Perhatian! Fiksi penggemar ini mengandung poin-poin di bawah ini.

※ Shounen-ai/Boy Love.

※ Pair yang muncul adalah GemFang dengan sedikit HaliTau/TauHali.

※ Elemental Brothers adalah saudara kandung.

※ Alternate universe: all human, tidak ada unsur fantasi seperti Power Sphera, jam kuasa, dan semacamnya.

※ Perubahan usia karakter.

Bagi Anda yang merasa tidak keberatan dengan poin-poin di atas, silakan lanjutkan membaca.


Gempa: Usia 25 tahun. Kakak tertua dari tujuh bersaudara.

Fang: Usia 23 tahun.

Halilintar: Usia 18 tahun. Kakak kembar Taufan.

Taufan: Usia 18 tahun. Adik kembar Halilintar.

Blaze: Usia 14 tahun. Kakak kembar Ice.

Ice: Usia 14 tahun. Adik kembar Blaze.

Duri: Usia 8 tahun. Kakak kembar Solar.

Solar: Usia 8 tahun. Adik kembar Duri.


"Ehm, jadi gini ..."

Kak Gempa menarik napas, semuanya menunggu dengan antisipasi. Kontras dengan semua itu, seorang pemuda berambut raven biru indigo tersenyum percaya diri.

"Kakak dan Kak Fang mau nikah."

.

.

.

"HAAAHHH?!"

.

.

.

.

.

.

Tiada angin tiada hujan tahu-tahu kakaknya bilang ia akan menikah. Yang ia tahu adalah sang kakak merupakan pemuda sederhana, rajin, dan caring terhadap orang lain apalagi terhadap adik-adiknya. Lantas sejak kapan ia menjalin hubungan istimewa dengan orang asing yang tak pernah ia jumpai sebelumnya?

Tunggu dulu. Kalau dipikir-pikir, semua kelebihan kakaknya itu memang idaman sekali. Tipe orang seperti kakaknya biasanya tampak alim di depan teman-teman dan keluarga, tapi kalau soal hubungan romansa, dia cenderung serius.

Setelah dipikir-pikir, masuk akal juga kalau Kak Gempa tidak pernah mengumumkan kalau ia pacaran sebab ia akan memikirkan jauh sampai ke pelaminan.

Halilintar menghela napas. Sesungguhnya, ia tak pernah berpikir akan bereaksi begitu menentang terhadap pilihan kakak satu-satunya. Hanya saja, orang yang jadi pilihan sang kakak ini agak …

.

.

.

.

.

.

Ini adalah ingatan Halilintar mengenai pertemuan rusuh beberapa hari lalu.

"Namaku Fang. Usia dua puluh tiga tahun. Saat ini bekerja sebagai musisi freelancer. Dengan kata lain, tempat kerjaku akan berganti-ganti. Meskipun begitu, gaji yang kudapat sekali manggung cukup untuk biaya hidup berbulan-bulan."

Halilintar mengernyit. Ia mencium aroma songong yang begitu menyengat dari orang ini. Belum lagi ekspresi wajahnya yang sinis begitu, seakan berkata, "Kau mana ada tandingannya denganku, Bocah". Hal itu berhasil membuat Halilintar harus mengepalkan tangan, atau sebuah bogem mentah akan mendarat di bibir itu.

"Wah, keren! Kak Fang bisa main instrumen apa?"

"Hmph, apa saja bisa. Mau gitar, bass, piano, saksofon, harpa, sampai marakas juga bisa. Beri aku satu alat musik, maka hari berikutnya aku akan menyelesaikan sebuah lagu dari alat itu."

Tahan, Hali, tahan! Orang ini memang kelewat songong, tidak salah lagi. Kalau saja mereka tidak sedang berada di sebuah restoran keluarga yang banyak orang, termasuk seorang kakak dan lima orang adiknya, ia pasti telah menampol wajah narsis bermata empat itu.

"Keren! Nanti aku akan berguru dengan Kak Fang!"

Taufan yang begitu antusias dengan sosok baru berpenampilan gelap bagai bayangan—sok-sok emo, di mata Halilintar—lantas mengambil ponselnya. Ia membuka kamera lalu mengaktifkan mode selfie.

"Hey, ayo kita ambil foto untuk kenang-kenangan!"

"Boleh. Pilih angle yang bagus, ya. Biar wajahku tampanku kelihatan jelas."

Sudah cukup! Sudah! Cukup! Telinga Halilintar tak tahan harus menelan kata-kata narsis Fang yang tiada kira. Ia berdiri dari tempat duduknya. Kebetulan, Halilintar duduk di tengah, sehingga ia harus melewati saudara-saudaranya yang tengah sibuk bercengkerama dan siap-siap mengambil gambar.

"Semuanya, bilang cekodok—"

"Toilet," bisik Halilintar singkat, berlalu secepat yang ia bisa.

Sayang, kakinya menyandung kaki Taufan yang menghalangi jalan. Alhasil, tubuhnya terdorong jatuh ke depan. Yang lain jamaah menyerukan nama si remaja petir dengan ekspresi mata melotot nyaris keluar, sedangkan yang dipanggil tampak seperti penampakan buram seorang makhluk halus.

Ah, sungguh foto yang layak dipajang.

.

.

.

.

.

.

"Bisa-bisanya kakak mau nikahin orang kayak gitu."

"Kau kenapa sih, Anak Edgy. Calonnya kakak oke-oke saja, kok. Malah lumayan keren. Dia bisa main gitar~"

Halilintar menghela napas. Sepertinya kembarannya tidak ada harapan untuk memboikot calon suami Kak Gempa. Kalau bisa, ia ingin semua adiknya setuju. Dengan begitu, ada alasan agar Kak Gempa tidak jatuh ke tangan pemuda sok emo itu.

Blaze menepuk bahu sang kakak yang tenggelam dalam pikirannya. "Tenang saja, Kak Hali! Blaze akan ikut boikot calon Kakak denganmu!"

"Hm? Kau?" Halilintar tidak menyangka target berikutnya akan semudah itu. Eh, tunggu. Mengenal Blaze yang keputusannya selalu plin-plan, ia tak menaruh banyak harapan pada adik keduanya.

Blaze menepuk dadanya bangga. "Iya, dong! Kapan sih, Blaze pernah bercanda?"

Pernah, sering, banyak kali, malahan. Siapa yang menukar isi dompetnya dengan daun sehingga Halilintar harus bayar mi ayam dengan cuci piring di warung itu juga? Atau siapa yang ketika dipinjamkan ponsel pintar malah sengaja nge-prank sang pemilik dengan mengunci ponselnya?

Tapi sepertinya, ia tidak punya pasukan selain dirinya dan Blaze. Halilintar menghela napas dan dengan singkat mengiyakan keinginan Blaze untuk ikut memboikot. Hal itu menghasilkan seruan senang dari Blaze yang sangat tidak penting.

"Oh iya, Kak."

"Hn."

"Boikot itu apa?"

"..."

"Hehe, Blaze mau ikut soalnya kedengeran keren."

Oh, Tuhan, berilah Halilintar kesabaran untuk tidak menendang bocah titisan iblis ini ke dasar gunung berapi.

.

.

.

.

.

.

Setelah acara perkenalan antara Fang dengan adik-adik Gempa yang berlangsung di sebuah restoran keluarga, anak sulung keluarga itu menyatakan bahwa calon suaminya akan tinggal selama beberapa waktu di rumah mereka. Hal ini lantas menyulut emosi Halilintar yang tidak bisa ia ekspresikan dengan bebas, mengingat ia memiliki respect yang tinggi terhadap kakak satu-satunya.

Sebelumnya, Fang tinggal berpindah-pindah kos karena pekerjaan yang mengharuskannya manggung di berbagai tempat. Oleh karena itu, ia tidak punya tempat tinggal yang tetap. Mengambil kesempatan untuk memperkenalkan lebih lanjut calonnya kepada para adik, Gempa mengundang Fang tinggal di rumah mereka.

Nantinya bila sudah menikah, mereka berencana membangun rumah yang terpisah dari rumah mereka saat ini. Bukan hanya Halilintar, tetapi beberapa adiknya yang lain yang cenderung clingy tak lantas menerima keputusan sang kakak. Suasana di antara mereka jadi sedikit kaku.

"Kalau ada apa-apa, aku di dapur, ya. Sudah tahu tempatnya, kan?"

"Gampang. Nanti aku menyusul."

Mereka melempar senyum satu sama lain sebelum salah satu beranjak menuju dapur. Pemuda yang dua tahun lebih muda mulai mengeluarkan pakaian-pakaiannya dari tas lalu memindahkan mereka ke lemari. Memiliki anggota keluarga sebanyak itu, tak heran jika rumah keluarga Gempa banyak renovasi untuk menambah ruang. Mulai sekarang, Fang akan menempati salah satu kamar tamu di sana.

"Saatnya beraksi!" bisik seseorang di balik dinding.

Halilintar menghela napas. Buat apa anak ini berlagak bagai detektif segala, padahal jelas-jelas ia tampil tanpa penyamaran alias sekadar pakai sweatpants dan singlet. Dengan alasan ingin menjalankan misi boikot mereka, Blaze menyeret sang kakak kedua untuk melihat ia beraksi. Katanya, ini adalah rencana tanpa gagal, tanpa telur, tanpa oven, jadilah brownies kukus. Eh, maksudnya rencana tanpa gagal untuk 'mengusir' Fang dari rumah.

Tak lama setelah Gempa meninggalkan kamar tamu, Blaze melesat ke bingkai pintu yang tidak ditutup. Kedua kaki pasang kuda-kuda, ini adalah pose yang dipercaya dapat menunjukkan siapa yang lebih dominan.

"Hey, Fang!" Ia mengarahkan telunjuknya ke wajah Fang. "Hohoho, jangan pikir aku akan menerimamu meskipun kau diminta tinggal di sini!"

Dih, nyentrik sekali anak ini. Halilintar menepuk jidat. Ia tak menyangka adik keduanya pakai adegan film laga segala.

"Oh, ya? Lalu kau mau apa memangnya?" Fang meletakkan sisa pakaiannya.

"Ha! Ha! Ha! Pokoknya aku tidak akan merestui pernikahanmu dengan Kak Gempa! Oleh karena itu, kau pergi jauh-jauh sana! Gih!" Blaze melipat lengan di dada, senyum bangga terlukis di wajahnya.

Sejenak, mata Fang membola, kemudian menutup melankolis. "Begitu, ya? Sayang sekali."

"Hm?" Blaze memiringkan kepala.

Anak itu mengintip dari jauh saat Fang merogoh sesuai dari balik tasnya.

"E-eh, itu kan ...!"

Di tangan Fang adalah sebuah kotak yang masih tersegel rapi dengan gambar game console bernuansa putih. Dari penampilannya saja sudah jelas itu adalah console terbaru yang anak-anak seperti Blaze, akan mudah tergiur olehnya.

"Kalau tidak jadi menikah, aku tidak akan bisa memberikan ini untuk kalian," ucap Fang lirih, sok-sok mengusap wajah sendu.

Pakai sogokan?! Gigi Halilintar gemeletuk. Dasar orang tidak benar!

Blaze, jangan terjatuh dalam tipu muslihatnya!

"U-uhh ... setelah dipikir-pikir, baiklah! Kau boleh menikah dengan Kakak!"

Anak setan.

Sabar, Hali, sabar. Kalau Blaze anak setan, maka ia juga anak setan sebab orangtua mereka sama.

Pemuda bermata rubi menepuk dahi. Seharusnya sejak awal dia tidak usah percaya pada anak ini. Murah sekali Kak Gempa sampai dengan mainan saja ia kalah, di mata Blaze.

"Fufufu, baiklah. Mulai sekarang kau harus panggil aku kakak juga." Fang menyerahkan bungkusan itu kepada Blaze yang langsung lumer terhadapnya.

"Kak Fang!" Blaze menerimanya dengan antusias.

Halilintar melenggang pergi dari sana, memasukkan kedua tangannya ke kantong jersey marunnya.

Awas saja, Fang, ini baru permulaan.

.

.

.

.

.

.

Solar sedang duduk di teras belakang rumah. Matahari tepat berada di atas kepala, membuat suhu jadi lumayan panas. Ia berlindung di bawah bayangan atap. Ada kotak dari kardus bekas piza yang atasnya dilapisi aluminium foil, dijemur di bawah sinar matahari. Sementara itu, bagian bawah digunakan sebagai piring marshmallow dan cokelat.

Solar manyun saat sudah sekian menit berlalu tetapi marshmallow-nya tidak juga meleleh. Mana udara di sekitar tambah panas, lagi.

Fang tengah berjalan menuju ruang tengah ketika ia mendapati si bungsu tampak merenung di bawah bayangan. Pemuda itu membelokkan arah ia berjalan menuju ke teras di mana Solar berada.

Halilintar yang barusan selesai mengerjakan pekerjaan rumah hendak mengambil jus jeruk dari dalam kulkas. Saking panasnya siang ini, ia tak sempat mengambil gelas untuk menuang jusnya, langsung meneguk dari botol. Kalau kakaknya menyaksikan perilaku ini, ia pasti akan langsung kena omelan. Oleh karena itu, Halilintar hanya melakukannya saat sudah pasti sendirian.

Ketika dalam perjalanan kembali ke kamar, ia melihat sosok Fang menghampiri adik kelimanya di teras belakang. Ia teringat misi boikot yang gatot alias gagal total kemarin. Dasar Blaze, tak bisa diandalkan. Bagaimana dengan Solar yang notabene kecil-kecil cabai rawit—kecil-kecil omongannya nyelekit?

"Apa?" tanya Solar. "Kalau mau ganggu mending pergi saja."

Rupanya benar dugaan Halilintar. Dengan sesama saudaranya saja Solar kalau bicara kadang tidak difilter; seperti dirinya. Anak itu cenderung penyendiri dan tidak suka diganggu sebab ia sibuk dengan berbagai macam eksperimennya. Siapa tahu ia kandidat yang bagus untuk misi boikotnya.

"Ih, aku belum juga bilang apa-apa." Fang duduk bersila di samping solar. "Sedang membuat oven?"

Anak itu menoleh, rupanya Fang tahu apa yang sedang ia lakukan. Namun, rengutan bibirnya kembali. Solar hanya bergumam, "He-eh" tanpa banyak energi.

"Boleh kulihat?"

"Terserah," balas Solar, singkat. Toh kan, marshmallow-nya tidak akan meleleh dengan cepat.

Fang meraih kotak itu lalu mengamati strukturnya. "Ini sudah bagus. Solar mau pakai aluminium foil untuk mengarahkan sinar matahari, kan?"

Sedikit, anak itu menoleh lagi ke sosok yang lebih tua. Ia bergumam, "Um."

"Aku ada cara agar marshmallow-nya bisa meleleh lebih cepat. Tunggu sebentar, ya."

Fang meletakkan kotak kardus itu kembali lalu menuju ke kamar. Halilintar dengan gesit sembunyi di balik dinding. Ia kembali siaga mengamati selang beberapa menit saat Fang kembali dengan sebuah kertas hitam dan plastik, dan beberapa peralatan lain dari dapur.

Pemuda berkacamata menempatkan kertas hitam di bawah marshmallow dan cokelat kemudian membungkusnya dengan lapisan plastik. Setelah itu, ia kembalikan kotak kardus di bawah sinar mentari.

"Kertas hitam akan menyerap sinar matahari lebih banyak. Sedangkan plastik akan memerangkap panas, jadi marshmallow Solar akan lebih cepat meleleh."

"Hoo ..."

Anak itu mendengarkan penjelasan Fang dengan khusyuk. Kalau tentang eksperimen, ia betah berjam-jam mendengarkan penjelasan orang.

Mendapatkan perhatiannya, Fang duduk sila dengan ekspresi penuh kemenangan.

"Solar tahu tidak, kalau tiap detik, matahari mengeluarkan energi setara 10 milyar bom nuklir?"

"Hah?!" Mulut Solar menganga. "Se-sebesar itu?"

"Um-hum. Dan Solar tahu warna asli matahari?"

"Uhm, merah?"

"Bukan, putih."

"HAH?"

Disusul beberapa "hah" yang lain, Fang terus mengutarakan fakta-fakta yang ia ketahui. Si kecil membalasnya dengan antusias dan mata berbinar-binar. Semua itu membuat Halilintar mengerang bosan tanpa ia sadari. Sepertinya rencana merekrut pasukan boikot telah lenyap.

Mengubur rasa kesalnya, Halilintar meneguk lagi isi jus jeruk hingga nyaris habis.

"Hey lihat, marshmallow-nya sudah meleleh!"

.

.

.

.

.

.

Ini pukul satu pagi.

Seharusnya Halilintar sudah terlelap sejak tadi. Seharusnya ia tidur lebih awal. Seharusnya ia tak mengabaikan saran Taufan untuk melanjutkan belajarnya besok. Sekarang, nasi sudah jadi bubur, Halilintar menderita akibat lembur.

Tok ... tok ... tok ...

Mana bisa ia keluar saat ada suara ketukan pintu yang tidak berhenti sejak tadi!

Ia akui, ia tak takut dengan preman pasar atau semacamnya yang hobi mengancam dan memalak orang. Namun, lain halnya dengan makhluk berbau mistis. Begitu mendengar tentang mereka, bulu kuduk Halilintar akan berdiri dan tubuhnya jadi memucat bak mayat hidup. Lebih parahnya lagi, kini ia tengah diganggu oleh seorang 'makhluk halus'!

Awalnya ia berusaha berpikiran positif, bisa saja itu salah satu adiknya yang iseng. Namun, setelah nyaris sepuluh menit, suara ketukan itu tidak berhenti juga. Kalaupun ada orang yang benar-benar berniat memanggilnya, harusnya mereka tinggal memanggil nama Halilintar. Beda urusan jika yang terdengar hanyalah suara ketukan ringkih yang tak berhenti membuatnya senam jantung.

Sial, memikirkan semua ini dengan keadaan merinding membuatnya ingin lari ke toilet. Andai saja ada satu di kamarnya dan Taufan, maka ia setidaknya bisa berdiam diri di sana tanpa harus keluar!

Omong-omong tentang Taufan, kembarannya itu sudah duluan terlelap, bahkan mendengkur. Padahal biasanya Halilintar yang tidur duluan, tapi karena mau merampungkan semua tugasnya, ia bekerja keras hingga semua selesai malam itu juga.

Alhasil, ia sendiri yang belum tidur. Tidak mungkin ia membangunkan Taufan, karena berbagai alasan. Yang ada ia malah akan jadi bahan ketawaan si pemuda biru tua.

"Sial. Kalau begini ..."

Halilintar menyibak selimut dengan gusar. Suhu dingin menyambut kulitnya yang sudah berkeringat dingin terlebih dahulu.

Ia berjalan hati-hati untuk mengambil sebuah tongkat baseball di ujung kamar. Halilintar beberapa kali menggunakannya untuk bermain, tetapi praktis juga untuk jadi alat pertahanan diri.

Suara ketukan semakin lambat, tetapi juga semakin berat. Seakan-akan sosok yang mengetuk tak sabar untuk masuk ke dalam, dengan paksaan. Untuk itu, Halilintar harus segera mengatasinya.

Genggamannya mengerat pada tongkat. Ia pelan-pelan berjalan menuju pintu.

Di saat yang sama, ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Suara ini sepertinya berasal dari sumber berbeda. Halilintar memejamkan mata membayangkan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi. Semakin cepat semakin baik. Maka, ia membuka gagang pintu dan mengangkat tongkatnya.

HIYAHH!

"Oh, Hali."

"Hah ..."

Halilintar menahan tongkat baseball yang nyaris ia ayunkan. Kalau refleksnya tidak bagus, maka dua sosok di depannya bisa saja jadi korban kekerasan.

"Fang?"

Pemuda di depannya tampak berbeda tanpa kacamata yang biasa ia kenakan. Bukannya ia rabun? Bagaimana ia bisa jalan ke sini?

"Kacamataku kupakai agar keren, bukan berarti aku rabun," bisik Fang, seakan bisa membaca rasa penasaran Halilintar dalam hati.

Si pemuda petir menggelengkan kepala, mengalihkan fokusnya. Ada acara apa orang ini berkunjung ke kamarnya di pagi buta begini?

"Apa yang ..."

"Shh." Fang mengusap kepala seseorang yang terlelap di lengannya. "Nanti adikmu bangun."

Seorang remaja usia empat belas tahun tengah tenggelam dalam alam mimpi. Ice, kembaran Blaze, mendengkur halus, lengkap dengan piyama dan masker tidur yang menutup matanya. Fang menopang tubuh anak itu agar tidak jatuh.

Halilintar mengernyit. Jadi inikah pelaku ketuk-ketuk yang membuatnya gelisah setengah hidup? Ice memang beberapa kali sleepwalking keliling dalam rumah, tetapi ini pertama kali kamarnya didatangi oleh si anak yang dijuluki pawang hujan. Ia telah khawatir pada sesuatu yang tak ada.

"Dasar, kebiasaan."

"Adikmu sering sleepwalking?"

"Hmh," balas Halilintar singkat tanpa mau menatap Fang.

"Kau tidur saja lagi. Aku akan antar Ice ke kamarnya." Fang mengiringi Ice kembali ke kamar dengan keadaan masih terlelap.

Saat punggung mereka menghilang dari balik dinding, Halilintar perlahan menutup pintu lalu bersandar di sana. Ia letakkan kembali tongkat baseball yang ia siapkan untuk jaga-jaga. Mengusap wajah yang penat setelah diteror 'hantu' tidur berjalan. Belum lagi, malam-malam begini harus melihat wajah Fang yang tak pernah kehilangan seringai smug di wajahnya.

Sepertinya Halilintar akan susah tidur.

.

.

.

.

.

.

"Wah, ini ...!" Taufan menepuk paha dengan heboh. "Hahaha, aku menemukan foto super rare!"

Sebuah sore yang tenang di rumah. Semuanya tengah asyik dengan aktivitas masing-masing sembari menunggu makan malam. Juga menunggu Gempa yang tengah di jalan pulang setelah membeli minuman dan camilan pesanan adik-adiknya.

Taufan dan Fang tengah bercengkerama di ruang keluarga dengan beberapa album foto bertebaran. Putra ketiga menawarkan calon kakak iparnya melihat kenangan masa kecil mereka lewat potret lama. Tak disangka, ia menemukan sebuah foto yang ia pikir tak akan pernah dilihatnya lagi.

Sementara itu, di ruang sebelah tempat televisi berada, Blaze tengah mengajari adik keduanya, Duri, untuk bermain lewat game console yang belum lama ia terima dari Fang. Saking fokusnya, mereka tidak menyadari keadaan Halilintar yang mengeluarkan aura tidak menyenangkan di belakang mereka. Tak ada yang ingin ia kerjakan, pemuda itu hanya duduk bosan menatap layar permainan di televisi.

"Mana coba?"

Taufan menyodorkan selembar foto lama yang memiliki beberapa kerutan di sisinya. Mungkin karena faktor usia.

"Apa ini kau dan Hali?" tanya Fang, membelalakkan mata. "Dan di belakangnya ada Gempa?"

Telinga Halilintar langsung bereaksi ketika namanya disebut. Foto yang mana yang mereka maksud? Jangan bilang itu foto aibnya waktu dulu!

"Pfft, bwahaha!" Fang tersenyum menatap foto itu. "Dia tersenyum!"

"Langka, kan? Seingatku, ini zaman di mana Blaze dan Ice belum lahir."

Halilintar menggigit bibirnya. Walau ia sendiri tidak yakin foto yang mana yang mereka maksud, ia ingat dengan masa itu.

"Jadi waktu itu hanya kalian dan Gempa, ya? Pasti menyenangkan dimanjakan kakak sepertinya."

"Hum! Hali dulunya bukan anak edgy. Dia manis sekali dan kalau kuajak bermain mau-mau saja."

Alis Taufan membentuk lekukan sendu. "Karena orangtua kami jarang di rumah, Kak Gempa menjadi sosok yang paling dekat dengan kami. Tak terkecuali Hali. Dulu dia manja sekali, bisa terbayang?"

"Hali anak yang baik. Tapi sejak adik-adik kami lahir, sepertinya dia jadi kelewat serius. Katanya mau bantu Kakak untuk merawat mereka," lanjutnya, mengingat-ingat kepingan memori di kepalanya.

"Gempa pasti sangat menyayangi kalian, hm. Pantas saja anak itu hormat sekali dengan kakaknya." Fang tersenyum lembut.

Sudah jelas.

"Aku rasa tidak ada yang salah dengan itu. Hanya saja, Hali kadang lupa kalau ia tetaplah adik Kak Gempa. Anak itu tak pernah tersenyum lagi. Haah …," keluh Taufan.

Fang menunduk, ia pernah mendengarnya. Kisah seorang adik yang ingin membuat kakaknya bangga, tetapi semua usahanya justru menarik mereka makin jauh satu sama lain.

"Semakin dewasa, kau semakin sulit mengutarakan perasaanmu. Orang-orang yang kau sayang juga harus berkembang dengan cara mereka masing-masing."

"Tidak ada salahnya jika kau mencoba bicara dengan mereka. Menurutku, memang butuh keberanian untuk mengutarakan perasaan." Fang mengusap foto itu. "Aku juga ingin melihat Hali tersenyum."

Kalau begitu harusnya kau pergi dari sini. Pergi dari kakakku ...!

Tak! Suara gelas yang isinya telah habis diminum terdengar diletakkan kasar di meja. Blaze dan Duri sontak menghentikan permainan konsol mereka dan menoleh ke sumber suara.

"Kak Hali, kenapa?" Duri bertanya, kedua alisnya melengkung turun.

Halilintar menurunkan lidah topi hingga menutupi matanya. Pemuda itu melenggang dari sana tanpa membalas ataupun sekadar membalas pertanyaan sang adik. Kepergian Halilintar membuat Blaze dan Duri saling pandang, mengundang semakin banyak tanda tanya di benak mereka.

Sebenarnya ia tak ingin melihat Fang, tetapi satu-satunya jalan ke pintu luar tempat sepeda motornya berada adalah dengan melewati ruang keluarga. Ia bergegas mengambil kunci dan jaket, berjalan cepat melewati dua pemuda yang masih sibuk memandangi album foto.

"Oi, Hali, kau mau ke mana?"

Taufan menurunkan album foto saat menyadari kembarannya berjalan melalui mereka tanpa seutas kata. Fang sudah lebih dulu berdiri, menahan lengan Halilintar yang berjalan cepat.

"Kakakmu sebentar lagi pulang dan kita akan makan malam. Mau ke mana sekarang?"

"Lepaskan." Halilintar mendecih.

"Aku tidak bisa izinkan itu." Suara Fang berubah menjadi datar, sama dengan tatapannya terhadap adik kekasihnya.

Giginya gemeletuk, tangan membentuk kepalan. Kalau saja mereka tidak sedang di rumah, bisa saja sebuah tinju melayang ke arah sosok yang berani menahan langkahnya.

"KAU PIKIR KAU INI SIAPA?!"

Saat mendengar keributan di ruang tengah, Blaze lantas menahan adiknya yang hendak mengekor sang kakak. Ia mengintip dari balik dinding, paham bahwa memunculkan diri sekarang bukan ide bagus.

Aduh, sepertinya Kak Hali marah …. Setetes keringat mengalir turun dari kening Blaze.

"Hali, sudahlah!" bentak Taufan. "Kau jadi konyol sekarang!"

"Kau tidak ada bedanya, Taufan. Tahu apa orang ini tentangku? Tentang kita? Tentang Kakak?! Sok-sokan mengharapkan kita untuk bahagia, yang ada dia hanya memikirkan diri sendiri!"

"Jadi kau dengar percakapan kami, huh ... Kau tahu, kau yang buta!" Taufan mendorong Halilintar hingga genggaman tangan Fang berpindah kepadanya.

"Kau yang hidup di masa lalu. Kau pikir Kak Gempa akan terus bersama kita selamanya, hah?! Kau pikir dia milikmu seorang saja?"

Wajah Halilintar memanas di bawah topi yang ia kenakan. Taufan telah melakukannya—menyulut sumbu yang membuat saudaranya siap meledak kapan saja.

"Ingat ya, bukan hanya kau yang sayang dengan Kakak! Aku pun tahu ... aku juga tahu tidak mudah melepaskannya. Tapi Kak Gempa bukan seseorang yang akan melupakan kita meski ia punya orang baru dalam hidupnya!" Genggaman tangan Taufan melemah. "Aku juga ingin Kakak bahagia …."

"Lepaskan."

Tak mengindahkan kata-kata Taufan, Halilintar menepis cengkeraman saudara kembarnya pada jaket yang ia kenakan. Taufan nyaris kehilangan keseimbangan saat Halilintar menyorong tubuhnya, memberi ia jalan untuk menuju ke pintu depan secepat mungkin. Pemuda bermata rubi sendiri tak tahu wajah seperti apa yang tengah ia buat, maka ia menyembunyikan itu di balik topi hitamnya.

"Sialan, mau ke mana kau—"

Sebelum ia sempat mengejar saudaranya, Fang sudah lebih dulu menahan Taufan. Ia menggeleng, mengisyaratkan bahwa ini bukanlah ide yang bagus.

"Biarkan saja. Hali perlu waktu sendiri."

Fang menatapnya serius, yang mana Taufan balas dengan mata yang tak kalah khawatir.

"Tapi ... argh ..." Taufan mengusap kepalanya kasar, menghela napas memandangi kepergian saudaranya.

"Apa aku keterlaluan?" tanya Taufan entah pada siapa.

"Ini pertama kalinya aku melihatmu meledak seperti itu. Heh, sungguh keluar karakter."

"Eh—ahhaha ..." Taufan tertawa canggung menyadari aksinya yang mengundang kejutan bagi Fang.

"Yah, bagaimanapun juga kami ini saudara—kembar, malah. Pertengkaran seperti ini sudah biasa, kok," bisik Taufan, suaranya menyiratkan sesal.

"Kak Fang, aku harap Kakak maafkan anak itu, ya. Dia memang sulit terbuka, tapi seperti yang kau lihat, Hali hanya overprotektif." Tak yakin apa kalimat terakhir tadi merupakan hal buruk atau sebaliknya, pemuda biru menggaruk kepala.

"Hmph, kenapa kau yang khawatir?" Fang mendengus, mengusap kasar kepala calon adik iparnya.

"Eh?"

Seringainya berubah menjadi senyum hangat. "Tenang saja, Taufan. Aku ada cara untuk mendapat kepercayaan Hali."

.

.

.

Gempa baru saja sampai di rumah. Di tangannya ada beberapa bungkusan berisi camilan yang adik-adiknya pesan. Wajahnya berseri melihat rumah kesayangan kembali.

Akan tetapi, senyum di wajah sirna melihat Halilintar yang terburu-buru membawa sepeda motornya ke luar.

"Kakak pulang—" matanya berkedip beberapa kali— "Hali, mau ke mana?"

"..." Pemuda itu hanya memandang kakaknya sekilas. Bibirnya sedikit terbuka hendak mengucapkan sesuatu, tetapi ia menelan kembali kata-kata yang hendak ia sampaikan.

"Matahari sudah tenggelam. Kakak bawakan pesanan kalian. Kenapa tidak—"

"Berisik."

"Eh?"

Setetes keringat menuruni kening Gempa. Ini pertama kali Halilintar berbicara singkat, padat, dan menyayat hati kepadanya. Gempa sampai bergeming saking tak percayanya dengan ucapan sang adik.

"Hali, bagaimana kalau kita—"

"Lakukan saja sendiri."

"Tunggu!"

Menyalakan mesin motornya, Halilintar mengebut mengikuti kegelapan malam. Melajukan gas yang derumnya menelan suara kakak yang memanggil namanya.

Seperti halilintar, namanya, punggung pemuda itu tak meninggalkan jejak hanya dalam sekejap mata. Gempa memandang sayu ke arah yang ia tuju. Kurang lebih, ia bisa menebak apa yang terjadi. Walaupun Halilintar jarang bicara padanya, Gempa tahu apa yang pemuda itu sembunyikan.

Sejak saat itu, sejak ia mengumumkan keputusannya untuk menikah.

"Kakak hanya ingin kau mengerti, Hali ..."

.

.

.

"Kak Hali kenapa?"

Setelah Halilintar pergi, barulah Blaze membiarkan Duri keluar dari dinding persembunyian mereka. Saudara kembar Solar itu manyun setelah melihat pertengkaran di antara kakak-kakaknya.

Fang tersenyum, menepuk sisi sofa di sampingnya, mengundang Duri untuk duduk. "Kak Hali sedang butuh waktu sendiri. Tenang saja, nanti dia akan pulang."

Si kecil yang baru duduk di bangku kelas dua SD itu malu-malu mendekat ke sofa. "Tapi Kakak marah-marah. Apa Kakak sedang sedih?"

Fang mengusap puncak kepala Duri. "Mari kita tanyakan Kak Hali besok. Duri mau bantu Kakak?"

Mendengar bahwa ia boleh membantu, Duri langsung mendongak. "Mau!"

"Baiklah, Kak Fang punya ide." Fang membisikkan sesuatu ke telinga Duri. "Duri bisa, kan?"

"Hihihi, itu gampang!"

.

.

.

.

.

.

Kenapa ...

Kenapa ia lagi-lagi terseret ke acara keluarga bersama Fang?!

.

.

.

Halilintar sedang tiduran anteng di atas kasurnya sambil memainkan beberapa permainan daring ketika Taufan dan Blaze datang mendobrak pintu kamar dengan tawa yang mengerikan.

"Mau apa kalian?"

Bukannya menjawab, duo biang kerok malah mengelilingi Halilintar yang sedang terbaring dan mulai cekikikan layaknya kuntilanak.

"Satu," Taufan mengangkat tangan.

"Dua," Blaze menunjukkan tali yang ia sembunyikan di balik punggung.

"Sialan—!"

Halilintar berusaha menyelip dari sela kasur. Jika saja tidak sedang dikepung dengan pasukan bersenjata (Taufan dan Blaze), maka ia bisa saja melarikan diri lewat celah di antara mereka. Namun, nahas sebab dua saudaranya telah lebih dulu mengikat tubuhnya yang berontak seperti ikan.

"Kau tidak akan lari kali ini~"

"Huhuhehehe, Kak Hali harus tanggung jawab~"

Urat kepala Halilintar tercetak garang. Di depannya, dua sosok psikopat dengan wajah serupa dengannya, mencekam gerakannya dengan sebuah tali.

Tamatlah sudah.

.

.

.

"Kenapa harus aku ikut kalian keluar segala?!" gerutu pemuda bermanik rubi di bawah sebuah pohon rindang.

"Kalau tidak diseret, mana mungkin Hali yang penyendiri akan ikut kami jalan-jalan. Karena itu aku bekerja sama dengan sohibku satu ini." Taufan merangkul adiknya, seringai bangga terlukis di wajah.

Saat ini, mereka tengah berada di alun-alun yang menjadi pusat keramaian kota. Tujuh bersaudara bersama Fang mengunjungi tempat itu dengan alasan ingin hangout demi mempererat tali persaudaraan, setidaknya itulah yang Taufan katakan. Namun, yang ada adalah mereka berpencar sendiri-sendiri untuk berfoto atau membeli camilan.

"Kak Upan, itu pedagang tempura yang kemarin lewat rumah tapi kita gagal panggil karena terlanjur kejauhan!" seru Blaze, sangat spesifik.

"Wih, gak bisa dibiarkan! Mari capcus, Prajurit!"

"Aye-aye, Kapten!"

Kedua biang kerok dengan cepat menuju ke pedagang tempura yang membuat mulut mereka ngiler, meninggalkan Halilintar di bangku bawah pohon. Mengernyit, wajahnya mengeluarkan aura kelam yang membuat orang-orang segan mendekat untuk sekadar duduk di sampingnya. Apalah arti semua ini jika ia hanya berakhir sendiri.

"Kak Hali!"

Seruan serta tarikan Duri pada lengan jaketnya menahan Halilintar untuk langsung pergi dari tempat itu. Di tangannya, ada sebuah kotak berukuran sedang.

"Duri ada hadiah buat Kakak!" Duri menyodorkan hadiah itu dengan penuh konfidensi.

Halilintar menghela napas. Merasa panas. Sejak kecil, ia memang tidak suka dengan keramaian. Begitu banyak orang di tempat ini membuatnya pusing. Alih-alih membalas pemberian Duri, ia berbalik arah darinya.

Sudah cukup.

Halilintar memutuskan untuk beranjak dari tempat itu tanpa menghiraukan hadiah yang Duri berikan. Melihat kakaknya pergi tanpa menerima pemberiannya tidak ada dalam rencana, sehingga si kecil harus mengekor sang kakak yang entah hendak ke mana.

"Kak Hali, tunggu!"

Kaki-kaki kecilnya sedikit kewalahan menyamakan langkah dengan kakaknya yang berjalan cukup cepat. Pemuda itu melalui pinggir sebuah danau yang cukup luas, cenderung sepi dari pengunjung.

"KAK HALIII!"

Halilintar akhirnya berhenti ketika ia mendengar Duri terengah. Untuk sekilas, ia menoleh ke belakang, menemui Duri yang belum menyerah untuk memberikan hadiah itu untuknya.

"Kakak tidak butuh hadiah."

"Tapi Duri sudah buatkan untuk Kakak, loh! Kak Fang juga bantu buatkan untuk Kakak!"

Jangan sebut nama itu.

Halilintar berbalik, mendekati Duri yang tak terima hadiahnya ditolak.

Ia mendongak, pupil membesar ketika Halilintar telah berada di hadapannya dengan dua mata rubi menatapnya bagai hunusan pedang.

"Kakak ...?" bibir Duri sedikit gemetar.

"Aku bilang ...," Halilintar merebut kotak hadiah itu dari tangan Duri, "jangan sebut nama itu!"

"!"

Jatuhnya kotak itu menghasilkan suara ceburan yang cukup keras. Melihat adiknya tak lagi mengoceh, Halilintar lantas melanjutkan langkahnya semakin jauh dari kerumunan orang. Meninggalkan Duri sendiri, tak yakin apa yang harus ia lakukan.

Kotak itu jatuh mengapung tepat di danau yang mereka lalui. Sang kakak kedua tak lagi ingin berurusan dengannya, sedangkan kakaknya yang lain terlalu jauh dari tempat itu. Jika ia biarkan terlalu lama, kotak itu akan mengapung terlalu jauh ke tengah danau.

Dengan langkah terputus-putus, ia mendekati pinggiran danau yang dibatasi pagar. Sebenarnya, bisa saja Duri menyelip ke bawah pagar karena tubuhnya yang mungil, tetapi tangannya tak cukup panjang untuk meraih kotak itu. Setelah memutar pandang, ia menemukan sebuah ranting pohon yang lumayan panjang.

Duri buru-buru meraih ranting itu sebelum hadiahnya mengapung terbawa air.

"Ihh ... arghhh!"

Duri memajukan ranting itu sejauh yang lengan mungilnya bisa, tetapi kotak yang mengapung malah terdorong semakin jauh. Semakin rendah ia merangkak, dibantu dengan tubuh kecilnya, anak itu perlahan melewati pagar pembatas bagian bawah.

"Sedikit ... lagi~!"

Kali ini, tongkat itu berhasil menyentuh kotak hadiahnya. Sambil tersenyum lega, Duri perlahan menariknya ke tepian danau.

Akan tetapi, satu langkah yang ia buat terasa licin. Tubuhnya terguncang akibat dorongan yang tidak disengaja.

"AHH!"

.

.

.

Begitu ia sampai di daerah yang sepi pengunjung, Halilintar baru bisa mendudukkan diri. Tempat di mana ia berada dipenuhi pohon yang menghalangi cahaya matahari dan kebisingan pengunjung. Raut wajahnya yang keras perlahan mengendur seiring angin sore menggodanya untuk bersantai.

Hanya saja, ia jadi kepikiran.

Baru saja hendak bersantai, Halilintar menepuk wajahnya keras-keras. Apa yang sudah ia lakukan? Menolak hadiah dari adiknya yang berusaha membuat suasana hatinya membaik, bahkan membuang hadiah itu. Hatinya tengah kacau, tetapi Halilintar cukup dewasa untuk memahami bahwa itu tidak bisa menjadi alasan bagi aksinya.

Selain itu, ia tidak melihat sosok Duri. Kalau adiknya berniat mengikutinya, maka harusnya ia juga tiba di sana. Namun, Halilintar tidak melihat sosoknya.

Ia berdiri, firasatnya mengatakan sesuatu yang tidak-tidak tengah terjadi.

Duri … Duri … di mana kau?

.

.

.

"KYAHH!"

Lamunannya langsung sirna ketika ia mendengar suara jeritan yang tidak asing. Itu suara Duri, datang dari tempat yang di mana mereka bertengkar barusan.

Tanpa banyak pikir, pemuda bertopi hitam memutar arah ke tempat itu. Jeritan Duri semakin nyaring semakin ia mendekati danau. Di sana, ia melihatnya, hal yang ia sangat tidak ingin terjadi.

"KAKAK!"

"DURI!"

Di danau itu, adiknya mengambang tak tentu arah, tak berdaya mengeluarkan diri dari sana. Danau itu cukup dalam hingga airnya mencapai dada Duri. Yang ia khawatirkan adalah semakin ke tengah, semakin dalam air itu. Jika Duri terbawa hingga ke tengah ...

Ia takut pada air. Hal yang serupa pernah terjadi dengannya di masa lalu, membuat Halilintar memiliki fobia air semenjak masa itu. Tangannya bergetar di pagar pembatas. Badannya memucat, detak jantung memburu tak karuan. Ia bahkan tak bisa mengeluarkan suaranya barangkan untuk memanggil bantuan.

Seseorang ... tolong ... adikku ….

.

.

.

"DURI!"

Saat itu, Halilintar tersentak ketika sosok violet berlari ke arah mereka. Fang mengempas langkahnya ke pinggir danau tempat Duri berada.

Tanpa banyak pikir, Fang melompati pagar pembatas, terjun ke danau, meraih Duri yang wajahnya basah oleh air mata. Suaranya telah habis setelah menjerit untuk beberapa waktu. Pemuda itu cepat-cepat berenang kembali ke tepi danau, merengkuh tubuh mungil Duri dengan kain kering.

Wajah pucat Halilintar memandang kerumunan orang yang mendengar jeritan tolong adiknya. Semuanya datang, berusaha menenangkan sang adik. Taufan, Blaze, Ice, Solar, Kak Gempa, bahkan Fang.

Kecuali ia yang bergeming di pinggir danau tanpa bisa berbuat apa-apa.

Jika Fang tidak di sana saat itu juga, ia bisa saja kehilangan Duri.

Bukan hanya itu.

Ia bisa saja kehilangan mereka semua.

.

.

.

.

.

.

Malam itu tenang.

Bintang benderang memenuhi angkasa di langit yang sejuk. Tidak panas tapi tidak terlalu dingin pula. Semilir angin menyapu kulit kuning langsat seorang pemuda yang tatapannya mengarah ke cahaya-cahaya kecil itu. Kontras dengan tempat ia duduk yang mana sengaja tidak ia nyalakan lampunya.

Halilintar merenung di teras belakang, sesuatu yang jarang ia lakukan. Biasanya saat ingin sendiri, ia akan mengunci diri di kamar, tanpa menghiraukan Taufan yang menggedor-gedor pintu ingin tidur. Terpaksa, kembarannya harus menginap di kamar saudara mereka yang lain. Hal lain yang mungkin ia lakukan adalah mengebut di aspal dingin jalan besar dengan motor gedenya yang hitam mengkilap dengan corak merah. Kapan ia pulang? Biasanya pemuda itu tidak akan kembali hingga esok hari, tergantung suasana hati.

Tapi malam ini berbeda. Kamar yang biasa ia tempati terasa pengap meskipun Taufan tidak di sana. Mau mengendara motor pun rasanya berat—perasaan berat yang membelit hatinya membuat Halilintar tak punya tempat untuk lari.

Sore tadi, adiknya nyaris saja celaka, dan tak ada yang bisa ia lakukan. Walaupun Duri telah dilarikan ke rumah sakit dan dipastikan tidak mengalami luka serius, ia ingat betul jeritan adiknya yang jatuh terapung di atas danau. Duri akhirnya jatuh terlelap karena lelah menangis, hingga saat ini ia masih tertidur di kamarnya.

Gara-gara ia, adiknya jadi celaka. Pemuda itu menunduk dalam, membayangkan kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi dan ia lemas seketika; membuat dosa yang terkenang seumur hidup, juga dosa yang membuat semua orang menjauhi dirinya.

Alhasil, pemuda itu hanya terdiam di teras belakang yang sunyi. Setidaknya, ia tidak harus berhadapan dengan siapapun di sini. Saudaranya yang lain mungkin tengah beristirahat setelah satu hari yang menggegerkan.

"Hali~?"

Pintu menuju teras dibuka, cahaya dari dalam rumah menyelip dari celah pintu, kemudian lampu dinyalakan oleh sosok yang sama yang barusan membuka pintu. Di belakangnya, ada sosok berkacamata yang lebih tua.

"Yo! Kau baik-baik saja?" sapa Taufan sembari menepuk pundak saudaranya lalu duduk di sampingnya.

"Kau tidak kelihatan di manapun, jadi kami mencarimu." Fang ikutan duduk di samping Taufan.

Halilintar menatap keduanya bergantian. Ia tak tahu harus berkata apa di saat seperti ini sehingga sang pemuda memilih diam tanpa lanjut menatap mereka.

"Ah ..." Tak ayal, bibirnya terbuka secara refleks. Karena terlanjur, ia pun melanjutkan susunan kata yang berantakan di kepalanya, "Ini semua sal—"

"Maafkan aku, Hali!"

"Eh?"

Suara tepukan tangan Taufan yang membentuk gestur minta maaf lantas mendapatkan perhatian Halilintar.

"Aku ... sudah membentakmu kemarin. Padahal aku tahu perasaanmu sedang buruk. Uhh, kau tahu—" alis Taufan menajam ketika ia meremas kedua bahu Halilintar, menatapnya tepat di mata. "—aku khawatir padamu, bodoh!"

"Kita ini saudara—kembar, malah—tapi rasanya jauh sekali, nyaris seperti orang asing kalau bicara. Kau selalu menolak ajakanku ke manapun." Taufan lalu melepas genggamannya di bahu Halilintar, kini melipat lengan di depan dada.

"Menurutku, kau itu egois." Satu kalimat Taufan membuat saudaranya terhenyak.

"Kenapa? Karena kau selalu menyimpan semuanya sendiri. Saat kau bersedih, marah, atau punya masalah, yang kau lakukan adalah lari dari rumah. Kau tidak pernah memikirkan perasaan kami yang cemas menunggumu di rumah.

Tidak pernah kau pikirkan perasaan Kak Gempa? Setiap kali ia tahu kau kabur dari rumah, ia yang paling panik. Pernah beberapa kali ia menghubungi polisi untuk mencarimu. Ia bahkan tidak mau tidur sampai tahu bahwa kau baik-baik saja." Panjang lebar tetapi pelan, Taufan mendaftar serentet kelakuan Halilintar yang pernah membuatnya pusing tujuh keliling.

Fang menambahi, "Kakakmu itu, meskipun tampaknya sibuk, yang paling ia sayangi adalah adik-adiknya."

"Fufu, sejujurnya aku iri dengan kalian." Fang menatap bintang di langit. "Punya kakak yang penyayang—dan memikirkan kalian lebih daripada apapun di dunia ini. Aku harap kakakku juga begitu."

"Eh, Kak Fang punya kakak?" Hanya Taufan yang bertanya, tetapi fakta ini juga baru bagi Halilintar.

"Punya. Kakak yang keren, tetapi dia sibuk dan sering menyuruhku ini-itu. Yah, tapi aku berterima kasih padanya, sebab karena kakakku, kami menjadi anak yang mandiri meski harus tumbuh tanpa ayah dan ibu." Fang teringat wajah sang kakak yang, kalau tidak sangar, ya paling-paling tersenyum sinis.

"Hali, Taufan," Fang menatap kedua pemilik nama, senyum melebar di wajahnya yang menghangat, "aku bersyukur telah bertemu kakak kalian."

Kalimat-kalimat Fang membuat Halilintar merenung. Apa yang terjadi pada keluarganya? Apa yang membuat Gempa sebegitu berharga baginya? Bagaimana mereka bisa bertemu? Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba menumpuk di kepala.

"Hey," tanpa menatap orangnya, Halilintar perlahan berbisik, "Kak Fang."

Kedua pasang mata otomatis beralih pada Halilintar. Sebutan barunya kepada Fang telah naik pangkat dari yang biasanya "Fang" saja, menjadi "Kak Fang". Taufan sampai mangap, tak yakin jika ia salah dengar atau tidak.

"Kalau kau buat Kak Gempa menangis, aku tidak akan memaafkanmu."

"Pfft—" Fang ingin menahan tawa, tetapi gagal ketika ia membayangkan sosok Gempa yang mewek seperti seorang wanita yang kena KDRT. "—hahaha, tidak kebalik? Tapi kau ada benarnya, sih, aku yang lebih sering usil padanya."

"Eh, tunggu! Tunggu, tunggu, tunggu! Apa ini? Apa Hali baru saja memberi restu?" Sementara itu, Taufan masih tidak percaya dengan yang ia dengar.

"KAK HALI!"

Tawa di teras belakang menjadi senyap ketika mereka mendengar suara cempreng seorang bocah yang membawa kotak kecil sedikit kusam akibat air. Mata Halilintar membola, berkaca-kaca ketika Duri sudah berlarian seperti biasa. Tidak hanya itu, seorang pemuda tinggi di belakangnya memberikan senyum hangat yang menenangkan.

"Duri sudah sehat, katanya, jadi ingin ketemu Kak Hali." Gempa duduk di salah satu kursi, menghapus segala kerisauan di hati sang adik.

"Kak, ayo buka!"

Belum sempat ia merespon ucapan sang kakak, ia mengalihkan perhatian pada Duri. Menatapnya bagai bertanya, "Apa boleh?" yang mana dibalas Duri dengan anggukan mantap.

Halilintar membuka kotak itu pelan. Di dalamnya adalah sebuah akuarium kaca kecil berisikan beberapa macam sukulen. Masing-masing dari mereka ditata rapi membentuk sebuah kebun kecil. Terarium, jika orang-orang menyebutnya, adalah hobi adiknya yang belakangan ini begitu ia tekuni.

"Kemarin Kak Fang bantu Duri buatkan ini untuk Kak Hali!" Duri menyerbu Halilintar, memeluk pinggangnya. "Hihi, jangan sedih lagi, ya!"

Rengutan di bibir berubah menjadi senyum. Rasa berat di hatinya perlahan meleleh, berganti dengan haru yang menghangatkan dada. Halilintar merangkul Duri ke dalam pelukannya, berbisik, "Syukurlah, Duri tidak apa-apa. Jangan benci Kakak ya, Duri ..."

"Ah, hatiku—" Gempa tiba-tiba meremas dadanya.

"Gempa, kau kenapa?"

"Tidak apa-apa, Fang. Pemandangan ini hanya terlalu precious untukku—"

"Aha, soal itu, Taufan punya kabar yang dijamin lebih mengejutkan hati Kakak!"

"Eh, apa itu, Taufan?"

Taufan naik ke atas kursi. "Karena Hali baru saja merestui pernikahan Kakak, Kak Gempa dan Kak Fang resmi boleh menikah! Hore!"

Menebar konfetti imajiner, kelakuan Taufan membuat mata penghuni teras di sekitarnya kedap-kedip, tak terkecuali Gempa yang kini menganga. Fang tergelitik melihat ekspresi keluarga ini yang sungguh berwarna.

"EH? HALI? Serius? Apa itu sungguhan? Kau tidak harus buru-buru kalau—"

Halilintar yang kini memangku Duri menyeringai. Terpikirlah sebuah kalimat iseng untuk menggoda sang kakak yang gelagapan. "Penasaran bagaimana keponakanku besok seperti apa."

"Eh, kalau Kak Gempa punya anak, artinya Duri jadi om-om?!"

"Mau taruhan, Hali? Kalau dia mirip Kak Fang, motormu jadi milikku."

"Boleh. Kalau dia mirip Kak Gempa, koleksi skateboard-mu akan aku jual."

"Heh, tidak adil!"

"Hey!" Gempa menyahut dengan wajah merah bagai direbus. "Kenapa malah bahas itu! Dan kenapa kalian jadikan calon anak Kakak sebagai taruhan?!"

Menyadari ucapannya sendiri, Gempa langsung membekap mulut. Di sampingnya, Fang meremas lengan pakaian yang ia kenakan. "Kenapa, Gempa, kau mau cepat-cepat punya anak?"

Suasana di teras mendadak jadi panas—di antara dua yang paling tua. Adik-adik mereka langsung mengalihkan perhatian sambil bersiul. Yang paling kecil hanya memiringkan kepala, belum paham dengan yang mereka maksud.

"Fang! Aku, itu, ah …."

"Ya? Kau mau berapa, Gempa sayang?"

"Ahhh! Stop!"

Gedubrak! Suara pintu teras dibanting terbuka dari dalam.

"Heyo~ Blaze datang untuk menghias suasana!"

"Kak, kenapa Solar harus ikutan segala!"

"Lah, tadi kan Solar sudah setuju mau ikut eksperimen. Popcorn ini adalah buktinya!"

"Uhh, apa ini sudah ganti hari?"

Untuk sesaat, Gempa bersyukur akan adanya sosok lain yang menginterupsi perbincangan mereka mengenai anak—atau Gempa akan meleleh total. Blaze datang membawa segunung popcorn berlapis mentega di tangan kanan dan gelas plastik di tangan kiri. Di belakangnya, Solar membawakan sisa popcorn yang notabene masih banyak dan sebotol sirup jeruk. Di paling belakang, Ice mengusap matanya yang telah kelamaan tidur, sampai ia berpikir hari telah berganti ke malam berikutnya.

"Yo, Kak Upan! Blaze buat popcorn untuk Duri yang sudah baikan." Blaze menjelaskan maksud tujuannya membuat camilan jagung itu.

"Timing yang sempurna!" Taufan turun dari kursi untuk membantu menyiapkan camilan malam mereka.

Merasa dirinya harus minta maaf soal kejadian sore tadi, Halilintar menawarkan bantuan untuk ikut menyiapkan camilan yang lantas dibalas tatapan tak percaya adik-adiknya. Bertanya-tanya apakah ia habis tersambar petir hari ini. Pemuda itu tidak membalas, hanya menyusun gelas dengan ekspresi manyun yang kembali terlukis di wajah.

Gempa menghela napas lega melihat semuanya hadir di sana. Ia sempat menawarkan bantuan juga, tetapi langsung ditolak Taufan. Katanya, calon pengantin harusnya diam saja dan gandengan tangan. Ingin ia mencubit pipi Taufan, tetapi sebuah tangan yang hangat terlebih dulu menjalin jemari mereka bersama.

"Sepertinya semua berakhir baik, ya kan." Fang menyandarkan kepalanya di pundak Gempa.

"Huft, banyak yang terjadi. Tak kusangka acara perkenalan saja sampai seheboh ini." Gempa terkekeh, menyandarkan kepalanya balik ke arah Fang. "Tapi karenanya, aku jadi semakin yakin."

"Yakin soal?"

"Kalau pilihanku memang benar."

Fang menepuk dada Gempa, menenggelamkan wajahnya di pundak sang kekasih yang seluas jagat raya—begitu ia mendeskripsikannya. Tempat di mana ia bisa sembunyikan wajahnya tanpa harus melepas sentuhan mereka. Kehangatan yang mereka salurkan membuat satu sama lain betah, bahkan enggan untuk mengubah posisi.

"Wuih, mesra sekali. Kapan ya aku dan Hali bisa semesra itu~" goda Taufan.

"Najis. Lebih baik aku mati daripada harus lengket-lengket denganmu."

"Oi, mulutmu itu tidak bisa disensor sedikit, hah?"

Pertengkaran Hali-Tau kembali tersulut. Ah, rasanya seperti dulu, batin Gempa yang hanya tertawa pasrah.

"Sini, sebagai balasan, kau harus ikut foto!"

"Taufan, apa yang kau—"

Pemuda biru tua mengeluarkan ponselnya dan membuka mode selfie. Tangannya merangkul erat leher si saudara kembar sehingga ia tidak bisa mengelak. Adik-adiknya yang lain langsung menyisipkan diri mereka ke dalam frame foto. Di belakang, Fang dan Gempa tersenyum di kursi teras.

"Ini sebagai ganti foto pertama kita yang awkward. Blaze!"

"Siap, Kapten!"

"Apwa ywang kauw waoa—!"

Kata-kata Halilintar menjadi tak jelas ketika Blaze dengan seenak jidat menarik ujung bibir kakaknya itu. Ekspresi konyol Halilintar yang jarang terlihat sontak membuat adik-adik mereka terbahak. Mengambil kesempatan itu, Taufan bersiap mengambil gambar.

"Cekodok cheese!"

.

.

.

.

.

.

"OI, HALI! PELANKAN SEDIKIT!" teriak Taufan yang suaranya tertelan angin yang timbul akibat kecepatan berkendara Halilintar yang tidak wajar.

Taufan mengeratkan pegangannya di pinggang Halilintar. Sedikit saja melonggar, maka nyawa bisa meregang. Tidak, naik berboncengan bersama saudara kilatnya itu saja sudah masuk dalam daftar hal-hal yang wajib dihindari. Belum lagi karena mereka sedang buru-buru.

"BISA SANTAI SAJA TIDAK SIH KALAU NAIK MOTOR?!" Merasa suaranya tidak sampai, Taufan memberi peringatan kedua.

"SANTAI GIMANA KALAU ACARANYA MULAI SEPULUH MENIT LAGI?"

Whuzzz! Bukannya dipelankan, gas motor malah makin menukik laju. Motor gede Halilintar meluncur di jalan menanjak. Maklum, tempat diadakan akad nikah Gem-Fang berlokasi di dataran tinggi. Jarak tempuhnya kurang lebih 20 kilometer dari rumah.

"Grhh, lagipula ini salahmu!"

"Heh, Semprul! Segala hal di dunia ini selalu kau salahkan padaku. Kau tidak tahu apa, kalau aku sibuk mengatur parsel tadi?"

Taufan menggerutu dan ingin sekali menabok kepala Halilintar, selagi ada kesempatan. Hanya saja ia masih sayang nyawa; jika itu terjadi maka mereka berpotensi jatuh di aspal yang keras. Kalaupun masih hidup, ia akan kena siksa dari Halilintar yang ngerinya minta ampun ketika marah.

Sebuah kelalaian telah terjadi pagi itu. Taufan yang bertugas mengurusi parsel hadiah pernikahan sekaligus mahar kelupaan memasukkan kotak berisi emas batangan ke dalam mobil. Padahal emas tersebut merupakan mahar utama yang wajib ada di saat akad nikah berlangsung. Sesungguhnya, tak wajib ada saat itu juga—tetapi sang ayah bersikeras menuntut emas itu ada di akad nikah putra sulungnya.

Dikarenakan jarak yang jauh dan waktu yang menipis, hanya satu harapan tersisa agar akad nikah berlangsung tepat waktu. Yaitu meminta Halilintar memboncengkan Taufan naik sepeda motor miliknya. Pemuda itu sengaja tak memilih naik mobil dengan alasan merasa sumpek apabila harus naik dengan semua saudaranya sekaligus (terkecuali Gempa yang naik mobil khusus pengantin).

Pilihannya membawa motor super laju itu membawa secercah harapan untuk mengambil kembali emas batangan yang tertinggal di rumah. Tentu saja didampingi Taufan karena ialah yang tahu letak emas batangan tersebut.

Begitu sampai di rumah dan mengambil emasnya, mereka buru-buru kembali ke lokasi akad nikah yang membutuhkan waktu paling tidak 30 menit untuk sampai. Akan tetapi, tidak berlaku demikian dengan Halilintar yang punya impian jadi pembalap profesional di masa depan; kecepatan yang nyaris menyamai kilat itu membuat Taufan menjerit histeris karena dirinya terancam terlempar dari motor kapan saja.

.

.

.

"Haah ... haah ... masih hidup. Aku masih hidup." Pemuda bersetelan biru tua mengusap-usap dada, barangkali jantungnya tertinggal di jalan. Syukurlah tidak.

Akhirnya mereka sampai di lokasi akad nikah sekitar tiga menit sebelum acara berlangsung. Halilintar dengan santai memperbaiki tatanan rambutnya, berbanding jauh dengan si saudara kembar yang merasa organ tubuhnya nyaris rontok semua.

"Lemot. Cepat bawakan emasnya!"

Belum sempat Taufan menghela napas syukur akibat masih diberi kesempatan hidup, ia sudah diseret duluan oleh kembaran yang lebih tua.

"Hali Setan! Kau pikir aku kain gombal, hah?!"

Mau tak mau, Taufan harus menahan diri mengomeli Halilintar sebab sang pemilik nama tak sedikitpun menggubris sumpah serapahnya.

.

.

.

"Maaf menunggu!"

Dari ujung pintu, dua sosok pemuda berjalan cepat. Taufan menyerahkan emas batangan yang ia simpan kepada pengurus akad nikah.

"Fyuh, apa acaranya sudah mulai?"

"Taufan! Hali!" seru Gempa, mengalihkan perhatian mereka.

"Kakak, kenapa masih di sini?" Menggantikan Taufan yang masih ngos-ngosan, Halilintar berjalan ke arah sang kakak.

"Kakak menunggu kalian. Harusnya kalian tidak usah buru-buru." Gempa tersenyum, sedikit terkekeh. "Kalian pasti ngebut, kan?"

"Benar sekali!" Taufan meluruskan pinggangnya. "Gahh! Gara-gara orang ini aku nyaris mati, Kak!"

"Kalau kau teliti, kita tidak perlu repot bolak-balik segala!"

Melihat kedua adiknya saling bertengkar membuat Gempa makin tergelitik. Memang tidak pernah berubah, sepasang adik kembar yang dulu hanya setinggi sikunya kini telah menjadi remaja yang nyaris sama tinggi dengannya.

Sebelum mereka sadari, Gempa telah menarik keduanya dalam sebuah pelukan yang berhasil membungkam Halilintar dan Taufan.

"Terima kasih, ya. Kakak sangat bersyukur punya adik seperti kalian."

Halilintar menggigit bibir, ego yang selalu melekat pada dirinya membuat ia sulit membalas pelukan itu. Namun, Taufan telah mendorongnya lebih dalam ke pelukan mereka bertiga.

"Aduh, Kak Gempa kenapa harus bilang begitu di saat seperti ini! Taufan jadi ... ukh ..." Tak bisa melanjutkan kata-katanya, anak ketiga dari tujuh bersaudara menyembunyikan tangisannya di bahu sang kakak.

Halilintar ingat, ini seperti masa di mana ia dan Taufan tak bisa tidur di malam yang gelap. Diam-diam mereka akan menyelinap ke kamar kakak mereka. Jika mereka menangis, Gempa akan menarik keduanya ke dalam pelukannya. Hanya mereka bertiga. Ah, ternyata tidak ada yang berubah.

Setetes air mata yang hangat menggenang di pelupuk mata. Halilintar menatap ke langit-langit ruangan, tak ingin siapapun melihat air matanya jatuh.

"Hali ... akan selalu jadi adik Kakak," bisiknya dengan suara yang gemetar.

"Tentu saja. Dan Kakak akan selamanya jadi kakak kalian."

Beberapa detik setelah pelukan itu, tawa mereka perlahan pecah. Tak habis-habisnya Halilintar meledek saudaranya yang masih menangis seperti anak kecil. Padahal ia juga sama; hanya saja ia menutupi itu dengan sangat baik.

Sebelum mereka beranjak untuk memulai acara akad nikah, Gempa mengusap kepala kedua adiknya. "Maaf ya, merepotkan kalian."

"Huft, santai saja, Kak. Apapun untuk Kak Gempa di hari spesial Kakak!" Taufan mengacungkan ibu jari.

"Haha, Kakak jadi teringat waktu pertama kali bertemu dengan Fang," bisik Gempa, yang mana masih bisa terdengar keduanya.

Halilintar dan Taufan saling tatap.

"Oh iya, Kakak belum cerita soal bagaimana kalian bertemu," timpal Taufan.

"Hmm, benar juga, ya."

Gempa berjalan penuh percaya diri didampingi kedua adiknya dari belakang. Saat mereka sampai ke ujung ruangan, seseorang tersenyum kepadanya. Sebuah buket bunga di tangannya.

Gempa balas tersenyum, memandangi wajah Fang yang begitu berseri di hari yang indah itu. Sekilas, ia berbalik.

"Nanti Kakak akan ceritakan kepada kalian."

Keduanya lalu berjalan dengan tangan bergandengan, menuju altar tempat pernikahan akan dimulai.

.

.

.

.

.

.


Kapan terakhir kali saya menjumpai dunia fanfiksi fandom ini? Sudah lama sekali. Ketika saya kembali untuk rewatch serial Boboiboy, baru saya menyadari betapa dalam chemistry antara BBB dengan Fang. Ditambah lagi character development Fang di Galaxy yang, dulunya cuma mikirin tentang popularitasnya, sekarang selalu mikirin keselamatan BBB. Seriously, I could write a whole essay about them.

Lalu ada juga Elemental Brothers. Menyenangkan sekali menulis partner yang sifatnya bertolak belakang seperti Halilintar-Taufan, Blaze-Ice, dan Duri-Solar. Di balik mereka semua, ada Mama Gempa yang tanpa ragu saya nobatkan sebagai best boy.

Waktu dulu sih, saya pernah nge-ship CP straight di BBB, tetapi semenjak saya belok, ship-nya juga belok. Oh well, I'll be preparing some shoujo/shounen-ai materials for the next few months.

Suatu hari, saya berencana merilis prequel tentang pertemuan Gempa dan Fang, dan hubungan mereka hingga memutuskan untuk menikah. Mohon dukungannya!

Saya akan sangat menghargai jika pembaca berkenan membagi pendapat pembaca mengenai tulisan saya. Bisa melalui kotak review atau langsung mention ke Twitter saya (_akaori). Terima kasih telah membaca.

【】Kaori