Blush

Disclaimer: DMM.

Warning: OOC, typo, BL, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk promptober 2021 dengan tema "Blush".


Day 6: Blush


Benda duniawi favorit Akutagawa Ryuunosuke adalah kacamata, dan itu karena Masao Kume-lah yang memakainya. Jadi, ketika pandangan Kume bebas oleh sepasang lensa cekung, sekilas Akutagawa menjelma desir yang aneh. Namun, setelah Akutagawa tilik lebih lanjut, ia pikir tidak buruk juga ketika begini.

Violet di mata Kume jadi jernih. Keimutannya pun bertambah, karena sewaktu tatapan Kume telanjang seperti sekarang, cerita yang singgah di sana untuk membicarakan perasaannya tidak terhalang lensa. Akutagawa pun tetap betah memperhatikannya lama-lama. Mendadak pula Kume kurang peka, atau jangan-jangan ia mulai menyukai Akutagawa yang hanya fokus kepadanya?

"Duh. Matsuoka-kun lama banget. Sampai kapan aku harus terjebak sama Akutagawa-kun?"

Kenapa pula teman sebangkunya ini tidak kunjung pulang? Akutagawa saja tiada mengikuti klub mana pun, ataupun mempunyai agenda kerja kelompok. Omong-omong Kume tahu, karena tanpa sengaja ia hafal setelah mendengarnya. Memang membuang-buang waktu sehingga adakalanya, Kume tak habis pikir pada dirinya sendiri kala bersama Akutagawa.

"Akutagawa-kun ngapain, deh, di sini?"

Jarinya yang lentik itu lantas menyentuh dagu. Walaupun Akutagawa adalah mosaik, entah kenapa tak sedikit pun melegakan Kume. Mungkin tidak akan pernah begitu, selama Kume tahu yang ada di sampingnya ini merupakan Akutagawa Ryuunosuke.

"Menjaga Kume, kurasa. Matsuoka, kan, lagi ada urusan. Jadi, aku menemanimu biar Kume enggak bosan."

"Apaan, deh? Kau saja tidak mengajakku mengobrol sejak bel pulang sekolah."

"Hmm ... masa?" tanya Akutagawa yang betul-betul bingung. Paras Kume merengut ketika bagi telinganya, Akutagawa ini tidak menyambung sama topik gara-gara melamun. Hobi anak ini melamun malah. "Dari tadi aku memuji kalau Kume itu imut banget, kok. Jadi Kume mau mendengarnya secara langsung, toh."

Siapa sangka masih ada kelanjutannya. Kume pun menggeleng-geleng membuat Akutagawa tertawa renyah. Renyah sekali yang walaupun pertama-tama terdengar menjengkelkan, lambat laun Kume malah merasa itu enak juga. Diam kembali pada mereka, setelah Akutagawa selesai ketawa. Tiba-tiba Kume canggung, membuatnya berusaha menyeret tentang Matsuoka Yuzuru ke dalam benak.

Matsuoka lama sekali, Kume pikir.

Matsuoka tidak mungkin meninggalkannya, bukan? Karena mereka ini sahabat masa kecil. Sementara Akutagawa hanya–

Haruskah Kume menghampiri Matsuoka ke perpustakaan? Tetapi kacamata Kume rusak, gara-gara di jam istirahat ia tersandung. Untungnya Akutagawa berada di tempat kejadian. Jadilah ia berbaik hati menggenggam tangan Kume supaya–

"Ih! Tadi saat aku jatuh kau modus, ya?!" Suara Kume yang ketar-ketir seperti itu tentu mengagetkan Akutagawa. Padahal dirinya hanya sedang asyik memperhatikan Kume, mumpung tinggal mereka berdua di kelas.

"Modus apaan, Kume? Wajahmu juga mendadak merah banget. Kamu demam?"

"Saat aku jatuh, dan kacamataku rusak, katamu kau menggenggam tanganku supaya aku enggak tersandung lagi. Itu apa namanya kalau bukan modus?"

"Perbuatanku salah memangnya?" Kenapa pula Akutagawa bertanya? Tentu saja sebenarnya itu tidak ... keliru. Namun, intinya Kume tetap sebal. Apa pun yang terjadi semuanya salah Akutagawa!

"Iya. Salah."

"Tapi kalau tidak begitu aku takut Kume terjatuh. Omong-omong Kume mendadak demam, kah? Mau kuantar ke UKS?"

Dengan perasaan yang polos Akutagawa menaruh punggung tangannya pada kening Kume. Ternyata tidak demam yang secara impulsif, akhirnya Kume menepis tangan Akutagawa. Memalingkan wajah ke samping asalkan Akutagawa berhenti samar-samar tampak. Setelah menggodanya dengan sangat mulus, mengapa tiba-tiba Akutagawa tolol begini? Bahkan Kume bisa merasakan kepanikan Akutagawa meletup-letup–sebuah kelabakan yang murni.

"Maaf, Kume. Aku benar-benar ingin menolongmu, kok. Apa harusnya aku menggendongmu daripada menggandengmu, ya?"

"Makin parah, dong! Tahu, ah. Akutagawa-kun menyebalkan."

Padahal mereka hanya teman sebangku atas suruhan Natsume-sensei. Kume pun menurutinya, sebab ia amat menghormati beliau yang mengajar bahasa Jepang, dan merangkap penulis kondang. Bahkan bisa dibilang Akutagawa ini saingan terberat Kume. Habisnya Natsume-sensei sedemikian memfavoritkan Akutagawa dibandingkan Kume, makanya Kume membenci ... Akutagawa.

Ia benci dengan bakat Akutagawa yang lebih bersinar dan berpijar daripada milik Kume.

Di satu sisi, Kume juga membenci Akutagawa yang mencoba akrab dengannya. Buat apa, padahal Kume saja sinis terhadap Akutagawa. Bukankah jatuhnya Akutagawa sebatas membuang-buang hatinya? Mengapa ia rela menghempaskannya berkali-kali, walaupun hanya memiliki satu? Berada di tangan Kume pun itu malah hancur meskipun sesungguhnya, Kume tak ingin begitu.

Lalu sekarang ini, Akutagawa seperti menyukai Kume. Makanya Kume makin benci yang mengapa pula, Akutagawa bisa merasakan yang semacam jatuh cinta kepada Kume? Gara-garanya Akutagawa jadi berkata-kata dengan lembut, juga menaruh hati pada setiap ucapan untuk Kume, di mana lama-kelamaan itu membingungkan Kume. Membuat tingkah Kume terpeleset setiap kali ia–

"Aku tidak tahu, kenapa aku bisa jatuh cinta kepada Kume. Namun, karena aku menyukai perasaan ini, bagiku itu lebih dari cukup untuk diketahui."

Selain karena ucapan Akutagawa, Kume menengok sebab ia merasa sesuatu mencium pipinya. Begitu lembut, penuh rasa, dan sanjung, di mana ketika Kume melihat bibir Akutagawa ia mendadak malu. Akhirnya Kume kabur mengejutkan Matsuoka yang baru saja datang, ditemani Yamamoto yang juga berasal dari kelas sebelah macam Matsuoka.

"Kume? Jangan lari-lari kayak begitu, dong. Nanti kalau jatuh bagaimana?!" seru Matsuoka sambil menghampiri Kume yang malah masuk ke ruang guru. Awal-awal Yamamoto masih bingung harus bagaimana, tetapi mendapati Akutagawa menatap Yamamoto dengan heran, akhirnya ia menyusul Matusoka.

Seusai mereka pergi menyisakan Akutagawa seorang, ia tertawa lagi. Merah yang memenuhi Kume betul-betul lucu. Andai saja Kume tak terlalu cepat perginya, Akutagawa pasti memotret Kume.


Tamat.