Disclaimer : All Characters belong to Sunrise, but this story is mine
Fever
By
LaNiinaViola
Warning: OOC, Typos, and Similar plot
Sudah beberapa hari ini ORB diguyur hujan pada beberapa bagian wilayah dan membuat suhu udara jadi sedikit lebih dingin dari biasanya. Perubahan cuaca yang mendadak bisa menjadi masalah bagi sebagian besar orang, apalagi bagi mereka yang tidak sedang dalam keadaan fit.
Siang ini tidak ada agenda pertemuan untuk Cagalli, dirinya hanya kan memeriksa laporan yang sudah menumpuk bagai gunung di meja kerjanya. Lembar demi lembar ia periksa dengan sangat teliti, tidak mau ada kesalahan barang sekecil yang lewat dari pandangannya. Semua harus sudah sesuai baru diberikan persetujuan.
Kegiatan memeriksa laporan siang ini juga ditemani dengan rintik hujan di luar sana. Tidak terlalu deras tapi cukup membuat melodi tersendiri saat tetesannya jatuh dan menyentuh berbagai permukaan benda. Suasana seperti ini bagus juga untuk refleksi tersendiri bagi Cagalli, sejuk dan juga menenangkan karena petrikor yang dihasilkan hujan. Kegiatan memeriksa laporan menjadi lebih menyenangkan dari biasanya.
Saat sedang memeriksa laporan dari bagian lingkungan, Cagalli mendapatkan tamu. Seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya dari luar dengan irama yang beraturan. Tok tok tok, tiga kali pintu diketuk dan kemudian berhenti, menunggu jawaban Cagalli untuk mengizinkannya masuk. Seingatnya, tidak ada jadwal apapun siang ini, jadi siapa gerangan yang datang ke kantornya? Daripada terus menerka-nerka, lebih baik segera melihat tamunya dengan mempersilahkannya masuk.
"Masuklah." Cagalli memberikan komando pada seseorang di luar sana untuk masuk ke ruangannya.
Ceklek… bunyi pintu dibuka, tidak lama kemudian masuk seorang pria dengan seragam militer datang membawa sesuatu di tangannya. Dari yang terlihat sepertinya ia membawa sebuah laporan atau dokumen yang memerlukan tanda tangan persetujuan darinya.
Pria bersurai sekelam malam itu memberikan hormat dan menghampiri Cagalli yang masih setia duduk di singgasananya sekalipun yang datang adalah suaminya sendiri.
Tanpa basa-basi, Athrun memberikan sebuah berkas yang perlu mendapatkan tanda tangan persetujuannya. Cagalli melihat sekilas, berkas ini cukup penting dan segera dibutuhkan. Wajar saja jika Athrun yang membawanya langsung pada Cagalli tanpa melalui sekertarisnya.
"Aku butuh persetujuanmu…" ada jeda singkat sebelum pria itu kembali melanjutkan, "Untuk penggunaan sonar hingga kedalaman beberapa ribu meter untuk mendeteksi ranjau yang masih ada di lantai laut." Tuntas athrun dalam seklai tarikan napas.
Cagalli sedang membaca isi dokumen yang Athrun bawa, saat ia menyadari ada yang aneh dengan nada bicara Athrun. Dari suaranya ia bisa mendengar ada yang salah dengan pria itu. Ia mengangkat wajahnya untuk melihat suaminya dengan lebih seksama.
Athrun hanya diam saat Cagalli menatapnya dengan intens. Ahh, itu dia.. Cagalli segera bangun dari kursinya saat menyadari apa yang salah pada suaminya. Sementara Athrun merasa bingung saat Cagalli bangun dari tempat duduknya, ia hanya bisa memperhatikan kemana istrinya akan melangkah setelah mendengar penjelasan tentang dokumen yang ia bawa tadi. Wanita itu menghampiri Athrun dan tanpa tedeng aling-aling langsung meletakkan punggung tangannya pada dahi pria itu.
Auch, panas, pantas saja nada bicara pria itu sangat aneh, seperti habis berlari mengelilingi lapangan. Wajah mereka hanya berjarak satu jengkal, dalam jarak yang sangat dekat ini Cagalli juga bisa melihat siluet kemerahan pada muka Athrun.
Menikah tidak menjadikan Athrun terbiasa jika Cagalli berada dalam jarak yang sangat dekat dengannya apalagi secara mendadak seperti ini. Jatung pria itu berdetak dua kali lebih cepat saat muka istrinya ada di hadapannya.
"Kau demam.." itu bukan pertanyaan tapi pernyataan. Cagalli langsung menyimpulkan setelah memeriksa kondisi suaminya.
Ah iya, tadi pagi ia merasa sangat pusing ketika bangun tidur, ia pikir hanya pusing biasa akibat tidurnya kurang cukup dan akan sembuh dengan sendirinya setelah ia memulai aktivitas seperti biasa. Tapi nyatanya tidak, ia tetap merasa pusing dan ia kena demam.
Sepertinya kunjungannya ke pangkalan militer yang berada di barat menjadi penyebabnya. Saat itu tiba-tiba turun hujan saat Athrun sedang melakukan survei vessel yang memiliki sonar untuk mendeteksi ranjau. Mereka memang langsung berteduh saat hujan turun, hanya saja Athrun tetap kebasahan. Mengabaikan kondisnya, ia melanjutkan pengecekan hingga selesai dan malah berakibat pusing keesokan harinya.
Sebenarnya Athrun sudah berusaha menyembunyikan kondisinya sebaik mungkin agar Cagalli tidak tahu. Tapi tetap saja, rasanya wanita itu mengenal Athrun lebih baik dari dirinya sendiri. Berakting di depan istrinya tidak pernah membuahkan hasil, seharusnya ia tahu itu.
"Emm, iya aku sedikit pusing sejak tadi pagi." Jawab Athrun atas penyataan Cagalli.
"Kenapa tidak mengetakannya padaku? Kau bisa izin hari ini dan beristirahat." Athrun bisa mendengan nada khawatir dalam suara Cagalli.
"Aku hanya pusing, bukan masalah besar." Athrun sedikit limbung setelah mengatakannya dan Cagalli dengan sigap menahan tubuh suaminya agar tidak terjatuh. Wanita itu langsung memapah Athrun kearah kursi agar pria itu bisa duduk. Apanya yang hanya pusing? Pikir Cagalli.
Rasanya tadi ia cukup kuat, kenapa saat bersama Cagalli tubuhnya seolah tidak mau berkompromi dan menjadi lemah seperti ini? Athrun merasa pusing yang sangat, ia kemudian meletakkan kepalanya pada bahu Cagalli. Ukhh, kepalanya terasa berat sekali.
"Kau harus istirahat.. pulanglah Ath, biar dokumen tadi aku titipkan pada sekertarisku untuk diberikan langsung ke tempatmu jika sudah selesai." Cagalli mengatakannya sambil menggenggam tangan Athrun.
Athrun tidak merespon apa-apa, dirinya hanya bisa memejamkan mata dan menikmati perhatian Cagalli. Jadi sakit tidak terlalu buruk juga pikir Athrun.
Ketukan pintu Cagalli mengalihkan perhatian kedua insan ini, saat Cagalli mengizinkan orang yang ada di luar untuk masuk dan menyampaikan kepentingannya, sementara Athrun dengan sigap langsung mengangkat kepalanya. Cagalli sedikit bingung, bukankah pria itu tadi tidak memiliki tenaga bahkan hanya untuk menjawab nasehatnya?
Mengesampingkan itu, Cagalli segera melihat siapa tamunya kali ini. Sekertaris pribadi Cagalli masuk dan melihat atasannya sedang ada pertemuan dengan bagian militer. Sebenarnya cukup rancu apakah Athrun kemari untuk urusan militer atau urusan pribadi. Tapi melihat Athrun duduk dengat tegak dan kaku, bisa dipastikan mereka berdua sedang terlibat urusan militer, begitu sekertaris Cagalli menyimpulkan.
Sekertaris Cagalli menyampaikan jika rapat nanti sore diundur karena ada beberapa kendala terkait persiapan yang belum matang. Setelah menyampaikan maksud dan tujuannya, wanita muda itu segera undur diri dari hadapan Cagalli dan Athrun.
Jika Cagalli tidak ada rapat, maka artinya ia cukup senggang sore ini. Cagalli baru berpikir demikian saat tiba-tiba Athrun sudah menjatuhkan kepalanya lagi di bahunya. Cagalli sedikit kaget dengan tingkah Athrun, bukankah tadi ia punya tenaga untuk duduk tegak saat sekertarisnya datang?
Sedikit berpikir akhirnya Cagalli mengerti, pria itu berusaha terlihat berwibawa meskipun sedang sakit. Ia selalu tahu jika Athrun tidak pernah mau memperlihatkan sisi lemahnya pada orang lain kecuali Cagalli. Maka saat sekertarisnya datang, pria itu berusaha bangkit dan tidak terlihat lemah.
"Ayo, Ath.. kau harus berbaring istirahat dan minum obat agar lekas sembuh." Cagalli bangkit kemudian berusaha membantu pria itu berdiri, Athrun yang merasa sangat lemah hanya bisa menurut. Cagalli sedikit memapah tubuh suaminya dan berniat mengantar pria itu ke kamar mereka.
Saat tiba di kamar, Athrun merasa sakitnya tambah berkali-kali lipat. Dirinya hanya bisa bergerak lemah saat Cagalli berusaha membantunya ganti baju dengan piyama yang lebih nyaman dari seragam militer untuk beristirahat. Satu persatu baju dilepas dan diganti dengan piyama lengan pendek berwarna kehijauan. Setelah semua selesai, Cagalli menarik selimut untuk Athrun.
Cagalli bermaksud pergi mengambil obat, tapi Athrun menahan lengannya. "Kau mau kemana?"
"Aku mau ambil obat dan juga air untuk mengompresmu." Dengan sabar Cagalli menjawab Athrun.
"Cepat kembali." Athrun mengatakannya pada Cagalli dengan nada yang terdengar seperti merengek.
"Iya,aku akan segera kembali." Setelah mengatakan itu, Atrun baru mau melepaskan Cagalli dan membiarkan istrinya pergi mengambil obat dan air kompres yang dibutuhkan.
Sebenarnya Cagalli tidak pergi dalam waktu yang lama, tapi bagi Athrun waktu yang diperlukan istrinya untuk mengambil semua yang diperlukan sangat lama. Athrun mulai menggerutu dalam hatinya. Setelah wanita itu datang, ia segera memberikan memeriksa suhu tubuh Athrun dan juga memberikannya obat, Cagalli mulai mengompres dahi Athrun. Setelah semuanya slesai ia duduk di samping tempat tidur sambil terus memantau demam suaminya.
Sakit, sakit sekali rasanya.. ini hanya demam tapi bagi Athrun yang merupakaan Coordinator sakit adalah hal yang sangat jarang ia rasakan. Jadi demam saja bisa terasa sangat menyakitkan bagi pria itu. Rasa pusing, panas pada bagian kelopak mata dan juga lemas di sekujur tubuhnya membuatnya tidak berdaya.
"Cagalli, maafkan aku… aku pasti merepotkanmu." Ucap Athrun dengan lemah.
"Iya, tidak apa-apa. Lekas istirahat agar kau cepat sembuh."
"Aku selalu merepotkanmu ya? Dulu saat perangpun aku selalu merepotkanmu.. maafkan aku Cagalli."
Ahh ini dia, mode sakit Athrun yang paling merepotkan. Cagalli sudah beberapa kali menangani Athrun yang sakit dan kebiasaan pria itu yang selalu minta maaflah yang paling merepotkan.
"Aku banyak salah padamu Cagalli…" Athrun kembali berucap.
"Iya, aku tahu.. cepatlah tidur dan istirahatlah."
Athrun punya kebiasaan mengakui segala kesalahannya ketika sakit. Entah sadar atau tidak tapi Athrun akan terus mengingat kesalahannya yang sudah ia perbuat pada Cagalli, bahkan untuk kesalahan yang kecil sekalipun. Ini seperti acara pengakuan dosa dan Cagalli hanya bisa bersabar menghadapi tingkah aneh Athrun saat sakit.
"Aku pernah membentakmu dulu, aku salah Cagalli."
"Itu sudah berlalu Ath, aku sudah memafkanmu."
"Aku juga pernah dengan sangat bodohnya meninggalkanmu, Cagalli. Kau pasti sangat membenciku."
Tentu saja, tapi itu dulu. Jika ia masih membenci pria itu tidak mungkin Cagalli akan menerima lamarannya dan menikah.
"Aku sudah memaafkanmu. Jadi ayo pejamkan matamu dan cepat tidur."
"Aku takut kau akan meninggalkanku jika aku memejamkan mata." Astaga, kata-kata Athrun terdengar seperti roman picisan saat ini. Cagalli hanya bisa memutar bola matanya secara refleks.
"Aku tidak akan meninggalkanmu."
"Benarkah?"
"Iya, jadi ayo cepat pejamkan matamu dan tidur." Untuk kesekian kalinya Cagalli memberikan nasehat.
"Aku ingin dipeluk." Pinta Athrun secara tiba-tiba.
"Apa?" Cagalli cukup kaget dengan apa yang Athrun katakan.
"Aku mau kau ikut berbaring dan memelukku agar aku yakin kau tidak meninggalkanku." Athrun mengatakannya dengan mata memohon, apalagi dia sedang demam, membuat mata sayunya terlihat sedikit berair seperti menangis.
"Ya? Ya? Ya?... aku ingin di peluk ketika tidur." Akhhh, ini mode menyebalkan Athrun lainnya ketika pria itu sakit. Athrun akan sangat manja dan bertingkah seperti anak kecil. Cagalli tidak bisa meninggalkan Athrun selama pria itu belum tidur atau Athrun akan terus merengek dan berusaha membuat Cagalli tetap ada untuknya.
"Aku janji akan segera tidur kalau kau mau memelukku." Athrun kembali merayu Cagalli agar keinginannya dapat terpenuhi.
Cagalli menghela napas, "Ahh, baiklah, tapi kau harus janji akan segera memejamkan mata dan tidur." Merasa tidak punya pilihan selain menuruti keinginan Athrun agar pria itu mau tidur dan beristirahat.
Athrun yang merasa menang, langsung menggeser tubuhnya untuk memberikan tempat pada Cagalli. Wanita itu lalu masuk kedalam selimut bersama Athrun. Pria itu langsung memeluk tubuh Cagalli begitu wanita itu masuk ke dalam selimut. Athrun menyamankan diri dalam dekapan Cagalli dan mulai melaksanakan janjinya untuk memejamkan mata.
Butuh waktu cukup lama sampai Athrun benar-benar tertidur. Cagalli yang menunggu pria itu untuk tidur juga ikut mengantuk dan tanpa sadar akhirnya ikut memejamkan mata.
Cagalli bangun saat hari mulai sore, terlihat dari berkas sinar matahari senja yang menyusup masuk dari jendela kamar mereka. Hujan di luar sudah berhenti tapi udara sejuk masih tersisa. Athrun masih tidur dalam posisi yang sama, memeluk tubuh Cagalli sejak ia ikut masuk kedalam selimut bersama suaminya. Dengan perlahan Cagalli berusaha melepaskan pelukan Athrun dan bangun dari tempat tidur.
Cagalli merenggangkan tubuhnya karena baru bangun dari tidur singkatnya dan segera mengecek suhu tubuh Athrun dengan thermometer. Dengan hati-hati ia meletakkan alat itu di lengan atas Athrun. Pip pip pip, alat itu berbunyi tiga kali saat hasilnya keluar. Suhunya sudah turun dari tadi siang biarpun masih demam tapi paling tidak obatnya bekerja.
Setelah yakin Athrun tidak akan terbangun secara tiba-tiba karena ia meninggalkannya, Cagalli pergi keluar kamar dan bermaksud menyelesaikan sisa pekerjaan penting yang tadi ia tinggalkan untuk merawat Athrun.
Athrun bangun keesokan harinya dengan perasaan yang jauh lebih baik. Tidak ada pusing atau mata yang berair lagi. Suhu tubuhnya juga sudah normal, itu artinya ia sudah sembuh dan siap menghadapi hari.
Tentu saja setelah sembuh Athrun tidak akan mengingat apa saja yang ia lakukan ketika sakit, termasuk pengakuan dosa-dosa yang ia lakukan. Hanya Cagalli seorang yang tahu kebiasaan aneh Athrun itu.
~End~
Note :
Hallo minna, huaaa aku kangen banget sama ffn dan segala aktivitas tulis menulis. Huhue, maaf ya kalau Niina banyak menelantarkan cerita. Maaf sekali ya.. aku akan berusaha menyicil hutangku.
Kali ini Niina membawakan cerita random yang pernah kepikiran, apalagi sekarang udah masuk musim hujan, jadi temanya terdengar cocok ahahahaha. Sedikit kagok karena lama ga nulis, semoga ga bikin sakit mata dan bingung saat bacanya.
Okay lah, mohon kritik saran dan juga pendapat kakak-kakak semua ya eheheheh… sampai jumpa lagi semua.
