hanya akan membeli baju untuk Sarada pula, tidak untuk dirinya sendiri.

...


Sarada tersenyum manis sambil melambaikan tangan pada Bibi Hinata yang sudah mengantarnya pulang dengan aman. Sedetik kemudian ekspresinya berubah ketika melihat Boruto menjulurkan lidah untuk mengejeknya. Sarada berdiri dengan memegangi tas ranselnya, menunggu untuk pintu lift terbuka. Ia mendongak begitu menyadari seorang pria ikut berdiri di sebelahnya. Pria itu membawa kardus berukuran besar yang terlihat tidak ringan. Keduanya masuk berbarengan begitu lift terbuka. Sarada melirik sekali lagi. Wajahnya seketika memerah. Paman di sebelahnya tampan sekali!

Paman berambut merah itu meletakkan kardus yang dibawanya di lantai kemudian menatap Sarada. "Kamu mau ke lantai berapa?" tanyanya. Sarada tertegun, bahkan suaranya juga bagus seperti wajahnya. "Ah! Lantai 7 paman," jawabnya.

Pria itu nampak sedikit terkejut. "Paman juga mau ke lantai 7. Apa kita akan menjadi tetangga?" meskipun hanya tersenyum sangat tipis, Sarada bisa melihat aura lembut menguar dari pria itu.

"Benarkah?! Paman baru pindah hari ini?"

Pria itu mengangguk setelah menekan angka 7. "Aku Gaara. Hanya Gaara tanpa nama keluarga," ia mengenalkan diri.

Mata Sarada berbinar. Ia segera mengulurkan tangannya yang disambut sedikit terkejut oleh Gaara. "Namaku Uchiha Sarada. Salam kenal Paman!" sahutnya bersemangat. Gaara sedikit terkekeh. Lagi-lagi ia tersenyum tipis.

"Maaf. Kau mengingatkanku pada seseorang. Terutama mata dan semangatmu"

Sarada mengedipkan mata beberapa kali. "Siapa?" tanyanya penasaran. Ia bisa melihat ekspresi Gaara semakin melembut seolah terbang ke masa lalu. "Kenalanku," ucapnya pelan.

Suara lift berdeting. Pintu terbuka lalu baik Gaara dan Sarada keluar. Gaara berhenti di depan pintu lalu sebelum masuk menoleh pada gadis kecil di sebelahnya. "Ini unit milikku. Mulai hari ini mohon bantuannya, Sarada," ucapnya lalu masuk.

Sarada masih menatap tempat kosong di depannya. Matanya berbinar dengan rona kemerahan muncul di kedua pipi tembam miliknya. "Woah! Paman itu keren sekali!"

...


"Mama pulang~" Sarada berlari menghampiri Mamanya. Ia menjatuhkan diri dipelukan Mamanya itu yang langsung membuat wanita berambut merah muda itu kebingungan. Sarada tidak biasanya menyambutnya seperti ini, gadis kecil itu biasa pura-pura bersikap lebih dewasa dibandingkan umurnya. Jadi melihatnya manja seperti ini, Sakura bisa memastikan sesuatu telah terjadi.

"Ada apa sayang? Ada yang terjadi di sekolah? Boruto mengganggumu?" tanyanya. Sarada melepaskan pelukannya. Gadis dengan mata hitam besar itu menggeleng. "Boruto menggangguku itu kejadian yang selalu terjadi setiap hari Mama!"

Sakura tertawa mendengarnya. "Lalu ada apa?"

"Kita punya tetangga baru," jawab Sarada. Sakura sedikit bingung. Mereka sudah beberapa kali berganti-ganti tetangga tapi Sarada tidak pernah bersikap begini. "Lalu? Kau sudah bertemu dengannya?" tanya Sakura lebih lanjut.

Sarada mengangguk semangat. "Bukankah Mama juga harus memberi salam?" Sakura terkekeh mendengarnya. "Benar. Benar. Mama akan memberi salam saat bertemu nanti."

Sarada terlihat kecewa "Tidak sekarang?"

"Ini sudah pukul delapan malam sayang. Tidak sopan bertamu malam-malam"

Sarada mendengus kecewa. Sakura yang melihat itu mengacak rambut putrinya. "Baik. Sekarang mama harus mandi lalu menyiapkan makan malam. Kau sudah mengerjakan PR-mu?"

"Tentu saja!"

"Bagaimana dengan hari ini? Sekolahmu lancar? Apa ada hal menarik yang terjadi?"

"Aku mendapat nilai 100 di pelajaran Matematika lalu Boruto dihukum karena meninggalkan PR-nya. Dia mendapat tugas tambahan dan juga—Ah! Mitsuki dia memberiku permen hati saat jam makan siang—"

...


Sakura kaget melihat Sarada sudah bangun dan berpakaian rapi pagi-pagi sekali. Wanita berumur 32 tahun itu kebingungan namun segera tersenyum melihat wajah putrinya yang berseri-seri.

"Ada apa ini? Kenapa kau sudah siap sepagi ini?" tanyanya.

"Mama tidak bekerja hari ini?"

Sakura pura-pura berpikir. "Menurutmu mama hari ini libur atau tidak?" tanyanya balik.

"Libur!"

"Benar!" keduanya lalu bersorak.

"Jadi apa yang mau Saradaku ini lakukan dihari libur bersama ini?" Sarada memperlebar senyumnya. "Bermain dengan Paman sebelah!" jawabnya semangat. Sakura terkekeh. "Kau begitu menyukai tetangga baru kita ya? Baik. Baik. Ayo kita masak makanan yang enak lalu menyapa dan membaginya kepada tetangga baru kita."

Mendengar hal tersebut mata hitam Sarada kembali berbinar. Dengan semangat gadis kecil itu menuju dapur yang diikuti Sakura di belakangnya.

Makanan yang mereka siapkan jadi dengan cepat. Sakura juga menyiapkan beberapa kue kering yang dibuatnya kemarin untuk dibaginya juga. Sakura melirik Sarada yang terlihat sangat bersemangat. "Jadi, mau menyapa sekarang?" tanya Sakura. Sarada mengangguk antusias.

Mereka bergegas menuju unit sebelah. Menekan bel menunggu si pemilik membukakan pintu. Beberapa detik berlalu, pintu terbuka dan memunculkan sosok pria berusia tigapuluhan dengan rambut merah dan mata hijau mengenakan kaus putih.

"Selamat pagi Paman Gaara!" Sarada memberi salam namun kedua orang dewasa di sana seolah membatu.

"Gaara-kun! Ah tidak! Maksudku—Gaara-senpai?!" Sakura mengedipkan matanya berulang kali. Tidak menyangka bahwa tetangga yang sangat semangat Sarada temui adalah seniornya saat kuliah dulu.

"Sakura? Ah... Selamat pagi Sarada. Jadi Sarada?" Gaara menggantung pertanyaannya namun dijawab cepat oleh Sakura. "Putriku. Sarada adalah putriku." Tawa Sakura tiba-tiba menguar ke udara. "Sarada bercerita dengan semangat bahwa kami punya tetangga baru dan dia sangat ingin menyapamu dengan benar. Jadi kami datang dengan membawa ini," Sakura menggoyangkan totebag penuh kotak makanan yang dibawanya. "Siapa yang sangka ternyata tetangga itu kau," lanjutnya masih dengan kekehan.

Gaara menggaruk tengkuknya. Bingung menanggapi apa. Mereka sudah lama tidak bertemu dan pertemuan ini terasa begitu tiba-tiba. Pantas saja dia merasa tidak asing dengan Sarada meskipun penampilan luar gadis itu tidak menyerupai Sakura 100%

"Mama? Mama kenal Paman Gaara?" Sarada bertanya penasaran. Sakura mengangguk. "Mama dan Paman Gaara dulu kuliah di kampus yang sama. Kami sudah lama tidak bertemu"

Sarada mengangguk paham. Ia teringat bagaimana wajah Paman Gaara di lift kemarin ketika mengatakan bahwa Sarada mirip dengan kenalannya. Ekspresi itu lagi-lagi di wajah tampan Paman berambut merah itu. Sarada memicingkan mata lalutersenyum penuh arti.

"Mama dan Paman dekat saat kuliah?"

Kini giliran Gaara mengangguk. "Cukup dekat. Kami pernah mengambil kelas yang sama dan ikut di klub yang sama juga"

Kedua mata Sarada melebar, menampilkan binaran menggemaskan "Kalau begitu ayo kalian langsung menikah saja!" ucapnya polos penuh antusias.

"Hahaha Mana mungkin Ka—TUNGGU APA?!" Sakura tak sadar berteriak karena terkejut. Sarada menutup kedua telinganya. Namun gadis berkaca mata itu kembali menampilkan senyum lebar. "Ayo kalian menikah!" ucapnya lagi mengabaikan ekspresi terkejut mamanya juga fakta bahwa pria berambut merah di depannya sudah nyaris meledak dengan wajah semerah rambutnya.

Tbc.


Halo apa kabar?^^