Sebelumnya maaf bila saya sangat telat untuk update/upload, dikarenakan banyak sekali halangan bagi saya untuk mengunjungi ffn dan memuaskan para reader. mohon maaf yang sebesar besarnya.
Chapter 6 :
The evil side of a Human.
Renovasi asrama sedang berlangsung di sekolah Britannia, para siswa/i yang kehilangan tempat singgah mereka sekarang sedang menetap di gedung olahraga yang di kosongkan agar tidak ada kegiatan untuk sementara. Banyak dari mereka memiliki rasa takut dan trauma akan kejadian yang menimpa mereka kemarin, bahkan sempat ada yang menyerahkan surat pengunduran diri.
Naruto menatap datar dari atas gedung tertinggi di sekolah Britannia, menatap kebawah dimana sekarang para pekerja sedang merenovasi ulang gedung asrama. Dirinya tak habis fikir kenapa kejadian ini bisa terjadi pada anggota yang selalu dia banggakan, yang dimana kekebalan mental mereka sudah teruji bagus akan godaan.
"Ohhh... kau disini rupanya."
"Ada keperluan apa seorang kepala sekolah menemuiku secara langsung?"
"Arogan seperti biasa heh... santailah Naruto, sebuah kecelakaan bisa saja terjadi kapanpun dan dimanapun. Semua telah di atur oleh sang penguasa."
"Aku tau akan hal itu, namun... tenang?... setelah apa yang terjadi kau pikir aku bisa tenang?."
Naruto berbalik menghadap sang kepala sekolah, dirinya meledakkan aura membunuh yang pekat pada kepala sekolah itu.
"Kau seharusnya bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi pada kami, dimana ketegasanmu dalam mengatur pertahanan sekolah ini sampai mereka para bajingan itu lolos masuk kedalam sekolah ha?."
DEG DEG
Naruto tiba-tiba jatuh berlutut, dirinya menahan sesak dan gravitasi yang tiba-tiba turun menghantam tubuhnya.
"Sadarilah posisimu bocah!!"
Perlahan sang kepala sekolah menarik tekanannya, membuat Naruto bisa kembali mengatur nafasnya dan duduk berlutut.
"Jangan kau pikir aku tidak mengambil tindakan atas apa yang telah terjadi, sebuah kesalahan fatal telah terjadi di sini. Bagaimana mereka bisa masuk aku sedang menyelidikinya, terutama di bagian gerbang masuk sekolah."
Naruto berdiri dari acara berlututnya, menarik nafas dalam lalu membuangnya dengan perlahan. Naruto membungkuk kan badannya sembilan puluh derajat pada kepala sekolah, yang dimana hal itu membuat sang kepala sekolah terjengit sedikit akan sikap tidak biasa Naruto.
"Maaf atas keegoisan dan ketidaksopanan saya terhadap anda sensei, amarah sedang menyelimuti saya belakangan ini karena perihal yang sudah terjadi di sekolah. Saya izin pamit."
Melangkahkan kakinya menuju pintu atap, lalu menutupnya meninggalkan kepala sekolah yang berdiri terdiam menatap langit sore.
"Sebuah hal yang baru dari seorang Naruto Uzumaki hee."
*
*
Naruto berjalan menyusuri koridor sekolah, menatap kosong kebawah tak memperdulikan tatapan bingung dari para siswa/i yang berpapasan dengan dirinya. Rasa bersalah menyelimuti dirinya, terutama pada kejadian saat perjalanan kelompok Vali.
Berhenti di depan pintu UKS, Naruto mengetuk perlahan. Mendengar suara dari dalam untuk masuk, dirinya membuka pintu itu. Di sana, di atas ranjang pasien terdapat Hinata yang duduk dengan senyuman indah di wajahnya.
"Kenapa wajahmu begitu murung sayang?"
Hinata berucap setelah Naruto sekarang duduk di kursi yang telah disediakan di samping tempat tidur yang Hinata singgahi.
Naruto meraih kedua tangan Hinata, menggenggam lembut tangan sehalus sutra itu.
"Maafkan aku hime..."
Hinata tersenyum lembut lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Semua ini bukan salahmu Naruto-kun, ini semua adalah kecelakaan yang tidak dapat kita perdiksi. Kematian Lee, Neji-nii, Momo, dan kematian Raiser-san bukanlah salahmu, kita tidak sepenuhnya tau bagaimana dunia luar bukan?."
"Tapi hime..."
"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, karena aku yakin mereka tidak ingin melihat dirimu seperti ini."
Keheningan melanda dua kekasih itu, hanya suara burung berkicau yang terdengar dan hembusan angin yang masuk dari jendela yang terbuka.
*
*
Angin berhembus tenang, mengibarkan helai rambut berwarna hitam dengan pelan. Di bawah satu pohon di tengah-tengah rumput halaman sekolah, Sasuke dengan datar menatap langit biru yang indah. Berbeda dengan wajahnya yang tenang, pikirannya sedang kalut karena kematian anggota kakaknya, akatsuki.
Hidan dan Kakuzu, dua orang yang terbilang special karena memiliki sel gauna langka... regenerasi. Dua orang yang di juluki abadi bisa tewas saat dalam misi membantu tim vali, spekulasi mulai bermunculan di otaknya yang pintar.
"Bagaimana kondisi akatsuki teme?"
"Seperti biasa, tetap tenang dan merelakan mereka yang pergi terlebih dahulu. Hanya Konan-senpai yang terlihat lebih murung dari ke tujuh lainnya"
"Begitu ya... apa langkah mu selanjutnya?"
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu, apa langkah yang akan kau ambil Naruto?. Akatsuki akan melakukan apa yang di perintahkan olehmu, walau lewat perantara diriku"
Naruto terdiam memandang langit, melihat burung burung terbang bersama dengan indah di balik penutup matanya yang seakan tak pernah lepas dari wajahnya.
"Tetap seperti awal yang kita rencanakan"
"Hm... selalu menepati ucapannya ya, seperti biasa dirimu selalu teguh dalam pendirian"
Sasuke berdiri dari duduknya, merenggangkan otot-ototnya yang kaku.
"Kau sudah menemukan pusat dari semua masalah ini?"
"Tentu"
Naruto dan Sasuke menengok kearah belakang yang dimana Shikamaru dan Kuroka berjalan mendekati mereka berdua.
"Menurut data yang di berikan oleh Sona dan penjelasan dari para pengintai, ada kecocokan di antara keduanya."
"Dimana itu Shika?"
"Ambrella, Negara paman sam... Amerika."
*
*
*
*Distrik 21, Tokyo, Jepang.
Saji duduk di ruang tamu, menghadap langit berwarna jingga menandakan sore hari. Dirinya termenung memikirkan kemungkinan terburuk dari semua yang sudah terjadi belakangan ini. Kematian Raiser, tragedi sekolah, dan info soal evolusi dari gauna, otak bodohnya kalut akan semua hal berat ini.
"Jangan paksakan otakmu untuk berfikir hal hal berat Saji"
Saji menengok kesamping dimana Ophis sedang berjalan menuju dirinya dengan tenang.
"Ahh Ophis senpai, hanya saja... apa yang akan terjadi kepada kita jika bencana ini tidak berakhir?"
"Kita manusia akan baik baik saja, mempertahankan bumi tempat tinggal kita dari parasit itu bukanlah hal yang susah"
"Aku tak menyangka kalimat arogan akan keluar dari mulutmu senpai"
"Orang kuat bisa melakukan apa saja kau tau?, ahahaha bercanda... ohh, bagaimana kondisi Ravel-chan?"
Saji terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari senpainya itu yang sekarang duduk meminum teh hangat dengan anggun.
"Dia masih mengurung diri di kamarnya setelah mendapatkan kabar kematian kakaknya beberapa hari lalu"
"Begitu ya..."
Ravel Phoenix, adik dari Raiser Phoenix... setelah mendapat kabar kematian kakaknya, dirinya memilih mengurung diri di kamar. Kehilangan sosok berharga bagi Ravel sungguhlah bukan hal yang diinginkan oleh semua orang, terlebih Raiser adalah kakak yang sangat Ravel sayangi.
"Kehilangan satu satunya sosok keluarga memang berat jika kau mengetahui nya, di saat dunia menolak keberadaan dirimu... maka keluarga dan tuhanlah yang akan selalu ada untukmu"
Saji menatap terpana seorang wanita yang tinggi hanya sebatas bahunya, melihat betapa beratnya kalimat yang terlontar dari bibir manis Ophis.
"Ingat Sona Saji, jika dirinya mengetahui kau terpaku padaku seperti itu... apa yang akan terjadi?"
Saji sadar dari lamunannya, dirinya lalu membayangkan kengerian yang akan Sona lakukan pada dirinya saat mengetahui hal ini. Merinding adalah apa yang Saji tunjukkan pada Ophis yang sekarang sedang tertawa manis.
DING DONG
"Peringatan, sosok gauna tipe boss terlihat sedang menuju distrik 21 Tokyo. Kepada seluruh pasukan harap bersiap di benteng perbatasan dunia luar. Evakuasi warga menuju basemen. Terima kasih"
Ophis yang mendengar pesan itu hanya santai, berbeda dengan Saji yang bergetar hebat dengan keringat yang mengalir dari wajahnya.
"Akhirnya aku bisa merenggangkan otot-otot ku yang kaku ini."
diikuti dengan sedikit pemanasan setelah Ophis mengucapkan kalimat yang membuat Saji menatapnya syok.
"MUSTAHIL SENPAI, KAU TIDAK AKAN BISA MENGALAHKAN GAUNA TIPE BOSS. SEBAIKNYA KITA EVAKUASI WARGA DAN MENUNGGU HINGGA MILITER MEMBERESKAN GAUNA ITU"
"Saji"
"Ha'i"
"Kau lupa siapa diriku?, dan kau lupa kenapa kita dan sekolah itu diciptakan?"
Saji terdiam, dirinya lupa akan fakta apa yang di ucapkan oleh Ophis. Kenapa sekolah itu ada, kenapa mereka bisa berada disini... sebagai sosok yang akan membawa keindahan bagi dunia ini.
Ophis tersenyum tipis saat melihat Saji membungkuk kan badannya.
"Bantu evakuasi, biarkan aku dan mereka yang sanggup menghadapi gauna menyebalkan itu."
"Ha'i madam"
Saji berlari meninggalkan Ophis sendiri di ruang tamu, senyum tipisnya hilang tergantikan wajah datar imutnya. Tiba - tiba muncul dua sosok di balik ruangan yang tak tersorot oleh cahaya.
"Anak yang menggemaskan, kekasihmu?"
"Aku lebih tertarik pada si penutup mata daripada Saji nee-chan, lagi pula... dia sudah memiliki kekasih"
"Ahahaha adikku yang imut sudah memiliki rasa pada seorang pria ternyata"
Ophis menatap tajam Gread red yang sekarang sedang tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya.
"Mau kami bantu Ophis-chan?". Tawar Trihexa,
"Untuk sekarang nee-chan dan nii-sama duduk saja, lihat bagaimana aku membereskan makhluk itu."
Tubuh Ophis perlahan menghilang bagai hantu, meninggalkan Gread red dan Trihexa yang sekarang sedang menatap lurus kedepan, kearah dimana jendela berada menunjukkan suasana sore hari.
*
*
*
*Distrik 17, Kuoh, Jepang
Bangunan terbengkalai, bangunan di luar distrik 17 namun masih menjadi wilayah distrik. Tempat yang dicurigai menjadi sarang dari para gauna tipe easy hingga medium, yang dimana keempat wanita sekarang berada karena misi lanjutan yang diberikan oleh Sirzerh.
JRASHHH
Tsubaki menebaskan pedangnya membelah tubuh gauna yabg yang berada didepannya, entah itu tipe easy, normal maupun medium. Menancapkan pedangnya pada tanah, dirinya menatap iba tubuh mereka yang terbaring berlumuran darah.
"Tidak adakah cara lain selain membunuh mereka?"
ZRRTTT
"Inilah dunia Shinra-san, kekejaman adalah sisi dari sifat manusia." Ucap Akeno dengan menjilati tangannya yang penuh akan darah setelah dirinya membakar gauna yang memuncratkan darah segar.
"Bukan hal asing mengingat kita manusia dari dulu selalu saling membunuh untuk mempertahankan wilayahnya".
Sambung Rias yang sekarang sedang menatap gundukkan mayat gauna terbakar oleh api hitam kemerahannya.
"Kerajaan, perang dunia 1 maupun 2, dulu hingga kini, kita selalu egois agar diri kita bisa hidup tanpa adanya gangguan. Kau memiliki kekuatan kau menang, kau lemah kau mati... itulah yang sekarang kita lakukan."
Sona berucap fakta, membuat Tsubaki semakin iba kepada mereka yang telah menjadi gauna karena lemah tidak bisa menjaga diri mereka.
Setelah beberapa saat mereka istirahat, tiba-tiba tubuh mereka menegang. Hawa membunuh yang pekat mereka rasakan, perasaan buruk menimpa mereka saat pusat dari hawa ini berasal dari satu-satunya pintu masuk dan keluar mereka. Disana, berdiri sosok manusia dengan empat tangan yang membentang. Kepala hingga kaki yang tertutup oleh jubah hitam compang camping, sinar mata merah menatap tajam mereka yang sekarang bersiap akan segala kemungkinan buruk yang terjadi.
"Bukankah itu..."
"Benar, tidak salah lagi... satu-satunya gauna yang terbilang langka dari tipe boss maupun hard."
"Gauna yang memiliki akal dan dapat mengeluarkan sihir, dan yang paling merepotkan adalah dirinya yang dapat menghilang."
Rias, Akeno, dan Sona bersiap dengan sihir mereka. Tsubaki mengeratkan genggaman pada pedangnya, tatapan tajam ia arahkan pada sosok gauna yang berada di depannya, gigi yang saling bergeremuk terdengar bagai menahan amarah.
Sosok gauna yang tidak akan ia lupakan, gauna dengan rupa yang sama seperti pembantaian pada keluarganya.
"Tipe Hardcore, Witch!!"...
